Posts tagged ‘Antipati’

Islamfobia, Riwayatmu Kini

Islamofobia (ilustrasi)

Islamofobia (ilustrasi)

Oleh Muhammad Subarkah/Wartawan SeniorRepublika

Bila merunut sejarah dan kenyataan hari ini, maka fobia Islam ternyata bukan muncul tanpa rekayasa. Fobia terjadi karena adanya perebutan akses terhadap kekuasaan dan sumber ekonomi.

”Waspadalah terhadap kaum sarungan!” Jargon itu dilontarkan oleh elite Partai Nasional Indonesia, Hadi Subeno, pada dekade awal 1960-an. Saat itu suhu politik memanas. Aktivis politik Islam keras menentang sikap Soekarno menjadi presiden seumur hidup dan menggenggam wacana demokrasi Indonesia hanya mutlak di tangannya. Istilah ini dipakai untuk “menyerang” posisi kaum santri (kaum Muslimin) yang kritis kepada kekuasaan.

Suasana semakin hiruk pikuk ketika saat itu kemudian muncul pidato dari Ketua Partai Komunis Indonesia DN Aidit. Dia mengolok-olok sekaligus mengompori para kadernya untuk bertindak frontal agar segera bisa membubarkan kekuatan masa intelektual Islam, yakni Himpunan Mahasiswa Islam. Dalam pidatonya di Stadion Senayan, pada tahun 1964, Aidit menyerukan kepada masa partainya: “Kalau kalian tidak bisa membubarkan HMI maka segera saja pakai sarung!”

Ya, dua contoh itulah yang dapat disebut sebagai sikap fobia terhadap Islam. Bila dikaji, di situ terasa sekali bahwa Islam itu merupakan ancaman bagi negeri ini. Posisi umat Islam cenderung digeneralisasi: hanya bikin rusuh, tukang berontak, bodoh, kumuh, dan sebutan peyoratif  lainnya. Dan, pada periode masa kini  juga ada sebutan yang  mirip, seperti “ustaz di kampung maling”, “preman berjubah”, “korupsi berjamaah”, dan lainnya. Islam dikonotasikan dengan sebutan negatif sehubungan banyak penganutnya yang berperilaku buruk atau durjana.

Alhasil, bila kemudian judul di atas dituliskan “Islamfobia” maka maksudnya adalah untuk menelisik sampai sejauh mana persepsi publik (juga termasuk dalam sejarahnya) terhadap isu ini. Dan bila dirunut pada arti ‘fobia’ dalam kamus bahasa Indonesia, di sana jelas disebutkan sebagai ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya. Jadi, jelas di sini akan dilihat mengapa banyak orang menjadi ketakutan terhadap Islam, sekaligus merunut mengenai asal usul dan penyebab munculnya “penyakit” fobia ini.

****

Pada kenyataannya, kekuatan Islam di Indonesia jelas kenyataan yang tidak bisa disepelekan. Siapa pun dan pihak manapun yang ingin berkuasa di negeri ini pasti memperhitungkan fakta ini. Apalagi, pada kenyataannya, seperti sempat disinggung oleh sejarawan asing, pengaruh atau Islami Indonesia kini sudah jauh lebih dalam dibandingkan dengan dahulu semasa berada dalam masa penjajahan (masa kerajaan-kerajaan Nusantara). Uniknya lagi, ke dalam Islamisasi itu sekarang sudah sampai berada di titik yang bisa untuk balik kembali.

Adanya kenyataan ini jelas sejalan dengan kenyataan. Sebuah perbandingan untuk melihat posisi Islam masa kini bisa dilihat ketika mengacu pada sebuah peristiwa di era 1930-an dengan kenyataan yang terjadi pada masa kini. Pada zaman kolonial dulu, bila ada tiga orang yang beragama Kristiani berkumpul, maka ada dua orang yang mendapat keuntungan dalam pemerintahan, yakni menjadi pegawai negeri. Namun, posisi ini  hanya dalam waktu setengah abad setelah merdeka, sebelum fakta ini kemudian berbalik. Bila ada tiga orang Muslim berkumpul, maka sekarang dua orang itu mendapat keuntungan dari pemerintah. Adanya fakta ini kemudian bisa menjelaskan mengapa fobia terhadap Islam terus muncul, bahkan disinyalir juga menjadi bahan bakar utama dari munculnya konflik komunal yang sempat terjadi di Ambon pada masa awal reformasi dulu.

Sejarawan dari Universitas Indonesia, Didik Pradjoko, ketika diminta mengkaji atas sejarah kemunculan fobia terhadap Islam menyatakan, rasa takut yang berlebihan itu memang terlihat muncul by design atau secara sengaja dibuat karena adanya kepentingan dalam persaingan politik kekuasaan. Fobia terhadap Islam secara sistematis mulai muncul semenjak berakhirnya perang Diponegoro (1930). Hal ini dilakukan oleh pemerintah kolonial karena merasa ketakutan terhadap ‘kekuatan Islam’ yang besar, yang sewaktu-waktu bisa memicu perang berskala luas.

Menurut Didik, ketakutan yang berlebihan atau phobia terhadap Islam itu makin terasa ketika Nusantara kemudian benar-benar secara riil dikuasai Belanda, tepatnya semenjak runtuhnya kejayaan VOC (VOC bubar pada 31 Desember 1799). Dengan kata lain, bersamaan dengan berakhirnya Perang Jawa, maka secara sistematis pula dimulailah  berbagai kajian tentang Islam oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Saat itupun sudah mulai ada hipotesis yang mulai baku bahwa bila kekuatan Islam dapat bersatu dengan kekuatan bangsawan lokal, maka ini benar-benar akan memunculkan persoalan serius bagi keberadaan posisi kekuasaan kolonial Belanda.

****

”Semenjak usainya perang Diponegoro itu rupanya pihak Belanda mulai membuat pandangan-pandangan dan kemudian menjadi suatu kajian mengenai Islam. Kesadaran akan ini kemudian mencapai puncaknya ketika hadirnya tokoh seperti Snouck Hurgronje. Jadi, dalam hal ini sebelum adanya perang Diponegoro bisa dikatakan belum ada kajian yang serius terhadap Islam di Nusantara. Dan ini pun masuk akal sebab saat itu, meski sudah ada VOC, status pemerintah Belanda di sini belum menjadi sebuah entitas pemerintahan kolonial. Sebab, VOC itu adalah perusahaan dagang dan meski ada politik kekuasaannya, sifatnya belum seperti negara, yakni kolonial Hindia Belanda.

Kajian kolonial terhadap Islam di Nusantara semakin terasa perlu manakala pihak pemerintah kolonial Belanda ingin membuat sebuah pemisahan antara Islam dan Jawa. Dari kajian sejarawan Robert Ricklefs misalnya, saat itu dinyatakan secara jelas bahwa raja Jawa seperti Sunan Pakubowono II itu termasuk seorang raja Jawa yang santri. ”Nah, status seperti santri seperti ini kemudian pada masa berikutnya diteruskan oleh Diponegoro, seorang putra tertua Sultan Hamengku Buwono ke III, yang juga kebetulan sangat santri dan mengobarkan ‘perang jihad’ itu.”

Menyadari akan besarnya potensi perlawanan penganut Islam ini, maka Belanda kemudian berpikir bagaimana caranya mulai mengatur gejolak itu, terutama agar sampai tidak memunculkan sebuah perang yang besar. Melalui  nasihat Snouck Hurgronje, maka keluarlah kebijakan memecah kekuatan ulama dengan bangsawan. Dan nasihat Snouck yang legendaris lainnya adalah biarkan Islam berkembang asalkan itu hanya berada pada sisi ritual ibadah saja, namun segera berangus bila ada kekuatan Islam politik, sebab ini ancaman riil bagi pemerintah kolonial!

Tak beda masa Indonesia modern, selain melalui media massa, fobia Islam di masa kolonial itu juga “ditularkan” melalui ceramah hingga desas-desus dari mulut ke mulut. Maka, keluarlah sebutan peyoratif yang lain, seperti “santri gudik” untuk mengolok kehidupan pesantren yang sederhana, hingga menyebarkan cibiran kepada khalayak bahwa mereka yang pergi haji ke Makkah itu tujuannya hanya untuk mencari kekayaan atau membeli tuyul dan jin. Sedangkan, fobia yang secara telanjang muncul di berbagai media massa, misalnya dengan membiarkan berbagai karya sastra yang isinya menghina ajaran Islam. Pada awal abad ke-20 banyak muncul novel yang selalu menokohkan haji sebagai sosok serakah. Penokohan sinis kepada haji ini kemudian diteruskan oleh sastrawan sosialis kiri, Pramoedya Ananta Toer. Di setiap karyanya, Pramodya hampir tak pernah menampilkan sosok haji yang bercitra positif.

Tak hanya itu, fobia itu muncul dalam berbagai karya satra Jawa. Salah satu di antaranya dan yang paling legendaris adalah kitab Gato Lotjo yang ditertibkan penerbit Than Koen Swie, Kediri. Isi naskah ini dihimpun oleh priyayi Surakarta RM Suwandi. Meski dalam bentuk stensilan, naskah Gato Lotjo sekarang ini masih bisa dibeli bebas.

Penjualnya ada di sebuah kios di bawah pohon beringin yang ada di dekat  Pasar Klewer atau tak jauh dari Masjid Keraton Solo, Jawa Tengah. Buku setebal 43 halaman yang isinya mengolok-olok ajaran Islam ini dijual dengan harga murah, Rp 15 ribu per buah. Buku ini dirasa penting sebab kerap kali jalinan pikiran yang ada dalam buku tersebut  dipakai sebagai lambang “perlawanan” terhadap Islam.
http://www.republika.co.id

Kisah Lukman al-Hakim: Meraih Simpati Manusia

Lukman al-Hakim berwasiat kepada anaknya, “Duhai anakku, janganlah kau jadikan hatimu terpaut dan tergantung pada simpati, pujian, dan makian manusia. Karena, hal itu tak akan bisa diraih sekalipun manusia berupaya keras untuk menggapainya sesuai dengan kemampuan maksimalnya.”

Sang anak kemudian meminta ayahnya memberikan contoh nyata yang bisa dilihatnya sendiri dari pesan tersebut.

Keduanya keluar bersama hewan tunggangan. Lalu, Lukman menaikinya dan membiarkan anaknya berjalan di belakangnya. Kemudian keduanya melewati suatu kaum dan mereka pun berkomentar. “Ini orang tua keras sekali hatinya, sama sekali tak punya belas kasihan, ia menaiki kendaraan, padahal ia lebih kuat dari anaknya, sementara anaknya dibiarkan berjalan di belakangnya. Ini penataan yang jelek.” Lukman pun berucap kepada anaknya. “Kamu dengar ucapan dan penolakan mereka terhadapku yang menaiki hewan dan membiarkanmu berjalan?” Lukman kemudian meminta anaknya menaiki keledai itu.

Begitu melintasi masyarakat yang lain, mereka berkata, “Ini orang tua dan anak jelek sekali kelakuannya. Mengapa orang tua itu tak mendidik anaknya sehingga ia sendiri enak naik kendaraan, sedangkan ayahnya dibiarkan berjalan di belakangnya. Padahal, orang tua lebih berhak untuk dimuliakan dengan memberinya kesempatan naik kendaraan. Anak itu sungguh durhaka kepada orang tuanya.”

Mendengar ucapan itu, Lukman pun mengingatkan anaknya untuk tetap mendengarkan pendapat masyarakat atas perbuatan mereka. Ingin mendapatkan perkataan yang lain, Lukman dan anaknya lalu bersama-sama menaiki keledai itu. Mereka pun melewati suatu kaum. Tak lama berselang, kembali muncul perkataan menyindir Lukman dan anaknya.

“Kedua penunggang hewan ini sama sekali tak punya belas kasihan dan tiada kebaikan dari Allah sedikit pun pada keduanya. Seekor hewan dinaiki dua orang, sungguh sangat membebani dan dapat menyakiti hewan tunggangan itu. Padahal, jika yang satu naik, lalu yang satunya lagi berjalan, itu lebih baik dan lebih punya rasa kasihan,” ujar kaumnya. Lukman pun kembali bertanya kepada anaknya, “Kamu dengar ucapan mereka?”

“Ya,” jawab anaknya.

“Kalau begitu, mari kita biarkan hewan itu berjalan sendiri dan tidak kita tunggangi.” Keduanya menuntun hewan tersebut dengan diapit di antara keduanya. Dan ketika melalui suatu kaum, mereka pun berkata, “Aneh sekali kedua orang ini. Mereka biarkan hewan itu berjalan sendiri tanpa penumpang dan keduanya pun berjalan kaki.”

Mereka semua mengecam tindakan Lukman dan anaknya itu, sebagaimana keduanya menerima kecaman dari masyarakat yang dijumpai sebelumnya. Lukman berkata kepada putranya.

“Kamu lihat, bagaimana hasrat untuk meraih simpati manusia itu sebagai suatu keinginan yang absurd dan mustahil? Maka, janganlah kamu menoleh dan bergantung kepada mereka, tapi sibukkanlah dirimu dalam meraih rida Allah SWT. Karena, di dalamnya ada aktivitas yang efektif, ada kebahagiaan dan penerimaan, baik di dunia maupun di saat hari perhitungan dan pertanyaan.”

Pesan moral apa yang bisa diambil dari Kisah sederhana ini.??

Dimanapun kita berada, apapun kedudukan kita, apapun yang kita lakukan, akan selalu ada pandangan negatif dari orang-orang disekitar kita!, ITU PASTI. Tinggal kita melihatnya sebagai TEMBOK yang menghalangi, atau sekedar JEMBATAN BATU yang memang harus kita lalui untuk menuju ke masa depan yang gemilang dan mencerahkan. SEMUA TERGANTUNG DARI CARA BERPIKIR KITA SENDIRI.

%d bloggers like this: