Amien Rais

Dr Amien Rais yang sempat dijuluki “Bapak Reformasi” karena perannya melengserkan Soeharto pada tahun 1998

Oleh: Nuim Hidayat

Amien, Reformasi dan Fir’aunisme Politik

“Bila sejarah Indonesia bisa diulang, Amien lah yang tepat memimpin bangsa ini” (anonim)

BUKU Amien Rais ‘Selamatkan Indonesia’ seharusnya dibaca generasi muda Indonesia saat ini. Terutama mereka yang konsen terhadap masalah bangsa dan kemana bangsa ini dibawa.

Di buku itu Amien menyajikan fakta, data dan analisa-analisa ilmiah menyangkut berbagai masalah bangsa, mulai dari masalah sejarah, ekonomi, politik Indonesia, sikap intelektual dan politik Amerika.

Siapa Amien? Zaim Uchrowi mantan pemimpin redaksi Republika dalam buku biografi Mohammad Amien Rais, Memimpin dengan Nurani, menceritakannya, “Bukan hanya sisi intelektual dan politiknya yang selama ini dianggap menonjol. Juga sisi relijiusitas, kultural, hingga karakter pribadinya sehari-hari. Warna relijiulitasnya terlihat jelas pada rutinitasnya untuk selalu bangun dinihari, bersembahyang tahajud serta berpuasa Daud (sehari puasa, sehari tidak) sepanjang tahun. Sesibuk apapun ia. Baginya agama merupakan perintah pengendali diri, dan bukan label formalitas “saya benar kamu salah.”

“Sisi kultural Amien tampak dari kefasihannya menembang Mocopotan bahkan mendalang wayang. Bagi saya, inil adalah sisi yang menarik. Amien lahir dan besar di lingkungan Muhammadiyah. Sebuah lingkungan yang dianggap kurang menghargai budaya. Anggapan itu terbukti sama sekali keliru pada dirinya. Maka saya menempatkan aspek kultural ini sebagai bab pembuka buku ini.”

Menurut mantan wartawan Tempo ini karakter personal Amien dapat dilihat dari sikapnya saat bertemu dan berbicara dengan orang lain. Ia selalu berupaya mengenal dan mengingat nama orang yang ditemuinya, lalu menyapanya secara benar. Saat menemui orang bawah, ia benar-benar tampak akrab dengan mereka dan bukan berbasa-basi lagak pejabat. Ia pendengar yang baik. Saat berbicara ia menatap hangat mata lawan bicaranya dan tidak sibuk dengan pikiran sendiri. Ia acap mengakrabkan suasana dengan melempar canda.

Kegagalan Amien Rais menjadi presiden Indonesia dalam Pemilu 2004, tidak menjadikannya putus asa untuk terus berdakwah dan memberikan pencerahan kepada anak bangsa.  Karenanya  di depan Ka’bah pada Desember 2003 Amine berdoa:

“Saya berdoa, ya Allah sekiranya saya dan teman-teman dapat memberi kontribusi yang baik serta dapat membaguskan bangsa dan negara kami, berilah kami petunjuk, kekuatan serta inayah-Mu (untuk memimpin Indonesia). Seandainya Engkau telah mempunyai rencana tersendiri yang kami tidak mengetahuinya, kami percaya rencana itulah yang terbaik bagi kami dan bangsa ini,”papar Amien.

Sebelum mencalonkan menjadi presiden, bangsa Indonesia mengenalnya sebagai intelektual yang tajam. Tulisan-tulisannya yang aktual berserakan di media massa juga karya berupa buku di era tahun 90-an. Roh keislamannya terlihat kuat.

Di antara bukunya yang bagus ditelaah adalah Cakrawala Islam (Mizan) dan Agenda-Agenda Mendesak Selamatkan Bangsa. Dan juga buku-buku biografinya. Terutama yang ditulis Zaim Ukhrowi.

Dalam prakata buku biografi ‘Memimpin dengan Nurani’ itu, Pak Amien menyatakan: “Memang banyak cara atau gaya manusia yang dapat dipilih manusia untuk memimpin. Ada yang mengandalkan kekuatan fisik atau bertumpu pada kekuatan materi. Ada pula yang dengan  cara memecah belah rakyat supaya rakyat menjadi lemah, sedangkan pemimpinnya menjadi selalu kuat. Ada juga kepemimpinan yang dibangun dengan cara membuat pagar-pagar pengaman dengan mengangkat teman-teman yang punya loyalitas tinggi untuk melakukan rekayasa atau kalau perlu rekapaksa terhadap rakyat agar kepemimpinan seseorang bisa berkelanjutan.”

Amien melanjutkan: “Saya Alhamdulillah, bukan jenis manusia seperti itu. Saya bertindak semata karena mengikuti keyakinan sendiri. Kalau menoleh ke balakang, saya bisa mengatakan bahwa saya punya keberanian (yang oleh banyak orang sering dianggap terlalu jauh), mungkin karena saya mendengarkan bisikan atau jeritan hati. Nurani saya selalu terusik bila melihat kezaliman sosial, ekonomi, politik dan berbagai pelanggaran HAM yang jauh. Mungkin itu yang menimbulkan leadership by consciousness atau kepemimpinan berdasarkan kesadaran nurani.”

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini menyadari ia punya kelemahan. Ia berterus terang: “Satu hal yang juga ingin saya sampaikan di sini, dalam hidup ini saya ingin mencontoh teladan para Rasul dalam Al Qur’an dikatakan: “In uriidu illal islaaha mastatho’tu wa maa taufiiqii illa billaahi alaihi tawakkaltu wailaihi uniib.” (QS Hud (11):88).

Tauhid dan Keberanian

Dalam bukunya Cakrawala Islam, Amien dengan sangat bagus menjelaskan tentang arti tauhid dalam Islam. Tokoh yang sangat dibenci politisi Amerika ini menyatakan, “Di samping membebaskan manusia dari perbudakan mental dan penyembahan kepada sesama makhluk,kalimat thayyibah juga mengajarkan emansipasi manusia dari nilai-nilai palsu yang bersumber pada hawa nafsu, gila kekuasaan, dan kesenangan-kesenangan sensual belaka. Suatu kehidupan yang didesikasikan pada kelezatan sensual, kekuasaan , dan penumpukan kekayaan, pasti akan mengeruhkan akal sehat dan mendistorsi pikiran jernih. Dengan tajam Al Qur’an menyindir orang-orang semacam ini: “Tidakkah engkau lihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan? Apakah engkau merasa bisa menjadi pemelihara atasnya? Apakah engkau sangka kebanyakan dari mereka mendengar atau menggunakan akalnya? Mereka itu tidak lain hanya seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat.” (Al Furqan 43-44).

Dari mana Amien mendapat inspirasi keberanian itu, sehingga ia berani ‘mengubah wajah Indonesia’ pada 1998?

Boleh jadi dari jiwa tauhidnya. Tapi,perlu ditelaah pula puncak keberanian ini juga membahayakan. Sebab keberanian bisa menjadikan seseorang menjadi “Firaun” yang tak memiliki hati dalam membunuh manusia. Bahkan ia menyuruh manusia menyembah dirinya bukan menyembah Allah. Keberanian juga bisa menjadikan Nabi Ibrahim sebagai bapak tauhid manusia, yang memerintahkan manusia berbuat adil dan memerintahkan manusia menyembah yang benar-benar berhak disembah.

Al Qur’an mewanti-wanti : مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata):”Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS Ali Imran 79).

CSIS, Soeharto dan Kelompok Islam

KETIKA masa reformasi memang Amien Rais dielu-elukan. Amien yang fasih dalam bicara social dan politik, menjadi magnet bagi mahasiswa dan masyarakat untuk mengakhiri pemerintahan Soeharto.

Bagaimana pandangan tokoh-tokoh Islam, terutama Masyumi dalam hal ini? Kebetulan penulis saat itu menjadi wartawan Media Dakwah, sedikit banyak memahami pandangan tokoh-tokoh itu tentang reformasi.

Setelah reformasi bergulir, Mansur Suryanegara pernah berceramah di ruang bawah masjid Istiqlal. Ia dengan tegas menyatakan bahwa reformasi ini adalah istilah Katolik.   Penulis sendiri yang sempat mengamati gerakan awal reformasi ini bergulir,

khususnya di UI, memang yang terlibat dalam demo-demo menyerukan reformasi bukanlah mahasiswa aktivis Lembaga Dakwah Kampus. Di UI Salemba, saat itu terlihat mahasiswa-mahasiswa tidak berjilbab dan ‘mahasiswa non Islam’ yang meneriakkan ‘reformasi-reformasi’.

Tokoh-tokoh yang bergerak di kampus-kampus juga bukan tokoh mahasiswa Islam. Tapi jaringan Famred dan ‘kelompok-kelompok kiri’ lainnya.  Di sisi lain kelompok non Islam juga mengkhawatirkan adanya kelompok Islam yang mulai mayoritas menguasai negeri ini. Munculnya Bank Muamalat, Republika, ICMI dan naiknya jenderal-jenderal Muslim sangat mengkhawatirkan mereka. Mereka yang sebelumnya menguasai negeri Islam ini, merasa terganggu dengan naiknya Muslim ke panggung militer dan politik. Kelompok-kelompok LB Moerdani tidak rela kelompok Prabowo-Wiranto-Feisal Tanjung dan lain-lain mewarnai militer yang selama ini mereka kendalikan.

Kelompok The Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang banyak tokoh Katolik, mereka tersingkirkan setelah Seoharto dan Habibie merestui pembentukan ICMI.

CSIS menggandeng Gus Dur untuk melawan ICMI dengan membentuk diantaranya ‘Fordem’ (Forum Demokrasi). Ketika kelompok politik Islam semakin kuat, maka mereka mulai membentuk strategi yang serius untuk menumbangkan Soeharto.

Kebetulan Amien juga getol sejak 2003 telah mengkritisi Soeharto karena  Korupsi Kolusi dan Nepotismenya.  Bertemulah dua kepentingan itu. Kelompok non Islam yang ingin menggulingkan Soeharto karena terlalu dekat dengan Islam, dan kelompok pak Amien yang ingin menjatuhkan Soeharto karena KKN-nya.

Soeharto meski mulai mengambil kebijakan yang menguntungkan Islam, tapi ia tidak mencegah anak-anaknya terus bergelimangan dengan harta. Hal itulah yang menyebabkan banyak masyarakat marah terhadapnya.

Agendanya tentu lain. Kelompok non Islam (kelompok kiri, abangan dll), ingin menjatuhkan paket Soeharto-Habibie. Kelompok Amien ingin menjatuhkan Soeharto saja. Tentu bagi kelompok non Islam ini sudah sangat menguntungkan. Karena mereka melihat yang kuat kekuasaannya adalah Soeharto bukan Habibie. Mereka mempunyai strategi selanjutnya menggulingkan Habibie. Dan itu terbukti setelah Habibie memimpin negeri ini, mereka berteriak lantang menolak laporan pertanggunganjawabnya dalam Sidang MPR.

Penulis yang sempat menyaksikan demo-demo di Universitas Gunadarma dan UI, melihat betul bahwa yang menyerukan dan menggalang demo-demo itu bukan dari kelompok Islam. Bahkan ketika penulis melihat langsung mereka menduduki DPR/MPR penulis mendengar adanya bis rombongan GMKI (Gerakan Mahasiswa Katolik Indonesia) datang. Penulis kala itu ikut melihat dan mengamati langsung aksi-aksi demo yang marah kepada Soeharto berhari-hari.

Penulis juga sempat ke  Center for Policy and Development Studies (CPDS) saat itu yang diketuai Fadli Zon. Fadli saat itu memang dikenal dekat dengan jenderal-jenderal Islam, termasuk anak Soeharto, Mbak Tutut (Siti Hardijanti Rukmana).

Fadhli Zon dikenal tokoh muda yang hebat. Dalam usia muda itu ia sudah membawahi para professor dan doktor. Ia dipercaya Prabowo ketika Prabowo menjadi Danjen Kompasus. Dan hubungan Prabowo dan kalangan Islam saat itu sangat dekat.

Prabowo juga dekat dengan Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) dan Dewan Dakwah. Ditengarai kedekatannya dengan Islam itulah maka tidak heran ketika reformasi berlangsung Prabowo menjadi kambing hitam, baik di internet maupun media-media cetak.

Waktu itu KISDI dikomandani oleh tokoh-tokoh Islam: Ahmad Sumargono, Hussein Umar, KH Cholil Ridwan (sekarang di MUI) dan KH Rasyid Abdullah Syafii.

Penulis ingat ketika reformasi mengalami puncaknya, diadakan rapat untuk menggalang demo dari kelompok Islam yang dipimpin KH Cholil Badawi (alm). Saat itu kumpul tokoh-tokoh (alm) Ahmad Sumargono dan lain-lain. Mereka membuat agenda bahwa bila Soeharto turun, maka BJ Habibie harus naik. Saat itu dibagi beberapa kelompok dari masing-masing Ormas untuk menggalang kekuatan dan demo besar-besaran untuk menyerbu Gedung DPR/MPR dan mengosongkan massa di sana.

Ketika awal reformasi itu digulirkan, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, (alm) Anwar Haryono telah mewanti-wanti ‘jangan menari di atas gendang orang lain’, tapi nampaknya sebagian tokoh Islam tidak mendengarkan.

Korporasi, Kekuatan Asing Dan Kemandirian Indonesia

 “(Sejarah) ini sebagai penjelas, petunjuk dan pelajaran bagi orang yang bertakwa.” (QS: Ali Imran 138)

SEORANG  filsuf dan penyair Spanyol-Amerika George Santayana pernah mengatakan, “Mereka yang gagal mengambil pelajaran dari sejarah dipastikan akan mengulangi sejarah itu.” Demikian pula yang terjadi di Indonesia.

Itu pula yang disampaikan Amien Rais melihat Indonesia. Saat ini negeri ini seperti ‘kondisi pada zaman Belanda’ terutama dalam masalah kemandirian bangsa.

“Apa yang kita alami dan saksikan dalam beberapa dasawarsa  terakhir abad 20 dan dasawarsa pertama pada abad 21 sesungguhnya, dalam banyak hal, merupakan pengulangan belaka dari apa yang kita alami pada zaman penjajahan kompeni dan pemerintahan Belanda di masa lalu. Perbedaan antara tempo doeloe dengan masa sekarang hanyalah dalam bentuk atau format belaka. Dahulu pendudukan fisik dan militer Belanda menyebabkan Indonesia kehilangan kemerdekaan, kemandirian dan kedaulatan politik, ekonomi, social, hukum dan pertahanan. Sedangkan sekarang ini pendudukan fisik dan militer asing itu secara resmi sudah tidak ada dan tidak kelihatan. Tetapi sebagai bangsa kita telah kehilangan kemandirian, dan sampai batas yang cukup jauh, kita juga sudah kehilangan kedaulatan ekonomi. Dalam banyak hal, bangsa Indonesia tetap tergantung dan meggantungkan diri pada kekuatan asing,” ujar Amien dalam bukunya ‘Selamatkan Indonesia’.

Kedaulatan ekonomi yang telah kita gadaikan pada kekuatan asing hakekatnya telah melemahkan kedaulatan politik, diplomatik, pertahanan dan militer kita.

Kekuatan-kekuatan korporasi telah mendikte bukan saja perekonomian  nasional,  seperti kebijakan perdagangan, keuangan, perbankan, penanaman modal , kepelayaran dan kepelabuhan, kehutanan, perkebunan, pertambangan migas dan non migas, dan lain sebagainya tetapi juga kebijakan politik dan pertahanan.

Amien pernah mengingatkan bagaimana organisasi bisnis  VOC sejak awal abad ke 17 telah mencengkeram Indonesia. Kemudian penjajahan itu diteruskan pemerintah Belanda, diselingi penjajahan Jepang beberapa tahun,  hingga sampai 1949.  Kenapa VOC begitu mudah dan berjaya mengeruk kekayaaan dan menguasai bangsa Indonesia?

Pertama, menurut Amien, pemerintah Belanda memberikan dukungan politik sepenuhnya. VOC diberi hak monopoli dagang di Hindia Timur (Nusantara) dan dibantu menyingkirkan para pesaing dari Eropa seperti Inggris dan Belanda. Sebuah Piagam Pemerintah Belanda diterbitkan yang bukan saja memberikan monopoli dagang pada VOC, tapi juga wewenang untuk menduduki wilayah manapun yang dikehendaki dan menjajah penduduk asli sesuai dengan tuntutan pasar dan kebutuhan politik VOC sendiri.

Dukungan militer juga melekat dalam hampir semua kegiatan VOC.  Mustahil VOC mampu membuka wilayah baru untuk diduduki dan penduduknya dijajah tanpa kekuatan militer sebagai ujung tombak.

Para jenderal yang menjadi pimpinan VOC seperti Jan Pieterzoon Coen (1619-1629), Anthony van Diemen (1636-1645), dan Joan Maetsyker (1653-1678) adalah tokoh-tokoh militer yang menggerakkan kekerasan dalam rangka membunuh dan memperbudak penduduk setempat untuk mencapai tujuan dagang VOC. Yang dilakukan oleh JP Coen malah mendekati kategori genosida.

“Janganlah putus asa, jangan biarkan musuh-musuhmu bebas, karena Tuhan bersama kita,” demikian pernyataan JP Coen yang terkenal.

Antara VOC dan Snouck Hugronje

Tahun 1669 VOC telah menjadi organisasi bisnis terbesar di dunia dengan memiliki 150 kapal dagang, 40 kapal perang, 50.000 karyawan, angkatan darat 10.000 prajurit dan pembayaran dividen sebanyak 40 persen.

“Kekayaan yang demikian dahsyat untuk ukuran jaman itu tentu dapat diperoleh karena kerjasama korporatokratik dari tiga pilar utama, yakni VOC sendiri sebagai korporasi raksasa, kekuatan politik Pemerintah Belanda, dan kekuatan militer Belanda yang selalu siap untuk menggebuk setiap rintangan yang dihadapi VOC, “ demikian kutip Amin.

Untuk mempertahankan imperialisme dan kolonialisme mereka, negara-negara Barat memerlukan komponen-komponen yang berupa perbankan, dukungan kaum intelektual, media massa dan dukungan elite nasional bangsa yang terjajah. Hakekatnya korporatokrasi pada awal abad 21 ini merupakan turunan belaka dari korporatokrasi empat abad silam.

Dukungan imperialisme Belanda ini juga diperkuat terutama oleh kaum intelektual.

“Snouck Hugronje (1857-1936) adalah salah satu contoh intelektual-orientalis yang mengabdikan kehidupannya untuk kepentingan imperialisme Belanda. Ia seorang sarjana terkemuka di bidang peradaban dan bahasa-bahasa Oriental dan menjadi tangan kanan Gubernur Jenderal JB Van Heutsz. Ia menasehati Van Heutsz bagaimana cara memerangi rakyat Aceh. Atas dasar nasehatnya Perang Aceh menelan korban 50.000 sampai 100.000 nyawa rakyat Aceh dan jumlah yang lebih besar menderita luka-luka. Contoh lainnya adalah Charles Olke Van der Plas (1891-1977) yang pernah menjadi Gubernur Jawa Timur. Van der Plas dikenal sebagai tukang adu domba antar golongan dan kelompok bangsa Indonesia untuk memperlemah perlawanan Indonesia terhadap Belanda.”

Bila dicermati mengapa VOC dan Pemerintah Belanda dapat menjajah Indonesia, tentu karena elit penguasa saat itu, katakanlah para raja tidak semuanya melakukan perlawanan bersama rakyat melawan kaum imperialis itu. Justru sebagian mereka berkolaborasi dengan penjajah.

Contoh, Amangkurat I dan II yag menggantikan Sultan Agung sebagai Raja Mataram justru mempermudah jatuhnya sebagian besar Jawa Barat ke tangan VOC pada akhir abad 17.

Ketika Amangkurat II digantikan oleh Pamannya, Pakubuwono I, konsesi tanah yang lebih luas lagi diberikan pada pemerintah Belanda. Pada 1755 wilayah Kerajaan Mataram telah mengkerut kecil. Seluruh pulau Jawa telah jatuh ke tangan Belanda, kecuali Yogyakarta dan Surakarta, itupun dipecah menjadi dua kerajaan, kesultanan dan kasunanan.

Akibat penjajahan VOC yang lama itu, menurut Amien, mempengaruhi struktur mental anak bangsa. Membongkar mentalitas inlander ternyata tidak mudah. Contohnya, banyak pemimpin bangsa yang ketakutan dan panas dingin ketika Presiden Bush akan mampir Indonesia pada akhir 2006. Pengamanan yang diberikan pada presiden Bush yang sudah tidak popular itu, kata Pak Amien, ‘sungguh berlebih dan agak memalukan’.

“TIdak ada negara manapun di dunia yang menyambut Presiden Bush seperti maharaja diraja, kecuali Indonesia di masa kepemimpinan Susilo B Yudhoyono. Seolah Indonesia telah menjadi vazal atau negara protektorat AS,”tulis Amien.*

Penulis Ketua Dewan Dakwah Islamiyah  Indonesia (DDII) Kota Depok

http://www.hidayatullah.com