Otak orang yang berusia paruh baya tidak lagi lincah sebagaimana otak orang muda disebabkan semua stres yang pernah dialaminya. Demikian sebuah studi terbaru yang dirilis hari Selasa (31/5) di Journal of Neuroscience menyebutkan.

Stres menyebabkan sel saraf otak menciut dan kehilangan plastisitas (kemampuan untuk membentuk hubungan yang disebut sinapsis).

Hasil penelitian para ilmuwan Amerika Serikat itu memberikan pemahaman tambahan tentang proses penuaan dan mengapa sebagian orang kemampuan berpikirnya berkurang lebih cepat dibandingkan orang lain.

“Kami menduga sel-sel saraf (otak) berubah karena umur, tapi kehilangan platisitas sinapsis dalam konteks pengalaman hidup terbukti memberikan implikasi pada penurunan kemampuan berpikir yang terkait dengan umur,” kata John Morrison dari Mount Sinai School of Medicine.

Morrison bersama rekan-rekannya meneliti tikus muda, tikus paruh baya dan tikus tua yang ditempatkan dalam sebuah area selama beberapa jam, yang bisa mengeluarkan hormon stres penyebab perubahan sel otak di prefrontal cortex atau bagian otak yang dipakai dalam proses belajar.

Tim peneliti itu mengkaji perubahan pada bagian sel otak yang disebut spines yang digunakan untuk membentuk sinapsis. Ketika mereka melihatnya lewat mikroskop, mereka mendapati perubahan pada spines milik tikus-tikus muda, yang menunjukkan bahwa mereka bisa beradaptasi dengan pengalaman yang menimbulkan stres.

Spines pada otak tikus-tikus separuh baya tidak berubah banyak. Sementara spines pada tikus tua tidak ada yang berubah.

Dari sana disimpulkan, bahwa proses penuaan menyebabkan kehilangan signifikan pada kemampuan otak untuk merespon stres, sesuatu yang sangat penting dalam proses belajar.

Prefrontal cortex secara konstan ‘menyambung kembali’ sebagai respon dari pengalaman hidup,” kata Morrison.

Namun, otak-otak tua secara signifikan kehilangan spines, dan kalaupun ada yang masih memiliki, kemampuannya kurang dalam merespon situasi yang memerlukan adanya ‘penyambungan kembali’ saraf-saraf otak.

“Saya tidak akan berusaha untuk mempelajari bahasa (asing),” kata Morrison, mengingat kemampuan otak orang tua yang menurun. “Sebagian orang bisa melakukannya, tapi tidak akan seperti anak-anak kemampuannya,” tegas Morrison yang berusia 58 tahun.

Untungnya meskipun menua, seseorang tidak akan kehilangan keterampilannya dalam melakukan sesuatu.

“Anda tidak akan kehilangan sinapsis dan sirkuit-sirkuit yang sangat stabil,” kata Morrison.

Temuan tersebut bermanfaat untuk lebih memahami penyakit Alzheimer. Jika ingin memerangi Alzheimer, maka orang harus melakukan pencegahan sejak dini, kata Morrison.

Alzheimer banyak menyerang orang-orang yang memasuki usia senja. Otak penderita penyakit ini ukurannya menciut dan kemampuan kerja otak mereka menurun drastis sehingga mempengaruhi kemampuan kerja anggota tubuh lain. Para penderita antara lain akan mengalami kesulitan dalam berbicara, pikun, tidak bisa mengurus dirinya sendiri, sulit untuk berpikir, kehilangan orientasi ruang dan waktu, serta mudah berubah minat, kondisi kejiwaan dan kepribadiannya.*

Sumber : rtr/wb
Red: Dija
hidayatullah.com