4. Dianggap Sebagai Ratu Adil

Di puncak popularitasnya Tjokroaminoto sampai disebut sebagai ‘Heru-Tjokro’, simbol datangnya Ratu Adil dalam kepercayaan Jawa. Istilah ‘Heru-Tjokro’ ini sendiri berasal dari terminologi Ratu Adil yang digunakan oleh Pangeran Diponegoro dengan gelar Sultan Abdul Hamid Herucakra Kabirul Mukminin Sayidin Panatagama Kalifatul Rasul Tanah Jawa atau lebih dikenal dengan sebutan ‘Herucakra’.41 Ratu Adil ini dipercaya akan membawa Jawa keluar dari kesengsaraan dan melepaskannya dari penjajahan. Hal ini semakin diperkuat dengan adanya julukan yang disematkan pemerintah kolonial kepadanya yaitu ‘de Ongekroonde van Java’ atau ‘Raja Jawa yang tidak bermahkota’ atau tidak dinobatkan. 42

Dengan gelar yang disematkan seperti itu maka amat wajar jika masyarakat memiliki ekspektasi yang begitu besar terhadap Tjokroaminoto. Ia diyakini memiliki kemampuan atau kelebihan yang tidak dimiliki manusia lainnya. Atau dalam perspektif agama sering disebut dengan karomah. Maka hal yang lumrah jika masyarakat memperlakukannya bak dewa. Bila ia berpidato rakyat akan mendengarkannya dan setelah selesai berebutan untuk menyalaminya, memegang pakaian bahkan sampai mencium kakinya. Ia memang seorang pembicara yang menarik dan bersemangat dengan suara baritonnya yang amat khas. Kata-kata tentang kebenarannya tersebar dari mulut ke mulut. Ia muncul atas nama Islam, dan Islam-lah yang menjanjikan seorang Imam Mahdi. Ia telah datang dan telah diterima dengan nama Cokro. Di dalam dunia yang diterobos oleh mistik dan kepercayaan-kepercayaan, ini memang bukan suatu nama yang kebetulan. Kemasyhurannya terus bertambah. Malahan di kalangan intelektual, yang tidak percaya dengan hubungan-hubungan mistik ini, keberanian dan keahliannya berpidato membuatnya terkenal. Popularitasnya tumbuh bersamaan dengan Sarekat Islam. 43

Dalam masyarakat yang kurang berpendidikan apalagi sedang ditimpa kemelaratan, penjajahan dan kesusahan hidup lainnya, maka mitos akan datangnya Ratu Adil yang akan membebaskan rakyat dari penderitaan akan tumbuh subur. Milenarisme atau paham mesianik memang dikenal dimasyarakat manapun didunia. Di Barat milenarisme seperti ini juga dikenal seperti yang didalam Injil dan gerakan-gerakan milenarisme di abad pertengahan. Di Indonesia pun demikian gerakan milenarisme ini menjelma dalam sejumlah gerakan protes di pedesaan-pedesaan di Jawa. Di SI, gerakan milenarisme sebagaimana yang diteliti oleh Korver juga terdapat. Selalu ada saja orang yang diproyeksikan sebagai Ratu Adil. Sebelumnya ada Pangeran Hangabehi, putra tertua Susuhunan dari Keraton Kasunanan, yang menjadi pelindung SI pada masa awal pertumbuhannya. Dan kemudian tentu saja muncul nama Tjokroaminoto. Ia tipe ‘pemimpin kharismatik’ dalam tafsiran Weberian, dan dalam kategori Feith, merupakan pemimpin tipe ‘solidarity maker’ atau pencipta solidaritas paling awal dalam politik kontemporer Indonesia.44

Gerakan milenarisme atau juga dikenal dengan gerakan mesianik adalah suatu gerakan yang meyakini akan datangnya masyarakat baru secara keseluruhan dibawah pimpinan seorang tokoh juru selamat yang akan menggantikan segala kekurangan masyarakat lama. Gerakan-gerakan itu timbul akibat kecenderungan untuk menafsirkan bahwa gerakan tersebut adalah sarana-sarana kultural untuk menghilangkan kepedihan yang terjadi karena perubahan-perubahan sosial yang merendahkan atau yang sangat membahayakan status dari kelompok bersangkutan yakni suatu perjuangan yang berkesinambungan dengan mendasarkan perjuangannya pada penghormatan religius terhadap figur Messiah.45

Jika ditelusuri lebih jauh, H.O.S Tjokroaminoto memang mempunyai hubungan mata rantai dengan gerakan mesianik pasca-Diponegoro. Ia adalah cucu dari Kyai Bagus Kesan Besari, Ponorogo, yang merupakan ulama pendukung setia perjuangan Pangeran Diponegoro.46 Menanggapi fenomena Ratu Adil tersebut, Tjokroaminoto yang berjiwa besar dan mempunyai tauhid yang tinggi tidak mempercayai hal tersebut apalagi sampai memanfaatkan keyakinan rakyat untuk meningkatkan poularitasnya. Dalam pidatonya di Kongres Nasional Pertama Sentral Sarekat Islam di Bandung beliau secara tegas menolak keyakinan rakyat bahwa dirinya adalah Ratu Adil seperti yang diramalkan oleh Jangka Jayabaya.47

5. Akhir Perjalanan Hidupnya

Sebagai pemimpin besar SI/PSII tak terasa Tjokroaminoto di tahun 1934 telah berusia 52 tahun. Pada saat itu beliau sudah mulai sakit-sakitan. Walaupun demikian Tjokroaminoto sampai saat-saat terakhir hidupnya masih terus berjuang bersama SI, dan di kongres XX di Banjarnegara yang diadakan 20-26 Mei 1934 ia masih turut hadir dan inilah kongres SI terakhir yang dihadirinya setelah berjuang lebih dari 22 tahun lamanya di SI/PSII. Di kongres ini Tjokroaminoto memberikan wasiat tertulis ’Program Wasiat’ yang merupakan suatu rencana ’Pedoman Umat Islam’ dan disahkan oleh kongres. Sebelumnya oleh kongres XIX Batavia Maret 1933, ia diserahi tugas penting yang nampaknya hanya dipercayakan padanya untuk menyusun ’Reglement Umum Bagi Umat Islam’. Oleh Tjokroaminoto konsep ini diserahkan pada kaum PSII (Partai Sarikat Islam Indonesia) pada tanggal 4 Februari 1934 dan disahkan oleh kongres Banjarnegara 1934.

Kesehatan Tjokroaminoto sendiri sebenarnya telah menurun sejak kepulangannya dari Sulawesi akhir 1933, namun ia terus memaksakan diri untuk bekerja. Sesudah kongres Banjarnegara tersebut rekan-rekan separtainya terus menasehatinya agar beristirahat dan mengurangi aktivitasnya, namun tidak juga diindahkan oleh Tjokroaminoto. Tanggal 30 Agustus-2 September 1934 di Pare sewaktu berlangsung konferensi wilayah PSII Jawa Timur, ia terlihat pucat dan lemah. Tak lama kemudian anaknya, Anwar Tjokroaminoto yang selama ini tinggal di Jakarta mendapat kabar dari keluarga di Yogyakarta yang mengatakan kondisi Tjokroaminoto mulai melemah. Ia mulai tidak bisa berjalan dan badannya mengalami kelumpuhan sebelah sehingga praktis ia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Akhirnya pada hari Senin Kliwon, 10 Ramadhan 1353 H, atau tepatnya pada tanggal 17 Desember 1934 H.O.S Tjokroaminoto menghembuskan nafas terakhirnya. Beliau dimakamkan di Kuntjen, Yogyakarta.48

Sehubungan dengan meninggalnya Tjokroaminoto, para pimpinan PSII pun berkumpul di Yogyakarta hari itu juga. Semisal Agoes Salim, Abikoesno, Kartosoewirjo, Wondoamiseno, Sangadji, dan lainnya. Kaum pergerakan yang lain pun menunjukkan duka cita yang mendalam atas wafatnya Tjokroaminoto. Dalam surat duka citanya Majelis Pertimbangan PPPKI tertanggal 17 Desember atas nama rakyat Indonesia menyatakan turut berbelasungkawa atas wafatnya Tjokroaminoto. Sedangkan Hoesni Thamrin sebagai wakil resmi PPPKI, pada 21 Desember datang berkunjung ke kantor PSII untuk menyatakan belasungkawa.49 Sementara Soekarno, mantan menantunya, menulis surat pada mantan istrinya yang juga anak pertama Tjokroaminoto untuk menyatakan duka citanya yang mendalam. Oetari mengaku terkejut menerima ucapan Soekarno ini dan tidak menyangka Soekarno akan menghubunginya.50 Demikian pula pers memberi perhatian atas wafatnya Tjokroaminoto, ini bisa dibaca dalam pemberitaan sejumlah surat kabar diantaranya ’Penindjauan’, ’Sinar Pasundan’, ’Sipatahunan’, ’Pewarta Surabaja’, ’Matahari’, ’Het Indische Volk’, dan ’Politieke Tribune’. Bahkan Perhimpunan Indonesia Raja di Mesir memperoleh banyak ucapan duka dari umat Islam di Mesir.51

Rakyat Indonesia jelas amat kehilangan salah satu putra terbaiknya. Maka untuk menghargai jasa-jasa dan sumbangsihnya kepada negara baik dalam bentuk tenaga, pikiran, bahkan harta benda yang tak dapat dihitung besarnya, berdasarkan S.K. Presiden RI. No.590/1961 Tjokroaminoto pun diangkat menjadi pahlawan nasional.52

Catatan kaki


41. ^ Imron Arifin dan Agus Sunyoto, Darul Arqam Gerakan Mesianik Melayu, Malang:Kalimasahada Press, 1996, hal.146
42. ^ J.B. Soedarmanta, Jejak-Jejak Pahlawan, Jakarta: Grasindo, 2007, hal.22
43. ^ Robert Van Niel, Munculnya Elite Modern Indonesia, op.cit, hal.158
44. ^ Safrizal Rambe, Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942, loc.cit,hal.75
45. ^ Imron Arifin dan Agus Sunyoto, Darul Arqam Gerakan Mesianik Melayu, op.cit, hal.140
46. ^ Ibid, hal.148
47. ^ Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, op.cit, hal.383
48. ^Safrizal Rambe, Sarekat Islam Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942 op.cit,hal.244
49. ^ Ibid, hal.247
50. ^ Hering, Soekarno Bapak Indonesia Merdeka, op.cit, hal.269
51. ^ Ibid, hal.152-162
52. ^ Arya Ajisaka, Mengenal Pahlawan Indonesia, Jakarta: Kawan Pustaka, 2008, hal.68

Sumber:
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18015/…/Chapter%20II.pdf, diakses pada 01 juni 2012.

Bacaan sebelumnya :Biografi H.O.S Tjokroaminoto “Maha Guru Para Pendiri Bangsa” (1/3), dan Biografi H.O.S Tjokroaminoto “Maha Guru Para Pendiri Bangsa “ (2/3)

Advertisements