ALKISAH dua orang petugas kepolisian London,  Helen Hansen dan Dave Kadwell melihat seekor kucing mengejar seekor hamster di kawasan Beddington. Begitu takutnya si hamster hingga ia terjatuh dari sebuah jendela di ketinggian 12 meter. Kedua petugas ini sigap dan langsung berusaha menyematkan sang hamster dengan cara mengusir si kucing. Hansen mengulurkan helmnya untuk menangkap hamster mungil tersebut dan mengembalikan pada sang pemilik.

“Tidak dapat dipercaya bagaimana hamster itu bisa jatuh dan selamat dalam peristiwa itu. Kami sangat berterima kasih kepada polisi yang datang untuk menyelamatkan hamster,” ujar pemilik hamster Rook Debbie,  seperti dilansirThe Mirror, Selasa (31/7/2012).

Kisah menarik datang dari Nottinghamshire. Seorang petugas kepolisian dibantu masyarakat punya niat bait,  untuk membantu seekor anjing yang terjebak di dalam mobil yang sedang ditinggal tuannya.  Bersama masyarakat, petugas ini mendobrak mobil dan memecahkan kaca bagian belakang.  Sang polisi beralasan, ia mengkhawatirkan keberadaan hewan yang terlihat “tertidur” itu terjebak panas setelah diberitahu oleh seorang anggota masyarakat yang mencoba untuk membangunkan hewan itu dari bangku belakang sebuah mobil Mercedez yang terparkir. Kala itu, suhu udara mencapai 18 derajat Celcius.

Ia baru kaget,  ketika di dapati benda yang disangka adalah anjing jenis Spaniel,  hanyalah sebuah boneka mainan seharga 4,50 poundsterling (kira-kira Rp 16.500). Dikutip The Sun, sang pemilik,  Gordon Williams, kaget menemukan mobilnya penuh pecahan kaca. Tak urung,  pihak kepolisian harus menyetujui pembayaran ganti rugi kerusakan dan sang polisi akhirnya mendapatkan sanksi.

Jabatan bisa jerumuskan ke Surga juga Neraka

Dua kasus menjelaskan kepada kita, bagaimana seriusnya dan mulianya petugas kepolisian dan aparat negara menyelamatkan nyawa, meski itu hanya hewan. Dalam banyak kasus, di tempat kita sering terjadi sebaliknya.

Maaf, seolah-olah, nyawa terbilang tak ada berharga. Dalam kasus masih terduga pelaku tindak terorisme, polisi bisa menembakkan peluru kepada orang tanpa proses pengadilan. Di sisi lain, dan masyarakat menyaksikan pemandangan tiap hari, perlakukan dan keadilan hukum justru tumpul pada orang-orang besar dan pejabat.  Ironis memang.

Islam telah memberikan pedoman kepada umatnya bahwa jabatan atau kewenangan itu adalah amanah yang dampaknya bisa dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, siapa saja yang mendapat tugas menjadi pejabat atau aparat, harus mampu menjadikan jabatannya sebagai sarana mendapat ridha Allah Ta’ala. Sebaliknya, jabatan akan berbahaya jika digunakan untuk merugikan masyarakat, merusak –apalagi—berdampak pada penghilangan nyawa seseorang. Sudah tidak sedikit ancaman hadits dan surat dalam al-Quran yang isinya memberi ancaman pada pejabat, hakim, gubernur, pemimpin atau aparat yang tidak amanah.

Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya tentang hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tentangMaailaat Mumiilaat yang berbunyi, “Dua kelompok dari ahli Neraka yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Para lelaki yang ditangannya membawa cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk mencambuk manusia, dan para wanita yang terbuka pakaiannya, telanjang, sesat dan menyesatkan, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga, dan tidak mendapatkan baunya.”

Kata Syeikh Bin Baz, hadits ini merupakan ancaman yang besar dan bentuk peringatakan. Orang lelaki yang memegang cambuk di tangannya seperti seekor sapi maksudnya adalah yang memukul manusia tanpa alasan yang dibenarkan, baik karena kedudukannya sebagai polisi ataupun lainnya, baik berdasarkan perintah dari pemerintah yang berkuasa atau tanpa perintah dari pemerintah. Sesungguhnya pemerintah (baik dari atasan, komandan, presiden sekalipun) hanya boleh ditaati dalam hal yang baik.

Begitu pula pada orang-orang yang mengaku dirinya sebagai hakim. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam sudah mewanti-wanti kepada para hakim, karena dua dari tiga hakim dipastikan sebagai penghuni neraka dan hanya satu yang masuk surga.

“Hakim-hakim itu ada tiga golongan, dua golongan di neraka dan satu golongan di surga: Orang yang mengetahui yang benar lalu memutus dengannya, maka dia di surga. Orang yang memberikan keputusan kepada orang-orang di atas kebodohan, maka dia itu di neraka dan orang yang mengetahui yang benar lalu dia menyeleweng dalam memberikan keputusan, maka dia di neraka.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’l, Ibnu Majah dan Hakim).

Jangan Mencintai Jabatan

Islam sangat membenci seorang Muslim yang hidupnya digunakan untuk mengejar jabatan, apalagi mencintai jabatan. Sebab, hal itu bisa menjadikan seorang hamba bergeser pengabdiannya. Dari semula mengabdi kepada Allah menjadi mengabdi pada selain-Nya.
Syeikh Ibn Atha’illah dalam kitab Al-Hikam menegaskan, “Tidaklah engkau mencintai sesuatu, melainkan engkau menjadi hambanya, dan Allah tidak suka apabila engkau menjadi hamba selain-Nya.”

Tujuan penciptaan manusia adalah untuk mengabdi kepada Allah. Jika seorang hamba melanggar, maka jangan salahkan Allah jika kemudian kemurkaan menimpanya. Kasus ini pernah dialami oleh Fir’aun, yang sewenang-wenang dan dholim terhadap rakyatnya sendiri.
Mengapa Islam melarang umatnya mencintai jabatan? Tidak lain karena jabatan itu bersifat sementara. Setelah melewati masa jabatan, seorang hamba pasti akan bertemu dengan Allah untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Jika salah menggunakan jabatan, maka fatal akibatnya.

Selain itu jabatan juga merupakan fitnah (ujian atau cobaan) terbesar bagi seluruh umat Islam. Dimana di dalamnya ada tanggung jawab sangat besar yang apabila tidak terpenuhi bisa menggriing seorang hamba pada murka Allah Subhanahu Wata’ala.

Dengan demikian maka janganlah menjadikan jabatan sebagai tujuan apalagi tuhan, karena semua yang ada di dunia ini, termasuk jabatan hanyalah semu belaka. Syeikh Ibn Atha’illah Al-Sakandari mengatakan,“Bila engkau tidak ingin tergeser (merugi) maka jangan mencintai jabatan yang tidak abadi bagimu”.

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)” (QS:  Al-Taghaabun [64] : 15).

Imam Ghazali dalam kitab monumentalnya, Ihya Ulumuddi mengutip hadtis nabi yang berbunyi, “Cinta harta dan kemuliaan (jabatan) menumbuhkan sifat munafik sebagaimana air menumbuhkan tanaman.”

Dalam hadits yang lain diungkapkan bahwa, “Tidaklah dua ekor serigala buas yang dilepas di kandang kambing lebih banyak merusak daripada cinta harta dan kedudukan dalam agama seorang Muslim.” (HR. Tirmidzi).

Cinta jabatan membuat manusia kehilangan akal sehat, sehingga seringkali ucapan dan tindakannya tidak bisa dicerna akal pikiran. Itulah makna dari betapa buruknya sifat cinta jabatan, yang keburukannya melebihi keganasan binatang buas.

Bijaksana, Tak Semena-mena

Agar jabatan tidak melenakan apalagi menyengsarakan maka seorang aparat atau pejabat harus memiliki sikap bijaksana. Aparat atau pejabat apapaun haram dalam Islam berbuat semena-mena. Hendaknya setiap ucapan –apalagi tindakannya– benar-benar didasarkan pada nilai-nilai keimanan dan kebenaran, sehingga dalam menjalankan amanah sebagai seorang aparat atau pejabat, benar-benar dapat mengayomi, melindungi dan menentramkan masyarakat.

Bukan malah menjadi pejabat atau aparat yang membuat kebijakan atau tindakan yang justru merugikan dan menyengsarakan rakyat. Terlarang melakukan main tangkap, main pukul, main siksa dan asal tembak dan bunuh terhadap warga yang semestinya dilindungi dan diayomi.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menunjukkan tanda-tanda akhir zaman. Salah satunya adalah; banyaknya polisi sebagai bagian dari fitnah (bencana). Nabi sangat mengkhawatirkan masalah ini atas umatnya.

Dari Al Imam Ahmad, Al Hakim, dan Ath Thabrani dalam Al Ausath dan Al Kabir dari Abu Umamah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Akan ada nanti di akhir zaman polisi-polisi yang berangkat pagi-pagi dalam murka Allah, dan kembali dalam kebencian Allah.” Ath Thabrani menambahkan,“Maka janganlah sekali-kali kamu menjadi bagian orang-orang yang dekat dengan mereka.”

Mudah-mudahan jangan ada di antara kita menjadi aparat, petugas dan pejabat yang baru saja disebut Nabi itu. Dan sudah saatnya tugas yang diberikan pada kita justru mengantarkan kita pada keridhoan Allah Subhanahu Wata’ala yang mengantarkan kita ke surganya.

Jika tidak, di dunia mungkin apa yang kita lakukan lolos dari proses hukum. Tetapi di akhirat, tak satu pun manusia bisa lepas dari mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala.*/Imam Nawawi

http://www.hidayatullah.com

Advertisements