Peta Wilayah Mindanao

Suku Bangsamoro

Suku Bangsa Moro adalah sebuah suku yang terdapat di Filipina, Indonesia bahkan tersebar diberbagai pulau. Di antaranya di Maluku dengan nama Pulau Moro Tai, di Sumatera terdapat kecamatan Moro di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, Indonesia. Di Pilipina Suku Moro di Mindanao adalah suku etnoreligius yang terdiri atas 13 suku yang mendiami Filipina bagian Filipina selatan. Daerah tempat kelompok ini meliputi bagian selatan Mindanao, kepulauan Sulu, Palawan, Basilan dan beberapa pulau yang bersebelahan. Suku Moro merupakan suku bangsa pelaut yang gigih dan dapat beradaptasi diberbagai tempat mereka berdiam. Sebagian besar mereka berdiam di Mindanao Pilipina.

Pulau kalimantan bagian timur Rumpun Bangsa moro bernama Suku Bajau : Berau. Suku Bajau adalah suku bangsa yang tanah asalnya Kepulauan Sulu, Filipina Selatan. Suku ini merupakan suku nomaden yang hidup di atas laut, sehingga disebut gipsi laut. Suku Bajau menggunakan bahasa Sama-Bajau. Suku Bajau sejak ratusan tahun yang lalu sudah menyebar ke negeri Sabah dan berbagai wilayah Indonesia. Suku Bajau juga merupakan anak negeri di Sabah. Suku-suku di Kalimantan diperkirakan bermigrasi dari arah utara (Filipina) pada zaman prasejarah. Suku Bajau yang Muslim ini merupakan gelombang terakhir migrasi dari arah utara Kalimantan yang memasuki pesisir Kalimantan Timur hingga Kalimantan Selatan dan menduduki pulau-pulau sekitarnya, lebih dahulu daripada kedatangan suku-suku Muslim dari rumpun Bugis yaitu suku Bugis, suku Makassar, suku Mandar.

Wilayah yang terdapat suku Bajau, antara lain :

o Kalimantan Timur (Berau, Bontang, dan lain-lain)
o Kalimantan Selatan (Kota Baru) disebut orang Bajau Rampa Kapis
o Sulawesi Selatan (Selayar)
o Sulawesi Tenggara
o Nusa Tenggara Barat
o Nusa Tenggara Timur (pulau Komodo)
o Dan lain-lain

Sejarah Perkembangan Islam di Mindanao


Peta lokasi Mindanao di Filipina

Luas Mindanao ialah 94.630 km², lebih kecil 10.000 km² dari Luzon. Pulau ini bergunung-gunung, salah satunya adalah Gunung Apo yang tertinggi di Filipina. Pulau Mindanao berbatasan dengan Laut Sulu di sebelah barat, Laut Filipina di timur dan Laut Sulawesi di sebelah selatan. Penduduk mindanau adalah 19 juta jiwa dimana kurang lebih 5 juta adalah muslim.

Mindanao adalah pulau terbesar kedua di Filipina dan salah satu dari tiga kelompok pulau utama bersama dengan Luzon dan Visayas. Mindanao, terletak di bagian selatan Filipina, adalah kawasan hunian bersejarah bagi mayoritas kaum muslim atau suku moro yang sebagian besar adalah dari etnis Marano dan Tasaug. Moro adalah sebutan penjajah spanyol kepada kaum muslim setempat. Pada masa dahulu mayoritas penduduk midanau dan pulau sekitarnya adalah muslim. Peperangan untuk meraih kemerdekaan telah ditempuh oleh berbagai kaum Muslim selama lima abad melawan para penguasa. Pasukan Spanyol, Amerika, Jepang dan Filipina belum berhasil meredam tekad mereka yang ingin memisahkan diri dari Filipina yang mayoritas penduduknya beragama Katolik.

Kini mayoritas populasi Mindanao beragama katolik.

Pada saat sekarang muslim hanya menjadi mayoritas di kawasan otonomi ARMM, The Autonomous Region in Muslim Mindanao (ARMM). ARMM di bawah kepemimpinan Misuari mencakup Basilan, Maguindanao, Lanao del Sur, Sulu, dan Tawi-Tawi. ARMM dibentuk oleh pemerintah pada tahun 1989 sebagai daerah otonomi di Filipina Selatan. Sebagai hasil dari kesepakatan damai antara MNLF dan pemerintah pusat filipina. Ketika itu penduduk boleh menyatakan pilihannya untuk bergabung dalam wilayah otonomi Muslim dan hasilnya empat wilayah tersebut memilih untuk bergabung. Meskipun begitu kesepakatan itu tidak cukup memuaskan sebagian pejuang muslim sehingga munculah Moro Islamic Liberation Front (MILF) dan kelompok Abu Sayyaf. Kelompok ini bersumpah untuk menentang dan memboikot ARMM dan tetap memperjuangkan kemerdekaan. Meskipun pada saat sekarang MILF juga menerima otonami dengan syarat wilayah otonami ARMM diperluas dengan ditambahkan beberapa propinsi lagi sebagai tambahan.

Selama masa kolonial, Spanyol menerapkan politik devide and rule (pecah belah and kuasai) serta mision-sacre terhadap orang-orang Islam. Bahkan orang-orang Islam di-stigmatisasi (julukan terhadap hal-hal yang buruk) sebagai “Moor” (Moro). Artinya orang yang buta huruf, jahat, tidak bertuhan dan huramentados (tukang bunuh). Sejak saat itu julukan Moro melekat pada orang-orang Islam yang mendiami kawasan Filipina Selatan tersebut.

Bangsa Eropa pertama kali tiba pada tahun 1521 dipimpin oleh Magellan yang kemudian dibunuh oleh kepala suku setempat dalam peperangan. Kemudian Tentara Spanyol yang dipimpin Miguel Lopez Legaspi, yang tiba di pantai kepulauan Filipina pada tahun 1565, menghentikan perkembangan dakwah Islam pada tahun 1570 di Manila, yang menyebabkan terjadinya pertempuran selama berabad-abad masa pendudukan Spanyol.

Sehingga dapat dikatakan bahwa penjajahan Spanyol bermula pada tahun 1565 di salah satu pulau Filipina dan mereka segera mengetahui bahwa sebagian penduduk setempat beragama Islam. Mereka mengidentifikasi orang-orang itu dengan musuh historis mereka yaitu umat Islam Andalus yang disebut Moor, yang kemudian menjadi sebutan untuk umat Islam di kawasan Filipina selatan. Hal ini membuat bangsa Spanyol memusuhi umat Islam setempat dan selama tiga ratus tahun penjajahan Spanyol perang terus terjadi. Disamping suku Maguindanao, suku lain yang bertempat tinggal di pulau Mindanao adalah suku Maranao yang merupakan kelompok Muslim terbesar kedua di Filipina. Dari sekian kelompok Muslim Filipina Maranao adalah yang terakhir memeluk Islam. Sufisme memengaruhi corak Islam di Maranao, terutama dalam hal kosakata dan musik ritual. Nama Bangsamoro merujuk pada empat suku yang mendiami Filipina selatan, yaitu Tausug, Maranao, Maguindanao, dan Banguingui.

Sejarah Awal Muslim Filipina. Muslim Filipina memiliki sejarah panjang, sama panjangnya dengan kedatangan Islam ke kawasan Asia Tenggara secara umum. Menurut cendekiawan Muslim Filipina, Ahmed Alonto, berdasarkan bukti-bukti sejarah yang terekam, Islam datang ke Filipina pada tahun 1280. Muslim pertama yang datang adalah Sherif Macdum (Sharif Karim al-Makhdum) yang merupakan seorang ahli fikih. Kedatangannya kemudian diikuti oleh para pedagang Arab dan pendakwah yang bertujuan menyebarkan Islam. Pada mulanya dia tinggal di kota Bwansa, dimana rakyat setempat dengan sukarela membangun masjid untuknya dan banyak yang ikut meramaikan masjid. Secara bertahap beberapa kepala suku setempat menjadi Muslim. Kemudian dia juga mengunjungi beberapa pulau lain. Makamnya dipercaya terdapat di pulau Sibutu. Selain orang Arab, umat Islam India, Iran dan Melayu datang ke Filipina, menikahi penduduk lokal dan mendirikan pemerintahan di pulau-pulau yang tersebar di kepulauan Filipina. Salah seorang pendiri pemerintahan itu adalah Sherif Abu Bakr, yang berasal dari Hadramaut. yang datang ke kepulauan Sulu melalui Palembang dan Brunei. Dia menikahi putri pangeran Bwansa, Raja Baginda, yang sudah beragama Islam. Ayah mertuanya menunjuknya sebagai pewaris. Setelah menggantikan mertuanya dia menjalankan pemerintahan dengan hukum Islam dengan memerhatikan adat istiadat setempat. Dengan demikian, dia bisa disebut sebagai pendiri kesultanan Sulu yang bertahan hingga kedatangan Amerika ke Filipina. Kesultanan Sulu mencapai puncak kejayaannya pada abad delapan belas dan awal abad sembilan belas, ketika pengaruhnya membentang hingga Mindanao dan Kalimantan utara.

Kepulauan Sulu di Filipina selatan terletak sepanjang rute perdagangan antara Malaka dan Filipina, karenanya pedagang Arab dikenal sebagai orang yang membawa Islam ke wilayah ini. Kepulauan Sulu merupakan jalur perdagangan penting yang menghubungkan antara pedagang Arab dan Cina selatan. Menurut sebagian ahli, ada kemungkinan telah terjadi Islamisasi oleh Cina Muslim. Disamping kepulauan Sulu, pulau Mindanao adalah tempat tinggal Muslim. Di Mindanao, Islam dibawa oleh Sharif Kabungsuwan yang berasal dari Johor yang merupakan keturunan Nabi saw. dan ibu seorang Melayu. Dia menikahi Putri Tunina.

Pulau Mindanao di tinggali oleh suku Maguindanao, yang sebagian besar tinggal di bagian selatan yang disebut Cotabato. Bangsa Eropa pertama kali tiba pada tahun 1521 dipimpin oleh Magellan yang kemudian dibunuh oleh kepala suku setempat dalam peperangan. Kolonisasi Spanyol bermula pada saat Tentara Spanyol yang dipimpin Miguel Lopez Legaspi, yang tiba di kepulauan Filipina pada tahun 1565, menghentikan perkembangan dakwah Islam pada tahun 1570 di Manila, yang menyebabkan terjadinya pertempuran selama berabad-abad masa pendudukan Spanyol di salah satu kepulauan Filipina dan mereka segera mengetahui bahwa sebagian penduduk setempat beragama Islam. Mereka mengidentifikasi orang-orang itu dengan musuh historis mereka yaitu umat Islam Andalus yang disebut Moor, yang kemudian menjadi sebutan untuk umat Islam di kawasan Filipina selatan. Hal ini membuat bangsa Spanyol memusuhi umat Islam setempat dan selama tiga ratus tahun penjajahan Spanyol perang terus terjadi. Disamping suku Maguindanao, suku lain yang bertempat tinggal di pulau Mindanao adalah suku Maranao yang merupakan kelompok Muslim terbesar kedua di Filipina. Dari sekian kelompok Muslim Filipina Maranao adalah yang terakhir memeluk Islam. Sufisme memengaruhi corak Islam di Maranao, terutama dalam hal kosakata dan musik ritual. Nama Bangsamoro merujuk pada empat suku yang mendiami Filipina selatan, yaitu Tausug, Maranao, Maguindanao, dan Banguingui.

Sebagai penutup bagian ini akan dihadirkan kesimpulan C. A. Majul dalam bukunya Muslims in the Philippines. Majul membagi Islamisasi awal di Sulu ke dalam beberapa tahap:

Tahap pertama, terjadi pada seperempat terakhir abad ketiga belas atau lebih awal ketika para pedagang asing mendiami kawasan ini. Beberapa pedagang ini menikahi keluarga setempat yang berpengaruh. Pada tahap ini elemen-elemen Islam awal diintegrasikan ke dalam masyarakat setempat dan secara bertahap terjadi pembentukan keluarga Muslim.

Tahap kedua, yang diperkirakan terjadi pada paruh kedua abad keempat belas, adalah kelanjutan dari pendirian kumpulan keluarga Muslim yang secara bertahap melakukan dakwah terhadap masyarakat setempat. Peristiwa ini bersamaan dengan proses dakwah Islam di Jawa. Pada tahap ini para pendakwah dikenal dengan sebutan makhdumin.

Tahap ketiga adalah kedatangan Muslim Melayu dari Sumatra pada permulaan abad kelima belas. Hal ini ditandai dengan kedatangan Rajah Baguinda dengan beberapa penasehatnya yang ahli agama, yang membuat umat Islam saat itu memiliki penguasa Muslim yang menjamin berjalannya proses dakwah. Tahap selanjutnya ialah pendirian kesultanan oleh Shariful Hashim menjelang tengah abad kelima belas. Pada saat ini, Islam telah menyebar dari daerah pantai ke daerah pegunungan di pedalaman pulan Sulu. Penerimaan kepala suku-kepala suku setempat di daerah pantai menandakan bahwa kesadaran tentang Islam telah menyebar luas. Menjelang permulaan abad keenam belas, hubungan politik dan perdagangan yang semakin meningkat dengan bagian kepulauan Nusantara lain yang telah diislamisasi menjadikan Sulu sebagai bagian dari darul Islam yang berpusat di Malaysia. Sekitar akhir abad keenam belas dan beberapa dekade awal abad ketujuh belas, persekutuan politik dengan kerajaan-kerajaan Islam yang bertetangga untuk menghadapi bahaya penjajahan dan Kristenisasi Barat dan para pendakwah yang terus berdatangan menjamin keberlangsungan Islam di Sulu hingga sekarang.

Muslim Filipina Sebagai Minoritas Sejak awal hingga pertengahan abad dua puluh, hubungan antara Muslim Filipina dan dunia Islam secara umum dilakukan melalui umat Islam Asia Tenggara yang lain. Hal ini disebabkan kedekatan kultural dan, terutama, relijius Bangsamoro dan bangsa Melayu yang lain. Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa, sebelum penggunaan bahasa Arab menjadi populer, buku-buku agama di Mindanao dan Sulu kebanyakan berbahasa Melayu yang ditulis dalam aksara jawi, hanya sedikit orang yang mampu membaca huruf Arab.

Setelah Filipina merdeka pada 1946 dan pulau Mindanao dan Sulu dijadikan bagian dari Republik Filipina, hubungan antara Muslim Filipina dan negara Timur Tengah semakin kuat. Hubungan ini ditandai dengan pengiriman para pelajar Mindanao ke universitas al-Azhar dan semakin banyaknya beasiswa yang disediakan oleh negara-negara Arab. Dengan ini hubungan Muslim Filipina yang pada mulanya berorientasi Asia Tenggara menjadi semakin terbuka terhadap akses langsung Islam di Timur Tengah. Tidak hanya itu, pengaruh gerakan reformis di Mesir dan Indo-Pakistan ikut memengaruhi umat Islam di Mindanao dan Sulu. Keterpengaruhan ini terlihat, misalnya, pada sosok Salamat Hashim, pendiri dan kepala MILF (Moro Islamic Liberation Front) yang diinspirasi oleh pemikiran Sayid Qutb dan Abul A’la al-Maududi. Hubungan yang erat dengan komunitas Muslim yang lebih luas mendatangkan keuntungan bagi umat Islam di Mindanao dan Sulu. Seperti yang terjadi di awal tahun tujuh puluhan, ketika media massa melaporkan pembantaian terhadap kaum Muslim, Libya langsung bereaksi dan berinisiatif membawa kasus ini ke hadapan OKI (Organisasi Konferensi Islam).

Pada mula umat Islam Filipina memilih jalan damai untuk merebut kedaulatan. Setelah terbukti bahwa perjuangan konstitusional untuk merebut kemerdekaan tidak dapat dilakukan, mereka membentuk MNLF (Moro National Liberation Front) untuk mengorganisasi perjuangan bersenjata. Tujuan berdirinya MNLF pada mulanya ialah untuk membentuk negara sendiri. Namun kemudian hal ini berubah ketika pemerintah Filipina memulai negosiasi dengan MNLF pada 1975 dan setahun kemudian tercapai kata sepakat tentang kerangka penyelesaian masalah di Filipina. Persetujuan ini dikenal dengan Kesepakatan Tripoli yang ditandatangani pada 23 Desember 1976 antara MNLF dan pemerintahan Filipina. Kesepakatan ini mengikat MNLF untuk menerima otonomi sebagai status bagi wilayah Filipina selatan. Penerimaan MNLF terhadap Kesepakatan Tripoli memicu perpecahan di kalangan internal MNLF, yang berakibat pada munculnya faksi baru yang bernama MILF.


Wilayah Otonomi Muslim Mindanau (awal)

Kesepakatan Tripoli berisi pembentukan pemerintahan otonomi di Filipina selatan yang mencakup 13 (tiga belas) propinsi, yaitu Basilan, Sulu, Tawi-Tawi, Zamboanga del Sur, Zamboanga del Norte, Cotabato utara, Manguindanao, Sultan Kudarat, Lanao Norte, Lanao Sur, Davao Sur, Cotabato selatan, dan Palawan. Otonomi penuh diberikan pada bidang pendidikan dan pengadilan, sementara bidang pertahanan dan politik luar negeri tetap menjadi wewenang pemerintahan pusat di Manila. Kesepakatan damai yang ditanda tangani di Tripoli ternyata dikhianati oleh Ferdinand Marcos, dengan mengadakan referendum di tiga belas propinsi yang tercantum dalam Kesepakatan Tripoli untuk mengetahui penduduk ketiga belas propinsi yang akan diberi otonomi khusus. Referendum yang dilakukan Marcos ini sebenarnya adalah cara yang dia gunakan untuk membatalkan Kesepakatan Tripoli secara halus. Dengan program perpindahan penduduk yang digalakkan pemerintah pusat untuk mendorong rakyat bagian utara yang mayoritas Katolik, kawasan selatan yang semula lebih banyak penduduk Muslim menjadi didominasi warga Katolik/Kristen. Kondisi ini memastikan hasil yang diharapkan Marcos, yaitu menolak otonomi.

Disamping perjuangan bersenjata melalui organisasi seperti MNLF, MILF, masyarakat sipil juga melakukan pendekatan damai dan demokratis dibawah pengawasan PBB, melalui Bangsamoro People’s Consultative Assembly yang melakukan pertemuan pada tahun 1996 dan 2001. Pertemuan pertama, yang menurut laporan dihadiri lebih dari satu juta orang, menghasilkan pernyataan untuk mendirikan kembali negara dan pemerintahan Bangsamoro. Hal ini semakin nyata dalam pernyataan bersama yang dideklarasikan oleh ratusan ribu Bangsamoro yang ikut serta dalam Rapat Umum untuk Perdamaian dan Keadilan in Cotabato City dan Davao City pada 23 Oktober 1999, di Marawi City pada 24 Oktober 1999, dan di Basilan pada 7 Desember 1999. Dalam serangkaian rapat umum mereka mengeluarkan pernyataan sikap terhadap pemerintah Filipina: ”…kami percaya bahwa satu-satunya solusi berguna dan abadi bagi hubungan yang tidak sehat dengan pemerintah Filipina adalah pengembalian kebebasan kami yang secara ilegal dan imoral telah dicuri dari kami, dan kami diberi kesempatan untuk mendirikan pemerintahan sesuai dengan nilai-nilai sosial, relijius dan budaya kami”. Sikap ini dipertegas dalam pertemuan kedua, yang dilaksanakan pada tahun 2001 dan dihadiri sekitar dua setengah juta orang, yang menyatakan ”Satu-satunya solusi yang adil, bermakna dan permanen untuk persoalan Mindanao adalah kemerdekaan rakyat dan wilayah Bangsamoro sepenuhnya”. Dan hingga sekarang masyarkat moro masih berjuang untuk merdekan atau otonami dengan wilayah yang diperluas.

Pembagian wilayah administratif di Mindanao


Peta Kawasan Mindanao

Kelompok pulau Mindanao adalah pengelompokan sewenang-wenang dari pulau-pulau di Filipina Selatan yang meliputi 6 (enam) wilayah administratif, dengan luas wilayah 128,110 km2 dan Populasi sebanyak 21,582,540 jiwa (Sensus Penduduk 2007) . Wilayah ini dibagi lagi menjadi 26 propinsi, yang hanya 4 (empat) yang terletak tidak di pulau Mindanao itu sendiri. Beberapa daerah semi-otonom daerah-daerah Muslim (ARMM). Kelompok pulau termasuk Kepulauan Sulu di barat daya, yang terdiri dari pulau-pulau utama dari Basilan, Jolo, dan Tawi-Tawi, ditambah pulau-pulau terpencil di daerah lain seperti Camiguin, Dinagat, Siargao, Samal.

Ke- 6 (enam) wilayah administratif tersebut adalah:
1. ORANGE – Semenanjung Zamboanga (Wilayah IX) : Zamboanga City > 16,823 km2 > 3,230,094 (2007), terdiri dari provinsi dan kota :

(1) Zamboanga del Norte
(2) Zamboanga del Sur
(3) Zamboanga Sibugay
(4) City of Isabela (bagian dari Basilan tapi diluar dari yurisdiksinya)

2. Magenta – Mindanao Utara (Wilayah X) : Cagayan de Oro City > 20,132 km2 > 3,952,437 (2007), terdiri dari provinsi dan kota :

(1) Bukidnon
(2) Camiguin
(3) Lanao del Norte
(4) Misamis Occidental
(5) Misamis Oriental, dengan (6) Cagayan de Oro City

3. MERAH – Daerah Davao (Wilayah XI) : Davao City > 20,244 km2 > 4,156,653 92007), terdiri dari provinsi dan kota :

(1) Compostela Valley
(2) Davao del Norte
(3) Davao del Sur, dengan (5) Davao City
(4) Davao Oriental

4. BIRU – SOCCSKSARGEN (Wilayah XII) : Koronadal City > 22,466 km2 > 3,829,081 (2007), terdiri dari provinsi dan kota :

(1) South Cotabato, dengan (6) General Santos City
(2) Cotabato
(3) Cotabato City (merupakan bagian dari Maguindanao tetapi merupakan bagian dari Daerah SOCCSKSARGEN)
(4) Sultan Kudarat
(5) Sarangani Province

5. KUNING – Caraga (Wilayah XIII) : Butuan City > 21,471 km2 > 2,293,480 (2007), terdiri dari provinsi dan kota :

(1) Agusan del Norte
(2) Agusan del Sur
(3) Surigao del Norte
(4) Surigao del Sur
(5) Island Province of Dinagat

6. HIJAU – Daerah Otonomi di Mindanao Muslim (ARMM) : Basilan City > 26,974 km2 > 4,120,795 (2007), terdiri dari provinsi dan kota :

(1) Basilan, kecuali the City of Isabela
(2) Lanao del Sur
(3) Maguindanao, kecuali the City of Cotabato
(4) Sulu
(5) Tawi-Tawi

Perkembangan terbaru : MILF (Moro Islamic Liberation Front) melakukan upaya perdamaian dengan pemerintah filipina

ARMM-Bangsamoro

Upaya perdamaian pada Persetujuan Kerangka Kerja antara Pemerintah Filipina (Government of the Philippines/GPH) dengan Front Pembebasan Islam Moro (Moro Islamic Liberation Front /MILF) mengenai pemerintahan Bangsamoro telah berhasil mencapai puncaknya.

Hal itu dilakukan oleh Komite Politik di bawah Wakil Ketua Pertama MILF di ibu kota wilayah Rizal, Palawan, Sabtu (22/12/12) yang dihadiri oleh sekitar 2000 rakyat Bangsamoro terdiri dari warga Panimusan, mapun, Tausug, Maranaw, suku Maguindanao dan masyarakat adat dari Kotamadya Bataraza, Quezon, Narra, Rizal dan Puerto Princesa City.

Perwakilan dari pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, Marinir Filipina dan Pusat Hak Asasi Manusia Mindanao (Mindanao Human Rights Action Center/MinHRAC) memuji program perdamaian tersebut, mengatakan upaya perdamaian itu memberikan indikasi berarti atas dukungan yang kuat dari semua sektor untuk mencapai perdamaian abadi dan kemakmuran di negara itu.

Mekanisme Proses Perdamaian GPH dan MILF di lapangan dikerahkan untuk mengkoordinasikan dengan baik pelaksanaan dari upaya perdamaian tersebut.

Sejak penandatanganan Persetujuan Kerangka Kerja GPH – MILF mengenai pemerintahan Bangsamoro di Istana Kepresidenan di Malacanang, Manila 15 Oktober 2012 lalu, baik pemerintah dan MILF telah sangat aktif dalam melakukan upaya damai.

Langkah itu bertujuan untuk mengkonsolidasikan dukungan rakyat yang diperlukan untuk seluruh negara untuk menjamin keberhasilan dalam pelaksanaan Persetujuan Kerangka Kerja.

“Pihak kami dan semua sektor masyarakat harus dibuat sadar benar tentang Persetujuan Kerangka Kerja untuk mengumpulkan dukungan rakyat dan hak milik Persetujuan Kerangka Kerja itu sendiri,” kata Sabdani, Ketua Politik MILF di Palawan.

Sabdani mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah kota Rizal dalam dukungan kuat yang diberikannya atas upaya perdamaian itu.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak dari Pemerintahan Malaysia –hadir dalam penandatanganan Persetujuan Kerangka Kerja- serta rakyat Malaysia, Presiden Filipina Noynoy Aquino III dan Ketua MILF Al Haj Murad Ebrahim atas komitmen yang kuat terhadap upaya perdamaian yang mengarah pada penandatanganan Persetujuan Kerangka Kerja.
“Kami yakin bahwa Persetujuan Kerangka Kerja sangat tepat dalam pelaksanaan perdamaian dan kemakmuran untuk semua yang akan segera tercapai,” katanya.

Setelah lebih 40 tahun wilayah Filipina dilanda pertumpahan darah. Sejak awal 1970, perang di selatan Filipina merenggut lebih dari 150.000 nyawa dan berbagai perjanjian damai yang dibuat sebelumnya, sama sekali tidak membuahkan hasil atau tidak dapat terlaksana. MILF telah memulai negosiasi perdamaian dengan Pemerintah Filipina melalui fasilitasi dari Pemerintah Malaysia sejak tahun 2001.

MILF SEBUTKAN NAMA KOMISI TRANSISI

800px-Ph_ARMM

MILF dalam rapat pleno Ahad kemarin (23/12), telah memulai untuk memilih calon dari daftar pendek yang telah di dibuat sebelumnya untuk mengisi 15 anggota Komisi Transisi (TC). Salah satu fungsi Komisi Transisi akan menulis Undang-Undang Dasar untuk Pemerintahan Bangsamoro.

Melalui web resmi MILF gerakan Islam terbesar yang paling berpengaruh di pulau selatan Filipina itu, Luwaran Today, ketua Sekretariat MILF Muhammad Amin mengatakan, proses pemilihan anggota Komisi Transisi itu begitu ketat dan teliti.

“Masing-masing calon harus mendapatkan persetujuan 100 persen, atau setidaknya tidak ada perbedaan pandangan dari semua anggota yang hadir sebelum calon pria dan perempuan itu telah dipilih. Setiap adanya perbedaan pandangan berarti calon itu otomatis diskualifikasi.” Kata Amin.

Dia menjelaskan, masing-masing calon anggota Komisi Transisi memiliki dua kualifikasi prasyarat yaitu, loyalitas dan dedikasi mengenai perkara Bangsamoro dan kemampuan untuk melaksanakan tugas yang diberikan.

MILF biasanya memutuskan melalui seleksi dan dengan persetujuan pimpinan. Komite Sentral MILF memiliki sekitar 70 anggota, tetapi saat pertemuan rutin hanya anggota biasa dari komite itu diwajibkan untuk hadir. Namun, ketika isu besar seperti adanya kekosongan kepemimpinan atau terjadinya perubahan kebijakan besar semua anggota lain dari pimpinan pusat MILF, serta pemimpin sektoral masyarakat Moro, diundang untuk hadir berpartisipasi dalam perumusan keputusan tersebut.

Amin mengungkapkan, sebagian besar calon anggota Komisi Transisi dari MILF telah disebutkan. Calon anggota Komisi Transisi MILF itu sudah termasuk seorang perempuan, salah satu anggota masyarakat adat, satu alim ulama, dan satu pemimpin militer senior Angkatan Bersenjata Islam Bangsamoro (Bangsamoro Islamic Armed Forces /BIAF).
“Satu atau dua nama yang belum disebutkan akan diputuskan dalam waktu tiga hari lagi,” tambah Amin.

Sumber :
http://www.mindanaomaps.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Moro
http://en.wikipedia.org/wiki/Mindanao
http://www.mirajnews.com