Posts tagged ‘Aqidah’

Tazkiyatun nafs : Inputnya Tauhid , Outputnya Akhlak Mulia

Banyak orang menyangka bahwa akhlakul karimah tidak ada sangkut pautnya dengan tauhid/aqidah

tauhidd

SEORANG doktor di bidang aqidah bertanya kepada Syeikh Dr. Umar Al Asyqor guru besar ilmu aqidah :” Wahai Syeikh, saya sudah mencapai gelar akademik tertinggi dalam ilmu aqidah, namun saya belum merasakan dalamnya aqidah ini tertanam di hati dan jiwaku.”

Maka Syeikh Dr. Umar Al Asyqor menjawab; “Pertanyaan itu sudah pernah ditanyakan oleh Syeikhul Islam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah kepada gurunya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjawab: “Apa yang engkau pelajari hanyalah kaidah-kaidah (rumusan-rumusan) dalam masalah aqidah, sedangkan jika engkau ingin merasakan dalamnya aqidah tertanam didalam hati dan jiwamu, maka hayati dan resapilah kandungan al-Qur’an.”

Sesungguhnya, ilmu tauhid yang kita pelajari selama ini, ternyata baru sekedar kaidah atau rumusan seperti rumus Matematika dan Kimia atau rumus lainnya. Aqidah hanya sebagai kekayaan kognitif. Tidak sampai merasuk ke dalam jiwa yang paling dalam. Aqidah yang tidak memiliki efek apa pun. Tanpa praktek nyata, maka rumusan aqidah itu tinggal rumusan tanpa arti walaupun sebanyak apapun kita menghafalnya.

Khalifah Umar Bin Abdul Aziz berkata :

إِنَّ لِلإِيمَانِ فَرَائِضَ وَشَرَائِعَ وَحُدُودًا وَسُنَنًا ، فَمَنِ اسْتَكْمَلَهَا اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَكْمِلْهَا لَمْ يَسْتَكْمِلِ الإِيمَانَ

“Sesungguhnya iman memiliki kewajiban-kewajiban, batasan dan aturan serta sunnah-sunnah, barangsiapa menyempurnakannya maka sempurnalah imannya dan barangsiapa tidak menyempurnakannya maka tidak sempurna pula imannya.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu marilah kita beriman sejenak sebagaimana ucapan sahabat Muadz bin Jabal Rodiyallahu ‘anhu:

اجْلِسْ بِنَا نُؤْمِنْ سَاعَةً

“Duduklah bersama kami, mari kita beriman sejenak saja.” (HR. Bukhari). Maksudnya adalah bertafakkur dan mengingat Allah sejenak saja.

Allah Azza Wa Jalla Berfirman (artinya):

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS Al Anfal (8) : 2).

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّداً وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya orang yang benar-benar beriman kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (karena sholat tahjjud) dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan.” (QS As Sajdah (32) : 15).

Banyak orang menyangka bahwa akhlakul karimah tidak ada sangkut pautnya dengan tauhid atau aqidah, sehingga seseorang yang sudah belajar tauhid tidak sedikit pun merasa risih untuk mengeluarkan sumpah serapah atau kata-kata kotor kepada saudaranya sesama muslim. Ia demikian fasih memaki-maki saudaranya hanya karena perbedaan pemahaman aliran keagamaan, sebagaimana fasihnya dalam membaca al-Quran. Padahal tauhid adalah inti iman dan dalam banyak hadits Rasulullah Shollallohu ‘alihi wa sallama selalu mengaitkannya dengan adab dan akhlak. Bahkan Allah Azza wa jalla pun menjadikan amal shalih sebagai bukti keimanan seseorang.

Ucapan kita, pandangan kita, pendengaran kita bahkan desiran hati kita adalah bukti/refleksi dari iman dan tauhid kita.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS” Qaaf  [50] : 16 – 18).

Puluhan nasehat Rasulullah Shollallohu ‘alihi wa sallama mengaitkan keimanan dengan ucapan, sikap dan adab kita. Bahkan menyingkirkan duri dari jalanan pun bagian dari iman. Membuang sampah adalah bagian dari kebimanan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Beliau Shollallohu ‘alihi wa sallama bersabda :

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman itu ada 70 atau 60 cabang, yang paling utama adalah ucapan Laa Ilaaha IllaLlah sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan rasa malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Muslim).

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam saja.” (Muttafaq Alaih).

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (Muttafaq Alaih).

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (Muttafaq Alaih).

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya.” (Muttafaq Alaih).

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat di atas Mizan (timbangan amal di akhirat nanti) dibandingkan akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan beliau menyatakan bahwa Hadits ini Shahih).

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung silaturahim.” (Muttafaq Alaih).

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari mulut dan tangannya. Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang hijrah (menjauhi) dari segala yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari).

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Shodaqoh tidaklah akan mengurangi harta sedikitpun, dan tidaklah seorang hamba yang memberi maaf, melainkan Allah akan menambahkan baginya kemuliaan dan kehormatan, dan tidaklah seseorang itu merendahkan diri di hadapan Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah engkau meremehkan amal kebajikan meskipun kecil, walaupun itu hanya berupa wajah yang manis ketika engkau bertemu saudaramu.” (HR. Muslim).

سِبَابُ الْمُسْلِم فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

“Mencaci seorang muslim adalah tindakan yang melampaui batas (fasiq) sedangkan membunuhnya adalah kekafiran.” (Muttafaq Alaih).

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kalian apakah ghibah (menggunjing) itu ?” Para Shahabat menjawab “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Rasul pun menjelaskan, “(ghibah adalah) menyebutkan sesuatu dalam diri saudaramu yang tidak disukainya”. Seorang shahabat bertanya, “Bagaimana jika yang kami sebutkan itu memang benar-benar ada padanya ?” Rasul pun bersabda, “Jika apa yang kalian sebutkan itu memang benar ada padanya, maka berarti engkau telah menggunjingnya, dan jika tidak ada padanya berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)

Siapakah orang yang bangkrut itu?

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya :  “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut ( pailit ) itu ?” Mereka (para sahabat ) menjawab : “Orang yang pailit di antara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan : “Orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun dia datang dan (dahulu di dunianya) dia telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan telah memukul orang lain (dengan tidak hak ), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, sehingga ketika kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya (kepada orang lain), maka kesalahan orang yang dizhalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka.” (HR. Muslim).

Garbage In Garbage Out

Meminjam istilah komputer yaitu “Garbage In Garbage Out” (jika sampah yang dimasukkan sampah pula yang keluar) maka jika inputnya bagus pastilah outputnya bagus pula. Jika inputnya bagus namun outputnya buruk, tentulah ada masalah pada softwarenya atau hardwarenya.

Jika seseorang telah mempelajari ilmu tauhid/iman, tetapi tidak tercermin (dan tergambar) pada akhlaq dan adabnya , bisa jadi  input yang dimasukkan telah salah. Ibarat computer, harus segera di-service atau di-upgrade.*

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus Jawa Tengah

Kuliah Tauhid

Oleh: Ir. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim M.Sc.

Pada saat menjelang dewasa, ketika tenaga Isma’il sudah mulai bisa diharapkan membantu ayahanda beliau dalam mengerjakan ka’bah, Ibrahim AS dan Isma’il AS mendapat ujian terberat lagi dari Allah SWT. Ibrahim AS diperintah Allah menyembelih Isma’il, anak kandung sibiran tulang ini. Ujian terberat ini dijalani keduanya dengan penuh keikhlasan, yang tiada bandingannya dalam sejarah kemanusiaan.

“Maka ketika ia (Isma’il) telah mencapai usia yang boleh bekerja, ia (Ibrahim) berkata: ‘Wahai ananda, Aku telah melihat di dalam mimpiku, bahwa aku harus menyembelihmu, cobalah ananda renungkan, bagaimanakah pendapatmu?’. “ (Q. 37.102)

Dengan spontan Isma’il AS menjawab: “Wahai ayahandaku, laksanakanlah perintah Allah itu; ayah akan lihat betapa ananda insya Allah akan tabah (mematuhinya).” (Q. 37:102)

Inilah pancaran sikap tawhid yang paling murni yang pernah dibuktikan dalam sejarah kemanusiaan. Sikap tawhid ini tidak hanya terlihat pada Ibrahim AS, tapi juga pada anak beliau Isma’il AS.

Watak Isma’il yang haliim ini mengalir dalam darah keturunan beliau bangsa Quraish, yang kelak akan melahirkan nabi terakhir bagi kemanusiaan. Bangsa Quraish adalah bangsa yang militant, kuat dan tangguh menghadapi cabaran alam. Mereka mampu menantang terik panasnya musim panas dan sejuknya musim dingin, yang menghcmbuskan angin sejuk menyayat telinga.

“Sudah menjadi kebiasaan kaum Quraish, kebiasaan menghadang sejuknya musim dingin dan teriknya musim panas.” (Q. 106:1,2)

Bangsa yang ulet menghadapi tantangan alam ini ternyata telah dipersiapkan Allah SWT sebagai pembawa suatu missi (mission carrier) yang terpenting bagi kemanusiaan seluruh dunia. Nilai yang dikandung oleh missi (risalah) ini merupakan syarat mutlak bagi kebahagiaan setiap bangsa di dunia ini dari dahulu sampai hari qiamat nanti. Bangsa mana pun yang pernah ada dalam sejarah kemanusiaan akan mengalami kemakmuran dan kebahagiaan jika menghayati nilai yang dikandung missi ini. Sebaliknya bangsa manapun akan menderita kemunduran bahkan kehancuran jika tidak mengamalkan risalah yang nilainya universal ini. Karena itu Allah menamakan missi ini “rahmah” atau kasih sayang bagi seluruh kemanusiaan.

“Tiada Kami mengutus engkau (ya Muhammad), kecuali sebagai pembawa RAHMAH bagi seluruh kemanusiaan.” (Q. 21:107)

Rahmah yang dibawa oleh RasuluLlah Muhammad SAW ini kemudian disebarkan oleh bangsa ulet keturunan nabi Ibrahim ini ke seluruh dunia dalam waktu yang sangat singkat, sehingga dalam waktu kurang dari satu abad telah tersebar ke Barat sejauh perbatasan kota Paris, dan ke Timur sampai ke perbatasan negeri Cina.

Di dalam surat Quraisy itu Allah telah menerangkan apa yang dimaksudkan-Nya dengan “rahmah” atau kasih sayang itu disertai persyaratan yang tegas untuk mendapatkannya.

“Maka hendaklah mereka mengabdi hanya kepada (mentawhidkan) Tuhan Pemilik rumah (ka’bah) ini, Yang akan MEMBEBASKAN MEREKA DARI RASA LAPAR DAN MENGAMANKAN MEREKA DARI RASA TAKUT.” (Q. 106: 3,4)

Sejarah kemanusiaan telah membuktikan, bahwa manusia kelaparan bukanlah karena kurangnya bahan makanan yang bisa dihasilkan oleh bumi Allah ini. Manusia kelaparan, biasanya karena ketidak-adilan ekonomi atau penjajahan ekonomi atau penguasaan ekonomi oleh sekelompok kccil orang-orang, yang oleh karena kedudukan politik atau kekuatan modalnya telah tega mengorbankan kepentingan rakyat yang lebih banyak. Selanjutnya, manusia dicengkeram rasa takut oleh adanya penindasan (tirani) politik dan atau militer. Oleh karena itu, di Amerika Serikat dinyatakan sebagai tujuan perjuangan mereka ialah untuk menegakkan: “Freedom from want, and freedom from fear”, yang artinya: bebas dari rasa lapar dan bebas rasa takut. Dengan perkataan lain: kemerdekaan ekonomi dan kemerdekaan berpolitik. Tujuan ini mulai dislogankan pada awal perjuangan mereka sebagai satu bangsa dalam tahun 1776.

Sejarah bangsa-bangsa yang lalu selamanya membuktikan, bahwa kedua macam kemerdekaan ini senantiasa merupakan tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Apabila pada suatu bangsa atau negara kedua macam kemerdekaan ini terjamin, maka bangsa atau negara itu akan maju dan makmur. Sebaliknya jika kedua macam kemerdekaan ini tertekan, maka bangsa atau negara itu mengalami kemunduran, bahkan ada kalanya sampai hancur sama sekali. Bekas-bekasnya biasanya ditinggalkan Allah sebagai bukti hukum besi sejarah yang akan dapat dipelajari oleh manusia yang mau mengambil hikmah dari padanya. Oleh karena itu Allah berfirman beberapa kali dalam al-Qur’an menganjurkan agar manusia menjelajahi bumi ini demi mempelajari akibat perbuatan bangsa-bangsa dahulu yang telah mendurhakai hukum-hukum Allah SWT ini. Diantara firman-firman Allah itu ialah:

“Sesungguhnya telah berlaku sunnah Allah pada masa sebelum kamu, maka jelajahilah muka bumi ini dan telitilah akibat perbuatan mereka yang telah mendustakannya.” (Q.3:137). Lihat juga (Q. 12: 109; 22: 46, 27: 69; 30:42).

Sejarah bangsa Mesir dengan kezhaliman Fir’aunnya, bangsa ‘Ad dan Thamud, bangsa Babylonia yang telah melahirkan Nabi Ibrahim AS, dan bangsa Incus (di daerah Mexico sekarang ini) merupakan beberapa contoh peristiwa yang membuktikan kebenaran ayat Al-Qur’an tersebut. Mereka hancur bahkan hilang dari permukaan bumi, dan diganti Allah SWT dengan bangsa yang lebih mampu menegakkan kedua nilai ini.

Oleh karena mereka yang miskin dan dilemahkan (oleh sistim ekonomi atau struktur kekuasaan yang tidak kerakyatan) sangat berkepentingan terhadap tegaknya kedua macam kemerdekaan ini, maka biasanya merekalah yang paling gigih memperjuangkan tegaknya kemerdekaan ini. Hampir semua jalan sejarah bangsa-bangsa di dunia ini menggambarkan kepada kita, bahwa jika kelompok manusia yang dilemahkan itu bersatu dan berjuang, maka kekuatan penindas yang bagaimana hebatnya pun tidak akan mampu menghadangnya. Allah pun telah berjanji akan memberikan kemenangan beserta amanah kepemimpinan dan pewarisan kepada mereka yang berjuang untuk merebut kembali hak asasi mereka yang merupakan anugerah Allah itu.

“Kami telah berkeinginan membantu mereka yang telah ditindas (diperlemahkan) di muka bumi, dan akan menjadikan mereka pemimpin-pemimpin dan pewaris-pewaris.” (Q.28:5)

Maka dari ulasan ini pun nampak jelas apa yang telah kita bincangkan semula, yaitu tegaknya kemerdekaan ini hanyalah melalui suatu perjuangan dan pengorbanan yang berat. Memanglah mentawhidkan Allah itu merupakan suatu prestasi yang paling besar dalam hidup setiap insan. Oleh karena itu, memenangkan perjuangan ini berarti telah memenangkan suatu perjuangan yang paling besar dalam kehidupan seseorang. Mereka yang menang akan merasakan nikmat Allah yang paling tinggi berupa penghayatan secara penuh nilai deklarasi “laa-ilaaha illa Allah”. Mereka punya suatu sikap mental kemanusiaan yang paling tinggi derajatnya. Pribadi yang punya sikap mental seperti ini tiada mengenal kata- kata tunduk, kecuali kepada Allah. Mereka mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu semata-mata demi mendapat keridhaan Allah. Inilah sikap mental yang paling merdeka, karena itu paling berbahagia hidupnya di dunia ini.


Kuliah Tauhid
Ir. Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim M.Sc.
Diterbitkan oleh Pustaka-Perpustakaan Salman ITB
Bandung, 1400H, 1980
Cetakan 1, 1979, dan cetakan 2, 1980
(Muhammad ‘Imaduddin ‘AbdulRahim Ph.D., KULIAH TAWHID, Yayasan Pembina Sari Insan (YAASIN), Jakarta, 1993)

5 Pilar Agamamu: Penjelasan Ringkas Rukun Islam (2)

Penulis: Abu Fatah Amrullah
Murojaah: Ust. Aris Munandar

Pilar Islam Pertama: Dua Kalimat Syahadat

Inilah pilar Islam yang pertama dan utama yaitu persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah subhanahu wa ta’ala dan persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Tanpa adanya pilar ini, maka tidak ada bangunan Islam dari diri seseorang. Demikian pula jika pilar ini hancur, maka akan ikut hancur pula bangunan Islam dari diri seseorang. Oleh karena itu sudah seharusnya seorang muslim memperhatikan dan senantiasa memelihara hal yang satu ini dalam seluruh waktu dan kehidupannya.

Persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah subhanahu wa ta’ala dan persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah tidak cukup hanya sekedar di lisan saja, namun lebih dari itu, seorang yang bersaksi haruslah mengetahui dan meyakini hal yang dia saksikan serta mengamalkan konsekuensi kesaksiannya tersebut. Jika ada seorang saksi yang berbicara dengan lisannya bahwa dia telah melihat sesuatu namun ternyata hal tersebut tidaklah benar alias dia hanya berbohong maka saksi seperti ini disebut saksi palsu. Demikian juga, jika ada orang yang mengucapkan kedua kalimat syahadat dengan lisannya, namun ternyata hatinya tidak meyakininya, maka orang ini adalah seorang pendusta. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutnya sebagai orang munafik ketika mereka mengatakan bahwa mereka bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah, namun Allah mendustakan persaksian palsu mereka yang tidak muncul keyakinan tersebut. Allah berfirman:

إِذَا جَاءكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al Munafiquun: 1)

Kalimat yang pertama dari dua kalimat syahadat ini, yaitu kalimat Laa Ilaha Illallah bukanlah kalimat yang ringan dan sepele. Ada makna yang sangat dalam dan konsekuensi yang sangat besar di balik kedua kalimat ini. Bahkan Allah pun menjadi saksi kalimat Laa Ilaha Illallah ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyaksikan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18)

Kalimat Laa Ilaha Ilallah, sebagaimana penjelasan para ulama, memiliki makna:

لَا مَعْبُوْدَ حَقٌ إِلَا اللهُ

“Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Hajj: 62)

Dari makna ini kita mengetahui adanya sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala yang disembah oleh manusia seperti kuburan, pohon, para Nabi, malaikat, orang shalih dan lain sebagainya. Namun sesembahan tersebut pada hakikatnya tidak berhak sama sekali untuk disembah dan diibadahi karena yang berhak disembah dan diibadahi hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala.

فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِن دُونِ اللّهِ مِن شَيْءٍ لِّمَّا جَاء أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ

“Karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.” (QS. Huud: 101)

Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa orang-orang musyrik memiliki sesembahan selain Allah. Namun sesembahan itu sama sekali tidak dapat memberikan manfaat pada mereka ketika datang azab Allah.

Oleh karena itu, sungguh suatu fenomena yang sangat menyedihkan sekali ketika kita melihat ada seorang muslim yang sudah mengucapkan kedua kalimat syahadat, namun dia masih melakukan berbagai macam bentuk peribadatan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala baik itu kepada orang shalih, kuburan, jin penunggu dan lain sebagainya. Di antara penyebab terjadinya hal ini adalah ketidaktahuan terhadap agama Islam yang menimpa banyak kaum muslimin di zaman ini. Terlebih lagi tidak tahu terhadap tauhid yang merupakan inti dari agama Islam.

Dalam kalimat لا اله إلا الله terkandung dua aspek yang sangat penting. Yang pertama yaitu aspek peniadaan/negasi, hal ini tercermin pada kata-kata لا اله (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah) yang berarti meniadakan dan segala macam bentuk peribadatan pada selain Allah, apapun bentuknya. Para ulama mengistilahkan aspek pertama ini dengan istilah An Nafyu (النفي). Sedangkan aspek yang kedua yaitu aspek penetapan, hal ini tercermin pada kata-kata إلا الله (kecuali Allah) yang berarti menetapkan bahwa seluruh macam bentuk peribadatan hanyalah untuk Allah semata. Para ulama mengistilahkan aspek pertama ini dengan istilah Al Itsbat (الإثبات).

Kedua aspek ini sangatlah penting untuk dipahami dengan benar oleh seorang muslim yang ingin merealisasikan dua kalimat syahadat ini. Karena, jika seorang muslim salah dalam memahaminya, maka ia akan salah pula dalam merealisasikannya. Contohnya bisa kita lihat pada orang-orang yang sekarang disebut dengan JIL (Jaringan Islam Liberal), sebagian mereka (baca: Nurcholis Madjid jazaahullahu bimaa yastahiq) menafsirkan dan memaknai kalimat Tauhid dengan makna “tidak ada tuhan (dengan t kecil) kecuali Tuhan (dengan T besar)”. Dengan tafsiran yang salah ini, mereka menyamakan seluruh Tuhan yang ada yang disembah manusia. Ujung kesimpulan mereka, mereka mengatakan bahwa Tuhan seluruh agama adalah satu hanya berbeda-beda dalam penyebutannya. Semoga Allah membinasakan orang-orang seperti ini dan menjauhkan kaum muslimin dari pemikiran seperti ini.

Kedua aspek ini pulalah yang telah dipahami oleh Nabi Ibrahim ‘alaihi salam, Imam orang-orang yang bertauhid, bapaknya para Nabi dan Rasul. Allah berfirman ketika menceritakan perkataan Ibrahim ‘alaihi salam,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” Dan lbrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.” (QS. Az Zukhruf: 26-28)

Nabi Ibrahim ‘alaihi salam, menafikan seluruh sesembahan yang disembah oleh kaumnya dengan mengatakan bahwa beliau berlepas diri dari hal tersebut. Kemudian beliau menetapkan bahwa peribadatan beliau hanyalah kepada Tuhan yang telah menciptakan beliau yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Kemudian beliau menjadikan kalimat لا اله إلا الله tersebut kekal untuk keturunannya.

