Akibat dari jatuhnya kekhalifahan Turki Utsmani sesudah Perang Dunia Pertama, kebanyakan negara-negara Arab berada di bawah jajahan Inggris dan Perancis.

Perpus Dar Al Kutub wa Al Watsaiq di Iraq, warisan bersejarah yang hangus saat pasukan AS datang. Belakangan banyak manuskrip berada di Inggris dan AS

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi

AMERIKA Serikat (AS) dikabarkan telah memberikan kontrak senilai US$10 juta kepada perusahaan Raytheon Technologiesuntuk mendeteksi keberadaan terowongan-terowongan di bawah perbatasan Mesir-Jalur Gaza. Terowongan-terowongan yang untuk mengirimkan barang-barang keperluan vital warga Jalur Gaza ini kini dihancurkan oleh rezim militer Mesir.

Kerjasama dengan Mesir dan AS ini sudah dimulai sejak 2007 namun program pendeteksian terowongan itu dihentikan ketika masa pemerintahan Presiden Mesir terpilih, Mohammad Mursy.

“Ketika rezim militer Mesir yang bertentangan dengan pemerintahan Hamas di Gaza mengambil alih kekuasaan Mesir, kesepakatan dengan AS itu dilanjutkan kembali,” ujar sumber itu. (hidayatullah.com, Selasa (17/09/2013)

Tahun 2008, AS juga dikabarkan telah memasok Mesir peralatan senilai US$23 juta untuk mendeteksi keberadaan terowongan. Peralatan ini termasuk alat sensor, kendaraan yang dikendalikan jarak jauh, mesin penggali dan kamera infra merah. Padahal keberadaan terowongan-terowongan itu sangat vital bagi kehidupan rakyat Gaza sejak diblokade Zionis-Israel semenjak 2007.

578px-British_Decolonisation_in_Africa

Kolonialisasi inggris atas arab dan afrika

Campur Tangan

Sejak kemunculannya Islam selalu dihadang oleh musuh-musuhnya. Islam dianggap musuh kemanusiaan dan peradaban dunia. Maka laju Islam harus dihadang, jika tak dapat dibumi-hanguskan.

Hari ini upaya untuk menghadang itu pun dilakukan semakin massif, terutama oleh kalangan Barat-Eropa plus Yahudi (Qs. 2: 120) yang di sitir oleh Allah Subhanahu Wata’ala  akan terjadi sampai hari kiamat.

Campur-tangan Barat terhadap rumah-tangga umat Islam ini sudah berlangsung sejak lama, utamanya yang berkaitan dengan peradaban Islam. Karena setelah kekhalifahan jatuh, negara-negara Barat menjajah negara-negara Islam.

Pada tahun 1830 Prancis mendarat di Aljazair, pada tahun 1881 masuk ke Tunisia. Sedangkan Inggris masuk ke Mesir pada tahun 1882. Akibat dari jatuhnya kekhalifahan Turki Utsmani sesudah Perang Dunia Pertama, kebanyakan negara-negara Arab berada di bawah jajahan Inggris dan Prancis, demikian pula dengan negara-negara Islam di Asia dan Afrika.

Setelah Perang Dunia Kedua, kebanyakan negara-negara Islam merdeka kembali, namun-namun sisa-sisa kekuasaan kolonialisme masih bercokol. Kolonialis melihat bahwa kekuatan Islam yang selama ini berhasil mempersatukan berbagai kultur, etnik, ras, dan bangsa dapat dilemahkan.

Yaitu dengan cara adu-domba dan teknik devide et impera sehingga konflik intern menjadi tak terhindarkan dan akibatnya negara-negara Islam  terfragmentasi menjadi negara-negara kecil. (Lihat, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Peradaban Islam: Makna dan Strategi Pembangunannya (Ponorogo-Jatim: Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS), 2010, hlm. 35).

Karena sudah menjadi negara-negara kecil itu umat Islam sangat mudah dipecah-belah dan dipermainkan oleh musuh-musuhnya.

peta-jalan-arab-atau-arab-spring1

Peta jalan ‘arab spring’

Menjegal Peradaban Islam

Bila kita telusuri secara cermat, mendalam dan penuh perhatian, maka kebanyakan pikiran yang merusak Islam dan sejarah kaum Muslimin yang tersebar di kalangan generasi muda Islam, tak lain dan tak bukan adalah dampak dari polusi pemikiran kaum misionaris, orientalis, dan imperialis yang selalu memusuhi Islam.

Di belakang mereka, tangan-tangan Yahudi bekerja mengatur strategi, mengeksploitir segala kekuatan dan kemampuan kaum perusak untuk diperalat. Mereka datang ke negeri-negeri Islam, dengan membawa tas “ilmiah”, “misi”, dan “diplomasi” yang di dalamnya telah dipersiapkan seperangkat ajaran, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, untuk beraneka ragam kepentingan. (Prof. Abdul Rahman Hasan Habanakah al-Maidani, Metode Merusak Akhlak dari Barat, Ter. As’ad Yasin (Jakarta: Gema Insani Press, 1422 H/2001 M, hlm. 7).

Di antara tujuan mereka itu adalah: menjegal laju peradaban Islam. Karena hanya Islam peradaban yang dapat mengisi kekosongan spiritualitas dunia modern-kontemporer. Dan nilai-nilai spiritualitas itu memancar dari konsep tawhid yang benar di dalam akidah Islam. Karena salah satu karakteristika Islam sebagai dīn (agama) adalah konsep tawhidnya. Dus, konsep tawhid inilah yang sekarang sekarang diserang dan akan dikaburkan. Karena jika konsep akidah sudah rusak, maka akan berakses pada kerusakan konsep peradaban Islam.

Akhir-akhir ini pun sudah muncul kembali konsep-konsep keliru dalam Islam, seperti doktrin al-jabariyyah: bahwa Islam yang mundur hari ini sudah merupakan keputusan Tuhan yang tidak perlu diubah. Umat Islam, mau tidak mau, harus rela menerima kondisi ini. Menurut Anwar al-Jundī, doktrin al-jabariyyah ini dipaksa masuk melalui berbagai aliran kejiwaan, moral, dan masyarakat. Sehingga manusia dipaksa untuk tunduk kepada keadaan, tidak punya jiwa bebas.

Selain itu, Islam yang tidak mengenal dikotomi dipaksa untuk bersikap dikotomis. Sehingga peradaban Islam, jiwa mampu, harus dikosongkan dari konsep integrasi antara nilai-nilai kesatuan hidup dari nilai-nilai ekonomi, politik, atau pendidik. Di samping itu, konsep kesatuan materi dan spiritual juga harus disuarakan.

Padahal Islam adalah manhaj (metode dan konsep hidup dari Allah) bukan sekadar teori. Karena Islam menjadikan wahyu sebagai pemberi petunjuk dan pembimbing. Sehingga Islam benar-benar menyatukan empat hal penting dalam peradabannya: fitrah, akal (nalar), wahyu, dan hati (al-qalb). (Lihat, Anwar al-Jundī, ‘Ālamiyyah al-Islām (Kairo: Dār al-Ma‘ārif, 1977).

Selain hal di atas, cara yang paling ampun untuk menjegal (laju) peradaban Islam adalah dengan cara “membunuh” ruh ilmiah yang ada dalam Islam.

Caranya dengan merusak konsep seni dalam Islam, bahwa: seni adalah untuk seni dan tidak ada kaitannya dengan moralitas. Ini semuanya membuat “tumpul” ruh ilmiah yang merupakan unsur yang koheren di dalam Islam.

Ruh ilmiah dalam Islam lahir dari konsep Islam sebagai dīn (agama), karena dīn itu mengandung berbagai nilai dan moral yang dapat diterapkan di dalam kehidupan nyata yang memancar dalam wujud etika. Inilah yang disebut sebagai terjemahan nyata dari Lā ilāha illā Allāh yang lahir sejak generasi awal umat ini. Karena keterkaitan antara akidah dan moralitas merupakan nilai-nilai peradaban di dalam Islam. Ringkasnya, akidah dalam Islam merupakan inti peradaban yang dari sana lahir nilai-nilai dan moralitas. (Lihat, Muḥammad Quṭb, Wāqi‘unā al-Mu‘āṣir (Kairo: Dār al-Syurūq, hlm. 155-156).

Itu mungkin sebabnya mengapa negara-negara Barat dan Eropa berusaha keras untuk menghancurkan nilai-nilai moralitas dalam Islam. Namun sebelum itu mereka rusak terlebih dahulu konsep tawhid dalam akidah Islam. Seolah-olah peradaban Islam adalah peradaban sekular: dikotomis antara kemajuan dan akhlak, antara seni dan moralitas, dan antara akidah dengan ruh ilmiah.

Dr. Ushamah Naqsabandi menulis di majalah Turatsiyat (Juli, 2006) menjelaskan tentang “serial” penyelundupan manuskrip ke luar dari negeri seribu satu malam saat penyerangan tentara multi nasional ke Iraq. Ulah kriminal itu telah berjalan sejak abad 17. Kasus yang paling heboh, adalah hilangnya 1.200 manuskrip dari Iraq. Belakangan diketahui, manuskrip itu berada di perpustakaan museum Inggris. Perpindahan itu ternyata atas ulah tangan seorang pelancong Inggris bernama Wilson Bettj. Pada tahun 80-an, pemerintah Iraq telah berusaha meminta kembali manuskrip-manuskrip itu, walau akhirnya gagal.

Hal yang sama dilakukan oleh Fr Marteen dari Swedia pada akhir abad 19. Manuskrip-manuskrip Iraq dibawanya hingga ke Boston, Amerika. Setelah itu, ia mulai menikmati hasil curiannya. Kini, ia berprofesi sebagai penjual manuskrip dan benda-benda bersejarah di Eropa pada awal abad 20.

Ushamah, yang menjadi Direktur Dar Mahtuthat Iraqiyah (Wisma Manuskrip Islam) menyebutkan, sejak Amerika mengancam hendak menyerang Irak pada tahun 1991, kasus pencurian manuskrip makin parah. Sekitar 364 manuskrip hilang, termasuk beberapa manuskrip langka, seperti Sihr al Balaghah dan Sir Al Bar’ah karya Imam Tsa’labi, yang ditulis pada 482 H. Tidak hanya itu, manuskrip-manuskrip yang berada di perpustakaan Fakultas Adab Universitas Baghdad juga banyak yang raib.

Intinya, peradaban Islam memang tidak boleh bangkit lagi. Padahal umat Islam meyakini – sesuai Kitabullah dan Sunnah Rasul mereka – bahwa Islam akan hadir kembali menjadi kampium peradaban dunia, setelah iman mereka kuat dan amal-shaleh mereka menjadi besar dan melimpah (QS. al-Nūr [24]: 55). Wallāh al-hādī ilā sabīl al-rasyād.*

Penulis adalah pengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan. Penulis juga Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dan penulis buku “Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia” (Jakarta: Cakrawala Publishing, 2012).

http://www.hidayatullah.com

Advertisements