Posts tagged ‘Amien Rais’

Islamisasi Partai Islam: Pelajaran dari Erdogan

Beberapa pengamat politik menyarankan agar partai Islam ke tengah dan meninggalkan politik aliran. Saran ini akan menguatkan partai Islam atau justru menghancurkan?

Soekarno-Masyumi

Soekarno, ketika menghadiri acara Masyumi

Oleh: Nuim Hidayat 

TAHUN 1955 partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia), partai Islam yang memegang teguh ideology dengan sangat mengesankan meraup 40% suara. Padahal, Partai Masyumi dalam Anggaran Dasar atau Rumah Tangganya  memegang teguh prinsip-prinsip Islam.

Di Anggaran Dasar Partai Masjumi ditegaskan: “Tujuan Partai ialah terlaksananya ajaran dan hukum Islam, di dalam kehidupan orang seorang , masyarakat dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi.” (Pasal III).

Pada pasal IV-nya dinyatakan: “Usaha partai untuk mencapai tujuannya:

Pertama, menginsyafkan dan memperluas pengetahuan serta kecakapan Umat Islam Indonesia dalam perjuangan politik

Kedua, menyusun dan memperkokoh kesatuan dan tenaga umat Islam Indonesia dalam segala lapangan

Ketiga, melaksanakan kehidupan rakyat terhadap perikemanusiaan, kemasyarakatan, persaudaraan dan persamaan hak berdasarkan taqwa menurut ajaran Islam Bekerjasama dengan lain-lain golongan dalam lapangan bersamaan atas dasar harga menghargai.”

Selain AD/ART yang tertulis, tokoh-tokoh Masyumi sebagian besar juga memberikan keteladanan dalam kehidupan politik dan masyarakat. Orang tidak meragukan lagi keteladanan KH Hasyim Asyari, Faqih Usman, HAMKA, KH Wahid Hasyim dan Mohammad Natsir.

Sayang kehebatan Masyumi ini hanya berlangsung lima tahun. Tahun 1960, Partai Masyumi dibubarkan oleh Rezim Soekarno dengan alasan yang tidak jelas. Tak hanya itu, banyak tokoh-tokohnya yang dimasukkan ke dalam kerangkeng oleh Soekarno.

Padahal Masyumi saat itu namanya sedang harum di kalangan umat.

Masyumi mempunyai sayap gerakan buruh, gerakan tani juga media massa. Harian Abadi misalnya, adalah koran milik Masyumi yang sangat disegani dan pelanggannya dari seluruh pelosok Indonesia.

Ketika Soeharto naik menggantikan Soekarno tahun 1966, tokoh-tokoh Masyumi mencoba menghidupkan kembali partai ini tapi tidak diizinkan.

Bahkan hingga pada Pemilu pertama di era Orde Baru tahun 1971, Masyumi bukan hanya tidak diizinkan ikut Pemilu tapi juga tokoh-tokohnya juga dilarang berpolitik.

Akhirnya umat Islam yang tergabung dalam Masyumi (dan NU) membentuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tapi saat itu sebenarnya Masyumi telah pecah karena sebagian pengikutnya sudah masuk dalam Golkar.

PPP karena mewadahi aspirasi umat Islam, maka mereka menggunakan gambar Ka’bah dan asas Islam. Meski selalu tidak unggul dalam Pemilu, apalagi bukan rahasia umum, kalau Pemilu Orba pernuh rekayasa.  Meski demikian, umat Islam masih banyak yang fanatik ke PPP hingga akhirnya Soeharto (dengan think tanknya CSIS) ‘menfatwakan’ semua parpol harus berasas tunggal Pancasila. Dari sinilah PPP mulai pecah. PPP turut pemerintah dan mengganti lambang Ka’bah dengan bintang. Sebagian tokoh memilih tidak berpolitik sebagaian lari ke Golkar. Efeknya tidak sedikit, Golkar juga makin penuh sesak dengan tokoh-tokoh Islam. Sesungguhnya, jika dilihat secara personal, makin hari makin tidak ada perbedaaan antara anggota Golkar dan PPP.

Politik gincu

Tahun 1999 setelah reformasi, partai-partai Islam dibebaskan kembali memakai asas Islam. Lambang pun tidak diatur pemerintah. Mulailah partai-partai Islam kembali ke kandangnya. Meski demikian, hanya tiga partai yang berani menuliskan asasnya Islam, yaitu PPP, PBB dan PKS. Sementara PAN dan PKB, tidak jelas tercantum dalam AD/ART nya asasnya Islam.

