The_Field_of_Rest_Cemetary_of_the_Green_Mosque

Tujuan pendidikan islam (tarbiyah) dengan pendekatan tahapan turunnya wahyu ialah membentuk kepribadian muslim yang utuh (takwin al-muslim al-mutakamil).  Seluruh aspek kemanusiaan diberdayakan secara sinergis dan optimal, sehingga akan melahirkan potensi maksimal, baik segi ruhiyah (spiritual), fikriyah, ‘aqliyah (intelektual), khuluqiyah (moral), jasadiyah (fisik), dan ‘amaliyah (operasional). Sosok muslim mujtahid, mujahadah dan mujahid. Sosok muslim yang rasyid (memadukan kecerdasan otak dan batin), dunia dan akhirat, spiritual dan material, doa dan usaha, pikir dan zikir, memiliki daya cipta material dan daya kendalinya. Manusia yang bertaqwa (inna akramakum ‘indallahi atqaakum), meminjam istilah Muhammad Quthb.

pendidikan-islam-dan-tarbiyah-hasan-al-banna

Menurut Syekh Hasan al-Banna, pendidikan Islam mencakup seluruh aspek, sebagaimana berikut :

1) Salim al-‘aqidah (bersihnya aqidah). Setiap individu muslim dituntut memiliki kelurusan aqidah yang hanya dapat diperoleh melalui pemahaman yang luas dan utuh terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah.

2) Shahih al-Ibadah (lurusnya ibadah). Setiap individu dituntut untuk beribadah sesuai dengan tuntunan syariat. Pada dasarnya ibadah bukanlah hasil ijtihad seseorang karena ibadah tidak dapat diseimbangkan melalui penambahan, pengurangan, atau penyesuaian, dengan kondisi dan kemajuan zaman (ghairu ma’qulil ma’na, atau tauqifi, paten).

3)  Matin al-Khuluq (kokohnya akhlaq). Setiap individu dituntut untuk memiliki ketangguan akhlaq sehingga mampu mengendalikan hawa nafsu, syhawat dan syubhat.

4)  Qadir ‘ala al-Kasb (mampu mencari penghidupan). Setiap individu dituntut untuk mampu menunjukkan potensi dan kreativitasnya dalam kebutuhan hidup. Sehingga tidak menjadi tanggungan orang lain. Muslim sejati ikut memecahkan persoalan, bukan bagian dari persoalan.

5)  Mutsaqaf al-Fikr (luas wawasan berfikirnya). Setiap individu muslim dituntut memiliki keluasan wawasan. Ia mampu memanfaatkan kesempatan dan peluang untuk mengembangkan diri.

6)  Qawy al-Jism (kuat fisiknya). Setiap individu dituntut untuk memiliki kekuatan fisik melalui sarana-sarana yang dipersiapkan Islam.

7)  Mujahid li Nafsihi (pejuang diri sendiri). Setiap individu dituntut untuk memerangi hawa nafsunya dan mengukuhkan diri di atas hukum-hukum Allah melalui ibadah dan amal shalih. Bisa berjihad melawan tipudaya setan yang menjerumuskan manusia ke dalam kejahatan.

8)  Munazham fii Syu’unih (teratur urusannya). Setiap individu dituntut untuk mampu mengatur segala urusannya sesuai dengan aturan Islam. Pada prinsipnya setiap pekerjaan yang tidak teratur hanya akan berakhir dengan kegagalan.

9) Haaris ‘ala Waqtih (memperhatikan waktunya). Setiap individu dituntut untuk mampu memelihara waktunya sehingga akan terhindar dari kelalaian (taqshir). Mampu menghargai waktu orang lain sehingga tidak akan membiarkan orang lain tidak produktif.

10)  Nafi’ li Ghairih (bermanfaat bagi orang lain). Setiap individu muslim mampu menumbuhkembangkan berbagai potensi, bakat dan kapasitasnya, sehingga menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain.

Dari kesepuluh komponen diatas, tergambarkan sosok muslim yang ideal. Shalih linafsihi dan shalih lighoirihi, atau mushlih. Sholih untuk dirinya sendiri dan bisa mendorong perbaikan untuk orang lain. Sosok mujtahid, sufi (mujahadah), sekaligus mujahid (pejuang). Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan : Silahkan baca lebih lanjut ebook Madrasah-Tarbiyah-Hasan-Al-Banna-Edisi-Indonesia.pdf

Sumber:
http://hidayatullah.or.id
http://blog.uny.ac.id

Advertisements