worlds-muslim

Oleh: Adnan bin Abdullah Al-Qattan

“Semua keterbelakangan dan kelemahan peradaban, kebudayaan dan ilmu pengetahuan, membuat umat berada di bawah dominasi peradaban modern, bahkan para penulis dan intelektual muslim sendiri telah terpesona dan terkagum-kagum melihatnya.”

Jika kita ingin meramalkan prospek masa depan nasib umat Islam, maka itu tergantung kepada kebangkitan Islam, perkembangannya dan pertumbuhan peradabannya di era modern.

Untuk menuju hal itu, pertama kali, kita harus mengidentifikasikan apa yang dimaksud dengan kebangkitan Islam, lalu mempelajari penyebab internal dan eksternalnya, sehingga kita dapat menentukan di mana kita akan meletakkan kaki-kaki kita, dan bergerak menuju masa depan dengan visi yang realistis dan metodologi yang ilmiah. Setelah itu, baru kemudian menentukan peran penting yang harus dimainkan oleh lembaga-lembaga keagamaan, komite ilmiah dan ulama Islam dalam struktur bangunan budaya futuristik ini.

Kebangkitan Islam merupakan fenomena sosial yang berarti kembalinya kesadaran bangsa, kepekaan dirinya, kebanggaan dalam agamanya, independensi dalam bidang politik, ekonomi, intelektual, dan berusaha untuk bangkit dengan peran alamiahnya dalam membangun peradaban manusia, ditinjau dari posisinya sebagai bangsa terbaik di muka bumi yang dilahirkan untuk spesies manusia. Kebangkitan yang diberkati ini memiliki faktor dan akar sejarah yang harus kita perhatikan.

1. Faktor Internal

Yakni, fakta bahwa umat Islam memiliki nilai-nilai peradaban, kekayaan warisan turats, intelektual dan teori ijtihad yang konfrehensif dalam wujud agama Islam yang lurus, agama yang memiliki keistimewaan dengan sifat syumulnya yang mencakup nilai-nilai, gagasan, akidah, syariat dan moralitas dalam urusan dunia dan akhirat. Agama Islam telah memecahkan masalah manusia dalam semua dimensinya, baik fisik, psikis, duniawi maupun ukhrawi, sehingga membuat seorang muslim dan orang yang perilakunya terinspirasi oleh Islam dalam kehidupannya, hidup dalam keadaan kenyamanan dan ketenangan.

Islam menggambarkan cakrawala universal mengenai etika dengan mengembangkan hati nurani manusia yang bebas dan perannya dalam memelihara manusia dari penyakit moral, mencari kebajikan dan sifat-sifat yang mulia. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan hubungan dengan Tuhan dan rasa tawakkal kepada-Nya, menciptakan koherensi dalam hubungan dan interaksi sosial, dan menciptakan individu yang dapat memberikan kontribusi dalam mendidik masyarakat dengan membangkitkan dimensi spiritual dan moral di dalamnya. Islam mampu mengakomodasi kebutuhan manusia dan memberinya peran alaminya sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Dimensi perjalanan manusia yang dianjurkan oleh Islam ini, baik dalam konsep akidah, syariat yang terpadu, atau moralitas yang luhur bagi individu dan masyarakat, semuanya akan membantu untuk menjadi titik awal bagi kebangkitan.

2. Faktor Eksternal

Umat Islam telah tertipu dengan peradaban materialisme yang datang dari dari negeri timur dan Barat dan kemudian mendominasi peradabannya sendiri, umat tidak berdaya di hadapan invasi intelektual. Hal ini didukung oleh penurunan Islam dalam hal aplikasi nyata karena beberapa faktor, untuk jangka waktu yang sangat lama. Selain itu, tidak adanya kepemimpinan yang bersih, kesibukkan penguasa Muslim dengan urusan pribadinya dan melemahnya semangat amar makruf nahi munkar, menjadi faktor-faktor yang membantu melipatgandakan ketidaktahuan umat akan ruh Islam, selain adanya propaganda yang sangat menarik yang dijajakan oleh kaum penjajah dalam slogan pembebasan kaum muslimin dan perkembangannya. Situasi ini semakin tidak memihak karena bertepatan dengan perkembangan teknologi yang digunakan oleh penjajah sebagai bukti perkembangan dan kemajuan peradaban mereka.

Semua keterbelakangan dan kelemahan peradaban, kebudayaan dan ilmu pengetahuan, membuat umat berada di bawah dominasi peradaban modern, bahkan para penulis dan intelektual muslim sendiri telah terpesona dan terkagum-kagum melihatnya.

Setelah melalui periode yang cukup lama; lenyaplah topeng dan tersingkaplah kepalsuan peradaban modern dan kedustaan propagandanya. Setelah berbagai kehancuran dan krisis yang menimpa umat, mereka baru tersadar bahwa mereka telah dikalahkan dan dimanfaatkan oleh kekuatan yang menjarah kekayaan dan potensinya. Jelaslah di hadapan umat bahwa semua ingin menjarah kekayaan sumber dayanya, menghinakannya, menjajahnya dan menjauhkannya dari nilai-nilai, akidah dan pemikiran Islam. Jelas pula bahwa konflik peradaban adalah konflik kepentingan yang tidak memberikan manfaat bagi umat Islam kecuali semakin bertambahnya kekalahan, keterbelakangan dan kemunduran.

Fakta-fakta ini telah membuka mata para korban penindasan dan penjajahan ini, sehingga mendorong mereka untuk mencari seorang Juru selamat. Maka, bangkitlah para ulama, pemikir dan reformis untuk memenuhi tantangan dan konflik peradaban kontemporer. Gesekan budaya dan konfrontasi yang sengit antara Islam dan budaya materialisme untuk melawan dominasi dan kontrol asing atas Islam dan rasa tanggung jawab terhadap prinsip amar makruf nahi munkar dan Jihad di jalan Allah, semua itu menjadi faktor-faktor yang membuka jalan bagi peluncuran kebangkitan Islam di zaman kita sekarang.

Di antara faktor eksternal lain yang menjadi pendorong kebangkitan adalah situasi konflik dan persaingan antar peradaban modern untuk menguasai dunia ketiga dan dampak buruk yang dipetik manusia dari konflik dan ketidakadilan ini. Konflik ini telah mendorong kaum tertindas untuk melakukan balas dendam demi memelihara martabatnya, menjaga kesatuan intelektual, politik dan ekonomi dan untuk mencari alternatif lain yang menjamin keselamatannya dari pengalaman pahit di bawah kekuatan arogansi yang dikemas dalam baju peradaban dan kemajuan. Akhirnya, umat Islam kemudian menemukan Juru selamat terbesar dan harapan yang terbesar. Maka umat pun bangkit di bawah tekanan kekuatan asing, di mana-mana terlihat adanya revolusi yang menuntut kebebasan, kemerdekaan dan pembangunan peradaban Islam di negrinya sendiri.

Inilah gambaran kebangkitan dan beberapa faktornya. Ia bukanlah sesuatu yang instan, akan tetapi merupakan ekspresi dari penderitaan masyarakat muslim sejak negrinya terjatuh ke dalam hegemoni asing dan dipaksa untuk menerapkan aturan-aturan non-islam dan para penguasa yang lemah, dengan tujuan untuk menyebarkan racun peradaban yang diimpor kedalam masyarakat Islam. Dari sinilah umat merasa adanya kontradiksi antara keimanan mereka terhadap risalah dan akidahnya di satu sisi, yang menentukan warna kehidupan keagamaan dan legitimasi kewajiban yang berasal dari hukum Islam, dengan gelombang peradaban baru yang justru bekerja untuk memisahkan umat dari identitas, keimanan dan komitmennya terhadap agama. Karena kontradiksi inilah, peradaban Barat terombang-ambing dan sukar menembus kedalaman jantung masyarakat Muslim, tidak seperti gelombang Islam yang mampu menyusup ke dalam hati nurani umat. Teriakan-teriakan penolakan pun bergema dari para khatib, orang-orang yang loyal terhadap Islam dan kaum reformis, mereka yang sadar akan realita umat di berbagai belahan dunia Muslim dalam menghadapi semua yang berbau asing bagi tubuh umat, ideologi dan nilai-nilai peradabannya.

Kebangkitan ini telah diprediksikan sejumlah tokoh politik, reformis dan intelektual. Pemikir Sayyid Qutb menyatakan dalam bukunya “al-mustaqbal li haadzaa al-diin”, demikian pula profesor ilmu politik Hamid Rabi’, bahkan semua tokoh dunia intelektual dan politik memprediksikan kebangkitan ini enam puluh tahun lalu. Prof. Smith dari University of Montreal menulis sebuah buku berjudul “Islam Today” yang dirilis pada tahun lima puluhan, telah memalingkan perhatian para pejabat di negaranya terhadap kebangkitan ini. Demikian pula seorang orientals dunia dari Inggris yang menerbitkan sebuah buku pada tahun 1964. Dalam buku itu, ia membahas Islam di abad pertengahan dan memprediksikan kebangkitan Islam, bahkan, ia menyebutnya sebagai ideologi yang akan mengendalikan dunia modern pada akhir abad kedua puluh.

Selain itu, ada juga dokumen penting mengenai hal ini yang dirujuk kepada seorang ilmuwan Rusia Zojanowski, yang menulis bukunya pasca revolusi komunis, ia mencoba untuk menilai revolusi itu dan melontarkan pertanyaan kapan dan dari mana revolusi dunia yang ketiga akan muncul. Mengacu pada dua revolusi sebelumnya, yaitu revolusi Perancis dan komunis, dan dengan menimbang bahwa kedua evolusi itu telah gagal dalam hal tertentu, kemudian dunia sangat membutuhkan lahirnya sebuah revolusi yang mampu meluruskan pergerakan manusia, sehingga akhirnya ia menyimpulkan bahwa revolusi tidak akan datang kecuali dari dunia Islam. Prediksi ini ia cetuskan pada tahun 1919.

Setelah presentasi ringkas mengenai faktor-faktor kebangkitan Islam, maka tidak ada jalan lain, kecuali kebangkitan Islam ini harus dipandu dan dijaga perkembangannya, sehingga ia bisa memainkan peranannya dan memberikan buahnya dalam penyebaran peradaban Islam di seluruh dunia, peradaban yang jauh dari terorisme, kekerasan dan ekstremisme, sehingga, kebangkitan ini mampu menjanjikan masa depan yang cerah bagi Islam dan orang-orang yang terampas hak asasinya, kebebasan dan kemerdekaannya. Karena itu, menjadi sebuah keniscayaan bagi kita untuk menggambarkan hambatan dan kendala yang dapat menahan bersinarnya pencerahan dan kelahiran peradaban Islam ini, sehingga kita bisa mengambil tindakan preventif dan kuratif untuk mengawal kelahirannya. Dengan demikian, tidak ada lagi satupun faktor yang menghalangi pengaruh kebangkitan dan perkembangannya, yang membuat umat hanya bisa berjalan di tempat.

Kita bisa mengidentifikasi hambatan dan rintangan kebangkitan Islam menjadi dua bagian: faktor internal dan eksternal. Faktor internal intelektual, secara ringkas bisa kita katakan bahwa kurangnya pemahaman yang tercerahkan, tidak adanya pikiran-pikiran Islam yang moderat dari kaum muslimin, ditambah kondisi-kondisi yang telah kita sebutkan sebelumnya, tidak adanya pemimpin yang saleh untuk mengaplikasikan Islam secara benar, dan tidak adanya pemahaman yang baik terhadap kondisi dan perubahan zaman modern yang tengah dihadapi umat, semua itu membuat pendekatan Islam dalam bidang terapan, politik dan sosial menjadi konsep yang kabur. Studi untuk mendalami persoalan ini perlu kerja keras dan renungan yang mendalam. Akibatnya, umat kehilangan pemahaman dan kesadarannya dalam waktu yang lama, sehingga membuat konsep-konsep Islam dalam aplikasi praktis, sosial dan politik menjadi tidak jelas di benak para ulama Islam, kecuali beberapa orang saja dari mereka.

Kondisi ini terfleksikan dengan jelas dalam pandangan ijtihadi mereka dan perhatian mereka yang sangat besar dalam masalah ibadah dan urusan individu, sementara masalah utama keumatan kontemporer menjadi terabaikan, selain masuknya beberapa konsep yang dirancang untuk mendistorsi kebenaran Islam dan teracuninya beberapa kelompok awam dengan gagasan-gagaan yang menyimpang, juga ikut andil dalam menciptakan sikap berlebihan dalam memahami Islam dan akidahnya, seperti terorisme, ekstremisme dan suluk yang berlebihan seperti mengisolir diri dari masyarakat untuk menjaga identitas keIslaman.

Demikian pula pemahaman yang keliru tentang konflik Islam dengan musuh-musuhnya. Banyak yang menganggap bahwa mereka semua adalah ahli dar al-harb (yang wajib diperangi) dan menganggap bahwa konflik kita dengan mereka adalah konflik bersenjata dan peperangan terbuka. Saya katakan bahwa pemahaman inilah yang selalu membuat kita kehilangan banyak kesempatan sepanjang sejarah untuk menggoda berbagai bangsa di dunia agar tertarik kepada Islam dan menyatukannya dalam wadah kaum muslimin. Bahkan, kekeliruan ini telah melenyapkan kesempatan untuk memaksimalkan manfaat dari berbagai konsep Islam yang toleran.

Jadi, untuk mencapai metode yang terintegrasi, kita harus mempelajari Islam secara substansial sehingga dapat digunakan untuk membangun peradaban Islam yang toleran, sejalan dengan tuntutan zaman dan sesuai dengan realitas kontemporer, tidak terkungkung dengan formalitas, sangat konsen dengan substansi dengan menyerap spirit hukum syariat dan bergantung pada teks-teks yang shahih untuk mencari solusi sukses. Hal itu bisa diwujudkan dalam langkah-langkah berikut:

1. Memperhatikan akal, peran dan dampaknya dalam menentukan dimensi syariat dalam naungan maksud dan tujuan disyariatkannya hukum. Melalui akal dan ijtihad, kita mempelajari situasi yang berkembang dan sejauh mana kesesuaiannya dengan prinsip umum syariat yang toleran, berserta memperhatikan unsur-unsur perubahan, sehingga kita bisa mengubah metode sesuai dengan sunnah perubahan dan integral dengan tuntutan realitas, “Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri.”

2. Para ulama kaum muslimin harus mengeksplorasi kebenaran dan supremasi hukum dari syariat dengan memperhatikan nash-nash yang shahih dan terpercaya, setelah kondisi nash dan tuntutan realitas diteliti keterkaitannya secara objektif.

3. Melakukan studi dan diskusi tentang gagasan-gagasan yang jauh dari khilafiyah yang ada dalam gagasan-gagasan sebelumnya, lalu membuktikan dengan argumen yang kuat, bukan hanya mengadopsi dan bertaklid terhadap pandangan ulama sebelumnya. Hal ini justeru akan membuat kita kehilangan kita kesimpulan yang tepat, seperti mengambil riwayat-riwayat yang lemah dan melakukan pendalilan dengan dalil yang tidak sesuai dengan dalil-dalil yang qath’i (pasti) atau tidak memperhatikan dalil yang seharusnya diletakkan di awal pembahasan untuk merubah frame berpikir seseorang terhadap Islam, contoh hal ini dalam fikih islam sangat banyak. Berdasarkan hal di atas, maka tidak ada jalan lain, kecuali kita harus mengambil spesialisasi ilmu, karena ijtihad mutlak dalam kondisi kita sekarang hampir mustahil adanya.

4. Tidak terpaku pada rutinitas fikih personal seperti bab ibadah yang hampir telah sempurna pembahasan di dalamnya dan lebih menegaskan pembahasan mengenai fikih prioritas yaitu fikih sosial kemasyarakatan, politik, ekonomi untuk menggambarkan manhaj integral dalam bidang ini.

5. Mencoba untuk meneliti tema-tema dengan metode perbandingan, karena dirasah islamiyah dilihat dari mazhab tertentu tanpa melihat mazhab yang lain terkadang akan menyia-nyiakan akal, ijtihad, produk hukum dalam bidang-bidang yang vital. Metode ini juga akan menjauhkan diri dari fanatisme dan taklid buta yang akan membunuh spirit kreatifitas dan eksplorasi menuju dunia yang lebih luas.

6. Meneliti realitas secara obektif dan mencoba untuk memisahkan antara isu-isu ilmiah dan metode-metode yang bisa digunakan untuk kemaslahatan islam dengan persoalan-persoalan yang memiliki akar peradaban yang berbeda.

7. Mengukuhkan metode logika dan eksperimen serta menerima kritik dalam hal manhaj dan uslub dan menjauhkan diri dari justifikasi metafisik (ghaib) dalam sikap dan uslub-uslub yang salah dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal metafisik.

Demikian itu karena, hal metafisik mengandung sesuatu yang transeden di dalam jiwa dan memiliki efek yang sangat besar dalam menanggulangi berbabagi persoalan psiklogis individu dan sosial melalui penanaman harapan dan mengikatnya dengan keyakinan adanya pembalasan di hari akhir, serta menanamkan keridhaan dengan ketentuan Allah Swt dalam diri manusia. Metafisik adalah sumber kekuatan manusia dalam keselamatan perjalanannya dalam kehidupan yang sulit ini. Sesungguhnya apa yang kita tolak adalah menjauhkan manusia dari sunnah-sunnah sosial yang digambarkan Allah Swt dan mengebiri pemikiran mengenainya, karena hal ini bertentangan dengan apa yang dikehendaki Allah Swt dari perjalanan kemanusiaan. Pengetahuan tentang hukum dan sunnatullah akan menjauhkan kita dari sikap-sikap yang tidak tepat dalam perjalanan kita dan bisa memperpendek jarak untuk mencapai tujuan melalui berbagai ekperimen yang dianggap berhasil dan integral dengan sunnatullah.

8. Studi penelitian sejarah dengan penelitian yang positif dan dinamis mencerahkan agar kita bisa mengambil kesimpulan mengenai sunnah-sunnah kehidupan dan mempertimbangkannya sebagai medan untuk mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan keberhasilan atau kegagalan dalam perjalanannya dan menjauhkan diri dari aspek negatif dan faktor kegagalan sebagian kaum muslimin dalam perjalanan ini.

Kalam

“Hingga saat ini, umat tidak mampu memfokuskan dialog antara mazhab-mazhab Islam dan aliran-aliran pemikiran, meskipun slogan dan seruan untuk bersatu telah digaungkan para reformis sejak berabad-abad yang lalu.”

Rintangan Kebangkitan

Adapun rintangan yang menghalangi vitalitas kebangkitan Islam yang wajib dijadikan peringatan, antara lain:

1. Perpecahan: penyakit ini selalu ada seiring dengan perjalanan umat manusia di muka bumi sebagai hasil dari pemahaman yang keliru, sifat egois, mengikuti hawa nafsu, pandangan yang picik, tidak membedakan antara hal terpenting dengan hal penting, dan faktor-faktor lainnya. Fenomena pepecahan telah mencapai puncaknya pada zaman ini, dimana perbedaan pemikiran berubah menjadi medan pertempuran berdarah yang memecah umat terpisah menjadi serpihan-serpihan kecil. Kaum Muslim mengkafirkan satu sama lain, semua berjalan dalam koridor parsial dan hal-hal sepele, sementara isu-isu yang jauh lebih penting dan persoalan yang berkaitan dengan nasib bangsa dan masa depannya berubah menjadi urusan yang terpinggirkan.

Dengan kata lain, banyaknya sekolah dan mazhab yang sejatinya digunakan untuk menjadi wasilah pengembangan pemikiran dan kreativitas manusia dalam dunia ide, bekerja sama dalam prinsip umum yang disepakati dan saling berlapang dada satu sama lain dalam hal yang diperselisihkan serta membatasi perselisihan ini di kalangan tertentu saja, seperti yang dikatakan Al-Qur’an “Katakanlah: Hai Ahli Kitab marilah kita berpegang teguh pada kalimat yang sama antara kami dengan kalian, yaitu tidak menyembah selain Allah.” Aliran-aliran ini justru menjadi sumber perpecahan dan mengobarkan fitnah di antara umat, bahkan bahkan dalam metode dan cara kerja.

Sampai sekarang, umat tidak mampu memfokuskan dialog antara mazhab-mazhab Islam dan aliran-aliran pemikiran, meskipun slogan dan seruan untuk bersatu telah digaungkan para reformis sejak berabad-abad yang lalu. Semua itu karena kebodohan, hawa nafsu, kurangnya ketulusan, serta karena hilangnya etika untuk menangani perbedaan, terutama menghadapi siasat memicu api fitnah yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Kami tidak ingin menutup pintu perbedaan, karena berbeda adalah karakter dan sifat dasar manusia, akan tetapi kita ingin mengetahui bagaimana cara menghadapi pendapat yang berbeda dan kemudian mengolahnya sehingga menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi umat Islam.

2. Kesombongan: ini adalah pintu masuk setan yang menghiasi amalan manusia dan merendahkan amalan orang lain di hadapan matanya. Kesombongan inilah yang membuatnya hidup dalam keterbukaan dan kepuasan akan dirinya sendiri, hingga mencapai level tidak mau menerima kritik atau saran dari orang lain, bahkan sampai pada situasi dimana ia tidak mengkritik dirinya sendiri dan tidak memantaunya dengan pembenaran yang keluar dari dirinya pribadi. Kesombongan itu dapat menimpa individu, kelompok dan masyarakat, sehingga suatu kelompok atau masyarakat akan menutup dirinya dan tidak peduli dengan urusan orang lain, tidak menanggapi kritik apapun. Seorang Muslim yang menginginkan adanya perbaikan, demikian juga kelompok dan masyarakat yang ingin berjalan di atas manhaj yang integral, antara teori dan praktek untuk melayani risalah, harus menganggap bahwa kehidupan adalah lapangan eksperimen, dengan mengambil pelajaran dari berbagai kegagalannya, juga mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain.

Suatu komunitas pun harus berlaku jujur dalam berikteraksi dengan anggotanya, mereka harus berani membeberkan dengan jelas pengalaman sukses atau kegagalan mereka, dengan menjelaskan faktor-faktor kegagalannya, sehingga kelak, kegagalan itu bisa diatasi anggotanya atau oleh komunitas itu sendiri. Akan tetapi, hal ini akan terlaksana dengan beberapa syarat: 1) kesadaran komunitas tersebut dan tidak ada keputusasaan 2) individu-individu yang tanggung jawab harus memikul beban penyelesaian masalah dan tidak melimpahkannya kepada orang lain. Kita tidak boleh hidup level kritikus saja, karena yang hidup dalam level ini adalah kecacatan dan justifikasi bagi orang-orang yang lalai bekerja. Dengan terjun secara langsung, kita bisa lebih memahami topik berdasarkan realita, membentuk kerpibadian yang kukuh dan menjauhkan diri dari kesalahan.

Inilah salah satu dari nilai-nilai terpenting komunitas Muslim yang hidup karena Allah Swt, jauh dari kesombongan dan ujub yang merupakan dua penyakit mental paling berbahaya bagi orang yang bekerja untuk kemuliaan Islam. Komunitas Muslim yang menolak untuk menghadapi kesalahan dirinya sendiri untuk kemudian memperbaikinya akan menghadapi risiko keterasingan dan terisolir dari umat, dan akan merasa puas dengan apa yang ada pada dirinya, sehingga mereka tidak memungkinkan untuk melakukan inovasi, pengembangan dan tetap berjalan di tempat. Lambat laun, individunya akan berjatuhan dan musuh dengan mudah akan menghancurkannya.

Beberapa pihak mencoba untuk mencari pembenaran atas kegagalan dan stagnasi sebagai takdir dan keputusan Tuhan atau cobaan atau jalan yang penuh duri, jalannya para nabi yang sulit, semua ini terjadi karena kekeliruan dalam memahami konsep-konsep yang luhur ini. Karena, takdir Allah tidak mengharuskan adanya sikap pasrah akan keadaan dan menjadikan dirinya ketergantungan. Sementara ketidakberuntungan adalah hasil alami dari perbuatan kaum beriman dan perjuangan mereka melawan ketidakadilan dan kerusakan, bukan karena merasa puas atas ketidakadilan, atau dengan kondisi negatif, atau kegagalan untuk belajar dari pengalaman orang lain, atau kurangnya pengetahuan tentang hal-hal yang substansial di sekitarnya, atau bahkan tidak memahami dengan benar sunnah dan faktor-faktor alamiah.

3. Picik: Sesungguhnya pemahaman yang global dan serampangan terhadap Islam yang dialami oleh banyak kaum Muslimin di zaman kita, tidak cukup untuk menciptakan perubahan. Demikian pula reaksi berlebihan yang ditunjukkan pada situasi-situasi tragis, seperti penindasan yang dialami oleh banyak masyarakat Muslim di dunia, mulai dari Palestina, Al-Quds, Chechnya, Filipina, Kashmir, Afghanistan dan berakhir di Irak. Meskipun perlawanan dan operasi istisyhad merupakan faktor penting untuk menyelamatkan wibawa dan kelanggengan kewaspadaan kaum muslimin, mengobarkan spirit jihad di sana dan mendorong munculnya orang yang menyeru untuk kembali kepada Islam, akan tetapi, hal itu tidak cukup untuk menciptakan perubahan dan membebaskan diri dari stagnasi intelektual dan sosial yang menyeluruh, selama tidak memiliki perencanaan yang mendalam dan melakukan penelitian yang sesuai dengan fakta-fakta zaman modern dan tuntutan realitas.

Permasalahannya, kita justeru tidak tahu masalah mendesak yang harus kita pelajari secara inovatif, berdasarkan pada prinsip-prinsip dan kaidah pokok yang kita miliki. Fakta prinsip-prinsip ini malah tidak dapat kita terjemahkan ke dalam praktek nyata dalam kondisi real yang tengah dihadapi komunitas kaum muslimin saat ini.

Sesungguhnya Al-Qur`an, Sunnah dan sumber-sumber hukum Islam lain telah meletakkan garis-garis pedoman di hadapan kita, melalui sumber-sumber itu kita bisa meletakkan manhaj yang akan menggerakkan roda komunitas muslim di bawah bimbingan Islam, sesuai dengan kebutuhan yang muncul dan berkembang di masyarakat dewasa ini. Dan hal ini mengharuskan adanya pemahaman, kesadaran dan keterbukaan dalam menyikapi hal-hal baru. Inilah yang kita butuhkan sekarang.

Kita perlu pendekatan moral yang mengakomodasi pergerakan individu dan masyarakat kontemporer dan dalam bahasa yang dimengerti oleh orang-orang masa kini. Kita harus merumuskan konsep-konsep kita dengan cara yang sesuai dengan intelektualitas Muslim zaman ini dan bekerja keras untuk memurnikan pemikiran Islam dan buku-buku akidah dari ajaran sesat, penyimpangan dan ekstrimisme. Bagi para peneliti di bidang akidah dan fikih, mereka harus memahami bahwa uslub yang digunakan untuk menyelesaikan persoalan syairat memerlukan pendekatan baru, dengan bahasa sesuai dengan kapasitas intelektualitas manusia modern dan tantangan yang dihadapinya.

Akan tetapi, pendekatan inovatif modern ini harus dikontrol dengan batasan dan aturan-aturan dengan mendefinisikan berbagai konsep dan tema yang dibutuhkan generasi masyarakat Islam saat ini dalam aspek kehidupan yang kompleks, baik itu bidang agama, budaya, ekonomi, sosial dan politik dengan legitimasi syariat yang mewakili pandangan Islam terhadap persoalan tersebut, sehingga kita mampu mengelola masyarakat sekaligus menutupi kebutuhan mereka terhadap hukum dengan kompetensi yang tinggi.

Termasuk berpikir picik jika kita tidak menentukan hal-hal yang sangat penting dalam tangga hirarki prioritas dalam praktek-praktek reformasi sosial dan intelektual, serta sibuk dengan hal-hal yang tidak begitu penting dan marjinal, sehingga kita kehilangan banyak peluang yang krusial untuk mencapai tujuan kita.

4. Spontanitas: Yang kami maksud adalah kurangnya perencanaan dan studi tentang isu-isu, peristiwa dan situasi, serta kerap berinteraksi dengan isu-isu secara reaktif dan emosional, bukan atas dasar logika dan perencanaan.

Spontanitas yang berlebihan berperan besar atas hilangnya upaya, energi dan peluang serta menyia-nyiakan nyawa dan kekayaan, sehingga akhirnya turut berperan dalam keruntuhan umat. Semua diakibatkan oleh sikap yang tidak terencana. Spontanitas adalah bencana yang bersumber dari kebodohan, keterbelakangan dan kurangnya pemikiran serta hilangnya kebijaksanaan dan kehati-hatian dalam berbagai hal.

Sesungguhnya musuh mempersiapkan berbagai penelitian, metode praktis dan mengembangkan rencana untuk menghadapi Islam dan kaum muslimin, karena itu, kita pun harus menghadapi strategi mereka dengan studi dan rencana yang berdasarkan strategi intelektual, praktis dan tematis “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Metode Pengobatan

Pertama: Kita tidak bisa keluar dari krisis besar yang tengah dialami oleh umat kita, kecuali dengan mengembalikan akal kepada medan pembahasan, penelitian, pencarian kesimpulan, ide-ide terapan yang valid dan sepadan dengan kebutuhan proses transformatif, perkembangan dan modernisasi zaman ini, jauh dari taklid buta tanpa melakukan penelaahan atau verifikasi. Berdasaran hal ini, kita perlu membangun lembaga-lembaga riset ilmiah dan studi Islam modern, serta menginvestasikan teknologi modern untuk melayani dakwah Islam. dalam hal ini, kaum muslimin yang memiliki harta kekayaan dan orang yang memiliki kompetensi bisa memberikan sumbangsihnya untuk melayani Islam, menyebarkan dakwah islam dan menjaga masa depan umat. Sementara para ulama bertugas untuk mengembangkan pemikiran Islam dan mempersiapkan kader-kader ilmiah melalui kontribusi mereka dalam mendukung proyek-proyek konstruktif ini, sehingga mereka mendapatkan kebahagiaan di dua tempat dan menjamin umatnya dengan masa depan peradaban yang makmur, Insya Allah.

Kedua: Para ulama Islam, para da’i dan kaum reformis yang sadar dan tercerahkan harus memikul tanggung jawab untuk mempresentasikan topik yang berguna dan isu-isu yang berkaitan dengan Islam kontemporer dengan rumusan yang baru dan menarik keinginan, bukan justeru menakut-nakuti, serta sejalan dengan situasi sosial yang berkembang.

Ketiga: Tanggung jawab aliran dan mazhab Islam untuk bersatu satu sama lain dan mereka harus menyelesaikan problematika substansial yang dihadapi umat, mereka harus mencerminkan spirit saling memahami secara intelektual dan membangun dialog substantif dan menggunakan teknik yang menarik berdasarkan pemahaman yang mendalam tentang Islam. Selain itu, mereka harus terus berupaya untuk mengembangkan metode ini, memperdalam konsep-konsep, membina generasi muda Islam dan menyelamatkan kaum muslimin dari cengkeraman kebodohan, perpecahan, kekufuran, dan kerusakan.

Kelompok-kelompok Islam harus menghindari perpecahan dan persengketaan dalam menempatkan tujuan utamanya dan siap untuk saling memahami, berdialog dan bersinergi antara mereka. Bahkan, mungkin saja mereka menggambarkan sebuah konsep, yang mencakup pembagian peran dan tugas tiap kelompok, sehingga mampu menggiring semua kelompok menuju persatuan, kekuatan dan kejayaan umat, bukan malah menjadi faktor perpecahan dan kemusnahannya.

Sesugguhnya musuh mencoba untuk mengambil keuntungan dari setiap kesempatan guna menghancurkan komunitas Muslim. Terkadang mereka masuk melalui perbedaan-perbedaan kita, dan sejarah telah membuktikan hal ini kepada kita, ketika kekuatan yang zalim berupaya menciptakan perbedaan mazhab di antara kelompok-kelompok Islam, menciptakan konflik politik, untuk menghancurkan persatuan umat secara menyeluruh dan memecahnya menjadi kelompok-kelompok kecil, sehingga mereka dengan mudah akan menerkam dan melenyapkannya.

Dan tanggung jawab kita terletak pada titik menjaga kesatuan umat kita dengan menyatukan pemikiran dan pemahaman antara pegiat Islam. Kita harus menjaga tujuan utama, namun dengan cara yang sesuai dengan semangat zaman, dengan demikian, kita bisa menjaga masa depan umat kita. Jika tidak, maka kabar buruk telah menanti kita, dan masyarakat akan memikul beban kehancuran dan hilangnya kekuatan, sehingga musuh dengan mudah akan mengeksploitasi karena kelemahan dan perpecahan kita. Oleh karena itu, perlu dicatat pentingnya para ulama, cendekiawan, da’i, dan kaum reformis untuk memikul tanggung jawab mereka dan menunaikan peran mereka secara efektif dan efisien, untuk menyelamatkan umat dari kenyataan pahit yang tengah dialaminya dan melindunginya dari berbagai tantangan yang diajukan kepada mereka.

http://www.taqrib.info

Advertisements