Posts tagged ‘didik’

Quantum Karakter di Zaman Nabi Ibrahim AS

kartun-dialog-ngaji-dakwah-250x205

Oleh:  Maukuf, S.Pd. M.Pd.

Beberapa saat lalu kita telah belajar tentang bagaimana nabi Ibrahim AS dalam hidupnya, saat ini pula, saudara kita seiman dan se Islam telah menjalankan syariat nabiyullah Ibrahim AS, haji di tanah suci Mekah, tentu sudah seharusnya kita mengambil banyak pelajaran dalam kehidupan nabi Ibrahim, di mana di sana terdapat sebuah proses pendidikan karakter yang sangat luar bisa, terbukti dengan di akuinya syari’at-syari’at yang di ajarkan oleh Ibrahim masih di jalankan oleh umat muslim di seluruh dunia sampai hari ini bahkan sampai akhir kelak.

Kehidupan nabi Ibrahim AS menjadi fenomenal di karenakan karakter mulia yang di ajarkan kepada istrinya Hajar dan anaknya Ismail. Sebuah tolok ukur keluarga yang di dambakan oleh umat manusia di zaman sekarang ini, namun hampir semua masyarakat dunia, khususnya masyarakat Indonesia lupa terhadap karakter apa yang harus di bangun, dari mana mulai di bangun dan kapan harus mulai di bangun? Alhasil pendidikan karakter hari ini di bangsa kita, layaknya riuh suara di telan malam yang tiada maknanya.

Mengkaji model pendidikan karakter zaman Ibrahim menjadi sebuah keharusan bagi kita, karena kita para perindu karakter mulia, karena kita adalah pemangku kepentingan terhadap karakter (akhlaq) yang meyakini bahwa dengan karakter akan mampu melepaskan resah terhadap pergaulan bebas anak-anak kita, karakter mulia yang mampu memberikan jaminan ketenangan, kebahagiaan bagi kita semua baik dalam pergaulan sehari-hari dan dalam kehidupan anak-anak yang lebih manusiawi.

Dalam sejarah, Ibrahim AS mengajarkan karakter kesabaran yang tidak dapat di tandingi oleh manusia sejak Adam AS sampai Muhammad SAW, potret kehidupannya menggambarkan kepada kita bahwa Ibrahim memiliki karakter Sabar yang sungguh mulia dan besar, terbukti dengan kesabarannya ia mampu melewati tantangan dan rintangan yang demikian beratnya.

Kesuksesan Ibrahim dalam Membangun keluarganya disebabkan oleh Karakter Sabar yang dimiliki oleh Ibrahim, sabar tersebut di pengaruhi oleh faktor kepercayaan, Percaya kepada Allah SWT atas semua perintahNya. Bahwa setiap perintah Allah penuh dengan kebaikan terhadap dirinya dan umat manusia.

Kesabaran Ibrahim tergambar saat ia menanti buah hati dalam waktu cukup lama, dan di saat ia mendapatkan Ismail buah hati yang telah lama di nanti, Allah memerintahkan Ibrahim untuk membawa istrinya Hajar di tengah padang pasir yang tandus, kemudian Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail dengan bekal sekantong korma dan sekantong air.

Di saat itu jelas bagi kita semua, terdapat Quantum Karakter yang kita bisa petik, perhatikan karakter apa yang kita bisa ambil pada peristiwa tersebut? Di saat Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail, Hajar berkata, ‘wahai Ibrahim, kenapa engkau meninggalkan kami ditempat yang sepi dan tandus ini? Ibrahim tak mampu menjawab ia terus berjalan membelakangi Hajar, sembari Ibrahim meneteskan air matanya, lalu hajar bertanya lagi, Ibrahim kenapa engkau meninggalkan kami hanya dengan bekal kurma dan air yang sangat sedikit? Ibrahim pun, tak menatap ke hajar dan Ibrahim, karena tak sunggup, air mata Ibrahim terus terjatuh, lalu Hajar bertanya, wahai Ibrahim, apakah ini atas perintah Tuhanmu dan Tuhanku? Lalu ia berbalik dan menganggukkan kepala tanpa bersuara’, karena tak sanggup berkata-kata.

Perhatikan apa yang di sampaikan oleh Hajar, ‘wahai Ibrahim jika ini perintah Tuhanmu dan Tuhanku, maka pergilah, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hambanya yang Taat’ , subhanallah, sungguh luar biasa, Hajar menjadi contoh seorang istri yang memiliki karakter mulia, memiliki keyakinan yang benar terhadap Tuhannya, yaitu berprasangka baik terhadap Tuhannya, dan Hajar mencerminkan bagi kita adalah istri yang tangguh dan pemberani.

Tak kalah luar biasa, karakter yang dimiliki Ismail, ia adalah anak yang sayang dan taat kepada ayah dan ibunya, perhatikan apa yang terjadi saat Ismail bertemu dengan Ibrahim ayahnya, Ismail langsung mendekap ayahnya, lalu Ismail mengajak Ibrahim ayahnya bermain-main, seolah-olah mereka tidak pernah berpisah, padahal ia telah berpisah sampai belasan tahun, ternyata Hajar ibundanya Ismail selalu menceritakan tentang kebaikan-kebaikan Ibrahim kepada Ismail, sebuah proses pendidikan yang tidak pernah putus dilakukan oleh Hajar, walaupun hanya seorang diri.

Dari proses pendidikan yang dilakukan oleh Hajar, Ismail menunjukkan ketaatannya kepada orang tuanya, di saat Ibrahim mengabarkan bahwa Ismail akan disembelihnya, Ismail berkata ‘wahai ayah, jika itu atas perintah Tuhanmu, maka lakukanlah, engkau akan mendapatkanku dari golongan orang yang sabar’, anak yang baru berjumpa dengan ayahnya, kemudian ia akan disembelih oleh ayahnya, Ismail taat dan yakin atas apa yang akan dilakukan ayahnya.

Hal tersebut menggambarkan kepada kita, bahwa  Ibrahim dengan karakter Sabar dan keyakinannya yang tinggi kepada Allah, Ia bisa mendidik Hajar istrinya menjadi istri yang tangguh dan pemberani, Ibrahim juga mampu mengajarkan karakter taat kepada anaknya Ismail, sungguh Quantum (lompatan) Karakter pada keluarga Ibrahim, sangat kita dambakan saat ini, untuk membangun pribadi-pribadi penyabar, pemberani, tangguh, taat pada orangtua dan pada segala perintah Allah, karena karakter-karakter tersebut akan mampu menghadirkan kebahagiaan, ketenangan di dunia dan akhirat, seperti Ibrahim, Hajar dan Ismail.

Semoga kita sebagai seorang pemuda, ayah bisa belajar dari Ibrahim dan bisa menjadi Ibrahim masa kini, buat ibunda, calon ibu dan para muslimah, semoga bisa menjadi Siti Hajar yang tangguh dan pemberani serta menjadi guru di rumah, Buat saudaraku semoga bisa belajar dari Ismail, yang taat pada Allah, Rasulullah dan taat pada orang tua, serta semoga yang telah berhaji dan para jamaah haji yang baru pulang, bisa membawa karakter-karakter Ibrahim dan mampu meneladankan karakter-karakter Ibrahim di rumah, ditempat kerja dan di masyarakatnya.

Semoga bermanfaat,
Salam Pendidikan.

 

*Penulis adalah Aktivis dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Pendidikan Anak : Beginilah Mereka Mendidik Generasi

ilustrasi-pendidikan-tempo-dulu

Oleh: Mufied Haris

Sambil menangis Syafi’i kecil mengadu kepada ibunya. ”Aku tak mau lagi pergi ke sana. Mereka menolak kehadiranku.  Namun dengan penuh kelembutan sang ibu terus menyemangati. ”Kembalilah ke sana anakku, nanti jika engkau melihat anak-anak kaya itu belajar duduklah di samping mereka. Tetapi jangan sampai mereka merasa terganggu”. Satu dua kali nasihat itu dilaksanakan hingga akhirnya ia bisa kembali belajar. Di usianya yang baru genap lima tahun bakat dan kemampuannya mulai terlihat. Saat jam belajar selesai imam Ass Syafi’i mengulangi pelajaran untuk kawan-kawannya. Keterbatasan ekonomi keluarga tak menghentikan semangatnya menuntut ilmu. Usia 7 tahun ia telah menyelesaikan hafalan al-Quran. Memasuki usianya yang ke delapan Syafi’i kecil sudah terbiasa bergabung dengan para ulama. Pada usia 10 tahun imam Syafi’i telah hafal kitab al-Muwattha sebelum bertemu dengan Imam Malik, sang penyusun kitab hadits itu. Sedang pada usia 15 tahun ia sudah diizinkan untuk memberi fatwa.

Imam As Syafi’i hanyalah contoh kecil bahwa bakat dan kemampuan tidaklah datang secara kebetulan. Melainkan harus dibangun dan direkayasa sejak dini. Jika Syafi’i menjadi ulama dan imam besar di kemudian hari, itu adalah jasa dari ibunya. Selain nasab yang bersambung kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga pola pembinaan yang diterapkan kepada Syafi’i. Sejak kecil Syafi’i dikirim ke Mekah untuk menimba ilmu dari para ulama. Dari sini kita mendapati bahwa generasi Islam terdahulu dibangun melalui dua kaidah dasar. Pertama, ia lahir melalui rekayasa genetika (alwirâtsah). Dan yang kedua melalui proses pembinaan (at-tarbiyah as-shâhihah).

Rekayasa genetika sesungguhnya dapat kita temukan dalam diri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memilih dari keturunan Nabi Ibrahim as yaitu Nabi Ismail as., dan memilih Kinanah dari keturunan Nabi Ismail as., dan memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, dan memilih dari keturunan Quraisy yaitu Bani Hasyim, dan Allah telah memilihku dari keturunan Bani Hasyim”. (HR. Muslim, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban dan Sunan Turmudzi)

Demikian, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam seorang dari sekian banyak keturunan Adam yang dipilih oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Beliau dipersiapkan menjadi penutup risalah para nabi dan rasul jauh, sebelum kelahirannya. Karena tugasnya yang berat maka dipersiapkan orang yang tepat. Karena risalahnya yang mulia maka harus dibawa oleh orang yang sama mulianya. Lalu sebagai pendukung dari tugas beliau dipilihkan seorang pendamping yang sepadan. Khadijah ath-thahirah. Seorang wanita yang selalu menjaga kesucian budi pekerti dan kedudukannya yang mulia di tengah-tengah kaumnya. Serta kesucian dirinya dari noda-noda paganisme pada zaman jahiliyah. Melalui perpaduan dua genetika inilah lahir ulama sekelas imam asy Syafi’i.

Namun faktor genetika saja tidak cukup berpengaruh. Proses selanjutnya adalah pola pembinaan. Untuk melahirkan seorang pemuda pemberani maka harus dibina dan dilatih menjadi pemberani. Sebagaimana para ulama lahir melalui pembinaan yang benar sebagai seorang ulama. Ibnu Mas’ud RA berkata, “Dahulu kami -para sahabat- apabila belajar kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam 10 ayat, maka kami tidaklah mempelajari 10 ayat lain yang diturunkan berikutnya kecuali setelah kami pelajari apa yang terkandung di dalamnya.”

Para ibu di zaman khulafa ar-rasyidin juga punya cara unik mengajari generasi muda menjadi kesatria. Mereka tak pernah lupa menyertakan anak-anak dan remaja dalam setiap pertempuran. Di banyak pertempuran anak-anak dan remaja punya peranan khusus. Ketika ayah mereka berada di garis pertempuran, di saat bersamaan para ibu sibuk menolong dan mengobati korban yang terluka. Anak-anak dan para remajalah yang bertugas menggali dan menyiapkan kubur bagi para syuhada.

Karena alasan inilah Umar bin Khathab memerintahkan orang tua mengajari remaja berkuda, berenang dan memanah. Salah seorang di antara mereka bahkan ada yang terkena panah dan meninggal. Namun tak menjadi alasan bagi Umar menghentikan kegiatan belajar memanah.

Kemampuan mendidik dan membina generasi muda setidaknya menjadi modal besar bagi sebuah bangsa. Kemajuan sebuah bangsa bukan hanya waktu yang ditunggu kedatangannya. Melainkan harus dirancang dan direkayasa. Tidak ada jalan lain kecuali dengan menghadirkan generasi muda yang siap berkontribusi bagi bangsanya. Karena rahasia kemajuan sebuah bangsa ada pada generasi mudanya. Wallahu alam bisshawab.

* Penulis adalah Penggemar sastra dan buku-buku Pemikiran Islam. Sekarang sedang menyelesaikan program master di Universitas Al-Azhar Kairo, Fakultas Pendidikan, Program Kependidikan Islam.
%d bloggers like this: