Oleh : Purwanto Abdul Ghaffar

Ada dua penyebab utama mengapa seorang muslim tidak menghafal Al-Quran atau tidak sukses dalam menghafal Al-Quran. Pertama ia tidak mengenal dengan baik Al-Quran Al-Kariim, kedua ia tidak mengenal dengan baik tentang otak dan khususnya memori manusia. Dua sebab utama ini menjadi akar dari sebab-sebab turunan lain yang akan melemahkan kemampuan seorang muslim dalam menghafal Al-Quran.

Apabila seorang muslim tidak mengenal Al-Quran dengan baik maka ia tidak mengetahui apa manfaat berinteraksi dengan Al-Quran, apa manfaat menghafalnya, apa manfaat membacanya dan merenungkannya. Perasaan cinta terhadap Al-Quran sulit mendatangi dirinya karena tidak ada pembiasaan berinteraksi dengan Al-Quran. karena tidak terbiasa maka sudah tentu tidak tercipta kedekatan. Padahal cinta itu datangnya dari pengenalan dan kedekatan. Kalau sudah begitu kondisinya wajarlah kalau ia tidak mengetahui apa manfaaatnya menghafal Al-Quran, padahal penggerak pertama manusia adalah manfaat, semakin besar manfaat maka akan semakin besar pula perjuangan untuk mendapatkannya.

“Apa manfaatnya bagiku..” adalah kondisi mental yang menjadi pondasi kekuatan memori untuk mengikat sebuah data. Semakin besar manfaat yang kita ketahui maka semakin tinggi pula performance memori kita. Jadi langkah pertama untuk meningkatkan kualitas hafalan Al-Quran adalah dengan mengetahui sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya manfaat menghafal Al-Quran.

Informasi utama mengenai apa manfaat menghafal Al-Quran tentu saja bersumber dari Al-Quran itu sendiri dan dari penjelasan Nabi SAW melalui sabda-sabdanya juga dari tambahan yang diberikan oleh para sahabat dan ulama-ulama. Dalil dari Al-Quran dan Hadits sungguh banyak sekali dan dapat dengan mudahnya dirujuk, atsar para sahabat dan ucapan para ulama juga dapat dengan mudah dijumpai di banyak kitab-kitab. Misalnya sebuah kitab yang sangat jamak menjadi sumber rujukan di dunia tahfizul Quran adalah At Tibyaan fii Aaadabi Hamalatil Quran karya ulama besar Abu Zakariya Yahya Muhyiddin bin Syaraf bin Hizam An-Nawawi atau yang populer dikenal sebagai Imam Nawawi.

Kami persilahkan untuk membuka dan menikmati sumber-sumber tersebut, pada kolom ini kami hendak menyampaikan beberapa manfaat yang dekat sekali dengan jangkauan pengalaman kita sebagai upaya untuk memperkuat kepercayaan dan keyakinan kita terhadap aspek normatif yang telah disampaikan oleh yang tak mungkin keliru; Firman Allah SWT dan oleh sumber yang dilindungi oleh kekeliruan yaitu hadits serta ulasan para sahabat dan ulama penerus yang menjadi pengganti Nabi kita SAW sebagai gurunya agama.

Apa manfaat menghafal Al-Quran ?

Agar Al-Quran menjadi bahan dasar pembentuk karakter

Mengasyikkan sekali mengikuti perjalanan panjang manusia dalam upaya memahami dirinya sendiri, cara terbaik dalam memahami diri sendiri bisa dimulai dari otak kita. Otak sejak dahulu kala sampai sekarang sudah menjadi objek studi para ilmuwan, mulai dari plato yang sudah melihat otak sebagai bumi baik karena bentuknya maupun keluasan misterinya sampai Sir Roger Walcot Sperry yang pada tahun 1981 menemukan bahwa terdapat perbedaan mencolok antara otak kanan dan otak kiri. Brainsaintis ingin memahami apa dan bagaimana otak bekerja. Apa fungsi dari daging berwarna putih dengan tekstur lembut dibalik tengkorak kepala kita, apa tugas dari benda seperti spons berwarna abu-abu yang melipat dirinya dengan sangat unik itu, kenapa bisa ada kerjapan-kerjapan listrik dari sekumpulan lemak protein dan air ini? Dari berabad-abad penelitian anyak sudah dugaan dibuktikan, banyak asumsi di pastikan, banyak juga kesalahan yang sudah di luruskan, tetapi rupanya semakin banyak juga pertanyaan-pertanyaan baru yang lahir.

Berkat kerja keras mereka sekarang kita tahu bahwa otak adalah pusat dari kecerdasan manusia; kebugaran fisik, ketajaman kognitif, kestabilan mental, dan keharmonisan hubungan dengan Tuhan rupanya berasal dari sini. Andai kepala seseorang kena lemparan kerikil, inilah yang terjadi di dalam otaknya : setelah menyalakan rasa sakit, ada bagian otak -anggap saja kurir- yang mencari-cari data yang dapat dikaitkan dengan pengalaman barusan. Dalam hitungan detik sang kurir membawa potongan film Rambo sedang disiksa oleh tentara vietnam, kepingan kenangan ketika bapak gurunya memukul jemarinya karena lupa potong kuku, Naruto tengah menyerang musuhnya, pelajaran sejarah tentang penjajahan Indonesia, suara guru TK-nya di masa lalu yang sedang mendamaikan dua temannya yang berantem. Beberapa fragmen dari film kartun Tom and Jerry, lima detik penjelasan guru ngajinya saat membahas tentang topik ‘memaafkan,’ kenangan saat ibunya menjewer telingannya, wajah beberapa orang temannya, lima orang yang tidak disukainnya dan dua orang sahabatnya, game tekken yang menyajikan pertarungan fisik hingga berdarah-darah, berita tentang para mahasiswa Makasar yang sedang bertarung, fragmen sinetron Tersanjung jilid tiga yang sedang menyajikan penyiksaan majikan pembantu, heading poskota ; “Perang dua gang di Rawamangun terjadi lagi,” puluhan data itu berebut untuk masuk ke dapur emosi dan masing-masing dari mereka mulai berkoalisi, kali ini terbentuk dua gerakan yang mengusulkan dua paket respon emosional :

Paket satu berisi; Husnuzon, identifikasi masalah yang hasilnya ; “Ini masalah kecil, tak penting,” dan pemetaan situasi atas pengalaman barusan adalah; batu itu melayang dan menghantam kepalanya dikarenakan sebab ketidaksengajaan, jadi koalisi ini mengusulkan untuk mengabaikan kejadian itu, dan menata hati untuk siap memaafkan kemudian segera berlalu menuju rencana semula yaitu pulang kerumah.

Paket duanya berisi ; Su’uzon, identifikasi masalah yang hasilnya ; “Ini masalah besar, ini tentang harga diri, jangan biarkan musuhmu melecehkanmu,” dan pemetaan situasi atas pengalaman barusan adalah; jelas ini direncanakan, ada yang bersungguh-sungguh melempar batu dan mengarahkannya langsung ke kepalaku, tujuannya melecehkan, menyakiti dan menantangku, koalisi ini mengusulkan untuk melepaskan amarah sebesar-besarnya, menyiapkan kekuatan fisik untuk berdebat dan berkelahi, lalu dengan tegas membatalkan semua acara sampai masalah maha penting ini diselesaikan dengan memuaskan.

Dua koalisi ini bertarung saling melemahkan, siapa yang lebih kaya data pendukungnya, kaya argumentasinya, maka dialah yang akan menang. Pada kasus diatas koalisi kedualah yang menang, sehingga orang yang kena lemparan kerikil tadi mengeluarkan sikap marah dan bentakan; “Siapa yang kurang ajar telah melempar kepalaku !” Seperti komputer, otak kita terdiri dari prosesor memori dan hardisk, data di tangkap, disimpan, dan siap diolah menjadi respon manusia, sifat, karakter dan watak. Simple saja semakin banyak data positif maka semakin besar kemungkinan seorang manusia menjadi baik. Dan sebaliknya semakin banyak data negatif maka dorongan untuk menjadi buruk pun semakin besar.

Informasi dan data diserap masuk melalui indra penerima (audio, visual, maupun rasa) lalu diterima dan ditampung sementara di short term memory (otak kiri) dari sana siap di oper ke longterm memory (otak kanan) agar data tersebut permanen tersimpan, tetapi data-data yang hendak dioper ke longterm harus terlebih dulu melewati semacam penyaring yang disebut critical area system yaitu semacam fit and proper test yang dilakukan oleh otak, data akan diijinkan masuk ke longterm memory kalau data itu : membuat kesan yang dalam bagi emosional kita, dipahami, atau setelah dilakukan pengulangan yang masif.

Begitulah proses orang dewasa memasok data di otaknya. pada usia anak-anak, terutama di usia golden age (0 s/d 8 Thn dan kalau anak itu beruntung masih bisa berlanjut sampai usia12 thn) prosesnya tidak seperti itu, data langsung bypass ke otak kanan atau ke longterm memory karena otak kiri anak belum berfungsi sempurna, karena otak kiri belum berfungsi maka critical area system pun belum berfungsi. Keuntungannya adalah setiap anak pada usia keemasan ini memiliki keistimewaan dalam daya hafal mereka. Kerugiannya, tanpa critical area system semua data akan nyelonong masuk begitu saja ke longterm memory tak peduli data itu pantas atau tidak, tak peduli baik atau buruk, tak peduli dosa atau tidak, data berjenis apapun akan terserap masuk, bagai air berhadapan dengan spoon.

Subhanallah, mungkin memang dirancang seperti itu. Pada awalnya manusia membutuhkan banyak jenis data sebagai bahan baku karakternya. Seorang anak harus banyak mendengar, banyak melihat agar databasenya berisi banyak sekali berbagai jenis data untuk diolah menjadi karakter atau apa yang mungkin lebih tepat disebut dengan : watak. Maka tugas orangtua adalah memastikan agar data-data ‘baik’-lah yang mendominasi gudang pembuat karakter itu. Kalau sejak kecil anak sudah terbiasa menghafal Quran maka ayat-ayat AlQuran itu akan memenuhi gudang data di otaknya, oleh karenanyalah Al-Quran akan menjadi salah satu bahan baku penting dari pembentukan karakter atau watak seorang anak. Mungkin ini sebabnya Rasulullah SAW pernah bersabda :

“Barang siapa yang mempelajari AlQuran di usia kecil, Allah akan mencampurkan dengan daging dan darahnya”. (HR Bukhari)

Berbasis pengetahuan tentang otak saat ini maka nash tersebut dapat ditafsirkan ; “Barang siapa yang mempelajari AlQuran di usia kecil, Allah akan menjadikan Al-Qur’an sebagai bahan baku pembentuk karakternya.” Allahua’lam.

Bagaimana dengan usia dewasa? Apakah Al-Quran masih bisa berfungsi sebagai basis pembentuk karakter? Atau lebih tepatnya perubah karakter? Yang jahat jadi baik, yang baik akan lebih baik lagi dan seterusnya, dan seterusnya?

Pada usia anak-anak, Allah yang Maha Rahim meletakkan keistimewaan yang sudah diulas tersebut, sedangkan pada usia dewasa pasti Allah SWT juga mengkaruniakan kemudahan-kemudahan yang lain namun tujuannya tetap sama, yaitu agar Al-Quran menjadi sumber pembangun karakter manusia. Dalam sejarah panjang Islam hal tersebut sudah dibuktikan, bagaimana masyarakat yang jahil menjadi masyarakat yang cerdas, pelopor peradaban modern, dan model terbaik dari tipologi masyarakat muslim ideal. Dalam skala individu kita melihat bagaimana Abu Bakar ra yang dikenal sebagai lelaki lembut hati ternyata dapat dengan sangat tegas menyikapi pembangkangan kaum murtad yang ingin melepas diri dari syariat. Bagaimana Umar ra yang dikenal sebagai tokoh premannya kota Makkah ternyata mampu menjadi khalifah yang sangat lembut hati. Karakter-karakter positif yang baru ini muncul dari interaksinya yang istimewa terhadap Al-Quran Al-Kariim. Sedangkan bagaimana proses teknis penambahan karakter positif itu terjadi merupakan bahasan tersendiri. Wallahu’alam.

eramuslim.com