Yogyakarta — Pendidikan karakter di Indonesia sampai saat ini belum berhasil. Sementara itu disusunnya mata pelajaran budi pekerti, yang diajarkan di semua tingkatan pendidikan pada desain pembelajarannya masih tetap cenderung mengarah pada satu ranah kognitif saja. Bahkan, sejalan dengan syaratnya muatan teknologi dan ilmu yang dipelajari, pendidikan budi pekerti ini telah banyak ditinggalkan oleh sekolah.

“Desain pembelajaran budi pekerti semestinya tidak muncul sebagai suatu mata pelajaran, namun terserap sebagai muatan di setiap aktivitas pembelajaran yang didesain,” papar Psikolog UGM, Sylvi Dewajani, S.Psi, di UGM, Rabu (2/5).

Sylvi berharap ke depan tidak ada lagi kesalahan yang sama dalam mengembangkan karakter siswa dengan membentuk ‘mata ajaran budi pekerti’ ataupun ‘mata ajaran kepribadian’. Untuk menjawab tantangan pendidikan karakter dengan cara terintegrasi di dalam kandungan kurikulum tertulis, hidden curriculum, serta kegiatan kokurikulum dan ekstrakurikuler. Artinya, karakter yang ingin dikembangkan harus terwujud di dalam kandungan setiap mata ajaran melalui tugas dan bahan kajian, juga terwujud di dalam norma serta aturan akademik.

“Selain itu, sekolah perlu mengembangkan kurikulum yang selama ini dianggap tersier, yaitu kegiatan ko-kurikuler dan ekstra kurikuler,”tambahnya.

Pendidikan karakter, imbuh Sylvi, tidak dapat terjadi dalam waktu yang singkat, dalam bentuk spot mata ajaran di awal, di tengah ataupun di akhir saja. Namun, pendidikan karakter harus menyeluruh dan berkelanjutan. Selama kurikulum ini diterapkan, kandungan dan muatan pendidikan karakter akan juga tetap dilaksanakan.

“Pendidikan karakter yang hanya menekankan pada satu atau dua mata kuliah tidak akan dapat menjamin tercapainya karakter siswa yang diinginkan,” tambah Sylvi.

Dalam pandangan Sylvi, adanya SK Mendiknas No 045/U/MENDIKNAS/2002 tentang pelaksanaan kurikulum di PT merupakan satu contoh yang tepat dalam usaha pengembangan karakter. Di dalam SK itu mensyaratkan bahwa tujuan akhir membentuk lulusan yang berkarakter dan berkepribadian kuat harus tertuang di dalam kurikulum serta dilakukan secara simultan dalam aspek kegiatan belajar mengajar.

Satu hal yang juga tidak bisa ditinggalkan dari penerapan pendidikan karakter ini menurut Sylvi yaitu adanya peran guru secara optimal. Tanpa adanya role model, karakter tidak akan dapat dikembangkan dengan baik. Peran model yang berkarakter, merupakan kunci utama di dalam pendidikan karakter. Di sekolah, role model siswa adalah guru.

“Tapi inipun tetap harus ada jalinan kerjasama antara sekolah, keluarga dan masyarakat di dalam pengembangan karakter,”pungkasnya (Humas UGM/Satria AN)

http://ugm.ac.id

Advertisements