Bila kita perhatikan kriteria profesi seperti diuraikan pada Artikel sebelumnya, agaknya ada dua kriteria yang pokok, yaitu (1) Merupakan pandangan hidup dan (2) Keahlian, Kriteria yang lainnya kelihatannya diperlukan untuk memperkuat kedua kriteria ini.

Kriteria “panggilan hidup” sebenarnya mengacu kepada pengabdian; sekarang orang lebih senang menyebutnya “dedikasi”. Kriteria “keahlian” mengacu kepada mutu layanannya, mutu dedikasi tersebut. Kriteria “memiliki teori”, “kecakapan diagnostik dan aplikasi”, “otonomi”, “kode etik”, “organisasi profesi”, dan “pengenalan keahlian yang berhubungan” dapat dikatakan merupakan kriteria untuk memperkuat keahlian; sedangkan kriteria “untuk masyarakat” dan “klien” merupakan kriteria untuk memperkuat dan memperjelas dedikasi.

Jika demikian, “dedikasi” dan “keahlian” itulah ciri utama suatu bidang ilmu mutu profesi dan jika demikian maka jelas Islam mementingkan profesi.

Pekerjaan (profesi adalah pekerjaan) menurut Islam harus dilakukan karena Alloh. “karena Alloh” maksudnya ialah karena diperintahkan Alloh. Jadi, profesi dalam Islam harus dijalani karena merasa bahwa itu adalah perintah Alloh. Dalam kenyataan pekerjaan itu dilakukan untuk orang lain, tetapi niat yang mendasarinya adalah perintah Alloh. Dari sini kita mengetahui bahwa pekerjaan profesi di dalam Islam dilakukan untuk atau sebagai pengabdian kepada dua objek: pertama pengabdian kepada Alloh, dan kedua sebagai pengabdian atau dedikasi kepada manusia atau kepada orang lain sebagai objek pekerjaan itu. Jelas pula bahwa kriteria “pengabdian” dalam Islam lebih kuat dan lebih mendalam dibandingkan dengan pengabdian dalam kriteria yang diajarkan diatas tadi. Pengabdian dalam Islam, selain demi kemanusian, juga dikerjakan demi Tuhan, jadi ada unsur transenden dalam pelaksanaan profesi dalam Islam. Unsur transenden ini dapat menjadikan pengalaman profesi dalam Islam lebih tinggi nilai dalam pengabdiannya dibandingkan dengan pengalaman profesi yang tidak didasari oleh keyakinan iman kepada Alloh.

Dalam Islam, setiap pekerjaan harus dilaksanakan secara profesional, dalam arti harus dilakukan secara benar. Yaitu hanya dilakukan oleh orang yang Ahli. Rasulullah saw pernah bersabda: “Bila suatu urusan dikerjakan oleh orang yang tidak ahli, maka tunggulah kehancuran.”(Al-Hadits)
Kata “Kehancuran” dalam hadits itu dapat diartikan secara terbatas dan dapat juga diartikan secara luas. Bila seorang guru mengajar tidak dengan keahlian, maka yang “hancur” adalah muridnya. Ini dalam pengertian yang terbatas. Murid-murid itu kelak mempunyai murid lagi; murid-murid itu kelak berkarya; kedua-duanya dilakukan dengan tidak benar (karena telah dididik tidak benar), maka akan timbullah “kehancuran”. Kehancuran apa? Ya, kehancuran orang-orang, yaitu murid-murid itu, dan kehancuran sistem kebenaran karena mereka mengajarkan pengetahuan yang dapat saja tidak benar. Ini kehancuran dalam arti luas. Maka benarlah apa yang dikatakan Nabi: Setiap pekerjaan (urusan) harus dilakukan oleh orang yang ahli.

Karena Alloh” saja tidaklah cukup untuk melakukan suatu pekerjaan. Yang mencukupi ialah “karena Alloh” dan “Keahlian“.

Dengan uraian yang singkat itu jelaslah pada pandanga Islam tentang profesi, bahkan juga pandangan Islam tentang profesionalisme. Akan tetapi, bagaimana penerapan profesionalisme ini dalam masyarakat Islam sekarang, khususnya dalam bidang pengelolaan sekolah?
Insya Alloh akan dibicarakan pada pembahasan berikutnya.

Sumber: Buku Bahan Ajar “Pengembangan Wawasan Profesi Guru” dalam Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN SGD Bandung, 2010 hal: 7-8