harunha

Prof. Dr. Harun Nasution

Oleh: Dr. Adian Husaini

JURNAL pemikiran Islam Islamia-Republika,edisi Kamis (21 Maret 2013), menampilkan sosok dan pemikiran seorang ulama muda dari Padang, Sumatera Barat, bernama Dr. Eka Putra Wirman. Tulisan itu diberi judul: “Dr. Eka Putra Wirman MA: “Membongkar Mitos Harun Nasution”.  Diungkapkan, bahwa Dr. Eka Putra telah berhasil menemukan kekeliruan pemikiran Harun Nasution dalam membaca corak teologi Muhammad Abduh.

Kesimpulan Harun Nasution yang bertahan selama puluhan tahun, bahwa teologi Abduh bercorak Mu’tazilah, dipatahkan oleh Eka Putra melalui penelitian yang serius terhadap Kitab Hasyiah karya Muhammad Abduh. Hasilnya, ternyata Muhammad Abduh bukanlah penganut Mu’tazilah – sebagaimana diklaim Harun Nasution selama ini –  tetapi justru merupakan tokoh pelanjut paham Ahlus Sunnah wal-Jamaah.

Muhammad Abduh dikenal sebagai pemikir dan tokoh pembaru di Mesir yang bersama muridnya, Rasyid Ridho, menulis Tafsir al-Manar. Ketokohannya dikenal luas di dunia, termasuk di Indonesia. Dengan mencantolkan paham Mu’tazilah pada Muhammad Abduh, Harun Nasution memiliki pijakan yang kuat untuk menanamkan paham Mu’tazilah dan liberal di Perguruan Tinggi, dan kemudian meluas ke masyarakat melalui para lulusannya.

Setelah era Prof. Dr. HM Rasjidi, di tahun 1970-an, tidak banyak ilmuwan dan akademisi Muslim di Perguruan Tinggi Islam Indonesia yang secara terbuka, ilmiah, dan sistematis mengkritisi pemikiran Prof. Harun Nasution — sosok yang oleh banyak orang dianggap sebagai pelopor pembaruan studi Islam di Indonesia. Sebagian lagi bahkan sudah mengkultuskan Prof. Harun dan tidak menyoal berbagai pemikirannya.

Dari sedikit orang yang kritis itulah, nama Dr. Eka Putra Wirman terbilang sangat menonjol. Dosen Teologi Islam di IAIN Imam Bonjol Padang ini sudah menulis sejumlah artikel, makalah, dan buku ilmiah yang “mengupas” dan meluruskan pemikiran Harun Nasution.

Menurut Dr. Eka, usaha Harun Nasution selama berpuluh tahun dalam mempromosikan paham Mu’tazilah dan menggusur Ahlussunnah wal-Jamaah telah berdampak buruk.  Mitos Mu’tazilah sebagai pembawa kemajuan umat Islam sangatlah keliru.  Apalagi, kata Dr. Eka, Harun Nasution mencatut nama besar Muhammad Abduh dalam mempromosikan teologi Mu’tazilah. Disertasi Harun Nasution di McGill University, yang menyimpulkan bahwa Muhammad Abduh adalah penganut Mu’tazilah , dikritik keras oleh Eka Putra. Apalagi, Harun Nasution dikenal dengan pernyataannya, bahwa Muhammad Abduh lebih Mu’tazilah daripada Mu’tazilah itu sendiri.

Dr. Eka Putra tidak main-main. Ia melakukan kajian serius terhadap Kitab Hasyiah karya Muhammad Abduh. Hasilnya ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul Kesaksian Hasyiah terhadap Teologi Muhammad Abduh (Padang: Puslit Press IAIN Imam Bonjol Padang, 2011).

Dalam buku setebal 187 halaman ini, Dr. Eka menyimpulkan: “Buku Hasyiah menjadi saksi bahwa Abduh adalah pengikut setia al-Asy’ari dan berusaha menjelaskan secara rasional-filosofis gagasan-gagasan teologis yang diungkapkan oleh al-Asy’ari. Pembacaan yang serius terhadap buku ini dengan mudah mementahkan pendapat beberapa penulis teologi di Indonesia bahwa Abduh adalah pengikut aliran Mu’tazilah, atau lebih dekat kepada pemikiran Mu’tazilah, apalagi lebih Mu’tazilah dari Mu’tazilah.”

Eka mengibaratkan posisi Abduh dengan Imam al-Asya’ri seperti Ibnu Rusyd dengan Aristoteles di bidang filsafat. Abduh dan Ibnu Rusyd berperan sebagai penyambung lidah yang “jujur” (lisan al-shidq)  dari tokoh yang diikuti dan diidolakannya. “Jadi selama ini, karena terlalu dikultuskan, pendapat Pak Harun Nasution diikuti saja oleh banyak akademisi,” ujar Eka.

Saat ditanya, mengapa kekeliruan itu seolah-olah dibiarkan saja selama puluhan tahun, Dr. Eka menjawab:  “Saya yakin, banyak pengagum Pak Harun yang tidak membaca Hasyiah.  Membaca pun belum tentu paham, karena tidak mudah memahami kitab-kitab dalam teologi.”

Kitab Hasyiah karya Muhammad Abduh, menurut Eka, merupakan bukti nyata bahwa Muhammad Abduh sama sekali bukan penganut Mu’tazilah.  Kitab ini justru mengkritik secara tajam aliran Mu’tazilah. Bahkan, dikatakan Abduh, Mu’tazilah adalah golongan yang “al-mahjubun” (terhalang dari kebenaran).  “Kitab ini mengangkat pemahaman Ahlus Sunnah wal-Jamaah yang dikemas dengan rasionalitas yang tinggi,” tambahnya.  Untuk itulah, kini Eka Putra, sedang menyiapkan buku yang lebih serius dan komprehensif  yang ia beri judul “Restorasi Teologi: Meluruskan Pemikiran Harun Nasution.”

Dalam pengataman Eka, sekarang banyak akademisi pengikut Harun yang mengalami keterpecahan antara pemikiran dan perbuatan. Secara pemikiran ia Mu’tazilah, karena menganggap Allah tidak campur tangan lagi dalam urusan kehidupan manusia. Tapi, pada sisi lain, dia juga beramal secara Ahlussunnah, karena berdoa meminta pertolongan Allah. Itu artinya ia mengundang campur tangan Tuhan yang bertentangan dengan kepercayaan Mu’tazilah.  “Jadi tampak lucu. Pemikirannya ikut Harun Nasution, amalnya ikut Ahlussunnah,” kata Eka, alumnus Pesantren Gontor  yang menyelesaikan program doktornya di Qarawiyin University Maroko (2003).

****

Prof. Dr. Harun Nasution selama ini dikenal sebagai penyebar kuat paham Mu’tazilah. Tahun 2008, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, menerbitkan buku berjudul ”Paradigma Baru Pendidikan Islam”.

Peran Harun Nasution dalam studi Islam ditulis sebagai berikut: ”Harun Nasution mengusung pembaruan pemikiran keislaman. Dia mengenalkan multi pendekatan dan memperjuangkannya dengan sangat konsisten. Pengaruh  pemikirannya sangat kuat di kalangan IAIN dan STAIN seluruh Indonesia dan masih dirasakan sampai sekarang.” (hal. 7)

Ditulis dalam buku ini, bahwa pembaruan Islam perlu dilakukan, karena yang menjadi masalah umat Islam Indonesia adalah bahwa sampai saat ini adalah kurang berkembangnya pandangan pluralistik atau penghargaan atas perbedaan di kalangan umat. Pada zaman Harun, pengajaran keagamaan sangat normatif dan terpaku pada salah satu paham atau aliran pemikiran, atau bahkan kelompok atau pemikiran orang tertentu dan sangat fiqih oriented. Model pendidikan yang seperti itu dapat dipastikan akan menghasilkan lulusan yang mempunyai pemahaman dan pemaknaan agama yang sempit. ”Dampak negatifnya adalah kemungkinan munculnya pemahaman yang melihat segala hal yang berbeda dengan paham tersebut sebagai salah, menyimpang dan bahkan sesat.” (hal. 8).

Untuk melakukan pembaruan pemikiran Islam di IAIN, Harun Nasution mencari akar pembenarannya dalam teologi rasional ala Mu’tazilah dan mengenalkannya kepada masyarakat lewat buku dan pengajarannya di IAIN dan program pascasarjana IAIN Jakarta. ”Selama menjadi rektor (1973-1984) dan setelahnya sampai tahun 1990-an sebagai Direktur pada program studi lanjutan pertama yang dibuka di IAIN Jakarta, Nasution mengembangkan pemikiran Islam rasional dan menjadikan program S1 dan pasca sarjana IAIN Jakarta sebagai agen pembaharuan pemikiran dalam Islam dan tempat penyemaian gagasan-gagasan keislaman yang baru.” (hal. 8).

Begitulah penjelasan tentang kiprah Harun Nasution dalam buku terbitan Departemen Agama tersebut.

Pada tahun 1972, Harun Nasution menerbitkan bukunya yang berjudul: Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah, Analisa Perbandingan, (Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, 1972).  Buku ini secara tegas menyatakan, bahwa paham Mu’tazilah – yang dikatakannya sebagai Teologi Liberal — harus dikembangkan, karena akan mebawa kemajuan. Sebaliknya, paham Ahlussunnah harus disingkirkan, karena tidak membawa kemajuan. Bisa kita simak ungkapan Harun Nasution  dalam buku tersebut:

“Teolog-teolog yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kuat memberi interpretasi yang liberal tentang teks ayat-ayat Qur’an dan Hadis. Dengan demikian, timbullah teologi liberal seperti yang terdapat dalam aliran Mu’tazilah. Teolog-teolog yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang lemah memberikan inyterpretasi harfi atau dekat dengan arti harfi dari teks Qur’an dan Hadis. Sikap demikian menimbulkan teologi tradisional sebagai yang ada dalam aliran Asy’ariyah.

Teologi liberal menghasilkan faham dan pandangan liberal tentang ajaran-ajaran Islam. Penganut-penganut teologi ini hanya terikat pada dogma-dogma yang dengan jelas lagi tegas disebut dalam ayat-ayat Qur’an dan Hadis; yaitu teks ayat-ayat Qur’an dan Hadis yang tidak bisa diinterpretasikan lagi mempunyai arti selain arti letterlek yang terkandung di dalamnya…..

Dengan lain kata, dalam masyarakat yang menganut teologi liberal, kemajuan dan pembangunan dapat berjalan lebih lancer. Dalam teologi tradisional, sebaliknya, penganutnya kurang mempunyai ruang gerak karena mereka terikat tidak hanya pada dogma-dogma, tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti zanni, yaitu ayat-ayat yang boleh menngandung arti lain dari arti letterlek yang terkandung di dalamnya. Dan ayat-ayat ini mereka artikan secara letterlek. Dengan demikian, para penganut teologi ini sukar dapat mengikuti perobahan dan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat modern. Rasanya tidak terlalu jauh dari kebenaran, jika dikatakan bahwa teologi tradisionil dapat merupakan salah satu dari faktor-faktor yang memperlambat kemajuan dan pembangunan.

Teologi liberal dengan keadaannya banyak berpegang pada logika lebih sesuai dengan jiwa dan pemikiran kaum terpelajar. Sebaliknya teologi tradisionil, dengan teguhnya ia berpegang pada arti harfi dari teks ayat-ayat Qur’an dan Hadis ditambah dengan kurangnya ia menggunakan logika, kurang sesuai dengan jiwa dan pemikiran golongan terpelajar. (hal. 142-143).

Dengan mengembangkan teologi Mu’tazilah – yang disebut Harun Nasution sebagai ‘teologi liberal’, lalu disebutkan bahwa apa yang diajarkan di IAIN/UIN adalah ‘Islam liberal’, sebagaimana diakui oleh Prof. Azyumardi Azra, mantan Rektor UIN Jakarta: “Sebagai lembaga akademik, kendati IAIN terbatas memberikan pendidikan Islam kepada mahasiswanya, tetapi Islam yang diajarkan adalah Islam yang liberal. IAIN tidak mengajarkan fanatisme mazhab atau tokoh Islam, melainkan mengkaji semua mazhab dan tokoh Islam tersebut dengan kerangka, perspektif dan metodologi modern.” (Lihat, buku IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia (2002, hal. 117, terbit atas kerjasama Canadian International Development Agency (CIDA) dan Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Islam (Ditbinperta) Departemen Agama).

Kesimpulan bahwa Teologi Mu’tazilah membawa kemajuan ditolak oleh Dr. Eka Putra Wirman.  Tahun 2010, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI menerbitkan buku Dr. Eka yang berjudul “Kekuatan Ahlus Sunnah wa al-Jamaah”. Melalui bukunya ini, ia mengingatkan pentingnya umat Islam memelihara dan mengembangkan paham Ahlus Sunnah wal-jamaah yang telah meninggalkan mutiara yang berguna bagi kehidupan kaum Muslimin. Pemikiran ini perlu dikaji dan dihidupkan. “Kepentingan internal dimaksudkan untuk menjaga perkembangan pemikiran Islam agar tidak keluar dari koridor yang digariskan dan diikuti paraal-salaf al-shalih seperti berkembangnya Liberalisme, Permisivisme dan Sekulerisme,” tulisnya.

Juga, secara eksternal, perlu dilakukan penanggulangan paham-paham keliru dan sesat yang merusak pemikiran Islam. Misal, paham Deisme yang memposisikan Tuhan hanya sebagai pencipta, lalu tidak ikut campur tangan lagi terhadap ciptaan-Nya. “Pemikiran Deisme ini menjauhkan manusia dari Tuhan dan sengaja mengerdilkan fungsi Tuhan,” kata Dr. Eka.

Pemikiran seperti inilah yang sejak dulu dikritisi secara tajam oleh Ahlussunnah wal-Jamaah.  Sayangnya, pemikiran semacam ini justru dikembangkan di Perguruan Tinggi. Dampaknya, menurut Dr. Eka Putra, kini sudah sampai ke sekolah-sekolah menengah, karena diajarkan oleh guru-guru mereka yang terpengaruh.

Temuan Dr. Eka Putra Wirman tentang pemikiran Harun Nasution ini kembali mengingatkan para akademisi Muslim dan juga pemerintah untuk melakukan introspeksi terhadap pengagungan atau bahkan pengkultusan pemikiran Harun Nasution. Upaya mengangkat martabat dan kualitas Studi Islam di Indonesia dengan mendasarkan diri pada pemikiran Mu’tazilah dengan menggusur paham Ahlussunnah adalah pemikiran dan langkah yang keliru.

Anggapan bahwa “teologi liberal” Mu’tazilah cocok untuk kehidupan dunia modern juga mitos yang dibangun Harun Nasution. Aneh, jika pemikiran keliru ini terus diajarkan dan dilestarikan.
Kita berharap, temuan Dr. Eka Putra ini dapat menjadi pendorong makin banyaknya ilmuwan yang  sadar dan bersungguh-sungguh dalam usaha untuk memperjuangkan kebenaran dan memperbaiki kondisi studi Islam di Indonesia. Amin.* (Depok, 26 Maret 2013).

Catatan Akhir Pekan (CAP) adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan http://hidayatullah.com