internet dan gadget tidak pernah bisa mengajarkan tata-krama, adab dan akhlaq. Sebab, hal itu hanya dapat diperoleh dengan melihat dan langsung bersentuhan dengan para guru, kiai dan ulama

Mendidik ‘Generasi Gadget’’

 Oleh: Zainal Arifin  

 TANTANGAN nyata hidup di zaman modern dan serba canggih seperti sekarang ini telah menuntut kita untuk dapat berlaku bijak dan proporsional dalam menyikapi kemajuan teknologi. Perkembangan teknologi yang begitu pesat hingga menembus berbagai lini kehidupan manusia baik secara individu maupun dalam lingkup sosial masyarakat, sungguh tidak terbendung lagi. Dan produk-produk teknologi yang hingga detik ini terus berkembang cepat serta selalu melahirkan generasi baru salah satunya adalah gadget.

Mengutip penjelasan dari sebuah ensiklopedia bebas (Wikipedia) yang menyebutkan bahwa gadget adalah suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa gadget akan senantiasa bermetamorfosis mengikuti pergeseran waktu dan tuntutan zaman.

Gadget. dengan berbagai macam jenisnya mulai dari smartphone, tablet, laptop dan sebagainya menjadi tren generasi dari berbagai kalangan usia. Tidak hanya orang dewasa yang memanfaatkannya, bahkan anak-anak usia sekolah dasar pun telah banyak yang mahir mengoperasikan perangkat yang identik dengan sarana untuk mengakses internet tersebut. Mereka itulah generasi gadget yang lahir dan tumbuh dalam hegemoni kecanggihan teknologi. Lalu, bagaimana dampak keberadaan gadget itu sendiri khususnya bagi perkembangan anak?

Hasil riset UNICEF bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika yang dipublikasikan pada 2014 menyebutkan, 30 juta anak dan remaja Indonesia intensif menggunakan internet. Mereka secara intens lima jam sehari menggunakan internet, sehingga apabila mereka kurang pemahaman soal penggunaan internet, dapat saja anak-anak tersebut menjadi korban dari kejahatan di internet.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa gadget ibarat pisau bermata dua yang dapat memberi manfaat dan juga berdampak buruk bagi siapapun yang tidak bijak menggunakannya. Keberadaan gadget sering memudahkan kita dalam mengakses informasi dan menjalin komunikasi jarak jauh, serta memanjakan kita dengan berbagai layanan aplikasi hiburan. Namun sayangnya juga, konsekuensi keberadaan gadget. di ranah kehidupan anak-anak boleh dibilang sangat berpotensi mengancam keberlangsungan program edukasi menuju generasi manusia yang paripurna.

Baca: Kesiapan Orang Tua Modal Utama Untuk Anak Gunakan Gadget

Fenomena menjamurnya gadget utamanya smartphone dan tablet di kalangan anak-anak dan remaja patut diwaspadai dan disikapi dengan bijak oleh orang tua, baik itu ayah bunda di rumah maupun dewan guru di sekolah. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat kejahatan pornografi dan cyber crime terhadap anak meningkat dalam periode 2014 hingga 2016 dengan sedikitnya ada 1.249 laporan masuk. Jumlah itu meningkat jika dibandingkan dengan data 2011-2013 yang hanya mencapai 610 laporan masuk ke KPAI.

Fakta tersebut menjadi dasar kekhawatiran kita terhadap masa depan generasi saat ini yang hidup di zaman serba digital. Lihatlah tradisi anak-anak sekarang di rumah maupun di tempat-tempat umum, tidak jarang di antara mereka masyuk bercengkrama dengan yang namanya gadget. Dan apabila tanpa pendampingan atau edukasi yang memadai terkait pemanfaatan gadget itu sendiri, sudah barang tentu anak-anak tersebut kapan saja dapat tergelincir dan menjadi korban cyber crime.

Wajar jika seorang dokter anak asal Amerika Serikat Cris Rowan mengatakan, perlu ada larangan untuk penggunaan gadget pada usia terlalu dini, yakni anak di bawah 12 tahun. Alasannya, sudah banyak penelitian yang membuktikan dampak negatif gadget pada mereka.

Peranan Pendidikan di Zaman Gadget

Pendidikan secara umum merupakan pranata kehidupan manusia, untuk membentuk jati diri dan membangun generasi umat yang lebih berkualitas. Keluarga menjadi institusi pertama dan utama dalam memberikan pendidikan bagi anak-anak, sedangkan sekolah sebagai institusi formal tempat buah hati menimba ilmu dan mengembangkannya. Proses pendidikan itu sendiri harus dapat mentransformasikan beragam ilmu pengetahuan, sikap perilaku dan pengabdian dalam kehidupan secara komprehensif termasuk langkah-langkah cerdas memanfaatkan buah karya dari kemajuan teknologi.

Tidak dapat dipungkiri, globalisasi zaman mendorong manusia untuk mengenal dan menguasai canggihnya teknologi, semisal gadget. Kehidupan generasi gadget secara langsung maupun tidak langsung menuntut internet menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, sangat diperlukan ikhtiar untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam proses mendidik anak-anaknya yang kaitannya dengan keselamatan mengoperasikan gadget. Jika tidak, semua rujukan dan guru mereka adalah apa yang ada di internet. Memang internet memudahkan, tetapi internet dan gadget tidak pernah bisa mengajarkan tata-krama, adab dan akhlaq. Sebab, hal itu hanya dapat diperoleh dengan melihat dan langsung bersentuhan dengan para guru, kiai dan ulama.

Pada lingkup keluarga, mendidik generasi gadget tidak lantas melakukan pembiaran terhadap anak-anak untuk bebas mengakses gadget atau sebaliknya melarang sama sekali, karena cepat atau lambat anak-anak zaman sekarang akan berkenalan juga dengan yang namanya gadget. Pihak orang tua harus hadir mendampingi anak-anaknya di saat mereka sedang membutuhkan aktivitas tambahan dan atau hiburan yang melibatkan gadget. Harus ada batasan dan aturan yang disepakati antara orang tua dan anak-anak sebelum perijinan pemakaian gadget dikeluarkan.

Psikolog anak Annelia Sari Sani mengatakan, aturan utama yang orang tua harus pahami dalam penggunaan gadget pada anak adalah anak-anak usia di atas dua tahun maksimal penggunaan gadget adalah dua jam. Sementara anak-anak di bawah dua tahun jangan dikenalkan sama sekali dengan gadget, termasuk televisi dan lainnya.  Karena, banyak penelitian-penelitian yang mengatakan bahwa anak di bawah dua tahun yang tidak dikenalkan dengan teknologi, kemungkinan adiksinya menjadi semakin kecil. Hal ini disebabkan anak usia ini mereka masih belajar dengan cara melihat dan mendengar atau audiovisual. (viva.co.id, 27/1/2017)

Kepedulian orang tua terhadap perkembangan pendidikan buah hatinya juga dapat diterapkan dengan langkah menjadi teman sebaya bagi anak-anak. Sehingga ketika anak-anak ingin bermain gadget, orang tua dapat menyarankan aplikasi yang melibatkan kegiatan bersama antara anak dan orang tua. Hal ini bertujuan agar kontak atau interaksi orang tua dengan anak akan menjadi semakin baik dan kuat. Termasuk juga ketika anak ingin menonton televisi, orang tua harus peduli dan siap menemani. Pilihkan tayangan televisi yang edukatif demi pengembangan wawasan ilmu pengetahuan dan memberi motivasi bagi anak-anak.

Baca: Gadget Pengikis Iman, Pesan Mesra untuk Para Muslimah

Peran pendidikan di lingkungan sekolah turut andil memperkokoh benteng pertahanan dalam diri generasi bangsa untuk menghadapi pengaruh konten gadget yang terkadang tidak kita harapkan. Para pendidik di sekolah memiliki tanggung jawab yang sama dengan orang tua di rumah dalam hal melindungi anak didik dari dampak negatif yang sewaktu-waktu dapat ditimbulkan oleh gadget. Guru harus aktif dan berkesinambungan memberi pemahaman terkait keselamatan penggunaan media gadget apabila berada di tangan anak-anak dan remaja pada umumnya.

Guru di sekolah juga dapat merancang program-program kegiatan untuk peserta didik berupa aktivitas yang berhubungan dengan pengembangan bakat minat, contohnya kegiatan ekstrakurikuler, mengadakan bimbingan belajar kelompok dan lain-lain. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi waktu senggang anak didik ketika di rumah, karena waktu luang sangat berpotensi menimbulkan rasa bosan sehingga mendorong keinginan anak untuk bermain gadget. Karena itulah, tidak ada salahnya memberi tugas kepada anak didik untuk menyibukan hari-harinya dengan hal-hal positif yang tentunya berhubungan dengan penguatan pendidikan karakter.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy pernah menyampaikan bahwa implementasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai upaya menguatkan pondasi mental generasi penerus, harus disegerakan dengan perhitungan matang. Penguatan lima nilai utama karakter, di antaranya religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas pada tiga kegiatan inti (yaitu: intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler) akan menjadi praktik penerapan di setiap sekolah percontohan.

Cukup jelas sekiranya peranan pendidikan dalam upaya menyelamatkan generasi bangsa dari doktrin gadgetisasi yang cukup marak dewasa ini. Lingkungan keluarga dan sekolah harus mampu menjadi wadah sekaligus wahana untuk merekonstruksi anak-anak yang eksesif terhadap gadget. Dengan kata lain, proses pendidikan anak saat di rumah dan di sekolah harus bersinergi dan terintegrasi dengan baik. Harapannya, ketika anak-anak kita sengaja ataupun tidak sengaja harus bersinggungan dengan dunia teknologi berupa gadget, mereka sudah mampu menempatkan dirinya dan memanfaatkan gadget secara tepat guna.

Akhirnya, penulis turut menegaskan bahwa berbagai upaya yang telah dilakukan harus disertai dengan penguatan spiritual dalam diri anak-anak sejak dini. Terjadinya dekadensi moral generasi bangsa boleh jadi disebabkan oleh minimnya asupan siraman rohani dan materi pembelajaran yang meningkatkan kualitas pemahaman terhadap ajaran agama. Oleh karenanya, penajaman nilai-nilai agama bagi putra-putri harapan bangsa menjadi kewajiban setiap orang terlebih-lebih ayah bunda di rumah dan pendidik di sekolah.*

Guru di Sekolah Hidayatullah Batam

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

 

https://www.hidayatullah.com