Oleh : Hermawan Eriadi

PENDAHULUAN

Ceritanya, tahun 1400 H dalam rangka simposium peran imigran Muslim di Amerika, diundanglah tokoh-tokoh Muslim dari berbagai negara termasuk Indonesia-yang waktu itu dihadiri M. Natsir. Dari sana kemudian para tokoh ini memanfaatkan moment tersebut untuk berbincang-bincang tentang dunia Islam. Kemudian muncullah kesepakatan untuk menjadikan abad ke 15 Hijriah ini sebagai abad kebangkitan Islam. Hal ini dilihat dari kondisi Islam dunia saat itu memang sangat tertinggal. Maka dimulailah abad kebangkitan Islam itu dengan tekad bersama untuk mengembalikan kejayaan Islam dengan segala kemampuan dan usaha yang dimiliki.

Saat ini, setelah 22 tahun seruan itu dikumandangkan kondisi umat Islam belumlah seperti yang diharapkan sebagai sesuatu yang benar-benar bangkit. Umat Islam dunia masih saja dalam kondisi keterpurukan. Mekipun telah beberapa orang, kelompok dan organisasi yang mulai bangkit dan menyerukan hal yang sama sambil menyadarkan umat islam dan berkarya untuk membuktikan hal itu. Hingga saat ini praktis bisa dikatakan bahwa umat Islam memang masih sebagai sesuatu yang belum berarti (secara politis) bagi dunia.

Kompleksitas Problem

Kebanggaan yang dapat ditampilkan bagi umat Islam saat ini masih sangat sedikit sekali. Paling-paling negara Arab yang kaya dengan minyak, itupun karena keberuntungan takdir saja bahwa cadangan minyak terbesar dunia ada disana. Tentang hal yang lain sangat sulit untuk mencarinya. Dibidang ekonomi masyarakat Muslim dunia sama sekali tidak bisa diandalkan. Sampai sekarang sistem yang dipakai tetap saja kapitalisme dengan segala konsekuensinya. Negara-negara Muslim yang memang sudah miskin semakin miskin saja dengan kapitalisme yang dibanggakan Amerika. Sistem perekonomian Islam yanng menjanjikan keadilan itu tidak mencul sama sekali. Padahal beberapa abad sistem ini dipakai dan pernah terbukti keampuhannya. Sistem bank konvensional (riba) masih menjadi pilihan utama masyarakat dunia. Belum lagi dengan kemiskinan negara-negara Muslim yang menyebabkan mereka harus berhutang pada negara-negara kapitalis. Yang pada gilirannya juga akan mempersulit mereka. Bahkan untuk sekedar membayar bunga hutang.

Dari segi politik juga demikian. Amerika dengan PBB sebagai tunggangannya praktis menguasai seluruh negara didunia tidak terkecuali negara Muslim. Dengan kekuatan persenjataan dan teknologi tinggi, secara politis Amerika telah menjadi polisi dunia. Begitu pula kelompok-kelompok pertahanan dan plitik seperti NATO yang sangat represif terhadap Islam. Dipentas dunia, negara-negara Muslim sendiri tidak punya kekuatan jika dibanding mereka. Organisasi negara-negara Islam seperti Organisasi Kerjasama Islam (OKI) tidak bisa berbuat banyak menghadapi PBB dan NATO. Bahkan sekedar turun berperan serta dalam menentukan harga dan kuota minyak – yang negara-negara Arab sangat berkepentingan terhadap hal itu- tidak mampu dilakukan. Fakta-fakta masih terpingirkannya peran Islam dalam dunia internasional ditambah lagi dengan intervensi yang berlebihan terhadapap negara-negara Muslim Arab dan ketidak jelasan sikap mengenai Palestina, Kashmir, Pattani, Moro, Bosnia, Cechnya, dan Pakistan. Campur tangan pihak luar yang bisanya sangat ditentukan oleh berbagai kepentingan politik dan ekonomi selalu saja membersamainya. Ismail Raji al Faruqi menjelaskan kondisi umat ini:

Dunia Ummah Islam saat ini berada pada anak tangga bangsa-bangsa terbawah. Didalam abad ini, tidak ada kaum lain yang mengalami kekalahan dan kehinaan seperti yang dialami kaum Muslimin. Kamum Muslimin telah dikalahkan, dibantai, dirampas negeri dan kekayaannya, dirampas kehidupan dan harapannya.[1]

Saat ini kondisi umat Islam terpecah belah kedalam 50-an negara. Kolonialisme telah berhasil melakukan hal itu. Dan dari sana selalu saja memunculkan friksi antar umat Islam sendiri mengenai batas wilayah yang lebih sering menimbulkan peperangan berkepanjangan daripada kepahaman dan persaudaraan.

Amerika sangat berkepentingan dengan negara Muslim (khusunya Arab) guna kepentingan ekonomi karena ladang minyaknya, sekaligus memuaskan ambisi politiknya. Fathy Yakan mengatakan:

Selama ini Amerika Serikat membidikkan matanya pada dunia ketiga, khususnya negara-negara Timur Tengah. Washhington mencari jalan memulai melaksanakan poltik perluasan yang bertujuan untuk dapat menjamah ladang-ladang minyak, menghantam segala apa yang disebut dengan gerakan-gherkan teror, menyebarkan pangkalan-pangkalan perang dibeberapan negara kawasan itu. Alasan yang dipakai adalah untuk menjaga keamanan.[2]

Bagaimanapun umat Islam telah berhasil dikelabuhi oleh berbagai gerakan pemBaratan yang berakibat ada semacam trend dikalangan umat Islam untuk meniru Barat dan merasa asing serta phobi pada Islam sendiri. Dari segi sosial budaya umat Islam lebih menyukai meniru Barat dalam banyak hal seperti model berpakaian, cara bergaulan, bahasa dan simbol-simbol budaya lainnya. Kemudian ini juga berlanjut dengan menganggap baik segala apa yang berasal dari Barat dan sebaliknya menganggap yang dari Islam itu jelek dan ketinggalan jaman. Hal ini cukup lama dirasakan sehingga keagungan Islam sendiri semakin tidak dirasakan, bahkan oleh umat Islam sendiri.

Umat Islam pernah memimpin dalam hal ilmu pengetahuan. Ilmuan Islam telah menemukan banyak hal, kemudian ilmu itu disusun dalam buku-buku pengetahuan yang senantia dikembangkan melalui penelitian-penelitian. Ilmuan besar seperti Abu Sina, al FArabi, Ibn Khaldun dll membuktikan bahwa Islam pernah memimpin kejayaan ilmu pengetahuan. Namun seiring dengan kemunduran Islam, para ilmuan Islam pun semakin sedikit dan malah sumber-sumberi ilmu pengetahuan dalam ribuan buku dihancurkan dan sebagian diambil pihak Barat untuk dikembangkan. Akhirnya kemudian yang mengalami perkembangan pesat ilmu pengetahuan justru bukan golongan Islam. Sehingga saat ini seolah-olah bahwa semua ilmu pengetahuan itu berasal dari Barat. Meskipun harus diakui bahwa perkembangan lebih lanjut ilmu tersebut, sehingga mencapai struktur yang baik dan mendalam memang berasal dari sana. Karena memang kajian, penelitian serta pengembangan ilmu pengetahuan memang sangat giat dilakukan di Barat. Sedangkan negara Muslim sendiri tidak serius terhadap hal itu sehingga senantiasa tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Sehingga ilmu dan metodologi yang dikeluarkan juga merupakan produk Barat yakni sekulerisme. Yang kemudian menghilangkan unsur ketauhidan dalam ilmu pengetahuan.

Teknologi kemudian juga mengikuti pola yang sama. Karena pada prinsipnya science today is technology tomorrow, sedangkan bangsa Muslim memang sangat kurang penguasaan konsep keilmuan disamping tidak ada uang dan tidak memiliki perhatian untuk pengembangan ilmu menjadi teknologi. Maka semakin lengkaplah ketertinggalan umat Islam.

Industri yang berkembang dan dimiliki oleh negara Muslim sebenarnya adalah industri yang tidak lebih untuk sekedar memenuhi kebutuhan yang kebanyakan tidak pokok. Itupun selalu saja bahwa bahan-bahan baku harus diimpor dari negara-negara kapitalis. Industri yang didirikan dan mendapat bantuan asing memang tidak pernah bisa memandirikan negara Muslim. Karena tetap saja ada ketergantungan pada negara Barat.

Jika mau ditelusuri kebelakang, ada banyak faktor yang menyebabkan permasalahan yang begitu kompleks terjadi dengan umat Islam. Yang secara garis besar berupa faktor eksternal dan internal.

FAKTOR EKSTERNAL

1. Gazwul Fikri

Yang dimaksud dengan invasi pemikiran (Ghazwul Fikri) adalah usaha suatu bangsa untuk menguasai pemikiran bangsa lain (kaum yang diinvasi), lalu menjadikan mereka (kaum yang diinvasai) sebagai pengikut setia terhadap setiap pemikiran, idealisme, way of life, metode pendidikan, kebudayaan, bahasa, etika, serta norma-norma kehidupan yang ditawarkan kaum penginvasi.[3]Invasi pemikiran jelas-jelas bermaksud merusak tatanan masyarakat Islam, mengganti norma dan budaya Islam dengan Barat dan menjauhkan umat Islam dengan diennya sendiri. Garis besar langkah kerja meraka adalah; (1) Merusak Islam dari segi aqidah, ibadah, norma dan akhlak; (2) Memecah dan memilah kaum Muslimin di muka bumi dengan sukuisme dan nasionalisme sempit; (3) Menjelek-jelekkan gambaran Islam; (4) Memperdayakan bangsa Muslim dengan menggambarkan bahwa segala kemajuan kebudayaan dan peradaban dicapai dengan memisahkan bahkan menghancurkan Islam dari masyarakat.[4]

Yang terkait dengan ghazwul fikri ini antara lain adalah Zionisme, Orientalis dan kristenisasi. Ketiga hal in sebenarnya berbeda dan belum tentu saling terkait satu sama lain. Zionisme[5] merupakan gerakan politik dari sebuah etnis Yahudi ekstrim, yang bertujuan mendirikan negara bagi bangsa Yahudi di Palestina, sebagi batu loncatan untuk meraih apa yang mereka cita-citakan, yaitu menguasai dunia dan menciptkan pemerintahan Yahudi Raya. Pencetus gerakan ini adalah Theodore Hertzel, seorang wartawan Austria keturunan Yahudi. Langkah untuk mendirikan Negara Yahudi telah dilakukan 2 kali dengan mengirim utusan ke Sultan Abdul Hamid II, sultan Islam di Turki Utsmani untuk meminta wilayah Palestina. Namun ditolak mentah-mentah. Kemudian sejak itu orang Yahudi bekerja keras untuk merongrong Kesultanan Turki dan menghapuskan khilafah Islamiyah dari muka Bumi. Gerakan ini sangat giat menyebarkan fitnah kepada umat Islam, merusak kesucian akidah Islamiah, memunculkan keraguan dan penyerangan melalui media-media yang sangat banyak mereka kuasai.

Orientalisme adalah kajian yang dilakukan oleh orang-orang Barat terhadap negara-negara timur (khususnya Islam) mengenai budaya, sejarah, agama, sosial, ekonomi, politik dan segala hal yang terkait dengannya[6]. Gerakan ini muncul sejak keberhasilan pasukan Islam mengasai Dunia Barat, ketika saat itu Barat masih tenggelam dalam jaman kegelapan. Mereka ingin mempelajari sebab-sebab kemenangan Islam, seluk beluk Islam dan permasalahan yang ada didalamnya. Motivasi mereka adalah motivasi imperialisme, menjauhkan umat dari Islam, juga motivasi ekonomi. Yang bertujuan untuk menciptakan keraguan kepada Islam serta membangkitkan Nasionalisme dan etnisme.

Kristenisasi secara bahasa adalah upaya untuk mengkristenkan orang lain dan menyebarkan ajaran kristen keberbagai negara. Namun tujuan mereka sebenarnya bukan cuma menjadikan orang masuk agama kristen, tapi malah yang utama adalah mengeluarkan orang Islam dari keIslamannya.[7]

2. Sekulerisme

Pemisahan dengan sangat dikotomis antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu non-agama memang merupakan bagian dari upaya untuk menghilangkan peran agama dalam masyarakat dan memunculkan keraguan akan kebenaran agama. Sekulerisme menjadi sesuatu yang dianggap baik oleh Barat karena secara historis ia terlahir dari perlawanan atas kejumudan pemikiran gereja diabad pertengahan.

Pemahaman seperti ini masih banyak berada dalam kepala umat Islam. Muh. Natsir mengungkapkan penentangannya kepada orang yang pro sekuler yang menganggap bahwa Kemajuan Turki karena mereka memisahkan agama dari kehidupan.

Kemal Pasha cs sekali-kali bukan mendapat kemenangan sesudah mereka melemparkan hukum-hukum Agama, melainkan sebaliknya, mereka lemparkan hukum-hukum agama sesudah kemenangan dan kekuatan ada ditangan mereka.[8]

Sekulerisme berdampak cukup serius kepada umat Islam, selain hilangnya kepahaman akan syumuliataul Islam juga menjadikan agama hanya sebatas ritual-ritual semata. Agama yang merupakan sumber terbesar dari energi serta aspirasi dan merupakan pemandu menuju kehidupan yang bermakna diatas bumi ini menjadi begitu berubah. Agama hanyalah urusan akhirat. Dan yang menyebar justru kemudian hal-hal yang menyangkut dengan mistik, takhayul, dll. Demikian Ali Syariati mengungkap dampak negatif dari sekulerisasi ini[9].

Mereka menganggap bahwa agama memainkan peranan negatif dalam masyarakat karena mendorong rakyat untuk mengabaikan kehidupan aktual dan material mereka. Unsur-unsur tersembunyi dan reaksioner sejalan dengan tangan-tangan asing yang tak terlihat memanfaatkan kesimpulan yang keliru ini dan menggunakan kekerasan untuk melawan rakyat dan orang-orang yang tercerahkan.

3. Kapitalisme, materialisme, metode ilmiah-positifisme dan modernisasi

Hal-hal diatas muncul dan menjadi masalah besar bagi umat Islam sebagai salah satu produk ghazwul fikri. Berawal dari temuan metode ilmiah dan pengembangan iptek yang bersumberkan pada paradigma material kemudian berlanjut dengan kapitalisme, yang merasuki sistem pembangunan dan ekonomi umat Islam. Hal ini tidak menyebabkan kecuali semakin terpuruknya umat Islam secara ekonomi dan politik. Maka yang terjadi sekarang adalah imperialisme epistemologi[10] oleh Barat kepada umat Islam. Keterbelakangan pada banyak hal menyebabkan umat Islam terpaksa mengikuti pola ini sadar atau tidak untuk tetap bisa bertahan hidup.

Rayuan mereka pada pembesar kaum Muslimin adalah dengan memberikan pinjaman/hutang dan sebagai imbalannya mereka memperoleh hak investasi ekonomi dan memasok negara Muslim dengan harta dan proyek ekonomi melalui perusahaan dan kemudian mengendalikan prilaku ekonomi seperti yang mereka kehendaki. Dan setelah itu mereka leluasa mengubah aturan-aturan seperti pendidikan, hukum, pemerintahan sampai pada peradaban[11].

Bahkan kemudian mereka memasukkan unsur-unsur merusak seperti WTS, tempat-tempat hiburan, film, diskotek, sinetron, telenovela. Yang kemudian ditiru justru oleh umat Islam sendiri.

Manusia yang sering menggambarkan dirinya sebagai orang-orang modern yang kini mendominasi peradaban dunia, adalah jenis manusia yang mengabdikan diri dan hidupnya untuk materi atau materialime, sebuah bentuk paganisme yang juga telah ada sejak dahulu. Karena itu aspek-aspek peradaban yang dibangun, seperti hukum, politik, ekonomi, etika dan bahkan kesadaran sosial pun bercorak materialisme. Karena itu semua produk peradaban yang ada senantiasa memperbudak dan menindas.[12]

4. Ancaman berupa sanksi ekonomi, perdagangan maupun politik (hubungan luar negari)

Hal ini lebih mengerikan lagi. Sudah mengarah kepada menimbulkan rasa ketakutan yang berlebihan kepada pihak Barat, khususnya Amerika dengan PBB-nya. Sehingga banyak menghalangi tindakan ataupun sikap umat Islam menanggapi sebuah permasalahan maupun isu. Karena apabila macam-macam saja dengan Amerika dan cs-nya, alamat negara tidak akan tentram dalam waktu yang lama. Secara psikologis bangsa-bangsa Muslim memang masih terjajah.

FAKTOR INTERNAL

1. Runtuhnya Khilafah

Keruntuhan Daulah Islamiyah melalui pembubaran Khalifah oleh Mustapa Kamal tanggal 3 Maret 1924, kemudian diikuti oleh pemisahan agama dan negara dan model-model sekuler lainnya telah merusakkan dan mencabik-cabik umat Islam. Setelah itu seolah-olah Islam benar-benar telah hancur dan tidak akan pernah seperti itu lagi. Dan langkah ini malangnya kemudian seolah menjadi preseden bagi umat Islam untuk mulai meninggalkan ajarannya.

Dengan begitu dia telah mencerai beraikan paji-panji Islam yang menjadi tempat bersatu kaum Muslimin sejak empat belas abad yang lalu. Kini merekapun berpecah belah dan menyebar pada jalan yang berbeda-beda laksana domba di malam yang hujan. Lalu akhirnya kawanan serigala menerkam kelompok yang tercerai berai itu.

Demikian ‘Abdullah ‘azzam menceritakan kehancuran Khilafah Islamiyah[13]. Sebenarnya kehancuran ini bukan semata-mata karena faktor luar, tapi karena memang telah terbangun kebobrokan yang besar disana sehingga memang mencenderungannya kepada kehancuran. Dalam risalah Hari Ini dan Kemarin, Hasan al Banna mengatakan bahwa ada 7 faktor penghancur eksistensi Daulah Islamiyah. Yakni, (1) Pergolakan politik, fanatisme kesukuan, perebutan kekuasanan dan ambisi terhadap kedudukan. (2) Pertentangan agama dan mazhab. (3) Tenggelam dalam aneka bentuk kemewahan dan kenikmatan. (4) Terjadinya transformasi kekuasaan kepada bangsa non Arab yang belum mengeyam Islam dengan penghayatan yang benar. (5) Mengabaikan ilmu-ilmu terapan, ilmu kauniyah. (6) Banyak penguasa yang lengah oleh kekuasaannya, tertipu oleh kekuatannya dan tidak memperhatikan perkembangan sosial. (7) Tertipu oleh tipu daya musuh-musuhnya, kagum dan taklid terhadap apa yang mereka perbuat.[14]

2. Perpecahan Umat Islam dan kurang Ukhuwah

Dijadikannya negara Muslim menjadi banyak dan kecil-kecil menjadikan umat Islam selalu dalam keadaan berpecah belah. Sehingga negara Muslim lebih banyak disibukkan dengan perebutan batas negara dan munculnya paham sukuisme dan nasionalisme sempit.

Diungkapkan Fathi Yakan[15]:
Sampai saat ini semua peranan bangsa Arab dan Islam hanya berada di pinggiran. Hampir tidak diperhitungkan dalam menghadapi percaturan tatanan Dunia Baru. Perpecahan bangsa Arab dan Islam, tidak adanya proyek Arab atau islam yang berskala internasional, menjadikan semua proyek Arab dan Islam hanya bersifat lokal dan sektarian. … permasalahan palestina, selalu tunduk pada kebijaksanaan politik nasional dan kepentingannya sehingga tidak memiliki dimensi Arab, apalagi dimensi Islam.

3. Fanatisme Mazhab

Bahkan hingga sekarangpun umat Islam masih sering terjebak dengan pembahasan permasalah Mazhab yang notabene adalah permasalahan furu’ (cabang). Yang lebih sering perbedaan ini menimbulkan perpecahan, walau banyak yang mengikuti mazhab dengan taklid bukan ‘ala bashira. Pada kajian-kajian keislaman kemudian juga lebih membahas permasalahan perbedaan mazhab dan seringnya mengarah pada menjelekkan mazhab yang lain. Seolah surga hanya untuk mazhabnya sendiri. Perdebatan qunut dan tidak qunut justru kadang lebih sering dilakukan meski sudah tahu bahwa itu tidak akan selesai kecuali dengan menimbulkan ‘luka’, apalagi permasalahan presiden wanita. Hal ini kemudian menjadikan umat Islam tidak mau bekerja sama untuk menegakkan Islam. Justru lebih senang bergaul dengan orang sekuler atau non Islam. Ini jelas tidak menguntungkan Islam. Padahal perbedaan semacam ini adalah sebuah keniscayaan. Yang harus dilakukan justru adalah berhimpun bukan berpecah-belah.

4. Pluralisme Gerakan

Sebenarnya banyaknya gerakan Islam bisa menjadi suatu sinergi dakwah jika saja semua elemen itu memiki visi bersama dan melakukan gerakan dengan landasan kebersamaan, profesionalisme dan spesifikasi gerakan. Namun karena tidak ada misi bersama, yang terjadi saat ini adalah masing-masing gerakan bekerja nafsi-nafsi yang kadang-kadang overleap sehingga tidak optimal. Bahkan banyak yang bertentangan secara diametral sehingga justru malah menghasilkan resultan yang lebih kecil karena saling melemahkan. Dan malangnya, kadang bukannya fastabiqul khairat malah saling menyikut, saling menyalahkan dan mengkafirkan. Lihatlah bagaimana Salafy begitu sering menghujat Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin, begitu juga sebaliknya. Atau kalau di Indonesia bagaimana NU, Muhammadiyah, dan Persis. Boro-boro untuk maju bersama, malah sibuk dengan mencari kesalahan orang lain?

5. Tingkat Intelektualitas

Keterpurukan ekonomi biasanya memang dibersamai dengan kurangnya intelektual di sana. Kepengarangan ilmiah dari negara-negara Muslim tidak ada yang mencapai 0.3% dari seluruh karya ilmiah dunia. Bahkan jika digabungkan pun jumlahnya juga tidak mencapai 0.5%. dari seluruh dunia yagn menghasilkan 352.000 karya ilmiah, negara-negara Muslim hanya 3.300, sedangkan Israel 6.100 buah.[16]

Yang sangat terkait dengan itu adalah pendidikan. Tingkat pendidikan dunia Islam masih sangat memprihatinkan. Sistem pendidikan dinegara Muslim selama ini adalah sistem yang mengadopsi Barat yang penuh dengan sekulerisme dan menimbulkan keraguan pada umat Islam tentang ajaran agamanya. Disekolah justru para pemuda Islam diasingkan dengan ajaran Islam. Kepala mereka diisi dengan pemikiran-pemikiran Barat. Pemuda Islam tidak diajarkan bagaimana sejarah masa lampau dan kejayaan agamanya. Malah diberikan keraguan terhadap kesempurnaan Islam melalui kebohongan-kebohongan dan membelokan sejarah. Bangsa Barat medirikan institut-institut kebudayaan mereka. Hal ini bertujuan melepaskan pemuda Muslim dari warisan budaya Islam dan mengagungkan apa saja yang berbau Barat. Meremehkan agama dan minder dengan identitas keIslamannya. Mereka yakin bahwa semua yang datang dari Barat adalah sesuatu yang baik dan ideal.[17]

6. Salah persepsi terhadap Ajaran Islam

Dampak lain dari keberhasilan sekulerisasi dan keminderan dengan identitas Islam adalah merosotnya pemahaman Muslim terhadap konsep Islam sendiri. Kesempurnaan (syamil mutakammil) Islam tidak dikenal lagi. Sehingga terjadi kerancuan dan kekaburan makna dan persepsi terhadap ajaran Islam. Tentang Jihad seolah-olah diartikan sebagai perperangan. Seolah Islam disebarkan dan berkembang dengan semboyan ‘Quran ditangan kiri dan pedang ditangan kanan’. Yang ternyata justru menakutkan bagi kaum Muslimin sendiri. Begitu juga dengan konsep dakwah yang seolah berarti seorang yang ceramah kesana kemari sehingga hanya NATO (no action, talk only). Selain itu dakwah seolah otoritasnya ustadz, kyai dan mubaligh saja. Begitu pula kesalahan persepsi tentang penghargaan terhadap kaum wanita, tentang kenegaraan, tentang ilmu pengetahuan juga tentang muamalah seperti jual beli dan riba, hukum waris.

7. Kurangnya komitmen melaksanakan ajaran Islam

“Integritas kultur Islam dan kesatuan way of life Islam terpecah-pecah di dalam diri mereka, di dalam pemikiran dan aksi mereka, di dalam rumah dan keluarga mereka.”. Jauhnya umat Islam dari kehidupan Islami menyebabkan ajaran-ajaran Islam menjadi sesuatu yang aneh justru bagi kaum Muslimin sendiri.

8. Gap antara kaum terpelajar dan kelas bawah

Munculnya kaum intelektual Muslim adalah sebuah kemajuan bagi aset pengembalian peradaban. Namun sayangnya orang-orang intelektual ini masih terlalu melangit. Hanya sibuk dengan diri dan intelektualitasnya saja tanpa memandang kepada permasalahan konkrit yang dihadapi umat saat ini. Terdapat pula diantara kaum intelektual ini orang yang telah sadar akan apa yang menimpa umat Islam dan telah memikirkan pula langkah-langkah yang harus dilakukan. Namun terdapat kegagalan dalam mensosialaisasikan dan mengkomunikasikan hal itu kepada kebanyakan umat. Intelektual ini gagal menyadarkan umat dengan kesadaran yang telah ia peroleh. Sehingga terkesan perjuangan elit, bukan perjuangan umat.

GELIAT ITU MULAI TAMPAK

1. Kelahiran Ikhwanul Muslimin (IM) dan Jama’atul Muslimin

Pada tahun 1928, seorang guru sekolah berusia 22 tahun bernama Hasan al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin, gerakan paling berpengaruh pada abad kedua puluh yang mengarahkan kembali masyarakat muslim ke tatanan Islam murni. Al Banna mengubah mode intelektual elite menjadi gejala popular yang kuat pengaruhnya pada interaksi antara agama dan politik, bukan saja di mesir, namun juga di dunia Arab dan dunia Muslim.[18]

Tujuan ikhwan sebenarnya terbatas pada pembentukan generasi baru kaum beriman yang berpegang pada ajaran Islam yang benar, dimana generasi tersebut akan bekerja untuk membentuk bangunan umat ini dengan shibghah Islamiyah dalam semua aspek kehidupannya. Dan mengembalikan eksistensi khilafah sebagai agenda utama dalam manhajnya. “Kendati demikian, Ikhwanul Muslimin juga menyakini bahwa semua itu membutuhkan banyak persiapan yang harus diwujudkan.”[19]

Abul A’la Maududi adalah figur penting dalam kebangkitan Islam pada dasawarsa-dasawarsa terakhir. Interpretasi Islamnya menjadi fondasi pemikiran kebangkitan Islam kontemporer. Pemikirannya banyak mempengaruhi para pemikir Islam seperti Sayyid Qutb di Mesir sampai aktivis kebangkitan Islam di Aljazair, Iran, Malaysia atau Sudan[20]. Jama’at-I Islami (Partai Islam) berdiri pada 26 Agustus 1941 di Lahore merupakan gerakan religio-politik Islam tertua dari jenisnya[21]. Sejak berdirinya partai ini berjanji akan menciptakan tatanan yang didambakan dialam temporal ini dan mendorong kaum Muslim untuk memulai revolusi Islam, untuk membentuk masyarkata dan politik yang sesuai dengan ajaran agama seperti yang diinterpretasikan maududi[22]. Tujuan jangkan pendek partai ini adalah menjaga kepentingan Islam diarena politik, dan mengupayakan agar kekuatan sekular tidak melakukan konsolidasi kekuasaan. Gerakan lain yang juga dapat dijadikan salah satu bentuk kebangkitan Islam adalah Revolusi Iran dengan Khameini[23]

2. Munculnya tokoh-tokoh intelektual pembaharu Islam

Perlawanan terhadap kondisi terpuruk umat Islam yang paling dikenal adalah perjuangan seorang tokoh Muslim Jamaludi al Afgani (1838/9-1897). Beliau salah satu tokoh yang menyatakan kembali tradisi Muslim dengan cara yang sesuai dengan berbagai problem penting yang muncul akibat Barat semakin mengusik Timur Tengah diabad ke 19. Dengan menolak tradisionalisme murni yang mempertahankan warisan Islam secara tidak kritis disatu pihak dan peniruan membabi buta terhadap Barat di lain pihak. Afgani menjadi perintis penafsiran modern, seperti penggunaan akal, aktivisme politik, serta kekuatan Islam[24].

Al Afghani menyerukan lewat pidatonya seruan anti inggris, yang karenanya ia diusir dari Mesir. Ia juga mendorong pada pengikutnya tahun 1870-an untuk menerbitkan koran yang disana mereka menyebarkan pemikiran mereka. Pemikiran-pemikiran al Afghani ini kemudian banyak ditiru oleh murid-muridnya seperti Muhammad ‘Abduh dan juga Ikhwanul Muslimin.

Muhammad ‘Abduh menyadari kemunduruan masyarakat Muslim bila dikontraskan dengan masyarakt eropa. Menurut analisisnya, kondisi lemah dan terbelakang ini disebabkan oleh hegemoni eropa yang mengancam eksistensi masyarakat Muslim dan juga oleh realitas internal seperti situasi yang diciptakan oleh kaum Muslim sendiri[25].

Mirip dengan yang dikatakan Afghani, ‘Abduh beranggapan bahwa Eropa bagaimanapun harus dilawan karena mereka adalah agresor yang ingin merebut negeri bangsa lain. Orang mesir menderita karena tidak membedakan mana yang menipu dan mana yang tulus, mana yang benar dan mana yang berdusta. Untuk memulai pembaruan, menurut Muh ‘Abduh kita perlu kembali kepada pokok-pokok iman yang dipandang sebagai Islam yang sebenarnya oleh berbagai mazhab, berbagai kelompok. Dia menyerukan agar digunakan tradisi yang terbaik dan agar taklid buta dikutuk, karena merintangi kemajuan. ‘Abduh membuat tafsir al Quran, karena baginya prinsip yang menjadi dasar dari kebangkitan bangsa merupakan kepercayaan pokok bahwa risalah al Quran bersifat universal dan meliputi segalanya. Beliau juga concent dengan isu pendidikan dengan mengkritik sekolah modern yang didirikan oleh misionaris asing dan juga mengkritik sekolah yang didirkan pemerintah. “Katanya, disekoah misionaris siswa dipaksa mempelajari Kristen sedangkan di sekolah pemerintah siswa tidak diajar agama sama sekali.”[26] Nama-nama lain yang kemudian muncul adalah Sayyid Quthb dan Ali Syariati.

3. Lahirnya para aktivis dakwah yang mentransformasikan nilai Islam kedalam masyarakat secara langsung

Kelahiran perlawanan terhadap usaha Yahudi untuk menguasai Palestina yang kemudian dikenal dengan Hamas dan intifadhah adalah juga merupakan wujud kesadaran realitas. Mereka dengan kemampuan seadanya berusaha dengan banyak cara selain untuk menghancurkan musuh juga menyadarkan masyarakat dunia akan penderitaan Muslim di sana.[27] Di Turki fenomena kebangkitan Islam terwujud dalam semakin bersaingnya para pelaku ekonomi Islam yang menggunakan syariat Islam, dan kemudian eksisnya partai Politik Islam Reefah yang sempat memenangkan pemilu meskipun kemudian militer-sekuler menurunkannya. Begitu pula dengn FIS di Aljazair merupakan perwujudan semakin banyaknya kelompok Islam yang mencoba mentransformasikan nilai-nilai keislaman kedalam realitasnya masing-masing.

Di Indonesia sendiri, fenomena mulai bangkitnya kesadaran umat ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh cendikiawan Muslim, Hidayat Nurwachid dan Amien Rais adalah salah dua contohnya. Begitu pula dengan kelahiran ICMI diawal 80-an dianggap sebagai wujud semakin diseganinya kaum Muslimin Indonesia. Dan terakhir kemunculan partai partai Islam dalam pemilu 1999, meski saat ini belum memberikan signifikansi yang besar.

Dalam taraf internasional muncul pula tokoh-tokoh Muslim yang dikenal tidak cuma karena gagasannya terhadap Islam, tapi juga tidak sedikit karena keahlian dan profesionalitasnya di bidang masing-masing. Sebut saja Ismail Raji al Faruqi, Ziauddin Sardar, Syed Hossein Nasr, Fazlur Rahman dan Abdus Salam. Bahkan yang terakhir ini juga meraih nobel fisika. Penokohan dibarengi pula denga munculnya pusat-pusat kajian Islam dan perkumpulan/organisasi Muslim, The International Institute of Islamic Thought (IIIT), World Assembly of Muslim Youth (WAMY), Islamic Federation of Student Organizations, National Hijrah Committee. Belum lagi penerbitan dan jurnal yang terkait dengan studi-studi keIslaman yang begitu banyak. Yang dengan teknologi juga dengan mudah didapatkan situs-situs Islam di internet.

- Diskusi-diskusi dikalangan intelektual Muslim juga dihiasi dengan ide-ide besar seperti Islamisasi ilmu pengetahuan, dan upaya konteksualisasi ajaran Islam dengan mengkomparasikannya dengan konsepsi Barat seperti demokrasi, gender, sistem perekonomian, parlemen, perbankan dll. Semuanya dengan kesadaran bersama bahwa hal tersebut dalam rangka membentuk peradaban Islam.

- Maraknya gerakan back to Islam, seperti jilbab, pengkajian Islam (Tekstual maupun kontekstual), bank syariah, sufi modern. Dan yang sangat serius dalam hal ini lebih banyak kaum muda Muslim. Kesadaran, pemahaman dan ghirah berIslam ini menjadikan mereka memiliki kebanggaan Islam dan izzah yang tinggi. Dan yang tidak kalah menonjolnya adlah upaya pembuktian konkrit akan keunggulan Islam sperti menjalanlan sistem perbankan syariah dan telah terbukti dibeberapa tempat lebih baik dan menguntungkan seperti Malaysia, kepartaian seperti di turki dan aljazair. Karena memang saat ini umat membutuhkan bukti, tidak sekedar janji-janji dan impian serta romantisme masa lalu.

MENUJU PERADABAN ISLAM, SOLUSI ALTERNATIF

Sampai dengan tercapainya cita-cita membentuk peradaban Islam membutuhkan waktu yang lama, bahkan beberapa generasi. Namun bagaimanapun hal itu harus dimulai sejak sekarang. Dan selain waktu yang lama juga dibutuhkan pemikiran yang mendalam dan intelektual muslim yang berkualitas. Karenanya upaya ini harus senantiasa dikontinukan dan harus ada pewarisan ide dan langkah kerja.

Merekayasa pekerjaan untuk membangun kembali peradaban Muslim membutuhkan perumusan baru dalam pendekatan terhadapa Islam sebagai peradaban. Hanya dnegna mendekati Islam sebagai peradaban masa depan, kita bisa sungguh-sungguh berbuat adil kepad dien Islam. Lebih dari itu rekonstruksi peradaban Muslim, secara esensi merupakan suatu proses elaborasi pangadngan dunia Islam. Ia adalah proses pemberian format dan sekaligus transformasi terus-menerus untuk mengubah fakta-fakta menjadi nilai-nilai; aksi-aksi menjadi tujuan-tujuan; dan harapan-harapan menjadi kenyataan-kenyataan.[28]

Untuk mencapai tujuan bersama peradaban Islam, sekiranya ada beberapa hal-hal penting sebagai piranti utama dari peradaban itu.

Islamisasi Pengetahuan

Pada era modern saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan sudah sangat pesat. Namun diakui bahwa itu semua dikembangkan sangat banyak oleh orang Barat, bukan kaum muslimin. Ilmu pengetahuan seolah menjadi senjata yang sangat ampuh untuk menaklukkan alam semesta. Begitu strategis peran ilmu pengetahuan ini. Para intelektual muslim mulai menyadari hal tersebut dan muncullah kemudian upaya islamisasi pengetahuan. “karena pilar peradaban modern adalah ilmu pengetahuan maka sejumlah pemikir merasa sangat berkepentingan untuk menelaah kembali ilmu pegetahuansecara kritis. Para pemikir memandang strategis untuk memberi prioritas yang besar dan utama terhadap pengembangan ilmu demi memcahkan problem diatas. Kalangan ilmuan Muslim mersaperlu melakukan revitalisasi peradaban (c.q. ilmu pengetahuan) dengancara langkah: Islamisasi ilmu”[29]. Gagasan Islamisasi ini dipelopri oleh Islamil Raji al Faruqi dengan lontaran gagasannya melalui Islamization of Knowledge dalam The First International conference of Islamic Thought dan Islmization of Knoledge (Islamabad, 1982). Ia juga mendirikan The International Institute of Islamic Thought (1981) di Washington.

Mengenai pemaknaan Islamisasi pengetahuan sampai sekarang masih dalam perdebatan, tokoh-tokoh yang memiliki pandangan yang berbeda tentang Islamisasi pengetahuan ini dapat diwakili oleh Islamil Raji al Faruqi, Ziauddin sardar, Pervez Hoodbhoy, Fazlur Rahman.

Al Faruqi menyatakan bahwa pengetahuan modern menyebabkan adanya pertentangan wahyu dan akan dlam diri umat Islam, memisahkan pemikiran dari aksi, serta adanya dualisme kultural dan religius. Karena itu diperlukan Islamisasi ilmu dan upaya itu haurs beranjak dari tahudi. Ilm pengetahuan Islami selalu menekankan adanay kesatuan alam semesta, kesatuan kebenaran dan pengetahuan serta kesatuan hidup[30]

Fazlur Rahman penanggapi ide ini dengan pendapat yang berbeda. Rahman berpendapat bahwa kita tidak perlu melakukan Islamisasi ilmu. Yang perlu kita lakukan adlah menciptakan atau menghasilkan para pemikir yang memiliki kapasitas berpikir konstruktif dan positif. Tampaknya Rahman sangat mementingkan untuk menghasilkna manusia manusia-manusia yang mempunyai kapasitas keilmuan yang cukup baik dan dengan begitu sacarakotamatis akan dihasilkan manusia yang mampu menghasilkan karya secara nyata. Ziauddin Sardar juga sepakan dengan usualan Al Faruqi meski berbeda mengenai langkah-langkahnya. Menurut sardar langkah yang harus dilakukan adlah dengan membangun pandangan dunia (world view) Islam dengan titik pijak utama membangaun epistemologi Islam. Sardar justru menghawatirkan dengan langkah Al Faruqi malah adalah westernisasi Islam, bukan Islamisasi pengetahuan.

Al Faruqi sendiri mengusulkan 12 langkah utnuk Islamisasi ilmu yakni (1) penguasaan disiplin ilmu pengetahuan modern, (2). survei disiplin ilmu, (3). penguasaan khazanah Islam: sebuah Ontologi, (4). penguasaan khazanah ilmiah Islam: sebuah sintesa, (5) penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu, (6). penilaian kritis terhadap ilmu modern, 7 penilaian kritis terhadap khazanah Islam, (8). survei permasalahanyang dihadapai umat Islam, (9) survei permasalahan yang dihadapi umat manusia, (10) analisis kreatif dan sintesis, (11) penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam dan (12) penyebarluasan ilmu yang telah diIslamisasikan itu.

Pandangan berbeda dikemukakan oleh Dr. Thaha Jabir al alwani, beliau menganggap yang diperlukan pada ilmu pengetahuan saat ini adalah taujih (pengarahan) sehingga sasaran dan tujuan ilmu-ilmu itu diarahkan dengan arahan yang Islami.

Misalnya semua ilmu pengetahaun dan persoalan pemikiran yang berkaitan dengan objek-objek ilmu alam fenomena, sifat materi, karakteristik dsb. adalah temasuk masalah bersama antara kita dan seluruh umat manusia. Metodenya terlihat jelas dengan sifat kenetralan yang bersifata ilmiah; karena masalah ilmu alam didasarkan atas eksperimen yang dapat dilihat dan dirasakan denga kehidupan materi.”[31]

Apapun cara dan langkah serta pemahaman tentang Islamisasi ilmu pengetahuan, yang jelas yang diinginkan bersama adalah bahwa umat Islam dapat menguasai ilmu pengetahuan sehingga dengan itu dapat lebih mensejahterakan umat dan menggunakan ilmu pengetahuan untuk kepentingan kebaikan dan kebahagian umat manusia. Dan dengan ilmu pengetahuan dapat lebih mendekatkan manusia kepada penciptanya dan lebih mengetahui tentang hakikat alam semesta, termasuk dirinya. “Ilmu pengetahuan adalah hikmah yang hilang dari umat Islam, oleh karena itu umat Islam harus mengambilnya dimanapun ditemukan”.

Konsekuensi dari penguasaan ilmu pengetahuan adalah penguasaan teknologi. Hal ini sangat membantu umat Islam dalam upaya mensejahterkan umat Islam. Tanpa struktur pengetahuan yang baik, teknologi tidak bisa dikuasai secara penuh, pengalaman dibeberapa negara yang hanya mengcopy paste teknology bangsa lain hanyalah menghasilkan teknologi yang senantiasa bergantung pada orang lain. Sedangkan pengembangan teknologi sendiri berhenti karena tidak punya landasan keilmuan. Sehingga senantiasa menjadi pengguna teknologi, bukan pengembang dan senantiasa tertinggal dari negara lain. Kondisi Negara Muslim saat ini masih sangat rendah penguasaan teknologinya. Hal ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Tapi hal ini menjadi landasan bagi kemandirian negara Muslim.

Intelektualitas muslim tidak cuma diartikan dengan munculnya muslim berkualitas tinggi. Tapi juga membutuhkan kuantitas yang tidak sedikit. Kuantitas intelektual ini terkait pada lapangan kerja dan tenaga ahli. Kurangnya tenaga ahli muslim terkadang memaksa untuk tetap saja mengimpor sumber daya dari luar sedangkan orang pribumi hanyalah buruh kelas rendah dengan gaji yang rendah pula.

Kemandirian ekonomi negara Muslim

Kemandirian ekonomi negara Muslim adalah hal yang seharusnya dijadikan hal penting. Meski saat ini kondisi perekonomian hampir disemua negara Muslim dalam kondisi memprihatinkan, namun basis-basis bagi kemandirian itu harus ditanamkan dengan kokoh. Selain iptek yang tak kalah penting adalah pertanian mengarah pada swasembada, kemudian usaha-usaha bagi pemenuhan kebutuhan primer masyarakat[32]. Hal terakhir ini sangat penting dalam kemandirian dan independensi negara-negara Muslim. Kita mana mungkin bisa lantang menyuarakan kebenaran jika itu terkait dan dapat menyinggung perasaan negara donor atau negara tempat mengimpor bahan pokok. Selain itu pembangunan yang butuh banyak dana dapat dilakukan dengan kebersamaan sesama negara Muslim. Meski uang negara muslim tidak sebanyak IMF atau World Bank. Tapi hal ini akan menjamin independensi dan semangat kemandirian negara muslim.

Tugas yang tak kalah penting dan mendesak adalah membentuk pribadi-pribadi yang memiliki loyalitas yang tinggi kepada Islam yang berlandaskan atas pengetahuan (‘ala Bashira) yang utuh terhadap ajaran Islam. Pembentukan syakhsiyah islamiyah ini harus dilakkan secara terus menerus dengan intens, karena pribadi-pribadi inilah yang akan mengisi, bekerja dan berjuang membangun peradaban muslim. Kepribadian yang dimaksud adalah juga melingkupi pola fikir dan tingkah laku yang mencerminkan pelaksanaan nilai-nilai keislaman secara kaaffah. Dari pribadi-pribadi Islam akan terbentuk keluarga yang islami yang membina keluarganya secara islami dan melahirkan kader dakwah, dari keluarga ini akan tercipta masyarakat yang islami dan kemudian akan membentuk kebudayaan Islam dan pada muaranya akan tercipta peradaban Islam.

Menjadi orang yang tercerahkan (dapat menyatu dengan masyarakat menghilangkan gap intelek non intelek). Dr Ali Syari’ati menyatakan bahwa seorang intelektual haruslah mampu mengkomunikasikan ide dan keintelektualannya kepada masyarakat, yang dengan itu ia lebih mudah membangun masyarakatnya. Beliau menyebut orang-orang seperti ini dengan sebutan orang-orang yang tercerahkan.

Siapakah orang yang tercerahkan itu? Pendeknya, orang yang tercerahkan adalah iorang yang sadar akan ‘keadaan kemanusiaan’ (human condition) di masanya, serta setting kesejarahnnya dan kemasyarakatnnya. Kesadaran semacam ini dengan sendirinya akan memberinya rasa tanggung jawab sosial. Jika kebetulan ia termasuk kalangan terpelajar, maka ia akan lebih berpengaruh; dan jika tidak, maka kurang pula pengaruhnya.[33]

Mereka bertujuan untuk memberikan kepada ummatnya suatu keyakainan bersama yang dinamis yang membantu mereka untuk menacaapai kesadaran diri dan merumuskan cita-cita mereka. Dengan demikian maka intelektual adalah bukan sekelompok elit seperti menara gading yang bercerita dan berangan-angan tentang peadaban Islam namun gagal mentransformasikan hal itu kedalam masyarakat dalam bentuk-bentuk yang nyata. Termasuk diantaranya adalah organisasi gerakan Islam. Organisasi maupun LSM muslim harus mampu membumi dan menyatu dengan rakyat sehingga gagasan yang muncul bisa dengan cepat tertransfer kedalam masyarakat Islam. Gerakan Islam bukanlah semata gerakan elit[34].

Membentuk jaringan dan kerjasama antar gerakan dan elemen organisasi Islam. Lembaga, pusat studi dan kajian serta ormas Islam harus memiliki jaringan yang kuat dan luas sehingga informasi dan ukhuwah dapat senantiasa terbina. Dari sana kemudian gagasan kemajuan Islam dapat disintesiskan dan kerja serta gerakan dapat disinergiskan sehingga dakwah bisa lebih optimal. Dari sana kemudian dapat senantiasa dilakukan kerjasama (lokal, nasional dan internasional) sehingga pengaruh bisa lebih besar lagi. OKI seharusnya bisa lebih diberdayakan utnuk lebih mengoptimalkan gerakan Islam internasional.

Dengan bekal jaringan dan kerja sama global ini dapat dilakukan upaya-upaya nyata pembumian ajaran Islam dengan mempraktikkan ajaran Islam secara utuh, tanpa adaptasi produk sekuler. Pendirian bank syariah misalnya dapat dilakukan dengan kerjasama global dunia Islam sehingga bisa lebih berpengaruh. Begitu pula sistem perdagangan. Dan dengan mempraktekkan secara nyata ini juga sarana untuk membuktikan kepada seluruh manusia akan keunggulan ajaran Islam. Umat Islam harus mampu membuktikan bahwa bank syariah dan sistem perdagangan Islam lebih unggul, menguntungkan dan profesional, melalui persaingan secara sehat dengan sistem kapitalisme.

Konsentrasi memperbaiki pendidikan juga menghapus sekulerisasi dari akar-akarnya. Islamisasi ilmu juga harus pula dibarengi dengan upaya memperbaiki kebobrakan sistem pendidikan. Hal ini mutlak dilakukan karena dari pendidikan inilah generasi muda dibentu. Semua tokoh pembaharu dan penyokong gagasan islamisasi sains sepakat bahwa perbaikansistem pendidikan adalah hal yang urgen bagi terbentuknya peradaban Islam. Bahkan Sardar menulis bab khusus bertajuk “merumuskan kembali konsep universitas Islam”. Bagaimanapun sistem pendidikan masih didominasi oleh pemikiran sekulerisasi. Oleh karena itu perlu usaha keras untuk melakukan perbaikan sistem.

Ukhuwah Islamiyah, bagaimana menghapuskan perselisihan panjang antar negara Muslim. Jika itu menyangkuy egoisme, nasionalisme sempit kesukuan, maka persatuan umat Islam tidak akan terwujud. Yang harus dibangun adalah kesadaran bahwa umat Islam saat ini tengah dalam kondisi terpuruk, oleh karenanya umat Islam harus berupaya menegakkan kembali izzah Islam dan hal itu membutuhkan banyak energi, oleh karenanya sangat dibutuhkan persatuan dan persaudaraan dikalangan umat Islam sehingga dapat dibentuk sinergi. Sehingga negara-negara muslim juga harus berupaya bekerja sama dalam banyak bidang yang itu dapat lebih mengoptimalkan usaha mengembalikan kejayaan Islam.

Tentu saja bahwa selalu ada saja berbedaan diantara kaum muslimin, baik itu suku, negara, mazhab dll, namun hendaklah kita bekerjasama dalam hal yang disepakati dan bertoleransi dalam hal yang berbeda. Karenanya tidak ada saling jegal dan menjatuhkan antar negara muslim sendiri.

Tindak lanjut dari adanya kesatuan dan kekeluargaan itu adalah harus ada upaya memunculkan kesadaran akan urgensi gerakan yang kontinu dan kebangkitan kolektif umat itslam. Karenanya forum-forum yang menghubungkan negara-negara muslim seperti OKI harus betul-betul mampu membangun visi bersama umat Islam dan menjaga stamina gerakan persatuan dan persaudaraan.

Perlu pula mengembangkan gerakan dan organisasi dakwah berskala internasional yang dalam pengelolaan dan strukturnya tidak serumit membangaun pola hubungan negara-negara. Gerakan atau oragnaisasi ini lebih mudah untuk menyatukan visi dan fikrah dakwah dari anggotanya meskipun lintas negara. Hal ini akan lebih dapat menyatukan umat Islam dalam persaudaraan dan kasih sayang. Telah ada gerakan dakwah internasional seperti Hizbut Tahrir, Salafy, Ikhwanul Muslimin, Tabligh dll. Gerakan seperti ini relatif lebih mampu membangun solidaritas dikalangan muslim, membangun perasaan senasip meski beda negara, bahkan perhatian yang besar terhadap kondisi, penderitaan dan perkembangan muslim ditempat lain. Dan gerakan semacam ini tidak akan terkendala dengan faham nasionalisme sempit. Pemahaman gerakan ini terhadap nasionalisme adalah dimana ada kaum muslimin, itulah tanah air Islam. Baik organisasi pergerakan maupun negara muslim memang harus memiliki misi besar dan bersama yakni menegakkan peradaban Islam dan penegakan syumuliatul Islam serta mewujudkan daulah Islamiyah ‘alamiyah. Negara maupun

PENUTUP

Demikianlah, bahwa dengan kondisi yang terjadi denganumat Islam saat ini, permasalahannya yang kompleks tidak boleh menjadikan umat berputus asa, malah hal ini menjadi tantangan besar bagi umat, khususnya intelektual muslim untuk mengupayakan tercipanya kesadaran bersama dan usaha-usaha berbaikan yang sinergi antar seluruh elemen muslim. Dan hanya dengan bersungguh-sungguh sajalah langkah-langkah menuju terbentuknya peradaban Islam dan pengembalian kejayaan Islam itu dapat terwujud.

REFERENSI

[1] Isma’il Raji al Faruqi, Islamisasi Pengetahuan, Pustaka, Bandung, 1995

[2] Fathi Yakan, Globalisasi Telaah dan Peran Islam Terhadap Tatanan Dunia Baru. Pustaka Progresif, Surabaya, 1993

[3] Nabil bin Abdurrahman al Muhaisy, Virus Fikrah: Melemahkan Ketahanan Ummat”, WALA Press, Jakarta, 1994.. Untuk tulisan yang khusus membahas tentang Ghazwul fikri ini lengkap dengan target, penguasaan dll lihat Dr Abdul Shabur Marzuq, Ghazwul Fikri Invasi Pemikiran,

[4] Prof. Abdul Rahman H Habanakah, Metode Merusak Akhlak dari Barat, GIP 1995

[5] Dalam buku R Garaudy. “Zionis Sebuah Gerakan Agama dan Politik, GIP, Jakarta, 1995 dibahas dengan tuntas sepak terjang Yahudi.. Buku lain yang juga mengungkap Zionis selain endnote 3 adalah Ghazi Bin Muhammad Al Qarni, Menyingkap Konspirasi Kejahatan Yahudi. CIP, 1997. Buku ini mengungkap Yahudi dan zionis lebih banyak mengacu pada tabiat utamanya yang ada di Al Quran dan Injil. Juga mengungkap tentang Zionist Sages Protocols, kitab undang-undang Yahudi. Endnote 1 juga membahas zionis (hal 31-42)

[6] Nabil, op. cit.

[7] Di buku virus fikrah dikutipkan pula perkataan samuel Zuwaimer ketua konferensi kristenisasi di Yerussalem tentang hal ini. (hal 24)

[8] M Natsir, Capita Selecta, Bulan Bintang, Jakarta, 1973.

[9] Ali Syari’ati, Membangun Masa Depan Islam. Mizan, Bandung, 1989

[10] Dalam buku prosiding simposium Islamisasi Sains (diselenggarakan di Indonesia … LUPA) terdapat sebuah makalah yang didalamnya ada bab khusus mengenai imperialisme epistemologi

[11] Hasan al Banna menulis artikel khusus “Tirani Materialisme di Negara-negara Muslim”. Dalam rangkaian buku Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan, Intermedia, Solo, 1998

[12] Buku terbaru Suharsono et al, Pola Transformasi Islam: Refleksi atas Sistematika Nuzulnya Wahyu, Inisiasi Press, 1999

[13] Beliau menuliskannya dalam Abdullah Azzam, Pelita yang Hilang, Pustaka Al Alaq, Solo, 1993. Diceritakan keruntuhan Khilafah Islamiyah dan banyak mengangkat Perjalanan hidup dan siap sebenarnya Mustafa Kemal sampai dengan kematiannya.

[14] Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan 2, Intermedia, Solo, 1998 diceritakan tentang Ikhwanul Muslimin diawal berdirinya dengan pengungkapan tujuan, cara dan sikapnya terhadap apa yang terjadi pada umat.

[15] Dalam Fathi Yakan op. cit. juga dituliskan tentang dimana posisi umat Islam dalam tatanan dunia baru.

[16] Pervez Hoodbhoy, Sains dan Islam: Usaha Memenangkan Rasionalitas, , 1973. Beliau memasukkan banyak data-data tahun 1983 tentang kondisi intelektualitas Negara Muslim dan dibandingkan dengan seluruh dunia

[17] Lihat Ismail Raji al Faruqi op.cit. ditambahkan sebuah permasalahan lagi, yakni tidak adanya ketajaman wawasan (vision). “Itulah sebabnya selama hampir 2 abad dengan sistem pendidikan sekular barat, kaum Muslimin tidak menghasilkan sesuatu pun juga yang sebanding kreativitas atau kehebatan barat”.

[18] David Commins, “Hasan al Banna”, dalam Ali Rahnema ed., Para Perintis Zaman Baru Islam, Mizan, Bandung, 1996

[19] Hasan Al Banna op. cit. hal 311. Selain buku tersebut sebenarnya sangat banyak buku yang membicarakan Ikhwanul Muslimin, baik yang memuji maupun mencela.

[20] John L Esposito, Ancaman Islam: Mitos atau Realitas, Mizan, Bandung 1994 menuliskan dampak pemikiran Maududi pada gerakan Islam di dunia Arab, Afghanistan, Iran dan Malaysia.

[21] Ibid (lagi) hal 115. buku lain yang menceritakan tentang sepakterjang al Maududi dan Jama’ati Islami adalah “Upaya Al Maududi Memurnikan Ajaran Islam” (LUPA)

[22] Buku tentang Al Maududi lain yang membicarakan tentang negara adalah (kalo’ tidak salah judul) Islam dan Negara Pemikiran al Maududi, GIP 1995/6

[23] Dalam Ali Rahnema op. cit. juga dibahas nama Khomeini. Dan dalam buku-buku terbitan Mizan juga cukup banyak tentang Khomeini, Iran dan Syi’ah.

[24] Ali Rahnema op. cit.. dan HAMKA, Said Jamaluddin al Afghani, Bulan Bintang, Jakarta, 1981

[25] Ibid., hal 53

[26] Ibid., hal 59

[27] Ahmad Izzudin, Hamas dan Intifhadhah, GIP, Jakarta, 1993

[28] Ziauddin Sardar mengambil kutipan ini dari ‘Reconstructing the Muslim Civilization’, Afkar Inquiry 1984. dalam Ziauddin Sardar, Jihad Intelektual, Risalah Gusti, Surabaya, 1998. Sardar juga menggambarkan peradaban Muslim dengan skema berbentuk bunga, meliputi 7 bidang dalam pusat bunga, lingkaran konsentris dan daun primer

[29] Dr. Djamaludin Ancok dan Fuat Nashori Suroso, Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1994

[30] Pemikiran Islamisasi pengetahuan Raji al Faruqi dapat ditelaah Ismail Raji al Faruqi juga makalahnya dalam Internasional Conference of Islamic Thougt and Islamizations of Knowledge.

[31]Thaha Jabir al ‘Alwani, Krisis Pemikiran Modern: Diagnosisi dan Resep Pengobatan,. LKPSI, Jakarta, 1989

[32] Pervez hoodbhoy, op. cit., menunjukkan bagaimana negara-negara Muslim masih sangat tergantung pada negara barat dalam pemenuhan kebutuhan pokok.

[33] Dr. Ali Syari’ati, op. cit.

[34] Fathi Yakan, op. cit., juga dibahas tentang gerakan elit dan beberapa kelemahannya.

[35] Ilustrasi gambar dari berbagai sumber (Inet)

http://hermawaneriadi.com