Posts from the ‘BIOGRAFI TOKOH’ Category

Ghazwul Fikr : Mentalitas Inlander dan Kaki Tangan Internasional

Kejahatan menguras kekayaan Indonesia lewat manipulasi administrasi dan menjadikan pusat pertambangan Freeport sebagai industri pertambangan misterius dan rahasia

migasindonesia

Ilustrasi (Inet)

Oleh: Nuim Hidayat 

“Mereka (kaum imperialis) dulu menggunakan peluru dan tali… sekarang mereka menggunakan Bank Dunia dan IMF (They used to use the bullet or the rope…now they use World Bank and the International Monetery Fund).” (Jesse Jackson)

“IMF bertindak bagaikan anjing pengintil Departemen Keuangan Amerika (IMF acts as a lap dog of the Use Treasury).” (The New York Times).

Amien Rais mengkritik keras Bank Dunia dan IMF dalam bukunya “Selamatkan Indonesia”.  Menurut Amien, peran IMF sangat negative dalam keruntuhan ekonomi Afghanistan 2001. Rusia ekonominya makin parah karena resep IMF dan kini setelah semua hutangnya dilunasi ke IMF, ekonominya makin maju.

“Di negara-negara Afrika peran IMF dan WB juga dinilai destruktif. Sangat terasa proses pemelaratan negara-negara Afrika gara-gara percaya dengan hutang yang diberikan oleh kedua alat imperialism ekonomi Barat itu. Kesehatan rata-rata penduduk Afrika makin buruk, pendidikan makin amburadul dan standar kehidupan umumnya makin melorot, karena hal-hal ini tidak diunggulkan dalam SAP ala IMF dan WB,” tulis Amien. Hugo Chavez, presiden Venezuela bahkan dengan tegas menyatakan bahwa Bank Dunia dan IMF adalah alat imperialism Amerika (tools of US Imperialism).

Di dalam negeri Amien mengritik keras kontraktor-kontraktor minyak asing yang menguasai negeri ini. Misalnya Blok Cepu yang diserahkan kepada Exxon Mobil untuk pengelolaannya sampai 2036. Dradjad Wibowo menghitung seandainya Blok Cepu itu dikelola sendiri oleh Pertamina, sementara Exxon Mobile semacam mitra yunior (sesuatu yang realistis, masuk akal dan yang seharusnya), Pertamina akan memperoleh tambahan asset senilai 40 milyar dolar. Itu didasarkan asumsi harga minyak US$50 per barel dan gas US$3 per mmbtu. Cadangan minyak di Blok Cepu minimal 600 juta barel sedangkan cadangan recorevable gas paling sedikit 2 trilyun standar kaki kubik (TCF). Pertamina bisa mendapat dana segar katakanlah US$6-8milyar untuk keperluan ekspansi usahadan segala kegiatan yang bermanfaat bagi bangsa.

Marwan Batubara dan kawan-kawan telah menerbitkan buku “Tragedi dan Irni Blok Cepu: Nasionalisme yang Tergadai (2006)”. Dalam buku setebal 288 itu Marwan dkk menyebut kebodohan sengaja sehingga “Kabinet Indonesia Bersatu berpihak pada kepentingan Exxon Mobil”.

Kwik Kian Gie dalam cover belakang buku itu berkomentar : “Jika setelah 60 tahun merdeka tidak ada orang Indonesia yang mampu mengeksploitasi gas Cepu, maka kemungkinannya hanya ada dua : semuanya sudah disuap Exxon Mobil atau semuanya masih bermental budak/inlander.”

Dalam masalah perbankan, Indonesia juga sudah bertekuklutut pada kaki tangan internasional. Bank Indonesia tidak membatasi kepemilikan asing terhadap perbankan, karena investor atau badan hukum asing  boleh memiliki hingga 99 persen saham bank di Indonesia.

Padahal negara lain membatasi di bawah 50 persen. Filipina membatasi pemilikan asing hanya sampai 51 persen, Thailand 49 persen, India 49 persen, Malaysia 30 persen, China 25 persen, Vietnam 30 persen. “Negara-negara Asia itu sadar kalau pihak asing diperbolehkan menguasai perbankan nasional mereka, ekonomi mereka akan tersandera oleh asing dan mereka tidak pernah menjadi tuan di negeri sendiri. Amerika Serikat, pemimpin puncak globalisasi dan liberalisasi ekonomi saja, membatasi kepemilikan asing di perbankan nasionalnya hanya sampai 30 persen,”tegas tokoh Muhammadiyah ini.

Mentalitas inlander kita juga nampak jelas dalam pengelolaan tambang baik Migas maupun non Migas. Freeport Mac Moran di Papua, sejak 1967 menambang emas, perak dan tembaga di propinsi paling timur yang kaya raya dengan sumber daya alam.

Kontrak Karya I diperbarui pada 1991 untuk masa setengah abad, sehingga Kontrak Karya II baru berakhir pada 2041. “Bayangkan tatkala generasi saya, Yudhoyono, Jusuf Kalla dan seanteronya sudah lama jadi almarhum, Freeport masih terus menguras habis kekayaan alam Papua,” jelas Amien.

Korporasi Amerika itu menurut Amien, melakukan beberapa kejahatan sekaligus.

Pertama, kejahatan lingkungan : tailings atau buangan limbah yang setiap hari berjumlah 300 ribu ton telah menjadikan sistem sungai Aghawagon-Otomona-Ajkwa mengalami kerusakan total. Tidak ada lagi ikan dan tanda-tanda kehidupan lainnya disana.

Kedua, Freeport melakukan kejahatan perpajakan. “Ketika pada  pertengahan 1990-an saya menulis Freeport tidak membayar pajak seperti seharusnya karena hanya menjadi pembayar pajak terbesar nomor delapan atau sembilan, tiba-tiba setelah tulisan saya di harian Republika, pada tahun berikutnya Freeport menjadi pembayar pajak urutan pertama,”tegas Amien dalam buku monumentalnya “Selamatkan Indonesia”.

Ketiga, kejahatan etika dan moral dilakukan oleh Freeport dengan memberi uang sogokan kepada oknum-oknum polisi dan militer dengan dalih administrative costs, security costs dan dalih-dalih lainnya. Harian New York Times 27 Desember 2005 menulis sangat panjang tentang berbagai hal negative mengenai Freeport. Koran Amerika itu bahkan menyebut nama-nama perwira-perwira menengah dan tinggi TNI dan Polri yang mendapat kucuran dolar dari Freeport. Di samping 35 juta dollar dikeluarkan Freeport untuk ikut membangun infrastruktur militer, 70 Land Rovers dan Land Cruisers diberikan pada para komandan.

Keempat, kejahatan kemanusiaan. Tujuh suku Papua yang punya hak ulayat digusur begitu saja dari tanah warisan turun temurun dan diantara mereka meninggal karena peluru satgas Freeport. Chris Ballard, antropolog Australia yang pernah bekerja di Freeport dan Abigail Abrash, pembela hak asasi manusia dari Amerika, memperkirakan sekitar 160 orang terbunuh antara 1975-1997 di daerah pertambangan dan sekitarnya.

Kelima, kejahatan menguras kekayaan Indonesia lewat manipulasi administrasi dan menjadikan pusat pertambangan Freeport sebagai industri pertambangan misterius dan rahasia. Kekayaan Freeport sesungguhnya jauh lebih besar daripada kekayaan yang diungkap dalam laporan resminya. Kalau Freeport dapat mengakuisisi Philip Dodge Corp dengan membayar tunai 70% darin 25,6 milyar dolar, tentu kekayaan Freeport sesungguhnya jauh lebih besar daripada apa yang dilaporkan ke Indonesia, sebagai pemilik dan pemangku kekayaan alam di Papua itu.*

Penulis Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Kota Depok

 http://www.hidayatullah.com/

Ghazwul Fikr : Selamatkan Indonesia.!

Amien Rais

Dr Amien Rais yang sempat dijuluki “Bapak Reformasi” karena perannya melengserkan Soeharto pada tahun 1998

Oleh: Nuim Hidayat

Amien, Reformasi dan Fir’aunisme Politik

“Bila sejarah Indonesia bisa diulang, Amien lah yang tepat memimpin bangsa ini” (anonim)

BUKU Amien Rais ‘Selamatkan Indonesia’ seharusnya dibaca generasi muda Indonesia saat ini. Terutama mereka yang konsen terhadap masalah bangsa dan kemana bangsa ini dibawa.

Di buku itu Amien menyajikan fakta, data dan analisa-analisa ilmiah menyangkut berbagai masalah bangsa, mulai dari masalah sejarah, ekonomi, politik Indonesia, sikap intelektual dan politik Amerika.

Siapa Amien? Zaim Uchrowi mantan pemimpin redaksi Republika dalam buku biografi Mohammad Amien Rais, Memimpin dengan Nurani, menceritakannya, “Bukan hanya sisi intelektual dan politiknya yang selama ini dianggap menonjol. Juga sisi relijiusitas, kultural, hingga karakter pribadinya sehari-hari. Warna relijiulitasnya terlihat jelas pada rutinitasnya untuk selalu bangun dinihari, bersembahyang tahajud serta berpuasa Daud (sehari puasa, sehari tidak) sepanjang tahun. Sesibuk apapun ia. Baginya agama merupakan perintah pengendali diri, dan bukan label formalitas “saya benar kamu salah.”

“Sisi kultural Amien tampak dari kefasihannya menembang Mocopotan bahkan mendalang wayang. Bagi saya, inil adalah sisi yang menarik. Amien lahir dan besar di lingkungan Muhammadiyah. Sebuah lingkungan yang dianggap kurang menghargai budaya. Anggapan itu terbukti sama sekali keliru pada dirinya. Maka saya menempatkan aspek kultural ini sebagai bab pembuka buku ini.”

Menurut mantan wartawan Tempo ini karakter personal Amien dapat dilihat dari sikapnya saat bertemu dan berbicara dengan orang lain. Ia selalu berupaya mengenal dan mengingat nama orang yang ditemuinya, lalu menyapanya secara benar. Saat menemui orang bawah, ia benar-benar tampak akrab dengan mereka dan bukan berbasa-basi lagak pejabat. Ia pendengar yang baik. Saat berbicara ia menatap hangat mata lawan bicaranya dan tidak sibuk dengan pikiran sendiri. Ia acap mengakrabkan suasana dengan melempar canda.

Kegagalan Amien Rais menjadi presiden Indonesia dalam Pemilu 2004, tidak menjadikannya putus asa untuk terus berdakwah dan memberikan pencerahan kepada anak bangsa.  Karenanya  di depan Ka’bah pada Desember 2003 Amine berdoa:

“Saya berdoa, ya Allah sekiranya saya dan teman-teman dapat memberi kontribusi yang baik serta dapat membaguskan bangsa dan negara kami, berilah kami petunjuk, kekuatan serta inayah-Mu (untuk memimpin Indonesia). Seandainya Engkau telah mempunyai rencana tersendiri yang kami tidak mengetahuinya, kami percaya rencana itulah yang terbaik bagi kami dan bangsa ini,”papar Amien.

Sebelum mencalonkan menjadi presiden, bangsa Indonesia mengenalnya sebagai intelektual yang tajam. Tulisan-tulisannya yang aktual berserakan di media massa juga karya berupa buku di era tahun 90-an. Roh keislamannya terlihat kuat.

Di antara bukunya yang bagus ditelaah adalah Cakrawala Islam (Mizan) dan Agenda-Agenda Mendesak Selamatkan Bangsa. Dan juga buku-buku biografinya. Terutama yang ditulis Zaim Ukhrowi.

Dalam prakata buku biografi ‘Memimpin dengan Nurani’ itu, Pak Amien menyatakan: “Memang banyak cara atau gaya manusia yang dapat dipilih manusia untuk memimpin. Ada yang mengandalkan kekuatan fisik atau bertumpu pada kekuatan materi. Ada pula yang dengan  cara memecah belah rakyat supaya rakyat menjadi lemah, sedangkan pemimpinnya menjadi selalu kuat. Ada juga kepemimpinan yang dibangun dengan cara membuat pagar-pagar pengaman dengan mengangkat teman-teman yang punya loyalitas tinggi untuk melakukan rekayasa atau kalau perlu rekapaksa terhadap rakyat agar kepemimpinan seseorang bisa berkelanjutan.”

Amien melanjutkan: “Saya Alhamdulillah, bukan jenis manusia seperti itu. Saya bertindak semata karena mengikuti keyakinan sendiri. Kalau menoleh ke balakang, saya bisa mengatakan bahwa saya punya keberanian (yang oleh banyak orang sering dianggap terlalu jauh), mungkin karena saya mendengarkan bisikan atau jeritan hati. Nurani saya selalu terusik bila melihat kezaliman sosial, ekonomi, politik dan berbagai pelanggaran HAM yang jauh. Mungkin itu yang menimbulkan leadership by consciousness atau kepemimpinan berdasarkan kesadaran nurani.”

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini menyadari ia punya kelemahan. Ia berterus terang: “Satu hal yang juga ingin saya sampaikan di sini, dalam hidup ini saya ingin mencontoh teladan para Rasul dalam Al Qur’an dikatakan: “In uriidu illal islaaha mastatho’tu wa maa taufiiqii illa billaahi alaihi tawakkaltu wailaihi uniib.” (QS Hud (11):88).

Tauhid dan Keberanian

Dalam bukunya Cakrawala Islam, Amien dengan sangat bagus menjelaskan tentang arti tauhid dalam Islam. Tokoh yang sangat dibenci politisi Amerika ini menyatakan, “Di samping membebaskan manusia dari perbudakan mental dan penyembahan kepada sesama makhluk,kalimat thayyibah juga mengajarkan emansipasi manusia dari nilai-nilai palsu yang bersumber pada hawa nafsu, gila kekuasaan, dan kesenangan-kesenangan sensual belaka. Suatu kehidupan yang didesikasikan pada kelezatan sensual, kekuasaan , dan penumpukan kekayaan, pasti akan mengeruhkan akal sehat dan mendistorsi pikiran jernih. Dengan tajam Al Qur’an menyindir orang-orang semacam ini: “Tidakkah engkau lihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan? Apakah engkau merasa bisa menjadi pemelihara atasnya? Apakah engkau sangka kebanyakan dari mereka mendengar atau menggunakan akalnya? Mereka itu tidak lain hanya seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat.” (Al Furqan 43-44).

Dari mana Amien mendapat inspirasi keberanian itu, sehingga ia berani ‘mengubah wajah Indonesia’ pada 1998?

Boleh jadi dari jiwa tauhidnya. Tapi,perlu ditelaah pula puncak keberanian ini juga membahayakan. Sebab keberanian bisa menjadikan seseorang menjadi “Firaun” yang tak memiliki hati dalam membunuh manusia. Bahkan ia menyuruh manusia menyembah dirinya bukan menyembah Allah. Keberanian juga bisa menjadikan Nabi Ibrahim sebagai bapak tauhid manusia, yang memerintahkan manusia berbuat adil dan memerintahkan manusia menyembah yang benar-benar berhak disembah.

Al Qur’an mewanti-wanti : مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata):”Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS Ali Imran 79).

CSIS, Soeharto dan Kelompok Islam

KETIKA masa reformasi memang Amien Rais dielu-elukan. Amien yang fasih dalam bicara social dan politik, menjadi magnet bagi mahasiswa dan masyarakat untuk mengakhiri pemerintahan Soeharto.

Bagaimana pandangan tokoh-tokoh Islam, terutama Masyumi dalam hal ini? Kebetulan penulis saat itu menjadi wartawan Media Dakwah, sedikit banyak memahami pandangan tokoh-tokoh itu tentang reformasi.

Setelah reformasi bergulir, Mansur Suryanegara pernah berceramah di ruang bawah masjid Istiqlal. Ia dengan tegas menyatakan bahwa reformasi ini adalah istilah Katolik.   Penulis sendiri yang sempat mengamati gerakan awal reformasi ini bergulir,

khususnya di UI, memang yang terlibat dalam demo-demo menyerukan reformasi bukanlah mahasiswa aktivis Lembaga Dakwah Kampus. Di UI Salemba, saat itu terlihat mahasiswa-mahasiswa tidak berjilbab dan ‘mahasiswa non Islam’ yang meneriakkan ‘reformasi-reformasi’.

Tokoh-tokoh yang bergerak di kampus-kampus juga bukan tokoh mahasiswa Islam. Tapi jaringan Famred dan ‘kelompok-kelompok kiri’ lainnya.  Di sisi lain kelompok non Islam juga mengkhawatirkan adanya kelompok Islam yang mulai mayoritas menguasai negeri ini. Munculnya Bank Muamalat, Republika, ICMI dan naiknya jenderal-jenderal Muslim sangat mengkhawatirkan mereka. Mereka yang sebelumnya menguasai negeri Islam ini, merasa terganggu dengan naiknya Muslim ke panggung militer dan politik. Kelompok-kelompok LB Moerdani tidak rela kelompok Prabowo-Wiranto-Feisal Tanjung dan lain-lain mewarnai militer yang selama ini mereka kendalikan.

Kelompok The Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang banyak tokoh Katolik, mereka tersingkirkan setelah Seoharto dan Habibie merestui pembentukan ICMI.

CSIS menggandeng Gus Dur untuk melawan ICMI dengan membentuk diantaranya ‘Fordem’ (Forum Demokrasi). Ketika kelompok politik Islam semakin kuat, maka mereka mulai membentuk strategi yang serius untuk menumbangkan Soeharto.

Kebetulan Amien juga getol sejak 2003 telah mengkritisi Soeharto karena  Korupsi Kolusi dan Nepotismenya.  Bertemulah dua kepentingan itu. Kelompok non Islam yang ingin menggulingkan Soeharto karena terlalu dekat dengan Islam, dan kelompok pak Amien yang ingin menjatuhkan Soeharto karena KKN-nya.

Soeharto meski mulai mengambil kebijakan yang menguntungkan Islam, tapi ia tidak mencegah anak-anaknya terus bergelimangan dengan harta. Hal itulah yang menyebabkan banyak masyarakat marah terhadapnya.

Agendanya tentu lain. Kelompok non Islam (kelompok kiri, abangan dll), ingin menjatuhkan paket Soeharto-Habibie. Kelompok Amien ingin menjatuhkan Soeharto saja. Tentu bagi kelompok non Islam ini sudah sangat menguntungkan. Karena mereka melihat yang kuat kekuasaannya adalah Soeharto bukan Habibie. Mereka mempunyai strategi selanjutnya menggulingkan Habibie. Dan itu terbukti setelah Habibie memimpin negeri ini, mereka berteriak lantang menolak laporan pertanggunganjawabnya dalam Sidang MPR.

Penulis yang sempat menyaksikan demo-demo di Universitas Gunadarma dan UI, melihat betul bahwa yang menyerukan dan menggalang demo-demo itu bukan dari kelompok Islam. Bahkan ketika penulis melihat langsung mereka menduduki DPR/MPR penulis mendengar adanya bis rombongan GMKI (Gerakan Mahasiswa Katolik Indonesia) datang. Penulis kala itu ikut melihat dan mengamati langsung aksi-aksi demo yang marah kepada Soeharto berhari-hari.

Penulis juga sempat ke  Center for Policy and Development Studies (CPDS) saat itu yang diketuai Fadli Zon. Fadli saat itu memang dikenal dekat dengan jenderal-jenderal Islam, termasuk anak Soeharto, Mbak Tutut (Siti Hardijanti Rukmana).

Fadhli Zon dikenal tokoh muda yang hebat. Dalam usia muda itu ia sudah membawahi para professor dan doktor. Ia dipercaya Prabowo ketika Prabowo menjadi Danjen Kompasus. Dan hubungan Prabowo dan kalangan Islam saat itu sangat dekat.

Prabowo juga dekat dengan Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) dan Dewan Dakwah. Ditengarai kedekatannya dengan Islam itulah maka tidak heran ketika reformasi berlangsung Prabowo menjadi kambing hitam, baik di internet maupun media-media cetak.

Waktu itu KISDI dikomandani oleh tokoh-tokoh Islam: Ahmad Sumargono, Hussein Umar, KH Cholil Ridwan (sekarang di MUI) dan KH Rasyid Abdullah Syafii.

Penulis ingat ketika reformasi mengalami puncaknya, diadakan rapat untuk menggalang demo dari kelompok Islam yang dipimpin KH Cholil Badawi (alm). Saat itu kumpul tokoh-tokoh (alm) Ahmad Sumargono dan lain-lain. Mereka membuat agenda bahwa bila Soeharto turun, maka BJ Habibie harus naik. Saat itu dibagi beberapa kelompok dari masing-masing Ormas untuk menggalang kekuatan dan demo besar-besaran untuk menyerbu Gedung DPR/MPR dan mengosongkan massa di sana.

Ketika awal reformasi itu digulirkan, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, (alm) Anwar Haryono telah mewanti-wanti ‘jangan menari di atas gendang orang lain’, tapi nampaknya sebagian tokoh Islam tidak mendengarkan.

Korporasi, Kekuatan Asing Dan Kemandirian Indonesia

 “(Sejarah) ini sebagai penjelas, petunjuk dan pelajaran bagi orang yang bertakwa.” (QS: Ali Imran 138)

SEORANG  filsuf dan penyair Spanyol-Amerika George Santayana pernah mengatakan, “Mereka yang gagal mengambil pelajaran dari sejarah dipastikan akan mengulangi sejarah itu.” Demikian pula yang terjadi di Indonesia.

Itu pula yang disampaikan Amien Rais melihat Indonesia. Saat ini negeri ini seperti ‘kondisi pada zaman Belanda’ terutama dalam masalah kemandirian bangsa.

“Apa yang kita alami dan saksikan dalam beberapa dasawarsa  terakhir abad 20 dan dasawarsa pertama pada abad 21 sesungguhnya, dalam banyak hal, merupakan pengulangan belaka dari apa yang kita alami pada zaman penjajahan kompeni dan pemerintahan Belanda di masa lalu. Perbedaan antara tempo doeloe dengan masa sekarang hanyalah dalam bentuk atau format belaka. Dahulu pendudukan fisik dan militer Belanda menyebabkan Indonesia kehilangan kemerdekaan, kemandirian dan kedaulatan politik, ekonomi, social, hukum dan pertahanan. Sedangkan sekarang ini pendudukan fisik dan militer asing itu secara resmi sudah tidak ada dan tidak kelihatan. Tetapi sebagai bangsa kita telah kehilangan kemandirian, dan sampai batas yang cukup jauh, kita juga sudah kehilangan kedaulatan ekonomi. Dalam banyak hal, bangsa Indonesia tetap tergantung dan meggantungkan diri pada kekuatan asing,” ujar Amien dalam bukunya ‘Selamatkan Indonesia’.

Kedaulatan ekonomi yang telah kita gadaikan pada kekuatan asing hakekatnya telah melemahkan kedaulatan politik, diplomatik, pertahanan dan militer kita.

Kekuatan-kekuatan korporasi telah mendikte bukan saja perekonomian  nasional,  seperti kebijakan perdagangan, keuangan, perbankan, penanaman modal , kepelayaran dan kepelabuhan, kehutanan, perkebunan, pertambangan migas dan non migas, dan lain sebagainya tetapi juga kebijakan politik dan pertahanan.

Amien pernah mengingatkan bagaimana organisasi bisnis  VOC sejak awal abad ke 17 telah mencengkeram Indonesia. Kemudian penjajahan itu diteruskan pemerintah Belanda, diselingi penjajahan Jepang beberapa tahun,  hingga sampai 1949.  Kenapa VOC begitu mudah dan berjaya mengeruk kekayaaan dan menguasai bangsa Indonesia?

Pertama, menurut Amien, pemerintah Belanda memberikan dukungan politik sepenuhnya. VOC diberi hak monopoli dagang di Hindia Timur (Nusantara) dan dibantu menyingkirkan para pesaing dari Eropa seperti Inggris dan Belanda. Sebuah Piagam Pemerintah Belanda diterbitkan yang bukan saja memberikan monopoli dagang pada VOC, tapi juga wewenang untuk menduduki wilayah manapun yang dikehendaki dan menjajah penduduk asli sesuai dengan tuntutan pasar dan kebutuhan politik VOC sendiri.

Dukungan militer juga melekat dalam hampir semua kegiatan VOC.  Mustahil VOC mampu membuka wilayah baru untuk diduduki dan penduduknya dijajah tanpa kekuatan militer sebagai ujung tombak.

Para jenderal yang menjadi pimpinan VOC seperti Jan Pieterzoon Coen (1619-1629), Anthony van Diemen (1636-1645), dan Joan Maetsyker (1653-1678) adalah tokoh-tokoh militer yang menggerakkan kekerasan dalam rangka membunuh dan memperbudak penduduk setempat untuk mencapai tujuan dagang VOC. Yang dilakukan oleh JP Coen malah mendekati kategori genosida.

“Janganlah putus asa, jangan biarkan musuh-musuhmu bebas, karena Tuhan bersama kita,” demikian pernyataan JP Coen yang terkenal.

Antara VOC dan Snouck Hugronje

Tahun 1669 VOC telah menjadi organisasi bisnis terbesar di dunia dengan memiliki 150 kapal dagang, 40 kapal perang, 50.000 karyawan, angkatan darat 10.000 prajurit dan pembayaran dividen sebanyak 40 persen.

“Kekayaan yang demikian dahsyat untuk ukuran jaman itu tentu dapat diperoleh karena kerjasama korporatokratik dari tiga pilar utama, yakni VOC sendiri sebagai korporasi raksasa, kekuatan politik Pemerintah Belanda, dan kekuatan militer Belanda yang selalu siap untuk menggebuk setiap rintangan yang dihadapi VOC, “ demikian kutip Amin.

Untuk mempertahankan imperialisme dan kolonialisme mereka, negara-negara Barat memerlukan komponen-komponen yang berupa perbankan, dukungan kaum intelektual, media massa dan dukungan elite nasional bangsa yang terjajah. Hakekatnya korporatokrasi pada awal abad 21 ini merupakan turunan belaka dari korporatokrasi empat abad silam.

Dukungan imperialisme Belanda ini juga diperkuat terutama oleh kaum intelektual.

“Snouck Hugronje (1857-1936) adalah salah satu contoh intelektual-orientalis yang mengabdikan kehidupannya untuk kepentingan imperialisme Belanda. Ia seorang sarjana terkemuka di bidang peradaban dan bahasa-bahasa Oriental dan menjadi tangan kanan Gubernur Jenderal JB Van Heutsz. Ia menasehati Van Heutsz bagaimana cara memerangi rakyat Aceh. Atas dasar nasehatnya Perang Aceh menelan korban 50.000 sampai 100.000 nyawa rakyat Aceh dan jumlah yang lebih besar menderita luka-luka. Contoh lainnya adalah Charles Olke Van der Plas (1891-1977) yang pernah menjadi Gubernur Jawa Timur. Van der Plas dikenal sebagai tukang adu domba antar golongan dan kelompok bangsa Indonesia untuk memperlemah perlawanan Indonesia terhadap Belanda.”

Bila dicermati mengapa VOC dan Pemerintah Belanda dapat menjajah Indonesia, tentu karena elit penguasa saat itu, katakanlah para raja tidak semuanya melakukan perlawanan bersama rakyat melawan kaum imperialis itu. Justru sebagian mereka berkolaborasi dengan penjajah.

Contoh, Amangkurat I dan II yag menggantikan Sultan Agung sebagai Raja Mataram justru mempermudah jatuhnya sebagian besar Jawa Barat ke tangan VOC pada akhir abad 17.

Ketika Amangkurat II digantikan oleh Pamannya, Pakubuwono I, konsesi tanah yang lebih luas lagi diberikan pada pemerintah Belanda. Pada 1755 wilayah Kerajaan Mataram telah mengkerut kecil. Seluruh pulau Jawa telah jatuh ke tangan Belanda, kecuali Yogyakarta dan Surakarta, itupun dipecah menjadi dua kerajaan, kesultanan dan kasunanan.

Akibat penjajahan VOC yang lama itu, menurut Amien, mempengaruhi struktur mental anak bangsa. Membongkar mentalitas inlander ternyata tidak mudah. Contohnya, banyak pemimpin bangsa yang ketakutan dan panas dingin ketika Presiden Bush akan mampir Indonesia pada akhir 2006. Pengamanan yang diberikan pada presiden Bush yang sudah tidak popular itu, kata Pak Amien, ‘sungguh berlebih dan agak memalukan’.

“TIdak ada negara manapun di dunia yang menyambut Presiden Bush seperti maharaja diraja, kecuali Indonesia di masa kepemimpinan Susilo B Yudhoyono. Seolah Indonesia telah menjadi vazal atau negara protektorat AS,”tulis Amien.*

Penulis Ketua Dewan Dakwah Islamiyah  Indonesia (DDII) Kota Depok

http://www.hidayatullah.com

Ghazwul Fikr : Buya Hamka, Masjumi dan Perang Melawan Korupsi

Kekuatan terbesar partai politik seharusnya pada basis massa, bukan uang! Jika uang yang menjadi basis kekuatan, maka politik menghalalkan segala caralah yang akan dilakukan!

 Buya_Hamka

Buya HAMKA
 

Oleh: Artawijaya*

KORUPSI yang dilakukan oleh para pejabat yang berkuasa sudah sejak lama menjadi sorotan di negeri ini. Terutama pejabat negara yang berasal dari partai politik. Hari ini kita menyaksikan, pejabat yang berasal dari partai politik seolah menjadi lumbung uang untuk mencari dana bagi pendanaan partai.

Keberadaannya di pemerintahan seolah dituntut untuk menjadi mesin pengeruk uang. Tak peduli halal dan haram, yang penting lumbung partai terpenuhi dengan pundi-pundi rupiah. Partai yang harusnya menjadikan basis massa sebagai kekuatan politik, berubah mengedepankan uang. Tujuannya agar suara rakyat bisa dibeli, apalagi menjelang Pemilu.

Fenomena ini ternyata sudah sejak lama terjadi. Buya Hamka, salah seorang tokoh Partai Masjumi yang terpilih menjadi anggota Majelis Konstituante pada Pemilu tahun 1955, mengeritik cara-cara yang dilakukan oleh Partai Nasionalis Indonesia (PNI), rival politik Masjumi, yang mengedepankan uang sebagai kekuatan politik. Dalam tulisannya di MajalahHikmah, No.10 Thn IX, 5 Sya’ban 1374 H/17 Maret 1956, ulama asal Sumatera Barat ini mengungkapkan cara-cara kotor yang dilakukan oleh partai politik sekular yang ingin merebut simpati rakyat.

Kekuatan Partai Masjumi yang mampu memenangkan Pemilu di beberapa wilayah pada tahun 1955, dan  banyak mendapatkan kursi di parlemen, membuat lawan-lawan politiknyaketar-ketir untuk menghadapi Pemilu berikutnya pada tahun 1960. Meskipun akhirnya, Pemilu tahun itu tidak dapat terlaksana, setelah Soekarno secara sepihak mengajukan gagasan “Demokrasi Terpimpin” dan berniat mengubur partai-partai yang ada.

Hamka mengatakan dalam tulisannya, “Plan (rencana, pen) utama rupanya bagaimana supaya Masjumi dapat dikalahkan dalam pemilihan umum. Partai-partai yang berkuasa itu, terutama PNI insjaf bahwa kekuatan mereka tidak besar pada massa.  Oleh sebab itu, uang mesti ditjari sebanjak-banjaknya untuk biaja pemilihan umum. Kalau perlu dari mana sadjapun uang itu ditjari. Halal atau haram bukan soal: ‘lil ghayati tubarrirul wasilah’ (untuk mentjapai maksud boleh dipakai sembarang tjara),” terang Hamka.

Hamka kemudian mengungkap adanya upaya dari partai yang berkuasa dengan menjadikan para anggotanya yang menjabat dalam pemerintahan, untuk melakukan korupsi demi memenuhi keuangan partai.

“Di waktu itulah terdengarnja ‘lisensi istimewa’ korupsi besar-besaran. Mr. Ishak, seorang djago PNI mendjadi menteri keuangan. Hebatlah nasib jang diderita rakjat pada waktu itu. Benarlah mendjadi menteri mendjadi sumber kekayaan jang tidak halal! Banjak kita melihat orang kaja baru! Dia mendapat ‘lisensi istimewa’ itu didjualnya kepada asing!” ujarnya.

masyumi

Ia kemudian menceritakan, “Setelah kabinet Burhanudin naik, maka program yang pertama adalah memberantas korupsi! Mr Djodi dituntut, dan Mr. Ishak “menjingkir” atau disuruh “menjingkirkan” keluar negeri,” kata Hamka, sambil menyebut Kabinet Burhanudin Harahap yang berasal dari dari Partai Masjumi, bertekad memerangi korupsi. Mr. Djodi dan Mr. Ishak yang dimaksud adalah aktivis partai sekular PNI.

Dengan kritik yang cukup keras, Hamka yang melihat praktik kecurangan sebelumnya, saat kabinet belum berada di bawah kendali Partai Masjumi, menyatakan bahwa partai yang berkuasa sebelumnya menjadikan kekuasaan untuk mengeruk uang bagi pendanaan partainya.

“Dengan serba matjam djalan, uang negara diperas! Dengan kedok “ekonomi nasional” orang-orang diandjurkan mendirikan firma, N.V (perusahaan), dan diberi lisensi. Keuntungannya sekian buat partai.”

Apa yang disampaikan oleh ulama penulis  Tafsir Al-Azhar ini puluhan tahun lalu, seperti terulang kembali pada saat ini. Aparat penegak hukum menciduk tokoh-tokoh partai politik yang terlibat kong-kalikong dengan pengusaha.

Partai dijadikan sarana untuk jual beli lisensi, jual beli izin usaha, izin ekspor-impor, pemenangan proyek atau tender, dan sebagainya, yang ujung-ujungnya memeras pengusaha untuk memberikan suap.

Uang suap itu kemudian ada  yang dicurigai  dijadikan basis pendanaan partai demi memenangkan Pemilu.  Politik tak lagi menjadikan basis massa sebagai kekuatan, tetapi menjadikan uang sebagai alat untuk meraih kemenangan.

Suatu ketika, kata Buya Hamka, ia bertemu dengan perwakilan negara asing di Jakarta. Kepada Hamka, orang itu bertanya tentang dari mana sumber dana Partai Masjumi, sehingga mampu meraup suara yang cukup besar pada Pemilu 1955. Orang asing itu menduga Partai Masjumi mendapat pendanaan dari luar negeri.

Kepada orang itu, Buya Hamka mengatakan, selama ini pendanaan Masjumi berasal dari dana pribadi para anggota dan simpatisannya.

“Memeras kantong sendiri, mendjual menggadaikan harta bendanja,” ujar Hamka menceritakan bagaimana para kader dan simpatisan Masjumi mendanai partai.

Orang asing itu kaget, karena selama ini yang ia tahu, partai-partai besar, jika tak mendapat dana asing, maka kemungkinan lainnya adalah menggunakan para kadernya yang ada di lingkar elit kekuasaan sebagai mesin pengeruk uang.

Demikianlah keteladanan yang ditorehkan oleh Partai Masjumi dalam sejarah kepartaian di Indonesia. Partai Islam tersebut mampu mengepankan cara-cara halal dalam politik, bukan menghalalkan segala cara. Bagi Partai Masjumi, kekuatan terbesar partai politik adalah pada basis massa, pada kader yang solid, bukan pada uang!*

Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan dosen STID Mohammad Natsir Jakarta

Sudut Pandang : Maulid Nabi, Sunnah atau Tradisi?

kaligrafi-muhammad-saw-hijau-putih-320x216

Oleh : Achmad Firdaus

Lamartine (1790-1869), salah seorang sejarawan terkemuka pernah mengungkapkan kekagumannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam bukunya Histoire De La Turquie,1854, ia menyatakan bahwa, “Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang, semua menjadi satu. Tiada lagi manusia dalam sejarah melebihi atau bahkan menyamainya dalam setiap aspek kehidupan tersebut. Hanya dengan kepribadian seperti dialah keagungan seperti ini dapat diraih.”

Senada dengan ‘penghormatan’ Lamartine tersebut, pengakuan lain datang dari Michael H. Hart seorang ilmuwan ternama asal Amerika Serikat, yang juga telah melakukan riset ilmiah tentang tokoh-tokoh besar yang berpengaruh terhadap sejarah peradaban dunia. Sehingga dalam bukunya “The 100, a Ranking of the Most Influental Persons in History”, Michael Hart harus mengakui dan menempatkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di urutan pertama di antara deretan manusia yang juga dianggap hebat. Penempatan ini tentu bukan tanpa alasan, apalagi yang menempatkannya adalah tokoh non muslim.

Ilmuwan bidang astronomi lulusan University of Princeton itu secara gamblang menyatakan kekagumannya kepada Nabi Muhammad sebagai satu-satunya orang yang paling sukses baik dalam tataran sekular maupun agama. Muhammad bergerak tidak hanya dengan tentara, hukum, kerajaan, rakyat dan dinasti, tapi juga jutaan manusia di dua per tiga wilayah dunia saat itu. Lebih dari itu, ia telah merubah altar-altar pemujaan, sesembahan, agama, pikiran, kepercayaan lalu mengajarkan ketunggalan dan immateriality (keghaiban) Tuhan dan dengan kekuatannya beliau menyingkirkan ‘tuhan-tuhan’ palsu kemudian mengenalkan Tuhan yang sesungguhnya dengan kebijakan.

Pengakuan tokoh-tokoh dunia terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan tanpa sebab, sebagai pendiri agama besar di dunia, beliau memiliki pengaruh yang luar biasa sepanjang sejarah peradaban manusia. Beliau telah memulai peradaban baru dan memberikan suatu pengaruh pribadi yang sangat besar pada jutaan umat manusia. Nabi Muhammad telah memberikan pengaruh yang sangat mendalam dan komprehensif kepada umat manusia yaitu dengan contoh teladan dalam bidang agama dan duniawi. Sehingga selama umat manusia mengikuti sunnahnya, maka mereka akan mendapatkan kebaikan dalam segala bidang kehidupan.

Ajaran Islam yang telah disampaikan oleh Rasulullah sekitar 14 abad silam tersebut telah mengalami perkembangan dan penganutnya pun terus bertambah dari masa ke masa. Namun dalam perkembangannya sedikit banyak telah dipengaruhi oleh tradisi masyarakat di berbagai belahan bumi. Misalnya ajaran Islam yang berkembang pesat di Indonesia mempunyai tipikal yang spesifik bila dibandingkan dengan ajaran Islam di berbagai negara Muslim lainnya. Menurut banyak studi, Islam di Indonesia adalah Islam yang akomodatif dan cenderung elastis dalam berkompromi dengan situasi dan kondisi yang berkembang di masyarakat.

Muslim Indonesia pun konon memiliki karakter yang khas, terutama dalam pergumulannya dengan kebudayaan lokal Indonesia. Di sinilah terjadi dialog dan dialektika antara Islam dan budaya lokal yang kemudian menampilkan wajah Islam yang khas Indonesia, yakni Islam bernalar nusantara yang menghargai keberagaman dan ramah akan tradisi atau kebudayaan lokal dan sejenisnya. Tentunya ajaran Islam yang telah diwarnai tradisi itu bukan foto kopi Islam Arab, bukan kloning Islam Timur Tengah, bukan plagiasi Islam Barat dan bukan pula duplikasi Islam Eropa. Namun demikian, Muslim Indonesia masih menjadikan Al Quran dan Sunnah sebagai acuan terpenting dalam beragama, kecuali bagi sebagian kelompok penganut ajaran sesat yang ingin ‘mencederai’ kemurnian ajaran Islam yang sesungguhnya.

Ajaran Islam yang tumbuh dan berkembang pesat di Indonesia memanglah tidak bersifat tunggal, tidak monolit, dan tidak simpel, walaupun sumber utamanya tetap pada Al Qur’an dan Sunnah. Islam Indonesia kadang bergelut dengan problematika bangsa dan negara, modernitas, globalisasi, kebudayaan lokal dan semua wacana kontemporer yang menghampiri perkembangan zaman di negeri ini. Bahkan dalam berbagai acara yang mengatasnamakan ritual keagamaan pun terkadang sangat kental dengan tradisi yang dianut masyarakat setempat, sebutlah acara peringatan maulid yang terlihat begitu ‘rumit’ karena mengusung konsep seremoni dengan corak budaya lokal Indonesia, padahal jika mencoba menilik prinsip dasar Islam yang diajarkan oleh Rasulullah, sebenarnya menjalankan ajaran Islam itu mudah, tapi bukan untuk dimudah-mudahkan.

Maulid Nabi dan Tradisi Lokal

Setiap memasuki pertengahan bulan Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriah, Perayaan Maulid Nabi telah menjadi pemandangan ‘unik’ di tengah-tengah masyarakat di berbagai belahan dunia. Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan ritual-ritual khusus seperti pembacaan Shalawat Nabi, pembacaan syair Barzanji dan sebagainya. Bahkan dalam budaya Jawa bulan Rabiul Awal yang biasa disebut bulan Mulud itu, dirayakan dengan nuansa tradisi Jawa dan permainan Gamelan Sekaten. Bukan hanya itu, peringatan Maulid Nabi biasanya juga diperingati dengan ritual memandikan beda-benda pusaka seperti keris, tombak dan barang pusaka lainnya dengan air yang sudah diracik dengan ramuan bunga tujuh warna. Air bekas cucian benda-benda pusaka tersebut kemudian diambil oleh masyarakat karena diyakini mengandung berbagai macam khasiat yang berguna untuk berbagai keperluan dan keberkahan.

Ada pula yang merayakan Maulid Nabi dengan karnaval dan pagelaran kesenian yang biasanya dilakukan masyarakat dengan memainkan wayang kulit atau wayang golek sejak siang hingga malam hari. Masyarakat pun lalu berbondong-bondong menghadiri acara itu karena meyakini malam tersebut merupakan waktu yang sangat baik untuk berdoa atau melakukan aktivitas yang diyakini membawa keberkahan bagi hidupnya.

Bukan hanya perayaan Maulid Nabi di Indonesia yang sangat ‘meriah’ dengan tradisi lokalnya. Di belahan bumi lain juga ‘ritual’ Rabiul Awal ini telah menjadi tradisi umat Islam,  seperti Malaysia, Brunei, Mesir, Pakistan, Aljazair, Maroko, India bahkan di Inggris, Rusia, Kanada dan China pun turut larut dalam perayaan Maulid Nabi, tentunya dengan selebrasi yang berbeda-beda sesuai dengan tradisi atau budaya di setiap negara. Ada yang merayakan Maulid Nabi dengan parade dijalan-jalan. Rumah, jalan dan masjid dihiasi dengan bendera warna-warni.

Lain halnya dengan Pakistan yang memperingati Maulid Nabi dengan mengibarkan bendera nasional di setiap bangunan dan pada pagi hari tanggal 12 Rabiul Awal itu meriam ditembakkan di pusat kota sebanyak 31 kali yang konon katanya dimaksudkan sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad. Tidak kalah ‘menarik’ juga dengan peringatan Maulid di India yang memamerkan relikui atau barang-barang peninggalan Nabi Muhammad setelah shalat subuh.

Melihat rentetan seremoni perayaan Maulid Nabi yang ‘unik’ dan beragam di setiap wilayah di dunia, tentu tidak salah jika ada orang yang menilai bahwa peringatan Maulid Nabi lebih cenderung pada tradisi masyarakat Muslim jika dibandingkan dengan substansi keagamaan yang ingin dicapai. Sehingga sangat mungkin jika dikatakan bahwa perayaan maulid dengan konsep acara seperti itu sangat minim dengan pengamalan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang seharusnya menjadi prioritas utama bagi setiap umat dalam mengarungi aktivitas hidup dan kehidupannya.

Cinta Rasul Tak Harus Maulid

Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Banyak pihak menilai peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad, namun di pihak lain menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi tidak harus dilakukan, bahkan tidak jarang menimbulkan kontroversi yang tak berujung.

Dalam realita yang sesungguhnya, jika kita kembali membuka lembaran-lembaran sejarah dari kehidupan Rasulullah, maka tidak akan dijumpai ada satu riwayat pun yang menyebutkan bahwa beliau pada tiap ulang tahun kelahirannya melakukan ritual tertentu. Bahkan para sahabat beliau pun tidak pernah mengadakan ihtifal (perayaan) secara khusus setiap tahun untuk mengekspresikan kegembiraan atas hari kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ritual perayaan Maulid Nabi juga tidak pernah ada pada generasi tabi’in atau pun setelahnya.

Dengan demikian secara khusus, Rasulullah memang tidak pernah memerintahkan hal tersebut. Oleh karena tidak adanya anjuran dari beliau, maka secara spesial pula Maulid Nabi bisa dikatakan hal yang tidak disyariatkan. Apalagi mayoritas masyarakat saat ini memandang perayaan Maulid Nabi termasuk ibadah formal. Di mana hukum asal ibadah yang berlaku bahwa segala sesuatu asalnya haram, kecuali bila ada dalil yang secara langsung memerintahkannya secara eksplisit.

Semua orang tentu meyakini bahwa orang yang paling mencintai Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam adalah keluarga beliau dan para sahabatnya. Abu Bakar, Umar, Utsman atau pun Ali bin Abi Thalib tidak pernah merayakan Maulid Nabi. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan para ulama pelopor Islam lainnya, tidak tercatat dalam sejarah bahwa mereka pernah merayakan maulid. Apakah kita mau mengatakan bahwa orang-orang yang berpegang teguh di atas sunnah beliau tersebut tidak mencintai Nabi karena tidak merayakan maulid? Sementara kita menggembar-gemborkan slogan cinta Rasul, tapi hanya sebatas mampu mendandani telur warna-warni kemudian memperebutkan dalam sebuah selebrasi maulid.

Sejatinya, cinta kepada Nabi Muhammad adalah dengan berpegang teguh di atas sunnahnya, mengikuti segala sesuatu yang datang darinya dan meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan sunnahnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an: “Dan apapun yang diberikan Rasulullah kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”(QS. Al Hasy: 7)

Wallahua’lam bisshawaab.

* Penulis adalah Pengurus International Student Society NUS Singapore

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Mencari Asal-Usul Maulid Nabi Muhammad SAW

thumb

Ilustrasi (Inet)

Oleh : Alwi Alatas

1. SHALAHUDDIN AL-AYYUBI DAN MAULID NABI

SECARA bahasa maulid Nabi bermakna waktu kelahiran. atau tempat kelahiran, Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Secara istilah, maulid Nabi biasanya dimaknai sebagai perayaan yang berkaitan dengan waktu kelahiran Nabi Muhammad setiap tanggal 12 Rabiul Awwal. Perayaan maulid telah menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat Muslim di dunia sekarang ini. Bahkan tanggal 12 Rabiul Awwal merupakan hari libur di banyak negeri Muslim. Kapankan sebenarnya perayaan maulid pertama kali muncul dalam sejarah Islam?

Pada masa-masa sebelum ini kita sering mendengar bahwa peringatan maulid muncul pertama kali pada zaman Shalahuddin al-Ayyubi (w. 1193).  Shalahuddin dikatakan mengadakan kompetisi atau anjuran untuk melaksanakan perayaan maulid demi membangkitkan semangat jihad kaum Muslimin pada masa itu dalam menghadapi tentara salib. Namun sejauh yang penulis ketahui, kisah ini sama sekali tidak memiliki rujukan.

Tidak ada satu pun penulis sejarah Shalahuddin dan Perang Salib yang hidup sejaman dengannya yang menyebutkan tentang hal ini. Jika Shalahuddin memang menjadikan maulid sebagai bagian dari
perjuangannya, tentu buku-buku sejarah pada Secara bahasa maulid Nabi bermakna waktu kelahiran. atau tempat kelahiran, Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Secara istilah, maulid Nabi biasanya dimaknai sebagai perayaan yang berkaitan dengan waktu kelahiran Nabi Muhammad setiap tanggal 12 Rabiul Awwal. Perayaan maulid telah menjadi bagian dari kehidupan masa itu akan menyebutkan tentang hal itu walaupun sedikit.

Syair Salib

Selain pendapat di atas, ada juga sebagian kaum Muslimin yang menentang maulid, begitu pula beberapa sejarawan Barat, yang mengatakan bahwa perayaan ini bersumber dari Dinasti Fatimiyah (909-1171) yang berpaham Syiah Ismailiyah.

Dinasti inilah yang pertama kali mengadakan perayaan maulid Nabi, serta maulid Ali dan beberapa maulid keluarga Nabi lainnya. Bahkan ada artikel yang begitu bersemangat mengkritik maulid menyebutkan bahwa maulid “berasal dari kaum bathiniyyah (maksudnya Dinasti Fatimiyah, pen.) yang memiliki dasar-dasar akidah Majusi dan Yahudi yang menghidupkan syiar-syiar kaum salib.”

Terlepas dari perbedaan dan permusuhannya dengan Ahlu Sunnah, Dinasti Fatimiyah pada masa itu juga berperang menghadapi kaum salib. Jadi, menyebut dinasti Fatimiyah atau perayaan maulid sebagai “menghidupkan syiar-syiar kaum Salib” merupakan tuduhan yang terlalu jauh dan mengada-ada.

Beberapa buku sejarah memang menyebutkan bahwa Dinasti Fatimiyah mengadakan perayaan maulid Nabi. Perlu diketahui sebelumnya bahwa pemerintahan Fatimiyah berdiri pada tahun 909 M di Tunisia, memindahkan pusat kekuasaannya ke Kairo, Mesir, enam dekade kemudian, dan runtuh pada tahun 1171, dua tahun setelah masuknya Shalahuddin ke Mesir. Adanya perayaan maulid oleh Dinasti Fatimiyah disebutkan antara lain oleh dua orang sejarawan dan ilmuwan pada masa Dinasti Mamluk, beberapa abad setelah masa hidup Shalahuddin dan terjadinya Perang Salib. Kedua sejarawan yang sama-sama memiliki nama Ahmad bin Ali itu dalah al-Qalqashandi (w. 1418) dan al-Makrizi (w. 1442). Menurut Nico Kaptein dalam disertasinya yang dibukukan, Muhammad’s Birthday Festival (1193: 7-19), kedua sejarawan ini merujuk pada tulisan para
sejarawan sebelumnya yang mengalami jaman Fatimiyah, terutama Ibn Ma’mun (w. 1192) dan Ibn al-Tuwayr (w. 1220).

Al-Qalqashandi menyebutkan tentang perayaan maulid Nabi oleh Dinasti Fatimiyah secara ringkas dalam kitab Subh al-A’sya jilid III (1914: 502-3). Perayaan itu dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awwal, dipimpin oleh Khalifah Fatimiyah dan dihadiri oleh para pembesar kerajaan seperti Qadhi al-Qudhat, Da’i al-Du’at, dan para pembesar kota Kairo dan Mesir. Hidangan disediakan untuk yang hadir dan jalur ke istana ditutup dari orang-orang yang lewat di dekat tempat itu. Setelah semua berkumpul, orang kepercayaan khalifah memberi tanda dan acara pun dimulai dengan khutbah dari penceramah – dalam sumber lain disebutkan bahwa acara dibuka dengan pembacaan al-Qur’an dan diikuti dengan khutbah oleh tiga penceramah berturut-turut (Kaptein, 1993: 13-5). Setelah khutbah selesai, acara diakhiri dan orang-orang pun kembali ke  rumah masing-masing. Hal yang sama juga berlaku pada perayaan maulid Ali bin Abi Thalib ra, maulid Fatimah, maulid Hasan dan Hussain ra, dan maulid khalifah sendiri.

Sebagaimana disebutkan dalam Encyclopaedia of Islam jilid 6 (1991: 895) dan juga buku Kaptein (1993: 9-10), al-Maqrizi (saya tidak merujuk langsung dari kitab beliau) juga menjelaskan hal yang kurang lebih sama. Salah satu perayaan maulid itu diadakan pada tahun 517 H (1123 M). Sebelum itu tentunya sudah ada perayaan maulid juga, tetapi buku-buku sejarah tidak menyebutkan sejak tahun berapa perayaan ini mulai dilakukan.

Kaptein (1993: 28-9) berpendapat perayaan maulid yang berlaku di dunia Sunni merupakan kelanjutan dari perayaan maulid Fatimiyah ini. Ia juga percaya bahwa saat terjadi pergantian kekuasaan dari Dinasti Fatimiyah kepada Shalahuddin, perayaan maulid Nabi tetap berlangsung di tengah masyarakat Mesir. Hanya maulid selain maulid Nabi yang dihapuskan oleh pemerintahan Shalahuddin, sementara maulid Nabi tetap diizinkan berjalan. Namun pendapat Kaptein ini lebih bersifat dugaan dan penafsiran atas teks yang tidak sepenuhnya bisa dijadikan pegangan.

Ada beberapa alasan untuk memilih pendapat yang sebaliknya.

Pertama, sebagaimana digambarkan dalam sumber-sumber yang ada, maulid Fatimiyah ini merupakan maulid yang bersifat elit. Ia dilaksanakan oleh istana dan dihadiri oleh pembesar kerajaan dan tokoh-tokoh masyarakat. Tidak ada informasi yang menyebutkan bahwa perayaan ini bersifat populer dan dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat Mesir ketika itu, baik Sunni maupun Syiah. Perayaan maulid Fatimiyah ini sempat dihentikan oleh wazir Fatimiyah yang bernama al-Afdal yang memerintah pada tahun 1094-1122. Belakangan khalifah mengupayakannya lagi atas usulan beberapa pembesar di sekitarnya (Kaptein, 1993: 24-5). Kisah tentang konflik ini hanya berkisar di sekitar istana. Tidak ada informasi tentang apa yang terjadi di masyarakat Mesir terkait pelarangan tersebut.

Kedua, sejauh ini kita juga tidak menemukan sumber-sumber sejarah yang ada menceritakan tradisi perayaan maulid di tengah masyarakat Syiah Ismailiyah pada masa itu. Masyarakat Syiah ketika itu bukan hanya tinggal di Mesir, tetapi juga di Suriah, Irak, dan Yaman (lihat misalnya The Chronicle of Ibn al-Athir/ Tarikh Ibn al-Athir).

Ketiga, dalam perjalanan hajinya ke Makkah melalui Mesir pada tahun 1183, Ibn Jubair (2001: 31-68) sama sekali tidak menyebutkan adanya kebiasaan maulid di Mesir.

Saat itu sudah dua belas tahun sejak runtuhnya Dinasti Fatimiyah dan Mesir telah diperintah oleh Shalahuddin. Pada bulan Rabiul Awwal tahun itu, Ibn Jubair (w. 1217) masih belum menyeberang dari Mesir menuju Jeddah. Jika kebiasaan maulid di Mesir merupakan kebiasaan yang populer di tengah masyarakat sejak masa Fatimiyah, dan kemudian bersambung pada masa Shalahuddin, rasanya kecil kemungkinan hal ini akan terlewat dari pengamatan Ibn Jubair untuk kemudian ia tuangkan di dalam buku perjalanannya (The Travels of Ibn Jubayr/ Rihla). Sementara, Ibn Jubair jelas-jelas menyebutkan adanya peringatan maulid di Makkah sebagaimana akan disebutkan nanti.

* Penulis adalah kandidat doktor bidang sejarah di IIUM Malaysia

http://www.hidayatullah.com/

Kajian Sejarah : Hasan al Banna, Ikhwanul Muslimin dan Nasionalisme

Oleh: Nuim Hidayat

imam_shahid_hasan_al_banna01_320

IDE nasionalisme menjadi perdebatan yang menarik beberapa gerakan Islam. Mereka yang ‘menentangnya’ menjelaskan bahwa menjelang atau setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyah di Turki 1924, Barat meluncurkan ide-ide nasionalisme atau kesukuan.  Ide nasionalisme dianggap menghalangi pembentukan Khilafah Islamiyah.

Barat berhasil dan kini negeri-negeri  Islam telah terpecah-pecah menjadi negeri yang ‘mandiri’. Meski demikian, kebanyakan kaum Muslim di negeri-negeri berbeda tetap punya perasaan sama bila kaum Muslim di luar negerinya dizalimi.  Masing-masing organisasi Islam kini kebanyakan ingin menjayakan negerinya dan menjadikan negerinya Islami. Mereka menerima ide nasionalisme yang tidak bertentangan dengan Islam. Di antaranya : Muhammadiyah, NU, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Al Iryad, partai-partai Islam dan lain-lain.

Yang menarik adalah mengamati pendapat tokoh Al Ikhwan al Muslimun (Ikhwan) –pergerakan Islam ‘terbesar’ di dunia- Hasan al Banna tentang nasionalisme. Sebelum kita membahas pendapat Hasan al Banna tentang nasionalisme, kita melihat sekilas  biografi tokoh besar pergerakan Islam ini yang ‘menakjubkan’.

Hasan al Banna lahir di desa Mahmudiyah, Mesir 1906. Umur 14 tahun hafal al-Qur’an dan sejak kecil sampai dengan remaja, ia dididik dengan pendidikan Islam yang benar. Ia wafat syahid diberondong senapan, di mobilnya,  oleh tentara Raja Fuad (penguasa Mesir), pada 12 Februari 1949.  Ia adalah tokoh pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin.  Karya-karyanya, meskipun sedikit, karena ia wafat ketika muda, menjadi referensi kader-kader ikhwan sampai kini.  Ia adalah seorang ulama besar, mujtahid dan mujahid.  Ceramah-ceramahnya yang menyentuh dan menarik tiap Selasa di Mesir, diikuti ribuan ulama dan kaum awam. Karya-karyanya antara lain: Mudzakkirat ad Da’wah wad Daiyyah, Majmuah Rasail, dll.

Al-Banna dan Ikhwanul Muslimin

Pendiri Ikhwan adalah Hasan al-Banna (1906-1949), seorang Ulama, kelahiran Buhairah, Mesir. Al-Banna dengan pemikiran-pemikiran besarnya, telah mampu merumuskan Islam, sehingga secara dapat dipahami mulai dari Muslim intelektual sampai Muslim yang awam.

Gerakan Ikhwanul Muslimin dimulai dari kota Ismailiyah Mesir.  Yaitu ketika enam orang tokoh Ismailiyah datang ke al-Banna—setelah  banyak mendengar ketokohan dan ceramah-ceramah al-Banna yang menarik dan mendalam—mengusulkan pembentukan sebuah organisasi Islam.  Keenam tokoh itu adalah : Hafidh Abdul Hamid, Ahmad a-Kushari, Fuad Ibrahim, Abdur Rahman Hasbullah, Ismail Izz, dan Zaki al-Maghribi).  Di antara tokoh yang datang itu bertanya ke al-Banna, “Nama apa yang cocok untuk jamaah kita Tuan? Apakah kita membentuk yayasan, perkumpulan, aliran tarekat atau satu persatuan agar gerakan kita menjadi satu badan resmi?” Al-Banna menjawab, “Kita tidak akan membentuk ini dan itu, dan kita tidak terlalu berkepentingan dengan persoalan resmi atau tidak. Kita adalah bersaudara dalam mengabdi kepada Islam.  Oleh karena itu, saya namakan perkumpulan kita ini Persaudaraan Islam atau Ikhwanul Muslimin.” Kejadian itu berlangsung sekitar Maret 1928. (Abdul Halim Mahmud, Ikhwanul Muslimin Konsep Gerakan Terpadu Jilid I (Jakarta: Gema Insani Press, Juli 1997), hal. 25-29.  Lihat juga Muhammad Sayyid al-Wakil, Pergerakan Islam Terbesar Abad ke-14 H (Jakarta: As-Syaamil Press, 2001). hal. 50-51.)

Empat tahun kemudian, sekitar Oktober 1932, al-Banna dipindahtugaskan sebagai guru ke sekolah Abbas pertama di Kairo, tepatnya di kawasan Sabtiah.  Perpindahan itu menyebabkan pengikut dan aktivitas Ikhwan justru makin cepat berkembang.  Di Kairo ia tinggal di sebuah gedung kampung Nafi’ no. 24, Srujiah.  Gedung tersebut sekaligus digunakan untuk markas umum Ikhwanul Muslimin dan al-Banna tinggal di tingkat atas gedung tersebut.

Ceramah-ceramah dan kegesitan al-Banna dan kawan-kawannya dalam menyebarkan dakwah, menjadikan dakwah Ikhwan dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru Kairo.  Saat itu Ikhwan telah membuka cabang lebih dari 50 di kota besar dan kecil serta pedesaan di Mesir.  Al-Banna sendiri, tiap hari tidak kenal lelah menggiatkan dan memonitor kegiatan Ikhwan.  Tokoh Ikhwan, Abdul Halim  Mahmud menceritakan;

“Anda akan melihat ia senantiasa mengunjungi kantor pusat gerakan yang dipimpinnya dini hari untuk meninggalkan beberapa catatan yang berhubungan dengan pelaksanaan berbagai kegiatan sebelum pergi ke tempat kerjanya.  Kemudian sebelum pulang ke rumahnya setelah kerja, ia kembali mengunjungi kantor pusat.  Kemudian di malam hari, ia kembali lagi memberikan ceramah dan pelajaran kepada para pengunjung dan anggota jamaah.”

Yang menjadikan Ikhwan banyak mendapatkan simpati antara lain karena kepribadian dan kepandaian al-Banna dalam melakukan pendekatan dakwah dan “kebernasan” isi dakwah-dakwahnya.  Tokoh Ikhwan, Isa Asyur menceritakan tentang perhatian masyarakat terhadap ceramah al-Banna tiap Selasa di Kairo,

“Hari Selasa ini adalah hari-hari yang tersaksikan.  Ribuan orang berkumpul dari berbagai penjuru Kairo, Iskandaria, sampai Aswan, bahkan dari luar Mesir.  Mereka semua ingin mendengar Hasan al- Banna. Kemudian ia naik ke mimbar dengan jubah dan sorban putihnya, lalu sejenak memandangi segenap hadirin, sebelum kemudian suara itu mengaung dengan kekuatan jiwa yang penuh dan kalimat-kalimat memukau yang segera merasuk ke dalam hati para pendengar. Suara itu tidak bertumpu pada retorika, juga tidak membakar emosi dengan teriakan.  Suara itu sepenuhnya bertumpu pada kebenaran, membangun semangat dengan meyakinkan akal, menggelorakan jiwa dengan makna bukan dengan sekadar kata-kata, dengan ketenangan bukan dengan provokasi dan dengan hujjah bukan dengan hasutan.  Sehingga setiap orang yang pernah mendengarnya sekali, pasti akan terus mengikuti ceramah-ceramah itu secara rutin betapapun kesibukan dan hambatannya.” [Ahmad Isa Asyur, Ceramah-ceramah Hasan al-Banna, Era Intermedia, Juni 2000, tanpa nomor halaman (pengantar)].

Masa hidup al-Banna tidak lama, yaitu hanya 43 tahun.  Ia dibunuh pada 12 Februari 1949 oleh polisi Mesir, atas perintah Raja Farouk I.  Kejadiannya, ketika ia berada di dalam mobil untuk suatu keperluan (dakwah), beserta sahabatnya, Dr. Abdul Karim Manshur.  Kemudian tiba-tiba datang beberapa polisi rahasia–beberapa waktu kemudian pengadilan mengganjar para polisi itu dengan hukuman 25 tahun dan 15 tahun penjara—memberondong mobilnya dengan peluru, setelah mematikan lampu di sekitar kota itu.  Al-Banna saat itu masih sempat hidup dan kemudian wafat di Rumah Sakit al-Qashr al Aini. (Abdul Muta’al al-Jabari, Pembunuhan Hasan al-Banna, Pustaka, 1986, hal. 164-165)

Umurnya yang pendek itu menjadikan Al-Banna tidak sempat merumuskan secara rinci landasan-landasan pergerakan atau buku-buku pegangan Ikhwan.  Meski demikian beberapa kumpulan tulisannya, sampai kini menjadi rujukan yang penting dan utama pergerakan Ikhwanul Muslimin.

Al-Banna memang berhasil menuangkan pemikiran-pemikiran Ikhwan secara mudah, misalnya ketika ia merumuskan tentang rukun baiat Al Ikhwan al Muslimun, al-Banna memaparkan secara ringkas sepuluh perkara, yaitu: faham, ikhlash, amal, jihad, berkorban, tetap pada pendirian, tulus, ukhuwah, dan percaya diri.  Kemudian al-Banna mengatakan, ”Wahai saudaraku yang sejati! Ini merupakan garis besar dakwah Anda.  Anda dapat menyimpulkan prinsip-prinsip tersebut menjadi lima kalimat, Allah Tujuan Kami, Rasulullah teladan kami, Al-Qur`an Dustur Undang-undang Dasar Kami, Jihad Jalan Kami dan Mati Syahid Cita-cita Kami yang Tertinggi” (Allahu Ghayatuna Ar Rasul Qudwatuna Al Quran Dusturuna Al Jihadu Sabiluna Al Mautu fi sabilillah Asma Amanina)

logo ikhwanul muslimin

Lambang Ikhwanul Muslimin adalah dua belah pedang menyilang melingkari al-Qur`an, ayat al-Qur`an (wa’aiddu) dan tiga kata: haq (kebenaran), quwwah (kekuatan) dan hurriyah(kemerdekaan).

Strategi Pembentukan Negeri Islam

Imam Hasan al-Banna pernah menyatakan:

“Sistem bekerja Ikhwamul Muslimin mempunyai tingkatan tertentu dan program yang jelas. Kami tahu apa yang kami inginkan dan cara apa yang harus ditempuh dalam mewujudkan cita-cita itu. Program-program itu ialah:

1.      Kami mendidik muslim paripurna, baik pemikiran dan aqidahnya, maupun akhlak dan amalnya.  Inilah cara pembentukan pribadi Ikhwanul Muslimin.

2.      Kami mengharapkan terbinanya sebuah rumah tangga muslim, baik dalam pemikiran, akidah, akhlak, perasaan dan tingkah laku. Oleh karena itu Ikhwanul Muslimin sangat memperhatikan kaum wanita sebagaimana kaum pria.  Ikhwanul Muslimin sangat memperhatikan kaum wanita sebagaimana kaum pria.  Ikhwanul Muslimin sangat memperhatikan perkembangan anak-anak sebagaimana terhadap pemuda. Inilah cara pembinaan keluarga Ikhwanul Muslimin.

3.      Kemudian kami mengharapkan terbinanya suatu masyarakat muslimin dalam segala aspek kehidupan.  Maka Ikhwanul Muslimin berusaha agar dakwahnya dapat dilancarkan ke semua rumah, dan dapat di dengar di semua tempat.  Ikhwanul Muslimin berusaha agar gagasannya mudah berkembang sampai ke desa-desa dan kota-kota, dengan mempersiapkan tenaga dan sarananya.

4.      Seterusnya kami bercita-cita membangun suatu pemerintahan muslimin yang membina masyarakatnya ke masjid, yang sesuai dengan petunjuk Islam, sebagaimana yang telah dilaksanakan oleh para sahabat Rasulullah saw. Abu Bakar Shiddik dan Umar bin Khattab ra. Kami tidak membenarkan setiap sistem pemerintahan yang tidak berdasarkan prinsip Islam. Ikhwanul Muslimin tidak membenarkan sistem partai politik dan segala bentuk tradisional yang dipaksakan. Ikhwanul Muslimin akan berusaha menghidupkan sistem pemerintahan Islam dengan segala aspeknya. Dan akan membentuk pemerintahan Islam atas dasar sistem itu….”

hasan-al-banna

Nasionalisme

Tentang nasionalisme, Imam besar Ikhwanul Muslimin ini menyatakan : “Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah keharusan bekerja serius untuk membebaskan tanah air dari penjajah, mengupayakan kemerdekannya, serta menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putra-putranya, maka kami bersama mereka dalam hal itu.

Jika nasionalisme yang mereka maksud adalah memperkuat ikatan antar anggota masyarakat di satu wilayah dan membimbing mereka menemukan cara pemanfaatan kokohnya ikatan untuk kepentingan bersama, maka kami juga sepakat dengan mereka.  Karena Islam menganggap itu sebagai kewajiban yang tidak dapat ditawar. Nabi saw bersabda: “Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara….”

Kemudian ia melanjutkan:

“Sesungguhnya Islam tegas-tegas mewajibkan, hingga tidak ada jalan untuk menghindar, bahwa setiap orang harus bekerja untuk kebaikan negaranya, memberi pelayanan maksimal untuknya, mempersembahkan kebaikan yang mampu dilakukan untuk umatnya dan melakukan semua itu dengan cara melakukan semua itu dengan cara mendahulukan yang terdekat, kemudian yang dekat, baik famili maupun tetangga.  Sampai-sampai Islam tidak membolehkan memindah pembagian zakat kepada orang yang jaraknya melebihi jarak dibolehkannya mengqasar shalat kecuali dalam keadaan darurat.  Hal ini untuk lebih mengutamakan kerabat dekat dalam berbuat kebaikan.”

Menurut al Banna, Ikhwan berkeyakinan bahwa khilafah adalah lambang kesatuan Islam dan bukti adanya keterikatan bangsa Muslim.  Ia merupakan identitas Islam yang wajib dipikirkan dan diperhatikan oleh kaum Muslimin. Khalifah adalah tempat rujukan bagi pemberlakuan sebagian besar hukum dalam agama Allah.  Oleh karena itu, para sahabat lebih mendahulukan penanganannya daripada mengurus dan memakamkan jenazah Nabi saw sampai mereka benar-benar menyelesaikan tugas tersebut (memilih khalifah).

Hadits yang menyebutkan kewajiban mengangkat imam, penjelasan tentang hukum-hukum kepemimpinan, dan perincian segala sesuatu yang terkait dengannya menegaskan bahwa di antara kewajiban kaum muslimin ialah serius memikirkan masalah khilafah, sejak ia diubah manhajnya sampai kemudian dihapuskan sama sekali hingga sekarang.

Langkah untuk mengembalikan eksistensi khilafah, menurut lelaki yang hebat ini, harus didahului oleh langkah-langkah berikut:

1.  Harus ada kerjasama yang sempurna antara bangsa-bangsa muslim menyangkut masalah wawasan, sosial, dan ekonomi

2.  Setelah itu membentuk persekutuan dan koalisi, serta menyelenggarakan berbagai pertemuan dan muktamar di antara negara-negara tersebut.  Sungguh muktamar parlemen Islam untuk membahas masalah Palestina di London yang mengundang kerajaan-kerajaan Islam untuk menyerukan pengembalian hak-hak bangsa Arab di bumi Palestina yang diberkahi adalah pertanda baik dan langkah maju dalam hal ini.

3. Setelah itu membentuk Persekutuan Bangsa-bangsa Muslim. Jika hal itu bisa diwujudkan dengan sempurna, akan dihasilkan sebuah kesepakatan untuk mengangkat imam yang satu, dimana ia merupakan penengah, pemersatu, penentram hati, dan naungan Allah di muka bumi.

Beratnya tugas ‘mengislamkan negeri-negeri Islam’, ini dirasakan oleh Hasan al Banna. Ia menyatakan : “Sebaliknya, kami meyakini bahwa di leher setiap Muslim tergantung amanah, dimana ia wajib mengorbankan jiwa, darah dan harta untuk menunaikannya. Amanah tersebut ialah membimbing manusia dengan cahaya Islam dan mengibarkan bendera Islam di seluruh bumi. Semuanya dilakukan bukan untuk mencari harta, popularitas, kekuasaan atas orang lain dan bukan pula untuk memperbudak bangsa lain. Tetapi untuk mencari ridha Allah semata, membahagiakan alam dengan agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya. Inilah yang mendorong kaum ‘Salaf Salih’ –semoga Allah meridhai mereka semua- untuk melakukan pembebasan-pembebasan suci yang telah mencengangkan dunia dan mengungguli berbagai pembebasan yang pernah dikenal sejarah, dalam hal kecepatan, keadilan, kepiawaian dan keutamaan.” (Majmu’atur Rasail – Kumpulan Risalah Dakwah Hasan al Banna, Al I’tishom Cahaya Umat, hlm. 37-38).*

Penulis adalah peneliti Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS)

http://www.hidayatullah.com

 

Hasan al-Banna dan Kemerdekaan Indonesia

oleh: Alwi Alatas

Hasan Albanna-Syahrir

Hasan Al Banna (Pimpinan Delegasi Mesir) dan Syahrir (PM Indonesia)

PADA tanggal 6 Juni 1947 di Jogja, masih dalam suasana revolusi, Presiden Sukarno menerima rombongan pemuda Indonesia yang baru datang dari Mesir. Mereka beramah tamah selama sekitar dua jam di istana negara. Kepada para pemuda itu Presiden Sukarno mengingatkan bahwa Republik Indonesia yang belum lama berdiri itu merupakan modal dan benteng bersama bagi bangsa Indonesia. “Modal untuk diperbesar dan benteng untuk dipertahankan,” kata beliau.

Pada kesempatan yang sama, para pemuda itu menyampaikan beberapa hadiah yang mereka bawa dari Mesir untuk Presiden Sukarno dan istrinya berupa cerutu asli Mesir dan tempat minyak wangi dari gading. Selain itu, para pemuda ini juga membawa beberapa surat untuk Presiden Indonesia dari beberapa orang ternama di Mesir, yaitu Jenderal Sholeh Harb Pasya (Subah Muslimin), Hassan Bannah (Ichwanul Muslimin), dan Nahas Pasha (Party Wafd). Pertemuan ini diberitakan tiga hari kemudian oleh Harian Repoeblik dalam sebuah artikel pendek berjudul ‘Surat2 dari Mesir untuk Presiden’.

Tokoh yang ditulis sebagai Hassan Bannah di atas sebenarnya bernama Hasan al-Banna (1906-1949), pendiri dan pimpinan al Ikhwan al Muslimun yang akrab disebut Ikhwanul Muslimin (IM)organisasi yang kini sedang berhadapan dengan penindasan dan pembunuhan oleh penguasa militer di Mesir, untuk yang kesekian kalinya. Sayangnya kita tidak mengetahui apa isi surat yang beliau tulis untuk Presiden Sukarno itu. Tapi kemungkinan surat itu berisi dukungan bagi Republik Indonesia untuk terus mempertahankan kemerdekaannya.

Negeri Mesir tempat Hasan al-Banna lahir dan tumbuh ketika itu masih berada dalam sistem kerajaan, dan di belakangnya dikendalikan oleh penjajah Inggris. Masyarakat Muslim Mesir sibuk dengan perselisihan madzhab. Sementara pada saat yang sama ideologi-ideologi asing banyak mempengaruhi penduduk negeri itu, walaupun gerakan pembaharuan Islam juga mulai berkembang di sana.

Hasan al-Banna tumbuh dengan cita-cita untuk memperbaiki masyarakat Muslim Mesir, menyatukan langkah mereka, serta membebaskan negeri mereka dari penjajahan asing. Pada tahun 1928 ia mendirikan dan memimpin organisasi Ikhwanul Muslimin. Lewat wadah ini, al-Banna dan para pendukungnya berdakwah, menyeru orang-orang untuk kembali kepada Islam, serta mengajak mereka untuk secara bersama-sama menegakkan kembali kemuliaan Islam dan masyarakatnya.  Dengan bakat dan kesungguhannya, serta dukungan orang-orang yang bersimpati kepadanya, al-Banna mampu membawa Ikhwanul Muslimin menjadi sebuah organisasi besar di Mesir. Bahkan pengaruh ideologis gerakan ini bukan hanya berkembang di Mesir tetapi juga di negeri-negeri Muslim lainnya.

Ketika gerakan Islam ini semakin membesar, orang-orang yang berada di pusat kekuasaan Mesir, termasuk penjajah Inggris, mulai merasa terancam. Inggris punya banyak alasan untuk merasa khawatir terhadap gerakan ini. Ikhwanul Muslimin memiliki pemikiran (fikrah) yang berpengaruh luas, mempunyai organisasi yang rapi, serta bercita-cita untuk membebaskan Mesir dan negeri-negeri Muslim lainnya dari penjajahan. Berkembangnya organisasi ini merupakan ancaman bagi kekepentingan penjajah di negeri itu.

Peranan al-Banna dan Ikhwanul Muslimin tidak hanya berhenti pada Mesir saja. Isu-isu dunia Islam juga menjadi perhatian serius Hasan al-Banna, termasuk Indonesia sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia serta Palestina yang ketika itu semakin dikuasai oleh orang-orang Yahudi. Terkait Palestina, Ikhwanul Muslimin secara aktif memobilisasi usaha untuk membantu kaum Muslimin di Palestina dalam menghadapi ancaman orang-orang Yahudi yang terus berdatangan ke wilayah itu.

Pada tahun 1948 negara Israel secara resmi didirikan dan hal ini memicu terjadinya Perang Arab-Israel. Ikhwanul Muslimin ikut mengirimkan anggota-anggotanya sebagai sukarelawan untuk menyertai pasukan Arab dalam menghadapi Israel. Namun tak lama setelah itu, sikap pemerintah Mesir menjadi semakin tidak bersahabat terhadap Ikhwanul Muslimin. Pengaruhnya yang semakin luas membuat pemerintah Mesir merasa terancam, ditambah lagi dengan adanya beberapa kasus kekerasan yang melibatkan anggota Ikhwanul Muslimin, yang tidak disetujui dan dikecam oleh al-Banna sendiri sebagai hal yang bertentangan dengan agama Islam. Organisasi itu kemudian dibekukan dan anggota-anggotanya ditangkap.

Harian Het Dagblad yang terbit di Batavia, edisi 11 Desember 1948, ikut memberitakan pembubaran Ikhwanul Muslimin (De Broederschap), termasuk divisi Muslimahnya. Berita itu disampaikan pada bagian akhir dari sebuah artikel yang membahas tentang konflik Arab-Israel. Organisasi itu, masih menurut harian yang sama, memiliki lima buah perusahaan dagang besar, sebuah surat kabar harian, beberapa majalah, beberapa sekolah, beberapa klinik dan panti jompo yang kemudian diambil alih oleh pemerintah Mesir. Permohonan Hasan al-Banna agar organisasi itu tetap diijinkan berjalan dengan menerapkan aturan agama yang ketat ditolak oleh pemerintah Mesir dengan alasan mereka mencurigai adanya agenda teror tersembunyi yang dijalankan oleh Ikhwanul Muslimin.

Hasan al-Banna sendiri akhirnya ditembak oleh penembak misterius pada tanggal 12 Februari 1949 dan dibiarkan meninggal dunia tanpa perawatan di sebuah rumah sakit di Kairo. Wafatnya al-Banna tidak membuat gerakan yang beliau dirikan ikut mati. Ikhwanul Muslim tetap bertahan, walaupun berkali-kali mengalami represi oleh pemerintah Mesir.

Berkenaan dengan Indonesia, sebagaimana yang ditulis oleh M. Zein Hasan dalam bukunyaDiplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, terbitan Bulan Bintang, (1980), Hasan al-Banna dan Ikhwanul Muslimin termasuk yang sangat antusias dan memberi dukungan kuat bagi kemerdekaan Indonesia. Wakil Ikhwanul Muslimin sejak awal telah ikut terlibat dalam pembentukan ‘Panitia Pembela Indonesia’ di gedung Syubbanul Muslimin, Kairo, pada tanggal 16 Oktober 1945. Panitia yang dipimpin oleh Jenderal Saleh Harb Pasya dan melibatkan banyak tokoh Mesir serta beberapa negara Arab lainnya itu kemudian menyusun resolusi dan usaha untuk mendukung kemerdekaan RI (Hasan, 1980: 63-64). Hasan al-Banna sendiri kemudian secara aktif terlibat dalam ‘Panitia Pembela Indonesia’ ini dan berjumpa dengan tokoh-tokoh kemerdekaan Indonesia yang berkunjung ke Mesir untuk menggalang dukungan bagi Indonesia.

Pada bulan April 1947, delegasi pemerintah RI yang dipimpin oleh H. Agus Salim tiba di Mesir untuk meresmikan hubungan antar dua negara. Rombongan bertemu dengan Raja Faruk, Sekjen Liga Arab, dan beberapa tokoh lainnya. H. Agus Salim menyampaikan rasa terima kasih Indonesia atas dukungan Mesir, Liga Arab, dan banyak pihak lainnya, serta mempererat hubungan persahabatan yang sudah ada di antara mereka. Pada kesempatan itu, H. Agus Salim juga menyempatkan diri bertemu dengan Hasan al-Banna. Hal yang sama juga dilakukan oleh Sutan Syahrir saat datang ke Kairo beberapa waktu kemudian. Ketika Belanda melakukan Agresi Militer yang pertama pada bulan Juli 1947, masyarakat Mesir berdemonstrasi menentang tindakan Belanda tersebut. Termasuk yang berdemonstrasi itu adalah ‘buruh-buruh militant, terutama dari Ikhwanul Muslimin, membawa bendera merah-putih, dan gambar-gambar Raja Faruk’  (Hasan, 1980: 220, 234, 275-8).

Perlu dicatat juga besarnya sokongan masyarakat Muslim Mesir secara umum terhadap nasib kaum Muslimin di Indonesia. Koran-koran mereka memberitakan informasi dan pernyataan yang mendukung Indonesia serta mencela penjajah Belanda. Masyarakat Mesir menggalang demonstrasi untuk mendukung RI. Dokter-dokter Mesir melalui Bulan Sabit Merah Mesir bahkan datang ke Bukittinggi dengan membawa 2 ton obat-obatan untuk membantu masyarakat Indonesia yang memerlukan pengobatan (Hasan, 1980: 252). Semua itu dilakukan pada saat negeri mereka sendiri sedang menghadapi masalah dan belum lepas dari penjajahan. Mereka membantu dengan tulus dan tidak menganggap sokongan itu sebagai hal yang bertentangan dengan upaya untuk menolong diri mereka sendiri. Mereka berjiwa nasionalis, tapi pada saat yang sama tidak menganggap pertolongannya terhadap Muslim yang negerinya berjauhan itu (Indonesia) sebagai bagian dari ideologi transnasional yang perlu digugat atau dipertanyakan. Selain dari Mesir, sokongan dan pengakuan kemerdekaan juga datang dari negeri-negeri Muslim lainnya seperti Palestina (melalui Mufti besarnya, Muhammad Amin al-Husaini), Suriah, Saudi Arabia, Iraq, Yaman, Afghanistan, dan juga Iran.

Setelah wafatnya al-Banna, Ikhwanul Muslimin berkali-kali mendapatkan penindasan dari pemerintah Mesir, terutama setelah militer mengambil alih kekuasaan Mesir pasca revolusi tahun 1952. Namun organisasi ini tetap bertahan, bahkan berkembang dan menyebarkan pemikirannya ke berbagai negara. Pada tahun 2011 lalu, saat terjadi Arab Spring di Timur Tengah, masyarakat Mesir berhasil menumbangkan pemerintahan Mubarak yang telah berkuasa secara otoriter selama tiga dekade lamanya. Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi sipil paling kuat dan paling solid yang ikut menopang revolusi di Mesir itu kemudian berhasil memenangkan pemilu yang membawa Muhammad Mursi menjadi presiden Mesir yang terpilih secara demokratis. Namun, setelah setahun berkuasa, Mursi dikudeta oleh militer yang dipimpin oleh Abdul Fattah al-Sisi, didukung oleh kelompok liberal negeri itu. Ikhwanul Muslimin dan masyarakat Mesir lainnya yang berdemonstrasi menentang kudeta secara damai kini sedang menghadapi penindasan berdarah yang sangat kejam oleh militer negeri itu.

Militer Mesir menuding Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris. Namun ia bukan satu-satunya pihak yang melayangkan tuduhan itu terhadap Ikhwanul Muslimin. Masyarakat Barat sendiri sering menstigmakan Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris. Bahkan Wikipedia menyebut organisasi ini sebagai ‘the Arab world’s oldest, most influential and one of the largest Islamic terrorist movements’.

Sebagai sebuah organisasi pergerakan, Ikhwanul Muslimin tentu punya kelebihan dan kekurangan. Dalam sejarahnya, memang sempat ada anggota-anggotanya yang bertindak sendiri, melakukan kekerasan, dan kemudian memisahkan diri dari organisasi ini. Namun, kekerasan, apalagi terorisme, tidak pernah menjadi sikap yang didukung oleh organisasi ini, walaupun sikap keberagamaannya seringkali dianggap militan. Menyebut Ikhwanul Muslimin sebagai sebuah organisasi teroris jelas sangat berlebihan dan bersifat politis. Terlebih lagi organisasi ini memiliki peranan keagamaan dan sosial yang besar di tengah masyarakat Mesir dan juga di beberapa negara lainnya.

Terlepas dari itu semua, bersama dengan beberapa lembaga lainnya di Mesir, Ikhwanul Muslimin pernah memberikan andil yang cukup besar dalam mendukung Indonesia pada masa revolusi, 1945-1949. Jika organisasi ini memang merupakan sebuah organisasi teroris, maka itu artinya tokoh-tokoh kemerdekaan Indonesia seperti Syahrir dan Agus Salim telah mendapatkan dukungan dari sebuah organisasi teroris dan mereka mengucapkan terima kasih kepada organisasi teroris tersebut atas dukungan yang telah diberikannya. Demikian pula, itu artinya Presiden Sukarno pernah menerima surat dari pemimpin gerakan teroris terbesar di dunia. Dan gerakan teroris ini merupakan salah satu pendukung utama kemerdekaan Indonesia. Wallahu a’lam.*

Kolumnis hidayatullah.com, penulis “Nuruddin Zanki dan Perang Salib

Resensi Buku : Shalahuddin Al-Ayyubi, Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis

Judul: Shalahuddin Al-Ayyubi; Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis
Penulis: Prof. DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi
Penerbit: Pustaka Al-Kautsar – Jakarta
Tebal: xxiv + 748 Halaman; 15,5 x 24,5 cm
Cetakan: I; 2013
ISBN: 978-979-592-613-9

Cover buku "Shalahuddin Al-Ayyubi; Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis".

Cover buku “Shalahuddin Al-Ayyubi; Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis”.

Perang salib merupakan salah satu bukti nyata permusuhan abadi antara kebenaran dan keburukan. Perang tersebut juga menjadi bukti kebenaran al-Qur’an, bahwa orang-orang di luar Islam (Yahudi- Nasrani – Syi’ah) tidak akan pernah ridha sampai kaum muslimin mengikuti ajaran mereka.

Dalam catatan-catatan angka sejarah, Perang Salib memang terjadi selama dua abad dan masuk dalam daftar salah satu peperangan terlama sepanjang sejarah. Namun, sejatinya, Perang Salib terus dikobarkan oleh musuh Islam, hingga saat ini. Pun, dengan apa yang terjadi di Palestina, Suriah, Mesir dan seluruh belahan bumi lainnya, merupakan kepanjangan dari Perang Salib yang mulai dikobarkan oleh Paus Urbanus II.

Perang ini terjadi di sepanjang 4 dinasti, yaitu Dinasti Saljuk, Dinasti Zanki, Dinasti Ayyubiyah dan Dinasti Mamalik. Dalam rentetan panjangnya waktu itu, banyak terlahir Pahlawan-pahlawan Muslim Sejati yang berhasil memadukan pesona Islam dengan pesona kaum muslimin. Satu yang paling menonjol adalah adanya sosok Shalahuddin Al-Ayyubi.

Di antara prestasi terbesarnya adalah pembebasan Baitul Maqdis. Secara garis besar, kunci dari keberhasilan penaklukan itu adalah adanya peran Ulama’ Rabbani untuk ikut menyadarkan dan membina umat, mendidik generasi di atas landasan aqidah Islam yang shahih, menanamkan rasa cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan sesama kaum Muslimin; menciptakan persatuan umat; mengobarkan panji Islam di saat peperangan; adanya strategi dengan visi yang jauh ke depan, serta pentingnya taubat, kembalinya umat kepada Allah, dan menjauhkan diri dari segala kemaksiatan.

Buku tebal yang ditulis oleh Prof Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi ini, memberikan pencerahan yang menyeluruh tentang konsep jihad, esensi Perang Salib, juga sosok-sosok di balik kesuksesan kaum Muslimin kala itu. Yang tak kalah menariknya, penulis berhasil memotret kemuliaan akhlak sang Shalahuddin di medan perang, ketika berkuasa, pun kebaikan perangainya kepada musuh.

Perang Salib sendiri dilatarbelakangi karena banyak faktor. Sedangkan faktor utamanya adalah penyebaran agama nasrani ke seluruh penjuru dunia. Paus Urbanus II yang merupakan dalang di balik perang ini, memberikan doktrin bahwa Perang Salib merupakan ajang balas dendam kepada kaum muslimin yang telah merebut Baitul Maqdis. Ia juga menyampaikan bahwa Isa Al-Masih akan segera turun, sehingga Jerusalem harus segera direbut dari tangan kaum Muslimin. Ketika pasukan Salib kendor semangatnya, ia kembali mengobarkan semangat pasukan dengan dalih penghapusan dosa, kebahagiaan hidup, dan aneka bonus yang lain bagi siapa saja yang ikut berperang. Dia juga mengancam dengan aneka dosa dan hukuman serta kesengsaraan-kesengsaraan hidup bagi siapa saja yang absen dari perang ini.

Perang ini bukan hanya antara Kekuatan Islam dan Nasrani. Tetapi ada kekuatan Syi’ah yang ikut mengeruhkan suasana. Dalam kaidah ini, musuh lawan, dalam banyak kasus, bisa menjadi sahabat kita. Sehingga kaum Muslimin sebagai kekuatan tunggal, harus menghadapi dua musuh yang saling bersinergi itu. Meskipun, masing-masing mereka memiliki agenda yang berbeda.

Bukti paling nyata bahwa perang ini merupakan alat menyebarkan agama Nasrani adalah digunakannya lambang Salib dalam setiap alat peperangan yang dikenakan oleh Pasukan Salib.

Dari kekuatan Kaum Muslimin, banyak sekali gerakan perlawanan atas nama jihad. Mulai periode Kesultanan Saljuk, Kesultanan Zanki hingga Kesultanan Ayyubiyah. Dibincang juga tentang peran Ulama’ dalam menggelorakan semangat jihad kaum Muslimin.

Buku ini, bukan hanya membahas perang secara fisik tanpa belas kasih. Tapi menampilkan Islam yang sesungguhnya. Bahwa jihad, bukan asal bunuh, bukan asal bom. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi hingga kemudian diwajibkan untuk. Yang tak kalah pentingnya, dalam setiap keadaan, pun ketika jihad, aspek akhlak sebagai salah satu branding utama umat Islam, tetaplah dinomorsatukan. Akhlak kepada Allah, kepada sesama Mujahid, kepada mereka yang tak terlibat dalam perang, juga kepada musuh.

Jika saat ini ada banyak mal praktik jihad, bisa jadi karena banyaknya kaum Muslimin yang sok tahu, padahal kafa’ah dan tsaqafahnya dangkal. Maka kehadiran buku ini, diharapkan bisa menggelorakan semangat kaum muslimin untuk kembali ke puncak kejayaan. Dengan jihad, di segala lini. Bukan dengan selainnya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/

Muhammad Saihul Basyir: Pemuda Kece yang Hafal Al-Quran dari Keluarga Bintang Al-Quran

Muhammad-Saihul-Basyir-01

Muhammad Saihul Basyir bersama anak-anak Chechnya. (Irhamni Rofiun)

“Pemuda Kece adalah seseorang yang berbakti kepada kedua orangtua dan agamanya” (Salah satu bunyi kicauan di akun Twitter milik Saihul Basyir)

Muhammad Saihul Basyir adalah sosok pemuda tampan yang periang, bersahabat, baik hati dan tidak sombong. Di samping itu Basyir (panggilan akrabnya) adalah salah satu penghafal Al-Qur’an yang masih muda karena telah mengkhatamkan hafalannya ketika berusia sebelas tahun. Banyak prestasi dan keistimewaan yang Allah berikan ketika Saihul Basyir memulai proses menghafal dan menamatkan hafalannya. Bagaimana kondisi keluarga Saihul Basyir dan fase demi fase yang telah dijalaninya? Berikut ini adalah sekilas dari cuplikan kisah perjalanan hidup beliau. Semoga banyak yang terinspirasi dan termotivasi melihat profil pemuda yang telah mengkhidmatkan diri kepada Al-Qur’an ini, dan semoga keistiqamahan selalu mengiringinya.

I. Keluarga Penghafal Al-Qur’an

Muhammad Saihul Basyir, lahir di Jakarta 10 Januari 1996. Sekarang ia –saat di wawancara- duduk di bangku kelas 3 SMA di Pesantren Terpadu Darul Quran Mulia, Bogor. Sekilas tentang keluarganya, ayahnya yang bernama Mutammimul Ula (57 tahun) adalah seorang yang berasal dari Solo tepatnya di kecamatan Sragen. Sang kakek mendidik ayahnya dengan didikan yang keras, karena dahulu kakek dari sang ayah adalah seorang yang aktif di partai Masyumi, sehingga apa yang telah diterapkan oleh kakek kepada ayahnya menurun kepada anak-anaknya juga, Pak Tamim (begitu beliau dipanggil) menamatkan SMA di sebuah sekolah Islam di Solo bernama SMA Al-Islam, kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas Syariah Universitas Islam Sultan Agung Semarang pada tahun 1977, hingga akhirnya aktif di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) dan juga sempat menjadi ketua umum Pengurus Besar PII tersebut selama satu periode (1983-1986). Beliau juga seorang Magister Ilmu Hukum di Universitas Indonesia tahun 2007 yang sebelumnya menyelesaikan Sarjana Hukum di Universitas Diponegoro tahun 1982. Dalam dunia politik, beliau tergabung dengan Partai Keadilan Sejahtera yang pernah membawanya menjadi anggota DPR-RI pada periode 1999-2004 dan terpilih kembali pada periode 2004-2009.

Sedangkan ibunya yang bernama Wirianingsing (51 tahun) adalah orang Jakarta, sama dengan ayahnya, sang ibu juga dibesarkan oleh kakek yang juga seorang veteran, kemudian menamatkan jenjang S1 di Universitas Padjajaran (Unpad) pada Fakultas Komunikasi, dan melanjutkan S2 di UI Salemba mengambil Psikologi. Ibu Wiwi (panggilan akrab kesehariannya) bukanlah orang yang tidak memiliki kesibukan, melainkan seorang wanita yang super sibuk. Sejak muda aktif di berbagai organisasi, pernah menjadi pengurus wilayah PII-Jawa Barat, Pengurus Besar PII, dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Universitas Islam Bandung (Unisba), Ketua Pengurus Pusat Salimah (sebuah organisasi muslimah yang tersebar di 30 provinsi) tahun 2005-2010, Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia, Presidium Badan Musyawarah Organisasi Wanita Islam (BMOWI) 2007-2012, dan Ketua Yayasan Citra Insani (2009 hingga kini). Ia juga pernah menjadi anggota delegasi RI dalam sidang United Nations Comission on the Status of Women (UNCSW) ke-51 di New York, Amerika Serikat. Kini, Ibu Wiwi menjadi anggota DPR-RI Komisi IX dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Awal mula pertemuan sang ayah dan sang ibu adalah ketika keduanya mengikuti seminar di Bandung, kebetulan ayahnya -yang aktif terlebih dahulu daripada ibunya di PII- menjadi pemateri di seminar tersebut. Pada akhirnya berkenalan dan mempunyai visi yang sama, yaitu menciptakan generasi yang shalih dan bermanfaat bagi umat. Cita-cita terbesar kedua orang tuanya adalah menciptakan generasi penghafal Al-Qur’an di masa yang akan datang, hingga akhirnya dikaruniai sebelas orang anak. Alhamdulillah enam orang dari sebelas orang anaknya sudah berhasil mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an. Berikut profil singkat kesebelas buah hati mereka:

1. Afzalurahman Assalam (27 tahun)

Hafal Al-Qur’an pada usia 13 tahun di sebuah pesantren di Bogor. Sarjana Teknik Geofisika ITB (Institut Teknologi Bandung). Juara I MTQ Putra Pelajar SMU se-Solo, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Programme 2007.

2. Faris Jihady Hanifa (26 tahun)

Hafal Al-Qur’an pada usia 9 tahun di Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus, Jawa Tengah dengan predikat Mumtaz. Mengambil S1 Fakultas Syariah di LIPIA Jakarta. Sekarang sedang menyelesaikan studi masternya di King Saud University, Riyadh Arab Saudi. Peraih juara I lomba tahfizh Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh kerajaan Arab Saudi di Jakarta tahun 2003, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan UNJ tahun 2004, Sekretaris Umum KAMMI Jakarta.

3. Maryam Qonitat (25 tahun)

Hafal Al-Qur’an sejak usia 16 tahun di Pesantren Husnul Khatimah, Kuningan Jawa Barat. Kemudian melanjutkan studi S1 di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo. Sekarang sedang melanjutkan S2 di International Islamic University Malaysia. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah 2006. Menghafal hadits dan mendapatkan sanad Rasulullah dari Syekh Al-Azhar.

4. Scientia Afifah Taibah (23 tahun)

Hafal Al-Qur’an 30 juz sejak usia 19 tahun. Seorang sarjana hukum di Universitas Indonesia (UI). Faktanya, ketika selesai SMA tidak langsung melanjutkan kuliah akan tetapi dia membuat program menghafal Al-Qur’an terlebih dahulu di Al-Hikmah Jakarta sampai selesai.  Saat SMP menjadi pelajar teladan dan saat SMA memperoleh juara III lomba Murattal Al-Qur’an tingkat SMA se-Jakarta Selatan.

5. Ahmad Rasikh ‘Ilmi (22 tahun)

Hafal 15 juz Al-Qur’an sejak duduk di MA Husnul Khatimah, Kuningan. Kini sedang menyelesaikan studi S1 di Universitas Islam Internasional Malaysia pada jurusan Ushul Fiqh. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara I Kompetisi English Club Al-Kahfi dan menjadi musyrif bahasa Arab MA Husnul Khatimah.

6. Ismail Ghulam Halim (20 tahun)

Hafal 13 juz Al-Qur’an sejak duduk di SMAIT Al-Kahfi Bogor. Mahasiswa Teknik Universitas Indonesia. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara lomba pidato bahasa Arab SMP se-Jawa Barat, serta santri teladan, santri favorit, juara umum dan tahfizh terbaik tiga tahun berturut-turut di SMPIT Al-Kahfi.

7. Yusuf Zaim Hakim (19 tahun)

Hafal Al-Qur’an 30 juz sejak usia 17 tahun di Pesantren Darul Qur’an Yusuf Mansur, Bandung. Mahasiswa di Universitas Indonesia. Prestasinya antara lain: peringkat I di SDIT, peringkat I SMP, juara harapan I Olimpiade Fisika tingkat Kabupaten Bogor, dan finalis Kompetisi tingkat Kabupaten Bogor.

8. Muhammad Syaihul Basyir (17 tahun)

Hafal Al-Qur’an 30 juz pada saat kelas 6 SD.

9. Hadi Sabila Rosyad (16 tahun)

Hafal 18 juz Al-Qur’an. Santri kelas 2 SMA di Pesantren Terpadu Darul Qur’an Mulia Bogor. Di antara prestasinya adalah juara I lomba membaca puisi.

10. Himmaty Muyassarah (14 tahun)

Hafal 13 juz Al-Qur’an. Kelas 3 SMP Darul Qur’an Mulia Bogor.

11.Hasna Khairunnisa, wafat usia 3 tahun, akibat tumor otak pada bulan Juli 2OO6.

Tentu saja ini adalah karunia Allah dan prestasi yang luar biasa, salah satu contoh keluarga muslim Indonesia yang perlu dijadikan contoh dan teladan. Dengan berbagai macam kesibukan baik sebagai seorang pendakwah dan wakil rakyat, kedua orang tuanya mampu membagi waktunya dengan baik untuk mendampingi perkembangan anak-anaknya, apalagi mereka berdua melakukan semuanya sendiri, tanpa pembantu rumah tangga.

Muhammad Saihul Basyir bersama kedua orang tua dan sebagian anggota sanak saudaranya di ruang perpustakaan pribadi. (Irhamni Rofiun)

Muhammad Saihul Basyir bersama kedua orang tua dan sebagian anggota sanak saudaranya di ruang perpustakaan pribadi. (Irhamni Rofiun)

II. Awal Menghafal Sampai Tamat

Banyak yang memicu semangat Saihul Basyir untuk menghafal Al-Qur’an, salah satunya  terinspirasi dan termotivasi karena  melihat kakak keduanya, Faris Jihadi Hanifa, yang telah mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an di usia yang masih sangat muda yaitu sembilan tahun.

Ibu beliau yang memang menginginkan Basyir kecil meniru persis seperti kakak keduanya tersebut, akhirnya sejak kelas 1 SD beliau dimasukkan ke pesantren tahfizh untuk anak-anak yang sama di Pon-Pes Yanbu’ul Qur’an Kudus, yang dirintis oleh KH. Arwani, di sanalah proses menghafal Al-Qur’an Basyir dimulai, beliau benar-benar tidak memahami makna hakiki menghafal Al-Qur’an karena masih polos, yang ada di dalam benak pikirannya saat itu adalah mengkhatamkan Al-Qur’an di kelas 3 SD lalu melancarkannya di kelas 4 dan 5 SD, sehingga di kelas 6 SD sudah fokus ke ujian, namun apa yang dicita-citakan belum tercapai karena terbentur memiliki pribadi yang tidak mudah beradaptasi, mudah kangen dengan orangtua, hingga akhirnya Basyir keluar dari sana pada usia sembilan tahun tepatnya kelas 4 SD, pada saat itu Basyir baru berhasil menghafal Al-Qur’an sebanyak 21 juz.

Sebenarnya ibunya tidak menyetujui Basyir keluar dari pesantren, tapi Basyir meyakinkan ibunya dengan jawaban polos anak kecil bahwa ia mampu dan bisa menyelesaikan hafalan Al-Qur’an secara sempurna di rumah. Akhirnya pilihan studinya jatuh ke SDIT Al-Hikmah yang berlokasi di Mampang-Jakarta Selatan, ternyata kenyataannya tak semudah apa yang dibayangkan, karena padatnya jadwal kegiatan sekolah, di samping posisinya yang pulang-pergi tidak menetap seperti di pesantrennya dulu. Akhirnya jadwal dibuat oleh orang tua Basyir sedemikian rupa sehingga terbentuklah program mengaji dua waktu , waktu pertama setelah subuh, beliau diwajibkan menyetor satu halaman kepada ibunya, kemudian ketika Maghrib tiba, memuraja’ah [mengulang-ulang] hafalan yang dimiliki sebanyak lima halaman saja. Adapun program dari ayahnya yaitu tilawah Al-Qur’an paling minimal sebulan sekali harus berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali putaran, ketika berhasil mencapai target apa yang ayah dan ibunya minta, beliau tak menyadari hal tersebut hingga akhirnya sadar ketika dewasa, ketika itu ayah dan ibunya selalu memberikan reward atau hadiah karena target telah berhasil dicapai Basyir, mereka membelikan apa yang dia mau, namun orientasinya tetap tertuju pada bagaimana bisa menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sebelum naik ke jenjang SMP.

Alhamdulillah berkat karunia Allah dan nikmat-Nya, beliau dimudahkan dalam menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di umur 11 tahun ketika duduk di kelas 6 SD, beliau tidak mengkhatamkan Al-Qur’an tidak secara sempurna, tidak sampai juz 30. Karena pada waktu beliau menyetorkan hafalan kepada ustadz -yang ada di sekolah- pada surat At-Tahrim akhir juz 28, ketika sudah selesai setoran surat At-Tahrim ustadznya mengatakan dan memerintahkan kepadanya untuk berhenti, “cukup ya Basyir kamu sudah selesai menghafal Al-Qur’an”, kata beliau meniru perkataan ustadznya, beliau pun terheran, “kenapa ustadz Ana belum selesai menyetor juz 29 dan 30”, ustadznya pun balik menjawab, “tak apa, kamu sudah menghafal Al-Qur’an, kamu sudah berhasil menghafal juz 29 dan 30 secara mendengar”, memang kenyataannya seperti itu beliau menghafalkan juz 29 dan 30 tanpa menghafal secara lisan atau secara disetorkan, melainkan hanya mendengar bacaan Al-Qur’an juz 29 dan 30 dari orangtua, saudara-saudarinya yang telah terekam secara otomatis dalam ingatannya.

