Posts from the ‘DUNIA PENDIDIKAN’ Category

Tsaqofah : Sains Islam dan Nilai Pancasila Kita

Program pemerintah seperti kurikulum 2013 yang mengedepankan pendidikan karakter memberikan alasan yang lebih kuat perlunya pendidikan sains berbasis nilai keimanan.

thumb

Ilmuwan Islam sering disembunyikan sejarah. Ibnu Sina (dikenal Avicenna) bapak kedokteran yang menjadi rujukan Barat. Ibnu Haitham dikenal Barat, ahli sains, falak yang mengilhami Boger dan Bacon menciptakan mikroskop dan al-Khwarizmi yang dikenal sebagai Bapak Aljabar.

Oleh: Andi Ryansyah

SEBAGIAN orang masih berpendapat, sains bersifat netral. Padahal pemisahan ilmu, yang dalam konteks seperti ini, disebut Prof Mohammad Syed Naquib  al-Attas sebagai sekularisasi.

Di zaman kejayaan Islam, ulama dan saintis sesungguhnya bersatu. Namun sekarang ulama seolah-olah tidak mengerti sains dan saintis tidak mengerti Islam. Ini disebabkan oleh  konsep pendidikan Indonesia yang masih memisahkan agama dan sains.

Peran sains menjadi hanya semata-mata untuk  keperluan praktis, misal untuk membuat robot, obat, makanan, pupuk, kendaraan, alat elektronik dan lain sebagainya.

Padahal dahulu yang dicontohkan oleh ulama kita, mereka belajar sains untuk juga makin dekat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sehingga jika sains berkembang, keimanan dapat makin mendalam.

Sebenarnya tujuan penciptaan manusia di dalam Al-Quran ada dua,yaitu menjadi hamba Allah dan khalifah/pemimpin  di muka bumi. Sayangnya, hanya tujuan sebagai khalifah di muka bumi, sains lebih dimanfaatkan. Seperti untuk memakmurkan bumi dan mengelola alam.Tapi sebagai hamba Allah nya dikesampingkan.

Bila sains disekularkan, maka bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Menurut Osman Bakar,  Islam bukanlah agama yang mengatur ibadah saja, melainkan jalan hidup yang lengkap dan sempurna, bahkan sebuah peradaban yang integral dan menyeluruh serta melingkupi segala aspek kehidupan manusia. (Osman Bakar, Tauhid dan Sains: Perspektif Islam tentang Agama dan Sains, Pustaka Hidayah, 2008). Oleh karena itu, tidak ada satu hal pun dalam kehidupan manusia yang tidak diatur oleh Islam, termasuk sains. Bahkan sebagian ulama menyamakan pentingnya memahami dan merenungkan alam dengan Al-Qur’an.

Dapat dilihat dari penggunaan istilah yang hampir sama untuk menyebut kandungan Al-Qur’an sebagai ayat qauliyyah, sementara alam sebagai ayat kauniyyah. Keduanya sama-sama ayat Allah. Jadi tidak dapat dipisahkan antara alam dan Al-Qur’an.

Wendi Zarman menegaskan bahwa tujuan belajar sains yang paling utama adalah semakin mengenal Allah. Masalahnya orang membatasi belajar sains dengan hanya melihat fenomena alam saja. Seperti  yang diumpamakan Imam Ghazali, seekor semut yang melihat pena menulis di atas kertas. Semut hanya memandang tulisan itu ada karena pena. Padahal jika semut memandang lebih jauh ke atas, ada manusia yang menggerakkan pena itu. Sains berhenti pada pena saja, tidak melihat ada Allah yang mengatur alam ini.  [Dr. Wendi Zarman, Mengislamkan Sains: Apanya yang Diislamkan, hidayatullah.com, Jum’at, 7 Desember 2012]

Ada hal yang menarik, ulama dahulu sering mengatakan hikmah dari fenomena alam. Ketika hujan kita sebenarnya dapat mengambil hikmah. Tetesan air hujan yang bentuknya unik seperti balon, kecepatannya seperti  terhambat. Bayangkan jika batu dijatuhkan dari ketinggian sekian kilometer, akibatnya dapat membunuh orang. Namun Maha suci Allah, Allah menciptakan bentuk tetesan air hujan yang unik sehingga tidak membahayakan orang. Kita juga dapat mengambil hikmah dari sifat konduktor logam.

Bayangkan seandainya udara memiliki sifat konduktor, lingkungan kita akan berbahaya. Artinya alam ini memang diatur. Sudah sepantasnya menimbulkan pengakuan kita atas kebesaran Allah.

Bila dihubungkan dengan pendidikan, masalah sains yang paling mengkhawatirkan adalah sekularisasi, yaitu ketika agama dicabut dari sains. Ini kesalahan yang besar karena dapat menjadikan seseorang yang “setengah-setengah” dan berwajah dua.
Satu sisi, seseorang jadi yakin ketika belajar sains tentang hukum kekekalan energi ketika belajar sains yang mengatakan energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi hanya dapat berubah dari bentuk energi satu ke bentuk energi lain. Padahal hukum itu memiliki dua pengertian yang bertentangan dengan Islam.

Pertama, energi bukan zat ciptaan, artinya energi itu ada sendirinya dan menyangkal adanya Allah, Maha Pencipta.

Kedua, energi tidak dapat dimusnahkan, artinya energi akan selalu kekal. Sisi lain ia yakin juga ketika belajar agama tentang langit dan bumi beserta seluruh isinya yang merupakan ciptaan Allah. Selain itu, seluruh alam bersifat fana dan akan musnah sesuai kehendak penciptanya. Ini berarti energi adalah salah satu ciptaan Allah yang suatu saat akan musnah juga.

Indonesia sebagai negara yang didirikan atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa sepatutnya menjadikan nilai-nilai agama sebagai dasar dalam seluruh bidang kehidupan rakyat Indonesia, termasuk bidang pendidikan sains.

Sila pertama pancasila yang bunyinya Ketuhanan Yang Maha Esa semakin menguatkan hal ini karena mencerminkan konsep manusia ideal menurut bangsa Indonesia yaitu manusia yang berketuhanan yang maha esa atau dapat disebut juga manusia yang beriman.

Kemudian salah satu tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sofyan Sauri menyebutkan bahwa tujuan ini menunjukkan bahwa nilai inti pembangunan karakter bangsa berorientasi mengembangkan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ini menunjukkan bahwa nilai keimanan menjadi tujuan utama pendidikan di Indonesia sehingga pendidikan sains harus dilandasi oleh tujuan ini.

Program pemerintah seperti kurikulum 2013 yang mengedepankan pendidikan karakter memberikan alasan yang lebih kuat perlunya pendidikan sains berbasis nilai keimanan.

Dalam kurikulum 2013, kompetensi inti dan kompetensi dasar IPA SMP/MTs yang pertama kali disebutkan mengenai penanaman dan penerapan nilai keimanan.

Menurut Sayid Sabiq, keimanan bukan sekadar ucapan dalam hati atau keyakinan yang memenuhi hati, tapi terwujud dalam tingkah lakunya.

Demikian juga Buya Hamka mengatakan bahwa tidaklah disebut beriman jika tidak diikuti amal shalih, begitu juga tidak disebut beramal shalih jika tidak timbul dari iman. Artinya akhlak mulia hanya dapat diwujudkan oleh seseorang yang memiliki keimanan.*

Penulis adalah mahasiswa FMIPA Univeritas Negeri Jember (UNJ)

http://www.hidayatullah.com/

Advertisements

Belajar Dari Sekolah Monyet : Mengajarlah Dengan Hati.!

sekolah monyet
sekolah monyet (ilustrasi)
Para orangtua dan guru yang berbahagia ….
Sudah tahukah Anda bahwa di Thailand ada sebuah sekolah akademi yang didirikan dengan siswanya terdiri dari para monyet. Ya …para monyet yang nantinya akan dipekerjakan di perkebunan-perkebunan besar diThailand. Jadi ternyata Thailand si negara penghasil perkebunan nomor satu di dunia tersebut, pekerjanya sebagian adalah para monyet… ya para monyet yang dididik di sekolah akademi monyet milik Khuru Samporn. Atau yang lebih terkenal sebagai Samporn Monkey Training College yang didirikanpada tahun 1957 di District Kancha-nadit, Provinsi Surat Thani.Ternyata tempat ini tidak hanya sebagai akademi pelatihan monyet saja, melainkan telah berkembang menjadi objek wisata yang banyak dikunjungi oleh turis asing manca negara, dan tak jarang dari mereka adalah para pendidik yang khusus berkunjung untuk melihat langsung dan mempelajari metode pendidikan disana.
Para orang tua dan guru yang berbahagia ….Sungguh suatu kebesaran jiwa yang luar biasa dari para turis asing yang telah mau belajar dari sekolah ini … ya belajar dari sekolah monyet, karena banyak dari  mereka yang datang ternyata berprofesi sebagai pendidik di negaranya.Ada apakah gerangan yang menarik dari sekolah ini, hingga berhasil mengundang para pendidik dari sekolah manusia untuk studi banding kesini …?
Para orangtua dan guru yang berbahagia mari kita simak apa saja keunikan yang dimilikinya.
Gua-Kreo
1. Sekolah adalah tempat yang dibuat senyaman mungkin untuk para monyet. Khuru Samporn menjelaskan bahwa para monyet ini akan dapat menyerap ilmu pelajaran dengan baik, apabila dia benar-benar merasa nyaman dan menganggap bahwa sekolah adalah tempat favoritnya. Oleh karena itu bentuk sekolahnya dibuat sedemikian mirip dengan tempat habitat alami para monyet dulu berada.
monyet
2. Proses Penerimaan Siswa Khuru Samporn tidak pernah membeda-bedakan calon siswa, baik yang jinak, liar, setengah liar atau amat sangat liar. Semua calon siswa diterima dengan tangan terbuka tanpa perlu ada ujian saringan, asalkan usianya sudah mencukupi. Karena Usia yang kurang dari 2 tahun, mestinya monyet tersebut masih harus hidup dengan ibunya untuk mendapatkan kasih sayang sebagai anak-anak dan belum layak untuk dipaksa menjadi pekerja perkebunan, kata Khuru Samporn. … Bukan main … betapa arif dan bijaksananya beliau.
images (3)
3. Mendidik dengan penuh kasih sayang. Khuru Samporn selalu menekankan tidak boleh digunakan kekerasan, pukulan, dan hukuman kepada para monyet; melainkan melalui pendekatan dengan penuh kasih sayang sebagaimana layaknya orangtua pada anaknya. Khuru Samporn melakukan pendekatan mulai sejak monyet tersebut berperilaku sangat liar hingga saat lulus nanti perilakunya akan menjadi sangat jinak dan kooperatif dengan metode yang penuh kelembutan. Mulai dari memberi makan, mengajak main, membelai, dan sebagainya.
images (1)

4. Setiap monyet yang ingin bersekolah dapat masuk kapan saja sepanjang tahun asalkan usianya sudah mencukupi. Di sana tidak mengenal dan tidak ada yang namanya tahun ajaran monyet.

smart-monkey

5. Mendidik monyet berdasarkan kemampuan dan kecepatan belajar masing-masing. Ternyata masing-masing monyet memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda-beda, tutur Khuru Samporn.

13835456561824885497

Calon pembalap F-1 (Ilustrasi)
Angry animal ... a monkey in India.
Calon Reporter (ilustrasi)
6. Setiap siswa dididik untuk berhasil menguasai keahlian-keahlian dasar, menengah dan tinggi. Tanpa ada satu siswa pun yang gagal. Jadi saat mereka lulus masing-masing monyet memiliki keahlian yang lebih kurang sama, satu sama lainnya.
images
7. Khuru samporn juga bertanggung jawab untuk memperbaiki perilaku monyet termasuk ada kalanya ada monyet yang kecanduan rokok, dan gemar merokok akibat kebiasaan orang membuang puntung sembarangan dan dipungut oleh monyet tersebut. Dengan sabar Khuru Samporn melakukan terapi penyembuhan bagi sang monyet hingga ia benar-benar berhenti merokok. Khuru Samporn belum pernah mengeluarkan siswanya karena perilaku bermasalah ataupun dengan alasan ketidak mampuan belajar. Khuru Samporn merasa bertanggung jawab terhadap setiap muridnya meskipun dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.
cinta monyet
Masih banyak lagi nilai-nilai luhur pendidikan yang diterapkan di akademi ini dalam proses belajar mengajar seperti belajar dengan melakukan (leaning by experience), belajar dari yang mudah ke yang semakin sulit, guru adalah sahabat bagi siswa, proses belajar harus menyenangkan, memperlakukan siswa sesuai kebutuhan dan kemampuannya masing-masing, dan lain-lain.
Dan yang paling mengagumkan adalah bahwa akademi ini tidak melakukan ujian akhir bagi kelulusan para siswanya juga tidak mengeluarkan ijasah atau gelar bagi para lulusannya. Melainkan menggaransi bahwa setiap siswa lulusannya akan dapat melakukan pekerjaannya dengan sangat mahir sesuai tingkatan pendidikan yang diikutinya. Dan apabila ternyata ada siswa yang dianggap tidak memuaskan, maka siswa tersebut berhak untuk mendapatkan pendidikan ulang tanpa dipungut biaya tambahan.
images (5)
Para orang tua dan guru yang berbahagia ….
Ternyata hingga saat ini para pemilik monyet yang menyekolahkan monyetnya di Samporn Monkey Training College merasa sangat puas dan belum pernah ada komplain terhadap hasil kerja para monyet lulusan akademi ini.
Para orang tua dan guru yang berbahagia ….
Sungguh sekolah yang luar biasa bukan? Semakin hari sekolah ini semakin terkenal dan dipenuhi oleh para siswa dari berbagai pelosok daerah di Thailand karena keberhasilannya mencetak lulusan-lulusan unggul berkualitas bagi para pemilik perkebunan.
Sekolah ini juga telah dikunjungi oleh para praktisi pendidikan dan organisasi-organisasi pendidikan dunia, seperti UNESCO, UNICEF, ONEC, dan sebagainya untuk dijadikan sebagai sumber pembelajaran moral dan wacana membuka wawasan untuk dapat membangun konsep pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak manusia.
guru manusia
Para orang tua dan guru yang berbahagia ….
Jika Anda penasaran dan kebetulan berkunjung ke Thailand mungkin Anda bisa mampir sebentar ke Samporn Monkey Training College untuk dapat melihat secara langsung barang sejenak, agar nantinya dapat berbagi cerita pada para guru di tempat anak-anak kita bersekolah atau pada siapapun yang peduli akan nasib pendidikan bangsa ini.
Catatan: gambar ilustrasi dari berbagai sumber di internet.

Sumber:

Buku Ayah Edy Judul: I love you Ayah, Bunda Penerbit: Hikmah, Mizan Group

https://groups.google.com

Quantum Karakter di Zaman Nabi Ibrahim AS

kartun-dialog-ngaji-dakwah-250x205

Oleh:  Maukuf, S.Pd. M.Pd.

Beberapa saat lalu kita telah belajar tentang bagaimana nabi Ibrahim AS dalam hidupnya, saat ini pula, saudara kita seiman dan se Islam telah menjalankan syariat nabiyullah Ibrahim AS, haji di tanah suci Mekah, tentu sudah seharusnya kita mengambil banyak pelajaran dalam kehidupan nabi Ibrahim, di mana di sana terdapat sebuah proses pendidikan karakter yang sangat luar bisa, terbukti dengan di akuinya syari’at-syari’at yang di ajarkan oleh Ibrahim masih di jalankan oleh umat muslim di seluruh dunia sampai hari ini bahkan sampai akhir kelak.

Kehidupan nabi Ibrahim AS menjadi fenomenal di karenakan karakter mulia yang di ajarkan kepada istrinya Hajar dan anaknya Ismail. Sebuah tolok ukur keluarga yang di dambakan oleh umat manusia di zaman sekarang ini, namun hampir semua masyarakat dunia, khususnya masyarakat Indonesia lupa terhadap karakter apa yang harus di bangun, dari mana mulai di bangun dan kapan harus mulai di bangun? Alhasil pendidikan karakter hari ini di bangsa kita, layaknya riuh suara di telan malam yang tiada maknanya.

Mengkaji model pendidikan karakter zaman Ibrahim menjadi sebuah keharusan bagi kita, karena kita para perindu karakter mulia, karena kita adalah pemangku kepentingan terhadap karakter (akhlaq) yang meyakini bahwa dengan karakter akan mampu melepaskan resah terhadap pergaulan bebas anak-anak kita, karakter mulia yang mampu memberikan jaminan ketenangan, kebahagiaan bagi kita semua baik dalam pergaulan sehari-hari dan dalam kehidupan anak-anak yang lebih manusiawi.

Dalam sejarah, Ibrahim AS mengajarkan karakter kesabaran yang tidak dapat di tandingi oleh manusia sejak Adam AS sampai Muhammad SAW, potret kehidupannya menggambarkan kepada kita bahwa Ibrahim memiliki karakter Sabar yang sungguh mulia dan besar, terbukti dengan kesabarannya ia mampu melewati tantangan dan rintangan yang demikian beratnya.

Kesuksesan Ibrahim dalam Membangun keluarganya disebabkan oleh Karakter Sabar yang dimiliki oleh Ibrahim, sabar tersebut di pengaruhi oleh faktor kepercayaan, Percaya kepada Allah SWT atas semua perintahNya. Bahwa setiap perintah Allah penuh dengan kebaikan terhadap dirinya dan umat manusia.

Kesabaran Ibrahim tergambar saat ia menanti buah hati dalam waktu cukup lama, dan di saat ia mendapatkan Ismail buah hati yang telah lama di nanti, Allah memerintahkan Ibrahim untuk membawa istrinya Hajar di tengah padang pasir yang tandus, kemudian Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail dengan bekal sekantong korma dan sekantong air.

Di saat itu jelas bagi kita semua, terdapat Quantum Karakter yang kita bisa petik, perhatikan karakter apa yang kita bisa ambil pada peristiwa tersebut? Di saat Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail, Hajar berkata, ‘wahai Ibrahim, kenapa engkau meninggalkan kami ditempat yang sepi dan tandus ini? Ibrahim tak mampu menjawab ia terus berjalan membelakangi Hajar, sembari Ibrahim meneteskan air matanya, lalu hajar bertanya lagi, Ibrahim kenapa engkau meninggalkan kami hanya dengan bekal kurma dan air yang sangat sedikit? Ibrahim pun, tak menatap ke hajar dan Ibrahim, karena tak sunggup, air mata Ibrahim terus terjatuh, lalu Hajar bertanya, wahai Ibrahim, apakah ini atas perintah Tuhanmu dan Tuhanku? Lalu ia berbalik dan menganggukkan kepala tanpa bersuara’, karena tak sanggup berkata-kata.

Perhatikan apa yang di sampaikan oleh Hajar, ‘wahai Ibrahim jika ini perintah Tuhanmu dan Tuhanku, maka pergilah, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hambanya yang Taat’ , subhanallah, sungguh luar biasa, Hajar menjadi contoh seorang istri yang memiliki karakter mulia, memiliki keyakinan yang benar terhadap Tuhannya, yaitu berprasangka baik terhadap Tuhannya, dan Hajar mencerminkan bagi kita adalah istri yang tangguh dan pemberani.

Tak kalah luar biasa, karakter yang dimiliki Ismail, ia adalah anak yang sayang dan taat kepada ayah dan ibunya, perhatikan apa yang terjadi saat Ismail bertemu dengan Ibrahim ayahnya, Ismail langsung mendekap ayahnya, lalu Ismail mengajak Ibrahim ayahnya bermain-main, seolah-olah mereka tidak pernah berpisah, padahal ia telah berpisah sampai belasan tahun, ternyata Hajar ibundanya Ismail selalu menceritakan tentang kebaikan-kebaikan Ibrahim kepada Ismail, sebuah proses pendidikan yang tidak pernah putus dilakukan oleh Hajar, walaupun hanya seorang diri.

Dari proses pendidikan yang dilakukan oleh Hajar, Ismail menunjukkan ketaatannya kepada orang tuanya, di saat Ibrahim mengabarkan bahwa Ismail akan disembelihnya, Ismail berkata ‘wahai ayah, jika itu atas perintah Tuhanmu, maka lakukanlah, engkau akan mendapatkanku dari golongan orang yang sabar’, anak yang baru berjumpa dengan ayahnya, kemudian ia akan disembelih oleh ayahnya, Ismail taat dan yakin atas apa yang akan dilakukan ayahnya.

Hal tersebut menggambarkan kepada kita, bahwa  Ibrahim dengan karakter Sabar dan keyakinannya yang tinggi kepada Allah, Ia bisa mendidik Hajar istrinya menjadi istri yang tangguh dan pemberani, Ibrahim juga mampu mengajarkan karakter taat kepada anaknya Ismail, sungguh Quantum (lompatan) Karakter pada keluarga Ibrahim, sangat kita dambakan saat ini, untuk membangun pribadi-pribadi penyabar, pemberani, tangguh, taat pada orangtua dan pada segala perintah Allah, karena karakter-karakter tersebut akan mampu menghadirkan kebahagiaan, ketenangan di dunia dan akhirat, seperti Ibrahim, Hajar dan Ismail.

Semoga kita sebagai seorang pemuda, ayah bisa belajar dari Ibrahim dan bisa menjadi Ibrahim masa kini, buat ibunda, calon ibu dan para muslimah, semoga bisa menjadi Siti Hajar yang tangguh dan pemberani serta menjadi guru di rumah, Buat saudaraku semoga bisa belajar dari Ismail, yang taat pada Allah, Rasulullah dan taat pada orang tua, serta semoga yang telah berhaji dan para jamaah haji yang baru pulang, bisa membawa karakter-karakter Ibrahim dan mampu meneladankan karakter-karakter Ibrahim di rumah, ditempat kerja dan di masyarakatnya.

Semoga bermanfaat,
Salam Pendidikan.

 

*Penulis adalah Aktivis dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Peran Guru : Guru 3P (Pengajar, Pendidik, dan Pemimpin)

kartun-ilustrasi-pendidikan-belajar-mengajar-320x199

Oleh: Taufik Abdullah, S.Si.

Kalau kita lihat pada masa perjuangan pendidikan di negara kita, terutama pada saat proklamasi kemerdekaan. Yang paling berjasa pada saat itu adalah guru. Sebuah kata bijak mengatakan bahwa ‘Kalau ingin melihat kualitas suatu bangsa, lihatlah kualitas gurunya’, artinya bahwa keberadaan guru di sini sangat menentukan kualitas suatu bangsa, dan kualitas suatu bangsa bisa dilihat dari mutu. Peningkatan mutu bermuara pada satu masalah utama, yaitu pendidikan. Pendidikan tidak bisa terlepas dari peran guru. Guru merupakan ujung tombak proses pendidikan. Hebat atau rusaknya pemimpin baru yang dilahirkan bisa sangat dipengaruhi oleh sosok guru.

Indonesia adalah negara yang sedang mengalami perkembangan dari segi system pendidikan, namun jika kita lihat lebih dekat lagi bagaimana kondisi anak-anak muda saat ini adalah sangat memprihatinkan. Anak muda Indonesia tiba-tiba terjebak kasus narkoba, terbukti melakukan seks bebas, tidak ada lagi murid yang patuh pada gurunya, banyak murid yang melawan, seolah tidak ada didikan kedisiplinan dari sang guru. Kasihan deh anak-anak muda Indonesia. Para figure public idola mereka tak konsisten memberikan keteladanan, akibatnya, anak muda zaman sekarang menjelajah sendiri model yang diciptakan kelompok mereka sendiri untuk memuaskan hasrat pencarian jati diri mereka. Melihat kondisi pemuda Indonesia yang seperti ini, tidak ada lain yang patut menjadi idola dan teladan bagi mereka adalah guru, Untuk mewujudkan kualitas suatu bangsa, guru mempunyai tiga peran, yaitu guru sebagai pengajar, guru sebagai pendidik, dan guru sebagai pemimpin.

Guru sebagai pengajar, dalam konsep pertama guru pengajar adalah guru yang hanya mentransformasi pengetahuan yang dimilikinya kepada siswa sehingga pada batasan ini hanya pada tataran transfer of knowledge. Kedua adalah guru sebagai pendidik, bila dibandingkan pada kategori pertama karakter guru dalam tataran ini tidak hanya sebatas pada transfer of knowledge tapi juga transfer of value, penanaman nilai kepada siswa menjadi aspek penting karena pengetahuan tidak akan seimbang bila sikap arif dalam diri terkebiri, dan karakter yang terakhir yaitu guru sebagai  pemimpin merupakan guru tidak hanya dapat melakukan pengajaran dan pendidikan tapi juga dapat menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan dapat berkomunikasi dengan orang tua sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Saya sangat sepakat dengan gagasan Pak Asep Sapaat, Guru itu pemimpin. Meski bukan seorang bintang idola, tapi sadarilah bahwa guru bisa melahirkan bintang-bintang idola yang akan menjadi generasi pengganti dan berjiwa pemimpin. Pemimpin bicara soal ide dan harapan masa depan. Idenya tak melulu soal bagaimana meraih status pegawai negeri sipil, mendapat tunjangan sertifikasi, meraih jabatan struktural, dan kenikmatan dunia untuk diri sendiri.  Guru pemimpin, paham manfaatnya sangat besar untuk menyiapkan pemimpin masa depan Indonesia. Ide dan harapannya tak berorientasi AKU, tapi MEREKA, anak-anak muda Indonesia yang mesti tumbuh berkembang jiwa-jiwa kepemimpinannya. Hidup yang merdeka adalah ciri seorang guru pemimpin. Mereka tak takut dengan atasan. Mereka tak silau dengan harta dan jabatan. Hanya satu yang mereka takutkan, cara berpikir dan bersikapnya jauh dari nilai-nilai kebenaran.

Satu hal yang patut dicermati, guru memang takkan pernah jadi pemimpin jika dia miskin integritas. Karena miskin integritas, guru tak memiliki karisma dan inspirasi di mata murid-murid.  Jika guru sudah tak inspiratif bagi murid, maka konsepsi guru sebagai sosok pemimpin memang hanya akan menjadi wacana saja. Guru juga butuh figur pemimpin yang setia memberikan keteladanan. Tak lupa system yang mendukung mewudnya karakter kepemimpinan guru. Pak Sidharta Susila dalam gagasannya menjelaskan bahwa kita mesti menciptakan ruang istimewa untuk memupuk benih karakter kepemimpinan anak-anak kita, calon pemimpin masa depan Indonesia. Sekolah adalah ruang berperistiwa yang bisa dimanfaatkan guru untuk mendidik calon-calon pemimpin. Sayangnya ruang berperistiwa ini tak dikawal system dan orang berkarakter pemimpin. Tapi pimpinan yang lebih nyaman memanipulasi dari pada mendorong semua sumber daya yang dimiliki sekolah.

Tentunya kita sebagai seorang muslim pasti butuh bekal yang cukup banyak untuk hidup yang hakiki kelak di akhirat. Kebahagiaan dunia dan akhirat ada pada profesi guru. Selain mendapat penghargaan di dunia, guru juga mendapat balasan kelak di akhirat. Karena guru merupakan pengemban amanah para nabi dan orang-orang shalih. Orang yang mengikuti jejak langkah para nabi dan orang-orang shalih tidak lain balasannya adalah surga.

Banggalah kita yang sekarang menjadi guru, sebagai pewaris para nabi dan diberikan ilmu oleh sang pemberi ilmu. Itulah beberapa alasan kenapa sekarang aku bangga menjadi guru, memilih guru sebagai profesi utama. Karena sebenarnya tanpa kita sadari, setiap hari kita adalah guru, yang membedakan adalah kita berada dalam system atau tidak, dan guru menurutku adalah profesi terbaik. Allah pun telah berjanji dalam kitabnya akan mengangkat derajat yang beriman dan orang-orang yang berilmu.

Saya berharap semoga Allah selalu membimbing saya dan semua guru, menjadi guru sebagai profesi terbaik dan jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Pendidikan Anak : Beginilah Mereka Mendidik Generasi

ilustrasi-pendidikan-tempo-dulu

Oleh: Mufied Haris

Sambil menangis Syafi’i kecil mengadu kepada ibunya. ”Aku tak mau lagi pergi ke sana. Mereka menolak kehadiranku.  Namun dengan penuh kelembutan sang ibu terus menyemangati. ”Kembalilah ke sana anakku, nanti jika engkau melihat anak-anak kaya itu belajar duduklah di samping mereka. Tetapi jangan sampai mereka merasa terganggu”. Satu dua kali nasihat itu dilaksanakan hingga akhirnya ia bisa kembali belajar. Di usianya yang baru genap lima tahun bakat dan kemampuannya mulai terlihat. Saat jam belajar selesai imam Ass Syafi’i mengulangi pelajaran untuk kawan-kawannya. Keterbatasan ekonomi keluarga tak menghentikan semangatnya menuntut ilmu. Usia 7 tahun ia telah menyelesaikan hafalan al-Quran. Memasuki usianya yang ke delapan Syafi’i kecil sudah terbiasa bergabung dengan para ulama. Pada usia 10 tahun imam Syafi’i telah hafal kitab al-Muwattha sebelum bertemu dengan Imam Malik, sang penyusun kitab hadits itu. Sedang pada usia 15 tahun ia sudah diizinkan untuk memberi fatwa.

Imam As Syafi’i hanyalah contoh kecil bahwa bakat dan kemampuan tidaklah datang secara kebetulan. Melainkan harus dibangun dan direkayasa sejak dini. Jika Syafi’i menjadi ulama dan imam besar di kemudian hari, itu adalah jasa dari ibunya. Selain nasab yang bersambung kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga pola pembinaan yang diterapkan kepada Syafi’i. Sejak kecil Syafi’i dikirim ke Mekah untuk menimba ilmu dari para ulama. Dari sini kita mendapati bahwa generasi Islam terdahulu dibangun melalui dua kaidah dasar. Pertama, ia lahir melalui rekayasa genetika (alwirâtsah). Dan yang kedua melalui proses pembinaan (at-tarbiyah as-shâhihah).

Rekayasa genetika sesungguhnya dapat kita temukan dalam diri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memilih dari keturunan Nabi Ibrahim as yaitu Nabi Ismail as., dan memilih Kinanah dari keturunan Nabi Ismail as., dan memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, dan memilih dari keturunan Quraisy yaitu Bani Hasyim, dan Allah telah memilihku dari keturunan Bani Hasyim”. (HR. Muslim, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban dan Sunan Turmudzi)

Demikian, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam seorang dari sekian banyak keturunan Adam yang dipilih oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Beliau dipersiapkan menjadi penutup risalah para nabi dan rasul jauh, sebelum kelahirannya. Karena tugasnya yang berat maka dipersiapkan orang yang tepat. Karena risalahnya yang mulia maka harus dibawa oleh orang yang sama mulianya. Lalu sebagai pendukung dari tugas beliau dipilihkan seorang pendamping yang sepadan. Khadijah ath-thahirah. Seorang wanita yang selalu menjaga kesucian budi pekerti dan kedudukannya yang mulia di tengah-tengah kaumnya. Serta kesucian dirinya dari noda-noda paganisme pada zaman jahiliyah. Melalui perpaduan dua genetika inilah lahir ulama sekelas imam asy Syafi’i.

Namun faktor genetika saja tidak cukup berpengaruh. Proses selanjutnya adalah pola pembinaan. Untuk melahirkan seorang pemuda pemberani maka harus dibina dan dilatih menjadi pemberani. Sebagaimana para ulama lahir melalui pembinaan yang benar sebagai seorang ulama. Ibnu Mas’ud RA berkata, “Dahulu kami -para sahabat- apabila belajar kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam 10 ayat, maka kami tidaklah mempelajari 10 ayat lain yang diturunkan berikutnya kecuali setelah kami pelajari apa yang terkandung di dalamnya.”

Para ibu di zaman khulafa ar-rasyidin juga punya cara unik mengajari generasi muda menjadi kesatria. Mereka tak pernah lupa menyertakan anak-anak dan remaja dalam setiap pertempuran. Di banyak pertempuran anak-anak dan remaja punya peranan khusus. Ketika ayah mereka berada di garis pertempuran, di saat bersamaan para ibu sibuk menolong dan mengobati korban yang terluka. Anak-anak dan para remajalah yang bertugas menggali dan menyiapkan kubur bagi para syuhada.

Karena alasan inilah Umar bin Khathab memerintahkan orang tua mengajari remaja berkuda, berenang dan memanah. Salah seorang di antara mereka bahkan ada yang terkena panah dan meninggal. Namun tak menjadi alasan bagi Umar menghentikan kegiatan belajar memanah.

Kemampuan mendidik dan membina generasi muda setidaknya menjadi modal besar bagi sebuah bangsa. Kemajuan sebuah bangsa bukan hanya waktu yang ditunggu kedatangannya. Melainkan harus dirancang dan direkayasa. Tidak ada jalan lain kecuali dengan menghadirkan generasi muda yang siap berkontribusi bagi bangsanya. Karena rahasia kemajuan sebuah bangsa ada pada generasi mudanya. Wallahu alam bisshawab.

* Penulis adalah Penggemar sastra dan buku-buku Pemikiran Islam. Sekarang sedang menyelesaikan program master di Universitas Al-Azhar Kairo, Fakultas Pendidikan, Program Kependidikan Islam.

CAP ke-368 : “Adakah Karakter Pancasila?”

piagam-p4_0

contoh piagam penataran P4 tahun 90-an (ilustrasi)

Oleh: Dr. Adian Husaini

PADA tanggal 24 Oktober 2013 lalu, saya bersyukur mendapatkan kesempatan berbicara dalam satu seminar tentang peradaban Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Seminar itu diadakan sebagai satu rangkaian kegiatan peringatan Dies Natalis ke-55 UMS. Bertindak sebagai keynote speaker adalah Prof. Malik Fadjar, mantan rektor UMS yang dikenal sebagai salah satu tokoh pendidikan di Indonesia. Pembicara lain adalah Dr. Gina Puspita, pakar aeoronotika, dosen Fakultas Teknik UMS,  yang juga pendiri “Klub Istri Taat Suami”, serta Prof Dr. Heru Kurnianto Tjahjono, pakar manajemen dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Tema yang diberikan kepada saya adalah “Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarater dan Beradab” — sama dengan judul salah satu buku yang saya tulis. Memang, diakui oleh banyak pakar pendidikan, bahwa salah satu kelemahan dari pendidikan kita selama ini adalah kurangnya penekanan pada pembentukan karakter unggulan anak didik. Prestasi belajar hanya diukur pada aspek kognitif. Padahal, karakter yang kuat adalah faktor penting dalam kemajuan suatu bangsa. Begitu yang biasa dipaparkan oleh para pakar pendidikan.

Apalagi, fakta juga menunjukkan, masih menonjolnya berbaga karakter negatif di tengah masyarakat, bahkan di kalangan para elite bangsa. Sejumlah karakter manusia Indonesia yang menonjol, seperti pernah diungkap oleh budayawan Mochtar Lubis (alm.), dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 6 April 1977, adalah munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, masih percaya takhayul, lemah karakter, cenderung boros, dan suka jalan pintas. (Mochtar Lubis, Manusia Indonesia, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001).

Karena mengakui kelemahan dalam karakter bangsa, akhirnya pemerintah merancang program pendidikan karakter. Kini, banyak program sedang dijalankan dengan tujuan membentuk karakter yang dianggap unggulan, seperti jujur,  tanggung jawab, cinta kebersihan, kerja keras, toleransi, dan sebagainya. Pemerintah dan DPR bersepakat bahwa Pendidikan Karakter  perlu diprioritaskan untuk membangun bangsa yang maju. Sekolah dianggap sebagai tempat yang strategis untuk penyemaian pendidikan karaker. Tahun 2011, Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional (sekarang: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), mengeluarkan buku kecil berjudul Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter”.  

Dalam pengantar buku tersebut, Kabalitbang Kemmendiknas menulis:  “Pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Hal ini sekaligus menjadi upaya untuk mendukung perwujudan cita-cita sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945.”

Sedangkan tujuan Pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yaitu Pancasila, meliputi : (1) mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berprilaku baik; (2) membangun bangsa yang berkarakter Pancasila; (3) mengembangkan potensi warganegara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia.

Disebutkan, bahwa dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pada satuan pendidikan,  telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, (18) Tanggung Jawab (Sumber: Pusat Kurikulum. Pengembangan dan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. 2009:9-10).

Apresiasi dan kritik

Seperti dikhawatirkan Mochtar Lubis, salah satu ciri menonjol pada manusia Indonesia adalah lemah karakternya. Jika karakter yang lemah seperti ini dibiarkan dan tidak dilatih agar berangsur-angsur menjadi semakin kuat, maka masa depan bangsa juga mengkhawatirkan. Umat Islam, sebagai komponen terbesar bangsa Indonesia seharusnya menjadi umat yang paling menonjol kerakternya. Allah Berfirman, “Kamu adalah umat terbaik, yang dilahirkan untuk manusia. Kamu menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dan kamu beriman kepada Allah.” (QS 3:110).

Umat Islam adalah umat yang mulia, jika mereka benar-benar beriman (QS 3:139). Umat Islam diserahi tugas mewujudkan rahmatan lil alamin, memakmurkan bumi dan mewujudkan keselamatan bagi manusia, di dunia dan akhirat. Umat Islam akan menjadi saksi atas manusia. Sebab kata Nabi s.a.w, Al Islamu ya’lu wal yu’la alaihi. Islam itu tinggi. Tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. Karena itu, memang bisa dikatakan, masa depan umat Islam dan bangsa Indonesia, akan ditentukan oleh berhasil atau tidaknya pendidikan berbasis karakter atas mereka.

Akan tetapi, kita,  warga bangsa yang Muslim, perlu bertanya, “Pendidikan Karakter seperti Apa yang dimaui oleh pemerintah?” Bagaimana pendidikan karakter itu dipandang dari perspektif pandangan alam Islam (Islamic worldview).

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengaku berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Sesuai kesepakatan Bung Hatta dengan para tokoh Islam di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), makna Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Tauhid. Karena itu, tidak sepatutnya bangsa Indonesia mengembangkan konsep Pendidikan Karakter yang ateis atau yang bersifat sekuler. (Tentang arti Pancasila, lihat Adian Husaini, Pancasila bukan untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 2009).

Seyogyanya, pendidikan karakter yang dikembangkan di Indonesia, khususnya untuk umat Islam, haruslah pendidikan karakter berbasis Tauhid. Jika bangsa Cina, Jepang, AS, dan sebagainya,  maju sebagai hasil pendidikan karakter, tentulah bangsa Indonesia harus memiliki karakter yang lebih baik, tanpa perlu menjadi komunis, ateis, atau sekuler.

Dalam perspektif Tauhid inilah, tampak sejumlah ketidakjelasan dan kerancuan dalam konsep Pendidikan karakter yang saat ini diajukan pemerintah.  Misalnya, disebutkan, bahwa “Pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Hal ini sekaligus menjadi upaya untuk mendukung perwujudan cita-cita sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945”

Jika ditanyakan, apa makna ungkapan “akhlak mulia”, “moral”, “etika”, “adab”, menurut falsafah Pancasila?  Apakah Pancasila bisa dijadikan sebagai landasan untuk berakhlak mulia? Jika bisa, bagaimana kita harus berakhlak mulia  sesuai Pancasila? Bisakah dijelaskan, bagaimana cara menggosok gigi yang baik menurut falsafah Pancasila?

Juga disebutkan dalam buku Panduan tersebut, bahwa tujuan Pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yaitu Pancasila, meliputi : (1) mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berprilaku baik; (2) membangun bangsa yang berkarakter Pancasila; (3) mengembangkan potensi warganegara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia.

Menjadikan Pancasila sebagai pedoman pembentukan karakter bangsa akan menimbulkan persoalan serius, karena akan membenturkan Pancasila dengan agama. Pancasila seyogyanya tidak dijadikan sebagai landasan amal, akhlak, atau karakter. Sebab, itu adalah wilayah agama. Jika Pancasila akan ditempatkan sebagai pedoman karakter atau moral, maka akan menjadi pedoman baru, yang berbenturan dengan posisi agama. Hal itu tidak akan berhasil, sebab Pancasila tidak memiliki sosok panutan ideal yang bisa dijadikan contoh dalam pembentukan karakter. Berbeda dengan Islam, yang memiliki suri tauladan yang jelas dan abadi, yaitu Nabi Muhammad  صلى الله عليه و سل.

Konsep Tauhid

Seharusnya, bangsa Indonesia mau belajar dari kegagalan Orde Baru dalam upaya penempatan Pancasila sebagai pedoman amal. Upaya pemerintah Orde Baru untuk menempatkan Pancasila menjadi landasan moral dilakukan melalui sosialisasi dan indoktrinasi Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Tahun 1978, Partai Persatuan Pembangunan menolak pengesahan Tap MPR tentang P4. Tokoh Masyumi Sjafroedin Prawiranegara juga berkirim surat kepada Presiden Soeharto tanggal 7 Juli 1983, yang menyatakan, bahwa tidak ada yang namanya moralitas Pancasila, karena urusan moral sudah ada dalam agama masing-masing. Sjafroedin menekankan, bahwa Pancasila adalah asas negara dan landasan konstitusi.

Prof. HM Rasjidi juga berpendapat, P4 membahayakan keberadaan Islam. Misalnya, ajaran tentang kerukunan beragama telah dipergunakan untuk membelenggu umat Islam supaya tidak menentang pemurtadan umat Islam  oleh aliran kebatinan dan kristenisasi. Ada juga tokoh yang menulis bahwa P4 memberikan perlindungan terhadap aliran kepercayaan dan menyingkirkan kaitan historis kedudukan umat Islam dalam kerangka ideologi Pancasila. P4 dipandang sebagai manipulasi dan pemusatan penafsiran ideologi negara oleh penguasa tanpa mengaitkan asas-asas ajaran agama, terutama Islam. Memang, sejak tahun 1975, PMP wajib diajarkan di sekolah-sekolah. Dan sejak ditetapkan MPR, maka Penataran P4 diwajibkan untuk pegawai negara dan mahasiswa. Menurut Riswanda Imawan, penataran P4 dimaksudkan untuk mengurangi pentingnya ideologi Islam. Ada juga yang menyebut proses Pancasilaisasi mempunyai implikasi ”deislamisasi”. Juga, menurut Leifer, salah satu fungsi Pancasila adalah untuk melindungi identitas budaya kelompok abangan. Muhammad Natsir menyebut diberlakukannya pelajaran PMP di sekolah-sekolah merupakan bentuk pendangkalan agama dan penyamaan agama dengan Pancasila. (M. Rusli Karim, Negara dan Peminggiran Islam Politik, hal. 179-180).

Jika pendidikan karakter didasarkan kepada falsafah Pancasila yang tidak dijelaskan maknanya,  maka sudah barang tentu, pendidikan karakter itu berpijak di atas fondasi yang rapuh. Seharusnya, pendidikan karakter di Indonesia dilaksanakan – khususnya bagi kaum Muslim – dengan berdasarkan kepada konsep Tauhid. Itulah sebenarnya makna dan konsep yang paling tepat bagi pendidikan Karakter di Indonesia, sesuai dengan makna Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Situbondo, Jawa Timur, 16 Rabiulawwal 1404 H/21 Desember 1983 memutuskan sebuah Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam, yang antara lain menegaskan:  (1) Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama. (2) Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat 1 Undang-undang Dasar (UUD) 1945, yang menjiwai sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam. (3) Bagi Nahdlatul Ulama (NU) Islam adalah akidah dan syariah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarmanusia. (Lihat, pengantar K.H. A. Mustofa Bisri berjudul “Pancasila Kembali” untuk buku As’ad Said Ali, Negara PancasilaJalan Kemaslahatan Berbangsa, (Jakarta: LP3ES, 2009). Lihat juga, Munawar Fuad Noeh dan Mastuki HS (ed), Menghidupkan Pemikiran KH Achmad Siddiq, (Jakarta: Pustaka Gramedia Utama, 2002), hal. 118-145).

M. Ali Haidar, dalam bukunya, Nahdatul Ulama dan Islam di Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994), memberikan komentar terhadap keputusan Munas Alim Ulama tersebut: “Penegasan ini sebenarnya bukannya tidak terduga. Seperti dikemukakan Hatta ketika bertemu dengan beberapa pemimpin Islam tanggal 18 Agustus 1945 menjelang sidang PPKI untuk mengesahkan UUD, mereka dapat menerima penghapusan ‘tujuh kata’ yang tercantum dalam Piagam Jakarta, karena dua alasan. Pertama, bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan monoteisme tauhid dalam Islam. Kedua, demi menjaga kesatuan dan keutuhan wilayah negara yang baru diproklamasikan sehari sebelumnya… Salah seorang yang dipandang Hatta berpengaruh dalam kesepakatan ini ialah Wachid Hasjim, tokoh NU yang memiliki reputasi nasional ketika itu. Jadi rumusan deklarasi itu hakekatnya menegaskan kembali apa yang telah disepakati sejak negara ini baru dilahirkan tanggal 18 Agustus 1945 yang lalu.” (hal. 285-286).

Sebenarnya, terlepas dari agama dan ideologi masing-masing, harusnya bangsa Indonesia mau bersikap jujur, bahwa rumusan Pancasila yang berlaku sekarang ini, tidaklah terpisahkan dari rumusan Pembukaan UUD 1945, yang kini berlaku kembali sebagai hasil Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dekrit itu menegaskan bahwa Piagam Jakarta adalah menjiwai dan merupakan satu kesatuan dengan UUD 1945. Karena itu, dalam memahami sila Pertama, misalnya, tidak boleh dilepaskan dari alinea ketiga Pembukaan UUD 1945: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…”. Jadi, sila pertama, menurut berbagai tokoh organisasi Islam,  bisa dikatakan sebagai penegasan konsep Tauhid dalam Islam, sebab dalam alinea ketiga jelas-jelas disebutkan nama Tuhan yang Esa yaitu Allah.

Dalam buku Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun, tokoh Muhammadiyah, Prof. Kasman Singodimedjo menegaskan: “Dan segala tafsiran dari Ketuhanan Yang Maha Esa itu, baik tafsiran menurut historisnya maupun menurut artinya dan pengertiannya sesuai betul dengan tafsiran yang diberikan oleh Islam.” (Lihat, Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), hal. 123-125).

Karena itu, sudah sepatutnya, pendidikan karakter di Indonesia memang didasarkan kepada konsep Tauhid, sehingga memiliki landasan, konsep, dan teladan (uswatun hasanah) yang jelas. Sebagai aplikasinya, misalnya, karakter ”toleransi”,  harus diberi batasan, bahwa umat Islam tidak boleh bertoleran terhadap kemusyrikan dan kemunkaran. Dalam tataran kebangsaan, sudah sepatutnya, negara tidak menfasilitasi berkembangnya paham-paham syirik yang bertentangan dengan konsep Tauhid. Maka, keliru, jika atas nama Pluralisme dan multikulturalisme, siswa diajarkan agar bertoleran terhadap segala bentuk aliran sesat yang jelas-jelas merupakan suatu kemungkaran.

Yang benar adalah, negara wajib melindungi segenap warganya, khususnya warga Muslim, agar tidak mengikuti paham syirik dan kemungkaran. Yang terangkit penyakit syirik, diupayakan agar bertobat. Bukan malah dikembangkan dengan alasan itu merupakan “local wisdom”. Anak-anak Muslim perlu ditanamkan untuk memiliki karakter yang kuat dalam bertoleransi, tetapi tanpa merusak keimanannya dan tetap didorong untuk aktif menjalankan kewajiban dakwah, yakni malaksanakan amar ma’ruh nahi munkar.

Jadi, kita bisa menyimpulkan, bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya “karakter Pancasila”.  Pendidikan karakter di Indonesia sepatutnya dikembalikan kepada agama masing-masing. Serahkan pembentukan karakter anak-anak Muslim pada orang tua dan para guru yang muslim; menggunakan konsep pendidikan akhlak dalam Islam dan menjadikan Nabi Muhammad  صلى الله عليه و سل sebagai sosok teladan yang agung. Didiklah anak-anak Muslim agar mereka memiliki karakter mulia dalam Islam, seperti pemberani (syajaah), cinta pengorbanan, bermartabat, jujur, cinta kebersihan, cinta ilmu, cinta kerja keras, punya rasa malu, cinta sesama, dan sebagainya, dengan berdasar kepada ajaran Islam.

Dengan cara itu sebenarnya Pancasila sudah ditegakkan; tidak perlu ada yang namanya “karakter Pancasila”. Tidak akan ditemukan manusia Indonesia yang bisa mengamalkan Pancasila 100 persen, yang seluruh ucapan dan perbuatannya bisa dijadikan contoh keteladanan. Kita memerintahkan anak kita menolong fakir miskin, menyantuni anak yatim, karena itu perintah Allah SWT, sesuai ajaran Islam; bukan karena perintah Pancasila.  Dan yakinlah kita, di akhirat nanti, tidak akan ditanya oleh Allah, apakah kita sudah mengamalkan Pancasila atau tidak! Wallahu a’lam.*/Depok, 1 November 2013

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

http://www.hidayatullah.com

Jendela Keluarga : Jangan Merasa Cukup Bekali Anak dengan Urusan Skill

Les-biola

Ilustrasi (Inet)

SEJAK dunia didominasi oleh frame berpikir materialisme, hampir semua masyarakat di seluruh penjuru bumi memahami pendidikan sebatas investasi masa depan agar generasi sebagai seorang individu bias memiliki skill  dan bisa meraih kesenangan duniawi.

Tidak heran jika hari ini muncul banyak pakar tapi sesungguhnya buta terhadap pemahaman syari’ah agamanya sendiri. Banyak pakar yang mengaku ahli hukum Islam, tapi tidak mengerti al-Qur’an dan Hadits.

Dampak dari semua itu adalah banyak orangtua bingung mengatur jadwal anak mereka les matematika, bahasa Inggris, musik, les biola, namun tidak merasa khawatir anaknya tak mampu membaca dan memahami kandungan al-Qur’an, yang itu justru kewajiban yang harus ditunaikan atas keyakinan agamanya sendiri.

Bahkan, tidak jarang banyak ditemukan orangtua tidak merasa gelisah ketika anak-anaknya sudah masuk usia ambang baligh tapi belum tuntas dalam urusan kewajiban-kewajiban seperti sholat.

Sesungguhnya Islam, sama sekali tidak menolak pemahaman yang demikian itu. Dalam al-Qur’an Allah telah memberikan petunjuk bahwa tidak satu pun Nabi dan Rasul yang diutus melainkan memiliki skill khusus yang menunjang kehidupan mereka sebagai manusia yang membutuhkan rizki halal yang sekaligus menjalani misi kenabian mereka.

Nabi Nuh adalah arsitek perkapalan, Nabi Musa seorang penggembala, Nabi Ibrahim arsitek bangunan, Nabi Daud ahli metalurgi, Nabi Sulaiman ahli meteorologi dan geofisika, Nabi Yusuf ahli ekonomi dan keuangan negara, dan Nabi Muhammad adalah pakar bisnis dan perdagangan.

Tetapi di balik keahlian yang mereka miliki, mereka tetap berada pada fokus dan orientasi keimanan, sehingga keahlian yang mereka miliki tidak menjadikan mereka ambisius terhadap kehidupan dunia. Sebaliknya justru menjadi media utama untuk mengajak manusia pada jalan iman. Hal inilah yang berhasil dibangun oleh para orangtua pada tujuh abad pertama Hijriyah.

Kala itu, tidak satu pun ilmuwan yang tidak hafal al-Qur’an, taat beribadah dan komitmen terhadap ilmu dan iman. Sebut saja misalnya, Fakhruddin Al-Razi, ia adalah pakar matematika yang juga ahli tafsir, Ibn Sina, seorang dokter yang juga pakar al-Qur’an, dan Imam Ghazali seorang rektor universitas ternama di zamannya yang pakar filsafat dan juga ahli makrifat.

Dengan kata lain, tidak sepatutnya para orangtua memahami pendidikan secara dikotomis, di mana di satu sisi anak didorong untuk benar-benar menguasai satu keahlian dunia, tetapi di sisi lain, apa yang semestinya dimiliki anak kita dengan penuh kebanggaan, yakni iman dan takwa justru terabaikan dan dianggap nomor dua.

Jika hal ini terjadi, maka akan selalu lahir banyak orang ahli dalam berbagai bidang, namun hati/pikiran dan keahliannya tidak dikawal oleh iman dan agama mereka.

Akhirnya, mudah kita temukan banyak orang ahli, tetapi kehadirannya di dunia tidak mendatangkan kemaslahatan, justru menjadikan musibah.

5

pendidikan islam (Ilustrasi)

Tujuan Pendidikan

Agar anak-anak kita ke depan mampu meneladani kehebatan, kecerdasan dan keluhuran akhlak para ulama, intelektual dan profesional di tujuh abad pertama Hijriyah, orangtua harus kembali memahami sekaligus memahmkan tujuan pendidikan dalam Islam.

Menurut Imam Ghazali, tujuan pendidikan harus mengarah kepada terealisasinya tujuan keagamaan dan akhlak dengan titik tekan pada perolehan keutamaan taqarrub kepada Allah

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”  (QS. Adz-Dzaariya [51]: 56).

Bukan hanya sekedar untuk mencari kedudukan tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia. Jika pendidikan diarahkan pada selain untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, maka inilah awal dari terbukanya jalan menuju kerugian dan kemudharatan.

Terkait bagaimana mengarahkan pendidikan pada tujuan taqarrub kepada Allah Ta’ala ini secara eksplisit telah Allah tegaskan melalui pendidikan yang ditanamkan oleh Luqman Al-Hakim kepada putranya.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13).

Kemurnian iman seorang anak akan memudahkan langkah berikutnya untuk menjalankan kewajiban asasinya, yakni berbakti kepada kedua orangtua, mendirikan sholat, amar ma’ruf nahi munkar, sabar dalam menghadapi kenyataan hidup, berakhlak mulia alias tidak sombong dan berkata benar (jujur).

Dengan kata lain, manakala orangtua sudah melihat kriteria utama yang merupakan kewajiban asasi seorang Muslim yang mesti dikawal oleh para orangtua terhadap pribadi dan karakter putra-putrinya mewujud, maka bisa dikatakan, tujuan pendidikan yang Allah tegaskan benar-benar telah tercapai.

Manakala tidak, maka sungguh orangtua harus berusaha maksimal mengarahkannya pada tujuan utama pendidikan tersebut. Karena kelak, di hari kiamat, setiap orangtua akan dimintai pertanggungjawaban perihal bagaimana anak-anaknya dididik.*/Imam Nawawi

http://www.hidayatullah.com

%d bloggers like this: