Posts tagged ‘Pemikir Islam’

Catatan Akhir Pekan: “Temuan Penting Dr. Eka Putra Wirman, MA tentang Prof. Dr. Harun Nasution”

harunha

Prof. Dr. Harun Nasution

Oleh: Dr. Adian Husaini

JURNAL pemikiran Islam Islamia-Republika,edisi Kamis (21 Maret 2013), menampilkan sosok dan pemikiran seorang ulama muda dari Padang, Sumatera Barat, bernama Dr. Eka Putra Wirman. Tulisan itu diberi judul: “Dr. Eka Putra Wirman MA: “Membongkar Mitos Harun Nasution”.  Diungkapkan, bahwa Dr. Eka Putra telah berhasil menemukan kekeliruan pemikiran Harun Nasution dalam membaca corak teologi Muhammad Abduh.

Kesimpulan Harun Nasution yang bertahan selama puluhan tahun, bahwa teologi Abduh bercorak Mu’tazilah, dipatahkan oleh Eka Putra melalui penelitian yang serius terhadap Kitab Hasyiah karya Muhammad Abduh. Hasilnya, ternyata Muhammad Abduh bukanlah penganut Mu’tazilah – sebagaimana diklaim Harun Nasution selama ini –  tetapi justru merupakan tokoh pelanjut paham Ahlus Sunnah wal-Jamaah.

Muhammad Abduh dikenal sebagai pemikir dan tokoh pembaru di Mesir yang bersama muridnya, Rasyid Ridho, menulis Tafsir al-Manar. Ketokohannya dikenal luas di dunia, termasuk di Indonesia. Dengan mencantolkan paham Mu’tazilah pada Muhammad Abduh, Harun Nasution memiliki pijakan yang kuat untuk menanamkan paham Mu’tazilah dan liberal di Perguruan Tinggi, dan kemudian meluas ke masyarakat melalui para lulusannya.

Setelah era Prof. Dr. HM Rasjidi, di tahun 1970-an, tidak banyak ilmuwan dan akademisi Muslim di Perguruan Tinggi Islam Indonesia yang secara terbuka, ilmiah, dan sistematis mengkritisi pemikiran Prof. Harun Nasution — sosok yang oleh banyak orang dianggap sebagai pelopor pembaruan studi Islam di Indonesia. Sebagian lagi bahkan sudah mengkultuskan Prof. Harun dan tidak menyoal berbagai pemikirannya.

Dari sedikit orang yang kritis itulah, nama Dr. Eka Putra Wirman terbilang sangat menonjol. Dosen Teologi Islam di IAIN Imam Bonjol Padang ini sudah menulis sejumlah artikel, makalah, dan buku ilmiah yang “mengupas” dan meluruskan pemikiran Harun Nasution.

Menurut Dr. Eka, usaha Harun Nasution selama berpuluh tahun dalam mempromosikan paham Mu’tazilah dan menggusur Ahlussunnah wal-Jamaah telah berdampak buruk.  Mitos Mu’tazilah sebagai pembawa kemajuan umat Islam sangatlah keliru.  Apalagi, kata Dr. Eka, Harun Nasution mencatut nama besar Muhammad Abduh dalam mempromosikan teologi Mu’tazilah. Disertasi Harun Nasution di McGill University, yang menyimpulkan bahwa Muhammad Abduh adalah penganut Mu’tazilah , dikritik keras oleh Eka Putra. Apalagi, Harun Nasution dikenal dengan pernyataannya, bahwa Muhammad Abduh lebih Mu’tazilah daripada Mu’tazilah itu sendiri.

Dr. Eka Putra tidak main-main. Ia melakukan kajian serius terhadap Kitab Hasyiah karya Muhammad Abduh. Hasilnya ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul Kesaksian Hasyiah terhadap Teologi Muhammad Abduh (Padang: Puslit Press IAIN Imam Bonjol Padang, 2011).

Dalam buku setebal 187 halaman ini, Dr. Eka menyimpulkan: “Buku Hasyiah menjadi saksi bahwa Abduh adalah pengikut setia al-Asy’ari dan berusaha menjelaskan secara rasional-filosofis gagasan-gagasan teologis yang diungkapkan oleh al-Asy’ari. Pembacaan yang serius terhadap buku ini dengan mudah mementahkan pendapat beberapa penulis teologi di Indonesia bahwa Abduh adalah pengikut aliran Mu’tazilah, atau lebih dekat kepada pemikiran Mu’tazilah, apalagi lebih Mu’tazilah dari Mu’tazilah.”

Eka mengibaratkan posisi Abduh dengan Imam al-Asya’ri seperti Ibnu Rusyd dengan Aristoteles di bidang filsafat. Abduh dan Ibnu Rusyd berperan sebagai penyambung lidah yang “jujur” (lisan al-shidq)  dari tokoh yang diikuti dan diidolakannya. “Jadi selama ini, karena terlalu dikultuskan, pendapat Pak Harun Nasution diikuti saja oleh banyak akademisi,” ujar Eka.

Saat ditanya, mengapa kekeliruan itu seolah-olah dibiarkan saja selama puluhan tahun, Dr. Eka menjawab:  “Saya yakin, banyak pengagum Pak Harun yang tidak membaca Hasyiah.  Membaca pun belum tentu paham, karena tidak mudah memahami kitab-kitab dalam teologi.”

Kitab Hasyiah karya Muhammad Abduh, menurut Eka, merupakan bukti nyata bahwa Muhammad Abduh sama sekali bukan penganut Mu’tazilah.  Kitab ini justru mengkritik secara tajam aliran Mu’tazilah. Bahkan, dikatakan Abduh, Mu’tazilah adalah golongan yang “al-mahjubun” (terhalang dari kebenaran).  “Kitab ini mengangkat pemahaman Ahlus Sunnah wal-Jamaah yang dikemas dengan rasionalitas yang tinggi,” tambahnya.  Untuk itulah, kini Eka Putra, sedang menyiapkan buku yang lebih serius dan komprehensif  yang ia beri judul “Restorasi Teologi: Meluruskan Pemikiran Harun Nasution.”

Dalam pengataman Eka, sekarang banyak akademisi pengikut Harun yang mengalami keterpecahan antara pemikiran dan perbuatan. Secara pemikiran ia Mu’tazilah, karena menganggap Allah tidak campur tangan lagi dalam urusan kehidupan manusia. Tapi, pada sisi lain, dia juga beramal secara Ahlussunnah, karena berdoa meminta pertolongan Allah. Itu artinya ia mengundang campur tangan Tuhan yang bertentangan dengan kepercayaan Mu’tazilah.  “Jadi tampak lucu. Pemikirannya ikut Harun Nasution, amalnya ikut Ahlussunnah,” kata Eka, alumnus Pesantren Gontor  yang menyelesaikan program doktornya di Qarawiyin University Maroko (2003).

****

Prof. Dr. Harun Nasution selama ini dikenal sebagai penyebar kuat paham Mu’tazilah. Tahun 2008, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, menerbitkan buku berjudul ”Paradigma Baru Pendidikan Islam”.

Peran Harun Nasution dalam studi Islam ditulis sebagai berikut: ”Harun Nasution mengusung pembaruan pemikiran keislaman. Dia mengenalkan multi pendekatan dan memperjuangkannya dengan sangat konsisten. Pengaruh  pemikirannya sangat kuat di kalangan IAIN dan STAIN seluruh Indonesia dan masih dirasakan sampai sekarang.” (hal. 7)

Ditulis dalam buku ini, bahwa pembaruan Islam perlu dilakukan, karena yang menjadi masalah umat Islam Indonesia adalah bahwa sampai saat ini adalah kurang berkembangnya pandangan pluralistik atau penghargaan atas perbedaan di kalangan umat. Pada zaman Harun, pengajaran keagamaan sangat normatif dan terpaku pada salah satu paham atau aliran pemikiran, atau bahkan kelompok atau pemikiran orang tertentu dan sangat fiqih oriented. Model pendidikan yang seperti itu dapat dipastikan akan menghasilkan lulusan yang mempunyai pemahaman dan pemaknaan agama yang sempit. ”Dampak negatifnya adalah kemungkinan munculnya pemahaman yang melihat segala hal yang berbeda dengan paham tersebut sebagai salah, menyimpang dan bahkan sesat.” (hal. 8).

Untuk melakukan pembaruan pemikiran Islam di IAIN, Harun Nasution mencari akar pembenarannya dalam teologi rasional ala Mu’tazilah dan mengenalkannya kepada masyarakat lewat buku dan pengajarannya di IAIN dan program pascasarjana IAIN Jakarta. ”Selama menjadi rektor (1973-1984) dan setelahnya sampai tahun 1990-an sebagai Direktur pada program studi lanjutan pertama yang dibuka di IAIN Jakarta, Nasution mengembangkan pemikiran Islam rasional dan menjadikan program S1 dan pasca sarjana IAIN Jakarta sebagai agen pembaharuan pemikiran dalam Islam dan tempat penyemaian gagasan-gagasan keislaman yang baru.” (hal. 8).

Begitulah penjelasan tentang kiprah Harun Nasution dalam buku terbitan Departemen Agama tersebut.

Pada tahun 1972, Harun Nasution menerbitkan bukunya yang berjudul: Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah, Analisa Perbandingan, (Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1972).  Buku ini secara tegas menyatakan, bahwa paham Mu’tazilah – yang dikatakannya sebagai Teologi Liberal — harus dikembangkan, karena akan mebawa kemajuan. Sebaliknya, paham Ahlussunnah harus disingkirkan, karena tidak membawa kemajuan. Bisa kita simak ungkapan Harun Nasution  dalam buku tersebut:

“Teolog-teolog yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kuat memberi interpretasi yang liberal tentang teks ayat-ayat Qur’an dan Hadis. Dengan demikian, timbullah teologi liberal seperti yang terdapat dalam aliran Mu’tazilah. Teolog-teolog yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang lemah memberikan inyterpretasi harfi atau dekat dengan arti harfi dari teks Qur’an dan Hadis. Sikap demikian menimbulkan teologi tradisional sebagai yang ada dalam aliran Asy’ariyah.

Teologi liberal menghasilkan faham dan pandangan liberal tentang ajaran-ajaran Islam. Penganut-penganut teologi ini hanya terikat pada dogma-dogma yang dengan jelas lagi tegas disebut dalam ayat-ayat Qur’an dan Hadis; yaitu teks ayat-ayat Qur’an dan Hadis yang tidak bisa diinterpretasikan lagi mempunyai arti selain arti letterlek yang terkandung di dalamnya…..

Dengan lain kata, dalam masyarakat yang menganut teologi liberal, kemajuan dan pembangunan dapat berjalan lebih lancer. Dalam teologi tradisional, sebaliknya, penganutnya kurang mempunyai ruang gerak karena mereka terikat tidak hanya pada dogma-dogma, tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti zanni, yaitu ayat-ayat yang boleh menngandung arti lain dari arti letterlek yang terkandung di dalamnya. Dan ayat-ayat ini mereka artikan secara letterlek. Dengan demikian, para penganut teologi ini sukar dapat mengikuti perobahan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat modern. Rasanya tidak terlalu jauh dari kebenaran, jika dikatakan bahwa teologi tradisionil dapat merupakan salah satu dari faktor-faktor yang memperlambat kemajuan dan pembangunan.

Teologi liberal dengan keadaannya banyak berpegang pada logika lebih sesuai dengan jiwa dan pemikiran kaum terpelajar. Sebaliknya teologi tradisionil, dengan teguhnya ia berpegang pada arti harfi dari teks ayat-ayat Qur’an dan Hadis ditambah dengan kurangnya ia menggunakan logika, kurang sesuai dengan jiwa dan pemikiran golongan terpelajar. (hal. 142-143).

Dengan mengembangkan teologi Mu’tazilah – yang disebut Harun Nasution sebagai ‘teologi liberal’, lalu disebutkan bahwa apa yang diajarkan di IAIN/UIN adalah ‘Islam liberal’, sebagaimana diakui oleh Prof. Azyumardi Azra, mantan Rektor UIN Jakarta: “Sebagai lembaga akademik, kendati IAIN terbatas memberikan pendidikan Islam kepada mahasiswanya, tetapi Islam yang diajarkan adalah Islam yang liberal. IAIN tidak mengajarkan fanatisme mazhab atau tokoh Islam, melainkan mengkaji semua mazhab dan tokoh Islam tersebut dengan kerangka, perspektif dan metodologi modern.” (Lihat, buku IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia (2002, hal. 117, terbit atas kerjasama Canadian International Development Agency (CIDA) dan Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Islam (Ditbinperta) Departemen Agama).

Kesimpulan bahwa Teologi Mu’tazilah membawa kemajuan ditolak oleh Dr. Eka Putra Wirman.  Tahun 2010, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI menerbitkan buku Dr. Eka yang berjudul “Kekuatan Ahlus Sunnah wa al-Jamaah”. Melalui bukunya ini, ia mengingatkan pentingnya umat Islam memelihara dan mengembangkan paham Ahlus Sunnah wal-jamaah yang telah meninggalkan mutiara yang berguna bagi kehidupan kaum Muslimin. Pemikiran ini perlu dikaji dan dihidupkan. “Kepentingan internal dimaksudkan untuk menjaga perkembangan pemikiran Islam agar tidak keluar dari koridor yang digariskan dan diikuti paraal-salaf al-shalih seperti berkembangnya Liberalisme, Permisivisme dan Sekulerisme,” tulisnya.

Juga, secara eksternal, perlu dilakukan penanggulangan paham-paham keliru dan sesat yang merusak pemikiran Islam. Misal, paham Deisme yang memposisikan Tuhan hanya sebagai pencipta, lalu tidak ikut campur tangan lagi terhadap ciptaan-Nya. “Pemikiran Deisme ini menjauhkan manusia dari Tuhan dan sengaja mengerdilkan fungsi Tuhan,” kata Dr. Eka.

Pemikiran seperti inilah yang sejak dulu dikritisi secara tajam oleh Ahlussunnah wal-Jamaah.  Sayangnya, pemikiran semacam ini justru dikembangkan di Perguruan Tinggi. Dampaknya, menurut Dr. Eka Putra, kini sudah sampai ke sekolah-sekolah menengah, karena diajarkan oleh guru-guru mereka yang terpengaruh.

Temuan Dr. Eka Putra Wirman tentang pemikiran Harun Nasution ini kembali mengingatkan para akademisi Muslim dan juga pemerintah untuk melakukan introspeksi terhadap pengagungan atau bahkan pengkultusan pemikiran Harun Nasution. Upaya mengangkat martabat dan kualitas Studi Islam di Indonesia dengan mendasarkan diri pada pemikiran Mu’tazilah dengan menggusur paham Ahlussunnah adalah pemikiran dan langkah yang keliru.

Anggapan bahwa “teologi liberal” Mu’tazilah cocok untuk kehidupan dunia modern juga mitos yang dibangun Harun Nasution. Aneh, jika pemikiran keliru ini terus diajarkan dan dilestarikan.
Kita berharap, temuan Dr. Eka Putra ini dapat menjadi pendorong makin banyaknya ilmuwan yang  sadar dan bersungguh-sungguh dalam usaha untuk memperjuangkan kebenaran dan memperbaiki kondisi studi Islam di Indonesia. Amin.* (Depok, 26 Maret 2013).

Catatan Akhir Pekan (CAP) adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan http://hidayatullah.com

Pesan Mohammad Natsir: Jangan Hubbud-Dunya!


Dr. Mohammad Natsir

Antara tahun 1986-1987, sejumlah cendekiawan seperti Dr. M. Amien Rais, Dr. Kuntowijoyo, Dr. Yahya Muhaimin, Dr. A. Watik Pratiknya, dan Endang S. Anshari — melakukan wawancara intensif dengan Dr. Mohammad Natsir. Mereka menggali pemikiran Natsir dengan sangat intensif. Berulang-kali wawancara dilakukan. Sayang, hasil rekaman wawancara itu kemudian tidak terselamatkan. Dokumen yang tersisa hanya sebuah buku setebal 143 halaman, berjudul Percakapan Antar Generasi: Pesan Perjuangan Seorang Bapak (1989).

Tentu saja, buku ini menjadi sangat penting, karena merekam pemikiran dan pesan-pesan perjuangan Dr. Mohammad Natsir kepada generasi pelanjutnya. Natsir memang dikenal sebagai seorang pejuang dan pemikir Islam, yang pada 7 November 2008 diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah RI. Kiprah M. Natsir dalam perjuangan Islam dikenal secara luas, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia Islam. Meskipun buku Percakapan Antar Generasi itu mengemukakan gagasan-gagasan singkat, tetapi banyak pemikiran penting yang bisa dipetik dari seorang M. Natsir, yang ketika itu sampai pada tahap-tahap kematangan pemikirannya.

Ketika ditanya oleh para kadernya tentang penyakit yang paling berbahaya bagi umat Islam dan bangsa Indonesia saat ini, Pak Natsir dengan tegas mengatakan: ”Salah satu penyakit bangsa Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia.” Lalu, ditambahkannya: ”Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang ”baru”, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama (kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat). Tetapi, gejala yang ”baru” ini, akhir-akhir ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.”

Dan memang, penyakit cinta dunia (hubbud-dunya) itulah salah satu sumber kehancuran utama umat Islam. Rasulullah saw bersabda: “Apabila umatku sudah mengagungkan dunia maka akan dicabutlah kehebatan Islam; dan apabila mereka meninggalkan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar, maka akan diharamkan keberkahan wahyu; dan apabila umatku saling mencaci, maka jatuhlah mereka dalam pandangan Allah.” (HR Hakim dan Tirmidzi).

Di tengah berbagai kesulitan dan tantangan dakwah yang berat saat ini, pesan Pak Natsir itu perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Jika penyakit ini sudah menggejala, maka pasti kehancuran menanti umat. Di bidang apa pun. Penyakit hubbud-dunya (gila dunia) berawal dari penyakit iman, yang berakar pada persepsi yang salah bahwa dunia ini adalah tujuan akhir kehidupan. Akhirat dilupakan. Akhirnya, jabatan dan harta dipandang sebagai tujuan; bukan sebagai alat untuk meraih keridhaan Allah.

Islam tidak memerintahkan umatnya meninggalkan dunia. Tapi, umat Islam diperintahkan untuk menaklukkan dunia, untuk meletakkan dunia dalam genggamannya, bukan dalam hatinya. Dunia dan seisinya adalah amanah Allah. Semua akan dipertang-gungjawabkan di hadapan Allah di akhirat. Semakin tinggi jabatan, kedudukan, dan semakin banyak nikmat yang diterima seseorang di dunia, maka semakin berat pula tanggung jawabnya di akhirat. Karena itu, sangatlah bodoh orang yang siang malam sibuk mengejar dunia demi tujuan-tujuan kepuasan dunia semata. Wallahu A’lam. (H. Adian Husaini/Ketua Dewan Da’wah)

http://www.dewandakwah.com

Deretan Muslim Dalam 100 Tokoh Pemikir Global

WASHINGTON,DC – Majalah berpengaruh Foreign Policy baru saja mengeluarkan daftar “100 Pemikir Utama Global”, memberikan sepuluh tempat bagi profesor, akademisi, politisi, banker, dan jurnalis Muslim.

Zahra Rahnavard, istri pemimpin oposisi Iran Mir Hossein Mousavi, berada di ranking ketiga dalam daftar itu, persis di bawah pemimpin US Federal Reserve Ben Bernanke yang terpilih karena mencegah runtuhnya perekonomian AS, dan Presiden Barack Obama karena mengubah peran Amerika di dunia.

Majalah itu menggambarkan Rahnavard sebagai otak di balik Revolusi Hijau Iran dan kampanye suaminya.

Dijuluki sebagai Michelle Obama-nya Iran, Rahnavard berkampanye untuk suaminya yang mencalonkan diri dalam pemilu presidensial bulan Juni lalu.

Pemegang gelar doktoral dalam ilmu politik, wanita berusia 64 tahun ini pernah menjabat sebagai penasihat Mohamed Khatami, presiden Iran dari tahun 1997 hingga 2005.

Rahnavard adalah peneliti Al Quran dan penulis beberapa buku tentang seni dan politik.

Seorang advokat hak-hak wanita, ia telah lama mengkampanyekan pemberdayaan ekonomi kaum wanita dan mengubah hukum Iran yang cenderung diskriminatif terhadap para wanita.

Sayyid Imam al Sharif, pemimpin spiritual kelompok militan jihad Mesir, berada di posisi ke-10 dalam daftar tahunan majalah tersebut.

“Ia menyusun Merasionalisasi Jihad di Mesir dan di Dunia, sebuah revisi lengkap dari dukungannya yang terdahulu terhadap perang relijius.”

Imam, pendiri awal Al Qaeda bersama dengan rekan lamanya Ayman Al Zawahiri, menulis dua buku yang dianggap sebagai pondasi ideologis bagi jihad.

Namun di tahun 2007, ia mengakui di hadapan publik bahwa ia telah mengubah pemahamannya yang terdahulu, menyerukan untuk merasionalisasi jihad.

“Karyanya ini, yang telah menyebar ke seluruh lingkaran jihad, melemahkan legitimasi Al Qaeda dan kelompok-kelompok sejenis lainnya dengan menggunakan narasi teologis mereka sendiri,” ujar majalah tersebut.

Ekonom Muslim Amerika Mohamed El Erian berada di peringkat ke-16 dalam daftar “100 Pemikir Utama Global”.

“El Erian ikut memimpin salah satu perusahaan investasi paling sukses di dunia, Pimco, Pacific Investment Management Company, yang memiliki aset USD 842 miliar.”

Seorang spesialis dalam pasar baru di IMF, ia menjadi kepala penegakan agama di Harvard sebelum bergabung dengan dunia bisnis.

Strategi investasinya dipuji membantu mengubah Pimco menjadi perusahaan investasi terbesar di dunia.

Mantan menteri keuangan Afghanistan Ashraf Ghani berada di ranking 20 untuk usahanya memberantas korupsi.

Majalah itu juga memasukkan mantan wakil perdana menteri Anwar Ibrahim di posisi ke-32 atas perjuangan pro-demokrasinya.

Jurnalis terkenal, Fareed Zakaria, seorang Muslim Amerika keturunan India, berada di peringkat ke-37 karena mendefinisikan batas kekuasaan Amerika dan mengerahkan diskusi publik yang paling cerdas tentang hal itu.

Banker Bangladesh dan pemenang Nobel Muhammad Yunus berada di posisi ke-46 atas perannya memerangi kemiskinan.

Dijuluki “banker orang miskin”, mantan profesor ekonomi ini dan bank Grameen-nya mendapat penghargaan Nobel atas upaya akar rumputnya untuk mengentaskan jutaan orang dari kemiskinan.

Bank yang mentarget kaum wanita karena meyakini bahwa mereka lebih baik daripada laki-laki dalam mengelola keuangan keluarga ini menawarkan pinjaman kecil ke para peminjam miskin untuk membantu mereka membuka usaha.

Pemikir Muslim dari Swiss Tariq Ramadan berada di urutan ke-49 dalam daftar majalah itu. Disebutkan bahwa Ramadan mendedikasikan hidupnya untuk membuktikan bahwa Islam sesuai dengan kehidupan Barat.

“Ramadan ingin menyampaikan Islam yang sesuai dengan demokrasi Eropa (di mana ia tumbuh dan kini bertempat tinggal), salah satu advokat yang terlibat dalam realita politik dunia.”

Seorang warga negara Swiss keturunan Mesir, Ramadan adalah salah satu pemikir terdepan Muslim di Eropa dan telah seringkali mengecam terorisme dan ekstremisme.

Ia juga seorang profesor Studi Islam di Universitas Oxford dan peneliti di Universitas Doshisha, Jepang.

Penulis 20 buku dan 700 artikel tentang Islam, ia dinobatkan oleh majalah Time sebagai salah satu dari 100 inovator abad 21 untuk kinerjanya dalam menciptakan Islam Eropa yang independen.

“Selama hidupnya, cucu pendiri Persaudaraan Muslim Hassan al Banna ini telah menjadi sebuah kontradiksi berjalan. Seorang intelektual Islam yang menganut demokrasi namun meyakini bahwa hukum relijius bersifat universal.”

Penulis Pakistan Ahmed Rashid berada di posisi ke-51 untuk tulisannya tentang bahaya global di Asia Selatan.

Majalah itu juga memasukkan Perdana Menteri Palestina, Salam Fayyad, di posisi ke- 61 karena menunjukkan bagaimana memimpin dengan efektif di tengah-tengah konflik. (rin/io)

www.suaramedia.com

%d bloggers like this: