Posts from the ‘ISLAM & IPTEK’ Category

Mu’jizat Al-Qur’an pada Angka 10 (Sepuluh)

SEPULUH
10 - 10 – ‘10 pukul 10, menit 10. detik 10 AHAD
ingatkanlah mereka kepada HARI HARI ALLAH

Do`a mereka di dalamnya (surga): “Subhanakallahumma” , dan salam penghormatan mereka: “Salam” .
Dan penutup do`a mereka :“Alhamdulilaahi Rabbil `aalamin (QS. Yunus/10 ayat 10)

Mengapa manusia berhitung sampai dengan 10 ?. Jawabnya, karena jari tangan Nabi Adam adalah 10 jari.

Basis modular 10 ini telah diperkenalkan sejak zaman Nabi Syu’aib as, pada waktu Nabi Musa as tiba di Madyan. Ketika itu Nabi Syu’aib sudah memakai bilang Basis Modular 10. Nabi Syu’aib mengatakan bahwa sempurna itu 10.

kata “SEPULUH” di dalam Alquran ditemukan ada pada 10 ayat

1. Dan malam-malam sepuluh(QS.89 ayat 2)

2. Dan sempurnakanlah ibadah haji dan `umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu , sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan `umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.
(Al-Baqarah ayat 196)

3. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis `iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
Al-Baqarah ayat 234

4. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).
Al-Maaidah ayat 89

5. Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).
Al-An`aam ayat 160)

6. Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah , dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan”.
(Al-A`raaf ayat 142)

7. Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Qur`an itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.
(Hud ayat 13)

8. mereka berbisik-bisik di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)”
(Thaahaa ayat 103)

9.Berkatalah dia (Syu`aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.
(Al-Qashash ayat 27)

10. Dan orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan sedang orang-orang kafir Mekah itu belum sampai menerima sepersepuluh dari apa yang telah Kami berikan kepada orang-orang dahulu itu lalu mereka mendustakan rasul-rasul-Ku. Maka alangkah hebatnya akibat kemurkaan-Ku.
(Saba` ayat 45)

catatan: kata “SEPULUH” di dalam Alquran ditemukan ada pada 10 ayat

disusun:
Kh. Fahmi Basya
azminah ma’mur

sumber: http://ssq-dla.com

Ilmu Tafsir dan Problematikanya (4/4)

IV. Konsep Qath’iy dan Zhanniy

Istilah qath’iy dan zhanniy –sebagaimana lazim diketahui– masing-masing terdiri atas dua bagian, yaitu yang menyangkut al-tsubut (kebenaran sumber) dan al-dalalah (kandungan makna). Tidak terdapat perbedaan pendapat di kalangan umat Islam menyangkut kebenaran sumber Al-Quran. Semua bersepakat untuk meyakini bahwa redaksi ayat-ayat Al-Quran yang terhimpun dalam mushaf dan dibaca oleh kaum Muslim di seluruh penjuru dunia dewasa ini adalah sama tanpa sedikit perbedaan pun dengan yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. dari Allah SWT melalui malaikat Jibril a.s.

Al-Quran jelas qath’iy al-tsubut. Hakikatnya merupakan salah satu dari apa yang dikenal dengan istilah ma’lum min al-din bi al-dharurah. Karena itu, di sini tidak akan dibicarakan masalah qathi’y dari segi al-tsubut atau kebenaran sumber tersebut. Yang menjadi persoalan adalah bagian kedua, yakni yang menyangkut kandungan makna redaksi ayat-ayat Al-Quran.

Sebelum menguraikan masalah di atas, terlebih dahulu perlu digarisbawahi bahwa masalah ini tidak menjadi salah satu pokok bahasan ulama-ulama tafsir. Secara mudah hal tersebut dapat dibuktikan dengan membuka lembaran kitab-kitab ‘Ulum Al-Qur’an. Lihat misalnya Al-Burhan karangan Al-Zarkasyi, atau Al-Itqan oleh Al-Sayuthi. Keduanya tidak membahas persoalan tersebut. Ini, antara lain, disebabkan ulama-ulama tafsir menekankan bahwa Al-Quran hammalat li al-wujuh. Sehingga, dari segi penggalian makna, mereka mengenal ungkapan: “Seorang tidak dinamai mufasir kecuali jika ia mampu memberi interpretasi beragam terhadap ayat-ayat Al-Quran.”

Sikap ini tentunya tidak sejalan dengan konsep qath’iy at-dalalah yang hakikatnya, menurut ‘Abdul Wahhab Khallaf, adalah: “Yang menunjuk kepada makna tertentu yang harus dipahami darinya (teks); tidak mengandung kemungkinan ta’wil serta tidak ada tempat atau peluang untuk memahami makna selain makna tersebut darinya (teks tersebut).”

Mohammad Arkoun, seorang pemikir kontemporer kelahiran Aljazair, menulis tentang ayat-ayat Al-Quran sebagai berikut: “Kitab Suci itu mengandung kemungkinan makna yang tak terbatas. Ia menghadirkan berbagai pemikiran dan penjelasan pada tingkat yang dasariah, eksistensi yang absolut. Ia, dengan demikian, selalu terbuka, tak pernah tetap dan tertutup hanya pada satu penafsiran makna.”

Pendapat di atas sejalan dengan tulisan ‘Abdullah Darraz, salah seorang ulama besar Al-Azhar yang antara lain mengedit, menjelaskan dan mengkritik kitab Al-Muwafaqat karya Abu Ishaq Al-Syathibi. Syaikh Darraz menulis: “Apabila Anda membaca Al-Quran, maknanya akan jelas di hadapan Anda. Tetapi bila Anda membaca sekali lagi, maka Anda akan menemukan pula makna-makna lain yang berbeda dengan makna terdahulu. Demikian seterusnya, sampai-sampai Anda (dapat) menemukan kalimat atau kata yang mempunyai arti bermacam-macam. Semuanya benar atau mungkin benar … (Ayat-ayat Al-Quran) bagaikan intan. Setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lain. Dan tidak mustahil, jika Anda mempersilakan orang lain memandangnya, maka dia akan melihat lebih banyak dari apa yang Anda lihat.”

Di sisi lain, kita dapat berkata bahwa setiap nash atau redaksi mengandung dua dalalah (kemungkinan arti). Bagi pengucapnya, redaksi tersebut hanya mengandung satu arti saja, yakni arti yang dimaksudkan olehnya. Inilah yang disebut dalalah haqiqiyyah. Tetapi, bagi para pendengar atau pembaca, dalalah-nya bersifat relatif. Mereka tidak dapat memastikan maksud pembicara. Pemahaman mereka terhadap nash atau redaksi tersebut dipengaruhi oleh banyak hal. Mereka dapat berbeda pendapat. Yang kedua ini dinamai dalalah nishbiyyah.

Atas dasar titik pandang yang demikian inilah agaknya mengapa pembahasan mengenai qath’iy al-dalalah tidak diuraikan secara khusus dalam kitab-kitab ‘Ulum Al-Qur’an. Persoalan ini dibahas oleh ulama-ulama ushul al-fiqh. Para pakar disiplin ilmu ini pada umumnya menjadikan masalah-masalah ushul al-fiqh sebagai masalah yang pasti atau qath’iy. Perlu juga dicatat bahwa walaupun masalah yang dibicarakan di atas tidak menjadi pokok bahasan ulama tafsir, namun mereka menekankan perlunya seorang mufasir untuk mengetahui ushul al-fiqh, khususnya dalam rangka menggali ayat-ayat hukum.

Hakikat Qath’iy dan Zhanniy

Tetapi, apakah yang dinamai qath’iy dan apa atau bagaimana proses yang dilaluinya sehingga suatu ayat dinilai qath’iy al-dalalah? Di atas telah dinukil pendapat ‘Abdul Wahhab Khallaf yang kelihatannya merupakan pendapat yang populer tentang difinisi qath’iy al-dalalah.

Definisi serupa dikemukakan juga oleh Syaikh Abu Al-‘Ainain Badran Abu Al-‘Ainain: “Sesuatu yang menunjuk kepada hukum dan tidak mengandung kemungkinan (makna) selainnya.”

Sementara itu, Al-Syathibi, dalam Al-Muwafaqat, menulis demikian: “Tidak atau jarang sekali ada sesuatu yang pasti dalam dalil-dalil syara’ yang sesuai dengan penggunaan (istilah) yang populer.” Yang dimaksudkan adalah istilah yang dinukil di atas, atau yang semakna dengannya seperti dijelaskan oleh ‘Ali ‘Abdul Wahhab. Mereka merumuskan “definisi populer” tersebut dengan “tidak adanya kemungkinan untuk memahami dari suatu lafal kecuali maknanya yang dasar itu.”

“Tidak atau jarang sekali ada sesuatu yang pasti dalam dalil-dalil syara'”, (jika berdiri sendiri) ini, menurut Al-Syathibi, karena apabila dalil-dalil syara’ tersebut bersifat ahad, maka jelas ia tidak dapat memberi kepastian. Bukankah ahad sifatnya zhanniy? Sedangkan bila dalil tersebut bersifat mutawatir lafalnya, maka untuk menarik makna yang pasti dibutuhkan premis-premis (muqaddimat) yang tentunya harus bersifat pasti (qath’iy) pula. Dalam hal ini, premis-premis tersebut harus bersifat mutawatir. Ini tidak mudah ditemukan, karena kenyataan membuktikan bahwa premis-premis tersebut kesemuanya atau sebagian besarnya bersifat ahad dalam arti zhanniy (tidak pasti). Sesuatu yang bersandar kepada zhanniy, tentu tidak menghasilkan sesuatu kecuali yang zhanniy pula.

Muqaddimat yang dimaksud Al-Syathibi di atas adalah apa yang dikenal dengan al-ihtimalat al-‘asyrah, yakni:
(1) riwayat-riwayat kebahasaan;
(2) riwayat-riwayat yang berkaitan dengan gramatika (nahw);
(3) riwayat-riwayat yang berkaitan dengan perubahan kata (sharaf);
(4) redaksi yang dimaksud bukan kata bertimbal (ambigu, musytarak); atau
(5) redaksi yang dimaksud bukan kata metaforis (majaz);
(6) tidak mengandung peralihan makna; atau
(7) sisipan (idhmar); atau
(8) “pendahuluan dan pengakhiran” (taqdim wa ta’khir); atau
(9) pembatalan hukum (naskh); dan
(10) tidak mengandung penolakan yang logis (adam al-mu’aridh al-‘aqliy).

Tiga yang pertama kesemuanya bersifat zhanniy, karena riwayat-riwayat yang menyangkut hal-hal tersebut kesemuanya ahad. Tujuh sisanya hanya dapat diketahui melalui al-istiqra’ al-tam (metode induktif yang sempurna), dan hal ini mustahil. Yang dapat dilakukan hanyalah al-istiqra’ al-naqish (metode induktif yang tidak sempurna), dan ini tidak menghasilkan kepastian. Dengan kata lain, yang dihasilkan adalah sesuatu yang bersifat zhanniy.

Yang Qath’iy dalam Al-Quran

Apakah pendapat Al-Syathibi di atas mengantarkan kita untuk berkesimpulan bahwa tidak ada yang qath’iy dalam Al-Quran? Memang demikian jika ditinjau dari sudut ayat-ayat tersebut secara berdiri sendiri. Tetapi lebih jauh ia menjelaskan bagaimana proses yang dilalui oleh suatu hukum yang diangkat dari nash sehingga ia pada akhirnya dinamai qath’iy.

Menurut Al-Syathibi lebih jauh, “kepastian makna” (qath’iyyah al-dalalah) suatu nash muncul dari sekumpulan dalil zhanniy yang kesemuanya mengandung kemungkinan makna yang sama. Terhimpunnya makna yang sama dari dalil-dalil yang beraneka ragam itu memberi “kekuatan” tersendiri. Ini pada akhirnya berbeda dari keadaan masing-masing dalil tersebut ketika berdiri sendiri. Kekuatan dari himpunan tersebut menjadikannya tidak bersifat zhanniy lagi. Ia telah meningkat menjadi semacam mutawatir ma’nawiy, dan dengan demikian dinamailah ia sebagai qath’iy al-dalalah.

Jika perhatian hanya ditujukan kepada nash Al-Quran yang berbunyi aqimu al-shalah misalnya, maka nash ini tidak pasti menunjuk kepada wajibnya shalat, walaupun redaksinya berbentuk perintah, sebab, banyak ayat Al-Quran yang menggunakan redaksi perintah tapi dinilai bukan sebagai perintah wajib. Kepastian tersebut datang dari pemahaman terhadap nash-nash lain yang, walaupun dengan redaksi atau konteks berbeda-beda, disepakati bahwa kesemuanya mengandung makna yang sama. Dalam contoh di atas, ditemukan sekian banyak ayat atau hadis yang menjelaskan antara lain hal-hal berikut:

1. Pujian kepada orang-orang yang shalat;

2. Celaan dan ancaman bagi yang meremehkan atau meninggalkannya;

3. Perintah kepada mukallaf untuk melaksanakannya dalam keadaan sehat atau sakit, damai atau perang, dalam keadaan berdiri atau –bila uzur– duduk atau berbaring atau bahkan dengan isyarat sekalipun;

4. Pengalaman-pengalaman yang diketahui secara turun-temurun dari Nabi saw., sahabat beliau, dan generasi sesudahnya, yang tidak pernah meninggalkannya.

Kumpulan nash yang memberikan makna-makna tersebut, yang kemudian disepakati oleh umat, melahirkan pendapat bahwa penggalan ayat aqimu al-shalah secara pasti atau qath’iy mengandung makna wajibnya shalat. Juga disepakati bahwa tidak ada kemungkinan arti lain yang dapat ditarik darinya. Di sini, kewajiban shalat yang ditarik dari aqimu al-shalat, menjadi aksioma. Di sini berlaku ma’lum min al-din bi al-dharurah.

Biasanya, ulama-ulama ushul al-fiqh menunjuk kepada ijma’ untuk menetapkan sesuatu yang bersifat qath’iy. Sebab, jika mereka menunjuk kepada nash (dalil naqli) secara berdiri sendiri, maka akan dapat terbuka peluang –bagi mereka yang tidak mengetahui ijma’ itu– untuk mengalihkan makna yang dimaksud dan telah disepakati itu ke makna yang lain. Nah, guna menghindari hal inilah mereka langsung menunjuk kepada ijma’.

Perlu ditambahkan bahwa suatu ayat atau hadis mutawatir dapat menjadi qath’iy dan zhanniy pada saat yang sama. Firman Allah yang berbunyi Wa imsahu bi ru’usikum adalah qath’iy al-dalalah menyangkut wajibnya membasuh kepala dalam ber-wudhu : Tetapi ia zhanniy al-dalalah dalam hal batas atau kadar kepala yang harus dibasuh. Keqath’iy-an dan ke-zhanniy-an tersebut disebabkan karena seluruh ulama ber-ijma’ (sepakat) menyatakan kewajiban membasuh kepala dalam berwudhu’ berdasarkan berbagai argumentasi. Namun, mereka berbeda pendapat tentang arti dan kedudukan ba’ pada lafal bi ru’usikum. Dengan demikian, kedudukan ayat tersebut menjadi qath’iy bi i’tibar wa zhanniy bi i’tibar akhar. Di satu sisi ia menunjuk kepada makna yang pasti, dan di sisi lain ia memberi berbagai alternatif makna.

Catatan Akhir

Dari sini jelas bahwa masalah qath’iy dan zhanniy bermuara kepada sejumlah argumentasi yang maknanya disepakati oleh ulama (mujma’ ‘alayh), sehingga tidak mungkin lagi timbul makna yang lain darinya kecuali makna yang telah disepakati itu. Bukankah ia telah disepakati bersama?

Dalam hal kesepakatan tersebut, kita perlu mencatat beberapa butir masalah:

1. Walaupun para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan ijma’ sebagai dalil, namun agaknya tidak diragukan bahwa para pendahulu (salaf) yang hidup pada abad-abad pertama tentu mempunyai banyak alasan untuk sepakat menetapkan arti suatu ayat sehingga pada akhirnya ia menjadi qath’iy al-dalalah. “Mengabaikan persepakatan mereka dapat menimbulkan kebingunan dan kesimpangsiuran di kalangan umat,” tulis Yusuf Qardhawi.

2. Harus disadari bahwa di dalam banyak kitab seringkali ditemukan pernyataan-pernyataan ijma’ menyangkut berbagai masalah –aqidah atau syari ah. Namun, pada hakikatnya, masalah tersebut tidak memiliki ciri ijma’. Mahmud Syaltut, mengutip tulisan Imam Syafi’i dalam Al-Risalah, menulis demikian: “Saya tidak berkata, dan tidak pula seseorang dari kalangan yang berilmu, bahwa ‘Ini mujma’ ‘alayh’ (disepakati), sampai suatu saat Anda tidak bertemu dengan seorang alim pun kecuali semuanya berpendapat sedemikian, yang disampaikan (sumbernya) adalah orang-orang sebelumnya –seperti bahwa shalat zhuhur adalah empat rakaat, bahwa khamr haram, dan yang semacamnya.”

3. Tidak semua alim atau pakar dapat dijadikan rujukan dalam menetapkan kesepakatan (ijma’) tersebut. Ibrahim bin ‘Umar Al-Biqa’iy (809-885 H) misalnya, tidak mengakui Fakhruddin Al-Raziy sebagai salah seorang yang dapat diterima otoritasnya dalam menetapkan “kesepakatan”. Ia menulis demikian: “Tidak dirujuk untuk mengetahui ijma’ kecuali para pakar yang mendalami riwayat-riwayat.”

4. Umat Islam, termasuk sebagian ulamanya, kerap kali beranggapan bahwa suatu masalah telah menjadi kesepakatan para ulama. Padahal sesungguhnya hal tersebut baru merupakan kesepakatan antar ulama mazhabnya. Hal ini sekali lagi berarti bahwa yang disepakati ke-qath’iy-annya haruslah diteliti dengan cermat.

Demikianlah beberapa pokok pikiran menyangkut masalah qath’iy. Adapun persoalan zhanniy, agaknya sudah menjadi jelas dengan memahami istilah qath’iy yang diuraikan di atas.

DAFTAR PUSTAKA

* Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA., Membumikan Al-Quran, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Penerbit Mizan, Bandung, 1992.
* Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004
* Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA., Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Penerbit Mizan, Bandung, 1997.
* Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Quran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007.
* Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur’an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008.
* Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Dr. Ahmad Qodri Abdillah Azizy, MA, Dr. A. Chaeruddin, SH., etc. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2008, Editor : Prof. Dr. Taufik Abdullah, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, MA.
* Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008.
* ‘Abdul Wahhab Khallaf, Ilm Ushul Al-Fiqh, Al-Dar Al-Kuwaitiyyah, Kuwait, 1968, cetakan Vlll
* ‘Abdullah Darraz, Annaba’ Al-Azhim, Dar Al-‘Urubah, Mesir, 1966
* Abu Ishaq Al-Syathibiy, Al-Muwafaqat fi Ushul Al-Syari’ah, disunting oleh Syaikh’Abdullah Darraz, Al-Maktabah Al-Tijariyyah Al-Kubra, Mesir, Jilid 1
* Ali ‘Abduttawab dan Thaha ‘Abdullah Addasuqy, Mabahits fi Tarikh Al-Fiqh Al-Islamiy, Lajnah Al-Bayan Al-‘Arabiy, Mesir, 1962
* Yusuf Al-Qardhawiy, Fiqh Al-Zakah, Muassasat Al-Risalah, Beirut, Cet. IV, jilid I
* Mahmud Syaltut, Al-Islam ‘Aqidah wa Syari’ah, Dar Al-Qalam, Mesir, 1966, Cet. III
* Ibrahim bin Umar Al-Biqa’iy, Nazhm Al-Dhurar, manuskrip di Perpustakaan Al-Azhar, Kairo, Mesir, no. 590-Tafsir, Jilid II
* alquran.bahagia.us, keislaman.com, dunia-islam.com, Al-Quran web, PT. Gilland Ganesha, 2008.
* Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979.
* Al-Hafizh Zaki Al-Din ‘Abd Al-‘Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
* M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008.
* Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008.
* Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999.

Bacaan Sebelumnya: Ilmu Tafsir dan Problematikanya (3/4)

Ilmu Tafsir dan Problematikanya (3/4)

III. Ayat-ayat Kawniyyah dalam Al-Quran

Al-Quran Al-Karim, yang terdiri atas 6.236 ayat itu, menguraikan berbagai persoalan hidup dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya. Uraian-uraian sekitar persoalan tersebut sering disebut ayat-ayat kawniyyah. Tidak kurang dari 750 ayat yang secara tegas menguraikan hal-hal di atas. Jumlah ini tidak termasuk ayat-ayat yang menyinggungnya secara tersirat.

Tetapi, kendatipun terdapat sekian banyak ayat tersebut, bukan berarti bahwa Al-Quran sama dengan Kitab Ilmu Pengetahuan, atau bertujuan untuk menguraikan hakikat-hakikat ilmiah. Ketika Al-Quran memperkenalkan dirinya sebagai tibyanan likulli syay’i (QS 16:89), bukan maksudnya menegaskan bahwa ia mengandung segala sesuatu, tetapi bahwa dalam Al-Quran terdapat segala pokok petunjuk menyangkut kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi.

Al-Ghazali dinilai sangat berlebihan ketika berpendapat bahwa “segala macam ilmu pengetahuan baik yang telah, sedang dan akan ada, kesemuanya terdapat dalam Al-Quran”. Dasar pendapatnya ini antara lain adalah ayat yang berbunyi, Pengetahuan Tuhan kami mencakup segala sesuatu (QS 7:89). Dan bila aku sakit Dialah Yang Menyembuhkan aku (QS 26:80). Tuhan tidak mungkin dapat mengobati kalau Dia tidak tahu penyakit dan obatnya. Dari ayat ini disimpulkan bahwa pasti Al-Quran, yang merupakan Kalam/Firman Allah, juga mengandung misalnya disiplin ilmu kedokteran. Demikian pendapat Al-Ghazali dalam Jawahir Al-Qur’an. Di sini, dia mempersamakan antara ilmu dan kalam, dua hal yang pada hakikatnya tidak selalu seiring. Bukankah tidak semua apa yang diketahui dan diucapkan?! Bukankah ucapan tidak selalu menggambarkan (seluruh) pengetahuan?

Al-Syathibi, yang bertolak belakang dengan Al-Ghazali, juga melampaui batas kewajaran ketika berpendapat bahwa “Para sahabat tentu lebih mengetahui tentang kandungan Al-Quran” –tetapi dalam kenyataan tidak seorang pun di antara mereka yang berpendapat seperti di atas. “Kita,” kata Al-Syathibi lebih jauh, “tidak boleh memahami Al-Quran kecuali sebagaimana dipahami oleh para sahabat dan setingkat dengan pengetahuan mereka.” Ulama ini seakan-akan lupa bahwa perintah Al-Quran untuk memikirkan ayat-ayatnya tidak hanya tertuju kepada para sahabat, tetapi juga kepada generasi-generasi sesudahnya yang tentunya harus berpikir sesuai dengan perkembangan pemikiran pada masanya masing-masing.

Al-Quran dan Alam Raya

Seperti dikemukakan di atas bahwa Al-Quran berbicara tentang alam dan fenomenanya. Paling sedikit ada tiga hal yang dapat dikemukakan menyangkut hal tersebut:

1. Al-Quran memerintahkan atau menganjurkan kepada manusia untuk memperhatikan dan mempelajari alam raya dalam rangka memperoleh manfaat dan kemudahan-kemudahan bagi kehidupannya, serta untuk –mengantarkannya kepada kesadaran akan Keesaan dan Kemahakuasaan Allah SWT.
Dari perintah ini tersirat pengertian bahwa manusia memiliki potensi untuk mengetahui dan memanfaatkan hukum-hukum yang mengatur fenomena alam tersebut. Namun, pengetahuan dan pemanfaatan ini bukan merupakan tujuan puncak (ultimate goal).

2. Alam dan segala isinya beserta hukum-hukum yang mengaturnya, diciptakan, dimiliki, dan di bawah kekuasaan Allah SWT serta diatur dengan sangat teliti.
Alam raya tidak dapat melepaskan diri dari ketetapan-ketetapan tersebut –kecuali jika dikehendaki oleh Tuhan. Dari sini tersirat bahwa:

* Alam raya atau elemen-elemennya tidak boleh disembah, dipertuhankan atau dikultuskan.

* Manusia dapat menarik kesimpulan-kesimpulan tentang adanya ketetapan-ketetapan yang bersifat umum dan mengikat bagi alam raya dan fenomenanya (hukum-hukum alam).

3. Redaksi ayat-ayat kawniyyah bersifat ringkas, teliti lagi padat, sehingga pemahaman atau penafsiran terhadap ayat-ayat tersebut dapat menjadi sangat bervariasi, sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pengetahuan masing-masing penafsir.

Dalam kaitan dengan butir ketiga di atas, perlu digarisbawahi beberapa prinsip dasar yang dapat, atau bahkan seharusnya, diperhatikan dalam usaha memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang mengambil corak ilmiah. Prinsip-prinsip dasar tersebut adalah

1. Setiap Muslim, bahkan setiap orang, berkewajiban untuk mempelajari dan memahami Kitab Suci yang dipercayainya, walaupun hal ini bukan berarti bahwa setiap orang bebas untuk menafsirkan atau menyebarluaskan pendapat-pendapatnya tanpa memenuhi seperangkat syarat-syarat tertentu.

2. Al-Quran diturunkan bukan hanya khusus ditujukan untuk orang-orang Arab ummiyyin yang hidup pada masa Rasul saw. dan tidak pula hanya untuk masyarakat abad ke-20, tetapi untuk seluruh manusia hingga akhir zaman. Mereka semua diajak berdialog oleh Al-Quran serta dituntut menggunakan akalnya dalam rangka memahami petunjuk-petunjuk-Nya. Dan kalau disadari bahwa akal manusia dan hasil penalarannya dapat berbeda-beda akibat latar belakang pendidikan, kebudayaan, pengalaman, kondisi sosial, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), maka adalah wajar apabila pemahaman atau penafsiran seseorang dengan yang lainnya, baik dalam satu generasi atau tidak, berbeda-beda pula.

3. Berpikir secara kontemporer sesuai dengan perkembangan zaman dan iptek dalam kaitannya dengan pemahaman Al-Quran tidak berarti menafsirkan Al-Quran secara spekulatif atau terlepas dari kaidah-kaidah penafsiran yang telah disepakati oleh para ahli yang memiliki otoritas dalam bidang ini.

4. Salah satu sebab pokok kekeliruan dalam memahami dan menafsirkan Al-Quran adalah keterbatasan pengetahuan seseorang menyangkut subjek bahasan ayat-ayat Al-Quran. Seorang mufasir mungkin sekali terjerumus kedalam kesalahan apabila ia menafsirkan ayat-ayat kawniyyah tanpa memiliki pengetahuan yang memadai tentang astronomi, demikian pula dengan pokok-pokok bahasan ayat yang lain.

Dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip pokok di atas, ulama-ulama tafsir memperingatkan perlunya para mufasir –khususnya dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan penafsiran ilmiah– untuk menyadari sepenuhnya sifat penemuan-penemuan ilmiah, serta memperhatikan secara khusus bahasa dan konteks ayat-ayat Al-Quran.

Pendapat Para Ulama tentang Penafsiran Ilmiah

Disepakati oleh semua pihak bahwa penemuan-penemuan ilmiah, di samping ada yang telah menjadi hakikat-hakikat ilmiah yang dapat dinilai telah memiliki kemapanan, ada pula yang masih sangat relatif atau diperselisihkan sehingga tidak dapat dijamin kebenarannya.

Atas dasar larangan menafsirkan Al-Quran secara spekulatif, maka sementara ulama Al-Quran tidak membenarkan penafsiran ayat-ayat berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah yang sifatnya belum mapan. Seorang ulama berpendapat bahwa “Kita tidak ingin terulang apa yang terjadi atas Perjanjian Lama ketika gereja menafsirkannya dengan penafsiran yang kemudian ternyata bertentangan dengan penemuan para ilmuwan.” Ada Pula yang berpendapat bahwa “Kita berkewajiban menjelaskan Al-Quran secara ilmiah dan biarlah generasi berikut membuka tabir kesalahan kita dan mengumumkannya.”

Abbas Mahmud Al-Aqqad memberikan jalan tengah. Seseorang hendaknya jangan mengatasnamakan Al-Quran dalam pendapat-pendapatnya, apalagi dalam perincian penemuan-penemuan ilmiah yang tidak dikandung oleh redaksi ayat-ayat Al-Quran. Dalam hal ini, AlAqqad memberikan contoh menyangkut ayat 30 Surah Al-Anbiya’ yang oleh sementara ilmuwan Muslim dipahami sebagai berbicara tentang kejadian alam raya, yang pada satu ketika merupakan satu gumpalan kemudian dipisahkan Tuhan.

Setiap orang bebas memahami kapan dan bagaimana terjadinya pemisahan itu, tetapi ia tidak dibenarkan mengatasnamakan Al-Quran menyangkut pendapatnya, karena Al-Quran tidak menguraikannya.

Setiap Muslim berkewajiban mempercayai segala sesuatu yang dikandung oleh Al-Quran, sehingga bila seseorang mengatasnamakan Al-Quran untuk membenarkan satu penemuan atau hakikat ilmiah yang tidak dicakup oleh kandungan redaksi ayat-ayat Al-Quran, maka hal ini dapat berarti bahwa ia mewajibkan setiap Muslim untuk mempercayai apa yang dibenarkannya itu, sedangkan hal tersebut belum tentu demikian.

Pendapat yang disimpulkan dari uraian Al-Aqqad di atas, bukan berarti bahwa ulama dan cendekiawan Mesir terkemuka ini menghalangi pemahaman suatu ayat berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan. Tidak! Sebab, menurut Al-Aqqad lebih lanjut, “Dahulu ada ulama yang memahami arti ‘tujuh langit’ sebagai tujuh planet yang mengitari tata surya –sesuai dengan perkembangan pengetahuan ketika itu. Pemahaman semacam ini merupakan ijtihad yang baik sebagai pemahamannya (selama) ia tidak mewajibkan atas dirinya untuk mempercayainya sebagai akidah dan atau mewajibkan yang demikian itu terhadap orang lain.”

Bint Al-Syathi’ dalam bukunya, Al-Qur’an wa Al-Qadhaya Al-Washirah, secara tegas membedakan antara pemahaman dan penafsiran. Sedangkan Al-Thabathaba’i, mufasir besar Syi’ah kontemporer, lebih senang menamai penjelasan makna ayat-ayat Al-Quran secara ilmiah dengan nama tathbiq (penerapan). Pendapat-pendapat di atas agaknya semata-mata bertujuan untuk menghindari jangan sampai Al-Quran dipersalahkan bila di kemudian hari terbukti teori atau penemuan ilmiah tersebut keliru.

Segi Bahasa Al-Quran dan Korelasi Antar Ayatnya

Seperti yang telah dikemukakan di atas, para mufasir mengingatkan agar dalam memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al-Quran –khususnya yang berkaitan dengan penafsiran ilmiah– seseorang dituntut untuk memperhatikan segi-segi bahasa Al-Quran serta korelasi antar ayat.

Sebelum menetapkan bahwa ayat 88 Surah Al-Naml (yang berbunyi, Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka ia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan), ini menginformasikan pergerakan gunung-gunung, atau peredaran bumi, terlebih dahulu harus dipahami kaitan ayat ini dengan ayat-ayat sebelumnya. Apakah ia berbicara tentang keadaan gunung dalam kehidupan duniawi kita dewasa ini atau keadaannya kelak di hari kemudian. Karena, seperti diketahui, penyusunan ayat-ayat Al-Quran tidak didasarkan pada kronologis masa turunnya, tetapi pada korelasi makna ayat-ayatnya, sehingga kandungan ayat terdahulu selalu berkaitan dengan kandungan ayat kemudian.

Demikian pula halnya dengan segi kebahasaan. Ada sementara orang yang berusaha memberikan legitimasi dari ayat-ayat Al-Quran terhadap penemuan-penemuan ilmiah dengan mengabaikan kaidah kebahasaan.

Ayat 22 Surah Al-Hijr, diterjemahkan oleh Tim Departemen Agama dengan, “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit …”Terjemahan ini, di samping mengabaikan arti huruf fa; juga menambahkan kata tumbuh-tumbuhan sebagai penjelasan sehingga terjemahan tersebut menginformasikan bahwa angin berfungsi mengawinkan tumbuh-tumbuhan.

Hemat penulis, terjemahan dan pandangan di atas tidak didukung oleh fa anzalna min al-sama’ ma’a yang seharusnya diterjemahkan dengan maka kami turunkan hujan. Huruf fa’ yang berarti “maka” menunjukkan adanya kaitan sebab dan akibat antara fungsi angin dan turunnya hujan, atau perurutan logis antara keduanya sehingga tidak tepat huruf tersebut diterjemahkan dengan dan sebagaimana tidak tepat penyisipan kata tumbuh-tumbuhan dalam terjemahan tersebut. Bahkan tidak keliru jika dikatakan bahwa menterjemahkan lawaqiha dengan meniupkan juga kurang tepat.

Kamus-kamus bahasa mengisyaratkan bahwa kata tersebut digunakan antara lain untuk menggambarkan inseminasi. Sehingga, atas dasar ini, Hanafi Ahmad menjadikan ayat tersebut sebagai informasi tentang fungsi angin dalam menghasilkan atau mengantarkan turunnya hujan, semakna dengan Firman Allah dalam surah Al-Nur ayat 43: Tidakkah kamu lihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian dijadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya …

Memang, seperti yang dikemukakan di atas, sebab-sebab kekeliruan dalam memahami atau menafsirkan ayat-ayat Al-Quran antara lain adalah kelemahan dalam bidang bahasa Al-Quran, serta kedangkalan pengetahuan menyangkut objek bahasan ayat. Karena itu, walaupun sudah terlambat, kita masih tetap menganjurkan kerja sama antardisiplin ilmu demi mencapai pemahaman atau penafsiran yang tepat dari ayat-ayat Al-Quran dan demi membuktikan bahwa Kitab Suci tersebut benar-benar bersumber dari Allah Yang Maha Mengetahui lagi Mahaesa itu.

DAFTAR PUSTAKA

* Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA., Membumikan Al-Quran, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Penerbit Mizan, Bandung, 1992.
* Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004
* Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA., Wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Penerbit Mizan, Bandung, 1997.
* Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Quran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007.
* Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur’an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008.
* Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Dr. Ahmad Qodri Abdillah Azizy, MA, Dr. A. Chaeruddin, SH., etc. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2008, Editor : Prof. Dr. Taufik Abdullah, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, MA.
* Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008.
* Al-Zarkasyi, Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an, Al-Halabiy, Kairo, 1957, jilid I
* Thanthawi Jauhari, Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an, Kairo, 1350 H, jilid I
* Mahmud Syaltut, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Dar Al-Qalam, Mesir, Cetakan II
* Al-Ghazali, Jawahir Al-Qur’an, Percetakan Kurdistan, Mesir, Cetakan I
* Abu Ishaq Al-Syathibi, Al-Muwafaqat, Dar Al-Ma’rifah, Mesir, jilid 1
* Muhammad Ridha Al-Hakimi, Al-Qur’an Yasbiqu Al-‘Ilm Al-Hadits, Dar Al-Qabas, Kuwait, 1977
* Abdul Muta’al Muhammad Al-Jabri, Syathahat Mushthafa Mahmud, Dar Al-I’thisham, Kairo, 1976
* Abbas Mahmud Al-Aqqad, Al-Falsafah Al-Qur’aniyyah, Dar Al-Hilal, Kairo
* Bint Al-Syathi’, Al-Quran wa Al-Qadhaya Al-Mu’ashirah, Dar Al-Ilmu li Al-Malayin, Beirut, 1982
* Muhammad Husain Al-Thabathaba’i, Tafsir Al-Mizan, Dar Al-Kutub Al-Islamiyyah, Teheran, 1397 H., cet. III, jilid I
* Hanafi Ahmad, Al-Tafsir Al-‘Ilmiy lil Ayat Al-Kawniyyah, Dar Al-Ma’arif Mesir, 1960
* alquran.bahagia.us, keislaman.com, dunia-islam.com, Al-Quran web, PT. Gilland Ganesha, 2008.
* Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979.
* Al-Hafizh Zaki Al-Din ‘Abd Al-‘Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
* M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008.
* Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008.
* Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999.

Bacaan sebelumnya: Ilmu Tafsir dan Problematikanya (2/4)
Bacaan selanjutnya: Ilmu Tafsir dan Problematikanya (4/4

LALAT, Sehina Itukah Dia, atau Dia Lebih Mulia Dari Itu?

