Posts from the ‘DAKWAH’ Category

Profil Generasi Qur’ani

Generasi Qur'ani _ilustrasijpg

Generasi Qur’ani (Ilustrasi)

Ada fenomena yang unik dalam sejarah Islam yang patut dijadikan rujukan, tolak ukur keberhasilan dakwah di mana saja dan kapan saja, bagi yang terjun di medan dakwah. Gejala itu tidak lain adalah dakwah ini mampu men-setting generasi, yakni generasi Sahabat radhiyallahu ‘anhum, generasi terbaik dalam sepanjang sejarah Islam dan kemanusiaan.

Setelah itu boleh dikata, tidak pernah terulang lagi munculnya generasi sekualitas itu, sekalipun ada beberapa figur yang muncul (mujaddid), tetapi belum pernah lahir dalam bentuk society (160.000 orang, peny.), selain dari generasi Sahabat. Gejala ini menimbulkan pertanyaan di kalangan yang masih bersedia memikirkan kelangsungan dakwah Islam. Apakah penyebab dan rahasia keberhasilan mereka?
Kemurnian dan keutuhan sumber asasi (ashalatu al-mashdar)
Al-Qur’an yang dikaji oleh para sahabat Rasul shalla-llahu ‘alaihi wa sallam dan yang menjadi asas perjuangan mereka dalam kehidupan, adalah Al-Qur’an di tangan kita sekarang. Dan itu yang akan dibaca oleh generasi sesudah kita nanti sampai akhir zaman. Al-Qur’an yang tetap asli, utuh, dan murni. Demikin pula hadits Rasulullah, yang bagi sahabat dahulu dijadikan sebagai pedoman kerja, semuanya masih tersimpan rapi dan mudah dipahami. Kecuali pribadi Rasulullah yang telah meninggalkan kita. Lalu apakah ini yang menjadi penyebab? Jawabannya bukan.
Seandainya keberadaan Rasulullah yang menjadi rahasianya, niscaya Allah tidak akan menjadikan dakwah Islam ini kaffatan linnas wa rahmatan lil ‘alamin. Dan Islam bukan risalah terakhir diturunkan oleh Allah. Akan tetapi Islam tidak demikian. Allah menjamin keutuhan dan kemurnian Al-Qur’an, sekalipun Rasulullah telah wafat. Dakwah ini akan berlangsung secara kontinyu, sekalipun beliau tiada. Bahkan, beliau telah sukses menyampaikan risalah ini dengan sempurna sampai akhir zaman.
Kehilangan pribadi Rasulullah bukan menjadi faktor utama dalam dakwah ini. Sayyid Quthb, dalam bukunya Ma’alim fii ath-Thariq mencoba mengamati profil masyarakat sahabat. Dari hasil pengamatannya, beliau mengemukakan tiga faktor yang menjadi karakteristik generasi Qur’ani yang pertama itu.
Pertama, Alal-Qur’an, sumber utama (al-Qur’an manba-un wahiid)
Generasi sahabat mempersepsikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber dan landasan kehidupan. Adapun hadits adalah tafsir operasional dari sumber utama itu. Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang perilaku Rasulullah, dia menjawab, “Budi pekertinya adalah Al-Qur’an”.
Sebenarnya ketika itu bukan tidak ada hambatan peradaban dalam menegakkan semangat beragama. Peradaban Romawi kala itu sudah mencapai tingkat kemajuannya di bidang budaya, ilmu, dan hukum, yang sampai sekarang masih dianut oleh beberapa negara sebagai sistem hukum. Demikian pula kebudayaan Yunani yang terkenal dengan logika dan filsafatnya. Kebudayaan Persia, India, dan China tercatat sebagai kebudayaan yang besar waktu itu. Dua peradaban Romawi dan Persia mendominasi Jazirah Arab dari utara dan selatan.
Tetapi, fokus generasi sahabat kepada Al-Qur’an sebagai satu-satunya sumber dan acuan, mempunyai sasaran khusus. Rasulullah ingin mencetak generasi yang spesifik, di mana hati, akal, wawasan, ideologi, dan orientasi (ittijah) mereka terpelihara orisinilitasnya dari berbagai pengaruh luar yang tidak sesuai dengan manhaj Al-Qur’an.
Generasi inilah yang dicatat sejarah sebagai generasi yang unik, sebab generasi berikutnya telah mengalami pembauran sistem dan telah terkontaminasi berbagai polutan dalam memahami sumber utama. Seperti filsafat dan logika Yunani yang banyak mencemari pemikiran pemikir Islam, israiliyat Yahudi dan teologi Nasrani, serta berbagai kebudayaan dan peradaban asing, yang turut mencampuri penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an, sehingga mengurangi kadar kejernihan pemikiran generasi berikutnya dalam memahami Al-Qur’an.
Kedua, Metode metode penerimaan al-Qur’an (manhaj at-talaqqi)
Antara generasi sahabat dan generasi berikutnya cenderung mengalami perbedaan dalam aspek pola penerimaan Al-Qur’an. Generasi awal ketika membaca Al-Qur’an tidak bertujuan membongkar rahasia alam, sains, pengayaan materi-materi ilmiah. Akan tetapi menerima Al-Qur’an seperti menerima perintah dari Allah untuk diterapkan secara langsung dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Persis seperti seorang prajurit menerima perintah dari komandannya untuk dilaksanakan secara spontan. Sahabat mencukupkan sepuluh ayat untuk dihafal dan diamalkan muatannya.
Metode penerimaan yang aplikatif – justru menyingkap ufuk ilmu dan keindahan, pesan-pesan inti – yang tidak terungkap sekiranya mereka berinteraksi dengan menggunakan metode ilmiah. Dengan metode pertama dapat mempraktiskan kerja, meringankan beban, menterjemahkan teori-teori ilmiah yang mandeg ke dalam kerja nyata yang dinamis.
Sesungguhnya Al-Qur’an tidak menerima metode apapun selain dari metode penerimaan yang praktis dan aplikatif. Karena Al-Qur’an bukan buku seni, ilmu, sejarah, sekalipun semuanya terkandung dalam Al-Qur’an.
Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup (minhajul hayah). Karena itu Allah menurunkannya secara bertahap.
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيْلاً (الإسراء : 106)
“Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS al-Isra’ :106).
Allah menurunkan Al-Qur’an tidak sekaligus. Tetapi berdasarkan kebutuhan-kebutuhan dan perkembangan yang kontinyu dalam ideologi dan konsepsi, juga berdasarkan problem alamiah yang dihadapi umat Islam dalam kehidupannya.
Terakadng ayat turun menerangkan peristiwa tertentu dan kondisi khusus, serta menggariskan peranan yang harus dimainkan mereka dalam menghadapi kejadian itu, dan memperbaiki kesalahan mereka, dengan begitu terasa keterikatan jiwa dengan Allah sebagai Pencipta. Dari metode penerimaan yang praktis ini para sahabat muncul sebagai generasi yang terbaik.
Ketiga, Isolasi  isolasi  (mufashalah) dari persepsi lama
Apabila seorang telah mengikrarkan dirinya sebagai muslim berarti ia telah menghapus segala masa lalunya ketika jahiliyah, dan sekarang akan memulai hidup baru yang sama sekali terpisah mutlak dari hidupnya pertama pada masa jahiliyah; merasakan hidup yang lalu itu penuh noda dan kotoran yang hanya bisa terhapus dengan Islam.
Dengan sikap pasrah seperti ini, ia menerima petunjuk Islam yang baru. Maka setiap kali tidak mampu menunaikan kewajiban yang dibebaankan Islam kepadanya, ketika itu ia merasakan bersalah dan berdosa. Akhirnya, jalan membersihkan dirinya ialah dengan kembali kepada petunjuk Al-Qur’an. Isolasi perasaan secara mutlak ini antara masa lalu yang jahiliyah dan masa sekarang yang Islami, jelas terlihat dalam hubungan sosial dengan masyarakat jahiliyah yang ada di sekitarnya dengan melepaskan samasekali hubungannya dengan lingkungan jahiliyah dan menyatu dengan lingkungan yang Islami, sekalipun hubungan dagang dan harian masih terjadi. Yang jelas, perubahan total terjadi dalam lingkungan, kebiasaan, adat, wawasan, ideologi, serta pergaulan yang baru telah bertolak dari tauhid. Ketiga karakteristik inilah yang tidak dimiliki oleh generasi berikutnya, sehingga tidak bertahannya nilai-nilai ke-Islam-an yang utuh dalam persepsi dan mata hati mereka.
Untuk mengembalikan ma’nawiyah (spirit) ber-Qur’an ini, perlu kita membuka ruang yang luas dalam kepribadian kita dengan bekal khusus. Yaitu pemberdayaan ruhani kita secara lebih intensif (tarbiyah ruhiyah), agar Qur’an bisa berinteraksi lebih kuat dan mendalam dalam diri kita. Karena Al-Qur’an berasal dari Dzat yang Maha Suci, dikirimkan melalui makhluk yang suci, dan diberikan kepada hamba yang dipilih-Nya (ishthafaahu), Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wa sallam
Wallahu ‘alam bish-shwab.
Advertisements

Kajian Pendidikan : “Karakter” Versi Ki Hadjar Dewantara

Oleh: Muthoifin

Dalam beberapa buku karya Ki Hadjar Dewantara tidak dijumpai istilah“karakter”,  dengan makna “akhlaq”dalam Islam. Tapi, secara inplisit istilah itu muncul dalam berbagai buku karangannya dengan istilah “budi pekerti”. Oleh Ki Hadjar, budi pekertidiletakkan sebagai jiwa atau ruh daripengajarananya. Sebab, menurutnya,pengajaran dan budi pekerti ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Pengajaran atau pendidikan berarti menuntun tumbuhnya budi pekerti dalam hidup anak didik supaya mereka kelak menjadi manusia berpribadi yang beradab dan susila. (Ki Hadjar Dewantara, Bagian Pertama (Pendidikan), Yogyakarta: Majlis Luhur Tamansiswa, 1967).

Budi pekerti menurut Ki Hadjar bukan sekedar konsep teoritis sebagaimana yang dipahami masyarakat pada umumnya. Pengajaran budi pekerti juga bukan berarti mengajar teori tentang baik buruk, benar salah dan seterusnya; bukan pula pengajaran dalam bentuk pemberian kuliah atau ceramah tentang hidup kejiwaan atau peri-keadaban manusia dan atau keharusan memberi keterangan-keterangan tentang budi pekerti secara luas dan mendalam. Pengajaran budi pekerti, tegas Ki Hadjar, diterapkan untuk menyokong perkembangan hidup anak-anak,  menuju ke arah peradaban dalam sifatnya yang umum, seperti mengajarkan anak bagaimana duduk yang baik, tidak berteriak-teriak agar tidak mengganggu orang lain, bersih badan dan pakaian, hormat terhadap ibu bapak dan orang lain, suka menolong dan lain sebagainya. (Abuddin Nata, Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2005).

Ki Hadjar yang dikenal sebagai tokoh pendidikan mengharapkan, anak-anak didik hendaknya diberikan anjuran-anjuran untuk melakukan pelbagai laku yang baik dengan cara disengaja. Dengan begitu maka syarat pendidikan budi pekerti yang dahulu biasa saja disebut metode menyadari, menginsyafi dan melakukan, atau ngerti, ngerasa dan ngelakoni (“tri-nga”) dapat terpenuhi. (Ki Hadjar Dewantara, Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian A (Kebudayaan), Yogyakarta: Tamansiswa, 1967)

Ki Hadjar menghendaki budi pekerti yang bersifat terintegrasi dengan pengajaran pada setiap bidang studi. Dengan kata lain, Ki Hadjar menginginkan bahwa pada setiap pengajaran bidang studi apapun harus mengintegrasikannya dengan pendidikan budi pekerti, dan tidak berhenti pada pengajaran mata pelajaran tersebut semata-mata. Baginya pengajaran adalah alat bukan tujuan. Pengajaran matematika misalnya adalah alat untuk menghasilkan anak yang memiliki keterampilan dalam memahami dan mempraktikkan rumusan hitungan secara tepat dan akurat. Namun bersamaan dengan itu pengajaran matematika tersebut harus diarahkan pada menghasilkan manusia yang dapat bersikap teliti, cermat, kerja teratur dan jujur. (Abuddin Nata,Tokoh-tokoh Pembaruan, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2005).

Budi pekerti — dalam implementasi di Perguruan Tamansiswa — bertujuan agar anak-anakdidik dapat kemajuan alam hidupnya lahir dan batin menuju ke arah adab kemanusiaan. Budi pekerti di sini juga tidak hanya menghendaki pembentukan intelek, tetapi menghendaki juga pendidikan dalam arti pemeliharaan dan pelatihan susila (budi), karena menurut Ki Hadjar, adab atau keluhuran budi manusia itu menunjukkan sifat batinnya manusia, sedangkan kesusilaan atau kehalusan itu menunjukkan sifat hidup lahiriyah manusia yang serba halus dan indah. Ki Hadjar menyatakan, “Bahwa budi pekerti seseorang itu dapat mewujudkan sifat batinnya seseorang dengan pasti dan tetap”. Ki Hadjar juga menegaskan,  “Bahwa tidak ada dua budi pekerti orang yang sama, meskipun sama dua roman wajah seseorang, tidaklah sama kedua budi pekertinya”. (Abdurrahman Surjomiharjo, Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern,  Yogyakarta: Sinar Harapan, 1986).

Ki Hadjar pun berpendapat bahwa pendidikan budi pekerti harus mempergunakan syarat-syarat yang selaras dengan jiwa kebangsaan menuju kepada kesucian, ketertiban dan kedamaian lahir batin. Menyimak gagasan dan pemikirannya tentang pendidikan budi pekerti, terlihat dengan jelas, konsep budi pekerti Ki Hadjar  diarahkan pada pembentukan karakter bangsa yang sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa yang universal. (Ki Hadjar Dewantara, Asas-asas dan Dasar-dasar Tamansiswa, Yogyakarta: Tamansiswa, 1964)

Pendidikan adab

Sebagai ajaran yang berdasarkan pada wahyu Allah, Islam tidak menolak nilai-nilai universal yang baik. Tetapi, Islam meletakkan sifat-sifat baik seperti: jujur, sopan dan toleransi semuanya dalam bingkai dan dasar keimanan, bukan sekedar “rasa kemanusiaan” semata yang lepas dari nilai-nilai Islam. Seorang muslim diajarkan untuk jujur, bukan karena kemanfaatan sifat jujur semata, tetapi karena jujur itu perintah Allah Swt. Sebagaimana diungkapkan Adian Husaini, bahwa semua aktifitas kemanusiaan baik berupa amal shaleh, akhlak, maupun nilai-nilai kebajikan lainnya seperti jujur, kebersihan, dan kerja keras, harus dilandasi dan dalam bingkai keimanan. Jika amal shaleh atau sifat kemanusiaan tidak dilandasi dengan keimanan, maka perbuatan itu akan menjadi berbahaya bahkan melanggar batas-batas ketentuan Allah Swt”.(Adian Husaini, Pendidikan Islam Membentuk Manusia berkarakter dan Beradab, Jakarta: Cakrawala, 2013).

Dalam perspektif Islam, hubungan antara iman dan budi pekerti adalah hubungan yang tidak bisa dilepaskan, karena iman merupakan sumber akhlak yang luhur. Akhlak inilah yang pada gilirannya menuntun manusia untuk menemukan kebenaran dan hakikat sesuatu. Sedangkan ilmu menuntun manusia untuk menjadi manusia yang beradab. Hal ini sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad Saw. yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.(M. Athiyah al-Abrasyi, Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2003)

Jadi dalam perspektif Islam, pemikiran Ki Hadjar tentang pendidikan budi pekerti, perlu dilandasi keimanan, bukan berdasarkan budaya semata.  Dan semua aktivitas yang berpijak pada dasar keimanan akan mendatangkan hasil yang lebih berkualitas,  lahir maupun bathin, lantaraniman merupakan hubungan antara hamba dan Sang Khaliq. (Abdurrahman al-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: GIP, 2005).

Dengan demikian, menurut penulis, gagasan Ki Hadjar, agar lebih efektif dan “selamat”, maka pendidikan budi pekerti ini perlu didasarkan pada unsur-unsur ketauhidan, sehingga makin selaras dengan  tujuan Pendidikan Nasional yang bertujuan meningkatkan iman dan takwa, sesuai UU Sisdiknas No 20 (Pasal 3) tahun 2003. “Budi pekerti” yang tidak  dilandasi keimanan, berpotensi menyimpang dari ajaran Tuhan dan merusak esensi kemanusiaan.

Allah SWT misalnya menggariskan, hanya boleh tolong menolong dalam kebaikan. Maka toleransi bisa dilakukan, tetapi tidak untuk kemusyrikan dan kejahatan. Cinta kasih sesama manusia perlu dibatasi dengan pijakan iman. Tidak boleh misalnya menikah sesama jenis, meski berdasar kasih sayang antar sesama. Maka, idealnya semboyan Pendidikan Nasional kita diubah menjadi: “Iman, Ilmu, Amal”. Bukan sekedar: tut wuri handayani.

* Penulis adalah (Guru Pesantren Hidayatullah, Solo

http://insistnet.com

Oase Iman : Siapa Perumus Syair “Tombo Ati iku Limo Perkarane”?

obat-hati

SYAIR “Tombo Ati” alias obat hati yang berjumlah lima amalan ibadah adalah syair berbahasa Jawa yang populer secara turun-temurun. Syair yang berisi nasihat ini semakin booming setelah masuk ke dunia rekaman yang dilantunkan seniman Muslim Emha Ainun Najib dan dilanjutkan oleh penyanyi Opick dengan versi bahasa Indonesianya.

Ada pihak yang menyebutkan bahwa syair Tombo Ati ini berasal dari Sunan Bonang salah satu ulama shalih penyebar Islam di tanah Jawa, di mana beliau menggunakan syair itu dalam sebagai media dakwah.

Meski demikian, apakah bisa dikatakan bahwa otomatis beliau perumus Tombo Ati? Bisa jadi, namun kemungkinan hal itu kecil, karena Wali Songo adalah ulama yang dikenal menganut metode sanad dalam ajarannya hingga kemungkinan besar ajaran yang disampaikan merujuk kepada ulama sebelumnya.

Jika seandainya bukan Sunan Bonang, lalu siapa ulama sebelum beliau yang merumuskannya?

Pertanyaan itu terjawab oleh kitab Shifat Ash Shafwah karya Ibnu Al Jauzi (597 H) ulama besar madzhab Hanbali, di mana saat beliau menulis biografi Yahya Bin Muadz Ar Razi ulama yang wafat di Naishabur tahun 258 H, beliau menuliskan bahwa Yahya menyampaikan 5 obat hati (lihat, Shifat Ash Shafwah, 4/92).

Dalam kitab itu Yahya bin Muadz menyatakan, ”dawa’ al qalb khomsah asya’” (obat hati ada 5 perkara), yang dalam bahasa Jawa, ”tombo ati iku limo perkarane” (obat hati ada 5 perkara).

Dari lima perkara itu Yahya bin Muadz merinci, ”qira’ah Al Qur’an bi at tafakkur” (membaca Al Qur’an dengan perenungan), yang dalam bahasa Jawa, ”moco Quran angen-angen sakmaknane”.

Yang kedua adalah “khala’ al bathn” (kosongkan perut atau berpuasa), yang dalam bahasa jawa, ”weteng siro kudu luwe”.

Obat hati selanjutnya adalah, ”qiyam al lail”  kalau dijawakan menjadi, ”sholat wengi lakonono”.

Selanjutnya adalah, ”tadzarru’ indza as sahr”  (merendahkan diri saat waktu sahur) kalau dalam versi Jawa,”dzikir wengi ingkang suwe”.

Sedangkan obat hati yang terakhir yang disebut Yahya bin Mu’adz adalah, ”mujalasah as shalihin” (bermajelis dengan orang-orang shalih) yang dalam versi Jawanya, ”wong kang sholeh kumpulono.”

Jika demikian, maka hal ini merupakan salah satu indikator bahwa ajaran Walisongo bersumber kepada ulama terdahulu, tinggal generasi Islam saat ini, tidak hanya bisa manghafal, namun juga dituntut untuk mengamalkan 5 perkara yang amat dianjurkan itu, hingga hati menjadi tenang.*

http://hidayatullah.com

Kerusakan di daratan dan lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia

Oleh: Fadhil ZA

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [QS. Ar-Ruum/30: 41]

Akhir akhir ini sering terjadi bencana alam yang melanda kota, desa dan kampung, merusak bangunan, harta benda bahkan meminta korban jiwa yang tidak sedikit. Tanah longsor, banjir bandang, sungai meluap, kebakaran hutan, kekeringan dan lain sebagainya. Jika diteliti ternyata semua bencana itu bersumber dari ulah segelintir orang yang tidak bertanggung jawab.

Penebangan pohon dihutan yang semena mena mengakibatkan hutan jadi gundul dan gersang. Ketika hujan turun tidak ada lagi pohon yang menahan air hujan. Dahulu semua air yang turun ditahan oleh pepohonan, kemudian meresap dan disimpan didalam tanah. Sekarang tidak ada lagi pepohonan yang menahan air hujan, air terus meluncur kesungai mengalir deras menuju laut. Sungai yang ada tidak mampu menampung luapan air , akibatnya terjadilah banjir di mana mana. Penebangan pohon dengan semena mena oleh segelintir orang telah menimbulkan kerusakan dan bencana berkepanjangan. Musim hujan terjadi banjir dimana mana. Musim panas terjadi kekeringan dan kesulitan mendapatkan air bersih.

Dilautan juga terjadi kerusakan akibat ulah sebagian manusia, pencemaran laut oleh sampah dan minyak, pengrusakan terumbu karang, penangkapan ikan dengan rakus yang merusak bibit dan ikan yang masih kecil, telah menimbulkan kerusakan pula di lautan. Bukan tidak mungkin jika pencemaran ini terus berlanjut satu ketika akan sulit bagi kita mendapatkan ikan dari laut. Sebagian nelayan tradisional yang mencari ikan dengan alat sederhana sudah mulai merasakan dampak kerusakan ini. Pantai yang dahulu dipenuhi ikan kini sudah kosong. Mereka harus berlayar jauh ketengah laut untuk mendapatkan ikan. Bukan tidak mungkin satu ketika sebagian besar ikan dilaut juga akan musnah, sehingga sulit bagi manusia mendapatkan daging ikan sebagai sumber makanan.

Diudarapun terjadi kerusakan akibat ulah sebagian manusia. Pencemaran udara oleh berbagai alat teknologi seperti mobil, motor, pabrik, yang menghasilkan gas dan zat berbahaya juga telah merusak sistim lapisan ozon yang pada akhirnya menimbulkan pemanasan global. Kebakaran hutan menimbulkan kabut asap yang mengotori udara, manusia sulit bernafas. Akibat pemanasan global gunung es di kutub utara dan selatanpun mulai mencair, permukaan air laut di seluruh pantai didunia mulai naik.

Semua kejadian ini telah diingatkan Allah 14 abad yang lalu melalui firman-Nya dalam surat Ar Rum ayat 41 sebagai tertulis pada awal artikel ini. Semua ini sebagai peringatan bagi manusia agar segera kembali kepada Allah dan berusaha memperbaiki perilaku buruk yang telah menimbulkan kerusakan lingkungan tersebut Jika tidak niscaya Allah akan merasakan azab, yang kenyataannya telah dirasakan oleh sebagian dari kita. Memang sudah banyak organisasi didunia ini yang berusaha menyadarkan manusia tentang dampak kerusakan oleh ulah segelintir orang ini. Bahkan Negara besar diduniapun telah mulai memberikan perhatian untuk masalah ini. Selamat berjuang bagi rekan dan organisasi penyelamat lingkungan, mudah mudahan Allah mengampuni kita dan menurunkan rahmatnya pada kita semua.

http://www.fadhilza.com

Aljazeera meluncurkan Film Dokumenter tentang Rasulullah saw : “Muhammad, the Messenger of God, Peace be upon you”

Di saat dunia Islam marah dengan munculnya film Inocence of Muslim yang mengandung unsur penghinaan terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, Aljazeera meluncurkan film dokumenter mengenai Rasulullah serta benda-benda yang beliau tinggalkan yang sampai saat ini masih terjaga di Mesir dan Turki dengan tajuk “Assalamualaika Ya Rasulallah”, demikian dikabarkan dalam akun Facebook resmi milik Dar Al Ifta’ Al Mishriyah (18/9/2012)

Dalam film yang disutradai oleh Majdi Al Imam ini Mufti Mesir Dr. Ali Jum’ah memiliki peran yang cukup besar dimana beliau sendiri menjadi narator film tersebut. Lembaga Perwakafan Mesir serta pihak Museum Turki juga memiliki andil besar dalam pembuatan film ini.

Film yang berdurasi 23 menit itu ditayangkan dalam tiga bahasa, bahasa Inggris (Muhammad, The Messenger Of God, Peace Be Upon You), Perancis (Muhammad Paix Soit Sur Toi, ô Messager d’Allah) serta Arab (Assalamualaika Ya Rasulallah) dan sudah bisa disaksikan di situs You Tube.

Dalam akhir film, sebuah pesan disampaikan, ”Engkau tidak akan menjadi mukmin, hingga Tuan ini (Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam), lebih engkau cintai dari dirimu sendiri, kedua orang tuamu, hartamu hingga seluruh manusia”

hidayatullah.com

Catatan Akhir Pekan: “Setelah Kita Puasa”

Oleh: Dr. Adian Husaini

SAAT bertemu dengan sesama Muslim, di Hari Raya Idul Fithri kita disunnahkan mengucapkan “Taqabbalallaahu minnaa waminkum. Ja’alanallaahu wa-iyyaakum minal’aaidin wal-faaiziin.” (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan anda. Dan Allah menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang beruntung dan meraih kemenangan).

Tentu, setelah menunaikan segenap ibadah di bulan Ramadhan, kita berharap benar-benar “kembali kepada kebenaran”, dan kita termasuk golongan yang beruntung. Selepas Ramadhan, semoga kita bisa memiliki sifat-sifat dari kaum yang dijanjikan Allah tersebut: yaitu mencintai Allah, mengasihi sesama mukmin, memiliki sikap ‘izzah terhadap orang kafir, selalu berjihad di jalan Allah dan tidak takut dengan celaan orang-orang yang suka mencela. (QS 5:54).

Setelah kita berjihad melawan hawa nafsu selama Ramadhan, kita berharap, meningkatlah derajat taqwa kita. Secara pribadi, ketaqwaan ditunjukkan dengan sikap meningkatnya semangat kita dalam ibadah. Misalnya, kita makin bergiat dalam aktivitas thalabul ilmi, meningkatkan keilmuan kita, sehingga makin memahami ayat-ayat Allah Subhanahu Wata’ala dan semakin meningkat pula kecintaan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Salah satu indikator orang taqwa adalah keyakinan yang mendalam terhadap kehidupan akhirat (wabil-aakhirati hum yuuqinuun). Orang yang taqwa pasti yakin bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar saja. Akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Karena itu, orang yang taqwa pastilah orang yang bahagia hidupnya, sebab ia tidak akan bersedih yang berlebihan saat tertimpa musibah atau bersenang-senang di dunia sehingga lupa diri gara-gara mendapatkan satu kenikmatan duniawi.

Imam al-Ghazali, dalam kitabnya, Kimmiyatus-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan) mensyaratkan perlunya setiap orang mengenal betul siapa dirinya dan siapa Tuhannya. Bukan sekedar pengenalan fisik, tetapi mengenal siapa dia sebenarnya, dari mana asalnya, untuk apa dia hidup di dunia, dan mau kemana setelah hidup ini. Pengenalan secara mendalam akan hal ini akan membawa seseorang pada keyakinan dan prinsip serta sikap hidup yang bahagia; tidak mudah resah dengan apa yang terjadi di dunia.

Dunia ini hanya sementara. Manusia mengalami keresahan karena dua hal saja. Resah karena apa yang sudah terjadi, dan kedua, resah karena apa yang kemungkinan akan terjadi, yang dibayangkannya akan menyusahkan dirinya. Karena itulah, kita disuruh banyak-banyak berzikir kepada Allah, jika kita ingin memiliki hidup yang tenang, hidup yang bahagia. Yang lalu, dan sudah terjadi, pastilah terjadi karena izin Allah. Yang belum terjadi, masih belum tentu terjadi. Jika itu terjadi, pasti atas izin Allah jua. Jadi, untuk apa dibuat susah secara berkepanjangan?

Ada seorang aktivis dakwah yang mengaku resah karena tujuan dakwahnya belum tercapai. Kata dia, sebelum daulah Islam berdiri, dia tidak mungkin menerapkan Islam secara sempurna (kaffah). Padahal, Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan setiap Muslim untuk masuk Islam secara kaffah. Karena itulah, mewujudkan suatu negara Islam adalah sebuah kewajiban utama setiap Muslim. Berdosalah, katanya, orang-orang yang tidak terlibat dalam usaha untuk mendirikan daulah Islam, atau khilafah Islamiyah.

Tentu saja para ulama dan cendekiawan Islam memandang penting keberadaan sebuah negara Islam, sistem dan para pemimpinnya menerapkan ajaran Islam secara maksimal.

Dalam kitab-kitab fikih banyak dijelaskan hukum-hukum tertentu yang hanya boleh dijalankan oleh negara, seperti hukum potong tangan untuk pencuri, hukum rajam untuk pezina, dan hukum-hukum hudud lainnya. Jika hukum-hukum Islam itu dijalankan secara anarkis oleh tiap-tiap individu atau kelompok tentu akan menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat. Karena itulah, keberadaan sebuah negara yang mengatur pelaksanaan hukum-hukum Islam memang menjadi sebuah keharusan.

Pentingnya sebuah negara juga disadari oleh banyak agama dan juga ideologi-ideologi sekuler seperti kapitalisme atau komunisme. Peran negara sangat penting untuk menunjang perkembangan suatu agama atau ideologi. Perkembangan agama Kristen tidak bisa dilepaskan dari peran Kaisar Romawi Konstantin dan Kaisar Theodosius. Sulit membayangkan, bagaimana nasib Kapitalisme jika negara AS runtuh dan berantakan.

Ada yang menyebut agama dan negara ibarat dua sisi mata uang. Pentingnya peran negara juga bisa dilihat dari antusiasnya sejumlah aktivis dakwah atau kaum minisionaris Kristen yang mengikuti proses pemilihan kepala negara atau kepala daerah. Di AS, kaum Kristen fundamentalis Kristen menitipkan suaranya pada calon-calon Presiden tertentu, meskipun mereka mengecam praktik-praktik kenegaraan yang sekuler. Di Indonesia pun fenomena semacam ini lazim terjadi.

Akan tetapi, umat Islam diajarkan bersikap adil terjadap negara. Jangan menempatkan peran negara di atas peran aqidah. Tidak boleh menempatkan peran negara secara berlebihan, sehingga, seolah-olah Islam sudah tidak ada lagi, setelah tidak ada negara Islam. Yang diwajibkan oleh Allah SWT adalah tiap-tiap Muslim berusaha menjadi orang yang bertaqwa secara maksimal; berusaha sekuat tenaga menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Orang Muslim bisa menjadi taqwa, di mana saja dan kapan saja; baik ia hidup di dalam sebuah negara yang menerapkan sistem Islam atau tidak. Orang Muslim di Indonesia bisa menjadi orang taqwa, baik di saat hidup di bawah pemerintahan penjajah Belanda yang kafir atau di bawah Kerajaan Demak. Orang Muslim di Jakarta, InsyaAllah bisa menjadi taqwa, apakah yang memimpin Jakarta adalah Foke-Nara atau Jokowi-Ahok. Akan tetapi, tentu saja, jika pemimpinnya Muslim dan taqwa, mereka akan mendorong rakyatnya untuk menjadi taqwa. Jika pemimpin zalim dan kafir, tidak mungkin mereka akan menuntun rakyat ke arah jalan taqwa. Ironis sekali, dalam banyak acara Pilkadal (pilihan kepada daerah langsung) isu iman dan taqwa ini tidak dipentingkan. Hanya soal perut (ekonomi) yang ditonjolkan.

Jadi, yang akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah di akhirat nanti adalah masalah iman dan amal ibadah seseorang; bukan soal dia ikut jamaah apa dan berapa besar kelompoknya! Karena itulah, kita patut mengevaluasi, apakah amal ibadah kita selama Ramadhan telah memberikan tambahan nilai yang signifikan bagi perbendaharaan amal baik kita di akhirat nanti? Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang bangkrut (muflis) karena banyaknya amal baik kita yang terpaksa diberikan kepada orang lain, sebab semasa hidup di dunia, kita banyak menzalimi orang lain!

****

Sebuah fenomena yang menyedihkan masih menggelayuti kehidupan umat Islam saat Ramadhan dan Idul Fithri tahun ini, yaitu fenomena perpecahan dan saling benci antar sesama Muslim. Di sejumlah daerah, antar aktivis organisasi Islam, perpecahan itu bahkan sudah meningkat, menjadi konflik dan bentrok fisik. Satu kelompok menuduh kelompok lain tidak menjalankan Sunnah, pegiat bid’ah, dan sebagainya, sehingga terus-menerus dicerca dan dicaci maki sebagai calon penghuni neraka. Tidak tahan dengan cercaan semacam itu, karena merasa massanya lebih banyak, kelompok yang satu menggalang dukungan massa untuk mengusir atau menghancurkan sarana-sarana fisik kelompok yang dianggap lebih lemah.

Anehnya, fenomena semacam ini juga terkadang menjangkiti orang-orang yang mengaku berjuang untuk Islam. Padahal, sesama Muslim diwajibkan saling mengasihi, saling menasehati, bukan saling mencaci-maki. Para dai sering berkhutbah, menyampaikan hadits Nabi, tidak beriman seorang diantara kamu, sampai ia mencintai apa yang baik untuk dirinya, juga baik untuk saudaranya. Katanya, sesama Mukmin itu saudara, seperti satu tubuh. Jika saudaranya tertimpa musibah, ia ikut merasa sakit. Jika saudaranya senang, ia pun turut senang. Itulah indahnya persaudaraan dalam Islam. Bahkan, kita diajarkan doa yang indah, yang selalu mendoakan saudara-saudara kita yang telah wafat, dan semoga Allah menghilangkan perasaan dendam kepada sesama Muslim.

Tapi, bagaimana faktanya di lapangan? Apakah ajaran ukhuwah itu sudah kita coba sekuat tenaga untuk dilaksanakan?

Sungguh aneh, di sejumlah kampus yang saya kunjungi, saya masih mendapat berita adanya perpecahan dan saling jegal di antara sesama aktivis dakwah, hanya karena beda kelompok atau jamaah, yang memiliki tujuan yang sama, tetapi punya manhaj yang berbeda dalam mencapai tujuan. Padahal, jika sama-sama memahami, para aktivis dakwah dari berbagai kelompok itu sedang menghadapi tantangan yang sangat besar, di depan hidung mereka, yang andaikan mereka bersatu pun, belum tentu mereka menang. Tantangan itu adalah gerakan sekularisme dan liberalisme di kampus-kampus yang dirancang dan dilaksanakan dengan sistematis dan didukung kekuatan global.

Memang, pada akhirnya, perjuangan Islam akan memetik kemenangan – dengan izin Allah – jika mereka mampu melakukan kerja cerdas, kerja keras, dan kerja ikhlas. Yang terakhir ini tidaklah mudah. Keikhlasan memerlukan dasar keimanan yang kokoh, keyakinan akan kehidupan akhirat yang sangat mendalam, dan juga latihan-latihan jiwa yang sungguh-sungguh dan terus-menerus. Kita perlu keikhlasan dalam mengkritik dan juga sekaligus keikhlasan dalam menerima kritik. Dua hal itu tidaklah mudah. Sekali lagi, itu tidaklah mudah!

Tapi, kita tidak punya pilihan, jika ingin mendapatkan kemenangan dari Allah Subhanahu Wata’ala. Rasa-rasanya pertolongan Allah tidak mungkin akan datang jika di dalam hati para aktivis dakwah masih diselimuti perasaan iri hati, dengki, kebencian, dan kesombongan. Di sinilah pentingnya latihan tazkiyyatun nafs (pensucian jiwa). Kita pasti memiliki perbedaan dengan banyak pihak. Tetapi, perbedaan itu tidak sepatutnya menanamkan sikap kebencian pada sesama. Betapa indahnya jika antar jamaah atau kelompok mau saling menjaga silaturrahim, menanamkan sikap saling memahami perbedaan, tanpa menghilangkan budaya taushiyah dalam kehidupan mereka. Sikap kritis tidak harus berdampak pada saling benci dan dendam, sehingga untuk saling tukar senyum dan tegur sapa pun terasa mahal.

Itulah pentingnya puasa Ramadhan dan semua ibadah yang kita jalani! Dan itulah sebenarnya tujuan hidup kita; bagaimana dengan ibadah yang kita lakukan, kita semakin dekat dengan Allah, semakin mencintai ajaran-ajaran Nabi-Nya, rindu untuk beramal shalih, dan membenci kemaksiatan dan kemunkaran, serta semakin merasakan kebahagiaan dan ketenangan dalam kehidupan dunia. Semua itu hanya bisa tercapai jika kita yakin dengan kehidupan akhirat.

Jika seorang pejuang Islam ingat akhirat, dia tidak akan bersikap tamak dan rakus dalam menghimpun jamaah; sebab di akhirat, yang dinilai oleh Allah bukan itu. Yang dinilai adalah kebenaran dan keikhlasannya dalam berjuang. Ada Nabi yang selama ratusan tahun hanya dapat sedikit pengikut. Seorang pejuang yang mukhlis justru akan berpikir keras untuk menambah sebanyak-banyak pengikut, demi bermegah-megahan dan berbangga-bangga dengan banyaknya anggota, karena tanggungjawab yang dipikulnya pun semakin berat.

Ada kisah indah, seorang mahasiswa S-3 Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor, menceritakan hasil kunjungannya ke sebuah pesantren, di mana Sang Kiai menolak bantuan materi yang diberikannya, dengan alasan takut santrinya akan bertambah dan ia tidak mampu lagi mengajarnya! Kisah semacam ini cukup langka. Tapi, bisa menjadi bahan introspeksi kita semua. Bahwa yang kita tuju sebenarnya keridhaan Allah, di dunia dan akhirat; bukan berbangga-bangga di dunia dan menebar kebencian pada sesama Muslim.

Akhirnya, apa pun yang sedang kita perjuangkan, semoga puasa Ramadhan kita tahun 1433 Hijriah benar-benar memberi makna yang mendalam bagi peningkatan derajat taqwa kita semua. Amin.*/Padangan, 24 Agustus 2012

Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

sumber: hidayatullah.com

Problematika Ummat Islam Dan Rekonstruksi Kebangkitannya (4)

Oleh: Sunmanjaya Rukmandis

Markaz al-‘Alami al-Wasathiyah, kuwait (ilustrasi)

III. Merekonstruksi Potensi Kebangkitan Umat

Melihat problematika dan sikap negatif yang ada dapat membuat kita tercenung, merenung seorang diri. Namun, sikap pasrah dan bertopang dagu tidaklah mungkin dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Malah mengkristalkan permasalahan dan mengundang masalah-masalah berikutnya.

Upaya-upaya multi-approach dalam mendiagnosa dan menganalisa permasalahan tersebut beserta latar belakangnya tidak boleh melupakan dimensi Rabbaaniyyah (theosentris), Nabawiyyah (profetis), dan Insaaniyyah (humanitis).

Perlu disadari bersama bahwa, merekonstruksi kebangkitan umat adalah sebuah ibarat lahan wilayah yang sangat luas, dalam waktu yang bersamaan belum ada kejelasan status kavling dan pemegang otoritasnya, kecuali umat islam itu sendiri yang wajib menyadarinya laksana terhadap barangnya yang teramat berharga yang pernah hilang yang kemudian ditemukannya kembali.

Antara lain, tersebab hal itu pulalah maka kerja kolosal dan mondeal, yang bukan saja menguras potensi, material dan immaterial, bahkan juga melibatkan pelbagai mata rantai generasi secara turun-temurun, berkesinambungan, dan keterpaduan yang konstan dan konsisten. Oleh sebab itu setiap Muslim diharapkan tidak marginal apalagi periferal menjadi alienasi mengucil. Seluruhnya diharapkan all-out dan berjibaku dalam sebuah adagium: “hidup dalam keadaan mulia dan mati dalam syahid”.

Guna menyahuti sejumlah aspirasi di atas, berikut ini disajikan sebuah akomodasi alternatif yang sangat terbuka atas segala masukan konstruktif-obyektif, sebagai ikhtiar mencapai kesatuan visi dan persepsi dalam menanganinya. Tawaran termaksud di antaranya:

1. Penyucian jiwa,
2. Pembangunan pemikiran,
3. Penyadaran Ideologis,
4. Penguasaan medan,
5. Pengguliran strategi dan taktik,
6. Penataan soliditas,
7. Pendayagunaan potensi.

1. Penyucian jiwa

Tidak ada ruhbaniyyah (santo, orang suci, kerahiban) dalam Islam, karena setiap manusia disertai lupa dan salah, sehingga ia tidak dibenarkan menganggap dirinya suci (QS an-Najm: 32). Dalam kaitannya dengan hal ini, Allah swt membuka pintu taubat untuk dosa apapun tanpa terkecuali musyrik (QS Faathir: 39), selama dosa tersebut bukan kepada manusia, yakni hanya kepada-Nya.

Program tathahhur dan tazkiyatun nafs (QS at-Taubah: 108) adalah upaya penyediaan personel untuk disiapkan agar menerima pembinaan dan penataan berikutnya (QS al-Baqarah: 222 dan 247).

2. Pembangunan Pemikiran

Ruh yang suci dan jiwa yang bersih adalah modal dasar yang siap tatar. Pembinaan pada aspek iman dan aqidah, syari’ah dan ibadah, serta akhlak, dan syakhshiyyah. Begitu juga hal-hal yang berkenaan dengan fikrah dan manhaj.

Pembinaan yang menyeluruh, termenej, terarah, terpadu dan berkesinambungan kelak menjamin ke arah ashalah fikriyyah, yang sangat mungkin menjamin immunitas yang tidak akan terkontaminasi oleh fikrah munharifah. Lebih jauh Syaikh Dr. Yusuf al-Qardhawi menegaskan esensi dan urgensi kesatuan fikrah.

3. Penyadaran Ideologis

Kristalisasi pemikiran dan keyakinan akan membentuk ideologi. Bila pemikiran dan keyakinannya tertata, terpola, dan terbina secara Islami, niscaya akan menghasilkan ideologi Islami pula. Sebagai ajaran yang universal (QS al-Anbiya: 107) dan komprehensif, Islam tidak hanya menitik-beratkan pada aspek kultural, karena Islam memiliki spektrum yang meliputi seluruh aspek kehidupan umat manusia, termasuk Ideologi.

Dengan demikian, kerangka ideologi akan melahirkan metodologi yang membimbing ke arah penyusunan konsep-konsep strategis dan panduan-panduan teknis-taktis, dalam upaya menyongsong dan mempersiapkan kebangkitan umat.

4. Penguasaan Medan

Setiap pribadi Muslim adalah elemen dari rangkaian lokomotif dan gerbong kebangkitan umat. Oleh karena itu setiap personel harus memiliki pengetahuan menyeluruh mengenai ruang-lingkup tugas dan peta wilayah kerjanya.

Penguasaan medan juga meliputi penguasaan informasi dan komunikasi, data dan fakta, yang selalu akurat, aktual, dan siap pakai atas segala kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman, yang dapat dijadikan sebagai modal untuk pengambilan keputusan berikutnya. Selain itu, setiap personel dalam melihat personel lainnya dengan penuh tatapan ukhuwwah, sehingga dalam pengembanan amanah dan jalinan kerja antarpersonel akan tampak dan lebih terasa bobot kerja samanya.

Melalui dirasah dan takhtith (studi, perencanaan, dan pengembangan) para aktivis merancang dan menetapkan titik-titik pusat peubah (marakizut taghyir) yang sekaligus merajut mata rantainya dan tata hubungannya. Sehingga medan pusat (ummul quraa, secara geografis dan demografis) dan daerah sekitarnya (buffer-zone) tertangani penuh dan dominan (ma’rifah dan saitharah).

5. Pengguliran Strategi dan Taktik

Pada fase ini, dimulai dengan langkah-langkah memperkenalkan dan mensosialisasi program-program strategis berikut langkah teknik dan taktiknya. Dalam hal ini diperlukan pemilihan personel tertentu berdasarkan kriteria yang disepakati.

Selanjutnya kepada mereka disosialisasi garis-garis besar program strategis secara terencana, terprogram, terarah, dan terpadu dengan termin waktu yang berkala. Di samping itu, pada waktu-waktu tertentu dilakukan simulasi dan uji coba, guna menyiapkan dan mengukur kelayakan potensi dan kesigapannya.

Dalam hal ini tentu saja tidak berarti menjual informasi atau strategi yang memang wajib dirahasiakan, melainkan lebih kepada prioritas sosialisasi konsep-konsep umum yang memang harus dimasyarakatkan, guna menyiapkan dan meningkatkan mutu kecerdasan dan kepedulian bangsa (QS al-Kahfi: 19-20).

6. Penataan Soliditas

Betapapun kekuatan potensi yang dimiliki, akan sangat mudah diintervensi bahkan dihancurkan jika tidak disertai dengan penataan, pengorganisasian, dan pengadministrasian serta kekuatan intelijen yang baik. Oleh sebab itu, pembinaan kader-kader yang dirancang sebagai motivator, dinamisator, dan stabilisator harus selalu dalam kontrol, siaga, dan konsolidasi dengan kefahaman koordinasi dan mobilitas prima.

Penataan soliditas tidak mudah diukur dengan rentang waktu tertentu. Di dalam sejarah kita dapat mengambil ibrah yang cukup mahal dan amat
berarti. Misalnya, Ashaabul Kahfi dan Daarul Arqam pada masa kehidupan Rasulullah saw. Mereka adalah kader-kader militan, solid, siaga, dan siap pakai.

7. Pendayagunaan Potensi

Setiap pribadi Muslim adalah potensi pertama dan utama untuk melaksanakan proyek-proyek ‘izzul Islaam wal Muslimiin. Kendatipun demikian, tetap harus diadakan multi level rekruitmen kader-kader ujung tombak yang akan memimpin umat dalam skala organisasional, administratif, manajemen, dan operasional.

Dalam hal rekruitmen ini sebisa mungkin diusahakan agar dapat dengan jitu memilih benih-benih tersebut sesuai dengan standarisasi dan kriterianya. Selain itu, pun telah tersediakan paket-paket pembinaan dan pelatihan, baik yang berkenaan program pembinaan ‘aqliyah, ruhiyah, dan ma’nawiyah; kepemimpinan dan keterampilan; fisik dan kemiliteran; serta hal-hal penting dan urgen lainnya.

Seumpama belum tiba saatnya untuk mendayagunakan potensi, baik matrerial maupun personel, janganlah memaksakan. Sekiranya hal ini dilakukan, diniscayakan hanya akan menghasilkan sebuah prematur dan pembinasaan diri. Sebaliknya, jika sudah saatnya maka tunaikanlah. Ketepatan waktu, partisipasi dan mobilisasi, insya Allah dalam naungan dan pembelaan-Nya, seraya menggapai kemenangan (QS Muhammad: 7).

Penataan potensi individu dapat menghindarkan terjadi asas figuritas dan senioritas. Kesenioran dan keyunioran eksistensial diakui dan dihormati, tetapi bukan sebagai doktrin. Ketokohan figur real diakui dan dihormati, tetapi bukan sebagai yudisial. Dengan demikian, yang tampil adalah konfigurasi ideal, harmonis dan realistik.

IV. Penutup

Pada akhirnya umat ini harus meyakini bahwa, sangat tidak mungkin problematika dan kebangkitannya itu akan diurus oleh yang lain. Tidak ada alternatif, melainkan mereka harus bersatu, menyingsingkan lengan baju, berjuang optimal menyongsong fajar kebangkitan Islam dan Muslimin (QS as-Shaff: 14).

Kurang apa lagi? Potensi sumberdaya Nilai, yakni al-Qur’an, as-Sunnah, khazanah peradaban dan keilmuan, serta wibawa sejarah tinggal dijadikan bekal. Potensi sumberdaya Insani, secara jumlah dan mutu senantiasa meningkat sesuai dengan perkembangan zaman, sains dan teknologi. Mereka hidup, bermasyarakat, berasimilasi, berda’wah, berprestasi di banyak negara Barat, sehingga keberadaan dan kualitasnya diperhitungkan dunia. Begitu pula potensi sumberdaya Alami alhamdulillaah telah umat miliki, melimpahi persada. Kini, umat ini harus bertanggung jawab kepada sejarah dan masa depan.

Malaise al-Faruqi dan refleksi Dr. Sir Muhammad Iqbal hanyalah akan menjadi himpunan ratapan dan harapan. sedangkan umat tetap terpuruk pada kehinaan dan kejumudan. Wahai, diri beriman. Ternyata, Allah swt pun tidak akan mengubah status umat ini, sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka (QS al-Anfaal: 53; ar-Ra’d: 11). Kesempatan demi kesempatan berlalu tanpa kejelasan dan kemajuan. Tinggal lagi mereka berproklamasi; sekarang, atau tidak sama sekali!

Namun sebongkah keyakinan membersit di celah-celah palung kalbu; insya Allah, Optimistis dalam kebersertaan Allah swt. (QS Ali Imran: 139-140 dan 200). Cikal bakal itulah yang akan diberkati Allah swt sebagai kemunculan generasi dan momentum alternatif (QS at-Taubah: 19; al-Mujaadilah: 22) yang kelak kembali mendaulatkan ‘Izzul Islaam wal Muslimiin (QS al-An’am: 82; al-A’raaf: 96). Wallahu a’lam.

Sebelumnya : Problematika Ummat Islam dan Rekonstruksi Kebangkitannya (1) , (2) dan (3).


KEPUSTAKAAN
1. Abdul Qadir Abu Faris, Dr., Ujian, Cobaan, Fitnah dalam Da’wah (Terj.), Gema Insani Press, 1993.

2. Abdullah Nashih ‘Ulwan, Dr.,Persaudaraan Islam (Terj.), Al Islahy Press, Jakarta, 1405/1985.

3. Abdullah Nashih ‘Ulwan, Dr., Membina Generasi Muda yang Ideal (Terj.), Karya Utama, Surabaya, TT.

4. Farid Ahmad Okbah/Drs. Hartono A. Jaiz, Solidaritas Islam Jalan Menuju Persatuan, Darul Haq, Jakarta, 1993.

5. Fathi Yakan, Komitmen Muslim kepada Harakah Islamiyyah (Terj.), Cetakan Ketiga, Najah Press, Jakarta, 1993/1413.

6. Isma’il Raji Alfaruqi, Prof. Dr., Islamisasi Pengetahuan (Terj.), Cet. I, Pustaka Salman ITB, Bandung, 1404/1984.

7. Muhammad Al Ghazaly, Syaikh, Dr., Keprihatinan Seorang Juru Da’wah (Terj.), Cetakan I, Mizan, Bandung, 1914/1984.

8. Sa’id Hawwa, Syaikh, Al Islam (Terj.), Al Islahy Press, Jakarta, 1409/1988.

9. M. Isa Anshary, KH, Mujahid Da’wah, Cetakan II, CV. Diponegoro, Bandung, 1979.

10. M. Natsir, Dr., Fiqhud Da’wah, Cetakan Keempat, Media Da’wah, Jakarta, 1403/1983.

11. Sayyid Qutb, Dr., Fiqh Da’wah (Terj.), Cetakan Pertama, Pustaka Amani, Jakarta, 1986.

12. Umar Sulaiman Al-asyqar, Dr., Mengembalikan Citra dan Wibawa Umat (Terj.), Cet. I, Wacana Lazuardi Amanah, Jakarta, Shafar 1415/Juli 1994.

13. Yusuf Alqardlawi, Syaikh Prof. Dr., Menuju Kesatuan Fikrah Aktivis Islam (Terj.), Cet. I, Robbani Press, Jakarta, 1412/1991.

14. Zainal Abidin Ahmad, H.,Konsepsi Politik dan Ideologi Islam, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1977.

15. Zainal Abidin Ahmad, H.,Dasar-dasar Ekonomi Islam, Cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1979.


* Penulis adalah Staf Pengajar IPB Bogor

sumber: ISHLAH, Edisi 82 Tahun IV, September 1997.

%d bloggers like this: