Posts tagged ‘Erdogan’

Islamisasi Partai Islam: Pelajaran dari Erdogan

Beberapa pengamat politik menyarankan agar partai Islam ke tengah dan meninggalkan politik aliran. Saran ini akan menguatkan partai Islam atau justru menghancurkan?

Soekarno-Masyumi

Soekarno, ketika menghadiri acara Masyumi

Oleh: Nuim Hidayat 

TAHUN 1955 partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia), partai Islam yang memegang teguh ideology dengan sangat mengesankan meraup 40% suara. Padahal, Partai Masyumi dalam Anggaran Dasar atau Rumah Tangganya  memegang teguh prinsip-prinsip Islam.

Di Anggaran Dasar Partai Masjumi ditegaskan: “Tujuan Partai ialah terlaksananya ajaran dan hukum Islam, di dalam kehidupan orang seorang , masyarakat dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi.” (Pasal III).

Pada pasal IV-nya dinyatakan: “Usaha partai untuk mencapai tujuannya:

Pertama, menginsyafkan dan memperluas pengetahuan serta kecakapan Umat Islam Indonesia dalam perjuangan politik

Kedua, menyusun dan memperkokoh kesatuan dan tenaga umat Islam Indonesia dalam segala lapangan

Ketiga, melaksanakan kehidupan rakyat terhadap perikemanusiaan, kemasyarakatan, persaudaraan dan persamaan hak berdasarkan taqwa menurut ajaran Islam Bekerjasama dengan lain-lain golongan dalam lapangan bersamaan atas dasar harga menghargai.”

Selain AD/ART yang tertulis, tokoh-tokoh Masyumi sebagian besar juga memberikan keteladanan dalam kehidupan politik dan masyarakat. Orang tidak meragukan lagi keteladanan KH Hasyim Asyari, Faqih Usman, HAMKA, KH Wahid Hasyim dan Mohammad Natsir.

Sayang kehebatan Masyumi ini hanya berlangsung lima tahun. Tahun 1960, Partai Masyumi dibubarkan oleh Rezim Soekarno dengan alasan yang tidak jelas. Tak hanya itu, banyak tokoh-tokohnya yang dimasukkan ke dalam kerangkeng oleh Soekarno.

Padahal Masyumi saat itu namanya sedang harum di kalangan umat.

Masyumi mempunyai sayap gerakan buruh, gerakan tani juga media massa. Harian Abadi misalnya, adalah koran milik Masyumi yang sangat disegani dan pelanggannya dari seluruh pelosok Indonesia.

Ketika Soeharto naik menggantikan Soekarno tahun 1966, tokoh-tokoh Masyumi mencoba menghidupkan kembali partai ini tapi tidak diizinkan.

Bahkan hingga pada Pemilu pertama di era Orde Baru tahun 1971, Masyumi bukan hanya tidak diizinkan ikut Pemilu tapi juga tokoh-tokohnya juga dilarang berpolitik.

Akhirnya umat Islam yang tergabung dalam Masyumi (dan NU) membentuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tapi saat itu sebenarnya Masyumi telah pecah karena sebagian pengikutnya sudah masuk dalam Golkar.

PPP karena mewadahi aspirasi umat Islam, maka mereka menggunakan gambar Ka’bah dan asas Islam. Meski selalu tidak unggul dalam Pemilu, apalagi bukan rahasia umum, kalau Pemilu Orba pernuh rekayasa.  Meski demikian, umat Islam masih banyak yang fanatik ke PPP hingga akhirnya Soeharto (dengan think tanknya CSIS) ‘menfatwakan’ semua parpol harus berasas tunggal Pancasila. Dari sinilah PPP mulai pecah. PPP turut pemerintah dan mengganti lambang Ka’bah dengan bintang. Sebagian tokoh memilih tidak berpolitik sebagaian lari ke Golkar. Efeknya tidak sedikit, Golkar juga makin penuh sesak dengan tokoh-tokoh Islam. Sesungguhnya, jika dilihat secara personal, makin hari makin tidak ada perbedaaan antara anggota Golkar dan PPP.

