Oleh : Muchamad Syihabulhaq

Kaget, heran dan seakan tak percaya, ketika ada di antara saudara, kawan, sahabat bahkan keluarga kita yang tiba-tiba pergi mendahului kita, ruh diangkat menuju tempat dimana tak ada satupun manusia yang mengetahui. Ya maut, takdir yang Allah gariskan ini tak ada yang tau kapan, bagaimana dan dimana jiwa kita berakhir. Seorang penyair berkata :

Manusia wajib bertobat, namun meninggalkan dosa itu lebih wajib lagi

Sabar dalam menghadapi musibah itu sulit, namun hilangnya pahala sabar itu lebih sulit lagi

Perubahan zaman itu memang sesuatu yang aneh, namun kelalaian manusia itu lebih aneh lagi

Peristiwa yang akan datang terkadang terasa dekat, namun kematian itu lebih dekat lagi.

Hanya memperbaiki dan memperbaiki kulitas hidup yang kita bisa, baik itu yang bersifat horizontal (dunia) apalagi yang bersifat vertical (akhirat).

Sedih yang mendalam rasa inilah yang menyelimuti bagi kita yang ditinggalkan, wajar karena kita adalah insan yang memiliki perasaan saling memiliki dan keterikatan satu sama lain. Baru saja kita bersamanya kemarin bersenda gurau, canda dan tawa.

Tiba-tiba mendengar kabar bahwa dia sudah meninggalkan kita menuju alam yang berbeda dengan kita, alam penantian antara dunia dan akhirat yaitu alam barzakh/kubur.

Ada peringatan dan pesan yang disampaikan untuk kita yang masih diberikan kesempatan usia untuk memperbaiki hidup kita ini.

Seandainya dia yang telah meniggalkan kita dapat berpesan kepada kita yang masih hidup mungkin hadits inilah yang akan disampaikannya, yaitu sabda Rassulullah yang berpesan kepada Abu Dzar Al-Ghiffari. Simaklah dan renungkanlah pesan ini :

Rasulullah saw pernah bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghiffari ra. :

“Wahai Abu Dzar,
Perbaruilah perahumu, karena lautan itu sangat dalam;
Carilah perbekalan yang lengkap, karena perjalanan itu sangat jauh;
Kurangilah beban, karena rintangan itu amatlah sulit untuk diatasi dan;
Ikhlaslah dalam beramal, karena yang menilai baik dan buruk adalah Zat Yang Maha Melihat.”

Perbaruilah perahumu senada dengan perbaruilah niat kita hidup di dunia, untuk apa kita berlayar kalau perahu yang kita tunggangi ternyata rusak dan akhirnya bekal yang kita bawa habis tergiling oleh ombak. Setiap amal berbanding lurus dengan niat kita, maka niatkanlah setiap amal hanya semata karena-Nya dan mohonlah keselamatan dari siksa-Nya.

Kehidupan abadi di negeri akhirat itu menempuh perjalanan yang jauh dan rintangan yang amat sulit untuk diatasi seperti laut yang dalam gelap dan membutuhkan bekal yang lengkap dan memadai. Karenanyalah tak mudah kita untuk bisa sampai kepada kebahagiaan akhirat.

Maka dari itulah beban yang ada selama perjalanan haruslah dikurangi, terlalu banyak mengambil keduniaan mengakibatkan perjalanan kita semakin berat dan sulit ketika menghadapi rintangan. Sebagaimana pesan Rasulullah kepada Salman Al-Farisi yang berbunyi, “Hendaklah bagian kalian dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang musafir.”

Oleh karenanya beruntunglah orang yang dalam hidupnya benar-benar hanya mengharap ridha Allah (Abu Sulaiman Ad-Darini). Perkataan Ad-Darini ini mengacu pada sabda Nabi saw yang ditujukan kepada Mu’adz ra :

“Ikhlaskan niat, niscaya engkau akan menerima balasan amalmu meskipun amalmu itu sedikit.”

Hanya niat yang lurus, bekal yang lengkap, dan tidak terlalu banyak mengambil keduniaan yang akan menghantarkan perjalan hidup kita sampai pada kebahagian dan keberuntungan negeri akhirat yang kekal.

Peristiwa yang akan datang terkadang terasa dekat, namun kematian itu lebih dekat lagi.
Wallahu a’lam bishshowwab

http://www.eramuslim.com