Lepas dari bangku SD, beliau merasa sedikit bangga, namun ketika teman-teman dan sanak saudara Basyir bertanya kepada ayah ataupun ibunya, “apakah Basyir sudah berhasil menghafalkan Al-Qur’an”, “ya sudah berhasil menghafalkan Al-Qur’an secara hifdz [menghafal]”, akan tetapi ketika Basyir dites dan ditanya suratnya tidak bisa, karena ketika SD itu orientasinya hanya tertuju kepada berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an saja, tidak ada pikiran untuk melancarkan dan mengitqankan dan seterusnya, hingga akhirnya ayah Basyir mempunyai pikiran yang sama dengannya yaitu masuk ke pesantren Al-Qur’an kembali, dan akhirnya masuklah Basyir  ke sebuah pesantren yang bernama Pesantren Terpadu Darul Quran Mulia di Bogor, karena merasa terpanggil dan tuntutan alami, untuk apa beliau menghafalkan Al-Qur’an secara sempurna akan tetapi ketika disuruh membaca secara acak tidak bisa, ayahnya pun pernah berucap, “Basyir, kamu tidak bisa mengamalkan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an kalau kamu tidak bisa menghafal ayat-ayatnya secara sempurna”, melalui perintah ayahnya tersebut Basyir termotivasi menghafalnya secara ulang, beliau pun mengakui awalnya agak berat ketika menghafalkan Al-Qur’an secara ulang di pesantren Darul Quran Mulia itu, berkat dukungan dan doa dari orangtua dan sanak saudara dan tentunya dari dirinya sendiri akhirnya Basyir pun berhasil mengkhatamkan kembali hafalan Al-Qur’an di usianya yang ketiga belas tahun, dan rajin memuraja’ah secara terus menerus sampai sempurna karena ia sadar hafalannya belum lancar, padahal orang lain telah menilai hafalannya sudah bagus dan lancar.

III. Suasana Keluarga dan Lingkungan

Kedua orang tuanya telah berusaha menciptakan sebuah lingkungan yang paling kondusif di rumah, hanya menyalahkan televisi dua jam saja dan lebih dari dua jam ketika hari libur atau hari Ahad. Kemudian ibunya mewajibkan Basyir muraja’ah dan tilawah setelah Maghrib serta menyetorkan hafalan baru setelah Subuh sebelum masuk sekolah. Ayahnya secara naluri dan alami sering menyetel radio atau kaset murattal Al-Qur’an imam Masjidil Haram, setiap saat Al-Qur’an terdengar di telinganya ketika berada di rumah, sehingga sehari-harinya tercipta suasana lingkungan qur’ani.

Program tersebut mempunyai kelebihan tersendiri, ketika orangtua tidak bisa mengontrol kegiatan anak-anak di rumah, seorang ayah sudah tahu apa yang dilihat dan didengarkan, tentu yang didengarkan ketika ayahnya tidak ada adalah murattal, dan apa yang dilihat adalah buku bacaan, karena salah satu bentuk yang ayah Basyir ciptakan adalah membuat perpustakaan pribadi yang berisikan koleksi buku hingga empat sampai lima ribu buku, sehingga ketika televisi tidak dinyalakan maka Basyir lari ke perpustakaan, membaca bacaan anak-anak yang islami.

Dalam perpustakaan pribadi tersebut, buku koleksinya mencakup semua hal, baik tentang politik dan hukum sebuah kegiatan yang digeluti ayah Basyir, maupun yang ibunya tekuni tentang kewanitaan dan psikologi anak, kemudian yang saudara-saudarinya dalami tentang ilmu-ilmu syariah, kitab-kitab fiqih dan tafsir, buku-buku ilmiah, sains dan eksakta, hingga apa yang adiknya senangi ketika itu yaitu novel-novel remaja dan motivasi, jadi pemandangan yang tak aneh ketika televisi dimatikan mereka bisa betah berjam-jam di dalam perpustakaan, menggeluti bacaan yang mereka suka dan senangi, hal tersebutlah yang telah berhasil membentuk pribadi keluarganya menjadi pribadi yang positif, suka membaca, gemar menelaah ilmu-ilmu, gemar berdiskusi. Intinya kedua orangtua Basyir tidak hanya ingin Al-Qur’an cukup dihafal saja namun harus diamalkan dan dipraktekkan pada kehidupan nyata dengan hati yang bersih.

Al-Qur’an dijadikan sebagai dasar pijakan utama masing-masing anak agar hobi dan kelebihan mereka yang berbeda satu sama lain bisa lebih terarah, dan itu pun juga harus dimulai dengan kecintaan terhadap buku-buku ilmiah dan buku-buku yang bermanfaat lainnya. Uniknya, ketika beliau masih kecil ibunya sering membawakan dongeng sebelum tidur, setiap malam diceritakan kepadanya tentang sirah sahabat, khulafaur rasyidin, dan yang lebih utama adalah sirah nabawi.

Hiburan lain yang ibunya izinkan adalah mendengarkan lantunan nasyid dan musik islami yang mengandung ajaran Islam, Rasulullah maupun sahabat. Sehingga kadang kala apa yang mereka ketahui dan apa yang ada di kepala mereka tidak sama dengan apa yang digeluti dan apa yang disenangi oleh anak-anak yang seusia mereka, contohnya ketika SD teman-temannya mungkin suka dengan yang namanya game online, namun secara pribadi Basyir tidak menyukai hal tersebut, lebih menyenangi hal-hal yang berbau kegiatan positif, itu dampak positif dari didikan orang tuanya yang telah membentuk anak-anaknya memiliki karakter yang baik, kuat dan qur’ani. Semoga selalu istiqamah.

IV. Hikmah Mengikuti Perlombaan Menghafal Al-Qur’an

Sang Jawara Nasional MHQ 30 juz ini menjadikan perlombaan menghafal Al-Qur’an dan sejenisnya sebagai batu loncatan untuk maju ke depan, karena sebelum mengikuti perlombaan Basyir belum mengetahui di mana kadar kekuatan hafalan yang dimiliki, perlombaan tersebut pun dijadikannya sebagai sarana bukan tujuan, karena setelah mengikuti perlombaan itu ia sadar masih banyak memiliki kekurangan baik dari segi hafalan maupun tajwidnya, pada akhirnya ia pun termotivasi untuk selalu mengulang-ulang hafalan yang ada agar selalu melekat dalam dirinya.

Dalam musabaqah [kompetisi sehat] itupun Basyir dipertemukan dengan para pecinta dan penghafal Al-Qur’an dari seluruh Indonesia maupun luar negeri, bisa mengenal lebih dalam dan bisa berinteraksi secara langsung, berbagi pengalaman dan diskusi-diskusi yang masih berkaitan dengan kesucian Al-Qur’an dan masalah kehidupan yang lainnya, itulah salah satu kelebihan yang bisa didapatkan Basyir setelah mengikuti perlombaan MTQ dan sejenisnya. Jadi bukan hanya kemenangan yang dicari, karena menang-kalah adalah hal biasa dalam kehidupan, yang luar biasa adalah persahabatan sesama pecinta Al-Qur’an yang harus dijunjung tinggi.

V. Harapan dan Target

Pemuda yang dianugerahi Allah banyak nikmat ini berkeinginan memperdalam ilmu-ilmu Al-Qur’an sampai jenjang tertinggi di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Tujuannya ingin mengabdikan diri untuk umat dan memperbaiki moral bangsa, moral pemuda yang mulai merosot, ia yakin bisa merubah hal tersebut melalui prinsipnya dengan Al-Qur’an, “Allah akan membantu orang-orang yang membantu agama-Nya”.

Beliau pun ingin bertemu dengan orang-orang hebat dan sukses, masyaikh, para imam besar dan tokoh qari lebih banyak lagi, karena sebelumnya beliau pernah bertemu dengan Syekh Abdullah bin Ali Bashfar salah seorang imam besar di Jeddah, Arab Saudi, Syekh Aiman Rusyd al-Suwaidi seorang pakar qiraah yang berasal dari Syria, Syekh Anas Ahmad Karzoun, dan masih banyak lagi yang lainnya sewaktu mengikuti pertemuan dengan para penghafal Al-Qur’an anak-anak se-dunia di Jeddah, Arab Saudi. Ini adalah salah satu bukti kemudahan yang Allah berikan kepadanya karena selalu berusaha untuk berkomitmen dengan Al-Qur’an. Basyir pun tetap yakin akan bertemu dengan orang-orang yang lebih hebat lainnya jika ia berkomitmen untuk terus mengabdikan diri kepada Al-Qur’an. Karena harapan dan mimpi beliau lainnya adalah ingin menjadi Imam Besar di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, semoga Allah mengabulkan doanya tersebut. Aamiin.

Target Basyir selanjutnya adalah ingin membangun pesantren Al-Qur’an yang mempelajari ilmu-ilmu sains dan eksakta, agar bisa mendidik dan mengajarkan pemuda-pemudi bangsa Indonesia menjadi generasi qur’ani. Karena cita-cita terbesar Basyir sewaktu kecil adalah ketika sudah besar nanti ingin menjadi Presiden Republik Indonesia. Cita-cita anak yang sungguh luar biasa. Semoga banyak yang mengaminkan.

مع معالي الشيخ عبد الله بن علي بصفر، هو من قارئي القرآن الكريم ومن أئمة المساجد في المملكة العربية السعودية، وهو خطيب وإمام مسجد منصور الشعيبي بجدة (Irhamni Rofiun)

مع معالي الشيخ عبد الله بن علي بصفر، هو من قارئي القرآن الكريم ومن أئمة المساجد في المملكة العربية السعودية، وهو خطيب وإمام مسجد منصور الشعيبي بجدة

(Irhamni Rofiun)

VI. Tips dan Trik Menghafal Al-Qur’an

Hal yang paling utama adalah pasang niat semua karena Allah, harus memiliki tekad dan azam yang kuat untuk berjihad di jalan-Nya serta mengorientasikan semua tujuan kepada ridha dan surga-Nya.

Sebelum masuk program menghafal diharuskan untuk mengikuti program tahsin, tujuannya untuk memperbaiki pelafalan bacaan Al-Qur’an dan menguasai tajwid. Setelah itu boleh mengikuti program tahfizh dengan mengikuti tips berikut:

1. Membagi waktu menjadi dua kali dalam sehari, waktu Subuh untuk menghafal dan waktu Maghrib digunakan untuk mengulang hafalan.

2. Harus memiliki musyrif, guru ngaji untuk menyetor dan membenarkan hafalan, musyrifnya pun harus hafal Al-Qur’an dengan baik.

3. Memakai satu mushaf tetap hingga selesai, mushaf dengan rasm utsmani.

4. Evaluasi hafalan secara berkala, setiap juz yang sudah selesai dihafal harus dites sampai mengetahui dan memperbaiki tingkat kesalahan sekecil mungkin. Begitu juga per-5 juz, per-10 juz, dan seterusnya sesuai kelipatan hingga 30 juz.

6. Tingkatkan amalan shalih.

7. Jadikan shalat-shalat sunnah rawatib sebagai waktu untuk mengulang walaupun hanya beberapa ayat, lebih afdhal lagi melakukan muraja’ah satu sampai dua juz pada waktu shalat malam atau tahajud, lebih banyak jumlah juz yang diulang akan lebih bagus lagi, karena sepertiga malam adalah sebaik-baik waktu agar hafalan yang ada tetap melekat kuat.

8. Cari lingkungan terbaik untuk menghafal, berkumpul bersama orang shalih dan para penghafal Al-Qur’an.

9. Doa tanpa henti kepada Allah, meminta keistiqamahan dan kelancaran, karena Al-Qur’an diturunkan dari Allah.

10. Tambahan, untuk mempercepat dan mempermudah dalam menghafal dianjurkan memakai mushaf rasm utsmani yang ada terjemahannya, agar apa yang dihafal lebih meresap di hati.

Demikian tips dan trik menghafal Al-Qur’an dari Muhammad Saihul Basyir, seorang pemuda kece –pemuda yang taat kepada kedua orangtua dan agama- lagi sangat bersahabat ini. Semoga kebaikan ini menjadi ladang amal untuk beliau karena mau berbagi pengalaman untuk kita semua, tentunya hal ini harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Semoga kita dan anak keturunan semua menjadi ahlul quran, berpegang teguh kepada ajaran agama, Al-Qur’an dan As-Sunnah. Aamiin.

VII. Tes Hafalan

Selain memiliki wajah yang sejuk dipandang dan memiliki prinsip “Forever single until the time”, suara alunan murattalnya pun tak kalah indah, tak aneh jika banyak prestasi yang diraihnya karena keistimewaan hafalannya yang luar biasa.

Berikut contoh tes hafalan Al-Qur’an yang dijawabnya dengan tenang dan lancar, tak aneh bila nilai Mumtaz disandangnya:

- Juz 5, Surah An-Nisaa ayat: 115-125

- Juz 25, Surah As-Syuuraa ayat: 47-Selesai disambung awal Surah Az-Zukhruuf sampai ayat 8.

Bahkan Syekh Muhammad Jibril, salah seorang Imam dan Syekh Murattal Al-Qur’an di Mesir memberikan penilaian baik terhadap hafalan dan tilawah Saihul Basyir melalui salah satu video Saihul Basyir sewaktu mengikuti perlombaan menghafal Al-Qur’an -yang penulis kirim khusus ke Syekh Jibril-. Beliau menilai bacaan dan hafalan Saihul Basyir sudah bagus, beliau hanya menyarankan agar Saihul Basyir meningkatkan dan belajar kembali aneka ragam nagham membaca Al-Qur’an agar bisa menguasai semua nada murattal, tidak hanya satu nada bacaan saja. Semoga dengan mendapatkan doa khusus dan suntikan pujian serta kritikan –nasihat- yang membangun dari Syekh Muhammad Jibril dapat diterapkan langsung oleh Saihul Basyir, dan ia pun semakin semangat untuk mempelajarinya.

Harapan ke depan, semoga Saihul Basyir bisa memperdalam dan menguasai tafsir Al-Qur’an dengan tiga bahasa; Arab-Inggris-Indonesia. Karena poin hafalan Al-Qur’annya sudah didapat. Semoga Allah selalu memberikan hidayah kepada beliau –tentu kepada kita semua juga- agar istiqamah di jalan-Nya, dan semoga Allah memperbanyak “Muhammad Saihul Basyir” lainnya yang selalu berkomitmen untuk menjaga ayat-ayat-Nya. Aamiin. []

Saihul Basyir bersama junuud (pasukan) Daarul Qur'an. (Irhamni Rofiun)

Saihul Basyir bersama junuud (pasukan) Daarul Qur’an. (Irhamni Rofiun)

Video Wawancara dengan Muhammad Saihul Basyir:

I. Keluarga Penghafal Al-Qur’an:

II. Awal Menghafal Sampai Tamat:

III. Suasana Keluarga dan Lingkungan:

IV. Hikmah Mengikuti Perlombaan Menghafal Al-Qur’an:

V. Harapan dan Target:

VI. Tips dan Trik Menghafal Al-Qur’an:

VII. Tes Hafalan:

Tambahan: Saihul Basyir waktu tampil di salah satu tempat perlombaan:

Sumber: http://www.dakwatuna.com

%d bloggers like this: