Oleh: Drs. H. Ibrahim Lubis Sm.HK

Berita akan lahirnya Nabi Muhammad s.a.w itu telah lama diketahui manusia sejak zaman Nabi Musa a.s sampai dengan Nabi Isa a.s., yang disebut Yesus oleh kaum Nashara. Suatu berita dunia yang luar biasa, yang memberitakan akan lahirnya seorang besar yang tidak ada tandingannya di dunia ini, baik di zaman Nabi-nabi sebelumnya dan masa kini, maupun di masa yang akan datang sampai akhir zaman.

Dan mengenai hal ini, Allah s.w.t berfirman di dalam Al-Qur’an:

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf /7: 157)

Dan Nabi Isa a.s juga sudah memberi kabar akan datangnya Nabi Muhammad s.a.w kepada kaumnya (Bani Israel), sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an:

“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”, Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. Ash-shaff / 61: 6)

Bahkan sebagian besar Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) telah mengenal Muhammad s.a.w seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri, sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an:

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”
(QS Al-Baqarah/2 :146-147)

Dalam abad Teknologi ini, Nabi Muhammad s.a.w diberi peringkat nomor satu di Dunia.! alias Manusia nomor Wahid.!

Silakan baca buku: 100 tokoh paling berpengaruh, karya Michael H. Hart

Pemberitaan kelahirannya yang tersebut dalam Taurat dan Injil diikuti dengan kenyataan, sekalipun kedua Kitab agama itu sudah banyak dirubah oleh tangan manusia. Tetapi mengenai soal pemberitaan lahirnya Nabi Muhammad s.a.w tangan manusia tidak sanggup mengubahnya. Tetapi akan tetap tercantum menurut kebenarannya sampai akhir zaman. ‘Ajaib.!

Baiklah kita kutip ayat-ayat dari Taurat dan Injil itu yang sehubungan dengan Nabi Muhammad s.a.w.

Tersebutlah dalam Taurat (Perjanjian Lama) Ulangan 18:17-18, demikian: “Maka pada masa itu berfirmanlah Tuhan kepadaku (Musa) : Benarkah kata mereka itu (Bani Israel).”
“Bahwa Aku (Allah) akan menjadikan bagi mereka itu seorang Nabi dari antara segala saudaranya (Bani Israel) yang seperti engkau (hai Musa), dan Aku akan memberi segala firman-Ku dalam mulutnya dan dia pun akan mengatakan kepadanya segala yang kusuruh akan dia.”
Selanjutnya Ulangan 18:19 menegaskan: “Bahwa sesungguhnya barangsiapa yang tiada mau dengar akan segala firman-Ku, yang akan dikatakan olehnya dengan Nama-Ku, niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang itu.”

Tiga buah ayat dari Taurat (Perjanjian Lama) yang dikutip dari Buku “Nabi Isa dalam Al-Quran dan Nabi Muhammad dalam Bible” karangan Prof. Drs. H. Hasbullah Bakry, S.H. sudah cukup yang memberitakan akan kedatangan Nabi Muhammad s.a.w itu.

Dalam hubungan dengan tiga ayat dari Ulangan 18 itu Prof. Drs. H. Hasbullah Bakry, S.H., memberi tafsirnya, demikian:
Dalil pertama: “Seorang Nabi dari antara segala saudaranya.” Isyarat ini menunjukkan bahwa Nabi yang dinubuatkan oleh Tuhan itu akan timbul dari saudara-saudara Bani Israel, tetapi bukan dari Bani Israel sendiri. Adapun di antara saudara-saudara Bani Israel itu ialah Bani Ismail (Bangsa Arab), sebab Ismail adalah saudara tua dari Ishak, bapak dari Israel (Yakub a.s). Dan Nabi Muhammad s.a.w sudah jelas adalah keturunan Bani Ismail.

silakan baca disini:Silsilah Nabi Muhammad s.a.w pada silsilah 25 Nabi dan Rasul Allah.