Kemudian bagian kedua dari dua kalimat syahadat ini yaitu persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Allah subhanahu wa ta’ala telah menegaskan bahwa telah ada seorang Rasul di antara manusia ini yang Allah utus, dan dialah Nabi kita, teladan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al Jumuah: 2)

Makna kalimat kedua ini adalah yang meyakini bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi wahyu oleh Allah dan meyakini beliau adalah benar-benar utusan Allah, serta beliau adalah penutup para Nabi (Syarah Arba’in An Nawawiyah Syaikh Shalih Alu Syaikh: hadits kedua). Oleh karena itu, barang siapa yang berkeyakinan bahwa beliau tidaklah diberi wahyu oleh Allah subhanahu wa ta’ala maka persaksiannya tidaklah sah. Hal ini banyak kita saksikan di zaman sekarang, ada orang-orang yang meragukan agama Islam. Mereka mengatakan bahwa Al Quran dan Hadits hanyalah konsep yang disusun oleh Muhammad dan bukan wahyu yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang kemudian konsep tersebut dijalankan oleh para sahabatnya, wal’iyadzubillah.

Barang siapa yang meyakini bahwa beliau tidaklah diutus untuk menyampaikan sesuatu yang telah diperintahkan kepada beliau, maka persaksiannya tidaklah sah. Demikian juga barang siapa yang menganggap adanya Rasul dan utusan Allah setelah Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka persaksiannya tersebut tidaklah sah. Sebagaimana diklaim oleh sebagian orang yang mengatakan bahwa ada di antara kelompoknya yang menjadi Nabi seperti Mirza Ghulam Ahmad (jazaahullahu bimaa yastahiq) atau Nabi-nabi kelas lokal seperti Lia Aminuddin (kafaanallahu ‘an syarrihaa) dan lain sebagainya.

Persaksian bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah memiliki konsekuensi yaitu taat terhadap perintah beliau, membenarkan berita yang beliau bawa, dan menjauhi seluruh larangan beliau dan kita beribadah kepada Allah hanya dengan syariat yang beliau bawa. Syaikh Nu’man bin Abdul Kariim Al Watr berkata dalam Taisir Wushul, “Taat dengan perintah beliau yaitu menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau memerintahkan kita. Karena taat pada beliau adalah taat pada Allah dan karena perkataan beliau tidak berasal dari hawa nafsu dan Rasulullah hanya memerintahkan kita dengan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan agama kita. Membenarkan berita yang beliau bawa karena beliau adalah orang yang jujur dan dibenarkan dan karena perkataan beliau tidak berasal dari hawa nafsu dan merupakan konsekuensi beriman bahwa beliau adalah benar-benar Rasulullah adalah membenarkan perkataan beliau. Menjauhi seluruh larangan beliau karena perkataan beliau tidak berasal dari hawa nafsu dan beliau hanya melarang kita dari hal yang tidak bermanfaat bagi dunia dan agama kita. Beribadah kepada Allah hanya dengan syariat yang beliau bawa karena orang yang beribadah pada Allah dengan syariat selain beliau maka dia telah melakukan bid’ah. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barang siapa yang beramal dengan amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)” (Taisir Wushul hal: 73).

-bersambung insya Allah-

***

* Penulis adalah Alumni Ma’had Ilmi

Baca artikel terkait: 5 Pilar Agamamu: Rukun dan Makna Islam (1) dan 5 Pilar Agamamu: Penjelasan Ringkas Rukun Islam (3)

www.muslim.or.id

BUKTI ALLAH ITU ADA

السلام عليكم . بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

الحمد لله رب العا لمين . الصلاة و السلام على رسو ل الله .اما بعد

Kaum kufar tak henti-hentinya mencoba melemahkan generasi muslim, salah satunya dengan menyebarkan ajaran Atheis yaitu tidak percaya Tuhan. Padahal pelajaran ini sudah didapat saat kita masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Untuk menyegarkan ingatan kita & juga meningkatkan serta berbagi ilmu dengan yang belum tahu, mari kita mengulas sekilas tentang bukti adanya Tuhan.

Tahun 1877 pembangunan menara eifel di prancis dimulai dan membutuhkan waktu 26 tahun untuk menyelesaikannya. Tentu saja, sebelum membangun diperlukan RANCANGAN / PLAN / DESIGN agar bangunan tampak baik, kuat, kokoh & tidak mudah rusak. Berat seluruh bangunan mencapai 9000 ton, sedangkan Tinggi menara eifel 321 meter dan merupakan bangunan tertinggi buatan manusia selama 40 tahun.

RANCANGAN / PLAN / DESIGN menara eifel ini mencontoh / meniru dari RANCANGAN / PLAN / DESIGN tulang paha manusia yang kecil tapi mampu menahan berat tubuh manusia yang jauh lebih berat dari berat tulang paha.

Tidak mungkin menara eifel menjadi ada secara tidak disengaja atau tanpa RANCANGAN / PLAN / DESIGN, menara eifel pasti telah dirancang oleh seseorang sehingga hasilnya seimbang, bagus, kokoh seperti kita lihat.


Menara Eifel

Keanekaragaman makhluk hidup baik berupa hewan berorganisme sel 1 maupun ber-sel banyak, berbagai jenis tumbuhan, manusia. Jumlah hewan jauh lebih besar dari jumlah manusia, kesemua jenis hewan & tumbuhan ini memiliki rancangan yang sangat rumit dan sama sekali berbeda antara satu dengan lainnya, sehingga manusia yang memiliki akal pun tidak dapat menirunya. Kembali pada menara, bangunan, kendaraan yang megah, maka semua ini pasti dirancang oleh manusia.

Manusia pun hanya dapat meniru RANCANGAN / PLAN / DESIGN alam yang telah ada, RANCANGAN / PLAN / DESIGN hasil manusia pun tidak dapat sempurna seperti RANCANGAN / PLAN / DESIGN Allah.

Contoh: Manusia membuat helicopter dengan meniru rancangan & gerak terbang pada capung (Dragon Fly), akan tetapi kemampuan terbang helicopter jauh di bawah kemampuan terbang capung (Dragon Fly).

Contoh: Manusia meniru rancangan tangan manusia untuk membuat Robot Tangan, tapi kemampuan robot tangan masih jauh dibawah kemampuan tangan manusia itu sendiri.

Elang memiliki mata tajam bersudut pandang 300° & dapat memperbesar (Zoom) target sebanyak 6-8x lebih besar dari penglihatan awal. Saat terbang di ketinggian 4300 meter, elang dapat memantau 30.000 hektar wilayah disekelilingnya. Dari ketinggian 1500 meter, elang dapat melihat gerakan atau perbedaan warna terkecil sekalipun untuk menentukan letak mangsanya.

Daya lihat yang tajam ini diakibatkan banyaknya sel kerucut peka cahaya di retina matanya. Sel-sel tersebut mengumpulkan cahaya dan mengirimkan informasi ke otak. Sementara sel kerucut pada manusia jauh lebih sedikit dibanding elang. Tentunya semua ini telah DIRANCANG / DI-DESIGN oleh Allah Sang Pencipta.

QS. 11 Huud:56. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. TIDAK ADA SUATU BINATANG MELATAPUN MELAINKAN ALLAH-LAH YANG MEMEGANG UBUN-UBUNNYA. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.


Elang

Manusia dapat meniru rancangan pada lumba-lumba dan kerang apung untuk diterapkan pada kapal selam, dan meniru cangkang kerang laut untuk membuat porselein, atau meniru RANCANGAN / PLAN / DESIGN lainnya ciptaan Allah, tapi tetap rancangan Allah jauh lebih baik dibanding rancangan manusia.

Contoh: Keramik Porselain buatan manusia hanya dapat dibuat dengan suhu antara 1000°-1500° Celcius, sedangkan kerang laut hanya memerlukan suhu 4° Celcius untuk membuat Porselain yang daya kekuatannya lebih kuat dan lebih tahan pecah dibanding keramik Porselain buatan manusia.

Terlebih lagi, jika keramik porselain buatan manusia itu jatuh & pecah, maka keramik porselain tersebut tidak dapat memperbaiki dirinya yang pecah, sedang kerang laut mempunyai sistem kerja yang luar biasa sehingga mampu memperbaharui bagian kerang yang rusak.

Apakah keramik Porselain ada dengan sendirinya tanpa RANCANGAN / PLAN / DESIGN manusia? Bagaimana dengan RANCANGAN / PLAN / DESIGN cangkang kerang laut yang dapat memperbaiki sendiri jika pecah serta jauh lebih kuat, lebih indah warna, lebih indah bentuknya dibanding buatan manusia? Siapa Yang Mencipta-nya?

Manusia memang dapat membuat tiruan komposit untuk bahan Polimer & Polisiklat yang dapat memperbarui diri jika rusak, tetapi komposit tiruan buatan manusia jauh lebih lemah dibanding apa yang ada di alam. Kita ambil 1 contoh dari banyak contoh saja yaitu pada kulit buaya.

RANCANGAN / PLAN / DESIGN yang sempurna pada hewan, manusia dan alam ini menunjukan tanda-tanda Kekuasaan Allah sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an:

QS. 45 Al-Jaatsiyah:4 Dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran terdapat tanda-tanda untuk kaum yang meyakini.

Bagaimana dengan RANCANGAN / PLAN / DESIGN yang ada pada jutaan jenis Hewan lainnya diseluruh muka bumi ini yang memiliki RANCANGAN / PLAN / DESIGN yang berbeda antara satu jenis hewan dan satu jenis hewan lainnya?

Apakah semua ini hanya ada dan terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja?


Kehidupan laut

Dalam QS.2: 164. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; SUNGGUH TANDA-TANDA BAGI KAUM YANG MEMIKIRKAN.

Otak manusia tersusun oleh rata-rata sekitar 10.000.000.000.000 syaraf, syaraf-syaraf ini terhubungkan antara 1 sama lain melalui 100.000.000.000 sambungan. Jumlah 100.000.000.000 ialah jumlah yang jauh diluar pemahaman kita. Semua pesan ke otak dan dari otak bergerak dengan kecepatan yang sangat mengejutkan yakni 320 Km/jam.

Sel-sel syaraf penghubung otak dan bagian tubuh lainnya menyerupai jalan bebas hambatan (highway toll free) yang mengangkut informasi antara tubuh dan otak. Setiap saat, tubuh kita ialah saksi dari lalu lintas yang sangat sibuk & padat didalamnya. Ribuan kegiatan berbeda saling datang & pergi dari otak hanya dalam kurun waktu 1 detik saja. Antara 100.000 sampai 1.000.000 reaksi kimia terjadi didalam otak kita hanya dalam waktu 1 menit saja.

Bahkan saat saudara membaca tulisan ini, ratusan pesan sedang keluar masuk antara otak & otot saudara setiap 0,001 detik. Ratusan pesan ini meliputi informasi tentang apa yang saudara lihat, membaca, memikirkan dan memahami apa yang saudara baca, detak jantung, kegiatan nafas, berkedipnya mata, pertumbuhan rambut kepala, penciuman aroma, pendengaran telinga.

Untuk menjelaskan rincian 1 kegiatan yang dilakukan oleh otak, saudara memerlukan berlembar-lembar halaman untuk menerangkan rumus kimia. Bagaimana jika 100.000 kegiatan dalam 1 detik? Berapa juta lembar yang saudara perlukan untuk menulis semuanya dalam 1 detik saja?

1 kesalahan saja dalam rumus kimia ini maka akan berakibat tidak seimbangnya kegiatan tubuh saudara. Namun Allah telah menciptakan manusia secara sempurna, dan sebagai balasan, hendaklah kita bersyukur pada Allah yang telah menciptakan & memberi kita nikmat yang tak dapat dihitung oleh manusia.

Dapatkah kita membuat susunan kabel elektrik yang berjumlah 10.000.000.000.000 tanpa sedikitpun “Error” selama bekerja 24 jam didalamnya sepanjang masa? Apakah ini tidak memerlukan RANCANGAN / PLAN / DESIGN?

BAGAIMANA DENGAN RANCANGAN / PLAN / DESIGN TUBUH LAINNYA SEPERTI MATA, JANTUNG, KULIT, PARU-PARU, HATI, TELINGA, LIDAH, SALURAN PENCERNAAN, TULANG, OTOT, PERSENDIAN, SYARAF DAN BAGIAN TUBUH MANUSIA LAINNYA? Apakah juga tidak memerlukan RANCANGAN / PLAN / DESIGN?

QS.82: 6. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. 82:7. YANG MENCIPTAKAN KAMU LALU MENYEMPURNAKAN KEJADIANMU DAN MENJADIKANMU SEIMBANG. 82:8. dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, DIA MENYUSUN TUBUHMU.

Maka nikmat dari Tuhan manakah yang kamu dusta-kan?

QS.6 Al-An’am:102 demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan ALLAH ADALAH PEMELIHARA SEGALA SESUATU.

Dalam Al-Qur’an, manusia diciptakan dengan sempurna dan termasuk keseimbangan tubuhnya. Jadi, dengan akal kita, janganlah kita mau disamakan dengan hewan yang tidak memiliki peradaban. Manusia dahulunya tidak bisa membuat pesawat, tapi sekarang bisa membuat pesawat antar benua dan bahkan bisa membuat pesawat ke luar angkasa dengan remote kontrol.


Robot

Sedangkan monyet / monkey, yang namanya monyet dari dulu ya tetap saja monyet yang tidak malu telanjang bulat tanpa baju, bisanya hanya bertepuk tangan lalu diberi makan pisang atau kacang oleh manusia. Tidak ada monyet yang dapat membuat pesawat terbang atau pesawat luar angkasa yang dikendalikan remote kontrol.

Oleh sebab itu, jangan-lah mau jika derajat kita sebagai manusia disamakan dengan binatang.

Pengkhotbah 3:19 Karena NASIB MANUSIA ADALAH SAMA DENGAN NASIB BINATANG, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan MANUSIA TAK MEMPUNYAI KELEBIHAN ATAS BINATANG, karena segala sesuatu adalah sia-sia.
(Christian Bible, King James Version, Ecclesiastes 3:19)

Begitu pula dengan Alam semesta termasuk segala isinya, bumi, matahari, bulan, air, udara, tanah, atmosfir, manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh jagat semesta raya ini terdapat keseimbangan, kesempurnaan, kecocokan dan ketelitian di setiap sisinya.

Tidak mungkin Alam semesta dan segala isinya tadi ada secara tiba-tiba tanpa RANCANGAN / PLAN / DESIGN, padahal alam semesta, hewan, tumbuhan & manusia sendiri memiliki RANCANGAN / PLAN / DESIGN yang jauh lebih rumit & jauh lebih sulit daripada RANCANGAN / PLAN / DESIGN menara eifel atau RANCANGAN / PLAN / DESIGN lainnya buatan manusia.

RANCANGAN / PLAN / DESIGN alam ini tentu diperlukan kekuatan yang MAHA KUASA untuk mendesign-nya dan Yang Maha Kuasa itu harus-lah 1 Tuhan saja karena Tuhan tidak mungkin ada 2 Tuhan, apalagi 3 Tuhan bekerja sama dengan makhluk ciptaan-Nya dalam membangun Alam semesta raya ini.

Semua ukuran di Alam semesta ini telah dibuat dengan ukuran yang teliti & tepat. Jika terjadi kekurangan atau kelebihan sedikit saja maka akan mengakibatkan bencana yang luar biasa. Dapat dibayangkan jika ada 2 Tuhan yang memiliki 2 RANCANGAN / PLAN / DESIGN yang berbeda. Tentu Planet-Planet, bintang-bintang dan segala isinya akan berbenturan dan kacau dibuatnya. Sehingga dengan akal kita, kita dapat memastikan bahwa hanya ada 1 Tuhan saja.


Angkasa

QS.15:19. Dan Allah telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya SEGALA SESUATU MENURUT UKURAN. 15:20. Dan Allah telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya. 15:21. Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Allah tidak menurunkannya MELAINKAN DENGAN UKURAN TERTENTU.

QS.25:2. yang kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi Allah dalam kekuasaan, dan DIA TELAH MENCIPTAKAN SEGALA SESUATU, dan DIA MENETAPKAN UKURAN-UKURANNYA DENGAN SERAPIH-RAPIHNYA.

QS.16 An-Nahl:51. Allah berfirman: “JANGANLAH KAMU MENYEMBAH DUA TUHAN; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut”.

Jelas sekali bahwa Allah itu Maha Teliti dalam menghitung kesemua ciptaannya, tidak mungkin Allah salah hitung dalam matematika sepele atau yang lebih rumit campuran antara fisika, kimia, biologi bahkan dalam segalanya.


Bumi

Berbicara soal “Ukuran yang serapih-rapihnya”, “Kecermatan”, “Ketelitian”, “Kesempurnaan”, lantas bagaimana kesalahan matematika dalam alkitab Chirstian? Apakah beberapa contoh kesalahan rancangan / perhitungan dari BERIBU-RIBU kesalahan dalam alkitab chistian berikut dilakukan oleh Tuhan?

Pikirkanlah segala hal yang telah diberikan oleh Allah kepada saudara. Saudara tinggal di bumi yang sengaja telah dirancang dan diciptakan khusus untuk kita. Kita tidak melakukan apapun untuk lahir ke dunia ini, dan kita pun tidak melakukan apapun diantara tatanan alam semesta ini. Kita sekedar lahir, dan membuka mata telah mendapati kita ditengah segenap kenikmatan alam & tubuh yang kita gunakan ini.

Kita dapat melihat, mendengar, merasakan, mencium, mengecap rasa atas kehendak Allah yang menciptakan kita. Dan Allah tidak meminta uang kita untuk menyewa tubuh kita, meminta bayaran atas oksigen yang kita hirup, meminta bayaran atas air, makanan & tanah yang kita gunakan. Allah hanya meminta kita bersyukur, dan sebetulnya rasa syukur ini untuk kebaikan diri & jiwa kita sendiri.

QS.16 An-Nahl:78. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Rasa syukur kita kepada Allah ini untuk kebaikan kita sendiri, dan Allah tidaklah membutuhkan rasa terimakasih dari manusia karena meskipun seluruh manusia ingkar & durhaka kepada Allah, tetaplah Allah Maha Kuasa & Maha Suci & Maha Agung.

Dengan akal, janganlah sampai kita keliru menyembah Tuhan. Jika kita keliru menyembah Tuhan tanpa dipikir menggunakan akal terlebih dahulu, maka berarti kita tidak tahu terimakasih karena telah diberi akal namun tidak digunakan, kita telah diberi banyak sekali nikmat namun kita keliru berterimakasih kepada yang bukan Tuhan.


Otak

QS.5 Al-Maa’idah:116. Dan ketika Allah berfirman: “HAI ISA PUTERA MARYAM, ADAKAH KAMU MENGATAKAN KEPADA MANUSIA: “JADIKANLAH AKU DAN IBUKU SEBAGAI DUA ORANG TUHAN SELAIN ALLAH?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hak-ku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.

Sementara Nabi Isa tidak pernah menyuruh menyembah pada dirinya, malah Nabi Isa jelas-jelas menyuruh menyembah HANYA kepada Allah saja, hal ini tertulis baik didalam Al-Qur’an maupun alkitab chirstian:

Markus 12:29 Jawab Yesus:“Hukum terutama ialah: Dengar, hai orang israel, tuhan Allah kita,Tuhan itu esa.

Terutama = paling utama, Paling pertama, Nomor utama, Nomor pertama, Terdepan, paling penting.

Jadi menurut Yesus yang Ter-utama ialah Tuhan itu Esa, Yesus tidak bilang : Tuhanmu adalah aku ! atau Tuhan itu Trinitas ! Sembahlah aku ! 3 dalam 1 atau 1 dalam 3 ! Yesus tidak pernah berkata demikian.

Tak ada 1 ayat pun di “Injil” Yesus berkata: “Akulah Tuhan!” atau “Sembahlah aku!”, yang ada malah Yesus suruh sembah cuma pada Allah saja & dia hanya Rasulullah atau utusan Allah!

kalaupun ada hukum Trinitas, maka itu bukan yang paling utama/terutama karena hukum yang TERUTAMA itu Tuhan Esa ! Jadi hukum Tuhan Trinitas masih kalah oleh Tuhan itu Esa.

Yesus bilang: “Tuhan Allah kita.”artinya=Tuhanmu & Tuhanku!
Tuhanmu & Tuhanku, artinya Yesus bertuhan, dan setiap yang bertuhan berarti bukan Tuhan.

Contoh : saya berTuhan, saya memiliki Tuhan, berarti saya bukan Tuhan. Tuhan kita ialah Allah, berarti Tuhanku & Tuhanmu ialah Allah, artinya saya & anda bukan Allah.

Yesus gak bilang: Tuhanmu itu Aku! atau Tuhan itu Trinitas!
Sabda Yesus sama dengan sabda Nabi Musa dalam Ulangan 6:4 Dengarlah, hai orang Israil: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!

Ayat Hukum TERUTAMA (PONDASI RUMAH PERTAMA) ini pun terdapat dalam :

Matius 22:36 “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”
Matius 22:37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Lukas 10: 27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Markus 22:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
Markus 22:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

QS.5 Al-Maa’idah:72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun

Matius 4:10 & Lukas 4:8 Kata Yesus padanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, & hanya pada Dia saja kau berbakti!”

Jelas Yesus gak bilang: Tuhanmu adalah Aku ! Engkau harus sembah Aku atau Trinitas!

Kalau Yesus memang Tuhan, atau Allah yang menjelma maka dia akan berkata: Sembahlah aku! Aku Tuhanmu! Tapi ternyata Yesus malah menyuruh menyembah HANYA pada DIA! HANYA pada ALLAH saja!

Yesaya 45:6 Supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai ter-benamnya, jika tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN & tidak ada yang lain.

Yesaya 43:10 “…jika Aku tetap Dia.Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, & sesudah Aku tidak akan ada lagi.”

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. QS. 4 An-Nisaa’:82

Maha Suci Allah dengan segala kekuasaan-Nya. Sungguh, apa-apa yang ditetapkan Allah, ada manfaat yang bisa diambil.

Jadi,,, 1 lagi bukti… Islam TERBUKTI BENAR.!

sumber: http://islamterbuktibenar.net

%d bloggers like this: