Oleh: Sunmanjaya Rukmandis

II. Sikap Negatif Umat terhadap Islam

Harus diakui, memang di antara umat ada yang apriori atau apatis, yang pada intinya adalah tidak memiliki komitmen dan kepedulian terhadap masalah-masalah umat. Latar belakang yang menjadikannya bersikap demikian sangat bervariasi.

Dengan tetap tidak berburuk sangka, kita dapat melihat beberapa latar belakang yang mempengaruhinya, antara lain, faktor-faktor sebagai berikut:

1. Parsialisasi Iman,
2. Kurangnya Pengetahuan,
3. Lemah Pemahaman,
4. Silau pada Metodologi Manusia,
5. Menghindar dari Tanggung Jawab,
6. Disalokasi Potensi,
7. Mengkultuskan Dunia.

1. Parsialisasi Iman

Keberadaan Iman dalam setiap diri Muslim mestilah utuh, yakni keterpaduan antara qalbu, pernyataan lisan, dan perbuatan, sekalipun dengan pelataran dan kualitas yang sangat beragam. Jadi, keberagaman kualitas Iman, tidaklah bermasalah. Justru yang dijadikan permasalahan adalah fluktuasi ekstrem (QS an-Nisaa:137) dan parsialisasinya (QS al-Hijr: 90-91; Fathir: 32).

Fluktuasi ekstrem adalah situasi moralitas labil yang menjadikan kadangkala ia beriman dan pada kala lainnya ia kufur, demikianlah ia berkelanjutan bahkan sampai ke tingkat murtad status. Sedangkan parsialisasinya adalah bersikap menerima Islam pada bagian tertentu dan menolak pada bagian lainnya. Sikap seperti ini membentuk jiwa oposan bahkan antipati terhadap Islam yang dianutnya itu, bahkan sampai ke tingkat murtad nilai.

Termasuk dalam hal ini adalah sikap mendua (double standards), yaitu selain berhamba kepada Allah swt juga kepada yang lain. Bahkan ia memuja sesuatu itu sebagaimana halnya ia memperhambakan diri dan memuja kepada Allah swt. (QS al-Baqarah: 165).

2. Kurang Pengetahuan

Mencari Ilmu adalah fardlu ‘ain bagi setiap mukallaf (sudah terkena taklif atau pembebanan kewajiban) semangat mencari ilmu dikalangan besar kaum Muslimin sangat menggembirakan. Hanya ada yang patut disayangkan, pada beberapa kasus tertentu, yakni adanya ketidakseimbangan semangat antara pemburuan terhadap ilmu pengetahuan umum dengan mempelajari ajaran Islam.

Dampak ketidakseimbangan ini melahirkan dikhotomi, sekurang-kurangnya diversifikasi parsial. Sekalipun begitu, sebetulnya masih memungkinkan untuk ditanggulangi, sekiranya yang bersangkutan berkemauan belajar seraya bersedia taslim (menerima kebenaran Islam disertai ketaatan penuh). Ironisnya, yang sering terjadi malah sebaliknya, yakni dengan menampilkan arogansi intelektual dan pseudo ilmiah, yang dikemas dalam bentuk fitnah, manajemen konflik, kejahatan, kebohongan, kelancungan, kecongkakan, dan sikap menantang terhadap penyegeraan adzab (QS al-Furqaan: 4-6; al-Anfaal: 31-32).

3. Lemah Pemahaman

Prinsip Islam, antara lain, menyatakan tidak ada taklif bagi orang yang tak berakal. Sebab Islam hanya diperuntukkan bagi mereka yang berakal waras dan berpenalaran. Dengan demikian apabila mereka yang memiliki lemah pemahaman menyadari akan kekurangan dirinya itu, maka ia dapat menutupinya dengan belajar. Andaikan tidak, ia kelak menjadi seorang buta huruf alias jahiliah (QS al-Baqarah: 78).

Lemah pemahaman atau buta huruf ini disebabkan, antara lain, oleh kebencian, apatis, apriori, malas, atau rasa puasnya terhadap pengetahuan tentang Islam yang sudah dimilikinya. Padahal Islam itu sangat luas, dan perkembangan sains dan teknologi pun sangat cepat, pesat, dan dinamis. Sungguh malang, karena pengetahuan tentang Islam yang dimilikinya itu pun ternyata bersumber dari dongeng dan hikayat tak berdasar yang sulit dipertanggungjawabkan secara profetik maupun saintifik.

Alangkah banyaknya ulama yang mengingatkan bahwa kebodohan umat ini karena mereka meninggalkan Kitab sucinya, al-Qur’an. Dalam waktu yang bersamaan, tidak jarang kemilau cemerlang Islam justru terhalangi oleh kebodohan dan kepengecutan ulamanya.

4. Silau pada Metodologi Manusia

Tidak salah bila seseorang terpesona kepada suatu metodologi atau kreasi manusia. Permaslahan akan menjadi lain tatkala sang manusia itu terjebak pada kerangkeng fatamorgana kekagumannya itu sehingga ia meninggalkan minhaj al-Islam, bahkan dengan bangga melakukan stigmatisasi kesucian Islam.

Dalam kasus ini yang paling konkret, di antaranya, orang terpesona dan menjustifikasi pada warisan nenek moyangnya. Tragisnya lagi adalah, si nenek moyang itu sendiri tidak pernah merasa mewariskan sesuatu apapun, apatah lagi untuk dilestarikan. Rupanya tidak sampai disitu, bahkan mereka yang tidak sependapat diberinya arahan-arahan (indoktrinasi) yang menyesatkan, brain-washing, diteror, atau diusir (QS al-Baqarah: 170-171; al-Israa’: 73-77, Al-Kahfi: 20).

Sikap silau ini disebabkan dua hal, yakni kebodohannya tentang glosari Islam dan sejarah umatnya dan penyakit rendah diri (minder wardig) sebagai bengkalai (turats jahiliy) hasil yang ditanamkan oleh kolonial (Imperalisme).

5. Menghindar dari Tanggung Jawab

Setiap orang memiliki tanggung jawab atas dirinya sendiri, dan ia kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Mahkamah Allah swt. akan tetapi, sebagai Muslim ia pun dituntut memiliki kepedulian dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dan lingkungan hidupnya (QS at-Taubah:71-72).

Harapan diatas, kenyataannya tidak selalu berjalan mulus. Bahkan tidak sedikit di antaranya yang menghindar, bahkan justru lari tunggang-langgang dari tuntutan tersebut. Sikap firar seperti ini pada hakekatnya ia telah melecehkan mission sacre (QS al-Furqaan:30 ) dan kemuliaan (QS al-A’raaf: 70) yang telah dianugerahkan kepadanya.

Kondisi ini dianggapnya sebagai pengesahan atas dirinya untuk melakukan hijrah atau ‘uzlah , yakni dengan dalih untuk menyelamatkan Keislamannya. Padahal ia meninggalkan kehiruk-pikukan dan kecentang-perenangan kehidupan umat, pada dasarnya adalah berlepas diri dari kewajiban da’wah sebagai bagian dari tanggung jawabnya, sehingga menjadikan umat lebih binasa (QS al-Anfaal: 73). Pada hakekatnya, tindakan-tindakan itu adalah mempermainkan al-Qur’an (QS al-Furqaan: 30).

6. Disalokasi Potensi

Allah swt melimpahkan potensi tak terbilang jumlahnya. Sayangnya, di antara manusia ada yang tidak tepat dalam mengalokasikan potensi yang telah diberikan-Nya itu, baik sumberdaya Insani, sumberdaya Alami, maupun sumberdaya Nilai. Termasuk di dalamnya, antara lain, mendedikasikan waktu, fikiran, tenaga, kesehatan, dana, bahkan raga dan jiwanya untuk sesuatu yang selain Allah. Dalam keadaan begitu, ia malah merasa telah berbuat kebaikan (QS al-Baqarah: 11-12).

Harus disadari bersama bahwa merekonstruksi kebangkitan umat adalah sebuah kerja kolosal dan mondial, yang bukan saja menguras potensi, material, dan immaterial, malah juga melibatkan pelbagai generasi secara berkesinambungan dan keterpaduan yang konstan dan konsisten (QS Ali Imran: 104).

Kasus-kasus di masyarakat cukup tampak misalnya, tragedi brain-drain, hipokrisi pendidikan, pembangunan yang tidak berwawasan sosial dan tidak ramah lingkungan, dan sikap serta tindakan menyia-nyiakan nikmat Allah swt lainnya cukup menunjukkan adanya kesalahan dalam meletakkan dan mendayagunakan potensi.

7. Mengkultuskan Dunia

Langit dan bumi serta sekalian isinya diperuntukkan bagi manusia. Status kehalalan dan keharamannya pun telah dipastikan. Dengan demikian, dunia ini hanyalah sebagai sarana yang harus dikuasai dan ditundukkan (QS ar-Rahmaan: 33) demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia itu sendiri, dengan tetap memelihara keasrian dan kelestariannya (QS al-Qashash: 77).

Lain harapan, lain pula kenyataannya. Orientasi duniawi (QS at-Taubah: 42) membuat tidak sedikit umat yang terjerembab ke dalam kancah kenistaan duniawi dan jurang kehinaan bendawi, sehingga ia diperbudak olehnya (QS al-Baqarah: 200; Ali Imran: 14). Fatamorgana telah menjebaknya namun tak pernah hilang rasa hausnya dalam mereguk kenikmatan duniawi, semakin diteguk semakin haus menjadi-jadi (QS al-Baqarah: 249; an-Nuur: 39).

Besar kemungkinan masih banyak lagi andai kita hendak menginventarisasi kasus-kasus yang berkenaan dengan sikap negatif umat yang dapat menjurus ke arah destruktif. Oleh sebab itu, diperlukan penanganan konsepsional dan strategis, dengan tidak mengabaikan kesantunan dan kemuliaan sikap arif-bestari dalam pendekatan dan pelaksanaan pada taktis dan teknisnya.

Umpama ketujuh butir tersebut terlambat penanganannya atau bahkan diabaikan adanya, diniscayakan bukan saja kelak menjadi kanker ganas yang menggurita menggerogoti umat dari dalam, namun juga menjadi titik lemah dan sekaligus pintu gerbang bagi musuh-musuh Islam untuk menganeksasi kedaulatan Islam dari dalam tubuh umat.

Sebelumnya : Problematika Ummat Islam dan Rekonstruksi Kebangkitannya (1) dan (2)

Bersambung ke : Problematika Ummat Islam dan Rekonstruksi Kebangkitannya (4)


KEPUSTAKAAN
1. Abdul Qadir Abu Faris, Dr., Ujian, Cobaan, Fitnah dalam Da’wah (Terj.), Gema Insani Press, 1993.

2. Abdullah Nashih ‘Ulwan, Dr.,Persaudaraan Islam (Terj.), Al Islahy Press, Jakarta, 1405/1985.

3. Abdullah Nashih ‘Ulwan, Dr., Membina Generasi Muda yang Ideal (Terj.), Karya Utama, Surabaya, TT.

4. Farid Ahmad Okbah/Drs. Hartono A. Jaiz, Solidaritas Islam Jalan Menuju Persatuan, Darul Haq, Jakarta, 1993.

5. Fathi Yakan, Komitmen Muslim kepada Harakah Islamiyyah (Terj.), Cetakan Ketiga, Najah Press, Jakarta, 1993/1413.

6. Isma’il Raji Alfaruqi, Prof. Dr., Islamisasi Pengetahuan (Terj.), Cet. I, Pustaka Salman ITB, Bandung, 1404/1984.

7. Muhammad Al Ghazaly, Syaikh, Dr., Keprihatinan Seorang Juru Da’wah (Terj.), Cetakan I, Mizan, Bandung, 1914/1984.

8. Sa’id Hawwa, Syaikh, Al Islam (Terj.), Al Islahy Press, Jakarta, 1409/1988.

9. M. Isa Anshary, KH, Mujahid Da’wah, Cetakan II, CV. Diponegoro, Bandung, 1979.

10. M. Natsir, Dr., Fiqhud Da’wah, Cetakan Keempat, Media Da’wah, Jakarta, 1403/1983.

11. Sayyid Qutb, Dr., Fiqh Da’wah (Terj.), Cetakan Pertama, Pustaka Amani, Jakarta, 1986.

12. Umar Sulaiman Al-asyqar, Dr., Mengembalikan Citra dan Wibawa Umat (Terj.), Cet. I, Wacana Lazuardi Amanah, Jakarta, Shafar 1415/Juli 1994.

13. Yusuf Alqardlawi, Syaikh Prof. Dr., Menuju Kesatuan Fikrah Aktivis Islam (Terj.), Cet. I, Robbani Press, Jakarta, 1412/1991.

14. Zainal Abidin Ahmad, H.,Konsepsi Politik dan Ideologi Islam, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1977.

15. Zainal Abidin Ahmad, H.,Dasar-dasar Ekonomi Islam, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1979.


* Penulis adalah Staf Pengajar IPB Bogor

sumber: ISHLAH, Edisi 82 Tahun IV, September 1997.