Sebuah Resensi Buku dengan judul “The Holocaust Industry” karya Norman G. Finkelstein

Buku The Holocaust Industry menjadi buku laris di Eropa, Timur Tengah, Asia dan Amerika, dan sudah diterjemahkan kedalam 26 (dua puluh enam) bahasa di dunia. Buku ini mengungkap Penipuan dan Pemerasan Atas Nama Pembantaian Bangsa Yahudi. The Holocaust Industry oleh surat kabar Guardian, London dinobatkan sebagai ”buku paling heboh dan laris sepanjang tahun”. Dalam buku ini, Norman G Finkelstein, seorang keturunan Yahudi membuktikan kebenaran skandal pemerasan atas bank-bank Swiss yang didalangi industry Holocaust. Norman G Finkelstein adalah seorang Yahudi mengoyak-oyak pembenaran yang berpengaruh atas industry Holocaust.

———–
Norman G Finkelstein saat ini mengajar ilmu politik di DePaul University di Chicago. Buku lain yang telah diterbitkan; “Image and Reality of Israel-Pelestine Conflict” dan (bersama Ruth Bettina Birn) ”A Nation on Trial” yang dinobatkan sebagai buku popular tahun 1998 oleh New York Times Book Review.
————

Bagi kaum Yahudi, Holocaust berarti penghancuran besar terhadap kehidupan, khususnya pembantaian massal dan keji terhadap kaum Yahudi oleh NAZI Jerman dibawah Adolf Hitler pada masa Perang Dunia II.

Holocaust telah menjadi sesuatu yang sakral bagi Barat, bahkan lebih suci dari Kristen ataupun Yesus, sebab orang bisa menghina agama dan Tuhan mereka tanpa resiko atau sanksi apapun. Tapi menolak Holocaust bisa dipandang sebagai sikap tidak bermoral dan anti-semit yang patut mendapat ganjaran. Germar Rodef, ahli kimia asal Jerman, misalnya, harus mengakhiri hidupnya karena menulis buku ”Dissection Holocaust” (Pembedahan Holocaust). Profesor Robber Fridson harus diadili, karena melakukan wawancara dengan stasiun TV Iran. Riva Dalsters bunuh diri karena tekanan kaum Yahudi.

Dalam pengantarnya, Smith Alhadar, Penasihat pada The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) menyetir pernyataan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang menyatakan bahwa Holocaust itu hanya sebuah mitos. Dalam pernyataan lainnya, presiden Iran yang sederhana ini menegaskan regim Zionis harus dihapuskan dari peta dunia. Namun mengapa Barat bereaksi sangat negatif dan menyebut Ahmadinejad sebagai Hitler?

Rupanya tidak hanya Ahmadinejad yang meragukan tentang kebenaran peristiwa Holocaust. Manfred Rouder, Fred Louchter, Fredrick Toben dan Bruno Gelish adalah segelincir nama yang mempertanyakan kebanaran Holocaust meskipun akhirnya mereka terkena hukuman. Rouder dikenai 10 bulan penjara; Louchter, seorang ahli gas, diberhentikan dari pekerjaannya; Toben, warga Australia asal Jerman, dilarang masuk kembali ke Jerman; Gelish, anggota Uni Eropa kini berada di penjara.

Buku yang menarik untuk dibaca ini, terutama bagi yang menginginkan informasi mendalam tentang bagaimana sebenarnya peristiwa Holocaust. Finkelstein, sang penulis yang kebetulan keturunan Yahudi, memaparkan informasi Holocaust dengan alur dan data yang setidaknya dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, peristiwa Holocaust telah menguntungkan secara ekonomis oleh sekelompok orang Yahudi.

Berbagai kalangan memberikan tanggapan atas buku ini, diantaranya The Times, yang menyebutkan: “Jaringan penipuan ini perlu dibongkar, dan Finkelstein yakin kalau dialah yang harus melakukannya. Dalam buku ini, Norman benar-benar menyikap akal bulus mereka. Jika tuduhannya itu terbukti benar, haruslah ada tuntutan, pemberangusan, dan protes atas mereka. Buku ini meneriakkan skandal. Ini adalah sebuah polemik yang disuarakan dengan keras”.

”Dia patut didengar..dia membuat beberapa poin penting yang diam-diam berusaha dibantah oleh banyak cendekiawan muda Yahudi yang suaranya telah dibungkam oleh kemapanan, apalagi yang ada di AS.” – Evening Standard.

Mengungkap “Industri Kebohongan” bernama Holocaust

Dari cerita sejarah, Holocaust kemudian lahir menjadi ‘indutri politik’ dan menjadi pemeras dolar. Norman G. Finkelstein, membongkar faktanya dengan begitu bagus Selain Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, belum pernah ada tokoh di dunia yang berani secara terang-terangan mengatakan keberadaan holocaust hanya sekedar mitos. Sebab, bagi banyak orang, khususnya di Barat dan Eropa, menolak keyakinan keberadaan Holoucaust bisa dianggap sebagai ‘anti semit’
dan sebuah pelanggaran tidak sepele.


Peta ‘rekayasa’ yang dibuat zionis tentang lokasi holocaust?

Holocaust, yang diklaim kaum Yahudi sebagai peristiwa pembantaian oleh Nazi Jerman di bawah Adof Hitler di masa Perang Dunia II -kaum Yahudi juga menyebutnya sebagai ‘the final solution- dan dianggap menyebabkan lebih dari 6 (enam) juta kaum Yahudi ‘dibantai’ di ruang gas di kamp-kamp Auschwitz tak lain hanyalah ‘kebohongan’ tergoranisir dan tercanggih di abad ini.

Kecuali orang yang tidak waras, bagi kebanyakan orang normal, meyakini lebih dari enam juta kaum Yahudi disiksa dan dibantai adalah sulit dinalar. Bagi yang percaya propaganda murahan seperti ini, membantai jutaan orang -secara matematis membutuhkan 137 orang perjam-nya untuk dibantai-adalah omong kosong yang tak bermutu. Sebab, selama Perang Dunia II, hanya ada segelintir kamp-kamp di Jerman. Selain itu, kota Austchwitz adalah kota kecil. Seharusnya Jerman harus menyediakan ratusan kamp di kota kecil itu.

Bahkan selama 6 hari pada Oktober 1999, sebuah tim Australia yang dipimpin oleh Richard Krege –seorang insinyur elektronik terkemuka– melakukan pengujian terhadap tanah pada bekas kamp Treblinka II di Polandia, di mana para sejarawan Holocaust meyakini jutaan orang Yahudi dibunuh di kamar gas kemudian dikubur secara massal, tak mendapatkan bukti apapun, kecuali kebohongan.

Untuk yakin bahwa jumlah Yahudi di Eropa selama 60 tahun lalu melebih enam juta jiwa (sedangkan saat ini jumlah keseluruhan populasi di dunia hanya berkisar 20 juta jiwa) diperkirakan hanya bisa diwakili orang-orang yang ‘tidak sehat’ berfikir.

Lantas bagaimana bisa cerita lelucon ini bisa “menyihir” jutaan orang dan Negara-negara besar di Barat dan Eropa? Panjang ceritanya. Lagi-lagi, tak jauh dari ‘teori konspirasi’ (meski hal-hal seperti ini sering dianggap isapan jempol semata).

Sejak mendirikan negara tahun 1948 dengan merampas tanah Palestina, Israel tidak begiku dianggap penting di dunia. Bahkan ketika Israel ikut bersekutu dengan Perancis dan Inggris menyerang Mesir tahun 1956 yang membuat semenanjung Sinai jatuh, Israel tetap tak dianggap berarti.

Bahkan Amerika Serikat (AS) kala itu lebih memilih “Negara Arab” untuk menjaga hubungannya karena dianggap lebih menguntungkan secara politis di masa depan.

Yahudi –dalam hal ini Holocoust- tiba-tiba dianggap begitu penting bagi pemerintahan Amerika khususnya, setelah ia berubah menjadi ‘industri politik’ yang digunakan untuk memeras dolar.

Sampai-sampai banyak warga Amerika yang lebih mengenal Holocaust dibanding sejarah penting mereka sendiri seperti peristiwa Pearl Harbor, di mana sejarah jatuhnya bom atom oleh Jepang. Bahkan hingga hari ini, tak ada penghargaan lebih tinggi melebihi Holocaust di Amerika Serikat (AS).

Begitu dahsyatnya “sihir” Holocaust, sampai-sampai bagi yang tak mengakui -termasuk yang menolak dan mengingkarinya-harus berhadapan dengan penjara. Tak kurang dari beberapa ilmuwan penting seperti; Robert Faurisson, Profesor Roger Garaudy (Perancis), David Irving (Inggris), Ernest Zandel (Kanada), Gatsom Amadeus (Swiss), George Ashley (AS), Dr. Joel Heyward (New Zealand), kesemuanya harus menjalani hukuman atas keberanian mereka menentang fakta adanya “kebohongan” Holocaust.

Buku ini merupakan salah satu buku laris di Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Amerika. Penulisnya adalah Norman G. Finkelstein membuktikan sendiri kebenaran skandal bernama Holocaust. Sebuah fakta sejarah yang tiba-tiba berubah menjadi “industri politik” dan bisa memeras berbagai negara, terutama Amerika Serikat. Termasuk pemerasan bank-bank Swiss. Sang penulis, Norman G. Finkelstein -yang mengalami sendiri peristiwa itu, karena berdarah Yahudi-membuktikan banyak kebohongan yang kini terus-menerus dipaksakan ke seluruh penjuru dunia. Setidaknya, buku ini teramat penting bagi yang silau oleh tipu daya Yahudi.

Sebagaimana kata koran The Times, “Buku ini meneriakkan skandal. Ini adalah sebuah polemik yang disuarakan dengan keras.”

Konsep freedom of expression

Masih ingat bagaimana di salah satu koran Swedia yang memuat gambar nabi Muhammad dengan sorban berisi bom. Pada saat itu kaum muslim sedunia bereaksi keras atas penghinaan tersebut. Alih – alih meredakan sentimen keagamaan yang terjadi, beberapa negara barat seperti Jerman malah memproduksi karikatur – karikatur tersebut. Demonstrasi yang meluas dari kaum muslim langsung mendapat kritikan yang tajam dan menyimpulkan bahwa kaum muslim terlalu reaktif, bodoh dan fanatik.

Salman Rusdie yang di fatwakan mati oleh Imam Khomeini pun harus hidup dalam penjagaan “moral” bangsa barat yang ingin melindunginya atas penghinaannya terhadap kaum muslim setelah menerbitkan tulisan “the satanic verses”.

Artinya, bangsa barat begitu memuja dan menyembah yang namanya freedom of expression tersebut. Kebebasan mengeluarkan pendapat. Kebebasan yang merupakan hak asasi manusia yang tak dapat di ganggu gugat. Pertanyaannya, apakah konsep freedom of expression ini tanpa batasan? Atau tanpa aturan di dalamnya, jadi siapa pun yang mengunakan konsep ini bebas untuk menyatakan pendapat dan perasaannya terhadap sesuatu yang patut di pertanyakan?

Waktu pun ternyata menguji apakah barat patuh dengan apa yang di katakannya atau malah menunjjukkan wajah asli barat itu sendiri, bermuka dua. Masih ingat bagaimana pada saat itu presiden Iran, Ahmadinejad di cela bahkan di samakan dengan Hitler, ketika ia mengatakan Holocaust hanyalah Mitos. Barat di sisi ini merespon begitu negatif, bukankah ia memiliki hak freedom of expression yang di akui di negara barat sebagai salah satu ekpresi kebebasan berpendapat.

Apalagi Ahmadinejad meragukan klaim bahwa ada 6 juta warga Yahudi yang menajdi korban Nazi pada saat itu. Untuk kasus ini barat dengan “polos”nya memperlihatkan kemunafikan, kebodohan serta kefanatikannya dalah hal ini. Atau karena ia bukan orang barat jadi hak freedom of expression tersebut tidak berlaku padanya. Hal yang mengelikan bukan?.

Tapi ternyata tidak hanya presiden Iran saja yang bernasib malang ketika berbicara mengenai Holocaust. Sebut saja Manfred Rouder, ia di kenai 10 bulan penjara. Fred Louchter seorang ahli gas harus di berhentikan dari pekerjaannya. Fredrick Toben, warga negara Australia asal Jerman yang di larang kembali masuk ke negeri asalnya. Bruno Gelinsh, anggota Uni Eropa yang kini di penjara hanya karena ia menyarankan agar para ahli sejarah DIPERBOLEHKAN mengemukakan pendapat tentang ruang – ruang gas rezim Nazi.

Masih ingat dengan Rinva Dalster yang akhirnya bunuh diri karena menghadapi tekanan dari kaum Yahudi akibat pernyataannya mengenai Holocaust dengan air terjun Niagara, atau Germar Rodef ahli kimia asal Jerman yang harus mengakhiri hidupnya karena menulis buku “Dissection Holocaust” (pembedahan holocaust). Dan satu lagi Prof Robber Fridson yang harus di adili karena melakukan wawancara dengan stasiun TV Iran mengenai Holocaust.

Jika umat muslim sedunia marah karena kecintaan mereka terhadap Nabi Muhammad saw dan Agamanya lalu atas alasan apa yang dapat dimengerti dan masuk akal kepada fihak barat yang begitu alergi dan takutnya ketika ada masyarakat yang menanyakan dan mempertanyakan keabsahan holocaust itu sendiri. Mengapa masyarakat barat begitu mencemaskan mengenai Holocaust tersebut, bukankah mereka memuja freedom of expression itu sendiri, atau untuk kasus ini prinsip itu tak berlaku. Wajah munafik dan fanatik lagi – lagi di perlihatkan barat secara bodoh dan lugu.

Holocaust sebuah Misteri

Holocaust begitu sakral bagi barat, bahkan lebih suci dari kristen atau pun Yesus. Masyarakat barat terbiasa menghina agama dan Tuhan mereka (kristen) tanpa resiko atau pun sanksi apa pun.

Kembali kepada holocaust, bagi masyarakat barat, menolak holocaust bisa di pandang sebagai sikap yang tidak bermoral dan anti semit dan patut mendapat hukuman. Orang Eropa ingin menghapus dosa holocaust dan mereka tidak mampu melihat masalah ini secara kritis akibat perasaan (psikologi) berdosa yang sangat dalam. Peristiwa yang memalukan, terlepas dari berapa jumlah sebenarnya orang Yahudi yang di bunuh Nazi.

13 Juli 1994, Charles A Lindberg menyatakan dalam dokumennya ketika mengunjungi salah satu dari sedikit kamp di Jerman, ia menyatakan bahwa 25.000 orang mati dalam 1,5 tahun. Aritmatika sederhana mengatakan 25.000 kali setengah lusin kamp tidaklah sama dengan enam juta, atau bahkan tidak sama dengan 600.000.


Kamp Auschwitz

Buku “The Diary oh Anne Frank” mengambarkan ukuran Auschwitz, kamp kerja Jerman paling terkenal buruknya, sangat kecil dan hanya dapat memuat 11.000 orang (kebanyakan bukan dari kaum Yahudi) evakuasi oleh Jerman pada saat serbuan tentara Rusia tahun 1945. Jika memang benar saat itu Jerman menghabisi 6 juta warga Yahudi, berarti Jerman harus memiliki ratusan kamp agar dapat menghabisi 137 orang perjam. Dan Jerman pun harus menyediakan persedian gas yang mampu untuk membunuh sebanyak itu, tapi pertanyaannya Jerman yang sedang menghadapi perang melawan sekutu apakah bukan hal yang mustahil menghabiskan resource mereka hanya untuk membeli gas untuk membunuh 6 juta warga Yahudi, bukanlah lebih masuk akal mereka membeli senjata dan peralatan militer lainnya untuk memenangkan perang tersebut, sungguh tidak masuk akal bukan!.

Sesuatu hal yang mustahil dapat di lakukan manusia, dalam buku Douglas Reed “Behind the Scene and The Controversy of Zion”, hanya 850.000 tentara dan sipil yang terbunuh dalam perang Jerman. Orang yang percaya dengan propaganda Yahudi bahwa 6 juta orang Yahudi yang binasa di tangan Nazi mungkin hanya berdasarkan pengakuan bohong oleh Emilie Schindler, janda Oskar dalam film karya Spielberg “Schindel List”. Jika benar Jerman/Nazi membunuh 6 juta warga Yahudi, maka mengapa mereka hanya memiliki kamp kecil Auschwitz dan segelinter kamp – kamp lainnya.

Buku ini “The Holocaust Industry” memancing reaksi hangat dari publik dunia setelah di luncurkan pada bulan Juni 2000. Buku ini menimbulkan perdebatan nasional dan masuk dalam urutan teratas buku terlaris di banyak belahan negara.

Lalu bagaimana dengan reaksi Amerika? Tak ada satu pun media AS yang mengulas buku ini, tentu saja tidak mengherankan bukan, karena AS merupakan bagian dari sentra industri holocaust itu sendiri. Norman G. Finkelstein dalam buku ini mengulas bagaimana organisasi – organisasi Yahudi melakukan pemerasan atas nama holocaust terhadap Jerman dan bankir – bankir di Swiss.

Setelah perang berakhir, yang selamat dari holocaust yang pernah berada di dalam ghetto – getto kaum Yahudi, secara umum berkisar 100.000 orang. Pemerintah Jerman pasca perang telah memberikan kompensasi pada setiap Yahudi yang pernah berada di dalam kamp – kamp tersebut.

Banyak orang Yahudi yang kemudian memalsukan masa lalu mereka agar bisa mendapatkan kompensasi ini. banyak para ahli meragukan kebenaran dari kesaksian mereka yang pernah menjadi korban. Selain karena ingatan yang sudah memudar, kecurigaan terhadap beberapa kesaksian holocaust juga di latarbelakangi hal lainnya, mereka yang selamat di anggap sebagai orang suci dan tidak layak di sangsikan pernyataannya.

Kantor perdana menteri Israel menyatakan bahwa kalau jumlah “mereka yang selamat dari holocaust dan masih hidup mendekati satu juta”. Motif utamanya terlihat jelas sekali yaitu memperoleh keuntungan dari jaringan pemulihan para korban holocaust.

Pada tahun 1950, Jerman menandatangani persetujuan pembayaran ganti rugi yang layak bagi korban Nazi hingga 60 miliar dolar. (apakah juga ada ganti rugi yang layak bagi korban perang di Vietnam (AS), Afganistan (Rusia), Bosnia (Serbia), Kosovo (Serbia) dan Sebrenica (Serbia) Indonesia (Belanda&Jepang) atau negara – negara yang pernah menjadi korban perang).

Pemerasan dengan “menyandera” holocaust

Pemerintah Jerman pada tahun 1952 menandatangi 3 perjanjian baru untuk memberikan kompensasi bagi korban Nazi. Masing – masing individu penuntut akan mendapatkan pengantian sesuai dengan hukum ganti rugi. Sebuah perjanjian terpisah dengan negara Israel, dan akan mengalirkan bantuan subsidi pada proses penerimaan dan rehabilitasi dari beberapa ratus ribu pengungsi Yahudi.

Pada saat yang sama, pemerintah Jerman juga merundingkan kesepakatan keuangan dengan konferensi tuntutan materi masyarakat Yahudi terhadap Jerman. Sebuah organisasi yang memayungi organisasi – organisasi Yahudi.

Claim Conference berupaya mendapatkan kembali apa yang pernah menjadi milik orang – orang Yahudi di bekas negara Jerman Timur, yang bernilai ratusan juta dolar, yang sebeanrnya adalah milik sah dari para ahli waris orang – orang Yahudi. Di pihak lain Claim Conference mendapatkan serangan dari fihak orang – orang Yahudi yang merasa tertipu oleh berbagai penyelewengan. Rabbi Ather Hetsberg membuat pernyataan yang merendahkan keua belah fihak. “Semua ini bukan masalah keadilan, tapi usaha untuk memperebutkan uang.”

Ketika Jerman dan Swiss menolak membayar kompensasi dari yang seharusnya, orang – orang Yahudi Amerika menjadi sangat marah. Tapi ketika para elite Yahudi merampas hak – hak orang – orang Yahudi yang selamat, masalah etika justru tidak muncul yang ada hanya sekedar masalah uang.

Swiss dalam pemerasan

Bulan Mei 1995, presiden Swiss secara resmi meminta maaf karena telah menolak memberikan perlindungan bagi kaum Yahudi selama holocaust oleh Nazi. Pada saat bersamaan aset – aset kaum Yahudi dalam rekening Swiss mulai kembali di bicarakan.

Pada akhir 1995, Edgar Bronfman, presiden WJC (kongres Yahudi sedunia) dan seorang pengurus Claim Conference Yahudi bersama Rabbi Israel Singer bertemu dengan bangkir – bangkir Swiss, mereka berbicara “Atas nama orang – orang Yahudi” dan juga “enam juta lainnya yang tidak bida berbicara untuk dirinya sendiri”.

Tuntutan terhadap bankir Swiss dengan cepat bergeser menjadi tuntutan terhadap bangsa Swiss. Simon Wesenthal Center mengatakan “Sebuah negara yang penduduknya yang menyombongkan kekayaannya pada tentangganya, dapat di pastikan memiliki harta yang berlumuran darah, karena warga terhormat dari sebuah negara yang paling damai telah melakukan sebuah pencurian …”

Pemerasan terhadap Swiss dan Jerman adalah sebuah tahap awal dari sebuah tujuan besar, yaitu pemerasan terhadap negara – negara Eropa Timur. Runtuhnya Uni Soviet membuat terbukanya masyarakat Yahudi di sana. Dengan menggunakan selubung yang sama, industri holocaust ini mencoba mendapatkan uang dalam jumlah miliaran dolar. Akibat dari tindakan mereka yang rakus, tidak mengherankan anti Semit telah meningkat di Eropa.

Indsutri holocaust menempatkan dirinya sebagai salah satu yang bisa melakukan klaim secara sah atas semua aset pribadi maupun bersama pada era Nazi. “Kami telah mendapatkan persetujuan, ujar Edgar Bronfman pada komite perbankan DPR di Israel. Kalau aset tak bertuan tersebut di kelola pada Organisasi Penerima Penganti Yahudi sedunia (WJRO).

Sementara itu dengan cara khas yang di lakuakn WJC, Israel Singer membuat sebuah peryataan yang mengejutkan. “Austria menahan aset – aset orang Yahudi yang tidak bertuan dari era holocauts dalam jumlah sekitar 10 juta dolar.” Singer juga menuduh kalau “lima puluh persen dari karya seni yang ada di Amerika merupakan milik orang Yahudi yang di jarah.” Industri holocaust memang telah lepas kendali akibat ketamakan orang – orang Yahudi yang ingin mengeruk keuntungan sebesar – besarnya dari peristiwa holocaust yang masih di pertanyakan ini.

sumber:
Norman G. Finkelstein, The Holocaust Industri, pengungkapan penipuan dan pemerasan atas nama pembantaian bangsa Yahudi oleh Nazi
http://www.theglobal-review.com
http://www.mail-archive.com
http://sejarah.kompasiana.com
http://en.wikipedia.org