Oleh: H. Arsil Ibrahim, MA

Ekonomi Liberal itu tuhannya keuntungan, dan Ekonomi Islam Tuhannya Allah.

Berbicara tentang etika dan budaya sebuah bisnis syari’ah mengajak kita untuk memahami terlebih dahulu tiga nilai utama: Nilai Rabbaniyyah, Nilai Akhlaqiyyah, dan Nilai Insaniyyah. Nilai-nilai inilah yang patut menjadi warna dan ciri-ciri utama sebuah bisnis syari’ah bahkan juga seluruh Peradaban Islam secara keseluruhan.

Nilai Rabbaniyyah

Suatu pertanyaan kecil pernah ditujukan kepada Dr. Rashid al-Ghannouchi tentang perbedaan antara Ekonomi Liberal dengan Ekonomi Islam. Maka dengan yakinnya Dr. Ghannouchi menjawab: “Ekonomi Liberal itu tuhannya keuntungan, dan Ekonomi Islam Tuhannya Allah.”

Dunia bisnis liberal menjadikan keuntungan sebagai tuhan. Apa saja boleh dilakukan demi memuaskan berhala bernama: uang. Bahkan prinsip bisnis liberal dituangkan secara arogan dalam pameo berikut: “Dengan modal yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya”

Bertentangan dengan fakta diatas, tujuan sebuah bisnis syari’ah yang berTuhankan Allah adalah mencapai keridhaan dan keberkatan Allah yang sebesar-besarnya. Bagi Islam, tidak ada nilai keberkatan pada harta yang didapatkan dengan cara batil. Sebaliknya, sedikit harta yang dicapai dengan cara yang diridhai Allah akan mendatangkan keberkatan dan kesejahteraan bagi pemiliknya.

Bisnis syari’ah disebut sebagai bisnis yang Rabbani karena dasar bergerak bagi seluruh kegiatannya adalah Allah, tujuannya mencapai keridhaan Allah dan seluruh sarana serta caranya mengikuti seluruh petunjuk Allah.

Oleh karena itu, ketika seorang Muslim menjadi bagian dari sebuah bisnis syari’ah, apakah sebagai pegawai biasa, juru tulis, manajer dan lain-lain, maka sesungguhnya dia sedang menjalankan kegiatan Ibadah kepada Allah. Dan seperti layaknya ibadah, semakin bertambah baik kualitas pekerjaannya semakin bertambah pulalah ketakwaan dan keyakinannya kepada syari’ah Allah.

Nilai Akhlaqiyyah

Islam merupakan risalah akhlaqiyyah yang paling agung. Seluruh dimensi kehidupan seorang muslim dihiasi dengan wewangian akhlak yang harum terbersit dari bunga akidah yang indah. keluhuran akhlak dan budi pekerti senantiasa menghiasi kepribadiannya, Rasulullah s.a.w menyimpulkan tujuan risalahnya sebagai berikut:

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (Al-Hadits)

Dalam menegakkan nilai akhlak pada sektor ekonomi, kita saksikan pada tahun ke-9 Hijrah Allah telah melarang kedatangan ribuan orang-orang musyrikin yang melaksanakan ibadah haji jahiliah dengan cara bertawaf sambil bertelanjang. Tindakan mereka yang tidak berakhlak ini adalah karena pemahaman bahwa Ka’bah adalah tempat suci dan tidak boleh dikotori oleh baju mereka yang penuh dengan dosa dan noda. Allah berfirman dalam surah at-Taubah ayat 28 memerintahkan nabi Muhammad s.a.w melarang para musyrikin untuk mendekati Masjidil Haram setelah tahun kesembilan itu.

Pelarangan tersebut disangka oleh penduduk Makkah akan mendatangkan dampak ekonomi yang cukup parah terhadap kota Makkah. sebab Makkah sejak dahulu terkenal sebagai Kota Metropolitan yang didatangi oleh para pedagang dari seluruh Jazirah Arabia, Negeri Persia, India dan Romawi. Pelarangan itu dikhawatirkan akan menjadikan kota Makkah sepi dari kegiatan ekonomi.

Akan tetapi ketaatan kaum muslimin mematuhi perintah Allah, melarang orang kafir memasuki kota Makkah, diganti Allah dengan suatu perkembangan ekonomi yang lebih baik. Dengan masuknya bangsa-bangsa asing ke dalam Islam secara berbondong-bondong, maka semakin bertambah banyak pula orang yang menunaikan ibadah haji dari tahun ke tahun. Kalau di zaman jahiliah bilangan orang-orang musyrikin hanya dibawah 10.000 (sepuluh ribu) orang, maka di zaman islam menjadi ratusan ribu orang. Kegiatan ekonomi kota Makkah bertambah subur dan membaik. Ratusan ribu bahkan jutaan orang umat islam yang datang dari seluruh dunia menjadikan Makkah sebagai pasar ekonomi yang besar, jauh lebih besar dari zaman jahiliah.

Nilai Insaniyyah

Ada perbedaan antara konsep humanisme Barat dengan konsep insaniyyah Islam. Dalam humanisme Barat manusia dianggap sebagai sentral segala sesuatu. Apa saja boleh dilakukan demi menjulang tinggi kemuliaan manusia, dan apa saja boleh dikorbankan demi menyelamatkan nilai kemanusiaan.

Humanisme Barat menganggap manusia itu mulia dengan sendirinya, tanpa melihat tindak-tanduk dan perilakunya. Sementara Islam memandang bahwa kemuliaan diri manusia adalah pemberian dan anugerah dari Allah s.w.t. Oleh karena itu, manusia akan bertambah mulia jika dia melaksanakan kehendak dan aturan Tuhan di muka bumi. Tapi jika sebaliknya, maka manusia akan mengalami degradasi moral, sehingga derajat mereka akan jatuh kepada derajat hewan atau bahkan lebih rendah dari itu.

Tujuan utama dari sebuah bisnis syari’ah adalah merealisasikan kehidupan yang lebih baik untuk manusia dalam seluruh dimensi dan pada setiap tingkat kehidupan. Bisnis syar’iah harus bisa merealisasikan kemuliaan dan kebutuhan manusia Muslim seperti nilai kebebasan, keadilan, persaudaraan dan kasih sayang antara sesama manusia, tolong menolong dan lain-lain.

Sebuah bisnis syari’ah menjadikan sumber-sumber ajaran Allah dan Rasul-Nya sebagai panduan. Nilai halal dan haram menjadi kunci utama bagi bisnis syari’ah dalam membantu manusia mencapai derajat kehidupan yang lebih mulia.

Dalam sampul kulit kitab al-Muwatta’ karya Imam Malik tercantum satu kalimat yang intinya adalah: “Tidak akan mencapai kejayaan umat akhir zaman, melainkan jika mereka memilih jalan yang pernah ditempuh oleh umat awal zaman.”
Kata-kata mutiara yang ditulis oleh Imam Malik dalam kitabnya itu merupakan kesimpulan bahwa umat ini tidak boleh lagi bersikap separo hati dalam melaksanakan ajaran dan Syari’ah Allah.
__________________________________
* Penulis adalah peneliti Center for Islamic Economic Research and Application (CIERA)

Sumber: MODAL No. 12/I-Oktober 2003 hal. 19