gal215692931

Ilustrasi (Inet)

SETELAH diumumkan pengangkatannya menjadi khalifah, Umar bin Abdul Aziz menyendiri di rumahnya. Tak ada orang yang menemui, dan beliau pun tak mau keluar menemui seorang pun. Dalam kesendiriannya itu beliau menghabiskan waktunya dengan banyak bertafakkur, berdzikir dan berdoa. Pengangkatannya sebagai khalifah tidak disambutnya dengan pesta, tetapi justru dengan air mata kesedihan yang mendalam.

Sesudah genap tiga hari beliau pun keluar. Para pengawal di luar yang sudah lama menunggu siap menyambut kepada pemimpin yang baru. Saat para pengawal itu siaga memberi hormat, beliau malah mencegahnya.

“Kalian jangan memulai salam kepadaku, bahkan salam itu kwajiban saya kepada kalian.”  Inilah perintah pertama khalifah kepada pengawal- pengawalnya.

Kemudian, beliau menuju ke sebuah ruangan. Di sana tampaknya sudah banyak para pembesar dan tokoh berkumpul. Demi mendengar khalifah akan masuk, semua hadirin terdiam dan serentak bangkit berdiri memberi hormat. Apa kata beliau?

“Wahai sekalian manusia,” katanya, “Jika kalian berdiri saya pun berdiri, jika kalian duduk saya pun duduk. Manusia itu sebenarnya hanya berhak berdiri di hadapan Rabbul Alamin.”

Itulah yang dikatakan pertama kali kepada rakyatnya. Sikap pemimpin dalam Islam, sejatinya memang harus demikian. Sebagaimana kata Rasul, pemimpin adalah pelayan ummatnya.

Namun ini menjadi suatu hal yang istimewa karena pemimpin saat itu maupun saat ini sudah seperti seorang raja. Dan sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz mewarisi budaya yang demikian itu; hidup dalam gelimang kemewahan dan kekuasaan. Namun beliau tidak serta merta meneruskan budaya yang sebenarnya menguntungkannya secara pribadi itu. Beliau menolak dihormati berlebihan. Beliau juga tidak mau hidup dalam kemewahan. Yang dipilihnya adalah sikap rendah hati dan kesederhanaan sebagai pelayan ummat.

Buka Hati

Sebagai pemimpin besar bersikap rendah hati, sederhana dan melayani, tentu tidak mudah. Apalagi bila kesempatan bermewah-mewah itu memang terbuka di depan mata. Siapa sih yang tidak tergiur menikmati kemewahan dan kekuasaan? Di negeri kita ini, sebuah kedudukan dan jabatan menjadi rebutan. Dan bahkan banyak yang rela mati-matian berkorban apa saja, dengan segala cara, untuk mendapatkannya. Dan setelah berhasil meraihnya, pertama kali yang dilakukan adalah pesta kemenangan. Dan kemudian segeralah digunakan aji mumpung. Bim salabim jadilah OKB (Orang Kaya Baru).

Gaya hidup dan pergaulannya sudah berbeda dari sebelumnya. Seolah menikmati kemewahan itulah yang menjadi impiannya.

Tetapi mari kita membuka hati ini. Dengan berbagai upaya dan gaya hidup mewah itu, apa sih sesungguhnya yang kita cari? Dengan mobil mewah, rumah megah, pakaian serba mahal, dari lubuk hati ini apa sih yang dirindukan? Mungkin terdetak dorongan;… hidup terhormat dan dimuliakan. Tentu mencapai hidup seperti itu suatu yang normal saja. Malah aneh kalau ada orang bercita- cita hidup terhina dan direndahkan. Tetapi benarkah kita dapat mencapai kemuliaan dan kehormatan itu dengan hidup berbungkus kemewahan? Coba sebutkan nama- nama orang yang menggetarkan hati karena kemuliaan dan kehormatan mereka. Cermati satu persatu.

Benarkah hati anda terkesan karena kemewahan mereka?

Mari kita bercermin kepada Umar bin Abdul Aziz. Kita tenangkan hati dan jernihkan pikiran sejenak. Andai beliau memilih cara hidup mewah dan bermain kekuasaan sebagaimana raja- raja yang lain, akankah memiliki nama harum seperti saat ini? Mungkin saja dengan kemewahan singgasana saat itu ia bisa membuat topeng kemuliaan itu di muka rakyatnya.

Tetapi berapa lama kemuliaan seperti itu bisa bertahan? Lihatlah para pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kesombongan dan kemewahan. Bagaimana akhir kehidupan mereka? Masa tua tidak hidup damai, malah gundah gulana karena dijerat hukum.

Terbuktilah bahwa kemuliaan yang dibungkus materi hanyalah semu dan tipuan belaka. Sungguh Allah tidak menyukai orang- orang sombong. Yang Dia perintahkankan adalah berlaku sederhana dan lembut dengan sesama.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.” (QS: Luqman: 18- 19)

Misi Mulia

Ya, memang tidak mudah untuk selalu rendah hati dan  memilih hidup melayani. Apalagi kalau kita terjebak pada dorongan biologis dan egoisme semata. Maunya justru dilayani. Kalau sedang memegang kekuasaan yang dipikirkan adalah apa yang dapat saya ambil dengan posisi ini, bukan kebaikan apa yang dapat saya berikan pada orang lain. Melayani dirasakan sebagai suatu kehinaan. Seolah yang harus melakukan adalah orang-orang rendahan. Padahal melayani inilah misi mulia yang sebenarnya diamanahkan Allah kepada hamba-Nya yang terpilih; Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti jejak beliau. Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang berkenan memberi kehormatan pada manusia berperan serta menebarkan rahmat- Nya ke seluruh alam semesta.

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS: Al Anbiya’: 107)

Dengan berbagi rahmat, tersebarlah belas kasih dan kedamaian dalam kehidupan ini. Dalam bekerja, seorang pemimpin akan senantiasa berfikir bagaimana karyawannya sejahtera. Dan karyawan berfikir bagaimana ia bisa memberikan layanan terbaik melalui pekerjaannya.

Sebagai pemimpin keluarga, seorang ayah yang kasih sayang kepada keluarga dan anaknya, akan mengantar pada suasana sakinah. Sehingga anak-anaknya pun termotivasi meneladaninya dan berbakti kepada kedua orangtuanya. Setiap orang yang melayani dengan ikhlas berarti telah berpartisipasi menebar rahmat ke seluruh alam. Itulah tugas terhormat seorang pemimpin.

Dan setiap kita pada hakekatnya adalah pemimpin.  Setiap kalian adalah pemimpin, begitu tutur baginda Rasul dalam satu kesempatan.

Bila setiap orang berfikir minta dilayani, yang terjadi justru krisis. Pemimpin minta dilayani staf-stafnya. Majikan memeras para karyawannya.

Petugas memepersulit rakyat. Orientasinya bukan rahmatan lil alamin tetapi keuntungan pribadi.

Kekayaan alam yang mestinya untuk kesejahteraan rakyat malah dikuras habis untuk bermewah- mewah. Hutan digunduli akibatnya kerusakan dan banjir dimana- mana.

Malah rakyat yang menjadi korban. Akhirnya rakyat pun ikut- ikutan mengikuti para prilaku pemimpinnya; mencari keuntungan sendiri. Sudah kaya dan berkecukupan belum bersyukur malah berebut bantuan yang mestinya untuk fakir miskin. Bagaimana misi mulia itu bisa dilakukan dengan paradigma seperti itu?

Sungguh cara hidup seperti itu bukan kemuliaan yang akan kita raih, tetapi justru kehinaan. Bukankah itu yang saat ini banyak melanda kehidupan kita?

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang- orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi meraka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur- hancurnya.” (QS: Al Isra’: 16)
Agar mampu rahmatan lil alamin, kita perlu mentransformasi diri. Pusat diri yang sebelumnya egoisme dan hawa nafsu harus diganti dengan kebeningan nurani.

Sumber Inspirasi

Bayangkan kalau ada orang yang rendah hati, menghormati sesama, dan suka melayani. Tidakkah hati anda menyukainya? Tidakkah Anda terkesan dengan keikhlasannya itu?

Orang yang demikian itu akan membahagiakan hati sesamanya. Kalau dia seorang bapak, keluarganya akan menghormatinya dengan tulus. Kalau dia seorang ibu, anak-anaknya tentu akan senantiasa merindukan. Kalau  dia seorang pemimpin, tentu akan menginspirasi hati sekalian rakyatnya.

Umar bin Abdul Aziz telah membuktikan bagaimana keberkahan rendah hati ini. Meski hanya dalam waktu dua tahun pemerintahannya, beliau membuat perubahan besar. Akhlak rakyatnya yang sebelumnya buruk, sejak kepemimpinannya berubah drastis menjadi baik.

Demi melihat pemimpinnya rendah hati dan teramat jujur itu, ummat terinspirasi. Yang menjadi pembicaraan heboh di berbagai sudut kota, warung sampai pinggiran ladang di desa, masalah iman dan amal shalih. Mungkin seperti keadaan kemarin yang semua orang berbicara tentang sepak bola dunia.

Masyarakat giat bekerja dan sejahtera. Bahkan kemakmuran di masa pemerintahannya mencapai puncaknya.

Rakyat berdaya ekonominya dan mereka berlomba menunaikan zakat. Fakir miskin terentaskan sehingga sangat sulit mencari orang yang menerima zakat.

Memberi dan memberi, itu yang menjadi paradigma mereka. Bukan meminta dan meminta.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri -negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kamai akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS: Al A’raaf: 96)

Tidak hanya itu, suasana alam dan binatang digambarkan mendukung terhadap kemakmuran itu. Para gembala yang biasanya takut kambingnya terancam dimakan oleh srigala, saat itu kedua binatang ini seolah berteman saja. Pintu keberkahan di buka Allah bila manusia telah menunaikan tugas sebagai khalifah di muka bumi.

Atas prestasinya yang gemilang itu, tidak mengherankan jika beliau digolongkan sebagai Khulafaur Rasyidin ke lima setelah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

Bukankah kemuliaan seperti itu yang kita rindukan?.*/Hanif Hannan

http://www.hidayatullah.com