Oleh : Azada Addin

Tampaknya, AS masih memiliki hasrat terpendam untuk menanamkan pengaruhnya di Kawasan Asia Tenggara khususnya Selat Malaka, dimana jalur tersebut merupakan kawasan yang bernilai sangat strategis baik secara ekonomi maupun pertahanan dan keamanan. Untuk menuntaskan hasratnya tersebut, AS melalui badan intelijennya (CIA) mulai mencari potensi dan menggali segala kemungkinan untuk dijadikan sasaran singgah untuk mencapai tujuannya. Saat ini, sasaran itu sepertinya adalah Aceh.

13316996131285369841

Sejak “kekalahan” AS di kancah perang Irak dan Afganistan (meskipun AS tidak pernah mengakuinya), fokus perhatian AS terhadap kebijakan strategisnya adalah kawasan Asia Pasifik dimana AS akan berhadapan dengan hegemoni kawasan tersebut yaitu Cina. Hal tersebut dinyatakan secara tegas baik secara lisan maupun tindakan oleh Presiden Obama. Seperti diketahui, kunjungan pertama Obama semenjak menjabat adalah Indonesia dan Australia. Perubahan arah kebijakan ini tentunya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan kawasan Asia khususnya Asia Tenggara yang menyimpan berbagai potensi sumber daya alam dan manusia yang belum sepenuhnya tereksplorasi. Sementara itu, Cina yang sedang giat membangun ekonomi dan kekuatan pertahanannya semakin dominan di kawasan Asia Pasifik sehingga memiliki kecenderungan mengancam hegemoni AS secara global.

Seiring dengan peningkatan harga minyak dunia menjadi USD $ 105/barrel dan semakin meningkatnya kebutuhan akan energi di dunia khususnya negara-negara yang sedang giat membangun seperti Cina dan India, maka jalur-jalur transportasi dan perdagangan menjadi prioritas untuk “dikuasai” dalam upaya mengamankan pasokan energi. Dalam hal ini, Selat Malaka adalah jalur terpenting bagi pasokan sumber energi dunia. Bagaimana tidak? dalam setahun lebih dari 50.000 kapal dagang dari berbagai bangsa melalui Selat Malaka membawa 1/3 energi dan manufaktur dagang dunia, 90% energi minyak untuk Jepang dipasok melalui Selat Malaka lewat Teluk Aden. Tahun 2006 diperkirakan 15 juta barrel minyak dunia dipasok melalui jalur tersebut.

1331701966930161257

Gambar di atas, adalah rantai supply energi yang sangat penting bagi Cina (jalur biru dengan lis warna merah) lewat Selat Malaka sehingga menjadikan kawasan tersebut bernilai sangat strategis tidak saja bagi negara-negara di kawasan Asia Pasifik, namun juga seluruh dunia.

Oleh karena itu, demi menahan dominasi Cina di kawasan Asia Pasifik, AS melakukan upaya-upaya strategis guna menarik negara-negara dan daerah yang dilalui Selat Malaka untuk masuk dalam bagian kerjasama strategis AS di kawasan Asia Pasifik. Kali ini, Aceh yang dikenal sebagai Serambi Mekah menjadi pintu masuk Kawasan Selat Malaka yang menjadi jalur penting bagi negara rival AS di kawasan tersebut, yaitu Cina. Maka AS melakukan upaya dalam membangun kepercayaan dengan daerah yang bersyariat Islam tersebut guna mewujudkan rencana strategisnya untuk masuk di kawasan Asia khususnya Selat Malaka. Kesimpulannya, Aceh adalah sasaran singgah AS.

Kunjungan pejabat AS, Vincent Cooper ke NAD dengan bertemu kandidat terkuat calon Gubernur/Wakil Gubernur dari Partai Aceh belum lama ini adalah bagian dari rencana strategis AS jangka panjang yang bertujuan menjadikan Aceh sebagai pangkalan strategisnya. Ini memang baru sekedar asumsi belaka yang tak berdasar, namun melihat pergerakan global yang tidak menentu, sangat dimungkinkan bahwa pertemuan Vincent Cooper dengan Muzakkir Manaf merupakan landasan kerjasama AS-Aceh di masa yang akan datang. Siapa tahu?

133170308584177941

Muzakkir Manaf, calon Wakil Gubernur dari Partai Aceh menerima kunjungan Asisten Keamanan Regional Kedubes AS Vincent Cooper di Kantor Partai Aceh, BA

Tidak ada yang salah dalam menjalin kerjasama dengan siapapun, negara manapun sepanjang hal itu dilandasi dengan niat yang baik dan tulus kepada rakyatnya. Demikian juga halnya dengan pertemuan Mualem dan Vincent Cooper, namun kebersihan niat dalam pertemuan ini perlu diwaspadai agar supaya Serambi Mekah tidak menjadi ajang konflik baru kepentingan yang lebih besar, jauh lebih besar dari kepentingan Indonesia di Aceh. Dan apabila hal itu terjadi, maka rakyat Aceh lah yang akan kembali mengalami penderitaan. Oleh karena itu, Saudaraku Mualem, tetaplah waspada dan berhati-hatilah. Tetapkan niat dan tujuan hanya semata-mata demi kebaikan rakyat Aceh dengan hanya berharap ridho dari Allah SWT.

Catatan : Muzakkir Manaf secara resmi kini sudah terpilih menjadi wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017.

http://hankam.kompasiana.com