Oleh: Sunmanjaya Rukmandis

5. Siyaasiyyah dan Ijtimaa’iyyah

Islam adalah minhajul hayah (the way of life) yang sistemik, komprehensif, integral, aplikabel, dan realistik, dengan menjadikan iman dan aqidah sebagai mabda’ (prinsip) dan dhawabith fikriyah (meliputi siyaasiyyah dan ijtima’iyah). Dengan demikian Islam memiliki daya cakup dan daya lingkup terhadap seluruh tatanan dan pranata kehidupan. Ia, misalnya berbicara tentang al-Qur’an dan persenjataan; ilmu dan pemerintahan; Hak Asasi Manusia (HAM) dan pertahanan; masjid dan perekonomian; dzikir dan kemiliteran; perang dan damai; hukum dan keadilan; kepemilikan dan distribusi; individu dan negara; termasuk bidang politik dan sosial-kemasyarakatan; msyarakat; keluarga dan lingkungan hidup.

Tudingan kelompok kafir yang menyebutkan bahwa Islam adalah vandalik dan vampirik, diperparah oleh ketiadaan mabda’ (prinsip) dan dhawabith fikriyyah pada jatidiri umat, sehingga tidak saja merusak citra dan memberi gambaran buram terhadap politik Islam. bahkan umat terlena dan hanyut terbuai oleh dendang kidung pembangunan yang kafirin dan munafiqin lagukan. kelalaiannya itu pula yang kemudian menjadikan mereka bulan-bulanan. Lebih tragis lagi umat terpeta dan terkotak-kotakkan lalu diadu-dombakan dalam konflik internal berkepanjangan, dijadikan umpan dan tumbal politik, yang mengakibatkan seluruh potensi dan sumberdaya umat terkuras habis.

Dalam hal ini, Prof. Dr. Isma’il Raji’ al-Faruqi sampai-sampai mengangkat malaise yang dihadapi umat, yang pada intinya mengingatkan bahwa, umat ini berada pada titian anak tangga terbawah dari bangsa-bangsa dunia. Kini tidak ada kaum lain yang mengalami kekalahan atau kehinaan seperti yang dialami kaum Muslimin. Mereka dikalahkan, dibantai, dirampas kehidupan dan harapannya, dijajah baik secara politik maupun militer. Mereka digenjot dalam proses sekularisasi, westernisasi, proseliteisme, dan perbudakan dalam setiap front dan segmen kehidupan.

Sangatlah jelas, bahwa sistem politik Islam bukanlah aneksasi, kolonialisasi, perampasan hak asasi, perampokan hak milik, penindasan minoritas, pemerkosaan terhadap si lemah, arogansi mayoritas, koneksitas, manipulasi, konspirasi, korupsi, kolusi, terorisme, coup de etaat (kudeta), dan manajemen konflik, serta machiavellistik (QS an-Nahl: 34) sebagaimana yang sering dituduhkan oleh mereka yang tidak menyukai Islam dan keberjayaan umatnya (QS ash-Shaff: 7-8).

H. Zainal Abidin Ahmad dan Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, dengan detail mengurai konsepsi politik dan Ideologi Islam sekaligus sebagai upaya mengembalikan citra dan wibawa umat. Keberhasilan dalam kedaulatan politik (QS an-Nuur: 55) akan mewujudkan kemandirian generasi alternatif (QS al-Maaidah: 54-56) sebagai stereotipe masyarakat ruhama (QS al-Fath: 29) sebagaimana pernah dilahirkan pada periodeisasi zaman keemasan Rasulullah saw dan Khulafaaur Raasyidin.

6. Iqtishaadiyyah

Aksiomatika dibidang politik dan sosial-kemasyarakatan, adalah berbanding lurus dengan tuntutan ekonomi dan produksi. Sehingga kemajuan pada bidang-bidang tersebut bergerak secara linier dan konvergen (QS ash-Shaff: 10-13; al-Jumu’ah: 9-11).

Dalam hal ekonomi, Zainal Abidin Ahmad banyak menyitir fikrah iqtishaadiyyah Sayyid Qutb seperti ulasan surat al-Humazah bahwa, perekonomian semesta menghindari terjadinya konsentrasi kapital, rationalisatie/homo economicus, dan monopoli.

Islam bukan saja tidak menganut ideologi penghalalan cara dan profit motif, dogma, individualisme, hedonisme, dan vandalisme; bahkan mengharamkannya. Begitu pula prinsip-prinsip ekonomi dan produksi yang menyatakan minimize loses-maximize profit sebagai kata lain dari mengeksploitasi manusia dan mereduksi hak-hak asasinya, serta destruktif terhadap lingkungan hidup yang dimaknai semata faktor produksi dengen kepemilikan absolutisme seraya tidak memperhatikan secara seimbang terhadap kultivasi, preservasi, dan konservasi sumber daya alam.

Arogansi kapitalisme dan materialisme telah menjadi imperium dan konglomerasi. Mereka menempatkan keberhasilan sebagai prestasi individu belaka (QS al-Qashash: 78). Jangankan mengakui peran dan kontribusi insan, bahkan pada saatnya mereka pun menafikan substansi Allah swt., yang pada akhirnya sampai ke tingkat peniadaan eksistensi-Nya.

Bila umat tidak memiliki potensi dan jaringan sistem, posisi dan daya tawar yang lemah, niscaya pada era Globalisasi dan pasar bebas (free trade) yang berkekuatan system oriented, network oriented, dan konspirasi, maka keberadaan potensi umat ini hanya akan menjadi bulan-bulanan dan mangsa mereka seperti, dibonsaikan, didikte, bahkan dimatikan.

Tampilnya keberhasilan ekonomi, industri, dan produksi, pada hakekatnya merupakan keberhasilan pemberdayaan dan penyelamatan manusia atas pengrusakan manusia terhadap sesama manusia dan alam raya (QS an-Nahl: 34; al-Qashash: 77; ar-Ruum: 41). Kesemuanya itu hanya mungkin dapat dibangun di atas logika Qur’ani (QS al-An’aam: 82; al-A’raaf: 96).

7. Ukhuwwah dan Tauhidul Ummah

Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan menegaskan bahwa, paradigma ukhuwah adalah suatu sistem persaudaraan di antara sesama Mu’min yang hanya dapat diikat oleh Iman dan Taqwa sebagai temali pengelindan (QS al-Hujurat: 10; al-Anfal: 63). Namun demikian banyak orang yang tidak percaya bahwa pada kegalauan zaman dan kenafsi-nafsian seperti sekarang ini masih ada manusia yang bisa bersaudara dengan manusia yang lainnya (QS al-Fath: 29). Mereka hidup rukun, penuh cinta dan kasih-sayang, serta senasib-sepenanggungan, dari mulai kesucian kalbu dan kelapangan dada (salamatul qalbi, rahabatush shadr) yang tak pernah memiliki insinuasi (su’uzh zhaan, berpurba sangka) (QS al-Hasyr: 10), dan ‘iffah (tidak menampakkan kebutuhan material; (QS al-Baqarah: 273) hingga ke tingkat itsar (altruistik total, yaitu prinsip dan semangat mendahulukan kepentingan saudaranya daripada dirinya sendiri; (QS al-Hasyr: 9).

Bisa dimaklumi, karena berbincang perihal ukhuwah sering berada di antara nostalgia dan utopia. Nostalgia adalah wujud kerinduan terhadap keindahan ukhuwah di masa Rasulullah saw yang telah menyejarah dan terdamba. Sedangkan Utopia adalah substansi ketidakyakinan secara permanen terhadap langkah-langkah yang dilakukan untuk mencapai kemungkinan-kemungkinan kembali menggapai Ukhuwwah Islamiyyah.

Adapun bagi setiap Mu’min mewujudkan dan menikmati ukhuwah Islamiyah itu dibangun di atas empat kaidah aksiomatika ilmiah Ilahiyah yang berlaku umum:

1. Fithrah Kauniyyah, yaitu penggambaran kehidupan yang berhubungan erat, saling menjaga keseimbangan, dan saling menguntungkan yang dicontohkan oleh alam, seperti, gravitasi bumi dan benda-benda angkasa, kehidupan flora dan fauna, serta ekosistem (QS Al-Mulk:4-5).

2. Haajah Basyariyyah, yaitu tuntutan kebutuhan dasar manusia, yang siapapun tidak mungkin dapat memenuhi hajat pribadinya semata-mata hanya mengandalkan kemampuan dirinya. Inti dasar kebutuhan manusia atas manusia lainnya secara aksiomatis sudah menjadi kodrat alam yang tak tertawar dan tak mungkin dihindari (secara umum: QS al-Hujurat: 13; antarkafirin: QS al-Anfaal:73; antarmunafiqin: QS at-Taubah: 67; antarzhalimin: QS al-Jaatsiyah: 19; antarmu’minin: QS at-Taubah: 71).

3. Fariidlatusy Syar’iyyah, yaitu merupakan salah satu kewajiban yang dituntut oleh Syara’ yang dikenakan bagi setiap pribadi Muslim. Sehingga, karena memiliki kedudukan status wajibnya itu sama dengan ibadah-ibadah lainnya maka setiap Muslim wajib menunaikannya (QS al-Hujurat: 10; az-Zukhruf: 67).

4. Dharuratud Da’awiyyah, yaitu tuntutan situasi dan kondisi demi tegaknya kewajiban da’wah, mengingat bahwa ruang-lingkup dan cakupan da’wah tidak hanya fardhiyyah (individual) akan tetapi juga secara jamaa’iyyah (masif, organisasional), mahaaliyyah (lokal, regional) dan ‘aalamiyyah (universal, internasional) (QS al-Anfal: 63; Ali Imran: 103).

Di atas dasar empat dorongan kaut itulah ukhuwwah islamiyyah terbangun sehingga memunculkan sosok konfigurasi Tauhidul ummah, yakni bersatunya umat dalam melaksanakan kewajiban dan memenuhi kebutuhan internal, serta sekaligus menangkal segala upaya destruktif eksternal (QS ash-Shaff: 4). Dengan demikian, kebersatuan umat merupakan cikal-bakal terwujudnya Tatanan Dunia Baru di atas minhajun nubuwwah, ke arah kembalinya perwujudan al-Khilaafah al-Islaamiyyah.

Hal-hal yang disebutkan diatas memang merupakan assignment kompleks, berat, luas, dan berjangka panjang, yang harus ditekuni dan dipecahkan umat secara bersama, demi teraihnya kembali Khaira Ummah, (QS Ali Imran: 110) seperti yang pernah mendaulat pada masa Rasulullah saw dan Shahabat radliyallaahu anhum ajma’in.

Sebelumnya : Problematika Ummat Islam dan Rekonstruksi Kebangkitannya (1)

Bersambung ke : Problematika Ummat Islam dan Rekonstruksi Kebangkitannya (3)


KEPUSTAKAAN

1. Abdul Qadir Abu Faris, Dr., Ujian, Cobaan, Fitnah dalam Da’wah (Terj.), Gema Insani Press, 1993.

2. Abdullah Nashih ‘Ulwan, Dr.,Persaudaraan Islam (Terj.), Al Islahy Press, Jakarta, 1405/1985.

3. Abdullah Nashih ‘Ulwan, Dr., Membina Generasi Muda yang Ideal (Terj.), Karya Utama, Surabaya, TT.

4. Farid Ahmad Okbah/Drs. Hartono A. Jaiz, Solidaritas Islam Jalan Menuju Persatuan, Darul Haq, Jakarta, 1993.

5. Fathi Yakan, Komitmen Muslim kepada Harakah Islamiyyah (Terj.), Cetakan Ketiga, Najah Press, Jakarta, 1993/1413.

6. Isma’il Raji Alfaruqi, Prof. Dr., Islamisasi Pengetahuan (Terj.), Cet. I, Pustaka Salman ITB, Bandung, 1404/1984.

7. Muhammad Al Ghazaly, Syaikh, Dr., Keprihatinan Seorang Juru Da’wah (Terj.), Cetakan I, Mizan, Bandung, 1914/1984.

8. Sa’id Hawwa, Syaikh, Al Islam (Terj.), Al Islahy Press, Jakarta, 1409/1988.

9. M. Isa Anshary, KH, Mujahid Da’wah, Cetakan II, CV. Diponegoro, Bandung, 1979.

10. M. Natsir, Dr., Fiqhud Da’wah, Cetakan Keempat, Media Da’wah, Jakarta, 1403/1983.

11. Sayyid Qutb, Dr., Fiqh Da’wah (Terj.), Cetakan Pertama, Pustaka Amani, Jakarta, 1986.

12. Umar Sulaiman Al-asyqar, Dr., Mengembalikan Citra dan Wibawa Umat (Terj.), Cet. I, Wacana Lazuardi Amanah, Jakarta, Shafar 1415/Juli 1994.

13. Yusuf Alqardlawi, Syaikh Prof. Dr., Menuju Kesatuan Fikrah Aktivis Islam (Terj.), Cet. I, Robbani Press, Jakarta, 1412/1991.

14. Zainal Abidin Ahmad, H.,Konsepsi Politik dan Ideologi Islam, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1977.

15. Zainal Abidin Ahmad, H.,Dasar-dasar Ekonomi Islam, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1979.


* Penulis adalah Staf Pengajar IPB Bogor

sumber: ISHLAH, Edisi 82 Tahun IV, September 1997.