Ghazwul Fikr : Aksi 212 dan 5 Fenomena Lahirnya Generasi Baru Islam Indonesia

Kamis, 8 Desember 2016 – 07:04 WIB

“Setelah sekian lama umat dizalimi, ulamanya dibully, informasinya dikaburkan media massa, atas kekuasaan Allah, kelompok kecil bisa tampil dan dipercaya menghimpun jutaan orang dengan sangat terpuji.”

Cuaca di kawasan Monas pada Aksi Bela Islam III, Jumat (02/12/2016) pagi sekitar pukul 07.00 WIB.

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

BANGSA Indonesia khususnya umat Islam mencatat sejarah baru pada Jum’at 2 Desember 2016. Untuk pertama kalinya, umat Islam melaksanakan shalat Jum’at terbesar yang dilaksanakan  di Tugu Monumen Nasional (Monas) dengan shaf yang tertib.

Hari itu, umat Islam dari segala penjuru daerah berbondong-bondong datang ke jantung Ibu Kota untuk satu tujuan; membela al-Qur’an. Menurut rilis resmi  Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), forum yang menyelenggarakan acara ini, jumlah umat yang hadir di Monas berkisar 6 – 7 juta orang.

Dengan jumlah massa sebesar itu, logikanya sangat sulit mengatur barisan, ketertiban, kendaraan, kebutuhan makanan, kebutuhan buang air dan lain-lain.

Allah Satukan Hati Kami di Monas [1]

Tetapi, Aksi 212 memang ajaib. Jutaan jamaah patuh pada komando Habib Rizieq Shihab (HRS) dan KH Bachtiar Nasir atau akrab disapa Ustad Bachtiar Nasir (UBN). Tentu jutaan orang itu bukan jamaah pengajian Habib Rizieq dan Kiai Bachtiar.

Banyak sekali diantara mereka bahkan belum pernah berjumpa dengan keduanya. Namun, dalam aksi ini semua patuh dan tunduk. Bahkan menurut Kapolri Jendral Tito Karnavian, jam 4.30 sore lalu lintas Jakarta beranjak normal. Padahal jamaah bubar dari Monas jam 2 siang.

Tujuh juta manusia bubar secara tertib, bersih tidak menyisakan sampah hanya dalam waktu 2,5 jam. Itu termasuk ribuan kendaraan mereka. Sebaliknya, jutaan orang menyemai kebaikan, saling menebar senyum, membantu sesama, saling berlomba-lomba beramal shalih dan memberikan bagian terbaik pada Islam.

Sebuah fenomena yang menakjubkan. Tetapi yang lebih membahagiakan lagi, jamaah Aksi 212 sangat patuh pada ulama yang memimpin. Energi 212 melahirkan kepemimpinan baru ulama-muda yang lebih disegani umat dibanding ulama-ulama organisasi massa Islam mainstream.

Allah Satukan Hati Kami di Monas [2]

Siapa sangka, Habib Rizieq yang banyak mendapat stigma negatif media massa dan Barat, kini justru lebih diterima (mungkin lebih dicintai) jutaan umat Islam ini?

Banyak yang kagum, ternyata Habib Rizieq sosok leader yang tangguh, orator yang baik dan sosok yang cerdik. Tokoh yang selalu disematkan kekerasan sebaliknya menunjukkan aksi kedamaian dan simpatik. Jika media mau jujur, Habib Rizieq adalah Man of The Year. Tapi tidak perlu berharap, sebab fenomena ini tidak akan mampu dibaca pada orang-orang yang landasaannya hanya berdasarkan kalkulasi politik dan HAM ala Barat.

Menariknya lagi,  follower dua tokoh tadi (HRS dan UBN) saat ini melintasi ormas-ormas Islam yang ada. Dengan kata lain, mereka semua adalah anggota ormas-ormas Islam yang dianggap mapan.

Apa sesungguhnya yang terjadi? Setidaknya ada lima (5) alasan mengapa fenomena menarik dari Aksi 212 ini terjadi.

aksi-damai-212_3

Pertama, Aksi 411 dan 212 menunjukkan kualitas ukhuwah umat Islam

Inilah sebuah persaudaraan yang bukan abu-abu, atau berpura-pura. Tetapi persaudaraan yang murni. Bagaimana kita banyak saksikan jutaan orang saling berebut beramal sholih di Monas. Inilah rahmat lil alamin yang sesungguhnya. Bahkan non-Muslim pun yang turut simpati ikut hadir merasakan aura itu. Sekelompok non-Muslim yang datang ke Monas mengaku nyaman dan aman.

Inilah Islam. Jika Islam ditegakkan, jangankan manusia, hewan dan tanaman-pun akan mendapatkan rahmatnya. Lihatlah, bagaimana jamaah 212 di mana-mana saling mengingatkan, “Jangan injak rumput, jangan injak taman, jaga kebersihan!” Aroma rahmatan lil alamin sangat terasa di sini. Bukan rahmatan lil alamin yang sering jadi slogan tokoh ormas yang dipromosikan media mainstream untuk menyerang umat Islam lainnya yang tidak berpihak pada ideologinya.

Allah Satukan Hati Kami di Monas [3]

Sebab orang liberal juga sering teriak rahmatan lil alamin namun justru aksinya menyakiti umat Islam lainnya.

Saya yakin, mereka yang hadir di Monas telah dipilih oleh Allah untuk menjadi bagian mujahid al-Qur’an. Jamaah 212 semua mendapat percikan rahmat Allah. Sehingga mereka rela meninggalkan pekerjaannya, meninggalkan istri dan anaknya, menghabiskan uang tabungan dan gajinya, berpayah-payah dengan satu tujuan: “Membela agama Allah!”

Fenomena ini sekaligus menjadi bukti bahwa gelar ulama, ketua ormas Islam, dai, profesor bahkan intelektual belum tentu menarik perhatian Allah Subhanahu Wata’a. Orang bijak mengatakan, wisdom (kearifan) itu tidak datang dari tingginya jabatan atau gelar. Faktanya, tukang kue dan roti bisa lebih wise daripada “Professor Nganu”. Ukuran simple, siapa saja yang mendapat rahmat-Nya pasti menjadi wise.

Inilah kulaitas yang sebenarnya umat Islam Indonesia. Kualitas hati yang merupakan cerminan iman.

Pada faktanya, banyak orang cerdik pandai, dipanggil Ustadz, Kiai, Buya, Ajengan, Gus dll. Bahkan orang berjuluk ulama yang duduk di ormas-ormas Islam  besar yang berpengaruh juga tak mampu membaca hati dan pikiran umat Islam. Mereka gagal melihat masalah yang dihadapi umat.  Meminjam istilah UBN, mereka telah ‘gagal paham’ membaca peta gerakan baru Islam di Indonesia.

Sebaliknya, mereka justru berada di barisan pertama pembela kebatilan dan menggembosi umat Islam yang ingin memuliakan agamanya. Termasuk “Profesor Nganu” yang hanya berteriak-teriak di jejaring sosial menggembosi umat Islam lainnya.

Saya adalah warga Nahdhatul Ulama (NU) yang mengaku sangat salut terhadap saudara-saudara Muslim yang berlatar belakang orang biasa, tetapi kepeduliannya pada agama luar biasa. Mereka menggerakkan badan tanpa ada kepentingan apa-apa. Murni dari hati nurani yang terpanggil.

Mereka tidak banyak bicara, karena tidak memiliki ‘panggung’. Bukan orang berpengaruh, karena memang tidak punya pengaruh. Mereka hanya hamba Allah yang biasa. Ibadah untuk Allah. Berjuang juga untuk Allah dan untuk menyenangkan hati Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Bukan untuk menyenangkan penguasa atau pimpinan.

Bukankah wali-wali Allah itu banyak yang mastur. Dianggap orang banyak biasa-biasa saja, tetapi hakikatnya luar biasa di sisi Allah?

aksi-damai-212_5

Kedua, Aksi 411 dan 212 menunjukkan bukti, sifat Islam itu bergerak

Fenomena Aksi 212 ini bisa dilihat dari dampak getaran Surat al-Maidah. Sebab umat Islam itu ibarat sumber api yang tertutup semak dan jerami. Dari luar nampak apinya sudah padam, tetapi sesungguhnya ia masih tetap menyala. Api itu akan siap menyambar apa saja, selama ada pemicunya. Selama sumber itu masih ada, sewaktu-waktu akan  membakar sekitarnya.

Saya mencoba membuat ilustrasi. Andai di semua lini, umat Islam tak diberi peran,  semua informasi disumbat,  seluruh jaringan stasiun TV ini tidak memberi ruang pada Islam. Semua menteri, gubernur, bupati sampai camatnya bukan Muslim. Hatta, jika Islam di negeri ini hanya tinggal nama di KTP saja. Jangan lupa, dari 270 juta penduduk Islam ini mayoritasnya Muslim. Keislaman mereka suatu hari tetap akan “menyala” pada saat dan tempat yang tepat.

Lihatlah Bosnia, lihatlah masyarakat Muslim di Timur Tengah. Ketika gerakan dan aspirasinya ditekan-tekan, suatu hari pada waktunya, mereka akan bangkit.

Sama halnya di Indonesia. Kurang bagus bagaimana kerja-kerja media massa, LSM, pasukan-pasukan cyber bayaran. Mereka mereka mengelola dan merebut informasi. Ketika ada momen Islam dan Al-Qurn dinista, orang yang awalnya diam lalu berbalik. Dari tukang ojeg, tukang roti, sampai orang-orang bertato semua datang ke Monas agar penista agama dipenjara.

aksi-jumat-kobro

Ketiga, Aksi 411 dan 212 menunjukkan fakta, umat Islam lebih percaya ulama yang tulus

Dua kali Aksi Bela Islam (II dan III) semakin menunjukkan banyak umat lebih menyandarkan pilihannya pada ulama, habaib dan para dai yang tulus, yang tidak pernah memiliki konsesi politik. Tidak memilih pada ulama dan tokoh yang mudah melakukan bargaining (tawar-menawar) dengan kekuasaan dan uang.

Harap diingat, tokoh yang cenderungan menjual Islam dan kelompoknya untuk kepentingan sesaat (politik dan kekusaaan) saat ini semakin dijauhi umatnya sendiri. Akibatnya, mereka memilih tokoh-tokoh lain yang lebih tulus. Khususnya lebih berani menyuarakan kebenaran (al-Haq) dan menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

aksi-damai-212_4

Empat, Jamaah Medsos sebagai sumber informasi

Fenomena Aksi 411 dan 212, juga menemukan fakta, umat Islam yang lelah didzalimi media massa (baik Koran dan Televisi) akhirnya lebih memilih sumber informasi lansung melalui jejaring sosial. Facebook, Twitter dan WhatsApp menjadi rujukan utama dan tercepat mencari dan menemukan informasi.

Fenomena ini harus menjadi pelajaran pengelola Negara dan pengelola media massa (khususnya Televisi). Dalam dua kali aksi (Aksi Damai Bela Islam II & III) beberapa stasiun TV ditolak massa umat Islam. Seharusnya cara berfikir kita mudah. Mengapa ditolak? Pasti ada sesuatu. Organisasi-organisasi pers, harus lebih jujur melihat kekurangan diri sendiri, bukan teriak-teriak mencari pembelaan atau alibi.

Banyak informasi dibelokkan, dicurangi. Alhamdulillah, umat Islam masih kreatif. Mereka menemukan tempat ngaji dan informasi di grup-grup WhatsApp, Facebook. Jamaah facbookiyyah inilah juga juga masuk ‘generasi baru Islam’ Indonesia. Mereka menggerakkan wacana, opini dan ‘perang informasi’ karena suara hati mereka tidak diwakili media mainstream dan televisi di Indonesia yang mayoritas hanya dikuasai pemilik modal.

Mari berkaca pada Aksi Jalan Ciamis-Jakarta. Darimana mereka berinisiatif ini? Jika aparat tidak melakukan intimidasi, tekanan dan media selalu jujur menyampaikan fakta, pasti tidak aka nada gerakan ini. Aparat dan pengelola media harus menyadari ini.

aksi-damai-212_6

Lima, fenomena lahirnya generasi baru Islam di Indonesia

Aksi 411 dan 212 menunjukkan fenomena baru yang tidak pernah dibayangkan oleh teori akademis apapun di Indonesia (mungkin juga) di dunia.

Lahirnya gerakan baru intelektual Muslim yang rela melepaskan sekat-sekat organisasi. Mereka rela meninggalkan isu-isu furu’ (cabang) karena cintanya pada al-Quran dan Islam. Mereka tidak malu dan tidak takut celaan orang yang mencela.

Fenomena ini menjungkir-balikkan teori lama yang selama ini dianggap seolah benar bahwa suara umat Islam diwakili oleh beberapa tokoh atau ormas saja. Di luar ormas, sangat banyak sekali umat yang tidak terikat apapun.

Aksi 411 dan 212, melahirkan gerakan baru Islam Indonesia akibat getaran Surat Al-Maidah. Setelah sekian lama umat dizalimi, ulama-nya dibully, agamanya dicela-cela, informasinya dikaburkan media massa, tetapi atas kekuasaan Allah, kelompok yang kecil – yang sangat tidak popular bahkan telah lama disematkan cap-cap negatif–  justru yang ditunjukkan oleh Allah mampu menghimpun jutaan orang dengan cara sangat terpuji.

Siapa sangka Habib Rizieq yang paling banyak dibully media mainstrem, kini disaksikan oleh rakyat Indonesia sendiri mampu memimpin jutaan umat dalam satu komando. KH. Bahtiar Nasir, hanya dikenal sebagai pendakwah di TV. Tapi, kini, dai muda tersebut jadi tokoh di barisan depan mewakili umat Islam Indonesia.

Hanya sedikit diantara kita yang berani dicela ketika beramar ma’ruf nahi munkar. Yang banyak, kita lebih suka dipuji-puji dengan sebutan ‘moderat’. Fenomena ini pasti akaan terjadi sepanjaang zaman, bahkan juga disitir Al-Quran  dalam Surat Al-Maidah. Akan datang generasi yang ‘tidak takut pada orang yang mencela’.

“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” [QS: Surat Al-Maidah: 54].

Suka atau tidak, inilah faktanya. Selamat datang generasi baru Islam Indonesia!

Penulis anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jawa Timur

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

http://www.hidayatullah.com

Bachtiar Nasir: Esensi Aksi Bela Islam III Agar Penegak Hukum Segera Penjarakan Penista Agama

“Aksi Bela Islam III terjadi akibat adanya keraguan umat Islam terhadap penegakan supremasi hukum oleh pemerintah terkait kasus penistaan agama karena Basuki Tjahaja Purnama belum ditahan.”

Bachtiar Nasir: Esensi Aksi Bela Islam III Agar Penegak Hukum Segera Penjarakan Penista Agama

MUHAMMAD ABDUS SYAKUR/HIDAYATULLAH.COM
Ketua GNPF MUI Bachtiar Nasir usai konferensi pers di AQL Islamic Center Jakarta, Jakarta, Jumat (18/11/2016).

Terkait

Hidayatullah.com–Gerakan Aksi Bela Islam III terjadi akibat adanya keraguan umat Islam terhadap penegakan supremasi hukum oleh pemerintah saat ini terkait  kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok  yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

“Andai tidak ada Aksi Bela Islam 1 masyarakat pesimis Ahok akan diproses hukum, dan andai tidak ada Aksi Bela Islam 2 masyarakat juga pesimis Ahok akan diproses dengan tegas, cepat dan transparan,” demikian disampaikan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI Bachtiar Nasir dalam media resmi GNPF-MUI, belaquran.com, Kamis (01/12/2016).

Menurutnya, atas dasar lumpuhnya keadilan hukum dan keadilan sosial inilah maka Aksi Bela Islam III disambut secara heroik oleh masyarakat muslim khususnya.

Panggilan Aksi Bela Islam III, Jumat, 2 Desember 2016 tak terbendung. Sejak aksi ini dideklarasikan oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI),  penghadangan secara sistematis, terstruktur, dan masif dilancarkan oleh mereka yang tidak ingin umat Islam bersatu menyuarakan keadilan sosial dan keadilan hukum. Mulai dari tudingan politisasi hingga isu makar.

“Semua tuduhan itu hanya isapan jempol belaka. Umat Islam tidak percaya lagi dengan propaganda dan agenda setting semacam itu. Sebaliknya, umat Islam semakin menguatkan ketaatan dan keterikatan kepada ulama dalam bingkai syariat. Itu terlihat pada aksi Bela Islam 2 dan berlanjut pada Aksi Bela Islam III,” ujarnya dirilis Islamic News Agency (INA).

GNPF MUI: Tunjukkanlah Akhlak Islam dan Qur’an pada Aksi Super Damai 212!

Menurutnya, gejala Aksi Bela Islam III tanggal 2 Desember 2016  hakekatnya adalah sebagai gerakan  soft Muslim People Power dalam bentuk Aksi Super Damai yang digerakkan oleh kesamaan rasa akibat penistaan agama dan Kitab Suci Umat Islam dimana tersangkanya Gubernur DKI Jakarta (non aktif) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Pendiri Ar-Rahmān Quranic Learning Center (AQL) ini juga mengatakan, aksi ini  hanya gunung es sebagai  akumulasi berbagai kasus ketidakadilan sosial Indonesia, khususnya terhadap umat Islam sebagai pihak yang sering tersudutkan.

“Mereka sering tertuduh sebagai pihak yang tidak nasionalis, anti Pancasila, tidak pro Bhinneka Tunggal Ika, dan lain-lain. Ironisnya, hak-haknya sebagai rakyat kecil terpinggirkan demi kepentingan pemodal asing dan aseng,” lanjutnya.

Selanjutnya ia mengatakan, di antara target Aksi Bela Islam adalah menguatkan rasa dan barisan Ukhuwah Islamiyah (Persaudaraan Islam) dan Ukhuwah Wathaniyah (Persaudaraan Nasionalisme) yang membawa pada Persatuan Indonesia, mengokohkan Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan nilai-nilai UUD 1945 yang asli.

Meski konsep acara Aksi Bela Islam III adalah dzikir dan doa, tetapi tujuan utama tetap menginginkan agar penegak hukum segera memenjarakan tersangka penista agama.

“Yang tak kalah pentingnya juga, aksi ini menuntut keadilan sosial dan keadilan hukum bagi seluruh rakyat Indonesia serta melawan kekuatan oligarki yang telah membuat Indonesia terjajah secara politik, ekonomi, sosial, dan hukum. Penjarakan penista agama secepatnya,”  ujarnya.*

 

Rep: Panji Islam

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Sumber : http://www.hidayatullah.com

Tragedi Rohingya, Anggota DPR Minta Myanmar Dikucilkan

save-rohingya

 Muslim Rohingya menangis setelah ditangkap oleh Penjaga Perbatasan Bangladesh di perbatasan Cox Bazar, Bangladesh, (21/11).

Muslim Rohingya menangis setelah ditangkap oleh Penjaga Perbatasan Bangladesh di perbatasan Cox Bazar, Bangladesh, (21/11).

“Hal ini perlu dilakukan agar stabilitas dan perdamaian dapat segera terwujud di negara bagian Rakhine. ASEAN harus bersikap lebih tegas, pendekatan persuasif dan kompromis terbukti gagal menghentikan pembantaian terhadap Muslim Rohingya di Myanmar,” katanya, Selasa, (22/11).

Toleransi dan jalan kompromi ASEAN, terang Sukamta, tak mampu membuat rezim Myanmar berkompromi untuk melindungi etnis minoritas. Makanya ASEAN harus mengambil langkah tegas terhadap Myanmar.

“Selama ini memang ASEAN menganut prinsip tak mau ikut campur terrhadap urusan dalam negeri setiap anggotanya. Namun genosida terhadap suku Rohingya ini bisa seharusnya bisa jadi momen bagi ASEAN untuk mengevaluasi prinsip ini,” kata Sukamta.

ASEAN harus membuat kebijakan lebih tegas terhadap Myanmar jika rezim di Myanmar tetap berlaku zalim kepada kaum minoritas Rohingya. Tekanan bisa dilakukan oleh ASEAN dengan melakukan pengucilan terhadap Pemerintah Myanma lewat embargo ekonomi.

Dulu embargo ekonomi terbukti bisa menekan Myanmar untuk lebih demokratis. “Saya kira cara yang sama bisa dilakukan saat ini untuk menyelamatkan Muslim Rohingnya,” kata Sukamta.

rohingya

Baca juga,  Citra Satelit: Ratusan Bangunan Muslim Rohingya Dibakar.

Di sisi yang lain ia berharap tekanan internasional lewat PBB dengan meminta tentara Myanmar menghentikan tindak kekerasan terhadap Muslim Rohingya. Selain itu, pemerintah Myanmar harus membuka akses tim investigasi dari PBB dan juga relawan kemanuasiaan internasional yang akan masuk ke Myanmar.

“Saya sesungguhnya sudah kehabisan kata-kata melihat kejahatan yang dilakukan terhadap Muslim Rohingya. Tindakan militer Myanmar seperti bangsa barbar.”

Sumber: Reuters/Republika.co.id/Mohammad Ponir Hossain

 

Panglima TNI : 6 Ancaman untuk NKRI

panglima-tni-gatot-nurmantyo-_160529135425-362

Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo

Di acara yang dipandu oleh Karni Ilyas itu, Panglima TNI berbicara tentang dampak peak oil theory (teori puncak minyak) terhadap geopolitik dunia dan Indonesia. Menipisnya produksi minyak, kata Gatot, membawa dampak berantai, seperti perubahan gaya hidup dan model bisnis, krisis/depresi ekonomi, hingga meningkatnya kejahatan dan konflik.

“Depresi ekonomi pasti sebanding dengan meningkatanya kejahatan dan konflik. Dan bermuara pada persaingan global,” kata Gatot.

Di sisi lain, populasi dunia terus bertambah, yang di tahun 2017 akan berjumlah 8 milyar orang. Normalnya, daya tampung bumi hanya 3-4 milyar orang. Setiap hari ada 41.095 anak-anak di dunia meninggal karena kemiskinan, kelaparan dan kesehatan buruk,” ungkapnya.

Di satu sisi, ketersediaan energi fosil, khususnya minyak, makin menipis. Di sisi lain, kebutuhan konsumsi energi terus meningkat 40 persen akibat penambahan populasi dunia. Tetapi saat ini, kata Gatot, terjadi pergeseran dari energi fosil ke energi nabati. Bicara energi nabati, adanya di negara-negara di dekat ekuator: Asia Tenggara, Afrika Tengah dan Amerika Latin.

“Di Asia tenggara, yang terbesar adalah di kepulauan Indonesia. Indonesia kaya semuanya,” jelasnya.

Pada titik itulah, ungkap Gatot, Indonesia dengan kekayaan alamnya akan menjadi rebutan. Dia kemudian mengutip Sukarno: “kekayaan alam Indonesia suatu saat nanti akan membuat iri negara-negara di dunia.” Dalam konteks itulah, Indonesia akan terus menjadi incaran untuk dilemahkan dan direbut kekayaan alamnya.

Berikut 6 ancaman menurut Panglima TNI:

1. Pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di Darwin

Menurut Gatot, di Darwin ada 1250 sampai 2500 personil marinir Amerika Serikat. “Darwin jaraknya hanya 479 km dengan Serwaru. Di situ ada Pulau Marsela dan Blok Masela. Boleh dong saya khawatir sebagai Panglima TNI,” paparnya.

2. Masalah Laut Tingkok Selatan

Menurut Gatot, hampir semua kapal-kapal yang ditangkap oleh Angkatan Laut (TNI AL), terutama tiga kejadian terakhir, dikawal oleh Coast Guard (penjaga pantai) Tiongkok. “Mereka mengklaim itu pantainya, padahal berada di wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia,” jelasnya.
Belakangan, ungkap Gatot, Filipina mengklaim Laut Tiongkok Selatan melalui pengadilan intenasional. Dan tanggal 12 Juli lalu, Pengadilan Arbitrase memenangkan klaim Filipina.

Tetapi Tiongkok menolak klaim itu. Presiden Tiongkok Xi Jinping menegaskan bahwa kedaulatan wilayah dan hak maritim Tiongkok di di latut tidak akan dipengaruhi oleh keputusan dengan cara apapun.

“Ini potensi konflik di sekitar kita,” tegas Gatot.

3. Manuver Five Power Defence Arrangements (FPDA)

Tanggal 14-21 Oktober, FPDA menggelar latihan besar-besaran dengan melibat 3000 personil, 71 pesawat tempur, 11 kapal tempur dan kapal selam.

FPDA adalah hubungan pertahanan negara-negara Persemakmuran Inggris, yang meliputi Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura. Kesepakatan yang dibuat tahun 1971 itu menegaskan bahwa kelima negara akan saling bantu jika ada serangan dari luar terhadap Malaysia, Singapura, Australia dan Selandia Baru.

4. Ancaman Narkoba

Menurut Gatot, sebanyak 2 persen atau 5 juta penduduk Indonesia terkena narkoba. Setiap tahunnya ada 15.000 orang meninggal karena obat terlarang itu.

“Dan itu fenomena gunung es. Pasti angkanya lebih besar. Bosan kita mendengar laporan dari Kepolisian dan BNN menangkap sekian kilo sabu tiap hari. Dan itu transaksinya di Malaysia,” ungkap Gatot.

Gatot menceritakan dampak narkoba pada sebuah bangsa dengan merujuk pada perang candu antara Tiongkok dengan Inggris dan Perancis. Dalam perang tersebut, Tiongkok kalah.

“Rakyat dan tentaranya kena candu, akhirnya kalah. Harus menggadaikan Hongkong dan Taiwan,” jelasnya.

5. Ancaman Terorisme

Gatot mengutip pernyataan Bahrum Naim, teroris yang dituding mendalangi serangan Sarinah awal Januari lalu: “apabila di Suriah sudah tidak aman, maka kembali ke daerah masing-masing melakukan khilafah. Dengan apapun kamu melakukan.”

“Tidak lama kemudian, di Perancis menggunakan bus menabrak. Pendeta ditusuk pisau,” ujarnya.

Masalahnya, kata Gatot, UU terorisme di Indonesia lemah dalam menangkap terorisme. Berbuat dulu baru ditangkap. “Indonesia tempat paling enjoy bagi terorisme, kita tinggal tunggu saja,” tandasnya.

Namun, menurut Gatot, terorisme juga terkait dengan perebutan ladang energi. Dia merujuk pada kasus Irak, Libya dan Suriah. “Hanya permasalahan di dalam negeri, baru dicap teroris, kemudian pasukan koalisi masuk, lalu bagi-bagi. Karena punya energi,” paparnya.

7. Persaingan ekonomi Global

Gatot merujuk pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat, PDB Indonesia yang urutan ke-8 dunia, kepercayaan konsumen yang tinggi, dan dampak dari program amnesti pajak. Dan sebagai kekuatan ekonomi besar, Indonesia berpotensi untuk digoyang.  – berdikarionline

Aksi Bela Negara : ”Kolam Susu” Indonesia Mengundang Iri dan Bahaya

 

7829234702-indonesia_dikenal_sebagai_negeri_yang_kaya_emas

Indonesia Kaya dengan sumber daya alam. (Trading Forex Online)

AMBON. Ungkapan kelompok musik legendaris Koes Plus tentang kesuburan dan kekayaan sumber daya alam (SDA) Indonesia lewat lagu “Kolam Susu” yang populer pada era 1970-an tampaknya bukan pujian kosong.

Dulu, Proklamator dan sekaligus Presiden I Republik Indonesia Soekarno mengatakan kekayaan negara ini suatu saat kelak akan membuat iri negara-negara di dunia. Kini, Presiden Ke-7 RI Joko Widodo mengingatkan bahwa kekayaan yang melimpah itu justru bisa menjadi petaka bagi kita.

Apa yang dikatakan Bung Karno dan Jokowi itu diungkapkan Panglima Kodam XVI/Pattimura Mayjen TNI Doni Monardo, ketika memberikan pemaparan tentang ancaman isu global terhadap Indonesia, dalam satu acara yang digelar di Aula Makorem 151/Binaiya di Kota Ambon, Maluku, Kamis (17/11).

Mantan Komandan Jenderal Kopassus itu mengakui dirinya diberi tugas oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk menyosialisasikan mengenai berbagai ancaman, baik dari luar maupun dari dalam yang membahayakan kehidupan masyarakat dan bangsa, kepada seluruh warga masyarakat di wilayah kerjanya, Maluku dan Maluku Utara.

Alasannya, Maluku dan Maluku Utara termasuk dua provinsi di kawasan Indonesia timur yang memiliki kekayaan alam melimpah, dan sangat boleh jadi menjadi incaran negara-negara luar.

Dulu menjadi pusat pencarian rempah-rempah, seperti cengkih dan pala, kini Maluku juga diketahui memiliki minyak dan gas bumi di laut Arafura, emas di Pulau Buru dan kemungkinan pula di Pulau Romang, bahkan uranium yang merupakan mineral langka di dunia yang akan sangat dibutuhkan pada masa mendatang.

Selain kekayaan berupa barang tambang dan mineral, Maluku juga memiliki harta melimpah di bidang perikanan yang memberi kontribusi 20 persen hasil tangkapan nasional, dan aneka tanaman yang tumbuh subur berkat tanahnya yang gembur.

Namun demikian, kekayaan alam itu ternyata belum bisa memberi kesejahteraan hidup masyarakat di negeri raja-raja ini, yang sampai sekarang masih menyandang predikat provinsi termiskin ke empat di Tanah Air, setidaknya berdasarkan data Badan Pusat Statistik.

Karena itu, harus ada cara untuk membangkitkan perekonomian Maluku, dan yang telah dilakukan Kodam XVI/Pattimura adalah penerapan program Emas Biru (pemberdayaan potensi kelautan dan perikanan), Emas Hijau (pemberdayaan potensi daratan, terutama tumbuhan), dan Emas Putih (membangun kerukunan dan keharmonisan hidup orang basudara).

Peta Ancaman Acara bertajuk “Tatap Muka Pangdam XVI/Pattimura Bersama Komponen Masyarakat dalam Rangka Sosialisasi Ancaman Isu Global” di Aula Makorem 151/Binaiya itu dihadiri ratusan peserta dari berbagai elemen itu, mulai dari pejabat Pemerintah Provinsi Maluku dan Kota Ambon, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga pelajar dan mahasiswa.

Dalam pertemuan itu diungkapkan beberapa isu yang merupakan ancaman sangat berpengaruh terhadap kondisi dalam negeri, sehingga harus dipahami betul oleh masyarakat.

Pertama isu Darwin, yakni adanya dugaan penempatan pasukan Amerika Serikat di Darwin, Austalia Utara, yang bisa mengancam keberadaan blok migas Masela atau yang disebut Lapangan Gas Abadi, terletak di Laut Arafura dan berjarak sekitar 492 kilometer dari pantai Darwin.

Peserta pertemuan diingatkan pada masalah “Celah Timor”, dimana Perdana Menteri Xanana Gusmao mengakui kekayaan negaranya itu dirampok oleh konspirasi asing, terbukti dari sidang arbitrase internasional yang memutuskan perkara sengketa minyak itu dikembalikan kepada Timor Leste dan Australia untuk menyelesaikannya.

Kabarnya, Australia baru akan berbagi hasil dengan Timor Leste atas “harta” itu pada 50 tahun yang akan datang.

Dibandingkan dengan “Celah Timor”, kandungan migas Blok Masela dipastikan jauh lebih besar, karena sudah 22 cekungan yang ditemukan.

Ancaman berikutnya terkait keberadaaan FPDA (Five Power Defence Arrangements) yang melibatkan negara-negara persemakmuran, yakni Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia, dan Singapura, dibangun sejak 1971. Lima negara itu akan dengan cepat bersatu padu manakala ada serangan bersenjata terhadap Malaysia dan Singapura.

Sejarah mencatat, hubungan RI dengan Malaysia, Singapura dan Australia beberapa kali mengalami guncangan.

Selanjutnya menyangkut peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang atau biasa disebut narkoba. Kekuatan dari luar ditengarai menggunakan narkoba untuk “membunuh” generasi muda untuk melemahkan suatu negara.

Jurnal Data P4GN menyebutkan, pada 2016 ada lebih kurang 5,1 juta atau 2 persen dari jumlah penduduk Indonesia menyalahgunakan narkoba, dan setiap tahun 15.000 jiwa meninggal dunia akibat penggunaan “barang haram” tersebut. Apa yang disebut Perang Candu ini memiliki target pemusnahan generasi muda dan produktif.

Itu sebabnya Presiden Jokowi secara tegas menyatakan pengedar narkoba yang telah dinyatakan bersalah di pengadilan harus dihukum mati. Langkah serupa dilakukan Presiden Filipina Rodrigo Duterte, yang menyatakan dalam memerangi narkoba maka HAM harus dikesampingkan.

Selain narkoba, yang perlu diwaspadai juga adalah gerakan terorisme, dimana fakta menunjukkan tidak sedikit pemuda dan bahkan anak-anak di Suriah disiapkan untuk masuk ke Indonesia.

Indonesia sendiri bisa disebut sebagai salah satu target serangan terorisme, mulai dari Bom Bali I dan II, Hotel Ritz Charlton, Hotel J.W. Marriot, Kedutaan Australia, Bom Sarinah-Thamrin, dan sebagainya, paling akhir bom molotov di Gereja Oikumene di Samarinda, Kalimantan Timur, yang mencederai empat balita, satu di antaranya meninggal dunia (Intan Olivia Marbun), dan bom di sebuah Vihara di Singkawang, Kalimantan Barat.

Yang terakhir adalah isu persaingan ekonomi, dimana Indonesia yang sumber daya alamnya melimpah sangat mungkin menjadi incaran negara-negara luar untuk dikuasai.

Amnesti Pajak Tersukses Salah satu isu yang masuk dalam kewaspadaan di bidang ekonomi adalah kesuksesan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menerapkan kebijakan Amnesti Pajak, yang membuat iri negara-negara lain, baik di Eropa maupun Asia.

Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh situs http://www.pajak.go.id, tebusan Amnesti Pajak Indonesia tercatat sebagai yang terbesar di dunia dengan capaian Rp97,2 triliun dari 366.768 wajib pajak (peserta Amnesti Pajak) dan 14.135 wajib pajak baru.

Kembalinya dana-dana nasional yang semula di parkir di luar negeri itu berpontensi ancaman, karena Indonesia dinilai akan tumbuh dan berkembang menjadi salah satu negara terkuat perekonomiannya di dunia.

Di samping itu, Indonesia adalah negara yang masuk dalam Peta Kesuburan Wilayah Ekuator bersama sejumlah negara di Afrika (Kongo, Ghana, Khad, Angola, Kamerun, Pantai Gading, Nigeria, Liberia), dan Amerika Latin (Kolumbia, Meksiko, Venezuela, Guatemala, Brazil, Guyana, Nikaragua, Panama, Bolivia, Ekuador).

Dalam Peak Oil Theory (Teori Puncak Minyak Bumi), konflik yang terjadi di negara-negara Timur Tengah umumya menyangkut penguasaan akan minyak. Namun, kondisi itu diyakini tidak akan terus bertahan hanya di kawasan tersebut, tetapi akan bergeser ke negara-negara penghasil pangan, air dan energi yang berada di kawasan Ekuator.

Artinya, Perang Minyak di Arab Spring akan bergeser ke negara-negara di lintasan garis khatulistiwa, termasuk Indonesia.

“Proxy War” Selain narkoba, terorisme, dan kompetisi global, hal yang perlu diwaspadai adalah “Proxy War” atau upaya mengadu domba masyarakat di suatu negara tanpa melibatkan diri secara langsung, dengan satu tujuan melemahkan negara tersebut sehingga mudah dikuasai.

Penjelasan singkatnya, taktik “divide et impera” (kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi untuk mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan) pada masa kolonial, kini muncul lagi dalam bentuk “invisible hand” (tangan/kekuatan tidak kelihatan) yang ingin menguasai suatu negara.

Karena itu, Indonesia yang multikultur, etnik, dan agama harus betul-betul dijaga semangat bhinneka tunggal ika-nya, jangan sampai tercabik-cabik karena sikap mengedepankan kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan.

Pendek kata, jangan mau diadu domba! Kerusuhan Mei 1998, Konflik komunal di Sampit, Maluku, Poso, dan Lepasnya Timor Timur dari pangkuan Ibu Pertiwi merupakan pelajaran sangat berharga dan hendaknya menjadikan masyarakat dan bangsa Indonesia semakin matang dan cerdas, tidak mudah terprovokasi hasutan-hasutan yang ingin menghancurkan persatuan dan kesatuan serta keutuhan NKRI.

Bung Karno dan Jokowi sudah memperingatkan. Kini, saatnya bagi semua warga masyarakat untuk menyadari dan menjaga kekayaan alam negara ini, agar bisa dimanfaatkan bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

 


Penulis :  John Nikita Sahusilawane
Editor : Marcel Rombe Baan
Sumber : Antara, http://www.netralnews.com/news/opini/read/36912/..kolam.susu…indonesia.mengundang.iri.dan.bahaya

Skandal Laut Timor : Xanana Gugat Australia, Timor Barat Setuju

xanana_gusmao_101209165333

Xanana Gusmao

KUPANG — Pemegang mandat hak ulayat masyarakat adat Timor Barat, Rote, Sabu, dan Alor di Laut Timor Ferdi Tanoni mendukung langkah PM Timor Leste Xanana Gusmao yang tengah menggugat Australia soal batas Laut Timor di Mahkamah Internasional.

“Kami dukung sepenuhnya langkah Timor Leste tersebut karena Timor Barat juga memiliki kepentingan yang sama atas Laut Timor,” kata Tanoni yang juga pemerhati masalah Laut Timor itu di Kupang, Kamis, menanggapi gugatan Timor Leste yang sedang berlangsung di Mahkamah Internasional, Den Haag, Belanda.

Tanoni yang juga Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) itu mengatakan bahwa Timor Barat tidak hanya sebatas mendukung langkah gugatan tersebut, tetapi bersedia pula untuk menghadiri panel di Mahkamah Internasional tersebut.

“Laut Timor yang kaya akan sumber alam gas dan minyak bumi itu, bukan hanya milik Timor Leste, melainkan juga adalah milik rakyat Indonesia yang mendiami Pulau Timor, Rote, Sabu, dan Alor,” ujar mantan agen imigrasi Kedutaan Besar Australia itu.

download

Penulis buku “Skandal Laut Timor, Sebuah Barter Ekonomi Politik Canberra-Jakarta” itu menegaskan bahwa perjanjian batas laut Timor yang disepakati oleh Indonesia dan Australia antara 1974 dan 1997 sangat merugikan rakyat Indonesia yang mendiami bumi Nusa Tenggara Timur.

Hubungan Timor Leste dan Australia saat ini “mulai tidak mesra” menyusul tindakan Australia memata-matai para menteri di negara baru itu selama proses negosiasi perjanjian sumber daya Laut Timor pada tahun 2004.

Tidak mesranya hubungan kedua negara itu, kata Tanoni yang juga Peraih Civil Justice Award Nasional dari Aliansi Pengacara Australia (ALA), diperparah lagi tindakan Badan Intelijen Australia (ASIO) melakukan pembredelan terhadap kantor dan rumah pengacara pemerintah Timor Leste Bernard Colleary di Canberra, Australia, pada hari Senin (2/11).

Sebagaimana diketahui bahwa dalam perjanjian pendapatan bagi hasil untuk gas dasar Laut Timor antara Australia dan Timor Leste terdapat syarat bahwa Timor Leste akan mengesampingkan klaim untuk batas maritim permanen selama 50 tahun ke depan sehingga menimbulkan pemberontakan di Timor Leste yang melukiskannya sebagai “sebuah perjanjian yang sama sekali tidak adil”.

20130428185431169

Tanoni menambahkan bahwa Australia bukan lagi dipandang sebagai “tetangga yang baik” yang dalam membangun sebuah kebersamaan antarnegara karena telah melakukan tindakan mata-mata terhadap tetangga terdekatnya demi kepentingan dan keuntungan sendiri, seperti yang dilakukan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam hubungan dengan itu, Tanoni juga meminta Jakarta agar berani dan tegas menyatakan kepada Australia untuk berkata jujur bahwa perjanjian-perjanjian batas ZEE-Landas Kontinen dan Batas-batas dasar Laut tertentu di Laut Timor yang disepakati antara 1974 dan 1998 semuanya tidak berdasarkan pada fakta geologi dan geomorfologi Laut Timor serta tidak sesuai dengan prinsip-prinsip internasional.

Oleh karena itu, kata dia, sikap dan langkah politik pemerintah Timor Leste itu seharusnya mendapat dukungan penuh dari pemerintahan Presiden SBY, yakni dengan melakukan peninjauan ulang terhadap seluruh perjanjian bilateral antara kedua negara serta membatalkan seluruh perjanjian tentang Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Batas-batas Dasar Laut Tertentu serta Batas Landas Kontinen di Laut Timor dan Arafura, kemudian dirundingkan kembali secara trilateral bersama Timor Leste.

797Peta Laut Timor_int

Peta laut timor (inet)

Ia mengatakan bahwa argumentasi Australia yang mengatakan Pulau Timor dan benua Australia berada dalam dua landas kontinen yang berbeda adalah sebuah kebohongan belaka agar Australia bisa menguasai 85 persen wilayah Laut Timor.

“Secara teknis dapat kita buktikan bahwa Pulau Timor dan Benua Australia berada dalam satu landas kontinen yang sama, yakni Landas Kontinen Australia sehingga penetapan batas-batas laut tersebut harus disesuaikan dengan prinsip internasional yang menggunakan ‘median line’ atau garis tengah,” katanya menegaskan.

Ia menambahkan bahwa kesepakatan atas semua perjanjian yang dibuat Indonesia dan Australia itu hanya menguntungkan Australia, sementara rakyat NTT hanya menerima penderitaannya saja sehingga sepatutnya untuk ditinjau kembali demi kepentingan bersama tiga negara.

Selain itu, secara de facto dan de jure telah terjadi perubahan geopolitik yang sangat signifikan di kawasan Laut Timor dengan lahirnya sebuah negara baru bernama Timor Leste sehingga Laut Timor bukan lagi hanya milik Indonesia dan Australia, melainkan juga menjadi miliknya Timor Leste.

http://www.republika.co.id

186 Kerajaan Eks-Nusantara Yang Masih Eksis Perlu Payung Hukum

39DSC_0275

Jakarta – Dalam sisi sejarah dan kepemimpinan melayu yang berkarakter, Suhardi Somomeljono, SH membahasnya dengan tajuk: “Merajut Peradaban Melayu Masa Depan dalam Perspektif Budaya Nusantara” . Menurutnya, Kerajaan di Indonesia yang berakhir pada tahun 1525 pada masa Kerajaan Majapahit itu pada episode selanjutnya ketika bangsa Melayu mampu mengalahkan Mongolia.

Dalam perspektif sejarah, kata Suhardi, kejayaan nusantara menembus batas-batas wilayah hingga kawasan ASEAN.  “Bahkan kita katakan pada waktu itu Malaysia sebenarnya  masuk sebagai propinsi-nya kerajaan Majapahit yang dinamai “Semenanjung Melayu”.

“Kini saya berpendapat Malaysia itu juga bangsa melayu sama dengan bangsa Indonesia. Maka dengan pendekatan seni budaya dan pariwisata, sesungguhnya bangsa melayu itu dapat kita rajut, yang rajutan itu sebenarnya berlangsung sejak lama karena bangsa ini sudah disentuh dengan seni budaya melalui lagu-lagu atau nyanyian yang bernuansa melayu,”tegas pengacara ini.

Dikatakan oleh Suhardi, persaudaraan kita bisa menyatu dan saya yakin Malaysia dan Indonesia suatu saat akan menjadi satu “Negara Melayu”. “Hal ini  berangkat dari hati nurani yang paling dalam, sejatinya saya ingin mengatakan bahwa saya tidak pernah merasa Malaysia itu terasing dengan Indonesia, dan selalu saya katakan,  Malaysia itu saudara kita sesama satu bangsa Melayu,” tandas Suhardi dengan mantap.

Kalau akhir-akhir ini kerap terjadi hal-hal yang diberitakan oleh media, tambahnya, itu hanya efek-efek kecil dari semangat besar bangsa melayu. Tema seminar “Merajut Peradaban Melayu”, sangat penting yang nantinya dapat merekomendasikan hal-hal yang menjadi aspirasi mamsyarakat kita. “Kami menemukan kurang lebih ada 186 kerajaan yang masih eksis. Ini harus menjadi pekerjaan rumah Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM) untuk melakukan penelitian atau pengkajian selanjutnya,” tandas suhardi.

“Dengan UU Kerajaan eks-Nusantara sebagai asset Negara, maka pengelolaannya diatur pula oleh APBN (Anggaran Perencanaan Belanja Negara) kemudian dihidupkan (dijumenengkan) kembali dalam kerangka pendekatan seni budaya dan pariwisata,”harap Suhardi kepada Senat dan DPR.

Terkait Pusat Kajian Melayu, Suhardi berpendapat lain,  jika nanti ada perubahan besar dalam tubuh bangsa ini tidak mustahil pada suatu saat Malaysia dan Indonesia bisa bersatu seperti menyatunya Jerman Barat dan Jerman Timur. Apalagi kalau ada pemimipin  sehebat Bung Karno yang bisa menyatukan bangsa melayu, saya kira tidak perlu ragu-ragu lagi bahwa kajian melayu ini harus mengarah kesana, tidak sebatas mengkaji soal peradaban, peradaban sudah jelas sebagai heritage.

“Sekarang sudah muncul masyarakat kita yang ingin membangkitkan kembali Majapahit di Jawa Timur dan Sriwijaya di Sumatera, mereka ingin membesarkan bangsa melayu, sebab kalau tidak, maka akan tertindas. Modal kita sudah ada satu bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu maka Indonesia akan maju dan jaya di masa yang akan datang. .

Perihal kepemimpinan saat ini dan masa depan, Suhardi juga merasa prihatin,  menurutnya, regenerasi Presiden di Indonesia saat ini mengalami krisis tokoh, sehingga tokoh-tokoh yang akan berlaga di Capres 2014 rata-rata berumur diatas 60-an tahun. Partai politik tidak mampu menjadikan kader partainya menjadi pemimpin. Krisis kepemimpinan di Indonesia sudah diambang berbahaya.

“Melalui kajian –kajian seperti ini kami berharap muncul kader-kader pemimpin di tanah air. Kita harus cepat antisipasi jangan terlambat sebab orang melayu harus berkembang dan maju dan lebih baik di masa depan”, pungkas pengacara asal Jawa Timur ini. /Sumber: Panitia.

Foto: Dr. Ir. Yetti Rusli, Staf Ahli Menteri Kehutanan dan Suhardi Somomoeljono, SH (Pengacara) saat Menjadi Pembicara pada Seminar Nasional “Merajut Peradaban Melayu Masa Depan dalam Perspektif Baru”, 26 Desember 2012 di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta./redaksi

Asosiasi Kerajaan se-Nusantara

Kini ke-186 kerajaan eks-Nusantara yang masih eksis tersebut tergabung ke dalam suatu Asosiasi Kerajaan sebagai berikut :

1. FSKN : Forum Silaturahmi Keraton Nusantara

2. FKIKN : Forum Komunikasi dan Informasi Keraton Nusantara

3. AKKI : Asosiasi Kerajaan dan Kesultanan Indonesia

Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN)

FKSN-11

Forum Silaturahmi Keraton Nusantara, disingkat dengan FSKN merupakan sebuah Organisasi Kemasyarakatan (Orkemas) yang didirikan melalui Akte Notaris Inne Kusumawati, S.H Nomor 5 Tanggal 24 April 2006, dan terdaftar di Depdagri Nomor 92/D.III.3/VIII/2008. FSKN berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Sifat Organisasi ; FSKN merupakan lembaga non profit yang bersifat kekeluargaan yang memiliki perhatian pada bidang adat, tradisi, seni dan budaya masyarakat.

Bentuk Organisasi ; FSKN berbentuk perserikatan dari para Raja, Sultan, Penglingsir dan Pemangku Adat, senusantara yang memiliki cita-cita dan tujuan yang sama sesuai dengan anggaran dasar FSKN. Semua anggota FSKN memiliki kedudukan yang sama dan setara.  FSKN-ACEH merupakan wadah pemersatu keturunan Bangsawan Aceh yang melekat panggilan atau sebutan : Tuanku, Raja, Reje, Teuku, Ampon, Pocut/Cut, atau sebutan lainnya, dan para Ulama/Said/Tokoh/Pakar, untuk berjuang bersama mewujudkan Aceh menjadi Negeri yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Sebagaimana Visi FSKN Aceh yaitu : “Aceh Menuju Negeri yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur”.  Dan Misinya : “Terwujudnya Pelestarian Adat, Tradisi, Seni dan Budaya sebagai jati diri bangsa dalam bingkai syariat islam dan bhineka tunggal ika”.

cropped-header-1

Susunan Kepengurusan Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara (FSKN) Periode 2013-2018

Dewan Pembina : Sri Sultan Hamengku Buwono X

Ir.H. Azwar Anas

H. Taufik Thayeb

Dra. G.R.Ay. Koes Moertiyah

H. Andi Oddang

KGPH Abdul Natadiningrat,SE.

Drs. Adji Pangeran Adipati Prabu Anum Surya Adiningrat, M.Si.

Ratu Boki Nita Susanti

Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, SE.

Ketua Umun    : Ida Tjokorda Ngurah Jambe Pemecutan,SH.

Ketua              : Datuq Sri Adil Freddy Haberham,SE

Ketua              : Andi Kumala Idjo,SH

Ketua              : Tubagus Ismetullah Al-Abbas

Ketua              : Lalu Satria Wangsa,SH

Ketua              : Dr H. Adji Pangeran Hari Gondo Prawiro,MM

Ketua              : Gusti Kanjeng Ratu Ayu Koes Indriyah

Ketua              : Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta SE,Msi

Ketua              : Kanjeng Pangeran Norman Hadinegoro,SE.MM.

Sekretaris Jenderal : Kahrul Zaman SH,MH

Sekretrais               : Dra. R Ay. Hj Yani W Sulistiawati Soekotjo

Sekretaris               : Ir. Muhammad Yunus

Sekretaris               : Hj.Mulyana Isham,SH,MM.

Sekretaris               : I Made Abdi Negara S.Sos

Bendahara Umum   : Datu Pocut Haslinda

Bendahara              : Ratu Raja Arimbi Nurtina, ST

Bendahara              : ST. Yudhi Prayogo SE.MEI

Bendahara              : I Gusti Ngurah Made Arya, SH.

Bendahara              : A.A. Gde Chandra

Bendahara              : Drs. I Made Raka Sedana

BIDANG-BIDANG

Bidang Politik, Hukum dan Advokasi  : Dr. Rustuty Rumagesan, SH.

Datuk Artadi

Pangeran Raja Luqman Zulkaedin

Bidang Organisasi dan Litbang         :  Dr. Tubagus Najib

Adji Mas Amiruddin

Bid. Humas Informasi&komunikasi    : Helmy Baratayudha

Mogan Made Suatha

Bid. Adat, Seni, Tradisi dan Budaya :  Prof. Dr. Muhammad Asdar

Dr. Laode Muhammad Syarif M

Drs. Zaidan B.S.

Bidang Lingkungan Hidup                : Ir. R. Soegiharijanto

Prof. Dr. Ir. Nurdin Abdullah

Bidang Hubungan Internasional       : Teuku Rafli Hasbsyah SE. MSi

Drs. Oni Benyamin M Si

KOORDINATOR WILAYAH

Koordinator Wilayah Sulawesi         : Andi Kumala Idjo, SH

Koordinator Wilayah Sumatera        : Datuq Sri Adji Freddy Haberham, SE.

Koordinator Wilayah Kalimantan      : Datu Abdul Hamid

Koordinator Wilayah Jawa               : Gusti Kanjeng Ratu Ayu Koes Indriyah

Koordinator Wilayah Papua              : DR. Hj. Rustuty Rumagesan MBA

Koordinator Wilayah NTB                 : Kahrul Zaman, SH. MH.

Koordinator Wilayah NTT                 : Leopold Nicolas Nisnoni

Koordinator Wilayah Maluku&Ternate: Ir. H. Abdullah Malawat

Koordinator Wilayah Bali                  : A.A. Ngurah Agung Wirabima Wikrama, ST. MSi

http://www.melayutoday.com/

http://nasional.sindonews.com/

http://www.facebook.com/

http://fsknaceh.wordpress.com/

%d bloggers like this: