Riyadh – Negara-negara penghasil dan konsumen minyak dunia menandatangani kesepakatan yang bertujuan untuk meredam gejolak harga minyak dan stabilisasi pasar, meski terjadi kerusuhan di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak mentah.

Piagam tidak mengikat itu diteken oleh 87 negara, yang menguasai 90% produksi dan konsumsi minyak dunia. Penandatanganan piagam dilakukan di Riyadh, bersamaan dengan melonjaknya harga minyak hingga menembus US$ 107 per barel akibat memanasnya situasi di Libya.

“Kami di sini untuk memformalkan dan meresmikan perserujuan dari piagam International Energy Forum (IEF),” ujar Deputi Menteri Perminyakan Arab Saudi, Pangeran Abdul Aziz bin Salman sebelum pertemuan luar biasa tingkat menteri IEF seperti dikutip dari AFP, Selasa (22/2/2011).

Menteri Perminyakan Arab Saudi, Ali al-Naimi mengatakan, piagam itu bertujuan untuk menciptakan pasar energi global yang berkarakteristik transparansi dan stabilitas, sekaligue memperkuat kerjasama untuk manfaat generasi mendatang.

Pangeran Abdul Aziz mengatakan, pertemuan satu hari itu juga akan membahas isu-isu kunci dari masalah gejolak harga jangka pendek dan secara jangka panjang terkait permintaan dan penawaran migas.

Sekjen IEF, Noe van Hulst mengatakan, pada menteri yang hadir sepakat fluktuasi harga yang tajam di pasar akan membahayakan.

Pertemuan ini dilakukan bersamaan dengan gejolak politik di Timur Tengah yang membuat harga minyak melonjak ke titik tertingginya dalam 2,5 tahun terakhir. Dalam pertemuan sebelumnya di Meksiko Maret 2010 lalu, IEF sepakat untuk meningkatkan dialog yang bertujuan untuk meningkatkan transparansi di pasar energi sehingga bisa mengurangi volatilitas harga.

Pada perdagangan Selasa ini di pasar Asia, harga minyak jenis Brent melonjak menembus US$ 107 per barel. Harga minyak Brent pengiriman April tercatat naik US$ 1,53 menjadi US$ 107,27 per barel. Sedangkan minyak lught sweet pengiriman Maret melonjak US$ 7,2 menjadi US$ 93,40 per barel. (qom/dnl)

sumber: http://www.detikfinance.com

Advertisements