Hampir di tiap jenjang pendidikan di Indonesia akan memasuki tahun ajaran baru. Para orangtua pun sibuk mencari alternatif sekolah untuk kelanjutan pendidikan anaknya kedepan, salah satunya dengan menjatuhkan pilihan kepada Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Orangtua menilai dengan label internasional, maka mutu sekolah akan lebih terjamin.

Fenomena inilah mendapat analisa mendalam dari Erma Pawitasari, Direktur Eksekutif Andalusia Islamic Education and Management Services (AIEMS). Padahal menurutnya konsep SBI lahir tanpa penelitian yang matang.

“SBI ini tidak didahului penelitian yang matang. Dia bagian dari westernisasi saja. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum Cambridge. Ini dagangan saja.” Katanya kepada Eramuslim.com, Sabtu 2 Juli.

Wanita yang akhirnya memilih keluar dari sebuah sekolah bertaraf Internasional ini menilai dampak dari persiapan yang tidak matang akan berujung pada perekrutan sumber daya yang terkesan asal-asalan.

“Misalnya guru untuk bisa mengajar fisika Cambridge, asal bisa bahasa Inggris langsung disuruh ngajar. Padahal konsep Cambridge itu berbeda dengan kurikulum nasional.” Terang Kandidat Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun ini.

Dampak diberlakukannya SBI akhirnya juga mengarah kepada kapitalisme di Bidang pendidikan. Dana yang membumbung tinggi untuk masuk SBI bisa mencapai puluhan juta. Murid tidak mampu pun sulit menjangkaunya.

“Negara menggelontorkan milyaran rupiah, Pemerintah Daerah menggelontorkan dana milyaran rupiah untuk membangun fasilitas SBI. Kenapa ini tidak digunakan untuk membangun sekolah yang ambruk? Kan lebih adil. Kalau sudah begini akhirnya yang menikmati SBI siapa sih?” Tanyanya.

Hal ini diperkuat saat penerimaan siswa baru. Erma merasa aneh, sebab sekolah lebih memilih mewawancarai orangtua terlebih dahulu ketimbang murid. “Coba hubungannya apa? Hubungannya adalah uang. Yang bisa memberi 50 juta dapat prioritas nomor satu, yang memberi 30 juta dapat prioritas kedua. Yang memberi satu (sampai) dua juta, ya kalau ada tempat masih bisa diterima. Kalau tidak ya mohon maaf.” Katanya.

Kejadian ini ternyata juga banyak diberlakukan pada Sekolah Islam yang memasang label internasional. Kebijakan Sekolah Islam yang mencampurkan berbagai kurikulum seperti Cambridge, Singapura, dan Kairo dipertanyakan oleh Master Pendidikan dari Universitas Boston ini.

“Bayangkan anak SD yang masih senang bertanya dan bermain, sudah dijejali empat macam kurikulum, yakni Nasional, Singapura, Kairo, dan Cambridge. Kopi jika dicampur dengan Sup apa enak?” tuturnya beranalogi.

Oleh karena itu, beliau berpesan kepada orangtua untuk cermat melihat SBI. “Teliti dulu lebih jauh. Lihat kurikulumnya, bagaimana prakteknya. Kalau berharap ke SBI itu berkhayal. Jangan mudah terpengaruh dengan label. Label itu memang jualan yang paling dahsyat.” Pungkas Pendidik yang juga mengasuh rubrik konsultasi Pendidikan di Majalah Suara Islam ini. (pz)

Eramuslim.com