Oleh: H. Muhammad Widus Sempo, MA


Ilustrasi (Sunaryo Tandi)

Tidak ada entitas kehidupan yang tercipta sia-sia. Sadar akan hal ini, penulis berupaya menyuguhkan tulisan singkat tentang hakikat penciptaan lalat. Makhluk lemah ini sering kali dituding oleh sebagian dari mereka sebagai serangga pembawa sial, kuman penyakit, dan hewan yang cukup mengganggu. Akan tetapi, pernahkah mereka memikirkan hakikat penciptaannya?

Hampir semua jenis serangga, termasuk lalat, tidak terlihat di musim dingin, mereka nantinya muncul beterbangan di awal musim semi, tetapi sebagian dari mereka, seperti lalat hijau telah menampakkan diri di penghujung musim dingin. Tentunya, fenomena seperti ini membangkitkan selera tanya pemerhati yang berkata: “rahasia apa lagi di balik fenomena ini? Apakah di sana ada pesan-pesan kehidupan untuk manusia?”

Siklus kehidupan seperti ini menunjukkan kesempurnaan penciptaan Allah SWT. Mereka seperti bala tentara Allah yang menyeru dan berkata: “wahai manusia, khalifah Allah, jangan pernah melihat aku pada batas penciptaan semata, tetapi temukan nilai-nilai ketuhanan dan kehidupan di balik penciptaanku! Aku melukiskan seribu satu makna bagi insan-insan Rabbânî. Olehnya itu, jangan pernah mengusirku dengan begitu kasar, hanya karena aku hinggap di batang hidungmu. Aku tidak sepantasnya mendapatkan perlakuan seperti itu, jika Anda mengetahui hakikat-hakikat penciptaan yang aku biaskan. Boleh jadi, dengan bertenggernya aku di batang hidungmu sedetik, itu dapat menyadarkanmu dari kelalaian tentang hakikat penciptaan setiap entitas kehidupan. Coba lihat dan pikirkan itu!”

Di musim panas sampah dan bangkai binatang cepat mengalami pembusukan oleh pengaruh bakteri. Olehnya itu, untuk menekan bahaya bakteri tersebut, Allah menciptakan lalat di luar perhitungan matematis sebagai pembasmi gratis terhadap kuman-kuman penyakit.

Syekh Mutawallî as-Sya’râwî dengan singkat mengatakan:

“Sebagian manusia bertanya: “apa hikmah penciptaan lalat di kosmos ini?” mereka tidak tahu bahwa lalat senantiasa memberikan layanan jasa yang sangat urgen, dia memakan kotoran dan kuman penyakit yang melengket di tubuhnya, dan seandainya manusia memproteksi diri dengan kebersihan, pasti lalat tidak mengerumuni mereka.

Jadi, setiap entitas kehidupan memerankan fungsi mereka dengan teratur. Sesungguhnya keteraturan yang apik itu datang dari Sang Pencipta yang Maha Mengetahui lagi Bijak. Dan selagi Dia yang Bijak yang menciptakan, maka tidak layak bagi mereka membantah dan berkata: “kenapa lagi dia tercipta?” Karena setiap makhluk punya tugas tersendiri di alam ini.”[1]

Sebelumnya, Bediuzzaman Said Nursi mendeskripsikan fungsi penciptaan makhluk ini dengan panjang lebar, beliau berkata:

“Sesungguhnya lalat sangat memerhatikan kebersihan, dia senantiasa membersihkan muka, mata dan sayapnya, seperti orang yang sedang berwudhu. Olehnya itu, tanpa ragu, jenis makhluk ini punya tugas penting dan mulia, tetapi kaca mata hikmah dan ilmu manusia tidak mampu menangkap semua fungsi yang sedang dilaksanakan.

Di antara hewan yang diciptakan Allah binatang buas, pemakan daging (karnivor). Mereka seperti petugas kebersihan yang menjalankan tugas dengan begitu sempurna. Dengan melahap bangkai binatang darat dan laut, mereka telah menjaga kebersihan laut dan udara dari polusi.

Di lain sisi, di sana ada burung-burung pemangsa yang siap mencengkeram bangkai binatang laut dan darat sebelum membusuk. Dengan desain indera perasa yang Allah ciptakan terhadapnya, mereka mampu menangkap sinyal bangkai dari jarak tempuh sekitar 6 jam perjalanan. Seandainya petugas kebersihan ini tidak ada, dunia sungguh menyedihkan dan wajah laut murung tidak berseri.

Tidak jauh dari itu, lalat punya fungsi serupa. Serangga ini telah diformat khusus untuk membasmi kuman penyakit yang tidak terlihat oleh kasat mata. Dia bukan pembawa kuman, melainkan dia penghancur pelbagai basil yang berbahaya dengan memakan dan mendaur ulang materi beracun ini menjadi materi lain, sehingga dengan sendirinya penyakit-penyakit pun tidak tersebar dalam skala besar dan menakutkan.

Bukti nyata bahwa mereka makhluk petugas kebersihan, pembasmi bahan-bahan kimia yang mengancam, dan keberadaannya penuh dengan hikmah, adalah jumlahnya yang tidak terhitung di musim panas. Bukankah materi yang bermanfaat itu diperbanyak kopiannya?”[2]

Yang menarik lagi dari hewan ini, justifikasi hukum dari hadits bahwa spesies ini, meskipun datang dari kotoran, tetapi ia diperlengkapi dengan anti-bakteri. Ini telah ditegaskan sabda Nabi Saw berikut ini:

(إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ، ثم لْيَطْرَحْهُ، فَإِنَّ فِى أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً، وَفِى الآخَرِ دَاءً).

“Jika lalat jatuh di tempat minum (gelas) salah seorang dari kalian, maka celupkan semua tubuhnya. Sesungguhnya di salah satu sayapnya ada obat, dan di sayap lain ada penyakit.”[3]

Jika Anda bertanya dan berkata: “Apakah mungkin lalat punya anti-bakteri, sementara, dia hidup di kotoran? Tolong buktikan dengan dalil-dalil ilmiah?”

Kebenaran medis Nabi Saw tersebut, yang diingkari oleh sebagian orientalis, telah dibuktikan oleh kedokteran kuno dan modern.

Imam Ibn Qutaiba berkata:

“Ahli medis kuno menganggap bahwa lalat yang diaduk dengan serbuk antimon [4] dapat menjadi ramuan celak yang ampuh mempertajam penglihatan dan mempertebal pertumbuhan bulu-bulu mata.” [5]

Olehnya itu, bagi Imam Ibn Qayyîm sendiri, hadits ini tidak patut diingkari oleh mereka, karena bukan hanya lalat saja seperti ini, tetapi ular, lebah dan yang lain punya mekanisme serupa. Beliau menjelaskan:

“Sebagian dari mereka merasa aneh terhadap penyakit dan obat yang ditemukan dalam satu makhluk. Itu bukanlah keanehan, sesungguhnya mulut lebah membawa madu dan pantatnya menyimpan sengat, bisa ular dapat dilumpuhkan dengan ramuan Tiryak (pengobatan kuno yang komposisinya terdiri dari bisa dan serbuk daging ular yang dicampur dan diaduk rata), dan mereka menyarankan kepada korban yang mukanya digigit anjing untuk ditutupi. Karena jika lalat hinggap, penyakitnya dapat bertambah parah.” [6]

Dunia medis modern pun telah menemukan hal yang tidak jauh beda dari penemuan di atas. Ini dapat dilihat di laporan medis mereka berikut ini:

Karena tabiat lalat yang tercipta di lingkungan kotor, maka sebagian kotoran tersebut melengket di tubuhnya, dan sebagian lain dimakan, yang kemudian menjadi materi beracun yang lebih dikenal dengan anti-bakteri (bakterionag). Zat beracun tidak dapat bertahan hidup, atau punya pengaruh terhadap kekebalan tubuh selama anti-bakteri ini ada di tubuh lalat. Olehnya itu, jika seekor lalat yang membawa kuman penyakit jatuh di makanan dan minuman, maka pemusnah kuman yang paling ampuh anti-bakteri yang tersimpan di rongga dalam lalat itu sendiri yang dekat di salah satu sayapnya. Tentunya, dengan mencelupkan semua tubuh lalat cukup untuk membunuh kuman-kuman yang melengket di tubuhnya. Hal ini telah dibuktikan medis barat.[7]

Pendek kata, medis kenabian telah terbukti kebenarannya oleh medis kuno dan modern. Tidak ada celah bagi mereka yang ingin menuding teks-teks Islam sebagai teks agama yang tidak riil dan relevan dengan dunia nyata. Ini mengindikasikan kebesaran dan keagungan Sang Maha Penguasa, yang ciptaan- ciptaan-Nya dapat menjadi guru tersendiri bagi mereka yang ingin menangkap bisikan-bisikan hakikat penciptaan dan kehidupan.

Keurgensian makhluk ini tidak berhenti di sini saja, tetapi ia diabadikan sebagai bahan baku celaan Al-Qur’an terhadap orang-orang musyrik. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ ﴿٧٣﴾

“Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al-Hajj [22]: 73)

Hemat penulis, lalat makhluk yang paling lemah, tetapi ia mengetahui kelemahannya. Di lain sisi, penyembah berhala, makhluk lemah, tidak menyadari kelemahannya, bahkan ia memberikan justifikasi ketuhanan kepada berhala-berhala yang tidak punya kekuatan sedikit pun. Olehnya itu, kelemahan yang disadari dan diposisikan pada tempatnya lebih baik dari sejuta kesombongan dan keangkuhan yang menyengsarakan.

Sesungguhnya apa yang mereka anggap kuat, hakikatnya lemah di hadapan Allah, penyembah dan sembahan tidak dapat mengembalikan sesuatu yang telah dirampas lalat dari mereka. [8] Apa lagi jika mereka diminta menciptakan makhluk ajaib ini. Sungguh, itu cemooh yang mencoreng muka mereka di hadapan seluruh entitas kehidupan, celaan yang meninggalkan pilu dan malu. [9]

Demikianlah telaah imaniah singkat tentang justifikasi negatif terhadap lalat yang jauh dari nilai-nilai keimanan, hewan yang menyimpan seribu satu keajaiban penciptaan.

Di akhir tulisan ini, saya mengajak pemerhati tema-tema keislaman menyimpulkan apa yang dipaparkan di atas:

“Telaah rahasia-rahasia penciptaan lalat dengan penuh keimanan! ia lemah tapi tidak sombong, dengan kelemahan dia menjadi kuat, makhluk yang melukiskan keagungan penciptaan yang tidak terhingga, petugas kebersihan harian umat manusia yang tidak disadari. Mereka tidak pernah meminta gaji, yang mereka inginkan hanyalah kesadaran manusia untuk menjadikan mereka objek telaah imaniah yang menyuguhkan aneka ragam makna kehidupan dan ketuhanan. Dia tidak kotor meski dari tempat kotor, tidak membawa kuman kecuali obatnya telah siap, dan dia senantiasa menyeru Anda untuk menjaga kebersihan. Subhanallah wa Alhamdulillah!”

——————————————————————–

Catatan Kaki:

[1] Tafsir as-Sya’râwî, vol. 2, hlm. 699

[2] Lihat: Ustadz Bediuzzaman Said Nursi, Masâil Daqîqah fi al-Ushûl wa al-Aqîdah, diterjemahkan oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihî, Sözler Publication, cet. 2, 2003 M, hlm. 7-9

[3] Hadits ini diriwayatkan oleh Abi Hurairah ra., dan dikeluarkan oleh Imam Bukhari di Shahihnya, kitab at-Tib, bab Isâ waqaa adz-Zubâb fi Inâi Ahadikum, hadits, no: 5782, hlm. 1594

[4] antimon: logam berwarna putih perak yang mudah dihancurkan menjadi serbuk dan dicampur dengan logam-logam lain; batu serawak. [Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, cet. 3, 1990 M, hlm. 43]

[5] Imam Abî Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah, Ta’wîl Mukhtalafil Hadîts, ditahkik oleh Muhammad Muhyiddin al-Ashfar, al-Maktab al-Islami, Beirut, cet. 2, 1419 H/1999 M, hlm. 335-336

[6] Imam Ibn Qayyîm al-Jauzî, al-Musykil min Hadîts as-Shahîhain, ditakhkik oleh DR. Ali Husain al-Bawwâb, Dar al-Wathan, cet. 1, 1418 H/1997 M, hadits, no: 2076/2581, vol. 3, hlm. 547

[7] Lihat: Musykilât al-Ahâdîts an-Nabawiyyah wa Bayânuhâ, vol. 1, hlm. 54

[8] yang dirampas dari mereka adalah sesajen yang dipersembahkan khusus untuk berhala-berhala. Kebanyakan mufassir menafsirkannya sebagai wangi-wangian dan madu yang dioleskan di bagian kepala patung-patung tersebut. Di lain sisi, Syekh as-Sya’râwî menafsirkannya dengan makanan dan darah hewan (korban) yang disembelih di dekat berhala-berhala mereka. [lihat: Abû Hayyan at-
Tauhîdî, al-Bahru al-Muhîth, vol. 6, hlm. 360, dan Tafsir as-Sya'râwî, vol. 16, hlm. 9933-9934]

[9] Lihat: Syekh Abîs as-Suûd al-Imâdî, Tafsir Abî as-Suûd, vol. 4, hlm. 397-398, dan Syekh Muhammad Thâhîr bin Ãsyûr, at-Tahrîr wa at-Tanwîr, vol. 17, hlm. 340

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Renungkanlah! Adakah Hubungan Antara KA’BAH Dengan KIAMAT?

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. Ali Imran/3: 96)

Kita mungkin pernah bertanya kenapa harus sholat menghadap Kiblat, juga kenapa harus ada Ibadah Thawaf, Ini juga sering jadi perenungan manusia, seperti ini :

1. Ketika mempelajari Kaidah Tangan Kanan (Hukum Alam), bahwa putaran energi kalau bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, maka arah energi akan naik ke atas. Arah ditunjukkan arah 4 jari, dan arah ke atas ditunjukkan oleh Arah Jempol.

2. Dengan pola ibadah thawaf dimana bergerak dengan jalan berputar harus berlawanan arah jarum jam, ini menimbulkan pertanyaan, kenapa tidak boleh terbalik arah, searah jarum jam misalnya.

3. Kenapa Sholat harus menghadap Kiblat, termasuk dianjurkan berdoa dan pemakaman menghadap Kiblat

4. Kenapa Sholat Di Masjidil Haram menurut Hadist nilainya 100.000 kali lebih utama dari sholat di tempat lain.

5. Singgasana Alloh swt ada di Langit Tertinggi (‘Arsy)


Design Interior Ka’bah

Perenungan Sintesa :

1. Energi Sholat dan Doa dari individu atau jamaah seluruh dunia terkumpul dan terakumulasi di Kabah setiap saat, karena Bumi berputar sehingga sholat dari seluruh Dunia tidak terhenti dalam 24 jam, misal orang Bandung solat Dzuhur, beberapa menit kemudian orang Jakarta Dzuhur, beberapa menit kemudian Serang Dzuhur, Lampung dan seterusnya. Belum selesai Dzuhur di India, Pakistan, di Makasar sudah mulai Ashar dan seterusnya. Pada saat Dzuhur di Jakarta di London Sholat Subuh dan seterusnya 24 jam setiap hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya.

2. Energi yang terakumulasi, berlapis dan bertumpuk akan diputar dengan Generator orang-orang yang bertawaf yang berputar secara berlawanan arah jarum jam yang dilakukan jamaah Makah sekitarnya dan Jamaah Umroh / Haji yang dalam 1 hari tidak ditentukan waktunya.

3. Maka menurut implikasi hukum Kaidah Tangan Kanan bahwa Energi yang terkumpul akan diputar dengan Thawaf dan hasilnya kumpulan energi tadi arahnya akan ke atas MENUJU LANGIT. Jadi Sedikit terjawab bahwa energi itu tidak berhenti di Kabah namun semuanya naik ke Langit. Sebagai satu cerobong yang di mulai dari Kabah. Menuju Langit mana atau koordinat mana itu masih belum nyampe pikiran manusia. Yang jelas pasti Tuhan telah membuat saluran agar solat dan doa dalam bentuk energi tadi agar sampai Ke Hadirat-Nya. Jadi selama 24 Jam sehari terpancar cerobong Energi yang terfokus naik ke atas Langit. Selamanya sampai tidak ada manusia yang sholat dan tawaf (kiamat?).

Kesimpulan

1. Sholat dan Doa, diyakini akan sampai ke langit menuju Singgasana Alloh SWT selama memenuhi kira-kira persyaratan uraian di atas dengan sintesa (gabungan/Ekstrasi) renungan hukum agama dan hukum alam, karena dua-duanya ciptaan Allah juga. Jadi hendaknya ilmuwan dan agamawan bersinergi/ saling mendukung untuk mencapai kemaslahatan yang lebih luas dan pemahaman agama yang dapat diterima lahir batin

2. Memantapkan kita dalam beribadah sholat khususnya dan menggiatkan diri untuk selalu on-line 24 jam dengan Alloh SWT, sehingga jiwa akan selalu terjaga dan membuahkan segala jenis kebaikan yang dilakukan dengan senang hati (ikhlas).

3. Terjawablah jika sholat itu tidak menyembah batu (Kabah) seperti yang dituduhkan kaum orientalis, tapi menggunakan perangkat alam untuk menyatukan energi sholat dan doa untuk mencapai Tuhan dengan upaya natural manusia.

4. Tuhan Maha Pandai, Maha Besar dan Maha Segalanya

Ini sekedar renungan dan analisa , semoga saja mampu memotivasi kita dan para Pakar untuk memicu pemikiran, penelitian lebih dalam untuk lebih mempertebal keimanan dan menjadi saksi bahwa Tuhan menciptakan semesta dengan penuh kesempurnaan tidak dengan main-main (asal jadi) sehingga makin yakin dan cinta pada Alloh SWT. Mungkin renungan ini berlebihan dan berfantasi, tapi sedikitnya ini pendekatan yang mampu menjawab pertanyaan sebagaimana di atas dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci dan Hadist bahkan mendukungnya. Semoga bermanfaat.


Interior Ka’bah

Ramalan Untuk Memastikan Bahwa Ka’bah Dan Kiamat hanya Allah Yang Maha Tahu :

1. Ka’bah Akan Hancur Dengan Sendirinya (Terbukti dengan ditenggelamkannya satu pasukan yang akan menyerang ka’bah suatu hari nanti)

2. Jika Pusat Bumi Bergeser Akan Banyak Kekacauan (seperti Musim Yang tidak Mengenal waktu)

3. Kiamat Akan Cepat Terjadi Jika Sholat Sudah Ditinggalkan

4. Anda Pasti Juga pernah mendengar jika Siapa Yang Meninggalkan sholat berarti telah merobohkan Agama.

5. Untuk Non- Islam, kapan kapan akan kita kupas, bagaimana kemampuan Pentium 2, Pentium 3 dan pentium 4 sungguh berbeda, bagaimana petunjuk Alloh SWT Disempurnakan dari umat Nabi Ibrahim AS, kemudian dilanjutkan oleh Taurat Nabi Musa AS hingga Nabi Isa AS, Nabi Isa AS menyempurnakan Taurat dengan Injil, Dan Nabi Muhammad SAW menyempurnakan keduanya (Taurat & Injil) Dengan Al Qur’an. Hingga Kalian mengerti bahwa kita dulu adalah umat yang satu (Islam – Agama Tauhid).

Wallohu ‘Alam.

http://palingseru.com

Syarat Sukses Menghafal Al-Qur’an

Oleh : Purwanto Abdul Ghaffar

Ada dua penyebab utama mengapa seorang muslim tidak menghafal Al-Quran atau tidak sukses dalam menghafal Al-Quran. Pertama ia tidak mengenal dengan baik Al-Quran Al-Kariim, kedua ia tidak mengenal dengan baik tentang otak dan khususnya memori manusia. Dua sebab utama ini menjadi akar dari sebab-sebab turunan lain yang akan melemahkan kemampuan seorang muslim dalam menghafal Al-Quran.

Apabila seorang muslim tidak mengenal Al-Quran dengan baik maka ia tidak mengetahui apa manfaat berinteraksi dengan Al-Quran, apa manfaat menghafalnya, apa manfaat membacanya dan merenungkannya. Perasaan cinta terhadap Al-Quran sulit mendatangi dirinya karena tidak ada pembiasaan berinteraksi dengan Al-Quran. karena tidak terbiasa maka sudah tentu tidak tercipta kedekatan. Padahal cinta itu datangnya dari pengenalan dan kedekatan. Kalau sudah begitu kondisinya wajarlah kalau ia tidak mengetahui apa manfaaatnya menghafal Al-Quran, padahal penggerak pertama manusia adalah manfaat, semakin besar manfaat maka akan semakin besar pula perjuangan untuk mendapatkannya.

“Apa manfaatnya bagiku..” adalah kondisi mental yang menjadi pondasi kekuatan memori untuk mengikat sebuah data. Semakin besar manfaat yang kita ketahui maka semakin tinggi pula performance memori kita. Jadi langkah pertama untuk meningkatkan kualitas hafalan Al-Quran adalah dengan mengetahui sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya manfaat menghafal Al-Quran.

Informasi utama mengenai apa manfaat menghafal Al-Quran tentu saja bersumber dari Al-Quran itu sendiri dan dari penjelasan Nabi SAW melalui sabda-sabdanya juga dari tambahan yang diberikan oleh para sahabat dan ulama-ulama. Dalil dari Al-Quran dan Hadits sungguh banyak sekali dan dapat dengan mudahnya dirujuk, atsar para sahabat dan ucapan para ulama juga dapat dengan mudah dijumpai di banyak kitab-kitab. Misalnya sebuah kitab yang sangat jamak menjadi sumber rujukan di dunia tahfizul Quran adalah At Tibyaan fii Aaadabi Hamalatil Quran karya ulama besar Abu Zakariya Yahya Muhyiddin bin Syaraf bin Hizam An-Nawawi atau yang populer dikenal sebagai Imam Nawawi.

Kami persilahkan untuk membuka dan menikmati sumber-sumber tersebut, pada kolom ini kami hendak menyampaikan beberapa manfaat yang dekat sekali dengan jangkauan pengalaman kita sebagai upaya untuk memperkuat kepercayaan dan keyakinan kita terhadap aspek normatif yang telah disampaikan oleh yang tak mungkin keliru; Firman Allah SWT dan oleh sumber yang dilindungi oleh kekeliruan yaitu hadits serta ulasan para sahabat dan ulama penerus yang menjadi pengganti Nabi kita SAW sebagai gurunya agama.

Apa manfaat menghafal Al-Quran ?

Agar Al-Quran menjadi bahan dasar pembentuk karakter

Mengasyikkan sekali mengikuti perjalanan panjang manusia dalam upaya memahami dirinya sendiri, cara terbaik dalam memahami diri sendiri bisa dimulai dari otak kita. Otak sejak dahulu kala sampai sekarang sudah menjadi objek studi para ilmuwan, mulai dari plato yang sudah melihat otak sebagai bumi baik karena bentuknya maupun keluasan misterinya sampai Sir Roger Walcot Sperry yang pada tahun 1981 menemukan bahwa terdapat perbedaan mencolok antara otak kanan dan otak kiri. Brainsaintis ingin memahami apa dan bagaimana otak bekerja. Apa fungsi dari daging berwarna putih dengan tekstur lembut dibalik tengkorak kepala kita, apa tugas dari benda seperti spons berwarna abu-abu yang melipat dirinya dengan sangat unik itu, kenapa bisa ada kerjapan-kerjapan listrik dari sekumpulan lemak protein dan air ini? Dari berabad-abad penelitian anyak sudah dugaan dibuktikan, banyak asumsi di pastikan, banyak juga kesalahan yang sudah di luruskan, tetapi rupanya semakin banyak juga pertanyaan-pertanyaan baru yang lahir.

Berkat kerja keras mereka sekarang kita tahu bahwa otak adalah pusat dari kecerdasan manusia; kebugaran fisik, ketajaman kognitif, kestabilan mental, dan keharmonisan hubungan dengan Tuhan rupanya berasal dari sini. Andai kepala seseorang kena lemparan kerikil, inilah yang terjadi di dalam otaknya : setelah menyalakan rasa sakit, ada bagian otak -anggap saja kurir- yang mencari-cari data yang dapat dikaitkan dengan pengalaman barusan. Dalam hitungan detik sang kurir membawa potongan film Rambo sedang disiksa oleh tentara vietnam, kepingan kenangan ketika bapak gurunya memukul jemarinya karena lupa potong kuku, Naruto tengah menyerang musuhnya, pelajaran sejarah tentang penjajahan Indonesia, suara guru TK-nya di masa lalu yang sedang mendamaikan dua temannya yang berantem. Beberapa fragmen dari film kartun Tom and Jerry, lima detik penjelasan guru ngajinya saat membahas tentang topik ‘memaafkan,’ kenangan saat ibunya menjewer telingannya, wajah beberapa orang temannya, lima orang yang tidak disukainnya dan dua orang sahabatnya, game tekken yang menyajikan pertarungan fisik hingga berdarah-darah, berita tentang para mahasiswa Makasar yang sedang bertarung, fragmen sinetron Tersanjung jilid tiga yang sedang menyajikan penyiksaan majikan pembantu, heading poskota ; “Perang dua gang di Rawamangun terjadi lagi,” puluhan data itu berebut untuk masuk ke dapur emosi dan masing-masing dari mereka mulai berkoalisi, kali ini terbentuk dua gerakan yang mengusulkan dua paket respon emosional :

Paket satu berisi; Husnuzon, identifikasi masalah yang hasilnya ; “Ini masalah kecil, tak penting,” dan pemetaan situasi atas pengalaman barusan adalah; batu itu melayang dan menghantam kepalanya dikarenakan sebab ketidaksengajaan, jadi koalisi ini mengusulkan untuk mengabaikan kejadian itu, dan menata hati untuk siap memaafkan kemudian segera berlalu menuju rencana semula yaitu pulang kerumah.

Paket duanya berisi ; Su’uzon, identifikasi masalah yang hasilnya ; “Ini masalah besar, ini tentang harga diri, jangan biarkan musuhmu melecehkanmu,” dan pemetaan situasi atas pengalaman barusan adalah; jelas ini direncanakan, ada yang bersungguh-sungguh melempar batu dan mengarahkannya langsung ke kepalaku, tujuannya melecehkan, menyakiti dan menantangku, koalisi ini mengusulkan untuk melepaskan amarah sebesar-besarnya, menyiapkan kekuatan fisik untuk berdebat dan berkelahi, lalu dengan tegas membatalkan semua acara sampai masalah maha penting ini diselesaikan dengan memuaskan.

Dua koalisi ini bertarung saling melemahkan, siapa yang lebih kaya data pendukungnya, kaya argumentasinya, maka dialah yang akan menang. Pada kasus diatas koalisi kedualah yang menang, sehingga orang yang kena lemparan kerikil tadi mengeluarkan sikap marah dan bentakan; “Siapa yang kurang ajar telah melempar kepalaku !” Seperti komputer, otak kita terdiri dari prosesor memori dan hardisk, data di tangkap, disimpan, dan siap diolah menjadi respon manusia, sifat, karakter dan watak. Simple saja semakin banyak data positif maka semakin besar kemungkinan seorang manusia menjadi baik. Dan sebaliknya semakin banyak data negatif maka dorongan untuk menjadi buruk pun semakin besar.

Informasi dan data diserap masuk melalui indra penerima (audio, visual, maupun rasa) lalu diterima dan ditampung sementara di short term memory (otak kiri) dari sana siap di oper ke longterm memory (otak kanan) agar data tersebut permanen tersimpan, tetapi data-data yang hendak dioper ke longterm harus terlebih dulu melewati semacam penyaring yang disebut critical area system yaitu semacam fit and proper test yang dilakukan oleh otak, data akan diijinkan masuk ke longterm memory kalau data itu : membuat kesan yang dalam bagi emosional kita, dipahami, atau setelah dilakukan pengulangan yang masif.

Begitulah proses orang dewasa memasok data di otaknya. pada usia anak-anak, terutama di usia golden age (0 s/d 8 Thn dan kalau anak itu beruntung masih bisa berlanjut sampai usia12 thn) prosesnya tidak seperti itu, data langsung bypass ke otak kanan atau ke longterm memory karena otak kiri anak belum berfungsi sempurna, karena otak kiri belum berfungsi maka critical area system pun belum berfungsi. Keuntungannya adalah setiap anak pada usia keemasan ini memiliki keistimewaan dalam daya hafal mereka. Kerugiannya, tanpa critical area system semua data akan nyelonong masuk begitu saja ke longterm memory tak peduli data itu pantas atau tidak, tak peduli baik atau buruk, tak peduli dosa atau tidak, data berjenis apapun akan terserap masuk, bagai air berhadapan dengan spoon.

Subhanallah, mungkin memang dirancang seperti itu. Pada awalnya manusia membutuhkan banyak jenis data sebagai bahan baku karakternya. Seorang anak harus banyak mendengar, banyak melihat agar databasenya berisi banyak sekali berbagai jenis data untuk diolah menjadi karakter atau apa yang mungkin lebih tepat disebut dengan : watak. Maka tugas orangtua adalah memastikan agar data-data ‘baik’-lah yang mendominasi gudang pembuat karakter itu. Kalau sejak kecil anak sudah terbiasa menghafal Quran maka ayat-ayat AlQuran itu akan memenuhi gudang data di otaknya, oleh karenanyalah Al-Quran akan menjadi salah satu bahan baku penting dari pembentukan karakter atau watak seorang anak. Mungkin ini sebabnya Rasulullah SAW pernah bersabda :

“Barang siapa yang mempelajari AlQuran di usia kecil, Allah akan mencampurkan dengan daging dan darahnya”. (HR Bukhari)

Berbasis pengetahuan tentang otak saat ini maka nash tersebut dapat ditafsirkan ; “Barang siapa yang mempelajari AlQuran di usia kecil, Allah akan menjadikan Al-Qur’an sebagai bahan baku pembentuk karakternya.” Allahua’lam.

Bagaimana dengan usia dewasa? Apakah Al-Quran masih bisa berfungsi sebagai basis pembentuk karakter? Atau lebih tepatnya perubah karakter? Yang jahat jadi baik, yang baik akan lebih baik lagi dan seterusnya, dan seterusnya?

Pada usia anak-anak, Allah yang Maha Rahim meletakkan keistimewaan yang sudah diulas tersebut, sedangkan pada usia dewasa pasti Allah SWT juga mengkaruniakan kemudahan-kemudahan yang lain namun tujuannya tetap sama, yaitu agar Al-Quran menjadi sumber pembangun karakter manusia. Dalam sejarah panjang Islam hal tersebut sudah dibuktikan, bagaimana masyarakat yang jahil menjadi masyarakat yang cerdas, pelopor peradaban modern, dan model terbaik dari tipologi masyarakat muslim ideal. Dalam skala individu kita melihat bagaimana Abu Bakar ra yang dikenal sebagai lelaki lembut hati ternyata dapat dengan sangat tegas menyikapi pembangkangan kaum murtad yang ingin melepas diri dari syariat. Bagaimana Umar ra yang dikenal sebagai tokoh premannya kota Makkah ternyata mampu menjadi khalifah yang sangat lembut hati. Karakter-karakter positif yang baru ini muncul dari interaksinya yang istimewa terhadap Al-Quran Al-Kariim. Sedangkan bagaimana proses teknis penambahan karakter positif itu terjadi merupakan bahasan tersendiri. Wallahu’alam.

eramuslim.com

Menghafal Al-Quran, Jalan Terbaik Untuk Memiliki Kecerdasan Yang Integral

Oleh : Purwanto Abdul Ghaffar

“Al-Quran adalah kunci kecerdasan integral” ini adalah moto yang selalu Kami ingin sebarkan kepada seluruh kaum muslimin, dengan menghafal Al-Quran maka semua potensi kecerdasan manusia akan terasah, berikut penjelasannya.

Menghafal Al-Quran menguatkan hubungan dengan Allah sang pemilik ilmu

Sesungguhnya semua ilmu pengetahuan adalah milik-NYA, Dialah Al Aliim. Dialah pemilik semua jawaban dan dengan kasih-NYA Ia menurunkan setetes ilmu di dunia ini agar manusia memiliki makna yang istimewa, supaya manusia memiliki perangkat untuk tampil sebagai khalifah, agar manusia dapat mengelola dengan baik (mengambil dan memelihara) semua rizki yang dikaruniakan-NYA di dunia ini.

Dari semua ilmu, ulumul Quranlah yang paling utama. Dari semua kitab (buku) AlQuranlah yang paling mulia. Jika kita mempelajari Al-Quran dan berinteraksi dengannya, sejatinya kita sedang mengambil jalan kemuliaan dihadapan Allah sang pemilik ilmu.

Dan karenanyalah Insya Allah sang penghafal Al-Quran akan mendapat jaminan kemudahan dari Allah SWT dalam dua bentuk, yaitu ; kemudahan mempelajari Al-Quran (QS Al-Qamar 17) dan karunia kemudahan pada ilmu-ilmu yang lain (QS Al-Mujadilah 11).

“Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar 17)

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah 11).

Andai seseorang ingin mempelajari teori quantum pada ilmu fisika. Ia harus menghabiskan waktu sebulan agar dapat memahaminya dengan baik, namun apabila ia menggunakan sebagian waktu dan tenaganya untuk menghafal Quran, maka Allah yang rahiim sang pemilik ilmu dan kemudahan itu akan mengganti waktu dan jerih payahnya menghafal Al-Quran itu dengan cara membuka kecerdasan sang penghafal Quran, sehingga dalam waktu lebih singkat – seminggu- ia sudah berhasil memahami dengan baik teori Quantum. Inilah yang dialami oleh para tokoh Islam yang tidak hanya dikenal sebagai Ulama besar, tetapi sekaligus juga ilmuwan dari berbagai bidang.

Mengherankan ada manusia yang bisa sedemikian banyak memahami berbagai bidang ilmu, misalnya Imam Ghazali adalah seorang teolog, filsuf (filsafat Islam), ahli fikih, ahli tasawuf, pakar psikologi, logika bahkan ekonom dan kosmologi. Atau Ibnu Sina seorang ulama yang sedari kecil mempelajari ilmu tafsir, Fikih, Tasawuf, tiba-tiba bisa disebut sebagai pakar kedokteran dan digelari ‘Medicorium Principal’(Rajanya para dokter) dan buku yang ditulisnya ; Al-Qanun Fith-Thib menjadi bahan pelajaran semua dokter didunia.

Faktor penting yang menjadikan mereka mampu melanglang buana keilmuan dan melintasi cabang keilmuan yang seolah (bagi mereka yang dikotomis -suka memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum) berseberangan ini adalah karena mereka menghafal dan mempelajari Al-Quran sehingga Allah SWT sang pemilik ilmu membukakan bagi mereka pintu gerbang ilmu-ilmu lainnya.

Menghafal adalah dasar dari ilmu pengetahuan

Menghafal adalah dasar dari semua aktivitas otak. setelah data terparkir dengan baik, baru dapat dilakukan pengolahan lebih lanjut ; misalnya identifikasi, pengklasifikasian berdasarkan kesamaan, membandingkan dan mencari perbedaan, mengkombinasikan persamaan dan atau perbedaan untuk melahirkan sesuatu yang baru, dan lain sebagainya.

Misalnya abjad, seorang anak harus menghafalnya terlebih dahulu baru bisa digunakan untuk membaca dan menulis. Angka harus dihafal dahulu sebelum dipermainkan dalam bidang matematika. Setiap pasal dan ayat dalam undang-undang harus dihafal dahulu sebelum digunakan para hakim, pengacara, dan penuntut di ruang pengadilan.

Menghafal adalah dasar dari semua ilmu. Tanpa materi hafalan tidak ada data yang bisa diolah, tanpa olahan data maka ilmu pengetahuan tidak akan pernah ada. Menghafal adalah tangga pertama ilmu pengetahuan, menghafal adalah langkah wajib untuk cerdas.

Ada yang mengatakan bahwa menghafal akan melemahkan kemampuan analisa si anak, pernyataan ini benar, kalau si anak hanya disuruh menghafal saja tanpa melanjutkan ke proses lainnya. Menghafal adalah tahapan awal berinteraksi dengan Al-Quran, sesudah menghafal dan belajar membaca dengan benar maka harus disambung pada fase berikutnya yaitu mempelajari maknanya baik harafiah maupun penafsirannya, setelah itu mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi maupun yang terkait dengan kehidupan bermasyarakat, seorang muslim yang cerdas akan menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk menjawab semua persoalan, lalu fase terakhir adalah mengajarkannya kepada semua orang muslim. Itulah tahapan berinteraksi dengan Al-Quran yang benar. proses ini berkelanjutan tak boleh berhenti, tidak boleh hanya menghafalnya saja, atau hanya belajar membaca saja.

eramuslim.com

%d bloggers like this: