Allah

وَلاَ تَهِنُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَأَنْتُمُ اْلأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ . إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ (آل عمران : 139-140)

“Janganlah kamu merasa hina, dan jangan (pula) bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman. Jika kamu ditimpa penderitaan maka kaum (kafir) juga merasakan penderitaan yang sama.” (QS Ali Imran : 139-140. Lihat juga ayat 104).
Jika mencermati kondisi ummat Islam belakangan ini sungguh menjadikan hati kita tersayat. Betapa penderitaan berkepanjangan yang menderanya tak kunjung berakhir, musibah demi musibah datang silih berganti, cobaan demi cobaan yang menyelimutinya tak kunjung lepas. Namun, yang perlu kita sadari bersama bahwa kaum selain kita juga merasakan kesulitan yang sama. Hanya saja obyek perasaan derita kita berbeda dengan yang mereka rasakan. Kesulitan kita adalah betapa beratnya mempertahankan komitmen (iltizam), keteguhan (tsabat), kesabaran, serta konsistensi (istiqamah) dalam menjalankan syariat Islam di tengah-tengah gegap-gempitanya manusia yang berkonspirasi memarjinalkan peran Allah dalam kehidupan ini.
Sedangkan kesulitan kaum kafir adalah mempertahankan status quo kebatilan di tengah maraknya kebangkitan ummat Islam (nahdhatul ummah). Fenomena kesadaran beragama para mahasiswa, intelektual, kaum perkotaan semakin menggeliat. Mereka berusaha secara maksimal untuk membendung gejala kesadaran  kembali ke Islam. Nampaknya kebangkitan Islam itu tidak bisa diredam dan diredupkan.
Usaha mereka hanya sia-sia belaka.

لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ (الفتح : 29)

Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang beriman).” (QS al-Fath : 29).

يُرِيْدُوْنَ أَنْ يُطْفُِؤا نُوْرَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبىَ اللهُ إِلاَّ أَنْ يُتِمَّ نُوْرَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ  هُوَالَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِاْلهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ (التوبة : 32-33)

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupn orang-orang kafir tidak menyukai. Dialah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS At-Taubat : 32-33. Lihat juga : ash-Shaff : 8-9; al-Fath : 28).

قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَآءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ أَكْبَرُ

Telah nampak kebencian pada mulut-mulut mereka, dan apa yang disimpan di dada mereka lebih besar.” (QS Ali Imran : 118).
Jadi tidak kita saja yang menderita kesulitan, mereka juga merasakan kesulitan dalam menghadapi banyaknya kaum terpelajar, bangsa-bangsa di negara maju yang ingin kembali kepada ajaran yang sesuai dengan fithrah mereka. Setelah mereka lari dari agama (kristen) karena dianggap menghambat kemajuan berfikir. Dan terjadilah kebebasan yang tak terkendali. Sains dan teknologi yang menjanjikan sarana kehidupan (wasilatul hayat) pada kehidupan globalisasi sebagai produk paham kebendaan (materialisme), terbukti gagal dalam memandu manusia modern menemukan kebahagiaan hidup.  Mereka kembali kepada aliran eksistensialisme (hati nurani). Tetapi hati nurani seseorang dipengaruhi oleh lingkungan pendidikan, pergaulan, persepsi, kebiasaan yang berbeda-beda.
Kita juga merasakan kesulitan dalam mendesain kehidupan ini hanya mencari ridha Allah, saat dimana kebanyakan manusia ingin mencari keridhaan, restu kepada selain Allah. Oleh karena itu pada bagian ayat berikutnya Allah memberikan hiburan (tasliyah) kepada kita.

وَتِلْكَ اْلأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَآءَ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِيْنَ (آل عمران : 140)

“Demikianlah hari-hari itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar memperoleh pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim.” (QS Ali Imran : 140).
Terkadang kaum beriman itu sedang naik di atas pada masa keemasannya. Menempati posisi penting dan strategis. Adakalanya jatuh terpuruk, dan kaum kafir berjaya di dunia ini. Tentu kejayaan yang diraih selain kita adalah kejayaan yang palsu. Sementara kejayaan yang kita peroleh adalah kemenangan sejati. Kemenangan yang mencerahkan, menampakkan cahaya kebenaran. Sebab kejayaan orang kafir itu tidak mendapat arahan, bimbingan dan petunjuk dari Allah, sedangkan kejayaan ummat Islam memperoleh restu dari Allah. Kejayaan kaum muslimin terjadi ketika kita menyaksikan kembalinya kekuasaan Allah di dunia ini, secara de jure dan de facto (secara syar’i dan kauni).

Fiqh pergiliran dan pergantian zaman adalah sebuah kenyataan sejarah kehidupan manusia yang patut kita jadikan renungan secara mendalam. Timbul tenggelamnya bangsa di muka bumi ini memiliki maksud spesifik di mata Allah subhanahu wa ta’ala. Agar Dia mengetahui siapa diantara kita yang benar-benar beriman dan Dia mengambil sebagian komunitas itu sebagai syuhada’.
Barangsiapa memperhatikan keadaan ummat-ummat sepanjang sejarah maka ia akan mendapatkan pelajaran bahwa obor peradaban berpindah dari bangsa satu ke bangsa lain, dari satu tangan ke tangan lain. Sesungguhnya perputaran (saat) ini adalah milik kita, bukan melawan kita, kata Hasan al-Banna.

Dahulu kepemimpinan dunia di tangan negara-negara Timur, melalui peradaban Fir’aun, Asyuriah, Babylonia, Chaldea, Phoenisia, Persia, India dan China; kemudian ke Barat melalui peradaban Yunani dengan filsafatnya yang terkenal, berpindah lagi ke Timur lewat peradaban Arab-Islam, peradaban yang menyatukan iman dan ilmu, materi dan spiritual, lahir dan batin, lalu tenggelam dan melupakan risalahnya.

Barat memegang kendali kepemimpinan dunia. Akan tetapi ia tidak amanah. Bahkan mengalami kebangkrutan norma, melampaui keadilan, memetingkan kekuatan dari kebenaran, materi atas ruhani, benda atas manusia. Merupakan kewajaran bila obor peradaban harus berpindah ke tangan lain.
Kesadaran kita terhadap prinsip mendasar (mabda’ asasi) ini harus melekat dalam totalitas kepribadian kita sebagai sosok muslim, sosok yang memposisikan diri sebagai bagian dari elemen perubah (min ‘anashirit taghyir). Supaya sedikit pun kita tidak melangkah ke jalan lain selain jalan Allah. Tidak sedetik pun kita berfikir untuk memilih alternatif lain selain solusi dari Allah. Kalaupun orang lain tidak tahan, tidak sabar, kurang teguh menapaki tabiat perjalanan dakwah ini, tidak mengurangi stamina fisik dan ma’nawiyah (spirit) kita.

Artikel terkait: Prinsip Pergiliran Zaman : Arahan Nabi (Taujih Nabawi)

http://hidayatullah.or.id