Posts from the ‘ISLAM & IPTEK’ Category

Ilmu Tafsir dan Problematikanya (3/4)

III. Ayat-ayat Kawniyyah dalam Al-Quran

Al-Quran Al-Karim, yang terdiri atas 6.236 ayat itu, menguraikan berbagai persoalan hidup dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya. Uraian-uraian sekitar persoalan tersebut sering disebut ayat-ayat kawniyyah. Tidak kurang dari 750 ayat yang secara tegas menguraikan hal-hal di atas. Jumlah ini tidak termasuk ayat-ayat yang menyinggungnya secara tersirat.

Tetapi, kendatipun terdapat sekian banyak ayat tersebut, bukan berarti bahwa Al-Quran sama dengan Kitab Ilmu Pengetahuan, atau bertujuan untuk menguraikan hakikat-hakikat ilmiah. Ketika Al-Quran memperkenalkan dirinya sebagai tibyanan likulli syay’i (QS 16:89), bukan maksudnya menegaskan bahwa ia mengandung segala sesuatu, tetapi bahwa dalam Al-Quran terdapat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi.

Al-Ghazali dinilai sangat berlebihan ketika berpendapat bahwa “segala macam ilmu pengetahuan baik yang telah, sedang dan akan ada, kesemuanya terdapat dalam Al-Quran”. Dasar pendapatnya ini antara lain adalah ayat yang berbunyi, Pengetahuan Tuhan kami mencakup segala sesuatu (QS 7:89). Dan bila aku sakit Dialah Yang Menyembuhkan aku (QS 26:80). Tuhan tidak mungkin dapat mengobati kalau Dia tidak tahu penyakit dan obatnya. Dari ayat ini disimpulkan bahwa pasti Al-Quran, yang merupakan Kalam/Firman Allah, juga mengandung misalnya disiplin ilmu kedokteran. Demikian pendapat Al-Ghazali dalam Jawahir Al-Qur’an. Di sini, dia mempersamakan antara ilmu dan kalam, dua hal yang pada hakikatnya tidak selalu seiring. Bukankah tidak semua apa yang diketahui dan diucapkan?! Bukankah ucapan tidak selalu menggambarkan (seluruh) pengetahuan?

Al-Syathibi, yang bertolak belakang dengan Al-Ghazali, juga melampaui batas kewajaran ketika berpendapat bahwa “Para sahabat tentu lebih mengetahui tentang kandungan Al-Quran” –tetapi dalam kenyataan tidak seorang pun di antara mereka yang berpendapat seperti di atas. “Kita,” kata Al-Syathibi lebih jauh, “tidak boleh memahami Al-Quran kecuali sebagaimana dipahami oleh para sahabat dan setingkat dengan pengetahuan mereka.” Ulama ini seakan-akan lupa bahwa perintah Al-Quran untuk memikirkan ayat-ayatnya tidak hanya tertuju kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi-generasi sesudahnya yang tentunya harus berpikir sesuai dengan perkembangan pemikiran pada masanya masing-masing.

Al-Quran dan Alam Raya

Seperti dikemukakan di atas bahwa Al-Quran berbicara tentang alam dan fenomenanya. Paling sedikit ada tiga hal yang dapat dikemukakan menyangkut hal tersebut:

1. Al-Quran memerintahkan atau menganjurkan kepada manusia untuk memperhatikan dan mempelajari alam raya dalam rangka memperoleh manfaat dan kemudahan-kemudahan bagi kehidupannya, serta untuk –mengantarkannya kepada kesadaran akan Keesaan dan Kemahakuasaan Allah SWT.
Dari perintah ini tersirat pengertian bahwa manusia memiliki potensi untuk mengetahui dan memanfaatkan hukum-hukum yang mengatur fenomena alam tersebut. Namun, pengetahuan dan pemanfaatan ini bukan merupakan tujuan puncak (ultimate goal).

2. Alam dan segala isinya beserta hukum-hukum yang mengaturnya, diciptakan, dimiliki, dan di bawah kekuasaan Allah SWT serta diatur dengan sangat teliti.
Alam raya tidak dapat melepaskan diri dari ketetapan-ketetapan tersebut –kecuali jika dikehendaki oleh Tuhan. Dari sini tersirat bahwa:

* Alam raya atau elemen-elemennya tidak boleh disembah, dipertuhankan atau dikultuskan.

* Manusia dapat menarik kesimpulan-kesimpulan tentang adanya ketetapan-ketetapan yang bersifat umum dan mengikat bagi alam raya dan fenomenanya (hukum-hukum alam).

3. Redaksi ayat-ayat kawniyyah bersifat ringkas, teliti lagi padat, sehingga pemahaman atau penafsiran terhadap ayat-ayat tersebut dapat menjadi sangat bervariasi, sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pengetahuan masing-masing penafsir.

Dalam kaitan dengan butir ketiga di atas, perlu digarisbawahi beberapa prinsip dasar yang dapat, atau bahkan seharusnya, diperhatikan dalam usaha memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang mengambil corak ilmiah. Prinsip-prinsip dasar tersebut adalah

1. Setiap Muslim, bahkan setiap orang, berkewajiban untuk mempelajari dan memahami Kitab Suci yang dipercayainya, walaupun hal ini bukan berarti bahwa setiap orang bebas untuk menafsirkan atau menyebarluaskan pendapat-pendapatnya tanpa memenuhi seperangkat syarat-syarat tertentu.

2. Al-Quran diturunkan bukan hanya khusus ditujukan untuk orang-orang Arab ummiyyin yang hidup pada masa Rasul saw. dan tidak pula hanya untuk masyarakat abad ke-20, tetapi untuk seluruh manusia hingga akhir zaman. Mereka semua diajak berdialog oleh Al-Quran serta dituntut menggunakan akalnya dalam rangka memahami petunjuk-petunjuk-Nya. Dan kalau disadari bahwa akal manusia dan hasil penalarannya dapat berbeda-beda akibat latar belakang pendidikan, kebudayaan, pengalaman, kondisi sosial, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), maka adalah wajar apabila pemahaman atau penafsiran seseorang dengan yang lainnya, baik dalam satu generasi atau tidak, berbeda-beda pula.

3. Berpikir secara kontemporer sesuai dengan perkembangan zaman dan iptek dalam kaitannya dengan pemahaman Al-Quran tidak berarti menafsirkan Al-Quran secara spekulatif atau terlepas dari kaidah-kaidah penafsiran yang telah disepakati oleh para ahli yang memiliki otoritas dalam bidang ini.

4. Salah satu sebab pokok kekeliruan dalam memahami dan menafsirkan Al-Quran adalah keterbatasan pengetahuan seseorang menyangkut subjek bahasan ayat-ayat Al-Quran. Seorang mufasir mungkin sekali terjerumus kedalam kesalahan apabila ia menafsirkan ayat-ayat kawniyyah tanpa memiliki pengetahuan yang memadai tentang astronomi, demikian pula dengan pokok-pokok bahasan ayat yang lain.

Dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip pokok di atas, ulama-ulama tafsir memperingatkan perlunya para mufasir –khususnya dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan penafsiran ilmiah– untuk menyadari sepenuhnya sifat penemuan-penemuan ilmiah, serta memperhatikan secara khusus bahasa dan konteks ayat-ayat Al-Quran.

Pendapat Para Ulama tentang Penafsiran Ilmiah

Disepakati oleh semua pihak bahwa penemuan-penemuan ilmiah, di samping ada yang telah menjadi hakikat-hakikat ilmiah yang dapat dinilai telah memiliki kemapanan, ada pula yang masih sangat relatif atau diperselisihkan sehingga tidak dapat dijamin kebenarannya.

Atas dasar larangan menafsirkan Al-Quran secara spekulatif, maka sementara ulama Al-Quran tidak membenarkan penafsiran ayat-ayat berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah yang sifatnya belum mapan. Seorang ulama berpendapat bahwa “Kita tidak ingin terulang apa yang terjadi atas Perjanjian Lama ketika gereja menafsirkannya dengan penafsiran yang kemudian ternyata bertentangan dengan penemuan para ilmuwan.” Ada Pula yang berpendapat bahwa “Kita berkewajiban menjelaskan Al-Quran secara ilmiah dan biarlah generasi berikut membuka tabir kesalahan kita dan mengumumkannya.”

Abbas Mahmud Al-Aqqad memberikan jalan tengah. Seseorang hendaknya jangan mengatasnamakan Al-Quran dalam pendapat-pendapatnya, apalagi dalam perincian penemuan-penemuan ilmiah yang tidak dikandung oleh redaksi ayat-ayat Al-Quran. Dalam hal ini, AlAqqad memberikan contoh menyangkut ayat 30 Surah Al-Anbiya’ yang oleh sementara ilmuwan Muslim dipahami sebagai berbicara tentang kejadian alam raya, yang pada satu ketika merupakan satu gumpalan kemudian dipisahkan Tuhan.

Setiap orang bebas memahami kapan dan bagaimana terjadinya pemisahan itu, tetapi ia tidak dibenarkan mengatasnamakan Al-Quran menyangkut pendapatnya, karena Al-Quran tidak menguraikannya.

Setiap Muslim berkewajiban mempercayai segala sesuatu yang dikandung oleh Al-Quran, sehingga bila seseorang mengatasnamakan Al-Quran untuk membenarkan satu penemuan atau hakikat ilmiah yang tidak dicakup oleh kandungan redaksi ayat-ayat Al-Quran, maka hal ini dapat berarti bahwa ia mewajibkan setiap Muslim untuk mempercayai apa yang dibenarkannya itu, sedangkan hal tersebut belum tentu demikian.

Pendapat yang disimpulkan dari uraian Al-Aqqad di atas, bukan berarti bahwa ulama dan cendekiawan Mesir terkemuka ini menghalangi pemahaman suatu ayat berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan. Tidak! Sebab, menurut Al-Aqqad lebih lanjut, “Dahulu ada ulama yang memahami arti ‘tujuh langit’ sebagai tujuh planet yang mengitari tata surya –sesuai dengan perkembangan pengetahuan ketika itu. Pemahaman semacam ini merupakan ijtihad yang baik sebagai pemahamannya (selama) ia tidak mewajibkan atas dirinya untuk mempercayainya sebagai akidah dan atau mewajibkan yang demikian itu terhadap orang lain.”

Bint Al-Syathi’ dalam bukunya, Al-Qur’an wa Al-Qadhaya Al-Washirah, secara tegas membedakan antara pemahaman dan penafsiran. Sedangkan Al-Thabathaba’i, mufasir besar Syi’ah kontemporer, lebih senang menamai penjelasan makna ayat-ayat Al-Quran secara ilmiah dengan nama tathbiq (penerapan). Pendapat-pendapat di atas agaknya semata-mata bertujuan untuk menghindari jangan sampai Al-Quran dipersalahkan bila di kemudian hari terbukti teori atau penemuan ilmiah tersebut keliru.

Segi Bahasa Al-Quran dan Korelasi Antar Ayatnya

Seperti yang telah dikemukakan di atas, para mufasir mengingatkan agar dalam memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al-Quran –khususnya yang berkaitan dengan penafsiran ilmiah– seseorang dituntut untuk memperhatikan segi-segi bahasa Al-Quran serta korelasi antar ayat.

Sebelum menetapkan bahwa ayat 88 Surah Al-Naml (yang berbunyi, Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka ia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan), ini menginformasikan pergerakan gunung-gunung, atau peredaran bumi, terlebih dahulu harus dipahami kaitan ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya. Apakah ia berbicara tentang keadaan gunung dalam kehidupan duniawi kita dewasa ini atau keadaannya kelak di hari kemudian. Karena, seperti diketahui, penyusunan ayat-ayat Al-Quran tidak didasarkan pada kronologis masa turunnya, tetapi pada korelasi makna ayat-ayatnya, sehingga kandungan ayat terdahulu selalu berkaitan dengan kandungan ayat kemudian.

Demikian pula halnya dengan segi kebahasaan. Ada sementara orang yang berusaha memberikan legitimasi dari ayat-ayat Al-Quran terhadap penemuan-penemuan ilmiah dengan mengabaikan kaidah kebahasaan.

Ayat 22 Surah Al-Hijr, diterjemahkan oleh Tim Departemen Agama dengan, “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit …”Terjemahan ini, di samping mengabaikan arti huruf fa; juga menambahkan kata tumbuh-tumbuhan sebagai penjelasan sehingga terjemahan tersebut menginformasikan bahwa angin berfungsi mengawinkan tumbuh-tumbuhan.

Hemat penulis, terjemahan dan pandangan di atas tidak didukung oleh fa anzalna min al-sama’ ma’a yang seharusnya diterjemahkan dengan maka kami turunkan hujan. Huruf fa’ yang berarti “maka” menunjukkan adanya kaitan sebab dan akibat antara fungsi angin dan turunnya hujan, atau perurutan logis antara keduanya sehingga tidak tepat huruf tersebut diterjemahkan dengan dan sebagaimana tidak tepat penyisipan kata tumbuh-tumbuhan dalam terjemahan tersebut. Bahkan tidak keliru jika dikatakan bahwa menterjemahkan lawaqiha dengan meniupkan juga kurang tepat.

Kamus-kamus bahasa mengisyaratkan bahwa kata tersebut digunakan antara lain untuk menggambarkan inseminasi. Sehingga, atas dasar ini, Hanafi Ahmad menjadikan ayat tersebut sebagai informasi tentang fungsi angin dalam menghasilkan atau mengantarkan turunnya hujan, semakna dengan Firman Allah dalam surah Al-Nur ayat 43: Tidakkah kamu lihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian dijadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya …

Memang, seperti yang dikemukakan di atas, sebab-sebab kekeliruan dalam memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al-Quran antara lain adalah kelemahan dalam bidang bahasa Al-Quran, serta kedangkalan pengetahuan menyangkut objek bahasan ayat. Karena itu, walaupun sudah terlambat, kita masih tetap menganjurkan kerja sama antardisiplin ilmu demi mencapai pemahaman atau penafsiran yang tepat dari ayat-ayat Al-Quran dan demi membuktikan bahwa Kitab Suci tersebut benar-benar bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui lagi Mahaesa itu.

DAFTAR PUSTAKA

* Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA., Membumikan Al-Quran, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Penerbit Mizan, Bandung, 1992.
* Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004
* Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA., Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Penerbit Mizan, Bandung, 1997.
* Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Quran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007.
* Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur’an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008.
* Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Dr. Ahmad Qodri Abdillah Azizy, MA, Dr. A. Chaeruddin, SH., etc. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2008, Editor : Prof. Dr. Taufik Abdullah, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, MA.
* Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008.
* Al-Zarkasyi, Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an, Al-Halabiy, Kairo, 1957, jilid I
* Thanthawi Jauhari, Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an, Kairo, 1350 H, jilid I
* Mahmud Syaltut, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Dar Al-Qalam, Mesir, Cetakan II
* Al-Ghazali, Jawahir Al-Qur’an, Percetakan Kurdistan, Mesir, Cetakan I
* Abu Ishaq Al-Syathibi, Al-Muwafaqat, Dar Al-Ma’rifah, Mesir, jilid 1
* Muhammad Ridha Al-Hakimi, Al-Qur’an Yasbiqu Al-‘Ilm Al-Hadits, Dar Al-Qabas, Kuwait, 1977
* Abdul Muta’al Muhammad Al-Jabri, Syathahat Mushthafa Mahmud, Dar Al-I’thisham, Kairo, 1976
* Abbas Mahmud Al-Aqqad, Al-Falsafah Al-Qur’aniyyah, Dar Al-Hilal, Kairo
* Bint Al-Syathi’, Al-Quran wa Al-Qadhaya Al-Mu’ashirah, Dar Al-Ilmu li Al-Malayin, Beirut, 1982
* Muhammad Husain Al-Thabathaba’i, Tafsir Al-Mizan, Dar Al-Kutub Al-Islamiyyah, Teheran, 1397 H., cet. III, jilid I
* Hanafi Ahmad, Al-Tafsir Al-‘Ilmiy lil Ayat Al-Kawniyyah, Dar Al-Ma’arif Mesir, 1960
* alquran.bahagia.us, keislaman.com, dunia-islam.com, Al-Quran web, PT. Gilland Ganesha, 2008.
* Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979.
* Al-Hafizh Zaki Al-Din ‘Abd Al-‘Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
* M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008.
* Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008.
* Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999.

Bacaan sebelumnya: Ilmu Tafsir dan Problematikanya (2/4)
Bacaan selanjutnya: Ilmu Tafsir dan Problematikanya (4/4

LALAT, Sehina Itukah Dia, atau Dia Lebih Mulia Dari Itu?

Oleh: H. Muhammad Widus Sempo, MA


Ilustrasi (Sunaryo Tandi)

Tidak ada entitas kehidupan yang tercipta sia-sia. Sadar akan hal ini, penulis berupaya menyuguhkan tulisan singkat tentang hakikat penciptaan lalat. Makhluk lemah ini sering kali dituding oleh sebagian dari mereka sebagai serangga pembawa sial, kuman penyakit, dan hewan yang cukup mengganggu. Akan tetapi, pernahkah mereka memikirkan hakikat penciptaannya?

Hampir semua jenis serangga, termasuk lalat, tidak terlihat di musim dingin, mereka nantinya muncul beterbangan di awal musim semi, tetapi sebagian dari mereka, seperti lalat hijau telah menampakkan diri di penghujung musim dingin. Tentunya, fenomena seperti ini membangkitkan selera tanya pemerhati yang berkata: “rahasia apa lagi di balik fenomena ini? Apakah di sana ada pesan-pesan kehidupan untuk manusia?”

Siklus kehidupan seperti ini menunjukkan kesempurnaan penciptaan Allah SWT. Mereka seperti bala tentara Allah yang menyeru dan berkata: “wahai manusia, khalifah Allah, jangan pernah melihat aku pada batas penciptaan semata, tetapi temukan nilai-nilai ketuhanan dan kehidupan di balik penciptaanku! Aku melukiskan seribu satu makna bagi insan-insan Rabbânî. Olehnya itu, jangan pernah mengusirku dengan begitu kasar, hanya karena aku hinggap di batang hidungmu. Aku tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan seperti itu, jika Anda mengetahui hakikat-hakikat penciptaan yang aku biaskan. Boleh jadi, dengan bertenggernya aku di batang hidungmu sedetik, itu dapat menyadarkanmu dari kelalaian tentang hakikat penciptaan setiap entitas kehidupan. Coba lihat dan pikirkan itu!”

Di musim panas sampah dan bangkai binatang cepat mengalami pembusukan oleh pengaruh bakteri. Olehnya itu, untuk menekan bahaya bakteri tersebut, Allah menciptakan lalat di luar perhitungan matematis sebagai pembasmi gratis terhadap kuman-kuman penyakit.

Syekh Mutawallî as-Sya’râwî dengan singkat mengatakan:

“Sebagian manusia bertanya: “apa hikmah penciptaan lalat di kosmos ini?” mereka tidak tahu bahwa lalat senantiasa memberikan layanan jasa yang sangat urgen, dia memakan kotoran dan kuman penyakit yang melengket di tubuhnya, dan seandainya manusia memproteksi diri dengan kebersihan, pasti lalat tidak mengerumuni mereka.

Jadi, setiap entitas kehidupan memerankan fungsi mereka dengan teratur. Sesungguhnya keteraturan yang apik itu datang dari Sang Pencipta yang Maha Mengetahui lagi Bijak. Dan selagi Dia yang Bijak yang menciptakan, maka tidak layak bagi mereka membantah dan berkata: “kenapa lagi dia tercipta?” Karena setiap makhluk punya tugas tersendiri di alam ini.”[1]

Sebelumnya, Bediuzzaman Said Nursi mendeskripsikan fungsi penciptaan makhluk ini dengan panjang lebar, beliau berkata:

“Sesungguhnya lalat sangat memerhatikan kebersihan, dia senantiasa membersihkan muka, mata dan sayapnya, seperti orang yang sedang berwudhu. Olehnya itu, tanpa ragu, jenis makhluk ini punya tugas penting dan mulia, tetapi kaca mata hikmah dan ilmu manusia tidak mampu menangkap semua fungsi yang sedang dilaksanakan.

Di antara hewan yang diciptakan Allah binatang buas, pemakan daging (karnivor). Mereka seperti petugas kebersihan yang menjalankan tugas dengan begitu sempurna. Dengan melahap bangkai binatang darat dan laut, mereka telah menjaga kebersihan laut dan udara dari polusi.

Di lain sisi, di sana ada burung-burung pemangsa yang siap mencengkeram bangkai binatang laut dan darat sebelum membusuk. Dengan desain indera perasa yang Allah ciptakan terhadapnya, mereka mampu menangkap sinyal bangkai dari jarak tempuh sekitar 6 jam perjalanan. Seandainya petugas kebersihan ini tidak ada, dunia sungguh menyedihkan dan wajah laut murung tidak berseri.

Tidak jauh dari itu, lalat punya fungsi serupa. Serangga ini telah diformat khusus untuk membasmi kuman penyakit yang tidak terlihat oleh kasat mata. Dia bukan pembawa kuman, melainkan dia penghancur pelbagai basil yang berbahaya dengan memakan dan mendaur ulang materi beracun ini menjadi materi lain, sehingga dengan sendirinya penyakit-penyakit pun tidak tersebar dalam skala besar dan menakutkan.

Bukti nyata bahwa mereka makhluk petugas kebersihan, pembasmi bahan-bahan kimia yang mengancam, dan keberadaannya penuh dengan hikmah, adalah jumlahnya yang tidak terhitung di musim panas. Bukankah materi yang bermanfaat itu diperbanyak kopiannya?”[2]

Yang menarik lagi dari hewan ini, justifikasi hukum dari hadits bahwa spesies ini, meskipun datang dari kotoran, tetapi ia diperlengkapi dengan anti-bakteri. Ini telah ditegaskan sabda Nabi Saw berikut ini:

(إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ، ثم لْيَطْرَحْهُ، فَإِنَّ فِى أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً، وَفِى الآخَرِ دَاءً).

“Jika lalat jatuh di tempat minum (gelas) salah seorang dari kalian, maka celupkan semua tubuhnya. Sesungguhnya di salah satu sayapnya ada obat, dan di sayap lain ada penyakit.”[3]

Jika Anda bertanya dan berkata: “Apakah mungkin lalat punya anti-bakteri, sementara, dia hidup di kotoran? Tolong buktikan dengan dalil-dalil ilmiah?”

Kebenaran medis Nabi Saw tersebut, yang diingkari oleh sebagian orientalis, telah dibuktikan oleh kedokteran kuno dan modern.

Imam Ibn Qutaiba berkata:

“Ahli medis kuno menganggap bahwa lalat yang diaduk dengan serbuk antimon [4] dapat menjadi ramuan celak yang ampuh mempertajam penglihatan dan mempertebal pertumbuhan bulu-bulu mata.” [5]

Olehnya itu, bagi Imam Ibn Qayyîm sendiri, hadits ini tidak patut diingkari oleh mereka, karena bukan hanya lalat saja seperti ini, tetapi ular, lebah dan yang lain punya mekanisme serupa. Beliau menjelaskan:

“Sebagian dari mereka merasa aneh terhadap penyakit dan obat yang ditemukan dalam satu makhluk. Itu bukanlah keanehan, sesungguhnya mulut lebah membawa madu dan pantatnya menyimpan sengat, bisa ular dapat dilumpuhkan dengan ramuan Tiryak (pengobatan kuno yang komposisinya terdiri dari bisa dan serbuk daging ular yang dicampur dan diaduk rata), dan mereka menyarankan kepada korban yang mukanya digigit anjing untuk ditutupi. Karena jika lalat hinggap, penyakitnya dapat bertambah parah.” [6]

Dunia medis modern pun telah menemukan hal yang tidak jauh beda dari penemuan di atas. Ini dapat dilihat di laporan medis mereka berikut ini:

Karena tabiat lalat yang tercipta di lingkungan kotor, maka sebagian kotoran tersebut melengket di tubuhnya, dan sebagian lain dimakan, yang kemudian menjadi materi beracun yang lebih dikenal dengan anti-bakteri (bakterionag). Zat beracun tidak dapat bertahan hidup, atau punya pengaruh terhadap kekebalan tubuh selama anti-bakteri ini ada di tubuh lalat. Olehnya itu, jika seekor lalat yang membawa kuman penyakit jatuh di makanan dan minuman, maka pemusnah kuman yang paling ampuh anti-bakteri yang tersimpan di rongga dalam lalat itu sendiri yang dekat di salah satu sayapnya. Tentunya, dengan mencelupkan semua tubuh lalat cukup untuk membunuh kuman-kuman yang melengket di tubuhnya. Hal ini telah dibuktikan medis barat.[7]

Pendek kata, medis kenabian telah terbukti kebenarannya oleh medis kuno dan modern. Tidak ada celah bagi mereka yang ingin menuding teks-teks Islam sebagai teks agama yang tidak riil dan relevan dengan dunia nyata. Ini mengindikasikan kebesaran dan keagungan Sang Maha Penguasa, yang ciptaan- ciptaan-Nya dapat menjadi guru tersendiri bagi mereka yang ingin menangkap bisikan-bisikan hakikat penciptaan dan kehidupan.

Keurgensian makhluk ini tidak berhenti di sini saja, tetapi ia diabadikan sebagai bahan baku celaan Al-Qur’an terhadap orang-orang musyrik. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ ﴿٧٣﴾

“Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al-Hajj [22]: 73)

Hemat penulis, lalat makhluk yang paling lemah, tetapi ia mengetahui kelemahannya. Di lain sisi, penyembah berhala, makhluk lemah, tidak menyadari kelemahannya, bahkan ia memberikan justifikasi ketuhanan kepada berhala-berhala yang tidak punya kekuatan sedikit pun. Olehnya itu, kelemahan yang disadari dan diposisikan pada tempatnya lebih baik dari sejuta kesombongan dan keangkuhan yang menyengsarakan.

Sesungguhnya apa yang mereka anggap kuat, hakikatnya lemah di hadapan Allah, penyembah dan sembahan tidak dapat mengembalikan sesuatu yang telah dirampas lalat dari mereka. [8] Apa lagi jika mereka diminta menciptakan makhluk ajaib ini. Sungguh, itu cemooh yang mencoreng muka mereka di hadapan seluruh entitas kehidupan, celaan yang meninggalkan pilu dan malu. [9]

Demikianlah telaah imaniah singkat tentang justifikasi negatif terhadap lalat yang jauh dari nilai-nilai keimanan, hewan yang menyimpan seribu satu keajaiban penciptaan.

Di akhir tulisan ini, saya mengajak pemerhati tema-tema keislaman menyimpulkan apa yang dipaparkan di atas:

“Telaah rahasia-rahasia penciptaan lalat dengan penuh keimanan! ia lemah tapi tidak sombong, dengan kelemahan dia menjadi kuat, makhluk yang melukiskan keagungan penciptaan yang tidak terhingga, petugas kebersihan harian umat manusia yang tidak disadari. Mereka tidak pernah meminta gaji, yang mereka inginkan hanyalah kesadaran manusia untuk menjadikan mereka objek telaah imaniah yang menyuguhkan aneka ragam makna kehidupan dan ketuhanan. Dia tidak kotor meski dari tempat kotor, tidak membawa kuman kecuali obatnya telah siap, dan dia senantiasa menyeru Anda untuk menjaga kebersihan. Subhanallah wa Alhamdulillah!”

——————————————————————–

Catatan Kaki:

[1] Tafsir as-Sya’râwî, vol. 2, hlm. 699

[2] Lihat: Ustadz Bediuzzaman Said Nursi, Masâil Daqîqah fi al-Ushûl wa al-Aqîdah, diterjemahkan oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihî, Sözler Publication, cet. 2, 2003 M, hlm. 7-9

[3] Hadits ini diriwayatkan oleh Abi Hurairah ra., dan dikeluarkan oleh Imam Bukhari di Shahihnya, kitab at-Tib, bab Isâ waqaa adz-Zubâb fi Inâi Ahadikum, hadits, no: 5782, hlm. 1594

[4] antimon: logam berwarna putih perak yang mudah dihancurkan menjadi serbuk dan dicampur dengan logam-logam lain; batu serawak. [Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, cet. 3, 1990 M, hlm. 43]

[5] Imam Abî Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah, Ta’wîl Mukhtalafil Hadîts, ditahkik oleh Muhammad Muhyiddin al-Ashfar, al-Maktab al-Islami, Beirut, cet. 2, 1419 H/1999 M, hlm. 335-336

[6] Imam Ibn Qayyîm al-Jauzî, al-Musykil min Hadîts as-Shahîhain, ditakhkik oleh DR. Ali Husain al-Bawwâb, Dar al-Wathan, cet. 1, 1418 H/1997 M, hadits, no: 2076/2581, vol. 3, hlm. 547

[7] Lihat: Musykilât al-Ahâdîts an-Nabawiyyah wa Bayânuhâ, vol. 1, hlm. 54

[8] yang dirampas dari mereka adalah sesajen yang dipersembahkan khusus untuk berhala-berhala. Kebanyakan mufassir menafsirkannya sebagai wangi-wangian dan madu yang dioleskan di bagian kepala patung-patung tersebut. Di lain sisi, Syekh as-Sya’râwî menafsirkannya dengan makanan dan darah hewan (korban) yang disembelih di dekat berhala-berhala mereka. [lihat: Abû Hayyan at-
Tauhîdî, al-Bahru al-Muhîth, vol. 6, hlm. 360, dan Tafsir as-Sya'râwî, vol. 16, hlm. 9933-9934]

[9] Lihat: Syekh Abîs as-Suûd al-Imâdî, Tafsir Abî as-Suûd, vol. 4, hlm. 397-398, dan Syekh Muhammad Thâhîr bin Ãsyûr, at-Tahrîr wa at-Tanwîr, vol. 17, hlm. 340

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Renungkanlah! Adakah Hubungan Antara KA’BAH Dengan KIAMAT?

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. Ali Imran/3: 96)

Kita mungkin pernah bertanya kenapa harus sholat menghadap Kiblat, juga kenapa harus ada Ibadah Thawaf, Ini juga sering jadi perenungan manusia, seperti ini :

1. Ketika mempelajari Kaidah Tangan Kanan (Hukum Alam), bahwa putaran energi kalau bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, maka arah energi akan naik ke atas. Arah ditunjukkan arah 4 jari, dan arah ke atas ditunjukkan oleh Arah Jempol.

2. Dengan pola ibadah thawaf dimana bergerak dengan jalan berputar harus berlawanan arah jarum jam, ini menimbulkan pertanyaan, kenapa tidak boleh terbalik arah, searah jarum jam misalnya.

3. Kenapa Sholat harus menghadap Kiblat, termasuk dianjurkan berdoa dan pemakaman menghadap Kiblat

4. Kenapa Sholat Di Masjidil Haram menurut Hadist nilainya 100.000 kali lebih utama dari sholat di tempat lain.

5. Singgasana Alloh swt ada di Langit Tertinggi (‘Arsy)


Design Interior Ka’bah

Perenungan Sintesa :

1. Energi Sholat dan Doa dari individu atau jamaah seluruh dunia terkumpul dan terakumulasi di Kabah setiap saat, karena Bumi berputar sehingga sholat dari seluruh Dunia tidak terhenti dalam 24 jam, misal orang Bandung solat Dzuhur, beberapa menit kemudian orang Jakarta Dzuhur, beberapa menit kemudian Serang Dzuhur, Lampung dan seterusnya. Belum selesai Dzuhur di India, Pakistan, di Makasar sudah mulai Ashar dan seterusnya. Pada saat Dzuhur di Jakarta di London Sholat Subuh dan seterusnya 24 jam setiap hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya.

2. Energi yang terakumulasi, berlapis dan bertumpuk akan diputar dengan Generator orang-orang yang bertawaf yang berputar secara berlawanan arah jarum jam yang dilakukan jamaah Makah sekitarnya dan Jamaah Umroh / Haji yang dalam 1 hari tidak ditentukan waktunya.

3. Maka menurut implikasi hukum Kaidah Tangan Kanan bahwa Energi yang terkumpul akan diputar dengan Thawaf dan hasilnya kumpulan energi tadi arahnya akan ke atas MENUJU LANGIT. Jadi Sedikit terjawab bahwa energi itu tidak berhenti di Kabah namun semuanya naik ke Langit. Sebagai satu cerobong yang di mulai dari Kabah. Menuju Langit mana atau koordinat mana itu masih belum nyampe pikiran manusia. Yang jelas pasti Tuhan telah membuat saluran agar solat dan doa dalam bentuk energi tadi agar sampai Ke Hadirat-Nya. Jadi selama 24 Jam sehari terpancar cerobong Energi yang terfokus naik ke atas Langit. Selamanya sampai tidak ada manusia yang sholat dan tawaf (kiamat?).

Kesimpulan

1. Sholat dan Doa, diyakini akan sampai ke langit menuju Singgasana Alloh SWT selama memenuhi kira-kira persyaratan uraian di atas dengan sintesa (gabungan/Ekstrasi) renungan hukum agama dan hukum alam, karena dua-duanya ciptaan Allah juga. Jadi hendaknya ilmuwan dan agamawan bersinergi/ saling mendukung untuk mencapai kemaslahatan yang lebih luas dan pemahaman agama yang dapat diterima lahir batin

2. Memantapkan kita dalam beribadah sholat khususnya dan menggiatkan diri untuk selalu on-line 24 jam dengan Alloh SWT, sehingga jiwa akan selalu terjaga dan membuahkan segala jenis kebaikan yang dilakukan dengan senang hati (ikhlas).

3. Terjawablah jika sholat itu tidak menyembah batu (Kabah) seperti yang dituduhkan kaum orientalis, tapi menggunakan perangkat alam untuk menyatukan energi sholat dan doa untuk mencapai Tuhan dengan upaya natural manusia.

4. Tuhan Maha Pandai, Maha Besar dan Maha Segalanya

Ini sekedar renungan dan analisa , semoga saja mampu memotivasi kita dan para Pakar untuk memicu pemikiran, penelitian lebih dalam untuk lebih mempertebal keimanan dan menjadi saksi bahwa Tuhan menciptakan semesta dengan penuh kesempurnaan tidak dengan main-main (asal jadi) sehingga makin yakin dan cinta pada Alloh SWT. Mungkin renungan ini berlebihan dan berfantasi, tapi sedikitnya ini pendekatan yang mampu menjawab pertanyaan sebagaimana di atas dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci dan Hadist bahkan mendukungnya. Semoga bermanfaat.


Interior Ka’bah

Ramalan Untuk Memastikan Bahwa Ka’bah Dan Kiamat hanya Allah Yang Maha Tahu :

1. Ka’bah Akan Hancur Dengan Sendirinya (Terbukti dengan ditenggelamkannya satu pasukan yang akan menyerang ka’bah suatu hari nanti)

2. Jika Pusat Bumi Bergeser Akan Banyak Kekacauan (seperti Musim Yang tidak Mengenal waktu)

3. Kiamat Akan Cepat Terjadi Jika Sholat Sudah Ditinggalkan

4. Anda Pasti Juga pernah mendengar jika Siapa Yang Meninggalkan sholat berarti telah merobohkan Agama.

5. Untuk Non- Islam, kapan kapan akan kita kupas, bagaimana kemampuan Pentium 2, Pentium 3 dan pentium 4 sungguh berbeda, bagaimana petunjuk Alloh SWT Disempurnakan dari umat Nabi Ibrahim AS, kemudian dilanjutkan oleh Taurat Nabi Musa AS hingga Nabi Isa AS, Nabi Isa AS menyempurnakan Taurat dengan Injil, Dan Nabi Muhammad SAW menyempurnakan keduanya (Taurat & Injil) Dengan Al Qur’an. Hingga Kalian mengerti bahwa kita dulu adalah umat yang satu (Islam – Agama Tauhid).

Wallohu ‘Alam.

http://palingseru.com

Syarat Sukses Menghafal Al-Qur’an

Oleh : Purwanto Abdul Ghaffar

Ada dua penyebab utama mengapa seorang muslim tidak menghafal Al-Quran atau tidak sukses dalam menghafal Al-Quran. Pertama ia tidak mengenal dengan baik Al-Quran Al-Kariim, kedua ia tidak mengenal dengan baik tentang otak dan khususnya memori manusia. Dua sebab utama ini menjadi akar dari sebab-sebab turunan lain yang akan melemahkan kemampuan seorang muslim dalam menghafal Al-Quran.

Apabila seorang muslim tidak mengenal Al-Quran dengan baik maka ia tidak mengetahui apa manfaat berinteraksi dengan Al-Quran, apa manfaat menghafalnya, apa manfaat membacanya dan merenungkannya. Perasaan cinta terhadap Al-Quran sulit mendatangi dirinya karena tidak ada pembiasaan berinteraksi dengan Al-Quran. karena tidak terbiasa maka sudah tentu tidak tercipta kedekatan. Padahal cinta itu datangnya dari pengenalan dan kedekatan. Kalau sudah begitu kondisinya wajarlah kalau ia tidak mengetahui apa manfaaatnya menghafal Al-Quran, padahal penggerak pertama manusia adalah manfaat, semakin besar manfaat maka akan semakin besar pula perjuangan untuk mendapatkannya.

“Apa manfaatnya bagiku..” adalah kondisi mental yang menjadi pondasi kekuatan memori untuk mengikat sebuah data. Semakin besar manfaat yang kita ketahui maka semakin tinggi pula performance memori kita. Jadi langkah pertama untuk meningkatkan kualitas hafalan Al-Quran adalah dengan mengetahui sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya manfaat menghafal Al-Quran.

Informasi utama mengenai apa manfaat menghafal Al-Quran tentu saja bersumber dari Al-Quran itu sendiri dan dari penjelasan Nabi SAW melalui sabda-sabdanya juga dari tambahan yang diberikan oleh para sahabat dan ulama-ulama. Dalil dari Al-Quran dan Hadits sungguh banyak sekali dan dapat dengan mudahnya dirujuk, atsar para sahabat dan ucapan para ulama juga dapat dengan mudah dijumpai di banyak kitab-kitab. Misalnya sebuah kitab yang sangat jamak menjadi sumber rujukan di dunia tahfizul Quran adalah At Tibyaan fii Aaadabi Hamalatil Quran karya ulama besar Abu Zakariya Yahya Muhyiddin bin Syaraf bin Hizam An-Nawawi atau yang populer dikenal sebagai Imam Nawawi.

Kami persilahkan untuk membuka dan menikmati sumber-sumber tersebut, pada kolom ini kami hendak menyampaikan beberapa manfaat yang dekat sekali dengan jangkauan pengalaman kita sebagai upaya untuk memperkuat kepercayaan dan keyakinan kita terhadap aspek normatif yang telah disampaikan oleh yang tak mungkin keliru; Firman Allah SWT dan oleh sumber yang dilindungi oleh kekeliruan yaitu hadits serta ulasan para sahabat dan ulama penerus yang menjadi pengganti Nabi kita SAW sebagai gurunya agama.

Apa manfaat menghafal Al-Quran ?

Agar Al-Quran menjadi bahan dasar pembentuk karakter

Mengasyikkan sekali mengikuti perjalanan panjang manusia dalam upaya memahami dirinya sendiri, cara terbaik dalam memahami diri sendiri bisa dimulai dari otak kita. Otak sejak dahulu kala sampai sekarang sudah menjadi objek studi para ilmuwan, mulai dari plato yang sudah melihat otak sebagai bumi baik karena bentuknya maupun keluasan misterinya sampai Sir Roger Walcot Sperry yang pada tahun 1981 menemukan bahwa terdapat perbedaan mencolok antara otak kanan dan otak kiri. Brainsaintis ingin memahami apa dan bagaimana otak bekerja. Apa fungsi dari daging berwarna putih dengan tekstur lembut dibalik tengkorak kepala kita, apa tugas dari benda seperti spons berwarna abu-abu yang melipat dirinya dengan sangat unik itu, kenapa bisa ada kerjapan-kerjapan listrik dari sekumpulan lemak protein dan air ini? Dari berabad-abad penelitian anyak sudah dugaan dibuktikan, banyak asumsi di pastikan, banyak juga kesalahan yang sudah di luruskan, tetapi rupanya semakin banyak juga pertanyaan-pertanyaan baru yang lahir.

Berkat kerja keras mereka sekarang kita tahu bahwa otak adalah pusat dari kecerdasan manusia; kebugaran fisik, ketajaman kognitif, kestabilan mental, dan keharmonisan hubungan dengan Tuhan rupanya berasal dari sini. Andai kepala seseorang kena lemparan kerikil, inilah yang terjadi di dalam otaknya : setelah menyalakan rasa sakit, ada bagian otak -anggap saja kurir- yang mencari-cari data yang dapat dikaitkan dengan pengalaman barusan. Dalam hitungan detik sang kurir membawa potongan film Rambo sedang disiksa oleh tentara vietnam, kepingan kenangan ketika bapak gurunya memukul jemarinya karena lupa potong kuku, Naruto tengah menyerang musuhnya, pelajaran sejarah tentang penjajahan Indonesia, suara guru TK-nya di masa lalu yang sedang mendamaikan dua temannya yang berantem. Beberapa fragmen dari film kartun Tom and Jerry, lima detik penjelasan guru ngajinya saat membahas tentang topik ‘memaafkan,’ kenangan saat ibunya menjewer telingannya, wajah beberapa orang temannya, lima orang yang tidak disukainnya dan dua orang sahabatnya, game tekken yang menyajikan pertarungan fisik hingga berdarah-darah, berita tentang para mahasiswa Makasar yang sedang bertarung, fragmen sinetron Tersanjung jilid tiga yang sedang menyajikan penyiksaan majikan pembantu, heading poskota ; “Perang dua gang di Rawamangun terjadi lagi,” puluhan data itu berebut untuk masuk ke dapur emosi dan masing-masing dari mereka mulai berkoalisi, kali ini terbentuk dua gerakan yang mengusulkan dua paket respon emosional :

Paket satu berisi; Husnuzon, identifikasi masalah yang hasilnya ; “Ini masalah kecil, tak penting,” dan pemetaan situasi atas pengalaman barusan adalah; batu itu melayang dan menghantam kepalanya dikarenakan sebab ketidaksengajaan, jadi koalisi ini mengusulkan untuk mengabaikan kejadian itu, dan menata hati untuk siap memaafkan kemudian segera berlalu menuju rencana semula yaitu pulang kerumah.

Paket duanya berisi ; Su’uzon, identifikasi masalah yang hasilnya ; “Ini masalah besar, ini tentang harga diri, jangan biarkan musuhmu melecehkanmu,” dan pemetaan situasi atas pengalaman barusan adalah; jelas ini direncanakan, ada yang bersungguh-sungguh melempar batu dan mengarahkannya langsung ke kepalaku, tujuannya melecehkan, menyakiti dan menantangku, koalisi ini mengusulkan untuk melepaskan amarah sebesar-besarnya, menyiapkan kekuatan fisik untuk berdebat dan berkelahi, lalu dengan tegas membatalkan semua acara sampai masalah maha penting ini diselesaikan dengan memuaskan.

Dua koalisi ini bertarung saling melemahkan, siapa yang lebih kaya data pendukungnya, kaya argumentasinya, maka dialah yang akan menang. Pada kasus diatas koalisi kedualah yang menang, sehingga orang yang kena lemparan kerikil tadi mengeluarkan sikap marah dan bentakan; “Siapa yang kurang ajar telah melempar kepalaku !” Seperti komputer, otak kita terdiri dari prosesor memori dan hardisk, data di tangkap, disimpan, dan siap diolah menjadi respon manusia, sifat, karakter dan watak. Simple saja semakin banyak data positif maka semakin besar kemungkinan seorang manusia menjadi baik. Dan sebaliknya semakin banyak data negatif maka dorongan untuk menjadi buruk pun semakin besar.

Informasi dan data diserap masuk melalui indra penerima (audio, visual, maupun rasa) lalu diterima dan ditampung sementara di short term memory (otak kiri) dari sana siap di oper ke longterm memory (otak kanan) agar data tersebut permanen tersimpan, tetapi data-data yang hendak dioper ke longterm harus terlebih dulu melewati semacam penyaring yang disebut critical area system yaitu semacam fit and proper test yang dilakukan oleh otak, data akan diijinkan masuk ke longterm memory kalau data itu : membuat kesan yang dalam bagi emosional kita, dipahami, atau setelah dilakukan pengulangan yang masif.

Begitulah proses orang dewasa memasok data di otaknya. pada usia anak-anak, terutama di usia golden age (0 s/d 8 Thn dan kalau anak itu beruntung masih bisa berlanjut sampai usia12 thn) prosesnya tidak seperti itu, data langsung bypass ke otak kanan atau ke longterm memory karena otak kiri anak belum berfungsi sempurna, karena otak kiri belum berfungsi maka critical area system pun belum berfungsi. Keuntungannya adalah setiap anak pada usia keemasan ini memiliki keistimewaan dalam daya hafal mereka. Kerugiannya, tanpa critical area system semua data akan nyelonong masuk begitu saja ke longterm memory tak peduli data itu pantas atau tidak, tak peduli baik atau buruk, tak peduli dosa atau tidak, data berjenis apapun akan terserap masuk, bagai air berhadapan dengan spoon.

Subhanallah, mungkin memang dirancang seperti itu. Pada awalnya manusia membutuhkan banyak jenis data sebagai bahan baku karakternya. Seorang anak harus banyak mendengar, banyak melihat agar databasenya berisi banyak sekali berbagai jenis data untuk diolah menjadi karakter atau apa yang mungkin lebih tepat disebut dengan : watak. Maka tugas orangtua adalah memastikan agar data-data ‘baik’-lah yang mendominasi gudang pembuat karakter itu. Kalau sejak kecil anak sudah terbiasa menghafal Quran maka ayat-ayat AlQuran itu akan memenuhi gudang data di otaknya, oleh karenanyalah Al-Quran akan menjadi salah satu bahan baku penting dari pembentukan karakter atau watak seorang anak. Mungkin ini sebabnya Rasulullah SAW pernah bersabda :

“Barang siapa yang mempelajari AlQuran di usia kecil, Allah akan mencampurkan dengan daging dan darahnya”. (HR Bukhari)

Berbasis pengetahuan tentang otak saat ini maka nash tersebut dapat ditafsirkan ; “Barang siapa yang mempelajari AlQuran di usia kecil, Allah akan menjadikan Al-Qur’an sebagai bahan baku pembentuk karakternya.” Allahua’lam.

Bagaimana dengan usia dewasa? Apakah Al-Quran masih bisa berfungsi sebagai basis pembentuk karakter? Atau lebih tepatnya perubah karakter? Yang jahat jadi baik, yang baik akan lebih baik lagi dan seterusnya, dan seterusnya?

Pada usia anak-anak, Allah yang Maha Rahim meletakkan keistimewaan yang sudah diulas tersebut, sedangkan pada usia dewasa pasti Allah SWT juga mengkaruniakan kemudahan-kemudahan yang lain namun tujuannya tetap sama, yaitu agar Al-Quran menjadi sumber pembangun karakter manusia. Dalam sejarah panjang Islam hal tersebut sudah dibuktikan, bagaimana masyarakat yang jahil menjadi masyarakat yang cerdas, pelopor peradaban modern, dan model terbaik dari tipologi masyarakat muslim ideal. Dalam skala individu kita melihat bagaimana Abu Bakar ra yang dikenal sebagai lelaki lembut hati ternyata dapat dengan sangat tegas menyikapi pembangkangan kaum murtad yang ingin melepas diri dari syariat. Bagaimana Umar ra yang dikenal sebagai tokoh premannya kota Makkah ternyata mampu menjadi khalifah yang sangat lembut hati. Karakter-karakter positif yang baru ini muncul dari interaksinya yang istimewa terhadap Al-Quran Al-Kariim. Sedangkan bagaimana proses teknis penambahan karakter positif itu terjadi merupakan bahasan tersendiri. Wallahu’alam.

eramuslim.com

Menghafal Al-Quran, Jalan Terbaik Untuk Memiliki Kecerdasan Yang Integral

Oleh : Purwanto Abdul Ghaffar

“Al-Quran adalah kunci kecerdasan integral” ini adalah moto yang selalu Kami ingin sebarkan kepada seluruh kaum muslimin, dengan menghafal Al-Quran maka semua potensi kecerdasan manusia akan terasah, berikut penjelasannya.

Menghafal Al-Quran menguatkan hubungan dengan Allah sang pemilik ilmu

Sesungguhnya semua ilmu pengetahuan adalah milik-NYA, Dialah Al Aliim. Dialah pemilik semua jawaban dan dengan kasih-NYA Ia menurunkan setetes ilmu di dunia ini agar manusia memiliki makna yang istimewa, supaya manusia memiliki perangkat untuk tampil sebagai khalifah, agar manusia dapat mengelola dengan baik (mengambil dan memelihara) semua rizki yang dikaruniakan-NYA di dunia ini.

Dari semua ilmu, ulumul Quranlah yang paling utama. Dari semua kitab (buku) AlQuranlah yang paling mulia. Jika kita mempelajari Al-Quran dan berinteraksi dengannya, sejatinya kita sedang mengambil jalan kemuliaan dihadapan Allah sang pemilik ilmu.

Dan karenanyalah Insya Allah sang penghafal Al-Quran akan mendapat jaminan kemudahan dari Allah SWT dalam dua bentuk, yaitu ; kemudahan mempelajari Al-Quran (QS Al-Qamar 17) dan karunia kemudahan pada ilmu-ilmu yang lain (QS Al-Mujadilah 11).

“Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar 17)

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah 11).

Andai seseorang ingin mempelajari teori quantum pada ilmu fisika. Ia harus menghabiskan waktu sebulan agar dapat memahaminya dengan baik, namun apabila ia menggunakan sebagian waktu dan tenaganya untuk menghafal Quran, maka Allah yang rahiim sang pemilik ilmu dan kemudahan itu akan mengganti waktu dan jerih payahnya menghafal Al-Quran itu dengan cara membuka kecerdasan sang penghafal Quran, sehingga dalam waktu lebih singkat – seminggu- ia sudah berhasil memahami dengan baik teori Quantum. Inilah yang dialami oleh para tokoh Islam yang tidak hanya dikenal sebagai Ulama besar, tetapi sekaligus juga ilmuwan dari berbagai bidang.

Mengherankan ada manusia yang bisa sedemikian banyak memahami berbagai bidang ilmu, misalnya Imam Ghazali adalah seorang teolog, filsuf (filsafat Islam), ahli fikih, ahli tasawuf, pakar psikologi, logika bahkan ekonom dan kosmologi. Atau Ibnu Sina seorang ulama yang sedari kecil mempelajari ilmu tafsir, Fikih, Tasawuf, tiba-tiba bisa disebut sebagai pakar kedokteran dan digelari ‘Medicorium Principal’(Rajanya para dokter) dan buku yang ditulisnya ; Al-Qanun Fith-Thib menjadi bahan pelajaran semua dokter didunia.

Faktor penting yang menjadikan mereka mampu melanglang buana keilmuan dan melintasi cabang keilmuan yang seolah (bagi mereka yang dikotomis -suka memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum) berseberangan ini adalah karena mereka menghafal dan mempelajari Al-Quran sehingga Allah SWT sang pemilik ilmu membukakan bagi mereka pintu gerbang ilmu-ilmu lainnya.

Menghafal adalah dasar dari ilmu pengetahuan

Menghafal adalah dasar dari semua aktivitas otak. setelah data terparkir dengan baik, baru dapat dilakukan pengolahan lebih lanjut ; misalnya identifikasi, pengklasifikasian berdasarkan kesamaan, membandingkan dan mencari perbedaan, mengkombinasikan persamaan dan atau perbedaan untuk melahirkan sesuatu yang baru, dan lain sebagainya.

Misalnya abjad, seorang anak harus menghafalnya terlebih dahulu baru bisa digunakan untuk membaca dan menulis. Angka harus dihafal dahulu sebelum dipermainkan dalam bidang matematika. Setiap pasal dan ayat dalam undang-undang harus dihafal dahulu sebelum digunakan para hakim, pengacara, dan penuntut di ruang pengadilan.

Menghafal adalah dasar dari semua ilmu. Tanpa materi hafalan tidak ada data yang bisa diolah, tanpa olahan data maka ilmu pengetahuan tidak akan pernah ada. Menghafal adalah tangga pertama ilmu pengetahuan, menghafal adalah langkah wajib untuk cerdas.

Ada yang mengatakan bahwa menghafal akan melemahkan kemampuan analisa si anak, pernyataan ini benar, kalau si anak hanya disuruh menghafal saja tanpa melanjutkan ke proses lainnya. Menghafal adalah tahapan awal berinteraksi dengan Al-Quran, sesudah menghafal dan belajar membaca dengan benar maka harus disambung pada fase berikutnya yaitu mempelajari maknanya baik harafiah maupun penafsirannya, setelah itu mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi maupun yang terkait dengan kehidupan bermasyarakat, seorang muslim yang cerdas akan menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk menjawab semua persoalan, lalu fase terakhir adalah mengajarkannya kepada semua orang muslim. Itulah tahapan berinteraksi dengan Al-Quran yang benar. proses ini berkelanjutan tak boleh berhenti, tidak boleh hanya menghafalnya saja, atau hanya belajar membaca saja.

eramuslim.com

Perintah Belajar Sejarah dalam Surat Al-Fatihah

Surat al-Fatihah, awal surat dalam al-Qur’an itu ternyata menyiratkan perintah untuk belajar sejarah. Mungkin banyak yang tidak sadar, walau setiap hari setiap muslim pasti mengucapkannya. Tidak sekali bahkan. Tetapi banyak yang tidak menyadari sebagaimana banyak yang tidak mempunyai kesadaran untuk membaca, mengkaji, mendalami sejarah Islam.

Bermula dari doa seorang muslim setiap harinya:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. al-Fatihah [1] : 6)

Jalan lurus, yang oleh para mufassir ditafsirkan sebagai dienullah Islam itu, dengan gamblang digambarkan dengan ayat selanjutnya dalam al-Fatihah:

“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Di sinilah perintah tersirat untuk belajar sejarah itu bisa kita dapatkan. Ada tiga kelompok yang disebutkan dalam ayat terakhir ini;

1. Kelompok yang telah diberi nikmat oleh Allah
2. Kelompok yang dimurkai Allah
3. Kelompok yang sesat

Ketiga kelompok ini adalah generasi yang telah berlalu. Generasi di masa lalu yang telah mendapatkan satu dari ketiga hal tersebut.

Kelompok pertama, generasi yang merasakan nikmat Allah.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsir Ibnu Katsir 1/140, al-Maktabah al-Syamilah) menjelaskan bahwa kelompok ini dijelaskan lebih detail dalam Surat an-Nisa: 69-70,

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”

“Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.” (QS. an-Nisa [4] : 69-70)

Ada kata penghubung yang sama antara ayat ini dengan ayat dalam al-Fatihah di atas. Yaitu kata (أنعم) yaitu mereka yang telah dianugerahi nikmat. Sehingga Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat dalam al-Fatihah tersebut dengan ayat ini.

Mereka adalah: Para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan para shalihin. Kesemua yang hadir dalam doa kita, adalah mereka yang telah meninggal.

Ini adalah perintah tersirat pertama agar kita rajin melihat sejarah hidup mereka. Untuk tahu dan bisa meneladani mereka. Agar kita bisa mengetahui nikmat seperti apakah yang mereka rasakan sepanjang hidup. Agar kemudian kita bisa mengikuti jalan lurus yang pernah mereka tempuh sekaligus bisa merasakan nikmat yang telah mereka merasakan.

Perjalanan hidup mereka tercatat rapi dalam sejarah. Ukiran sejarah abadi mengenang, agar menjadi pelajaran bagi setiap pembacanya.

Kelompok kedua, mereka yang dimurkai Allah.

Imam Ibnu Katsir (Tafsir Ibnu Katsir 1/141, al-Maktabah al-Syamilah) kembali menjelaskan bahwa mereka yang mendapat nikmat adalah mereka yang berhasil menggabungkan antara ilmu dan amal. Adapun kelompok yang dimurkai adalah kelompok yang mempunyai ilmu tetapi kehilangan amal. Sehingga mereka dimurkai.

Kelompok ini diwakili oleh Yahudi. Sejarah memang mencatat bahwa mereka yang menentang Nabi Muhammad SAW sekalipun, sesungguhnya tahu dengan yakin bahwa Muhammad SAW adalah Nabi yang dijanjikan dalam kitab suci mereka akan hadir di akhir zaman.

Sekali lagi, mereka bukanlah masyarakat yang tidak berilmu. Justru mereka telah mengantongi informasi ilmu yang bahkan belum terjadi dan dijamin valid. Informasi itu bersumber pada wahyu yang telah mereka ketahui dari para pemimpin agama mereka.

“Demi Allah, sungguh telah jelas bagi kalian semua bahwa dia adalah Rasul yang diutus. Dan dialah yang sesungguhnya yang kalian jumpai dalam kitab kalian….” kalimat ini bukanlah kalimat seorang shahabat yang sedang berdakwah di hadapan Yahudi. Tetapi ini adalah pernyataan Ka’ab bin Asad, pemimpin Yahudi Bani Quraidzah. Dia sedang membuka ruang dialog dengan masyarakatnya yang dikepung oleh 3.000 pasukan muslimin, untuk menentukan keputusan yang akan mereka ambil.

Maka benar, bahwa Yahudi telah memiliki ilmu yang matang, tetapi mereka tidak mau mengikuti kebenaran tersebut. Inilah yang disebut oleh Surat al-Fatihah sebagai masyarakat yang dimurkai. Para ulama menjelaskan bahwa tidaklah kaum Bani Israil itu diberi nama Yahudi dalam al-Qur’an kecuali dikarenakan setelah menjadi masyarakat yang rusak.

Rangkaian doa kita setiap hari ini menyiratkan pentingnya belajar sejarah. Untuk bisa mengetahui detail bangsa dimurkai tersebut, bagaimana mereka, seperti apa kedurhakaan mereka, ilmu apa saja yang mereka ketahui dan mereka langgar sendiri, apa saja ulah mereka dalam menutup mata hati mereka sehingga mereka berbuat tidak sejalan dengan ilmu kebenaran yang ada dalam otak mereka. Sejarah mereka mengungkap semuanya.

Kelompok ketiga, mereka yang sesat.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa bagian dari penafsirannya adalah masyarakat Nasrani. Masyarakat ini disebut sesat karena mereka memang tidak mempunyai ilmu. Persis seperti orang yang hendak berjalan menuju suatu tempat tetapi tidak mempunyai kejelasan ilmu tentang tempat yang dituju. Pasti dia akan tersesat jalan.

Kelompok ketiga ini kehilangan ilmu walaupun mereka masih beramal.

Masyarakat ini mengikuti para pemimpin agamanya tanpa ilmu. Menjadikan mereka perpanjangan lidah tuhan. Sehingga para pemimpin agamanya bisa berbuat semaunya, menghalalkan dan mengharamkan sesuatu.

Sebagaimana yang jelas tercantum dalam ayat:

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. at-Taubah [9] : 31)

Kisah’ Adi bin Hatim berikut ini menjelaskan dan menguatkan ayat di atas,

Dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu anhu berkata: Aku mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan di leherku ada salib terbuat dari emas, aku kemudian mendengar beliau membaca ayat: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.Aku menyatakan: Ya Rasulullah sebenarnya mereka tidak menyembah rahib-rahib itu.Nabi menjawab: Benar. Tetapi para rahib itu menghalalkan untuk mereka apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, maka itulah peribadatan kepada para rahib itu. (HR. Tirmidzi dan Baihaqi, dihasankan oleh Syekh al-Albani)

Bagaimanakah mereka masyarakat nasrani menjalani kehidupan beragama mereka? Bagaimanakah mereka menjadikan pemimpin agama mereka menjadi perwakilan tuhan dalam arti boleh membuat syariat sendiri? Di manakah kesesatan mereka dan apa efeknya bagi umat Islam dan peradaban dunia?

Semuanya dicatat oleh sejarah.

Inilah doa yang selama ini kita mohonkan dalam jumlah yang paling sering dalam keseharian kita.

Al-Fatihah yang merupakan surat pertama. Bahkan surat pertama yang biasanya dihapal terlebih dahulu oleh masyarakat ini. Surat utama yang paling sering kita baca. Surat yang mengandung doa yang paling sering kita panjatkan.

Siratan perintah untuk belajar sejarah sangat kuat terlihat. Maka sangat penting kita memperhatikan kandungan surat yang paling akrab dengan kita ini.

Agar terbukti dengan baik dan benar doa kita;

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. al-Fatihah [1] : 6-7)

Eramuslim.com

Teolog Kristen, “Saya Meyakini Al-Qur’an Sebagai Firman Tuhan”


Profesor Walter Wagner (Teolog-kristen)

Setelah membaca dengan seksama dan mendalami kandungan isi Al-Quran selama bertahun-tahun, Profesor Walter Wagner–seorang pakar teologi dari AS–menyimpulkan bahwa Tuhan sedang bicara pada seluruh umat manusia lewat kitab suci itu.

Ia mengakui mengagumi isi Al-Quran. Untuk itu, ia menulis hasil penelitiannya selama bertahun-tahun tentang Al-Quran dalam sebuah buku berjudul Opening the Quran. Lewat buku itu, Profesor Wagner mengatakan ingin menyebarluaskan tentang isi Al-Quran yang luar biasa, pada para pembaca, pada para mahasiswanya, termasuk pada dirinya sendiri untuk memperdalam pemahamannya terhadap isi Al-Quran.

Situs berita Zaman yang berbasis di Turki menyebut buku “Opening the Quran” karya Profesor Wagner sebagai buku yang sangat inspiratif bukan hanya untuk non-Muslim tapi juga untuk kalangan Muslim, termasuk mereka yang berminat mempelajari Islam dan kitab suci Al-Quran.

Dalam wawancara dengan Zaman, Profesor bidang teologi di Moravian College dan Theological Seminary ini mengungkapkan pengalamannya yang istimewa, yang membawanya pada Al-Quran serta pandangan-pandangannya tentang ajaran yang terkandung dalam Al-Quran. Berikut petikannya;

Apa yang menginspirasi Anda untuk menulis buku tentang Al-Quran?

Buku ini menjadi bagian dari pengalaman belajar saya selama lebih kurang selama 20 tahun. Saya pikir, saya baru memulai untuk memahami Al-Quran. Tapi sebenarnya, karena adanya hubungan antara Yudaisme, ajaran Kristen dan Islam, kami satukan bukan hanya di beberapa bagian terkait budaya dan teologi, tapi juga dalam sejarahnya.

Sudah berapa kali kita berbenturan dalam hal pemikiran dan ada masa-masa pertikaian yang melibatkan persenjataan. Tapi kita semua juga menyembah Tuhan yang sama. Dan untuk melakukan itu, seharusnya, diluar pengalaman saya mengajar, ada upaya untuk memahami agama lain, dan ini perlu usaha keras. Bagi seorang pengajar, butuh kerja keras untuk mengajarkan orang lain, tapi yang harus paling banyak belajar adalah guru itu sendiri.

Jadi, buku ini menjadi pengalaman belajar saya sendiri dan saya beruntung sekali mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, terutama tujuh tahun belakangan ini, dimana saya berinteraksi dengan komunitas Muslim Turki. Salah satu kekuatan buku tentang Quran ini adalah, menjelaskan pada diri saya sendiri dan pembaca lainnya, khususnya di masa penting seperti saat ini, dimana kita harus saling memahami antar sesama pemeluk agama.

Jadi, bisa dikatakan, Anda sebenarnya menulis buku “Opening the Quran” ini untuk diri Anda sendiri?

Ya. Anda akan menemukan bahwa para penulis menuliskan suara hatinya. Buat Anda yang muslim, pasti tahu siapa yang bicara dalam Al-Quran. Tapi, siapa yang bicara dalam buku (Wagner) ini? Beberapa bagian adalah suara seorang akademisi; yang bicara seorang profesor. Beberapa bagian lainnya adalah pendapat pribadi.

Menarik sekali. Pertanyaan selanjutnya, “suara” apa yang merasuk ke benak Anda ketika Anda membaca Quran? Siapa menurut Anda yang bicara dalam Quran?

Saya meyakini bahwa Quran adalah buku yang menginspirasi. Saya percaya Tuhan menginspirasi banyak orang dan banyak nabi serta utusan-Nya, dan yang ada dalam Quran adalah suara Tuhan Yang Mahasuci, yang bicara pada kita–menyuarakan tentang keadilan dan perdamaian, bicara tentang umat manusia yang harus hidup saling berdampingan dengan damai, dan saling membantu. Itulah suara yang saya dengar, suara yang kemudian saya coba teruskan pada para pembaca, mahasiswa, dan pada diri saya sendiri.

Bisakah Anda menjelaskan metodologi dan bagaimana cara Anda mempelajari Al-Quran?

Bagi seorang non-Muslim, membaca Quran untuk pertama kalinya mungkin pengalaman yang membingungkan. Bagi kami, yang berlatar belakang memiliki tradisi membaca Alkitan, harapannya mungkin akan seperti membaca Genesis, Exodus atau Injil Mark; akan ada sebuah rentetan cerita. Namun Anda akan menemukan bagian-bagian yang tersebar di beberapa tempat, yang secara keseluruhan saling terkait. Perlu dibaca berulang-ulang, direnungkan dan penggambaran dalam pikiran Anda agar bisa memahaminya. Tapi, saya kira, langkah pertama adalah jangan mudah menyerah. Saran pertama adalah, membacanya mulai dari halaman belakang ke depan, untuk memahami tentang nabi-nabi. Perlu juga membaca apa penjelasan atau penafsiran berbagai tokoh tentang isi Al-Quran.

Sejauh mana proses mempelajari Al-Quran berpengaruh pada diri Anda, apakah proses itu membawa perubahan pada hidup Anda?

Saya kira, yang paling terpenting adalah saya jadi lebih memahami Islam dan Al-Quran, soal kewajiban salat, dan ada perasaan yang mendalam soal salat ini dan bagaimana kehidupan bisa dibingkai lewat salat dan doa. Pemahaman saya yang masih sedikit tentang Islam, cukup membuat saya mengakui bahwa Islam adalah agama yang berdasarkan pada ajaran tentang “Sang Pencipta”. Buat saya, hal ini merupakan sebuah ajaran etika yang luar biasa, dan ketika saya melihat orang lain, saya mengakui bahwa mereka adalah perwakilan Tuhan di bumi untuk menjaga dunia ini.

Kita tahu, bahwa Barat kerap mengkritik bagaimana Quran memosisikan kaum perempuan. Menurut Anda sendiri bagaiman Quran memosisikan kaum perempuan?

Pertama sekali, penting dipahami bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama di mata Tuhan. Laki-laki dan perempuan sama-sama bertanggung jawab atas nasib mereka sendiri. Seorang perempuan bisa masuk neraka sama gampangnya dengan seorang lelaki. Seorang perempuan juga bisa masuk surga sama mudahnya dengan seorang laki-laki. Ini adalah ajaran agama yang mengagumkan tentang persamaan kedudukan antar kaum lelaki dan perempuan.

Tapi ada perbedaan sosial dalam Quran, dan Barat tidak suka itu. Perbedaan itu terkait aspek fisik dan beban tanggung jawab antar lelaki dan perempuan. Saya pernah bertemu dengan seorang imam yang mengatakan bahwa adalah tanggung jawab suami untuk memastikan bahwa kebutuhan keluarganya terpenuhi, dan adalah tanggung jawab seorang istri untuk membesarkan dan mendidik anak-anak serta mengatur kehidupan dalam keluarga. Jika seorang perempuan punya kepentingan ke luar rumah, maka ia harus bernegosiasi mendapatkan izin dari suaminya. Jadi, tetap ada negosiasi dalam sebuah ikatan perkawinan.

Lalu bagaimana pendapat Anda soal ayat-ayat dalam Quran yang berkaitan dengan jihad?

Ada banyak penafsiran yang berbeda tentang jihad dalam Islam. Ini berkaitan dengan konteks sejarah. Tapi saya pikir, penting bagi kita untuk mengetahui akar kata “jihad” yang artinya “pengerahan tenaga” atau “perjuangan”. Dalam Quran, masalah jihad disebut sekitar 35 atau 36 kali dan hanya 5 diantaranya yang berhubungan dengan kemiliteran.

Tradisi Islam dan Quran juga mengajarkan untuk memperlakukan para tawanan dengan baik. Anda tidak perlu menggunakan bom napalm terhadap orang yang hanya menggunakan pistol. Islam dan Quran juga mengajarkan untuk mencintai lingkungan hidup, Anda tidak boleh merusak, Anda tidak boleh menganiaya musuh yang sudah menyerah atau ketika ada kesepakatan gencatan senjata.

Pertanyaan terakhir, bagaimana tanggapan pembaca atas buku Anda, apakah ada kritik dari kalangan Kristen maupun Muslim?

Secara umum, kalangan Kristiani menyukai buku ini. Kalaupun mengkritik hanya beberapa masalah kecil saja. Sedangkan di kalangan Muslim, ketika saya memberikan kuliah tentang pengenalan Islam, ada seorang mahasiswa Pakistan yang agak jengkel pada saya. Menurut mahasiswa itu, kalau saya mengatakan hal-hal yang positif tentang Quran, seharusnya saya pindah agama ke Islam. Di kelas lainnya, seorang mahasiswi mengatakan pada saya, “Kapan Anda akan mengekpose Islam sebagai agama hasil pekerjaan orang-orang jahat?”

Jadi ada dua kubu yang memberi tanggapan berbeda. Saya berdiri di antara dua kubu itu. Saya pun belajar memahami tentang karakter beragam orang. Tapi sebagian besar Muslim, mereka menyatakan berterima kasih saya menulis buku “Opening the Quran” ini. (kw/Zaman)

Eramuslim.com

BUKTI ALLAH ITU ADA

السلام عليكم . بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

الحمد لله رب العا لمين . الصلاة و السلام على رسو ل الله .اما بعد

Kaum kufar tak henti-hentinya mencoba melemahkan generasi muslim, salah satunya dengan menyebarkan ajaran Atheis yaitu tidak percaya Tuhan. Padahal pelajaran ini sudah didapat saat kita masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Untuk menyegarkan ingatan kita & juga meningkatkan serta berbagi ilmu dengan yang belum tahu, mari kita mengulas sekilas tentang bukti adanya Tuhan.

Tahun 1877 pembangunan menara eifel di prancis dimulai dan membutuhkan waktu 26 tahun untuk menyelesaikannya. Tentu saja, sebelum membangun diperlukan RANCANGAN / PLAN / DESIGN agar bangunan tampak baik, kuat, kokoh & tidak mudah rusak. Berat seluruh bangunan mencapai 9000 ton, sedangkan Tinggi menara eifel 321 meter dan merupakan bangunan tertinggi buatan manusia selama 40 tahun.

RANCANGAN / PLAN / DESIGN menara eifel ini mencontoh / meniru dari RANCANGAN / PLAN / DESIGN tulang paha manusia yang kecil tapi mampu menahan berat tubuh manusia yang jauh lebih berat dari berat tulang paha.

Tidak mungkin menara eifel menjadi ada secara tidak disengaja atau tanpa RANCANGAN / PLAN / DESIGN, menara eifel pasti telah dirancang oleh seseorang sehingga hasilnya seimbang, bagus, kokoh seperti kita lihat.


Menara Eifel

Keanekaragaman makhluk hidup baik berupa hewan berorganisme sel 1 maupun ber-sel banyak, berbagai jenis tumbuhan, manusia. Jumlah hewan jauh lebih besar dari jumlah manusia, kesemua jenis hewan & tumbuhan ini memiliki rancangan yang sangat rumit dan sama sekali berbeda antara satu dengan lainnya, sehingga manusia yang memiliki akal pun tidak dapat menirunya. Kembali pada menara, bangunan, kendaraan yang megah, maka semua ini pasti dirancang oleh manusia.

Manusia pun hanya dapat meniru RANCANGAN / PLAN / DESIGN alam yang telah ada, RANCANGAN / PLAN / DESIGN hasil manusia pun tidak dapat sempurna seperti RANCANGAN / PLAN / DESIGN Allah.

Contoh: Manusia membuat helicopter dengan meniru rancangan & gerak terbang pada capung (Dragon Fly), akan tetapi kemampuan terbang helicopter jauh di bawah kemampuan terbang capung (Dragon Fly).

Contoh: Manusia meniru rancangan tangan manusia untuk membuat Robot Tangan, tapi kemampuan robot tangan masih jauh dibawah kemampuan tangan manusia itu sendiri.

Elang memiliki mata tajam bersudut pandang 300° & dapat memperbesar (Zoom) target sebanyak 6-8x lebih besar dari penglihatan awal. Saat terbang di ketinggian 4300 meter, elang dapat memantau 30.000 hektar wilayah disekelilingnya. Dari ketinggian 1500 meter, elang dapat melihat gerakan atau perbedaan warna terkecil sekalipun untuk menentukan letak mangsanya.

Daya lihat yang tajam ini diakibatkan banyaknya sel kerucut peka cahaya di retina matanya. Sel-sel tersebut mengumpulkan cahaya dan mengirimkan informasi ke otak. Sementara sel kerucut pada manusia jauh lebih sedikit dibanding elang. Tentunya semua ini telah DIRANCANG / DI-DESIGN oleh Allah Sang Pencipta.

QS. 11 Huud:56. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. TIDAK ADA SUATU BINATANG MELATAPUN MELAINKAN ALLAH-LAH YANG MEMEGANG UBUN-UBUNNYA. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.


Elang

Manusia dapat meniru rancangan pada lumba-lumba dan kerang apung untuk diterapkan pada kapal selam, dan meniru cangkang kerang laut untuk membuat porselein, atau meniru RANCANGAN / PLAN / DESIGN lainnya ciptaan Allah, tapi tetap rancangan Allah jauh lebih baik dibanding rancangan manusia.

Contoh: Keramik Porselain buatan manusia hanya dapat dibuat dengan suhu antara 1000°-1500° Celcius, sedangkan kerang laut hanya memerlukan suhu 4° Celcius untuk membuat Porselain yang daya kekuatannya lebih kuat dan lebih tahan pecah dibanding keramik Porselain buatan manusia.

Terlebih lagi, jika keramik porselain buatan manusia itu jatuh & pecah, maka keramik porselain tersebut tidak dapat memperbaiki dirinya yang pecah, sedang kerang laut mempunyai sistem kerja yang luar biasa sehingga mampu memperbaharui bagian kerang yang rusak.

Apakah keramik Porselain ada dengan sendirinya tanpa RANCANGAN / PLAN / DESIGN manusia? Bagaimana dengan RANCANGAN / PLAN / DESIGN cangkang kerang laut yang dapat memperbaiki sendiri jika pecah serta jauh lebih kuat, lebih indah warna, lebih indah bentuknya dibanding buatan manusia? Siapa Yang Mencipta-nya?

Manusia memang dapat membuat tiruan komposit untuk bahan Polimer & Polisiklat yang dapat memperbarui diri jika rusak, tetapi komposit tiruan buatan manusia jauh lebih lemah dibanding apa yang ada di alam. Kita ambil 1 contoh dari banyak contoh saja yaitu pada kulit buaya.

RANCANGAN / PLAN / DESIGN yang sempurna pada hewan, manusia dan alam ini menunjukan tanda-tanda Kekuasaan Allah sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an:

QS. 45 Al-Jaatsiyah:4 Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran terdapat tanda-tanda untuk kaum yang meyakini.

Bagaimana dengan RANCANGAN / PLAN / DESIGN yang ada pada jutaan jenis Hewan lainnya diseluruh muka bumi ini yang memiliki RANCANGAN / PLAN / DESIGN yang berbeda antara satu jenis hewan dan satu jenis hewan lainnya?

Apakah semua ini hanya ada dan terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja?


Kehidupan laut

Dalam QS.2: 164. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; SUNGGUH TANDA-TANDA BAGI KAUM YANG MEMIKIRKAN.

Otak manusia tersusun oleh rata-rata sekitar 10.000.000.000.000 syaraf, syaraf-syaraf ini terhubungkan antara 1 sama lain melalui 100.000.000.000 sambungan. Jumlah 100.000.000.000 ialah jumlah yang jauh diluar pemahaman kita. Semua pesan ke otak dan dari otak bergerak dengan kecepatan yang sangat mengejutkan yakni 320 Km/jam.

Sel-sel syaraf penghubung otak dan bagian tubuh lainnya menyerupai jalan bebas hambatan (highway toll free) yang mengangkut informasi antara tubuh dan otak. Setiap saat, tubuh kita ialah saksi dari lalu lintas yang sangat sibuk & padat didalamnya. Ribuan kegiatan berbeda saling datang & pergi dari otak hanya dalam kurun waktu 1 detik saja. Antara 100.000 sampai 1.000.000 reaksi kimia terjadi didalam otak kita hanya dalam waktu 1 menit saja.

Bahkan saat saudara membaca tulisan ini, ratusan pesan sedang keluar masuk antara otak & otot saudara setiap 0,001 detik. Ratusan pesan ini meliputi informasi tentang apa yang saudara lihat, membaca, memikirkan dan memahami apa yang saudara baca, detak jantung, kegiatan nafas, berkedipnya mata, pertumbuhan rambut kepala, penciuman aroma, pendengaran telinga.

Untuk menjelaskan rincian 1 kegiatan yang dilakukan oleh otak, saudara memerlukan berlembar-lembar halaman untuk menerangkan rumus kimia. Bagaimana jika 100.000 kegiatan dalam 1 detik? Berapa juta lembar yang saudara perlukan untuk menulis semuanya dalam 1 detik saja?

1 kesalahan saja dalam rumus kimia ini maka akan berakibat tidak seimbangnya kegiatan tubuh saudara. Namun Allah telah menciptakan manusia secara sempurna, dan sebagai balasan, hendaklah kita bersyukur pada Allah yang telah menciptakan & memberi kita nikmat yang tak dapat dihitung oleh manusia.

Dapatkah kita membuat susunan kabel elektrik yang berjumlah 10.000.000.000.000 tanpa sedikitpun “Error” selama bekerja 24 jam didalamnya sepanjang masa? Apakah ini tidak memerlukan RANCANGAN / PLAN / DESIGN?

BAGAIMANA DENGAN RANCANGAN / PLAN / DESIGN TUBUH LAINNYA SEPERTI MATA, JANTUNG, KULIT, PARU-PARU, HATI, TELINGA, LIDAH, SALURAN PENCERNAAN, TULANG, OTOT, PERSENDIAN, SYARAF DAN BAGIAN TUBUH MANUSIA LAINNYA? Apakah juga tidak memerlukan RANCANGAN / PLAN / DESIGN?

QS.82: 6. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. 82:7. YANG MENCIPTAKAN KAMU LALU MENYEMPURNAKAN KEJADIANMU DAN MENJADIKANMU SEIMBANG. 82:8. dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, DIA MENYUSUN TUBUHMU.

Maka nikmat dari Tuhan manakah yang kamu dusta-kan?

QS.6 Al-An’am:102 demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan ALLAH ADALAH PEMELIHARA SEGALA SESUATU.

Dalam Al-Qur’an, manusia diciptakan dengan sempurna dan termasuk keseimbangan tubuhnya. Jadi, dengan akal kita, janganlah kita mau disamakan dengan hewan yang tidak memiliki peradaban. Manusia dahulunya tidak bisa membuat pesawat, tapi sekarang bisa membuat pesawat antar benua dan bahkan bisa membuat pesawat ke luar angkasa dengan remote kontrol.


Robot

Sedangkan monyet / monkey, yang namanya monyet dari dulu ya tetap saja monyet yang tidak malu telanjang bulat tanpa baju, bisanya hanya bertepuk tangan lalu diberi makan pisang atau kacang oleh manusia. Tidak ada monyet yang dapat membuat pesawat terbang atau pesawat luar angkasa yang dikendalikan remote kontrol.

Oleh sebab itu, jangan-lah mau jika derajat kita sebagai manusia disamakan dengan binatang.

Pengkhotbah 3:19 Karena NASIB MANUSIA ADALAH SAMA DENGAN NASIB BINATANG, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan MANUSIA TAK MEMPUNYAI KELEBIHAN ATAS BINATANG, karena segala sesuatu adalah sia-sia.
(Christian Bible, King James Version, Ecclesiastes 3:19)

Begitu pula dengan Alam semesta termasuk segala isinya, bumi, matahari, bulan, air, udara, tanah, atmosfir, manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh jagat semesta raya ini terdapat keseimbangan, kesempurnaan, kecocokan dan ketelitian di setiap sisinya.

Tidak mungkin Alam semesta dan segala isinya tadi ada secara tiba-tiba tanpa RANCANGAN / PLAN / DESIGN, padahal alam semesta, hewan, tumbuhan & manusia sendiri memiliki RANCANGAN / PLAN / DESIGN yang jauh lebih rumit & jauh lebih sulit daripada RANCANGAN / PLAN / DESIGN menara eifel atau RANCANGAN / PLAN / DESIGN lainnya buatan manusia.

RANCANGAN / PLAN / DESIGN alam ini tentu diperlukan kekuatan yang MAHA KUASA untuk mendesign-nya dan Yang Maha Kuasa itu harus-lah 1 Tuhan saja karena Tuhan tidak mungkin ada 2 Tuhan, apalagi 3 Tuhan bekerja sama dengan makhluk ciptaan-Nya dalam membangun Alam semesta raya ini.

Semua ukuran di Alam semesta ini telah dibuat dengan ukuran yang teliti & tepat. Jika terjadi kekurangan atau kelebihan sedikit saja maka akan mengakibatkan bencana yang luar biasa. Dapat dibayangkan jika ada 2 Tuhan yang memiliki 2 RANCANGAN / PLAN / DESIGN yang berbeda. Tentu Planet-Planet, bintang-bintang dan segala isinya akan berbenturan dan kacau dibuatnya. Sehingga dengan akal kita, kita dapat memastikan bahwa hanya ada 1 Tuhan saja.


Angkasa

QS.15:19. Dan Allah telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya SEGALA SESUATU MENURUT UKURAN. 15:20. Dan Allah telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya. 15:21. Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Allah tidak menurunkannya MELAINKAN DENGAN UKURAN TERTENTU.

QS.25:2. yang kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi Allah dalam kekuasaan, dan DIA TELAH MENCIPTAKAN SEGALA SESUATU, dan DIA MENETAPKAN UKURAN-UKURANNYA DENGAN SERAPIH-RAPIHNYA.

QS.16 An-Nahl:51. Allah berfirman: “JANGANLAH KAMU MENYEMBAH DUA TUHAN; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut”.

Jelas sekali bahwa Allah itu Maha Teliti dalam menghitung kesemua ciptaannya, tidak mungkin Allah salah hitung dalam matematika sepele atau yang lebih rumit campuran antara fisika, kimia, biologi bahkan dalam segalanya.


Bumi

Berbicara soal “Ukuran yang serapih-rapihnya”, “Kecermatan”, “Ketelitian”, “Kesempurnaan”, lantas bagaimana kesalahan matematika dalam alkitab Chirstian? Apakah beberapa contoh kesalahan rancangan / perhitungan dari BERIBU-RIBU kesalahan dalam alkitab chistian berikut dilakukan oleh Tuhan?

Pikirkanlah segala hal yang telah diberikan oleh Allah kepada saudara. Saudara tinggal di bumi yang sengaja telah dirancang dan diciptakan khusus untuk kita. Kita tidak melakukan apapun untuk lahir ke dunia ini, dan kita pun tidak melakukan apapun diantara tatanan alam semesta ini. Kita sekedar lahir, dan membuka mata telah mendapati kita ditengah segenap kenikmatan alam & tubuh yang kita gunakan ini.

Kita dapat melihat, mendengar, merasakan, mencium, mengecap rasa atas kehendak Allah yang menciptakan kita. Dan Allah tidak meminta uang kita untuk menyewa tubuh kita, meminta bayaran atas oksigen yang kita hirup, meminta bayaran atas air, makanan & tanah yang kita gunakan. Allah hanya meminta kita bersyukur, dan sebetulnya rasa syukur ini untuk kebaikan diri & jiwa kita sendiri.

QS.16 An-Nahl:78. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Rasa syukur kita kepada Allah ini untuk kebaikan kita sendiri, dan Allah tidaklah membutuhkan rasa terimakasih dari manusia karena meskipun seluruh manusia ingkar & durhaka kepada Allah, tetaplah Allah Maha Kuasa & Maha Suci & Maha Agung.

Dengan akal, janganlah sampai kita keliru menyembah Tuhan. Jika kita keliru menyembah Tuhan tanpa dipikir menggunakan akal terlebih dahulu, maka berarti kita tidak tahu terimakasih karena telah diberi akal namun tidak digunakan, kita telah diberi banyak sekali nikmat namun kita keliru berterimakasih kepada yang bukan Tuhan.


Otak

QS.5 Al-Maa’idah:116. Dan ketika Allah berfirman: “HAI ISA PUTERA MARYAM, ADAKAH KAMU MENGATAKAN KEPADA MANUSIA: “JADIKANLAH AKU DAN IBUKU SEBAGAI DUA ORANG TUHAN SELAIN ALLAH?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hak-ku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.

Sementara Nabi Isa tidak pernah menyuruh menyembah pada dirinya, malah Nabi Isa jelas-jelas menyuruh menyembah HANYA kepada Allah saja, hal ini tertulis baik didalam Al-Qur’an maupun alkitab chirstian:

Markus 12:29 Jawab Yesus:“Hukum terutama ialah: Dengar, hai orang israel, tuhan Allah kita,Tuhan itu esa.

Terutama = paling utama, Paling pertama, Nomor utama, Nomor pertama, Terdepan, paling penting.

Jadi menurut Yesus yang Ter-utama ialah Tuhan itu Esa, Yesus tidak bilang : Tuhanmu adalah aku ! atau Tuhan itu Trinitas ! Sembahlah aku ! 3 dalam 1 atau 1 dalam 3 ! Yesus tidak pernah berkata demikian.

Tak ada 1 ayat pun di “Injil” Yesus berkata: “Akulah Tuhan!” atau “Sembahlah aku!”, yang ada malah Yesus suruh sembah cuma pada Allah saja & dia hanya Rasulullah atau utusan Allah!

kalaupun ada hukum Trinitas, maka itu bukan yang paling utama/terutama karena hukum yang TERUTAMA itu Tuhan Esa ! Jadi hukum Tuhan Trinitas masih kalah oleh Tuhan itu Esa.

Yesus bilang: “Tuhan Allah kita.”artinya=Tuhanmu & Tuhanku!
Tuhanmu & Tuhanku, artinya Yesus bertuhan, dan setiap yang bertuhan berarti bukan Tuhan.

Contoh : saya berTuhan, saya memiliki Tuhan, berarti saya bukan Tuhan. Tuhan kita ialah Allah, berarti Tuhanku & Tuhanmu ialah Allah, artinya saya & anda bukan Allah.

Yesus gak bilang: Tuhanmu itu Aku! atau Tuhan itu Trinitas!
Sabda Yesus sama dengan sabda Nabi Musa dalam Ulangan 6:4 Dengarlah, hai orang Israil: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!

Ayat Hukum TERUTAMA (PONDASI RUMAH PERTAMA) ini pun terdapat dalam :

Matius 22:36 “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”
Matius 22:37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Lukas 10: 27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Markus 22:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
Markus 22:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

QS.5 Al-Maa’idah:72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun

Matius 4:10 & Lukas 4:8 Kata Yesus padanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, & hanya pada Dia saja kau berbakti!”

Jelas Yesus gak bilang: Tuhanmu adalah Aku ! Engkau harus sembah Aku atau Trinitas!

Kalau Yesus memang Tuhan, atau Allah yang menjelma maka dia akan berkata: Sembahlah aku! Aku Tuhanmu! Tapi ternyata Yesus malah menyuruh menyembah HANYA pada DIA! HANYA pada ALLAH saja!

Yesaya 45:6 Supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai ter-benamnya, jika tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN & tidak ada yang lain.

Yesaya 43:10 “…jika Aku tetap Dia.Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, & sesudah Aku tidak akan ada lagi.”

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. QS. 4 An-Nisaa':82

Maha Suci Allah dengan segala kekuasaan-Nya. Sungguh, apa-apa yang ditetapkan Allah, ada manfaat yang bisa diambil.

Jadi,,, 1 lagi bukti… Islam TERBUKTI BENAR.!

sumber: http://islamterbuktibenar.net

Kecepatan Cahaya Dalam Al-Qur’an

Kecepatan Cahaya, Kecepatan gelombang elektro magnetic yg tercepat di jagat ini, yaitu: 299792.5 Km/detik, yang baru diketahui abad 20 tentu saja dengan peralatan canggih & modern terakhir, namun hal ini ternyata telah ditulis Al-Qur’an 1400 Tahun yang lalu.

Mungkin saudara saudari pernah tahu jika konstanta C, atau kecepatan cahaya yaitu kecepatan tercepat di jagat raya ini diukur, dihitung atau ditentukan oleh berbagai institusion berikut:

US National Bureau of Standards, C = 299792.4574 + 0.0011 km/det

The British National Physical Laboratory, C = 299792.4590 + 0.0008 km/det

Konferensi ke-17 tentang Penetapan Ukuran dan Berat Standar: ”Satu meter adalah jarak tempuh cahaya dalam ruang vacum selama jangka waktu 1/299792458 detik”.

Sekarang, mari kita perhatikan apa yg Al-Qur’an tulis tentang kecepatan cahaya.

Qs. 10 Yunus: 5. Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (jalan-jalan) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan haq. Dia menjelaskan tanda-tanda kepada orang-orang yang mengetahui.

Qs. 21 Anbiyaa: 33. Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.

Qs. 32 Sajdah: 5. Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu

Sekarang, mari kita perhatikan dengan seksama.!!

Jarak yang dicapai “Sang urusan” selama 1 hari = jarak yang ditempuh bulan selama 1000 tahun atau 12000 bulan.

C . t = 12000 . L

dimana : C = kecepatan Sang urusan

t = waktu selama satu hari

L = panjang rute edar bulan selama satu bulan

Sekarang, sistem kalender telah diuji mendapatkan nilai C yang sama dengan nilai C yang sudah diketahui setelah pengukuran.

Ada dua macam system kalender bulan:

1. Sistem Sinodik, didasarkan atas penampakan semu gerak bulan dan matahari dari bumi.

1 hari = 24 jam

1 bulan = 29.53059 hari

2. Sistem Sidereal, didasarkan atas pergerakan relatif bulan dan matahari terhadap bintang dan alam semesta.

1 hari = 23 jam 56 menit 4.0906 detik = 86164.0906 detik

1 bulan = 27.321661 hari

Bulan kembali ke posisi semula tepat pada garis lurus antara matahari dan bumi. Periode ini disebut “satu bulan sinodik”

Selanjutnya perhatikan rute bulan selama satu bulan sidereal, Rutenya bukan berupa lingkaran seperti yang mungkin anda bayangkan melainkan berbentuk kurva yang panjangnya L = v . T.

Dimana:

v = kecepatan bulan

T = periode revolusi bulan

= 27.321661 hari

a = 27.321661 days/365.25636 days x 360 o = 26.92848o

Ada dua tipe kecepatan bulan :

1. Kecepatan relatif terhadap bumi yang bisa dihitung dengan

rumus berikut: ve = 2 . p . R / T

dimana R = jari-jari revolusi bulan = 384264 km

T = periode revolusi bulan = 655.71986 jam

Jadi ve = 2 X 3.14162 X 384264 km / 655.71986 jam

= 3682.07 km/jam

Kecepatan relatif terhadap bintang atau alam semesta. Yang ini yang akan diperlukan. Einstein mengusulkan bahwa kecepatan jenis kedua ini dihitung dengan mengalikan yang pertama dengan cosinus a, sehingga: v = Ve X Cos a

Dimana a adalah sudut yang dibentuk oleh revolusi bumi selama satu bulan sidereal

a = 26.92848o

Bandingkan C (kecepatan sang urusan) hasil perhitungan dengan nilai C (kecepatan cahaya) yang sudah diketahui !

Jika:

L = v . T

v = Ve X Cos a

Ve = 3682.07 km/jam

a = 26.92848 o

T = 655.71986 jam

t = 86164.0906 detik

Maka:

C . t = 12000 . L

C . t = 12000 . v . T

C . t = 12000 . (Ve X Cos a) . T

C = 12000 . ve . Cos a . T / t

C = 12000 * 3682.07 km/jam X 0.89157 X 655.71986 jam / 86164.0906 detik

C = 299792.5 km/det

Sekarang… mari kita bandingkan antara perhitungan yg ditulis Al-Qur’an dengan perhitungan abad 20.

Al-Qur’an ————————————–> C = 299792.5 Km/detik

US National Bureau of Standards, ——> C = 299792.4574 + 0.0011 km/detik

The British National Physical Laboratory, C = 299792.4590 + 0.0008 km/detik

Konferensi ke-17 tentang Penetapan Ukuran dan Berat Standar : ”Satu meter adalah jarak tempuh cahaya dalam ruang vacum selama jangka waktu 1/299792458 detik”.

Kesimpulan dari Profesor Elnaby:

“Perhitungan ini membuktikan keakuratan dan konsistensi nilai konstanta C hasil pengukuran selama ini dan juga mnunjukkan kebenaran Al-Quranul karim sebagai wahyu yang patut dipelajari dengan analisis yang tajam karena penulisnya adalah ALLAH, Sang Pencipta Alam Semesta Raya.”

Daftar Pustaka

Elnaby, M.H, 1990, A New Astronomical Quranic Method for The Determination of The Greatest Speed C

Fix, John D, 1995, Astronomy, Journey of the Cosmic Frontier, 1st edition, Mosby-Year Book, Inc., St Louis, Missouri

Al-Qur’anul Kariim, Tahun 611 Masehi, ALLAH Azza Wa Jalla, Pencipta Alam Semesta Raya

Al-Qur’an Surat 32 Sajdah:

1. Alif laam miim

2. Turunnya Al-Quran yang tidak ada keraguan di dalamnya, dari Tuhan semesta alam.

3. Tetapi mengapa mereka mengatakan: “Dia Muhammad mengada-adakannya.” Sebenarnya Al-Quran itu adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; Mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.

4. Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di ‘Arsy. tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak seorang pemberi syafa’at. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?

5. Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu

Jadi,,, 1 bukti lagi… Islam —> TERBUKTI BENAR…

Adakah dalam kitab agama lain yg bisa menjelaskan masalah kecepatan cahaya ini???

Qs.4 Nisaa': 82. MAKA APAKAH MEREKA TIDAK MEMPERHATIKAN AL-QUR’AN? KALAU SEKIRANYA AL-QURAN ITU BUKAN DARI SISI ALLAH, TENTULAH MEREKA MENDAPAT PERTENTANGAN YANG BANYAK DIDALAMNYA.

sumber: http://islamterbuktibenar.net

%d bloggers like this: