Oleh: Sunmanjaya Rukmandis

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu bangsa, sehingga mereka mengubah keadaan apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
[QS. Ar-Ra’d/13 : 11]

Membicarakan problematika umat Islam berikut kerinduan akan kebangkitannya sudah menjadi kebutuhan pokok yang tak terelakkan, mengingat kita yang memperbincangkannya adalah bagian integral, sebagai subjek dan sekaligus objek, dari topik pencengkeramaan termaksud. Semangat dan kepedulian ini bukanlah soal otoritas atau kapabilitas, melainkan lebih mencerminkan wujud tanggung jawab yang besar, yang dibangun di atas kesadaran dan komitmen sebagai hamba demi semata mengabdi kepada Allah swt.

Mempertelakan masalah ini relatif tidak akan berkesudahan, karena ia terus dan selalu bergulir dan berkembang seiring kemajuan serta tuntutan zaman dan peradaban, hingga berakhirnya masa kehidupan makhluk. Substansi dan signifikansinya mendaur laksana roda pedati, hanya waktu, tempat, kasus, dan tokohnya belaka yang berbeda (QS Ali ‘Imraan: 137).

Terlibat dalam pengkajian masalah umat menunjukkan wujud sebuah pertanggungjawaban. Sebab bila sebaliknya, yakni membengkalaikan problematika dan kebangkitan umat, adalah peristilahan lain untuk memfosilkan umat dan agar mereka ditinggalkan Islam. Sehingga, pada akhirnya kehinaan dan kehancuranlah yang akan melanda, lalu melindapkan kewibawaan dan kekuasaan umat ini, bahkan sampai ke tingkat pembinasaan dan peniadaan eksistensinya sekalipun (QS Ali ‘Imraan: 195).

I. Problematika Kontemporer

Seseorang menjadi Muslim terkait pada faktor fitrah dan hidayah. Secara fithriyyah, Allah swt telah menjadikan setiap manusia sebagai Muslim (al-fithrah; QS al-A’raaf: 172). Hal ini tanpa pengecualian, apakah ia terlahir dari pernikahan yang sah, hasil proses inseminasi, atau buah hasil perzinahan sekalipun, dengan tanpa melihat latar belakang kepercayaan atau agama yang dianut oleh kedua orang tuanya itu (al-Hadits).

Sedangkan secara hidayah, yaitu adanya titik-temu antara anugerah Allah swt dengan kesungguhan pemeliharaan Islam yang dianutnya semenjak azali itu, karena memang Islam diperuntukkan bagi seluruh ummat manusia (QS Saba: 28). Sekiranya ia tak sungguh-sungguh di dalam keislamannya itu, niscaya Allah swt. kelak akan membiarkan diri orang yang bersangkutan berada dalam kesesatannya (QS al-Qashash: 56; Yunus: 100; al-An’am: 110-111).

Malah bila seseorang telah berkelana dalam kekafiran dengan penuh kesadaran dan kecongkakan, lalu ia ingin kembali kepada Islam namun pada saat ajal telah menjelang di kerongkongannya, maka Allah swt tidak akan lagi menerimanya. Peristiwa ini terjadi ketika Fir’aun mengikrarkan syahadat pada saat ia menyadari bahwa kematian sejenak lagi merenggutnya, namun Allah swt menolak persaksiannya itu karena sudah terlambat (QS Yunus: 90-91).

Allah swt Sang Maha Pencipta dalam segala dan pemegang tunggal otoritas kebenaran mutlak, dengan penuh kesantunan menganugerahi free will dan freedom (QS Ali Imran: 145) dan mempersilakan manusia untuk menerima atau menolak kebenaran-Nya itu (QS Al-Kahfi: 29). Karenanya, sama sekali terlarang adanya unsur imperatif, seperti teror atau intimidasi, terhadap diri seseorang agar ia dipaksa beriman dan memeluk Islam (QS Yunus: 99; Al-Baqarah: 256).

Islam sebagai tatanan kehidupan damai (QS Yunus: 25) memotivasi dan menuntun para pemeluknya untuk melaksanakan secara bulat, utuh, penuh, seluruh. Artinya, semenjak seseorang mengaku beriman, maka semenjak itu pulalah ia — baik secara suka atau terpaksa, dalam keadaan sempit maupun lapang — dituntut menunaikan Islamisasi secara Kaffah (komprehensif, totalitas, integral) yang serius dan kontinyu (QS Al-Baqarah: 208) guna mengantarkan pribadi dan masyarakatnya menggapai dan menikmati mahligai kebahagiaan hakiki pada kehidupan duniawi kini dan kebahagiaan abadi pada kehidupan ukhrawi kelak (QS Al-Baqarah: 201).

Islam adalah cahaya Allah swt untuk dijadikan sebagai prinsip pandangan hidup dan panduan sikap dan tindak (QS An-Nuur: 35) yang mengentaskan manusia dari kegelapgulitaan alam jahiliyah yang teramat sesat-menyesatkan dan mencelakakan, ke alam kebenaran nyata sejati yang cerah, terang-benderang, dan menyelamatkan (QS Al-Baqarah: 257). Dengan bertumpu pada kesucian Al-Qur’an dan kemurnian As-Sunnah, Islam menunjuki Muslimin untuk senantiasa committed (QS Al-‘Ashr: 1-3) terhadap problematika, solusi, dan peningkatan kualitas masalah-masalah yang terkait pada keutuhan dan keajegan cita dan citra manusia.

Sebagai ikhtiar untuk memelihara mutu, harkat dan martabatnya itu, setiap Muslim, secara pribadi maupun berjama’ah (QS An-Nisaa: 71), seyogyanyalah senantiasa berada pada ‘Orbit Islam’ yang secara kontemporer meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

1. Iman dan Aqidah,
2. Syari’ah dan Ibadah,
3. Akhlaq dan Syakhshiyyah,
4. Da’wah dan Tarbiyyah,
5. Siyaasiyyah dan Ijtimaa’iyyah,
6. Iqtishaadiyyah,
7. Ukhuwwah dan Tauhidul Ummah.

1. Iman dan Aqidah

Iman adalah keyakinan dan ketundukan total-tanpa reserve kepada Allah swt dan Rasulullah saw (QS An-Nisaa: 59) sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah secara saksama melaksanakan, menda’wahkan dan memperjuangkan segala titah-perintah dan meninggalkan setiap larangan yang ditetapkan, tanpa disertai keraguan sedikitpun. Sikap seperti inilah yang menjadi Aqidah Islamiyah (QS al-Hujuraat: 15) pada setiap diri pribadi Muslim.

Iman dan Aqidah sebagai parameter utama menentukan segala status dan kualitas amaliyah (sikap, prilaku, dan perbuatan) seseorang. Sehingga apabila Iman dan Aqidahnya benar, maka akan menuntunnya kepada pencapaian derajat amal shalih. Namun demikian, hal ini tidak bermakna bahwa Iman dan Aqidah adalah sebagai segala-galanya, sehingga menjadi pembenar (legitimasi) untuk melaksanakan Islam secara parsial dan sektoral menurut selera masing-masing pribadi; atau tidak beramal shalih sama sekali.

Selain itu, eksistensi iman dalam diri seseorang berpeluang digerogoti virus syirik (QS an-Nisaa: 48, 116) dan nifaq (QS an-Nisaa: 145) sehingga memunculkan kondisi fluktuatif ekstrem (QS an-Nisaa: 137). Syaikh Sa’id Hawwa mengingatkan, bahwa tidak kurang dari 20 fenomena kekufuran yang dapat membatalkan Dua Kalimat Syahadat seseorang. Patutlah berefleksi, bila wudhu batal mudah diulangi, andai shaum batal dapat diqadla, dan begitu pula ibadah yang lainnya. Lantas, bagaimanakah bila Dua Kalimat Syahadat seseorang batal? Pada akhirnya bisa mencapai titik kulminasi yang memurtadkan hingga tercerabut dan hilangnya nilai dan atau status keislaman dari dirinya (QS al-Maaidah: 54).

Karena itu, kemurnian Iman, kebersihan Tauhid, dan kesucian ‘Aqidah harus dipelihara dan ditingkatkan imunitas dan sensitivitasnya, lalu dijadikan sebagai fondasi yang kokoh guna menopang konstruksi dan bangunan yang akan dirancang dan dibangun diatasnya.

2. Syari’ah dan Ibadah

Islam sebagai supra sistem memiliki sistem konstitusi dan perundang-undangan yang mengatur tata kehidupan manusia secara lengkap (QS asy-Syuuraa’: 13-15; al-An’aam: 38), humanis (QS al-An’aam: 151-153), harmonis (QS al-An’aam: 115), dan lestari (QS al-Hijr: 9), secara vertikal maupun horizontal (QS Ali Imran: 112) dengan segala konsekuensinya (QS al-Ghaafir: 40; al-Maaidah: 44,45,47). Keseluruhan inilah yang disebut Syari’ah.

Adapun Ibadah (Ibadah dalam arti umum) adalah wujud nyata pelaksanaan Syari’ah (QS al-Baqarah: 20), baik secara ritual maupun mu’amalah (QS al-An’aam: 162). Ibadah Mahdlah (Ibadah dalam arti khusus) adalah ritus seremonial-formal yang tata-cara, acara, dan upacaranya telah dibakukan. Sedangkan mu’amalah adalah aktivitas hidup dan kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan dirinya, sesama manusia, peradabannya, dan lingkungan hidupnya.

Syari’ah dan Ibadah hanya mungkin tegak berlaku dan berwibawa dalam tatanan kehidupan masyarakat Muslim yang memiliki kesucian Iman, keteguhan Aqidah, dan kemurnian Tauhid, karena Ummat itu sendiri sebagai aktor intelektualis, pelaksana, dan sekaligus penegak (QS Ali Imraa: 110).

3. Akhlaq dan Syakhshiyyah

Akan halnya Iman, Akhlaq pun telah Allah swt bekalkan kepada manusia secara fithriyyah semenjak ia terlahir (QS asy-Syams: 7-8). Kemudian Allah swt berkenan mengutus Nabi akhir zaman Muhammad Rasulullah saw, dengan tugas utamanya, antara lain, untuk menyempurnakan akhlak karimah manusia. Sehingga, kesempurnaan Iman seseorang sangat bergantung pada kemuliaan akhlaqnya (QS asy-Syams: 9-10).

Kekuatan Aqidahlah yang dapat membentuk optimalisasi akhlaq mulia (QS al-Qashash: 77) sehingga melahirkan Syakhshiyyah Islamiyyah, yakni munculnya sikap dan kepribadian Islami pada setiap jiwa insan Muslim, insya Allah, dapat menyelamatkan manusia dan lingkungan hidupnya dari kenistaan dan kehancuran.

Keindahan dan kelezatan iman, tidaklah semata bersemayam di dalam dada atau hanya dirasakan oleh yang bersangkutan belaka, melainkan justru keindahan dan kelezatannya itu ternikmati langsung oleh manusia dan lingkungan hidup di sekitarnya, melalui kesantunan dan kemuliaan kepribadiannya, pola fikirnya, dan tindakannya itu sebagai manifestasi formula Iman dalam kebersatuan kata dan perbuatannya.

4. Da’wah dan Tarbiyah

Islam adalah misi. Karena itu setiap Muslim adalah misionaris, da’i atau penyeru. KH M. Isa Anshary, Dr. Moh. Natsir, dan Syaikh Muhammad Al-Ghazali menegaskan bahwa, di dalam melaksanakan da’wah, setiap sang juru seru dituntut untuk betul-betul memahami terminologi, metodologi, psikologi, orientasi da’wah berikut fase-fasenya dan pengetahuan pendukung lainnya (QS Ali Imraan: 104; an-Nahl: 125), serta menyadari sepenuhnya bahwa ia bukan sekadar subjek (da’i) akan tetapi sekaligus juga sebagai objek (mad’u) da’wahnya tersebut (QS Ali Imraan: 79).

Secaara sosiologis, terkadang terdapat antagonis antara da’wah dan da’i. Ada di antara manusia yang membenci Da’wah Islamiyyah karena ulah sang da’i. Sehingga secara objektif, ia menjadikan seseorang datang untuk memeluk Islam karena kesadaran dan kefahamannya. Namun ketertarikan subjektif seseorang terhadap Islam sangat boleh jadi karena keterpesonaannya terhadap figur sang penyeru akan kemampuannya menda’wahkan Islam. sepatutnyalah ia bersosok selaksana dua sisi mata uang.

Dimensi dan spektrum da’wah amatlah luas, seluas kehidupan ini. Sebab itu, da’wah tidak identik dengan khutbah dan ceramah belaka. Karena itu pula, sang da’i jangan berkhayal untuk berda’wah seorang diri atau semata bertumpu pada kemampuan pribadi. Bila demikian ia akan terjebak pada kerja infiradi (sendiri), parsial, dan sektoral. Da’wahnya akan sehat tatkala ia sedang sehat, dan akan ikut sakit ketika da’i sakit. Logikanya, bila sang da’i wafat, niscaya wafat pula da’wahnya.

Mengingat luasnya da’wah seluas dan sepanjang umur kehidupan (QS Ali Imraan: 104), maka seluruh potensi dan fasilitas kehidupan ini harus menjadi tulang punggung dan terlibat dalam penegakan da’wah. Dengan demikian, ia menjadi tugas suci setiap mu’min yang secara konfiguratif (QS Ali Imraan: 103) terjelma dalam kerangka ‘amal jama’i.

Tarbiyah lebih akrab dikenal sebagai pendidikan. ini tidak salah. Hanya saja ia tidak terbatas pada sekat-sekat strata pendidikan formal yang memberlangsungkan proses belajar-mengajar di antara peserta didik sebatas ruang kelas, maksimalnya kompleks sekolah atau kampus. Disamping itu, tarbiyah adalah juga sebagai upaya kaderisasi konsepsional dan sistematis, bersifat universal, komprehensif, dan integral dalam memelihara, menumbuhkan, mengembangkan, dan memperbaiki kemuliaan fitrah dan potensi insan sehingga tertata, terpola, dan terbina Prinsip aktivitasnya dibangun di atas landasan taqwa, ikhlas, kesadaran, kesabaran, teguh, setia, terus-menerus, dan berkesinambungan, untuk membentuk du’at (da’i-da’i) berikutnya, yang senantiasa berilmu amaliah-beramal ilmiah (QS al-Bayyinah: 5) dan tadhiyyah (semangat dan jiwa berkorban, spirit of sacrifice) (QS an-Nashr: 1-3; at-Taubah: 111).

Konsep Tarbiyyah Rabbaaniyyah (Qalbiyyah/Ruuhiyyah, Aqliyyah/Fikriyyah/Tsaqaafiyyah), Dzaatiyyah, Jasadiyyah/Jihaadiyyah, Siyaasiyyah, dll.) ini kegiatannya, antara lain, diisi dengan paket pembinaan seperti, keislaman (aqidah, syari’ah, ibadah, akhlaq, tazkiyatunnafs, ushul fiqh, lughah ‘arabiyah, qiyamullail, shaum sunnah, dll.), pengetahuan umum, kemasyarakatan, olah raga, seni, mabit, darmawisata, dan kemiliteran. Hal ini dilakukan guna mencapai target, antara lain, da’i yang ikhlas, survive, militan, profesional, dan sebagai aktor pengubah (QS Ali Imraan: 79), baik dalam bidang ‘ulumuddin (ilmu agama) maupun humaniora, sains, dan teknologi.

Al-Faruqi mengingatkan agar umat ini bangga akan Islam dan tidak rendah diri terhadap keunggulan orang lain. Dalam kaitan dengan Islamisasi ilmu pengetahuan ternyata ia tidak melakukan justifikasi ataupun klaim baik terhadap epistimologi, aksiologi, ontologi ataupun terminologi Barat. Justru secara saintifik ia menawarkan langkah-langkah; (1) penguasaan disiplin ilmu modern, (2) penguasaan khazanah Islam, (3) penentuan relevansi Islam bagi masing-masing bidang ilmu modern, (4) pencarian sintesa kreatif antara khazanah Islam dengan Ilmu modern, dan (5) pengarahan aliran pemikiran Islam ke jalan-jalan yang mencapai pemenuhan pola rencana Allah swt.

Bersambung ke : Problematika Ummat Islam dan Rekonstruksi Kebangkitannya (2)


KEPUSTAKAAN

1. Abdul Qadir Abu Faris, Dr., Ujian, Cobaan, Fitnah dalam Da’wah (Terj.), Gema Insani Press, 1993.

2. Abdullah Nashih ‘Ulwan, Dr.,Persaudaraan Islam (Terj.), Al Islahy Press, Jakarta, 1405/1985.

3. Abdullah Nashih ‘Ulwan, Dr., Membina Generasi Muda yang Ideal (Terj.), Karya Utama, Surabaya, TT.

4. Farid Ahmad Okbah/Drs. Hartono A. Jaiz, Solidaritas Islam Jalan Menuju Persatuan, Darul Haq, Jakarta, 1993.

5. Fathi Yakan, Komitmen Muslim kepada Harakah Islamiyyah (Terj.), Cetakan Ketiga, Najah Press, Jakarta, 1993/1413.

6. Isma’il Raji Alfaruqi, Prof. Dr., Islamisasi Pengetahuan (Terj.), Cet. I, Pustaka Salman ITB, Bandung, 1404/1984.

7. Muhammad Al Ghazaly, Syaikh, Dr., Keprihatinan Seorang Juru Da’wah (Terj.), Cetakan I, Mizan, Bandung, 1914/1984.

8. Sa’id Hawwa, Syaikh, Al Islam (Terj.), Al Islahy Press, Jakarta, 1409/1988.

9. M. Isa Anshary, KH, Mujahid Da’wah, Cetakan II, CV. Diponegoro, Bandung, 1979.

10. M. Natsir, Dr., Fiqhud Da’wah, Cetakan Keempat, Media Da’wah, Jakarta, 1403/1983.

11. Sayyid Qutb, Dr., Fiqh Da’wah (Terj.), Cetakan Pertama, Pustaka Amani, Jakarta, 1986.

12. Umar Sulaiman Al-asyqar, Dr., Mengembalikan Citra dan Wibawa Umat (Terj.), Cet. I, Wacana Lazuardi Amanah, Jakarta, Shafar 1415/Juli 1994.

13. Yusuf Alqardlawi, Syaikh Prof. Dr., Menuju Kesatuan Fikrah Aktivis Islam (Terj.), Cet. I, Robbani Press, Jakarta, 1412/1991.

14. Zainal Abidin Ahmad, H.,Konsepsi Politik dan Ideologi Islam, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1977.

15. Zainal Abidin Ahmad, H.,Dasar-dasar Ekonomi Islam, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1979.


* Penulis adalah Staf Pengajar IPB Bogor

sumber: ISHLAH, Edisi 82 Tahun IV, September 1997.

Advertisements