Posts tagged ‘Ahli’

Jendela Keluarga : Jangan Merasa Cukup Bekali Anak dengan Urusan Skill

Les-biola

Ilustrasi (Inet)

SEJAK dunia didominasi oleh frame berpikir materialisme, hampir semua masyarakat di seluruh penjuru bumi memahami pendidikan sebatas investasi masa depan agar generasi sebagai seorang individu bias memiliki skill  dan bisa meraih kesenangan duniawi.

Tidak heran jika hari ini muncul banyak pakar tapi sesungguhnya buta terhadap pemahaman syari’ah agamanya sendiri. Banyak pakar yang mengaku ahli hukum Islam, tapi tidak mengerti al-Qur’an dan Hadits.

Dampak dari semua itu adalah banyak orangtua bingung mengatur jadwal anak mereka les matematika, bahasa Inggris, musik, les biola, namun tidak merasa khawatir anaknya tak mampu membaca dan memahami kandungan al-Qur’an, yang itu justru kewajiban yang harus ditunaikan atas keyakinan agamanya sendiri.

Bahkan, tidak jarang banyak ditemukan orangtua tidak merasa gelisah ketika anak-anaknya sudah masuk usia ambang baligh tapi belum tuntas dalam urusan kewajiban-kewajiban seperti sholat.

Sesungguhnya Islam, sama sekali tidak menolak pemahaman yang demikian itu. Dalam al-Qur’an Allah telah memberikan petunjuk bahwa tidak satu pun Nabi dan Rasul yang diutus melainkan memiliki skill khusus yang menunjang kehidupan mereka sebagai manusia yang membutuhkan rizki halal yang sekaligus menjalani misi kenabian mereka.

Nabi Nuh adalah arsitek perkapalan, Nabi Musa seorang penggembala, Nabi Ibrahim arsitek bangunan, Nabi Daud ahli metalurgi, Nabi Sulaiman ahli meteorologi dan geofisika, Nabi Yusuf ahli ekonomi dan keuangan negara, dan Nabi Muhammad adalah pakar bisnis dan perdagangan.

Tetapi di balik keahlian yang mereka miliki, mereka tetap berada pada fokus dan orientasi keimanan, sehingga keahlian yang mereka miliki tidak menjadikan mereka ambisius terhadap kehidupan dunia. Sebaliknya justru menjadi media utama untuk mengajak manusia pada jalan iman. Hal inilah yang berhasil dibangun oleh para orangtua pada tujuh abad pertama Hijriyah.

Kala itu, tidak satu pun ilmuwan yang tidak hafal al-Qur’an, taat beribadah dan komitmen terhadap ilmu dan iman. Sebut saja misalnya, Fakhruddin Al-Razi, ia adalah pakar matematika yang juga ahli tafsir, Ibn Sina, seorang dokter yang juga pakar al-Qur’an, dan Imam Ghazali seorang rektor universitas ternama di zamannya yang pakar filsafat dan juga ahli makrifat.

Dengan kata lain, tidak sepatutnya para orangtua memahami pendidikan secara dikotomis, di mana di satu sisi anak didorong untuk benar-benar menguasai satu keahlian dunia, tetapi di sisi lain, apa yang semestinya dimiliki anak kita dengan penuh kebanggaan, yakni iman dan takwa justru terabaikan dan dianggap nomor dua.

Jika hal ini terjadi, maka akan selalu lahir banyak orang ahli dalam berbagai bidang, namun hati/pikiran dan keahliannya tidak dikawal oleh iman dan agama mereka.

Akhirnya, mudah kita temukan banyak orang ahli, tetapi kehadirannya di dunia tidak mendatangkan kemaslahatan, justru menjadikan musibah.

5

pendidikan islam (Ilustrasi)

Tujuan Pendidikan

Agar anak-anak kita ke depan mampu meneladani kehebatan, kecerdasan dan keluhuran akhlak para ulama, intelektual dan profesional di tujuh abad pertama Hijriyah, orangtua harus kembali memahami sekaligus memahmkan tujuan pendidikan dalam Islam.

Menurut Imam Ghazali, tujuan pendidikan harus mengarah kepada terealisasinya tujuan keagamaan dan akhlak dengan titik tekan pada perolehan keutamaan taqarrub kepada Allah

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”  (QS. Adz-Dzaariya [51]: 56).

Bukan hanya sekedar untuk mencari kedudukan tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia. Jika pendidikan diarahkan pada selain untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, maka inilah awal dari terbukanya jalan menuju kerugian dan kemudharatan.

Terkait bagaimana mengarahkan pendidikan pada tujuan taqarrub kepada Allah Ta’ala ini secara eksplisit telah Allah tegaskan melalui pendidikan yang ditanamkan oleh Luqman Al-Hakim kepada putranya.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13).

Kemurnian iman seorang anak akan memudahkan langkah berikutnya untuk menjalankan kewajiban asasinya, yakni berbakti kepada kedua orangtua, mendirikan sholat, amar ma’ruf nahi munkar, sabar dalam menghadapi kenyataan hidup, berakhlak mulia alias tidak sombong dan berkata benar (jujur).

Dengan kata lain, manakala orangtua sudah melihat kriteria utama yang merupakan kewajiban asasi seorang Muslim yang mesti dikawal oleh para orangtua terhadap pribadi dan karakter putra-putrinya mewujud, maka bisa dikatakan, tujuan pendidikan yang Allah tegaskan benar-benar telah tercapai.

Manakala tidak, maka sungguh orangtua harus berusaha maksimal mengarahkannya pada tujuan utama pendidikan tersebut. Karena kelak, di hari kiamat, setiap orangtua akan dimintai pertanggungjawaban perihal bagaimana anak-anaknya dididik.*/Imam Nawawi

http://www.hidayatullah.com

Pandangan Islam tentang Profesionalisme

Bila kita perhatikan kriteria profesi seperti diuraikan pada Artikel sebelumnya, agaknya ada dua kriteria yang pokok, yaitu (1) Merupakan pandangan hidup dan (2) Keahlian, Kriteria yang lainnya kelihatannya diperlukan untuk memperkuat kedua kriteria ini.

Kriteria “panggilan hidup” sebenarnya mengacu kepada pengabdian; sekarang orang lebih senang menyebutnya “dedikasi”. Kriteria “keahlian” mengacu kepada mutu layanannya, mutu dedikasi tersebut. Kriteria “memiliki teori”, “kecakapan diagnostik dan aplikasi”, “otonomi”, “kode etik”, “organisasi profesi”, dan “pengenalan keahlian yang berhubungan” dapat dikatakan merupakan kriteria untuk memperkuat keahlian; sedangkan kriteria “untuk masyarakat” dan “klien” merupakan kriteria untuk memperkuat dan memperjelas dedikasi.

Jika demikian, “dedikasi” dan “keahlian” itulah ciri utama suatu bidang ilmu mutu profesi dan jika demikian maka jelas Islam mementingkan profesi.

Pekerjaan (profesi adalah pekerjaan) menurut Islam harus dilakukan karena Alloh. “karena Alloh” maksudnya ialah karena diperintahkan Alloh. Jadi, profesi dalam Islam harus dijalani karena merasa bahwa itu adalah perintah Alloh. Dalam kenyataan pekerjaan itu dilakukan untuk orang lain, tetapi niat yang mendasarinya adalah perintah Alloh. Dari sini kita mengetahui bahwa pekerjaan profesi di dalam Islam dilakukan untuk atau sebagai pengabdian kepada dua objek: pertama pengabdian kepada Alloh, dan kedua sebagai pengabdian atau dedikasi kepada manusia atau kepada orang lain sebagai objek pekerjaan itu. Jelas pula bahwa kriteria “pengabdian” dalam Islam lebih kuat dan lebih mendalam dibandingkan dengan pengabdian dalam kriteria yang diajarkan diatas tadi. Pengabdian dalam Islam, selain demi kemanusian, juga dikerjakan demi Tuhan, jadi ada unsur transenden dalam pelaksanaan profesi dalam Islam. Unsur transenden ini dapat menjadikan pengalaman profesi dalam Islam lebih tinggi nilai dalam pengabdiannya dibandingkan dengan pengalaman profesi yang tidak didasari oleh keyakinan iman kepada Alloh.

Dalam Islam, setiap pekerjaan harus dilaksanakan secara profesional, dalam arti harus dilakukan secara benar. Yaitu hanya dilakukan oleh orang yang Ahli. Rasulullah saw pernah bersabda: “Bila suatu urusan dikerjakan oleh orang yang tidak ahli, maka tunggulah kehancuran.”(Al-Hadits)
Kata “Kehancuran” dalam hadits itu dapat diartikan secara terbatas dan dapat juga diartikan secara luas. Bila seorang guru mengajar tidak dengan keahlian, maka yang “hancur” adalah muridnya. Ini dalam pengertian yang terbatas. Murid-murid itu kelak mempunyai murid lagi; murid-murid itu kelak berkarya; kedua-duanya dilakukan dengan tidak benar (karena telah dididik tidak benar), maka akan timbullah “kehancuran”. Kehancuran apa? Ya, kehancuran orang-orang, yaitu murid-murid itu, dan kehancuran sistem kebenaran karena mereka mengajarkan pengetahuan yang dapat saja tidak benar. Ini kehancuran dalam arti luas. Maka benarlah apa yang dikatakan Nabi: Setiap pekerjaan (urusan) harus dilakukan oleh orang yang ahli.

Karena Alloh” saja tidaklah cukup untuk melakukan suatu pekerjaan. Yang mencukupi ialah “karena Alloh” dan “Keahlian“.

Dengan uraian yang singkat itu jelaslah pada pandanga Islam tentang profesi, bahkan juga pandangan Islam tentang profesionalisme. Akan tetapi, bagaimana penerapan profesionalisme ini dalam masyarakat Islam sekarang, khususnya dalam bidang pengelolaan sekolah?
Insya Alloh akan dibicarakan pada pembahasan berikutnya.

Sumber: Buku Bahan Ajar “Pengembangan Wawasan Profesi Guru” dalam Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN SGD Bandung, 2010 hal: 7-8

DEFINISI PROFESIONALISME

Profesionalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional, ialah orang yang memiliki profesi. Apa profesi itu?

Menurut Muchtar Luthfi dari Universitas Riau (lihat Mimbar,3, 1984:44), seseorang disebut memiliki profesi bila ia memenuhi 8 (delapan) kriteria dan Selanjutnya ditambah 2 (dua) kriteria lainnya oleh Finn (1953, lihat Miarso, 1986:28-29) sebagai berikut:

1. Profesi harus mengandung keahlian.

Artinya, suatu profesi itu mesti ditandai oleh suatu keahlian yang khusus untuk profesi itu. keahlian itu tidak dimiliki oleh profesi lain. keahlian itu diperoleh dengan cara mempelajarinya secara khusus; profesi bukan diwarisi.

2. Profesi dipilih karena panggilan hidup dan dijalani sepenuh waktu.

Artinya, profesi dipilih karena dirasakan sebagai kewajiban; sepenuh waktu maksudnya dijalani dalam jangka yang panjang bahkan seumur hidup; bukan part-time, melainkan full-time; bukan dilakukan sebagai pekerjaan sambilan atau pekerjaan sementara yang akan ditinggalkan bila ditemukan pekerjaan lain yang dirasakan lebih menguntungkan.

3. Profesi memiliki teori-teori yang baku secara universal.

Artinya, profesi itu dijalani menurut aturan yang jelas, dikenal umum, teorinya terbuka. secara universal pegangannya itu diakui.

4.Profesi adalah untuk masyarakat, bukan untuk diri sendiri.

Maksudnya ialah profesi itu merupakan alat dalam mengabdikan diri kepada masyarakat, bukan untuk kepentingan diri sendiri seperti untuk mengumpulkan uang atau mengejar kedudukan.
Apakah dengan demikian pemegang profesi tidak boleh menerima uang. atau dilarang menduduki jabatan? Kiranya tidaklah demikian. Pemegang profesi boleh menerima uang, kedudukan, tetapi hal itu hanyalah sebagai penghargaan masyarakat atau negara terhadap profesi. penghargaan itu layak diterimanya, dan masyarakat memang wajar memberinya.

5. Profesi harus dilengkapi dengan kecakapan diagnostik dan kompetensi aplikasi.

Kompetensi dan kecakapan itu diperlukan untuk meyakinkan peran profesi itu terhadap kliennya.
Kecakapan diagnostik sudah jelas kelihatan pada profesi kedokteran. akan tetapi, kadang kala ada profesi yang kurang jelas kecakapan diagnostiknya; ini tentu disebabkan oleh belum berkembangnya teori dalam profesi itu. Kompetensi aplikatif adalah kewenangan menggunakan teori-teori yang ada dalam keahliannya. Penggunaan itu harus didahului oleh diagnosis. seseorang yang tidak mampu mendiagnosis tentu tidak berwenang melakukan apa-apa terhadap kliennya.

6. Pemegang profesi memiliki otonomi dalam melakukan tugas profesinya.

Otonomi ini hanya dapat dan boleh diuji atau dinilai oleh rekan-rekan seprofesinya. tegasnya, tidak boleh semua orang berbicara dalam semua bidang yang bukan keahliannya.

7. Profesi mempunyai kode etik, disebut kode etik profesi.

Gunanya ialah untuk dijadikan pedoman dalam melakukan tugas profesi. kode etik itu tidak akan bermanfaat bila tidak diakui oleh pemegang profesi dan juga oleh masyarakat.

8. Profesi harus mempunyai klien yang jelas, yaitu orang yang membutuhkan layanan.

Klien disini maksudnya ialah pemakai jasa profesi. Pemakai profesi kedokteran adalah orang sakit atau orang yang tidak ingin sakit. Klien guru adalah murid. Klien tukang las adalah pemilik barang yang perlu dilas. demikian selanjutnya.

9. profesi memerlukan organisasi profesi yang kuat.

Gunanya adalah untuk keperluan meningkatkan mutu dan memperkuat profesi itu sendiri.

10. Profesi harus mengenali dengan jelas hubungannya dengan profesi lain.

Pengenalan ini terutama diperlukan karena ada kalanya suatu garapan melibatkan lebih dari satu profesi dan bahkan sebenarnya tidak ada asfek kehidupan yang hanya ditangani oleh satu profesi saja. misalnya, profesi pengobatan bersangutan erat dengan masalah-masalah kemasyarakatan, ekonomi, agama bahkan politik.oleh karena itu dokter harus juga mengetahui sangkutan profesinya dengan profesi lain tersebut.
Kecenderungan spesialisasi hendaknya dibatasi pada pendalaman untuk meningkatkan teori-teori dalam profesinya. ini tidak diartikan “hanya berkewajiban mengetahui teori-teori dalam profesinya”. spesialisasi yang tidak mengenal apa-apa yang ada di lingkungannya bukanlah profesi, karena spesialisasi seperti itu tidak akan mampu melayani kliennya. kliennya adalah objek yang tidak terlepas dari lingkungannya.

Demikianlah, ada kira-kira 10 (sepuluh) kriteria bagi suatu “profesi” untuk dapat disebut sebagai suatu bidang profesi.

Sumber : Buku Bahan Ajar “Pengembangan Wawasan Profesi Guru” dalam Program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN SGD Bandung, 2010 hal: 1-6

%d bloggers like this: