KAZAN — Prinsip pendidikan di Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur, dibahas dalam dialog interaktif di kota santri Kazan, Rusia.

“Counsellor” KBRI Moskow M. Aji Surya dalam keterangannya yang diterima Antara News di London, Rabu mengatakan, dialog itu menghadirkan lima pembicara dari Indonesia, yakni Prof Dr Komarudin Hidayat (UIN Jakarta), Dr KH Syukri Zarkasyi (pimpinan Gontor), Prof Dr Philip K Wijaya (wakil dari Walubi), Trias Kuncahyono (dari media) dan Dr Abdul Djamil dari Kemenag.

Pada dialog bertajuk “Building Harmony in Diversity” tersebut mengemukan bahwa tiga pilar pendidikan yang dipakai Pondok Modern Gontor menjadi salah bahan diskusi hangat, yakni pendidikan keagamaan (Ketuhanan), kemanusiaan dan kebangsaan.

Pertautan antara ketiganya tidak bisa dipisahkan bila menginginkan adanya keberhasilan pembangunan mental yang mampu menjaga kerukunan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Berbagai teori sosiologi yang mengemuka, unsur pendidikan merupakan hal yang mutlak dan tidak bisa dinafikan. Pendidikan inilah bagian penting yang akan membangun kepribadian manusia muda sebelum mereka benar-benar terjun dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut pimpinan Pondok Modern Gontor Syukri Zarkasyi, setiap manusia terlahir di Indonesia dipastikan memiliki agama, menjadi seorang manusia dan sekaligus menjadi bagian dari sebuah bangsa.

“Gontor sebagai lembaga pesantren dipastikan mengajarkan agama secara intens, menerapkan sistem pendidikan berbasis asrama agar santri bisa bermasyarakat, serta menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dalam arti yang luas,” katanya.

Apabila tiga hal tersebut ditangani secara serius, katanya, maka setiap individu akan memiliki potensi iman yang baik, mengerti pluralisme kehidupan serta mampu bergaul di masyarakat dengan mengedepankan prinsip keharmonisan.

“Nilai yang diajarkan di Gontor tersebut juga berlaku secara universal,” ujarnya.

Saat ditanya bagaimana membumikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan anak didik, Syukri Zarkasyi menggarisbawahi, penanaman nilai yang efektif bukan hanya melalui buku dan pelajaran di kelas, namun melalui berbagai aktivitas yang didesain untuk anak didik.

Dubes RI di Moskow Hamid Awaludin menyebutkan, selain masalah pendidikan, berbagai isu lain juga dibahas dalam dialog tersebut seperti soal kekerasan terhadap kemanusiaan, menjaga pluralisme di tengah maraknya kebebasan daerah dan peran pers dalam alam demokrasi.

Dari Rusia, selain agamawan, kalangan akademisi juga ikut menjadi pembicara. Isu yang dibahas merupakan hal yang relevan bagi Indonesia maupun Rusia.

Menurut penanggung jawab “interfaith” dari KBRI Moskow M Aji Surya, kegiatan ini merupakan yang kedua kalinya setelah yang pertama dilaksanakan di tahun 2009 di Moskow. Selain di Kazan, kegiatan serupa juga diadakan di universitas MGIMO di Moskow.

Dialog yang digelar KBRI Moskow itu didukung Kemenag, Kemlu dan berbagai pihak di Rusia.

sumber: http://hidayatullah.com