Dalil kedua: ialah “yang seperti engkau.Jadi Nabi yang akan datang itu haruslah seperti Nabi Musa, maksudnya Nabi yang membawa Agama baru dan Syariat baru seperti Nabi Musa a.s. Perlu kita ketahui bahwa surah-surah kitab Ulangan sebelum nubuat ini berisi hukum-hukum Taurat, syariat untuk Bangsa Israel, Jadi maksudnya Nabi itu menyerupai Nabi Musa dalam soal membawa syariat itu. Dan seperti kita ketahui Nabi Muhammad s.a.w itulah satu-satunya Nabi yang membawa syariat baru (agama Islam) yang juga berlaku untuk bangsa Israel.

Dalil Pertama dan dalil kedua cocok sebab Nabi lain yang membawa syariat seperti Nabi Musa a.s bagi bangsa Isreal tidak akan ada lagi sesudah Musa. Hal ini diterangkan Tuhan dalam ayat Taurat berikutnya yaitu: kitab Ulangan 34: 10 yang bunyinya: ” Maka diantara Isreal tidak berbangkit pula seorang Nabi yang seperti Musa, yang dikenal oleh Tuhan muka dengan muka.”

Seperti kita maklum baik Nabi Elia atau Elisa atau Yahya Pembaptis atau Isa Al-Masih semuanya dari Bani Israel dan semua menyungguhkan syariat Taurat dan bukan menggantinya. Jadi sudah jelaslah bukan mereka yang dimaksud oleh ayat-ayat ini.

Umat Nasrani yang menganggap bahwa Nabi itu ialah Nabi Isa sudah terang bertentangan dengan kedua dalil diatas, sebab Nabi Isa sendiri adalah bangsa Israel dan Nabi Isa juga tidak seperti Nabi Musa yang dikenal Tuhan muka dengan muka, maksudnya menerima langsung syariat baru (agama baru)“, (lihat buku “Nabi Isa dalam Al-Quran dan Nabi Muhammad dalam Bible” hal. 148)

Sehubungan dengan ayat 19 kitab Ulangan yang menyebutkan “yang akan dikatakan olehnya dengan Nama-Ku”, dapatlah kita saksikan sekarang ini bahwa jika orang Islam membacakan wahyu-wahyu Ilahi (Al-Qur’an) itu didahului dengan menyebut “Nama Allah, Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang”. Jadi benar-benar merupakan bukti dari pemberitaan Taurat itu.

Setelah Taurat (Perjanjian Lama) kita lihat lagi pemberitaan dari Injil (Perjanjian Baru), dimana tangan manusia tidak sanggup menghapuskan pemberitaan itu yang memberitakan akan kedatangan Nabi Muhammad s.a.w.

Dalam hubungan ini Injil Yahya (Yohanes) 14: 16-17 dan 15: 26-27 dan 16: 7-15 memberitakan demikian:
“Dan aku akan mintakan kepada Bapa, maka ia akan mengaruniakan kepada kamu Penolong yang lain, supaya ia menyertai kamu selama-lamanya.

“Yaitu Roh kebenaran, yang dunia ini tidak dapat menyambut oleh sebab tiada ia nampak Dia dan tiada kenal Dia, tetapi kamu ini kenal Dia, karena ia tinggal beserta dengan kamu dan ia akan ada di dalam kamu.”

“Akan tetapi apabila datang Penolong yang akan kusuruhkan kepadamu daripada Bapa, yaitu Roh kebenaran yang keluar daripada Bapa itu, ialah akan menyaksikan dari halku.”

“Dan kamu pun akan menjadi saksiku, oleh sebab kamu telah ada bersama-sama dengan aku dari mulanya.”

“Tetapi aku ini mengatakan yang benar kepadamu, bahwa berfaedahlah bagi kamu jikalau aku ini pergi, karena jikalau tiada aku pergi, tiadalah Penolong itu akan datang kepadamu, tetapi jikalau aku pergi, aku akan menyuruhkan dia kepadamu.”

“Apabila ia datang maka ialah akan menerangkan kepada isi dunia ini dari hal dosa dan keadilan dan hukuman.”
“dari hal dosa, sebab tiada mereka itu percaya akan daku,
“dari hal keadilan, sebab aku pergi kepada Bapa dan tiada lagi kamu melihat aku,
“dari hal hukuman, sebab penghulu dunia ini sudah dihukumkan.”
“Banyak lagi perkara yang aku hendak katakan kepadamu, tetapi sekarang ini tiada dapat kamu menanggung dia.”

“Akan tetapi apabila ia sudah datang, yaitu Roh kebenaran, maka ia pun akan membawa kamu kepada segala kebenaran, karena tiada ia berkata-kata dengan kehendaknya sendiri, melainkan barang yang didengarnya itu juga akan dikatakannya, dan dikhabarkannya kepadamu segala perkara yang akan datang.”

“Maka ia akan memuliakan aku, karena ia akan mengambil daripada hak aku, lalu mengkhabarkan kepadamu.”

“Segala sesuatu yang hak Bapa itu juga hak aku, oleh sebab itu aku berkata, bahwa diambilnya daripada hak aku, lalu dikhabarkannya kepadamu.”

Demikianlah ayat-ayat Injil (Perjanjian Baru) yang diketengahkan oleh Prof. Drs. H. Hasbullah Bakry, S.H., dalam bukunya ” Nabi Isa dalam Al-Quran dan Nabi Muhammad dalam Bible.”

Prof. Drs. H. Hasbullah Bakry, S.H. memberi tafsir demikian:

Dalil pertama: Dalam ayat Yahya 14: 16 itu dikatakan bahwa Penolong itu akan menyertai kamu selama-lamanya. Ini maksudnya bahwa Penolong itu adalah Nabi akhir zaman, tidak ada lagi penggantinya (Penolong) lain yang akan membawa syariat baru lagi. Dan syariat agama yang akan dibawa oleh Nabi (Penolong) itu akan berlaku terus hingga hari kiamat. Nabi itu adalah Nabi Penutup (Khatamun Nabiyyin, QS.Al-Ahzab/33:40) yang syariatnya akan menyertai manusia sepanjang zaman dunia ini.

Mengenai istilah “Penolong” ini sebenarnya berasal dari istilah Yunani Peracletos yang berarti “Penghibur” atau “Menahem” dalam bahasa Yahudi. Tetapi disini kita tidak usah mempertentangkan arti “Penolong” atau “Penghibur” sebab kedua-duanya dapat diterima untuk dinisbahkan kepada Nabi Muhammad s.a.w dan kedua-duanya berarti baik, tidak bertentangan satu sama lain. Dalam pada itu kata Paracletos itu menurut Dr. GA. Nallino seorang orientalist bangsa Italia berarti dalam bahasa Arab “Ahmad” atau “Muhammad” yang juga berarti yang banyak terpuji.

Dalil kedua: Dalam ayat Injil Yahya 14: 17 dikatakan bahwa dunia ini umumnya tidak kenal dan tidak nampak akan (kedatangan) Penolong itu tetapi (kamu) umat Yahudi mengenalnya sebab Roh kebenaran (wahyu) yang dibawa Penolong atau Nabi itu ada pula beserta kamu yaitu kitab Taurat dimana disebutkan didalamnya tentang kedatangan Nabi (Penolong) itu, dan kitab yang dibawa Nabi itu sesuai pula dengan isi kitab Taurat yang ada pada kamu. Dalil ini sudah jelas sekali menunjukkan kepada kenabian (nubuat) Nabi Muhammad s.a.w yang seperti telah kita terangkan dalam bab-bab yang lama dengan terang dan telah dinubuatkan oleh kitab-kitab Nabi Perjanjian Lama.

Dalam penafsiran selanjutnya Prof. Drs. H. Hasbullah Bakry, S.H. mengetengahkan “Dalil kesembilan” sampai “Dalil keduabelas”, yang bunyinya demikian:

“Dalil kesembilan”: Dalam ayat Yahya 16:12 dikatakan bahwa sebenarnya masih banyak yang akan disampaikan oleh Nabi Isa kepada umatnya (Bangsa Israel) tetapi karena telah nyata bangsa Israel itu enggan (tidak dapat) menanggungnya lalu Nabi Isa meminta diri dengan izin Alloh untuk menghabisi dakwahnya dan menjanjikan saja akan kedatangan Nabi Besar (Penolong) yang dinubuatkannya itu.

Ayat ini sudah jelas menunjukkan bahwa sudah tidak mungkin Nabi Isa a.s akan kembali kedua kalinya (?) dan sudah pastilah Nabi Isa a.s itu bukan Tuhan yang dapat jemu dan salah masa dalam operasi dakwahnya dan tidak mungkin seorang “Tuhan” lemah dalam menghadapi kadar penentuannya sendiri. Ayat ini dijelaskan maksudnya pada ayat berikutnya yaitu tentang penerusan tugas Nabi Isa a.s itu oleh Nabi Besar yang dijanjikan itu yaitu Nabi Muhammad s.a.w.

“Dalil kesepuluh”: Dalam ayat Yahya 16:13 dikatakan bahwa Nabi Besar yang akan datang itu tidaklah berkata-kata atas kehendaknya sendiri tentang ajaran agama yang dibawanya akan tetapi Nabi Besar itu akan menyampaikan saja apa yang dikatakan Alloh kepadanya. Ayat nubuatan ini sangat Ajaib sekali telah sesuai dengan Ayat Al-Quran surat An-najm/53: 3-4 yang berbunyi: “Tiadalah dia Muhammad itu bertutur menurut hawa napsunya sendiri, melainkan dia (bertutur) menurut wahyu Alloh yang disampaikan kepadanya.” Dengan adanya ayat Al-Quran ini sudah jelaslah apa yang dinubuatkan oleh Nabi Isa a.s adalah Nabi Muhammad s.a.w.

“Dalil kesebelas”: Dalam ayat Yahya 16:14 dikatakan bahwa Nabi Besar itu juga akan memuliakan Nabi-nabi lainnya dan tidaklah dia akan merendahkannya sebab Nabi adalah mengambil dan meneruskan hak Isa yaitu ajaran kitab Injil yang berasal daripada Alloh.

Bahwa ayat ini jelas sekali menunjukkan nubuat Nabi Muhammad s.a.w cukuplah kalau kita pelajari ayat-ayat Al-Quran ini yaitu Surat Ali Imran/3: 2-4 yang berbunyi:
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.”
“Dia menurunkan Kitab Al-Quran kepadamu (hai MUhammad) dengan sebenarnya; membenarkan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya yaitu Taurat dan Injil guna petunjuk bagi manusia dan diturunkannya Quran itu sebagai Pembeda antara yang benar dan yang salah.”
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir pada ayat-ayat Allah itu akan memperoleh siksa yang berat, dan Alloh Maha Perkasa lagi mempunyai siksa.”

Dalam ayat-ayat ini jelas dinyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah membenarkan ajaran-ajaran Taurat yang dibawa Nabi Musa a.s dan Injil yang dibawa Nabi Isa a.s disamping membedakannya daripada kesalahan-kesalahan tangan manusia yang terdapat pada kitab-kitab itu.

“Dalil keduabelas”: Dalam ayat selanjutnya yaitu Yahya 16: 15 dikatakan bahwa hak Isa (agama) yang diambil (diteruskan) oleh Nabi Muhammad itu ialah hak (agama) Alloh seperti juga semua hak (agama) yang diajarkan Nabi-nabi sebelum mereka adalah hak (agama) Alloh semua. Jadi soalnya adalah sama saja (maksud Nabi Isa). Jadi janganlah umatnya (muridnya) yang ditinggalkannya itu menjadi berdukacita karena ditinggalkannya itu.

Ayat ini jelas sekali menunjuk nubuat Nabi Muhammad, sebab seperti kita maklum agama Islam adalah meneruskan agama Alloh yang dibawa oleh Nabi Isa seperti sudah berkali-kali dikatakan dalam Al-Quran. Dan hal ini sudah berkali-kali kita terangkan pada penjelasan-penjelasan yang terdahulu.

Demikian pasal yang ke-6 ini seluruhnya (keduabelas dalil itu) menguatkan nubuat Nabi Muhammad s.a.w.

Demikian Prof. Drs. H. Hasbullah Bakry, S.H. menafsirkan ayat-ayat Injil Yahya tersebut.

Bagaimanakah menurut Kenyataan Sejarah ?


Peta kawasan Timur Tengah pada zaman Nabi Muhammad s.a.w

Ketika Nabi Muhammad s.a.w masih kanak-kanak, oleh pamannya, Abu Thalib, Nabi dibawa bepergian ke negeri Syam. Setelah perjalanan itu sampai di Busrah, Abu Thalib bertemu dengan seorang pendeta Kristen, yang bernama Buhaira. Pendeta Kristen ini meletakkan perhatiannya kepada anak yang dibawanya itu. Yang dilihatnya ada sifat-sifat kenabian. Lalu pendeta Buhaira ini memperingatkan Abu Thalib, demikian: “Hendaknya engkau menjaga baik-baik anak ini yang engkau bawa ini, karena ia bukanlah anak biasa (sembarangan). Anak ini di belakang hari akan menjadi Nabi dan Rasul Tuhan yang terakhir, yang menjadi penutup sekalian Nabi dan Rasul; ia akan dimusuhi oleh Bangsanya. Karenanya, bila engkau telah sampai di negeri Syam, maka hendaklah dengan segera ia bawa kembali pulang ke negerimu, karena jikalau engkau berlama-lama di negeri Syam dan sampai diketahui anak itu oleh orang-orang Yahudi, tentulah ia dibunuh oleh mereka.”

Demikianlah pendeta Kristen Buhaira menyatakan akan kenabian Nabi Muhammad s.a.w ketika ia bertemu di Busrah sewaktu Nabi masih kanak-kanak.

Ketika Nabi telah menerima keangkatannya sebagai Nabi dan Rasul Alloh pada tanggal 17 Ramadhan tahun 41 Fil (6 Agustus 610 M) di Gua Hira (Jabal Nur) yang diberitahukan kepad istrinya Khadijah, di mana Nabi merasa khawatir atas dirinya, dengan peristiwa pelukan Jibril di Gua Hira itu, maka Siti Khadijah mengajaknya untuk bertemu dengan seorang pendeta Kristen bernama Waraqah bin Naufal. Maksudnya ialah untuk memberitahukan kepada pendeta itu mengenai peristiwa yang ajaib yang dialami oleh Nabi.
Setelah menceritakan pengalamannya di Gua Hira itu, maka pendeta Kristen Waraqah bi Naufal spontan berkata, “Quddus, quddus, hai anak lelaki saudaraku! ini rahasia yang paling besar yang pernah Allah turunkan kepada Nabi Musa a.s. Oh.. umudah-mudahan aku masih hidup dapat melihat bangsamu nanti mengusir engkau”.

Sesudah Nabi menjalankan missionnya yang diterima dari Allah s.w.t., ialah mendakwahkan agama Islam, dan mempertahankannya dari serangan bangsanya yang memusuhi Islam itu, yang berjalan dalam waktu yang relatif pendek (23 tahun), maka setelah pemerintahan kaum Muslimin berada ditangan Khalifah-khalifahnya, mimpi Raja Nebukadnezar (Raja Babilon) menjadi kenyataan. Mimpi Raja Nebukadnezar itu yang dirakbirkan oleh Nabi Danial, yang tersebut dalam kitab Perjanjian Lama (Taurat), antara lain bunyinya demikian: “Maka pada zaman raja-raja itu oleh Allah yang di surga akan diadakan sebuah kerajaan, yang pada selama-lamanya tiada dapat dibinasakan, maka kerajaan itu tiada akan diserahkan kepada salah satu bangsa yang lain, dan dia itu pun menghancurkan dan meniadakan segala kerajaan itu, tetapi ia sendiri akan kekal selama-lamanya.” (Nabi Danial 2:44)

” Maka itulah sebabnya tuanku (Raja Nebukadnezar) melihat sebuah batu gunung gugur sendirinya dengan tiada tulungan tangan, lalu dihancurluluhkannya besi dan tembaga dan tanah liat dan perak dan emas. Bahwa Allah Ta’ala sudah memaklumkan kepada tuanku, barang yang akan terjadi pada kemudian hari, bahwa sesungguhnya inilah mimpi tuanku dan tentulah takbirnya.” (Nabi Danial 2:45)


Peta wilayah Khilafah Islam

Takbir mimpi Raja Nebukadnezar dari Kerajaan Babilonia Baru (604-562 S.M) oleh Nabi Danial diikuti dengan bukti yang nyata, ialah wilayah kekuasaannya yang meliputi Mesir, Syria, Libanon, Palestina setelah Khalifah-khalifah Rasulullah masuk dalam kekuasaan Islam dan menjadi negeri-negeri Muslimin (Islam) yang tak bakal terhapuskan.

Apakah yang menyebabkan kekuasaan Islam itu cepat menguasai bekas kerajaan Nebukadnezar? Bukan pedang! Pedang itu baru boleh dicabut dari sarungnya, kalau umat Islam diserang.

Penduduk bekas kerajaan Nebukadnezar memang telah merindukan kedatangan Islam di negeri-negeri mereka, karena sudah tak tahan di bawah kekuasaan Rumawi Timur (Byzantium) dan Persia ketika itu. Karenanya, ketika pahlawan-pahlawan Islam datang di negeri-negeri itu disambutnya dengan gegap gempita, dan dengan mudahnya kekuasaan Rumawi Timur dan Persia ditumbangkan berkat bantuan penduduk negeri-negeri yang sudah tidak tahan penindasan itu.

Pokok mission yang dibawa oleh Pahlawan-pahlawan Islam itu adalah Akhlaq karimah yang diwariskan Rasulullah s.a.w kepada pengikut-pengikutnya. Dengan Akhlaq karimah itu Rasulullah s.a.w menegakkan hubungan baik dengan sesama manusia, yang diwarisi oleh pahlawan-pahlawan Islam dan kaum Muslimin pada permulaan Abad Hijriyah.

Akhlaq Karimah yang dibawa itulah merupakan “sebuah batu gunung yang gugur sendiri dengan tiada tolongan tangan”, yang menghancurkan bekas kerajaan Nebukadnezar itu, dimana kerajaan Ruwawi Timur dan Persia tidak sanggup menahannya.

Demikianlah Nubuat Taurat dan Injil itu diikuti dengan kenyataan sejarah dan tak akan terhapuskan untuk selama-selamanya, seperti yang dinubuatkan oleh Nabi Danial.

Akhirnya, kalau Umat Islam sekarang ini menyuarakan bahwa abad XV ini adalah “Kebangkitan Umat Islam”, maka yang harus dibangkitkan pada diri tiap Muslim, teristimewa pada pemimpin-pemimpinnya ialah Akhlaqul Karimah.

Penulis mengutip isi Majalah Kiblat mengenai Nubuat Taurat dan Injil diikuti kenyataan, yang dimaksud ialah bahwa kedatangan Nabi Besar Muhammad s.a.w telah tercantum atau tersebut di dalam Kitab-kitab Old Testament yang dibangsakan kepad Kitab Taurat dan New Testament yang dibangsakan kepada Kitab Injil (Old Testament = Perjanjian Lama dan New Testament = Perjanjian Baru). Hal ini Penulis maksud bahwa berita ini bukanlah rahasia dimana sudah dimuat di dalam majalah Kiblat.

Yang termasuk ke dalam Old Testament itu ialah :
o Kitab Kejadian
o Kitab Keluaran
o Kitab Lewi (Imamat)
o Kitab Bilangan
o Kitab Manga (Ulangan)
o Yosua
o Hakim2
o Rut
o 1 Samuel
o 2 Samuel
o 1 Raja
o 2 Raja
o 1 Tawarikh
o 2 Tawarikh
o Ezra
o Nehemia
o Ayub
o Mazmur
o Amsal
o Pengkhotbah
o Kidung Agung
o Yesaya
o Yeremia
o Ratapan
o Yehezkiel
o Danial
o Horsea
o Yoel
o Amos
o Obaja
o Yunus
o Mikha
o Nahum
o Habakuk
o Zepanya
o Hagai
o Zakharia
o Maleakhi
o Dan lainnya

sedangkan yang termasuk ke dalam New Testament, ialah :
o Injil Matius
o Injil Markus
o Injil Lukas
o Injil Yahya (Yohanes)
o Kisah Para Rasul
o Dan lainnya

Catatan:

o Penulis adalah Dosen Universitas Bhineka Tunggal Ika Jakarta (1972), Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi pada Lembaga Administrasi Negara (1974), Dosen Universitas Islam As-Syafi’iyah merangkap Rektor Universitas Willem Iskandar Jakarta (1977-1982) dan Dosen Universitas Muhammadiyah di Jakarta (1982) serta berbagai Jabatan lainnya
o Gambar ilustrasi by Google

Daftar Pustaka

Lubis, Ibrahim, Drs. SmHK, Agama Islam Suatu Pengantar, Edisi Revisi, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1984
Kiblat No. 16 Thn. XXXIX, tgl. 5-20 Januari 1982, Hal. 6-9

http://id.wikipedia.org

http://eramuslim.com

http://luk.staff.ugm.ac.id/