Oleh: Sunmanjaya Rukmandis

Markaz al-‘Alami al-Wasathiyah, kuwait (ilustrasi)

III. Merekonstruksi Potensi Kebangkitan Umat

Melihat problematika dan sikap negatif yang ada dapat membuat kita tercenung, merenung seorang diri. Namun, sikap pasrah dan bertopang dagu tidaklah mungkin dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Malah mengkristalkan permasalahan dan mengundang masalah-masalah berikutnya.

Upaya-upaya multi-approach dalam mendiagnosa dan menganalisa permasalahan tersebut beserta latar belakangnya tidak boleh melupakan dimensi Rabbaaniyyah (theosentris), Nabawiyyah (profetis), dan Insaaniyyah (humanitis).

Perlu disadari bersama bahwa, merekonstruksi kebangkitan umat adalah sebuah ibarat lahan wilayah yang sangat luas, dalam waktu yang bersamaan belum ada kejelasan status kavling dan pemegang otoritasnya, kecuali umat islam itu sendiri yang wajib menyadarinya laksana terhadap barangnya yang teramat berharga yang pernah hilang yang kemudian ditemukannya kembali.

Antara lain, tersebab hal itu pulalah maka kerja kolosal dan mondeal, yang bukan saja menguras potensi, material dan immaterial, bahkan juga melibatkan pelbagai mata rantai generasi secara turun-temurun, berkesinambungan, dan keterpaduan yang konstan dan konsisten. Oleh sebab itu setiap Muslim diharapkan tidak marginal apalagi periferal menjadi alienasi mengucil. Seluruhnya diharapkan all-out dan berjibaku dalam sebuah adagium: “hidup dalam keadaan mulia dan mati dalam syahid”.

Guna menyahuti sejumlah aspirasi di atas, berikut ini disajikan sebuah akomodasi alternatif yang sangat terbuka atas segala masukan konstruktif-obyektif, sebagai ikhtiar mencapai kesatuan visi dan persepsi dalam menanganinya. Tawaran termaksud di antaranya:

1. Penyucian jiwa,
2. Pembangunan pemikiran,
3. Penyadaran Ideologis,
4. Penguasaan medan,
5. Pengguliran strategi dan taktik,
6. Penataan soliditas,
7. Pendayagunaan potensi.

1. Penyucian jiwa

Tidak ada ruhbaniyyah (santo, orang suci, kerahiban) dalam Islam, karena setiap manusia disertai lupa dan salah, sehingga ia tidak dibenarkan menganggap dirinya suci (QS an-Najm: 32). Dalam kaitannya dengan hal ini, Allah swt membuka pintu taubat untuk dosa apapun tanpa terkecuali musyrik (QS Faathir: 39), selama dosa tersebut bukan kepada manusia, yakni hanya kepada-Nya.

Program tathahhur dan tazkiyatun nafs (QS at-Taubah: 108) adalah upaya penyediaan personel untuk disiapkan agar menerima pembinaan dan penataan berikutnya (QS al-Baqarah: 222 dan 247).

2. Pembangunan Pemikiran

Ruh yang suci dan jiwa yang bersih adalah modal dasar yang siap tatar. Pembinaan pada aspek iman dan aqidah, syari’ah dan ibadah, serta akhlak, dan syakhshiyyah. Begitu juga hal-hal yang berkenaan dengan fikrah dan manhaj.

Pembinaan yang menyeluruh, termenej, terarah, terpadu dan berkesinambungan kelak menjamin ke arah ashalah fikriyyah, yang sangat mungkin menjamin immunitas yang tidak akan terkontaminasi oleh fikrah munharifah. Lebih jauh Syaikh Dr. Yusuf al-Qardhawi menegaskan esensi dan urgensi kesatuan fikrah.

3. Penyadaran Ideologis

Kristalisasi pemikiran dan keyakinan akan membentuk ideologi. Bila pemikiran dan keyakinannya tertata, terpola, dan terbina secara Islami, niscaya akan menghasilkan ideologi Islami pula. Sebagai ajaran yang universal (QS al-Anbiya: 107) dan komprehensif, Islam tidak hanya menitik-beratkan pada aspek kultural, karena Islam memiliki spektrum yang meliputi seluruh aspek kehidupan umat manusia, termasuk Ideologi.

Dengan demikian, kerangka ideologi akan melahirkan metodologi yang membimbing ke arah penyusunan konsep-konsep strategis dan panduan-panduan teknis-taktis, dalam upaya menyongsong dan mempersiapkan kebangkitan umat.

4. Penguasaan Medan

Setiap pribadi Muslim adalah elemen dari rangkaian lokomotif dan gerbong kebangkitan umat. Oleh karena itu setiap personel harus memiliki pengetahuan menyeluruh mengenai ruang-lingkup tugas dan peta wilayah kerjanya.

Penguasaan medan juga meliputi penguasaan informasi dan komunikasi, data dan fakta, yang selalu akurat, aktual, dan siap pakai atas segala kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman, yang dapat dijadikan sebagai modal untuk pengambilan keputusan berikutnya. Selain itu, setiap personel dalam melihat personel lainnya dengan penuh tatapan ukhuwwah, sehingga dalam pengembanan amanah dan jalinan kerja antarpersonel akan tampak dan lebih terasa bobot kerja samanya.

Melalui dirasah dan takhtith (studi, perencanaan, dan pengembangan) para aktivis merancang dan menetapkan titik-titik pusat peubah (marakizut taghyir) yang sekaligus merajut mata rantainya dan tata hubungannya. Sehingga medan pusat (ummul quraa, secara geografis dan demografis) dan daerah sekitarnya (buffer-zone) tertangani penuh dan dominan (ma’rifah dan saitharah).

5. Pengguliran Strategi dan Taktik

Pada fase ini, dimulai dengan langkah-langkah memperkenalkan dan mensosialisasi program-program strategis berikut langkah teknik dan taktiknya. Dalam hal ini diperlukan pemilihan personel tertentu berdasarkan kriteria yang disepakati.

Selanjutnya kepada mereka disosialisasi garis-garis besar program strategis secara terencana, terprogram, terarah, dan terpadu dengan termin waktu yang berkala. Di samping itu, pada waktu-waktu tertentu dilakukan simulasi dan uji coba, guna menyiapkan dan mengukur kelayakan potensi dan kesigapannya.

Dalam hal ini tentu saja tidak berarti menjual informasi atau strategi yang memang wajib dirahasiakan, melainkan lebih kepada prioritas sosialisasi konsep-konsep umum yang memang harus dimasyarakatkan, guna menyiapkan dan meningkatkan mutu kecerdasan dan kepedulian bangsa (QS al-Kahfi: 19-20).

6. Penataan Soliditas

Betapapun kekuatan potensi yang dimiliki, akan sangat mudah diintervensi bahkan dihancurkan jika tidak disertai dengan penataan, pengorganisasian, dan pengadministrasian serta kekuatan intelijen yang baik. Oleh sebab itu, pembinaan kader-kader yang dirancang sebagai motivator, dinamisator, dan stabilisator harus selalu dalam kontrol, siaga, dan konsolidasi dengan kefahaman koordinasi dan mobilitas prima.

Penataan soliditas tidak mudah diukur dengan rentang waktu tertentu. Di dalam sejarah kita dapat mengambil ibrah yang cukup mahal dan amat
berarti. Misalnya, Ashaabul Kahfi dan Daarul Arqam pada masa kehidupan Rasulullah saw. Mereka adalah kader-kader militan, solid, siaga, dan siap pakai.

7. Pendayagunaan Potensi

Setiap pribadi Muslim adalah potensi pertama dan utama untuk melaksanakan proyek-proyek ‘izzul Islaam wal Muslimiin. Kendatipun demikian, tetap harus diadakan multi level rekruitmen kader-kader ujung tombak yang akan memimpin umat dalam skala organisasional, administratif, manajemen, dan operasional.

Dalam hal rekruitmen ini sebisa mungkin diusahakan agar dapat dengan jitu memilih benih-benih tersebut sesuai dengan standarisasi dan kriterianya. Selain itu, pun telah tersediakan paket-paket pembinaan dan pelatihan, baik yang berkenaan program pembinaan ‘aqliyah, ruhiyah, dan ma’nawiyah; kepemimpinan dan keterampilan; fisik dan kemiliteran; serta hal-hal penting dan urgen lainnya.

Seumpama belum tiba saatnya untuk mendayagunakan potensi, baik matrerial maupun personel, janganlah memaksakan. Sekiranya hal ini dilakukan, diniscayakan hanya akan menghasilkan sebuah prematur dan pembinasaan diri. Sebaliknya, jika sudah saatnya maka tunaikanlah. Ketepatan waktu, partisipasi dan mobilisasi, insya Allah dalam naungan dan pembelaan-Nya, seraya menggapai kemenangan (QS Muhammad: 7).

Penataan potensi individu dapat menghindarkan terjadi asas figuritas dan senioritas. Kesenioran dan keyunioran eksistensial diakui dan dihormati, tetapi bukan sebagai doktrin. Ketokohan figur real diakui dan dihormati, tetapi bukan sebagai yudisial. Dengan demikian, yang tampil adalah konfigurasi ideal, harmonis dan realistik.

IV. Penutup

Pada akhirnya umat ini harus meyakini bahwa, sangat tidak mungkin problematika dan kebangkitannya itu akan diurus oleh yang lain. Tidak ada alternatif, melainkan mereka harus bersatu, menyingsingkan lengan baju, berjuang optimal menyongsong fajar kebangkitan Islam dan Muslimin (QS as-Shaff: 14).

Kurang apa lagi? Potensi sumberdaya Nilai, yakni al-Qur’an, as-Sunnah, khazanah peradaban dan keilmuan, serta wibawa sejarah tinggal dijadikan bekal. Potensi sumberdaya Insani, secara jumlah dan mutu senantiasa meningkat sesuai dengan perkembangan zaman, sains dan teknologi. Mereka hidup, bermasyarakat, berasimilasi, berda’wah, berprestasi di banyak negara Barat, sehingga keberadaan dan kualitasnya diperhitungkan dunia. Begitu pula potensi sumberdaya Alami alhamdulillaah telah umat miliki, melimpahi persada. Kini, umat ini harus bertanggung jawab kepada sejarah dan masa depan.

Malaise al-Faruqi dan refleksi Dr. Sir Muhammad Iqbal hanyalah akan menjadi himpunan ratapan dan harapan. sedangkan umat tetap terpuruk pada kehinaan dan kejumudan. Wahai, diri beriman. Ternyata, Allah swt pun tidak akan mengubah status umat ini, sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka (QS al-Anfaal: 53; ar-Ra’d: 11). Kesempatan demi kesempatan berlalu tanpa kejelasan dan kemajuan. Tinggal lagi mereka berproklamasi; sekarang, atau tidak sama sekali!

Namun sebongkah keyakinan membersit di celah-celah palung kalbu; insya Allah, Optimistis dalam kebersertaan Allah swt. (QS Ali Imran: 139-140 dan 200). Cikal bakal itulah yang akan diberkati Allah swt sebagai kemunculan generasi dan momentum alternatif (QS at-Taubah: 19; al-Mujaadilah: 22) yang kelak kembali mendaulatkan ‘Izzul Islaam wal Muslimiin (QS al-An’am: 82; al-A’raaf: 96). Wallahu a’lam.

Sebelumnya : Problematika Ummat Islam dan Rekonstruksi Kebangkitannya (1) , (2) dan (3).


KEPUSTAKAAN
1. Abdul Qadir Abu Faris, Dr., Ujian, Cobaan, Fitnah dalam Da’wah (Terj.), Gema Insani Press, 1993.

2. Abdullah Nashih ‘Ulwan, Dr.,Persaudaraan Islam (Terj.), Al Islahy Press, Jakarta, 1405/1985.

3. Abdullah Nashih ‘Ulwan, Dr., Membina Generasi Muda yang Ideal (Terj.), Karya Utama, Surabaya, TT.

4. Farid Ahmad Okbah/Drs. Hartono A. Jaiz, Solidaritas Islam Jalan Menuju Persatuan, Darul Haq, Jakarta, 1993.

5. Fathi Yakan, Komitmen Muslim kepada Harakah Islamiyyah (Terj.), Cetakan Ketiga, Najah Press, Jakarta, 1993/1413.

6. Isma’il Raji Alfaruqi, Prof. Dr., Islamisasi Pengetahuan (Terj.), Cet. I, Pustaka Salman ITB, Bandung, 1404/1984.

7. Muhammad Al Ghazaly, Syaikh, Dr., Keprihatinan Seorang Juru Da’wah (Terj.), Cetakan I, Mizan, Bandung, 1914/1984.

8. Sa’id Hawwa, Syaikh, Al Islam (Terj.), Al Islahy Press, Jakarta, 1409/1988.

9. M. Isa Anshary, KH, Mujahid Da’wah, Cetakan II, CV. Diponegoro, Bandung, 1979.

10. M. Natsir, Dr., Fiqhud Da’wah, Cetakan Keempat, Media Da’wah, Jakarta, 1403/1983.

11. Sayyid Qutb, Dr., Fiqh Da’wah (Terj.), Cetakan Pertama, Pustaka Amani, Jakarta, 1986.

12. Umar Sulaiman Al-asyqar, Dr., Mengembalikan Citra dan Wibawa Umat (Terj.), Cet. I, Wacana Lazuardi Amanah, Jakarta, Shafar 1415/Juli 1994.

13. Yusuf Alqardlawi, Syaikh Prof. Dr., Menuju Kesatuan Fikrah Aktivis Islam (Terj.), Cet. I, Robbani Press, Jakarta, 1412/1991.

14. Zainal Abidin Ahmad, H.,Konsepsi Politik dan Ideologi Islam, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1977.

15. Zainal Abidin Ahmad, H.,Dasar-dasar Ekonomi Islam, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1979.


* Penulis adalah Staf Pengajar IPB Bogor

sumber: ISHLAH, Edisi 82 Tahun IV, September 1997.

Advertisements