Amien Rais yang dulu merasak kekecilan dengan partai Islam namun PAN juga tak mampu menjadi partai besar

Tahun 1998, pasca jatuhnya Soeharto, tokoh-tokoh Masyumi sedang mempersiapkan kembali berdirinya partai Islam. Melalui rapat-rapat di kediaman HM Cholil Badawi dan Dr.Anwar Haryono SH, ditawarkanlah posisi ketua umum pada Dr Amien Rais sedang Dr Yusril Ihza Mahendra sebagai Sekjen.

Namun yang mengejutkan,  Amien Rais di layar televisi seusai shalat Jumat di kantor PP Muhammadiyah mengatakan,  “Saya akan mendirikan partai lain yang lebih terbuka.Bagi saya partai seperti Partai Bulan Bintang, ibarat baju akan ‘kesesakan’ jika saya pakai.”

Selanjutnya, melalui tokoh-tokoh  Majelis Amanat Rakyat (MARA), Amien Rais membentuk Partai Amanat Nasional (PAN) pada tahun 1998 dengan platform nasionalis terbuka. Ia mengundurkan diri dari Ketua PP Muhammadiyah setelah ditunjuk memimpin PAN.

Meski memilih baju terbuka, faktanya PAN tetap tidak banyak diminati aktivis Muslim. Amien Rais sendiri sebagai pendiri PAN sebenarnya menyadari kesalahannya, sayang nasi sudah menjadi bubur.*

Tahun 1999 perolehan suara PPP, PBB dan PKS lumayan. Tapi perolehan suara ini terus menurun sampai 2009 lalu. Diprediksi suara partai Islam tahun 2014 ini menurun atau stagnan sebagaimana 2009 yang lalu.

Mengapa tiga partai Islam itu tidak bisa menjadi mayoritas di negeri yang 85% Muslim ini?

Pertama, kesadaran politik umat Islam rendah. Umat memilih bukan didasarkan pilihannya pada calon-calon yang akan menjayakan Islam, tapi memilih banyak karena kekerabatan atau popularitas calon.

Kedua, partai-partai Islam menurun kualitasnya. Baik karena keterlibatan sebagian pengurus partai dalam korupsi, program partai yang tidak menyentuh rakyat dan tidak jelas warna Islam partai.

Partai-partai Islam itu mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. PPP mempunyai kekuatan jaringan lama dan pengalaman politik dalam menggolkan undang-undang yang bervisi Islam.

PBB mempunyai tokoh yang tinggi dalam intelektualisme Islam dan keberanian dalam menyuaran Islam.  Sedangkan PKS mempunyai jaringan kader yang kuat dan program-program yang merakyat. Kelemahan PPP dan PBB dalam pengkaderan sebenarnya bisa ditutupi atau mengambil pelajaran dari PKS.

Sedangkan kelemahan PKS yang kurang berani menampilkan diri visi Islamnya sebagaimana PPP dan PBB.

Sesungguhnya umat Islam di Indonesia yang sedang bangkit kini membutuhkan politisi politisi yang ahli di bidangnya sekaligus yang Islami. Kalau sekedar professional semata, maka tidak ada beda dengan partai sekuler. Atau jika yang hanya ditekankan program ekonomi semata, maka partai Islam menjadi pak turut bagi partai sekuler. Partai Islam seharusnya berani menampilkan Islamnya dan profesional. Sehingga masyarakat melihat beginilah wajah politik Islam yang sebenarnya. Bila partai Islam terbawa dengan arus partai sekuler yang hanya menekankan profesionalitas dan program ekonomi semata, maka partai Islam pasti tidak akan bisa menyaingi partai sekuler.

Maknanya seorang politisi Muslim di samping ahli di bidangnya juga berakhlak Islam, rajin shalat, bersedekah dan meninggalkan dosa-dosa besar. Beda dengan politisi sekuler yang membebaskan kadernya dalam berbuat maksiyat dan meninggalkan shalat. Bagi politisi sekuler yang penting politisi itu ahli di bidangnya dan mempunyai nama harum di masyarakat. Meski dalam kehidupan pribadinya bergelimang maksiat. Dengan kata lain mereka menghalalkan adanya ‘politik gincu’.

Jadi partai Islam mesti menprofesionalkan dan mengislamkan kader-kadernya bukan malah ikut-ikutan partai sekuler mensekulerkan kadernya dan bergerak ‘ke tengah’, sebagaimana nasihat banyak pengamat politik.

Erdogan-AKP

Erdogan dan massa AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan)

Pelajaran Penting dari Erdogan

Dan termasuk hal yang penting, politisi-politisi Muslim mesti memahami jejak sejarah bangsanya. Mereka mesti melanjutkan perjuangan tokoh-tokoh Islam terdahulu, terutama tokoh Masyumi. Sebagaimana Erdogan Presiden Turki yang dengan rendah menyatakan bahwa perjuangannya melanjutkan pendahulunya almarhum Necmettin Erbakan. Sebagaimana diketahui, Erbakan telah memulai perjuangan politik Islam di Turki sejak tahun 1970 dengan membentuk Partai Ketertiban Nasional.  Jatuh bangun Erbakan membangun partai Islam hingga ia mengalami kemenangan dengan partainya Partai Kesejahteraan (Refah Partisi).

Dalam Pemilu 1995, Partai Refah memperoleh 22 persen suara atau menyabet 158 kursi parlemen. Erbakan kemudian berkoalisi dengan Partai Jalan Lurus untuk memimpin pemerintahan Turki. Tapi pemerintahannya tidak berlangsung lama karena militer Turki buru-buru mengkudetanya. Dan Erdogan pun ditangkap dan dijatuhi hukuman lima tahun tidak boleh terlibat dalam politik (baca Ahmad Dzakirin, Kebangkitan Pos Islamisme Analisis Strategi dan Kebijakan AKP Turki Memenangkan Pemilu, Eracitra Intermedia, 2012).

Erbakan akhirnya banyak berbuat di balik layar. Dan di waktu itulah kemudian tampil murid kesayangannya, Erdogan yang terpilih menjadi Walikota Istanbul. Erdogan dengan program-program merakyatnya di kota itu berhasil memikat banyak kalangan. Erdogan juga banyak didukung para pebisnis dan masyarakat Turki. Meski dalam beberapa hal ia berbeda dengan gurunya tapi Erdogan menyatakan : “Dia akan selalu dikenang atas apa yang diajarkan kepada kami dan karena kepribadiannya yang tangguh.”

Ketika gurunya sang Hoca Erbakan meninggal, ia dan sahabatnya Abdullah Gul, memanggul keranda Erbakan ke tempat pemakamannya.

Abdullah Gul dan Erdogan membentuk AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) pada Agustus 2001. Erdogan berhasil menarik perhatian masyarakat Turki karena program-programnya yang menyentuh rakyat dan modern dan track record-nya sebagai Walikota Istanbul. Hingga pada Pemilu November 2002 AKP menangguk suara 34%.

Sembilan tahun kemudian, pada Pemilu 12 Juni 2011, AKP mengulangi kemenangannya dengan menyabet 50% suara rakyat. AKP menempatkan wakilnya sebanyak 327 kursi di parlemen.

Keberhasilan Erdogan memimpin Turki ini menjadikan militer Turki panas. Mereka mencoba mengkudeta Erdogan namun gagal. Karena Erdogan telah mendapat dukungan mayoritas masyarakat dan kepolisian. Sebanyak 250 personil militer pun dijebloskan ke penjara karena percobaan kudeta itu. Kuatnya pribadi Erdogan ini sehingga ia disebut sebagai The Strongest Man in Turkey.

Jadi keberhasilan Erdogan dan Partai AKP merebut hati rakyat Turki adalah bukan program ekonomi atau ‘sekulernya’ semata, tapi terutama karena program Islamisasinya yang mengesankan. Pesan Islam yang dibawai damai oleh Erdogan menyebabkan ia dikagumi masyarakat dan terus dibenci oleh kaum sekuler ekstrim. Sebelum menjadi presiden, Erdogan telah konsisten memperjuangkan jilbab di Turki. Hingga dua anaknya harus ia sekolahkan di Amerika, karena pemerintah Turki melarang mahasiswa berjilbab. Hingga kini menjadi presiden, Erdogan pun terus konsisten menjalankan program islamisasinya, seperti membebaskan pakaian jilbab di seluruh sektor, melarang minuman keras, mendukung perjuangan Palestina, mendukung presiden Mursi yang digulingkan dan lain-lain.

Seandainya Erdogan hanya membawa perubahan ekonomi Turki dan menyingkirkan program-program keislaman, apakah masyarakat Turki akan mendukungnya? Ini yang harus menjadi pelajaran penting Partai Islam di sini. Wallahu a’lam.*

Penulis adalah peneliti Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS)

http://www.hidayatullah.com

 

Advertisements

Ghazwul Fikr : Selamatkan Indonesia.!

Amien Rais

Dr Amien Rais yang sempat dijuluki “Bapak Reformasi” karena perannya melengserkan Soeharto pada tahun 1998

Oleh: Nuim Hidayat

Amien, Reformasi dan Fir’aunisme Politik

“Bila sejarah Indonesia bisa diulang, Amien lah yang tepat memimpin bangsa ini” (anonim)

BUKU Amien Rais ‘Selamatkan Indonesia’ seharusnya dibaca generasi muda Indonesia saat ini. Terutama mereka yang konsen terhadap masalah bangsa dan kemana bangsa ini dibawa.

Di buku itu Amien menyajikan fakta, data dan analisa-analisa ilmiah menyangkut berbagai masalah bangsa, mulai dari masalah sejarah, ekonomi, politik Indonesia, sikap intelektual dan politik Amerika.

Siapa Amien? Zaim Uchrowi mantan pemimpin redaksi Republika dalam buku biografi Mohammad Amien Rais, Memimpin dengan Nurani, menceritakannya, “Bukan hanya sisi intelektual dan politiknya yang selama ini dianggap menonjol. Juga sisi relijiusitas, kultural, hingga karakter pribadinya sehari-hari. Warna relijiulitasnya terlihat jelas pada rutinitasnya untuk selalu bangun dinihari, bersembahyang tahajud serta berpuasa Daud (sehari puasa, sehari tidak) sepanjang tahun. Sesibuk apapun ia. Baginya agama merupakan perintah pengendali diri, dan bukan label formalitas “saya benar kamu salah.”

“Sisi kultural Amien tampak dari kefasihannya menembang Mocopotan bahkan mendalang wayang. Bagi saya, inil adalah sisi yang menarik. Amien lahir dan besar di lingkungan Muhammadiyah. Sebuah lingkungan yang dianggap kurang menghargai budaya. Anggapan itu terbukti sama sekali keliru pada dirinya. Maka saya menempatkan aspek kultural ini sebagai bab pembuka buku ini.”

Menurut mantan wartawan Tempo ini karakter personal Amien dapat dilihat dari sikapnya saat bertemu dan berbicara dengan orang lain. Ia selalu berupaya mengenal dan mengingat nama orang yang ditemuinya, lalu menyapanya secara benar. Saat menemui orang bawah, ia benar-benar tampak akrab dengan mereka dan bukan berbasa-basi lagak pejabat. Ia pendengar yang baik. Saat berbicara ia menatap hangat mata lawan bicaranya dan tidak sibuk dengan pikiran sendiri. Ia acap mengakrabkan suasana dengan melempar canda.

Kegagalan Amien Rais menjadi presiden Indonesia dalam Pemilu 2004, tidak menjadikannya putus asa untuk terus berdakwah dan memberikan pencerahan kepada anak bangsa.  Karenanya  di depan Ka’bah pada Desember 2003 Amine berdoa:

“Saya berdoa, ya Allah sekiranya saya dan teman-teman dapat memberi kontribusi yang baik serta dapat membaguskan bangsa dan negara kami, berilah kami petunjuk, kekuatan serta inayah-Mu (untuk memimpin Indonesia). Seandainya Engkau telah mempunyai rencana tersendiri yang kami tidak mengetahuinya, kami percaya rencana itulah yang terbaik bagi kami dan bangsa ini,”papar Amien.

Sebelum mencalonkan menjadi presiden, bangsa Indonesia mengenalnya sebagai intelektual yang tajam. Tulisan-tulisannya yang aktual berserakan di media massa juga karya berupa buku di era tahun 90-an. Roh keislamannya terlihat kuat.

Di antara bukunya yang bagus ditelaah adalah Cakrawala Islam (Mizan) dan Agenda-Agenda Mendesak Selamatkan Bangsa. Dan juga buku-buku biografinya. Terutama yang ditulis Zaim Ukhrowi.

Dalam prakata buku biografi ‘Memimpin dengan Nurani’ itu, Pak Amien menyatakan: “Memang banyak cara atau gaya manusia yang dapat dipilih manusia untuk memimpin. Ada yang mengandalkan kekuatan fisik atau bertumpu pada kekuatan materi. Ada pula yang dengan  cara memecah belah rakyat supaya rakyat menjadi lemah, sedangkan pemimpinnya menjadi selalu kuat. Ada juga kepemimpinan yang dibangun dengan cara membuat pagar-pagar pengaman dengan mengangkat teman-teman yang punya loyalitas tinggi untuk melakukan rekayasa atau kalau perlu rekapaksa terhadap rakyat agar kepemimpinan seseorang bisa berkelanjutan.”

Amien melanjutkan: “Saya Alhamdulillah, bukan jenis manusia seperti itu. Saya bertindak semata karena mengikuti keyakinan sendiri. Kalau menoleh ke balakang, saya bisa mengatakan bahwa saya punya keberanian (yang oleh banyak orang sering dianggap terlalu jauh), mungkin karena saya mendengarkan bisikan atau jeritan hati. Nurani saya selalu terusik bila melihat kezaliman sosial, ekonomi, politik dan berbagai pelanggaran HAM yang jauh. Mungkin itu yang menimbulkan leadership by consciousness atau kepemimpinan berdasarkan kesadaran nurani.”

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini menyadari ia punya kelemahan. Ia berterus terang: “Satu hal yang juga ingin saya sampaikan di sini, dalam hidup ini saya ingin mencontoh teladan para Rasul dalam Al Qur’an dikatakan: “In uriidu illal islaaha mastatho’tu wa maa taufiiqii illa billaahi alaihi tawakkaltu wailaihi uniib.” (QS Hud (11):88).

Tauhid dan Keberanian

Dalam bukunya Cakrawala Islam, Amien dengan sangat bagus menjelaskan tentang arti tauhid dalam Islam. Tokoh yang sangat dibenci politisi Amerika ini menyatakan, “Di samping membebaskan manusia dari perbudakan mental dan penyembahan kepada sesama makhluk,kalimat thayyibah juga mengajarkan emansipasi manusia dari nilai-nilai palsu yang bersumber pada hawa nafsu, gila kekuasaan, dan kesenangan-kesenangan sensual belaka. Suatu kehidupan yang didesikasikan pada kelezatan sensual, kekuasaan , dan penumpukan kekayaan, pasti akan mengeruhkan akal sehat dan mendistorsi pikiran jernih. Dengan tajam Al Qur’an menyindir orang-orang semacam ini: “Tidakkah engkau lihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan? Apakah engkau merasa bisa menjadi pemelihara atasnya? Apakah engkau sangka kebanyakan dari mereka mendengar atau menggunakan akalnya? Mereka itu tidak lain hanya seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat.” (Al Furqan 43-44).

Dari mana Amien mendapat inspirasi keberanian itu, sehingga ia berani ‘mengubah wajah Indonesia’ pada 1998?

Boleh jadi dari jiwa tauhidnya. Tapi,perlu ditelaah pula puncak keberanian ini juga membahayakan. Sebab keberanian bisa menjadikan seseorang menjadi “Firaun” yang tak memiliki hati dalam membunuh manusia. Bahkan ia menyuruh manusia menyembah dirinya bukan menyembah Allah. Keberanian juga bisa menjadikan Nabi Ibrahim sebagai bapak tauhid manusia, yang memerintahkan manusia berbuat adil dan memerintahkan manusia menyembah yang benar-benar berhak disembah.

Al Qur’an mewanti-wanti : مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata):”Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS Ali Imran 79).

CSIS, Soeharto dan Kelompok Islam

KETIKA masa reformasi memang Amien Rais dielu-elukan. Amien yang fasih dalam bicara social dan politik, menjadi magnet bagi mahasiswa dan masyarakat untuk mengakhiri pemerintahan Soeharto.

Bagaimana pandangan tokoh-tokoh Islam, terutama Masyumi dalam hal ini? Kebetulan penulis saat itu menjadi wartawan Media Dakwah, sedikit banyak memahami pandangan tokoh-tokoh itu tentang reformasi.

Setelah reformasi bergulir, Mansur Suryanegara pernah berceramah di ruang bawah masjid Istiqlal. Ia dengan tegas menyatakan bahwa reformasi ini adalah istilah Katolik.   Penulis sendiri yang sempat mengamati gerakan awal reformasi ini bergulir,

khususnya di UI, memang yang terlibat dalam demo-demo menyerukan reformasi bukanlah mahasiswa aktivis Lembaga Dakwah Kampus. Di UI Salemba, saat itu terlihat mahasiswa-mahasiswa tidak berjilbab dan ‘mahasiswa non Islam’ yang meneriakkan ‘reformasi-reformasi’.

Tokoh-tokoh yang bergerak di kampus-kampus juga bukan tokoh mahasiswa Islam. Tapi jaringan Famred dan ‘kelompok-kelompok kiri’ lainnya.  Di sisi lain kelompok non Islam juga mengkhawatirkan adanya kelompok Islam yang mulai mayoritas menguasai negeri ini. Munculnya Bank Muamalat, Republika, ICMI dan naiknya jenderal-jenderal Muslim sangat mengkhawatirkan mereka. Mereka yang sebelumnya menguasai negeri Islam ini, merasa terganggu dengan naiknya Muslim ke panggung militer dan politik. Kelompok-kelompok LB Moerdani tidak rela kelompok Prabowo-Wiranto-Feisal Tanjung dan lain-lain mewarnai militer yang selama ini mereka kendalikan.

Kelompok The Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang banyak tokoh Katolik, mereka tersingkirkan setelah Seoharto dan Habibie merestui pembentukan ICMI.

CSIS menggandeng Gus Dur untuk melawan ICMI dengan membentuk diantaranya ‘Fordem’ (Forum Demokrasi). Ketika kelompok politik Islam semakin kuat, maka mereka mulai membentuk strategi yang serius untuk menumbangkan Soeharto.

Kebetulan Amien juga getol sejak 2003 telah mengkritisi Soeharto karena  Korupsi Kolusi dan Nepotismenya.  Bertemulah dua kepentingan itu. Kelompok non Islam yang ingin menggulingkan Soeharto karena terlalu dekat dengan Islam, dan kelompok pak Amien yang ingin menjatuhkan Soeharto karena KKN-nya.

Soeharto meski mulai mengambil kebijakan yang menguntungkan Islam, tapi ia tidak mencegah anak-anaknya terus bergelimangan dengan harta. Hal itulah yang menyebabkan banyak masyarakat marah terhadapnya.

Agendanya tentu lain. Kelompok non Islam (kelompok kiri, abangan dll), ingin menjatuhkan paket Soeharto-Habibie. Kelompok Amien ingin menjatuhkan Soeharto saja. Tentu bagi kelompok non Islam ini sudah sangat menguntungkan. Karena mereka melihat yang kuat kekuasaannya adalah Soeharto bukan Habibie. Mereka mempunyai strategi selanjutnya menggulingkan Habibie. Dan itu terbukti setelah Habibie memimpin negeri ini, mereka berteriak lantang menolak laporan pertanggunganjawabnya dalam Sidang MPR.

Penulis yang sempat menyaksikan demo-demo di Universitas Gunadarma dan UI, melihat betul bahwa yang menyerukan dan menggalang demo-demo itu bukan dari kelompok Islam. Bahkan ketika penulis melihat langsung mereka menduduki DPR/MPR penulis mendengar adanya bis rombongan GMKI (Gerakan Mahasiswa Katolik Indonesia) datang. Penulis kala itu ikut melihat dan mengamati langsung aksi-aksi demo yang marah kepada Soeharto berhari-hari.

Penulis juga sempat ke  Center for Policy and Development Studies (CPDS) saat itu yang diketuai Fadli Zon. Fadli saat itu memang dikenal dekat dengan jenderal-jenderal Islam, termasuk anak Soeharto, Mbak Tutut (Siti Hardijanti Rukmana).

Fadhli Zon dikenal tokoh muda yang hebat. Dalam usia muda itu ia sudah membawahi para professor dan doktor. Ia dipercaya Prabowo ketika Prabowo menjadi Danjen Kompasus. Dan hubungan Prabowo dan kalangan Islam saat itu sangat dekat.

Prabowo juga dekat dengan Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) dan Dewan Dakwah. Ditengarai kedekatannya dengan Islam itulah maka tidak heran ketika reformasi berlangsung Prabowo menjadi kambing hitam, baik di internet maupun media-media cetak.

Waktu itu KISDI dikomandani oleh tokoh-tokoh Islam: Ahmad Sumargono, Hussein Umar, KH Cholil Ridwan (sekarang di MUI) dan KH Rasyid Abdullah Syafii.

Penulis ingat ketika reformasi mengalami puncaknya, diadakan rapat untuk menggalang demo dari kelompok Islam yang dipimpin KH Cholil Badawi (alm). Saat itu kumpul tokoh-tokoh (alm) Ahmad Sumargono dan lain-lain. Mereka membuat agenda bahwa bila Soeharto turun, maka BJ Habibie harus naik. Saat itu dibagi beberapa kelompok dari masing-masing Ormas untuk menggalang kekuatan dan demo besar-besaran untuk menyerbu Gedung DPR/MPR dan mengosongkan massa di sana.

Ketika awal reformasi itu digulirkan, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, (alm) Anwar Haryono telah mewanti-wanti ‘jangan menari di atas gendang orang lain’, tapi nampaknya sebagian tokoh Islam tidak mendengarkan.

Korporasi, Kekuatan Asing Dan Kemandirian Indonesia

 “(Sejarah) ini sebagai penjelas, petunjuk dan pelajaran bagi orang yang bertakwa.” (QS: Ali Imran 138)

SEORANG  filsuf dan penyair Spanyol-Amerika George Santayana pernah mengatakan, “Mereka yang gagal mengambil pelajaran dari sejarah dipastikan akan mengulangi sejarah itu.” Demikian pula yang terjadi di Indonesia.

Itu pula yang disampaikan Amien Rais melihat Indonesia. Saat ini negeri ini seperti ‘kondisi pada zaman Belanda’ terutama dalam masalah kemandirian bangsa.

“Apa yang kita alami dan saksikan dalam beberapa dasawarsa  terakhir abad 20 dan dasawarsa pertama pada abad 21 sesungguhnya, dalam banyak hal, merupakan pengulangan belaka dari apa yang kita alami pada zaman penjajahan kompeni dan pemerintahan Belanda di masa lalu. Perbedaan antara tempo doeloe dengan masa sekarang hanyalah dalam bentuk atau format belaka. Dahulu pendudukan fisik dan militer Belanda menyebabkan Indonesia kehilangan kemerdekaan, kemandirian dan kedaulatan politik, ekonomi, social, hukum dan pertahanan. Sedangkan sekarang ini pendudukan fisik dan militer asing itu secara resmi sudah tidak ada dan tidak kelihatan. Tetapi sebagai bangsa kita telah kehilangan kemandirian, dan sampai batas yang cukup jauh, kita juga sudah kehilangan kedaulatan ekonomi. Dalam banyak hal, bangsa Indonesia tetap tergantung dan meggantungkan diri pada kekuatan asing,” ujar Amien dalam bukunya ‘Selamatkan Indonesia’.

Kedaulatan ekonomi yang telah kita gadaikan pada kekuatan asing hakekatnya telah melemahkan kedaulatan politik, diplomatik, pertahanan dan militer kita.

Kekuatan-kekuatan korporasi telah mendikte bukan saja perekonomian  nasional,  seperti kebijakan perdagangan, keuangan, perbankan, penanaman modal , kepelayaran dan kepelabuhan, kehutanan, perkebunan, pertambangan migas dan non migas, dan lain sebagainya tetapi juga kebijakan politik dan pertahanan.

Amien pernah mengingatkan bagaimana organisasi bisnis  VOC sejak awal abad ke 17 telah mencengkeram Indonesia. Kemudian penjajahan itu diteruskan pemerintah Belanda, diselingi penjajahan Jepang beberapa tahun,  hingga sampai 1949.  Kenapa VOC begitu mudah dan berjaya mengeruk kekayaaan dan menguasai bangsa Indonesia?

Pertama, menurut Amien, pemerintah Belanda memberikan dukungan politik sepenuhnya. VOC diberi hak monopoli dagang di Hindia Timur (Nusantara) dan dibantu menyingkirkan para pesaing dari Eropa seperti Inggris dan Belanda. Sebuah Piagam Pemerintah Belanda diterbitkan yang bukan saja memberikan monopoli dagang pada VOC, tapi juga wewenang untuk menduduki wilayah manapun yang dikehendaki dan menjajah penduduk asli sesuai dengan tuntutan pasar dan kebutuhan politik VOC sendiri.

Dukungan militer juga melekat dalam hampir semua kegiatan VOC.  Mustahil VOC mampu membuka wilayah baru untuk diduduki dan penduduknya dijajah tanpa kekuatan militer sebagai ujung tombak.

Para jenderal yang menjadi pimpinan VOC seperti Jan Pieterzoon Coen (1619-1629), Anthony van Diemen (1636-1645), dan Joan Maetsyker (1653-1678) adalah tokoh-tokoh militer yang menggerakkan kekerasan dalam rangka membunuh dan memperbudak penduduk setempat untuk mencapai tujuan dagang VOC. Yang dilakukan oleh JP Coen malah mendekati kategori genosida.

“Janganlah putus asa, jangan biarkan musuh-musuhmu bebas, karena Tuhan bersama kita,” demikian pernyataan JP Coen yang terkenal.

Antara VOC dan Snouck Hugronje

Tahun 1669 VOC telah menjadi organisasi bisnis terbesar di dunia dengan memiliki 150 kapal dagang, 40 kapal perang, 50.000 karyawan, angkatan darat 10.000 prajurit dan pembayaran dividen sebanyak 40 persen.

“Kekayaan yang demikian dahsyat untuk ukuran jaman itu tentu dapat diperoleh karena kerjasama korporatokratik dari tiga pilar utama, yakni VOC sendiri sebagai korporasi raksasa, kekuatan politik Pemerintah Belanda, dan kekuatan militer Belanda yang selalu siap untuk menggebuk setiap rintangan yang dihadapi VOC, “ demikian kutip Amin.

Untuk mempertahankan imperialisme dan kolonialisme mereka, negara-negara Barat memerlukan komponen-komponen yang berupa perbankan, dukungan kaum intelektual, media massa dan dukungan elite nasional bangsa yang terjajah. Hakekatnya korporatokrasi pada awal abad 21 ini merupakan turunan belaka dari korporatokrasi empat abad silam.

Dukungan imperialisme Belanda ini juga diperkuat terutama oleh kaum intelektual.

“Snouck Hugronje (1857-1936) adalah salah satu contoh intelektual-orientalis yang mengabdikan kehidupannya untuk kepentingan imperialisme Belanda. Ia seorang sarjana terkemuka di bidang peradaban dan bahasa-bahasa Oriental dan menjadi tangan kanan Gubernur Jenderal JB Van Heutsz. Ia menasehati Van Heutsz bagaimana cara memerangi rakyat Aceh. Atas dasar nasehatnya Perang Aceh menelan korban 50.000 sampai 100.000 nyawa rakyat Aceh dan jumlah yang lebih besar menderita luka-luka. Contoh lainnya adalah Charles Olke Van der Plas (1891-1977) yang pernah menjadi Gubernur Jawa Timur. Van der Plas dikenal sebagai tukang adu domba antar golongan dan kelompok bangsa Indonesia untuk memperlemah perlawanan Indonesia terhadap Belanda.”

Bila dicermati mengapa VOC dan Pemerintah Belanda dapat menjajah Indonesia, tentu karena elit penguasa saat itu, katakanlah para raja tidak semuanya melakukan perlawanan bersama rakyat melawan kaum imperialis itu. Justru sebagian mereka berkolaborasi dengan penjajah.

Contoh, Amangkurat I dan II yag menggantikan Sultan Agung sebagai Raja Mataram justru mempermudah jatuhnya sebagian besar Jawa Barat ke tangan VOC pada akhir abad 17.

Ketika Amangkurat II digantikan oleh Pamannya, Pakubuwono I, konsesi tanah yang lebih luas lagi diberikan pada pemerintah Belanda. Pada 1755 wilayah Kerajaan Mataram telah mengkerut kecil. Seluruh pulau Jawa telah jatuh ke tangan Belanda, kecuali Yogyakarta dan Surakarta, itupun dipecah menjadi dua kerajaan, kesultanan dan kasunanan.

Akibat penjajahan VOC yang lama itu, menurut Amien, mempengaruhi struktur mental anak bangsa. Membongkar mentalitas inlander ternyata tidak mudah. Contohnya, banyak pemimpin bangsa yang ketakutan dan panas dingin ketika Presiden Bush akan mampir Indonesia pada akhir 2006. Pengamanan yang diberikan pada presiden Bush yang sudah tidak popular itu, kata Pak Amien, ‘sungguh berlebih dan agak memalukan’.

“TIdak ada negara manapun di dunia yang menyambut Presiden Bush seperti maharaja diraja, kecuali Indonesia di masa kepemimpinan Susilo B Yudhoyono. Seolah Indonesia telah menjadi vazal atau negara protektorat AS,”tulis Amien.*

Penulis Ketua Dewan Dakwah Islamiyah  Indonesia (DDII) Kota Depok

http://www.hidayatullah.com

BJ Habibie dan Amien Rais Jadi Pembicara di Forum PBB di Kairo

Mantan Presiden RI ketiga Prof Dr Bachanuddin Jusuf Habibie dan mantan Ketua MPR Prof Dr Amien Rais akan menjadi pembicara kunci dalam Forum Internasional Mengenai Transisi Demokrasi di Kairo, Mesir, pada akhir pekan ini.

Forum yang diadakan Badan PBB untuk Program Pembangunan (United Nations Development Programme/UNDP) itu akan dibuka oleh Perdana Menteri Mesir Essam Sharaf dan berlangsung selama dua hari pada Ahad dan Senin (5-6/6) dengan menghadirkan berbagai pakar dan pemimpin politik dari Asia, Eropa Timur, Amerika Latin, dan Afrika Selatan.

Menurut agenda UNDP, Amien Rais dijadwalkan akan berbicara pada hari pertama, Ahad (5/6), bersama dengan beberapa tokoh lain, termasuk Genaro Ariiagada, politisi kawasan Chili yang berhasil menumbangkan diktator Pinochet pada 1988, dan Cecar Nava, Ketua Partai PAN Meksiko.

Adapun Habibie diagendakan berbicara pada hari kedua, Senin (6/6) bersama dengan sejumlah tokoh, antara lain, Albie Sachs, Hakim Mahkamah Konstitusi Afrika Selatan yang ditunjuk Nelson Mandela, dan Jorge Taiana, mantan Menteri Urusan Luar Negeri dan Perdagangan Internasional Argentina.

UNDP dalam siaran persnya menjelaskan bahwa forum ini akan mendiskusikan secara mendalam ihwal transisi demokrasi dan pengalaman-pengalaman internasional dalam memecahkan kemelut politik dan mewujudkan kehidupan berdemokrasi.

Forum ini terinspirasi dari perubahan dan pengalaman sejumlah negara, terutama di kawasan Selatan-Selatan terkait dengan masa transisi di Tunisia dan Mesir menyusul perubahan rezim, dan juga untuk mencari jalan keluar dari krisis yang masih dialami sejumlah negara di dunia Arab.

sumber: http://hidayatullah.com

%d bloggers like this: