Al-Islam wa Audha’unal Qanuniyyah (Islam dan Perundang-undangan) – 2

Abdul Kadir Audah adalah Alumnus Fakultas Hukum Universitas Kairo Mesir pada tahun 1930, selaku mahasiswa yang terbaik. Dan selagi duduk sebagai mahasiswa, ia adalah teladan utama dari kawan-kawannya, karena ia adalah seorang pemuda yang taat kepada Alloh SWT dan senantiasa membentengi dirinya dari percikan riak gelombang penyakit masyarakat yang sering mengenai diri para pemuda pelajar.

Dan setelah mencemplungkan dirinya ke dalam masyarakat, maka Audah duduk dalam Dewan Perwakilan Rakyat Mesir. Ia adalah tangan kanan dari Mursyidil ‘Aam, Pemimpin Umum “Ikhwanul Muslimin”, Hasan Albanna, yang menemui syahidnya dalam pelukan peluru yang dilepaskan oleh orang-orang sewaan Raja Farouk. Karena dapatlah dimengerti, bahwa Audah dalam masyarakat adalah otak dan roh dari organisasi yang ia turut memimpinnya itu.

Dalam Negara, Audah adalah seorang Hakim yang sangat dicintai oleh Rakyat, karena dalam memutuskan suatu perkara, pedoman utamanya adalah Syari’at, dan ia hanya mau menjalankan Undang-undang bila ia yakin, bahwa Undang-undang itu tidak bertentangan dengan Syari’at.

Audah adalah seorang Hakim yang anti kepada Farouk, Raja Mesir yang telah bejat moralnya itu. Karena itu, bersama-sama dengan kawan-kawannya yang sefaham beserta tokoh-tokoh militer yang penting ia turut aktif menggulingkan rezim Farouk yang zalim itu. Dan setelah segala sesuatunya benar-benar matang, maka dengan perhitungan yang tepat ia turut mencetuskan revolusi Mesir yang berhasil gemilang itu pada tahun 1952 yang dipelopori oleh Jenderal Muhammad Najib dan Letnan Kolonel Jamal Abdul Nasser. Dan karena kepercayaan Dewan Revolusi kepadanya sebagai seorang ahli hukum, maka ia diangkat sebagai Pembentuk Undang-Undang Dasar Mesir yang baru. Di samping itu pada tahun 1953 ia juga telah pula memperkenankan permintaan pemerintah Libya untuk merumuskan bentuk Undang-Undang Dasar Libya itu.

Tetapi oleh karena revolusi itu sering memakan kawan dan anaknya sendiri, Audah terserang fitnah sehingga ia atas perintah Perdana Menteri Jamal Abdul Nasser terpaksa mengakhiri lembaran sejarah hidupnya dalam suatu drama tiang gantungan, syahid bersama lima orang rekannya pada tanggal 8 Desember 1954. Peristiwa ini sangat mengejutkan dunia, terutama dunia islam, karena putusan seperti itu dirasakan dunia tidak wajar dalam suatu Negeri Islam di tengah abad peradaban dunia yang telah bertambah maju. Pemimpin-pemimpin Islam Indonesia mengirim kawat (telepon, pen.) ke Mesir untuk mencegah hukuman yang zalim itu, tetapi sayang tidak berhasil.

Audah juga seorang penulis, dan selaku seorang pengarang ia banyak menulis bermacam-macam buku, terutama yang berkenaan dengan hukum dan ketatanegaraan. Diantara karangan-karangannya yang banyak itu adalah buku yang terjemahannya ada ditangan para pembaca sekaranag ini. Buku ini ditulis beliau di zaman pemerintahan Farouk sedang berkuasa, dan pemerintah Mesir yang Islam itu, menurut Audah, adalah hanya merupakan boneka dan kaki tangan kaum Imperialis belaka.

Dalam buku ini Audah menulis secara populer di mana beliau mengemukakan dalil-dalil yang jitu menurut Ilmu Hukum tentang betapa lemahnya Perundang-undangan ciptaan manusia (sekuler) dibanding dengan Undang-undang Syari’at Ilahi. Tinjauan Audah yang istimewa itu adalah merupakan kuliah yang berharga sekali bagi setiap orang yang ingin mendalami hukum dan Syari’at Islam. Dan sungguh tepat sekali bila Prof. Abd. Kahar Muzakkir menganjurkan kepada mahasiswa Universitas Islam Yogyakarta untuk menelaah buku ini. Karena selain pembahasannya dijalin beliau dengan gaya bahasa yang populer, terdapat pula keistimewaannya yang lain, bahwa ia di tulis dengan jeritan semangat Islam dan Iman yang bernyala-nyala. Sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang cinta tanah air, ia sangat anti imperialis yang diterjangnya dengan sekuat-kuatnya daya upayanya sebagai kelak terbayang nyata dalam tikaman-tikaman ujung penanya yang tajam itu. “Kaum imperialis harus enyah dari bumi Mesir dan dari seluruh bumi Islam”, demikian Audah bertekad. Dan sungguh kita merasa bangga bila umat Islam dan negara mempunyai Hakim seperti Audah ini.

Karangan beliau yang lain yang sangat populer di dunia Islam dewasa ini, ialah sebuah buku tebal mengenai Hukum Pidana Islam yang telah disalin ke dalam berbagai bahasa dan dipelajari di Perguruan-perguruan Tinggi. Buku ini terdiri dari dua jilid tebal, dan jilid pertamanya saja tebalnya hampir 1.000 halaman; sekarang sedang diterjemahkan oleh Prof. Kahar Muzakkir ke dalam bahasa indonesia atas permintaan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Demikianlah sekedar riwayat hidup Abdul Kadir Audah sebagai seorang Ahli Hukum yang masyhur, seorang Pengarang dan seorang Pemimpin terkemuka.

Jakarta, Juli 1959

Penerjemah,

KH. Firdaus A.N
——————————————————————————————————————————————
ISLAM dan PERUNDANG-UNDANGAN
Al Islam wa Audha’unal Qanuniyyah
Oleh: Abdul Kadir Audah
Alih bahasa: K.H Firdaus A.N.
Diterbitkan pertama kali oleh Departemen Agama RI, Jakarta, 1959
Penerbit PT. Bulan Bintang, Cetakan 6, 20 Agustus 1984
Jalan Kramat Kwitang I/8, Jakarta 10420, Indonesia

Bacaan sebelumnya: DAFTAR ISI, PENGANTAR

Bacaan selanjutnya: PERMAAFAN KEPADA UNDANG-UNDANG