Politik gincu

Tahun 1999 setelah reformasi, partai-partai Islam dibebaskan kembali memakai asas Islam. Lambang pun tidak diatur pemerintah. Mulailah partai-partai Islam kembali ke kandangnya. Meski demikian, hanya tiga partai yang berani menuliskan asasnya Islam, yaitu PPP, PBB dan PKS. Sementara PAN dan PKB, tidak jelas tercantum dalam AD/ART nya asasnya Islam.

Amien Rais yang dulu merasak kekecilan dengan partai Islam namun PAN juga tak mampu menjadi partai besar

Tahun 1998, pasca jatuhnya Soeharto, tokoh-tokoh Masyumi sedang mempersiapkan kembali berdirinya partai Islam. Melalui rapat-rapat di kediaman HM Cholil Badawi dan Dr.Anwar Haryono SH, ditawarkanlah posisi ketua umum pada Dr Amien Rais sedang Dr Yusril Ihza Mahendra sebagai Sekjen.

Namun yang mengejutkan,  Amien Rais di layar televisi seusai shalat Jumat di kantor PP Muhammadiyah mengatakan,  “Saya akan mendirikan partai lain yang lebih terbuka.Bagi saya partai seperti Partai Bulan Bintang, ibarat baju akan ‘kesesakan’ jika saya pakai.”

Selanjutnya, melalui tokoh-tokoh  Majelis Amanat Rakyat (MARA), Amien Rais membentuk Partai Amanat Nasional (PAN) pada tahun 1998 dengan platform nasionalis terbuka. Ia mengundurkan diri dari Ketua PP Muhammadiyah setelah ditunjuk memimpin PAN.

Meski memilih baju terbuka, faktanya PAN tetap tidak banyak diminati aktivis Muslim. Amien Rais sendiri sebagai pendiri PAN sebenarnya menyadari kesalahannya, sayang nasi sudah menjadi bubur.*

Tahun 1999 perolehan suara PPP, PBB dan PKS lumayan. Tapi perolehan suara ini terus menurun sampai 2009 lalu. Diprediksi suara partai Islam tahun 2014 ini menurun atau stagnan sebagaimana 2009 yang lalu.

Mengapa tiga partai Islam itu tidak bisa menjadi mayoritas di negeri yang 85% Muslim ini?

Pertama, kesadaran politik umat Islam rendah. Umat memilih bukan didasarkan pilihannya pada calon-calon yang akan menjayakan Islam, tapi memilih banyak karena kekerabatan atau popularitas calon.

Kedua, partai-partai Islam menurun kualitasnya. Baik karena keterlibatan sebagian pengurus partai dalam korupsi, program partai yang tidak menyentuh rakyat dan tidak jelas warna Islam partai.

Partai-partai Islam itu mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. PPP mempunyai kekuatan jaringan lama dan pengalaman politik dalam menggolkan undang-undang yang bervisi Islam.

PBB mempunyai tokoh yang tinggi dalam intelektualisme Islam dan keberanian dalam menyuaran Islam.  Sedangkan PKS mempunyai jaringan kader yang kuat dan program-program yang merakyat. Kelemahan PPP dan PBB dalam pengkaderan sebenarnya bisa ditutupi atau mengambil pelajaran dari PKS.

Sedangkan kelemahan PKS yang kurang berani menampilkan diri visi Islamnya sebagaimana PPP dan PBB.

Sesungguhnya umat Islam di Indonesia yang sedang bangkit kini membutuhkan politisi politisi yang ahli di bidangnya sekaligus yang Islami. Kalau sekedar professional semata, maka tidak ada beda dengan partai sekuler. Atau jika yang hanya ditekankan program ekonomi semata, maka partai Islam menjadi pak turut bagi partai sekuler. Partai Islam seharusnya berani menampilkan Islamnya dan profesional. Sehingga masyarakat melihat beginilah wajah politik Islam yang sebenarnya. Bila partai Islam terbawa dengan arus partai sekuler yang hanya menekankan profesionalitas dan program ekonomi semata, maka partai Islam pasti tidak akan bisa menyaingi partai sekuler.

Maknanya seorang politisi Muslim di samping ahli di bidangnya juga berakhlak Islam, rajin shalat, bersedekah dan meninggalkan dosa-dosa besar. Beda dengan politisi sekuler yang membebaskan kadernya dalam berbuat maksiyat dan meninggalkan shalat. Bagi politisi sekuler yang penting politisi itu ahli di bidangnya dan mempunyai nama harum di masyarakat. Meski dalam kehidupan pribadinya bergelimang maksiat. Dengan kata lain mereka menghalalkan adanya ‘politik gincu’.

Jadi partai Islam mesti menprofesionalkan dan mengislamkan kader-kadernya bukan malah ikut-ikutan partai sekuler mensekulerkan kadernya dan bergerak ‘ke tengah’, sebagaimana nasihat banyak pengamat politik.

Erdogan-AKP

Erdogan dan massa AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan)

Pelajaran Penting dari Erdogan

Dan termasuk hal yang penting, politisi-politisi Muslim mesti memahami jejak sejarah bangsanya. Mereka mesti melanjutkan perjuangan tokoh-tokoh Islam terdahulu, terutama tokoh Masyumi. Sebagaimana Erdogan Presiden Turki yang dengan rendah menyatakan bahwa perjuangannya melanjutkan pendahulunya almarhum Necmettin Erbakan. Sebagaimana diketahui, Erbakan telah memulai perjuangan politik Islam di Turki sejak tahun 1970 dengan membentuk Partai Ketertiban Nasional.  Jatuh bangun Erbakan membangun partai Islam hingga ia mengalami kemenangan dengan partainya Partai Kesejahteraan (Refah Partisi).

Dalam Pemilu 1995, Partai Refah memperoleh 22 persen suara atau menyabet 158 kursi parlemen. Erbakan kemudian berkoalisi dengan Partai Jalan Lurus untuk memimpin pemerintahan Turki. Tapi pemerintahannya tidak berlangsung lama karena militer Turki buru-buru mengkudetanya. Dan Erdogan pun ditangkap dan dijatuhi hukuman lima tahun tidak boleh terlibat dalam politik (baca Ahmad Dzakirin, Kebangkitan Pos Islamisme Analisis Strategi dan Kebijakan AKP Turki Memenangkan Pemilu, Eracitra Intermedia, 2012).

Erbakan akhirnya banyak berbuat di balik layar. Dan di waktu itulah kemudian tampil murid kesayangannya, Erdogan yang terpilih menjadi Walikota Istanbul. Erdogan dengan program-program merakyatnya di kota itu berhasil memikat banyak kalangan. Erdogan juga banyak didukung para pebisnis dan masyarakat Turki. Meski dalam beberapa hal ia berbeda dengan gurunya tapi Erdogan menyatakan : “Dia akan selalu dikenang atas apa yang diajarkan kepada kami dan karena kepribadiannya yang tangguh.”

Ketika gurunya sang Hoca Erbakan meninggal, ia dan sahabatnya Abdullah Gul, memanggul keranda Erbakan ke tempat pemakamannya.

Abdullah Gul dan Erdogan membentuk AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) pada Agustus 2001. Erdogan berhasil menarik perhatian masyarakat Turki karena program-programnya yang menyentuh rakyat dan modern dan track record-nya sebagai Walikota Istanbul. Hingga pada Pemilu November 2002 AKP menangguk suara 34%.

Sembilan tahun kemudian, pada Pemilu 12 Juni 2011, AKP mengulangi kemenangannya dengan menyabet 50% suara rakyat. AKP menempatkan wakilnya sebanyak 327 kursi di parlemen.

Keberhasilan Erdogan memimpin Turki ini menjadikan militer Turki panas. Mereka mencoba mengkudeta Erdogan namun gagal. Karena Erdogan telah mendapat dukungan mayoritas masyarakat dan kepolisian. Sebanyak 250 personil militer pun dijebloskan ke penjara karena percobaan kudeta itu. Kuatnya pribadi Erdogan ini sehingga ia disebut sebagai The Strongest Man in Turkey.

Jadi keberhasilan Erdogan dan Partai AKP merebut hati rakyat Turki adalah bukan program ekonomi atau ‘sekulernya’ semata, tapi terutama karena program Islamisasinya yang mengesankan. Pesan Islam yang dibawai damai oleh Erdogan menyebabkan ia dikagumi masyarakat dan terus dibenci oleh kaum sekuler ekstrim. Sebelum menjadi presiden, Erdogan telah konsisten memperjuangkan jilbab di Turki. Hingga dua anaknya harus ia sekolahkan di Amerika, karena pemerintah Turki melarang mahasiswa berjilbab. Hingga kini menjadi presiden, Erdogan pun terus konsisten menjalankan program islamisasinya, seperti membebaskan pakaian jilbab di seluruh sektor, melarang minuman keras, mendukung perjuangan Palestina, mendukung presiden Mursi yang digulingkan dan lain-lain.

Seandainya Erdogan hanya membawa perubahan ekonomi Turki dan menyingkirkan program-program keislaman, apakah masyarakat Turki akan mendukungnya? Ini yang harus menjadi pelajaran penting Partai Islam di sini. Wallahu a’lam.*

Penulis adalah peneliti Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS)

http://www.hidayatullah.com

 

Video: Ketika Erdogan Selamatkan Martabat Bendera Turki di KTT G20

Seorang pemimpin negara tentu menghormati bendera nasional karena merupakan identitas penting negaranya. Itulah yang diperlihatkan Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, dalam sesi foto bersama para pemimpin KTT G20 di St. Petersburg, Rusia.

Dalam sebuah video yang terekam Jumat, 6 September 2013 kemarin, Erdogan yang tiba di tempat lokasi foto bersama PM Inggris, David Cameron, mengambil gambar bendera yang berada di bawah kakinya. Padahal bendera-bendera tersebut sengaja diletakkan oleh panitia untuk menandakan posisi para pemimpin itu berdiri.

Dalam sesi foto bersama itu, Erdogan berdiri diapit oleh Kanselir Jerman, Angela Merkel dan PM India, Manmohan Singh. Di depannya terdapat presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Aksi pungut bendera itu disadari pertama kali oleh Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, Cameron dan Merkel yang berdiri tidak jauh dari Erdogan.

Sontak ketiganya langsung tertawa melihat aksi Erdogan. Reaksi terkejut terlihat jelas di raut wajah Presiden Argentina, Cristina Fernández de Kirchner.

Dia tidak menyangka ada seorang pemimpin yang rela memungut bendera karena tidak rela identitas itu diinjak. Melihat rekan-rekannya tertawa, Erdogan terlihat santai menanggapi hal itu. Begitu Presiden Rusia, Vladimir Putin, tiba, sesi foto pun dimulai.

Hal yang dilakukan Erdogan tersebut juga pernah dilakukannya ketika pertemuan G20 pada tahun 2009 di Pittsburgh, Amerika Serikat, (25/9/2009). Kala itu Erdogan juga menyelamatkan bendera negaranya ketika sesi foto bersama. Hal ini terekam dalam foto yang diramu dalam video di bawah ini.

Video Courtesy : YouTube / beyazgazete.com

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Kajian Eropa : Demo Turki, Antara Idealisme dan Sentimen Politik

-

Demonstran oposisi (pro sekuler) di turki

Demo besar-besaran terjadi di Istanbul Turki pada sabtu (1/6/13). Protes tersebut berawal pada 26 Mei lalu, ketika demonstran berupaya menghalangi buldoser yang akan menghancurkan Taman Gezi yang berada di pusat kota Lapangan Taksim.

Taman Gezi adalah sebuah taman kecil yang berada di pusat kota yang memiliki kurang lebih 30 pohon sebagai area penghijauan. Lalu, mengapa sebuah taman kecil yang akan dirubah fungsi menjadi sebuah mall mampu memicu demo besar-besaran? Apa benar penyebabnya hanya ini?

Ada 3 fakta sejati dibalik demo Turki kali ini, yaitu Penghijauan, Alkohol dan Oposisi AKP-Erdogan.

Kalau demo kali ini dipicu oleh pembongkaran sebuah taman kecil, sepertinya isu ini tidak akan menarik untuk ditiupkan. Faktanya selama AKP-Erdogan memimpin, pemerintah telah berhasil membangun 120 hutan. Jumlah yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan sebuah taman kecil berisi 30 pohon penghijauan.

Dan realitas di lapangan, para pendemo pun tidak mengusung slogan-slogan penghijauan selama demo berlangsung, justru slogan yang paling sering di teriakan adalah “turunkan Erdogan”. Spanduk dan bendera yang mereka bawa sejak awal demo juga bukan simbol pro-penghijauan, semua berisi caci maki terhadap AKP dan “turunkan Erdogan”. Jadi terlalu dini jika disimpulkan bahwa demo kali ini hanya dipicu oleh pembongkaran sebuah taman kecil di pusat kota.

Fakta yang kedua tentang Alkohol. Demo kali ini memang memobilisasi orang dan pihak yang awalnya protes terhadap aturan ulang tentang pembelian alkohol. Dimana dalam draft UU baru, diatur pembelian minuman beralkohol dibatasi hingga jam tertentu seperti di negara Eropa lainnya. Juga memuat aturan lain seperti cara minum, misalnya tidak boleh minum sambil berjalan, mengemudi mobil dan tidak boleh membeli di atas jam tertentu.

Protes kali ini juga disulut oleh protes dari perusahaan bir terbesar di Turki, Efes. Efes adalah perusahaan bir yang memonopoli hampir 80% pasar alkohol di Turki. Efes juga beranak-pinak secara perusahaan seperti Becks, miller, Warstiener & Fosters.

Efes Pilsen adalah perusahaan yang berkembang di daerah Izmir, daerah yang sampai sekarang jadi basis suara dari oposisi.

Fakta yang ketiga, selain soal isu penghijauan & ‘solidaritas’ komunitas bar-bar, adalah Oposisi.

AKP adalah partai Islam yang memimpin dan mendulang kepercayaan tinggi dari rakyat Turki dengan 327 kursi dari total 550 kursi di parlemen. Jadi sangat wajar kalau demo kali ini ditunggangi pihak oposisi, apalagi tahun depan Turki akan menggelar Pemilu presiden pertama yang akan mengubah sistem pemerintahan dari Parlemen ke Presidentil. Dan diprediksi 90% Erdogan akan kembali terpilih, jadi demo Turki kali ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena soal Oposisi. Dari awal demo kali ini memang sudah di setting rusuh.

Kalau kita cermati, isu yang diangkat oposisi kali ini kurang cerdas dan kurang smut. Seharusnya bisa di lebih konstruktif dan murni mengkritik kekurangan pemerintah, bukan mendompleng isu lainnya yang kurang populer. Dan mudah di tebak, para pendemo meledak ‘marah’ hanya karena urusan yang ‘sepele’ hanya soal pembatasan jam pembelian alkohol. Sangat tidak seksi.

Seharusnya jika pihak oposisi ingin meraup simpati rakyat dapat mengangkat isu yang langsung bersentuhan dengan rakyat, tema perumahan misalnya.

Seperti kita ketahui, Pemerintah AKP, sejak berkuasa di 2002, telah memulai proyek terpuji “Toki” (Pembangunan Perumahan Administrasi Turki). Lembaga pengelola proyek ini merupakan  instrumen negara yang membeli tanah dari petani untuk dibangun rumah, lalu keuntungannya untuk membangun sekolah, shopping center & Rumah Sakit. Jadi masyarakat miskin banyak diberi rumah dari sini. Jadi memang kota Istanbul berkurang hijau karena banyak dibangun perumahan untuk rakyat miskin. Memang harus diakui, selama AKP memimpin Turki jauh lebih indah. Namun sebenarnya masih ada faktor kesenjangan, kita masih melihat adanya rumah-rumah liar, 95% lainnya tinggal vertikal di apartemen sederhana sementara banyak berdiri rumah mewah untuk warga yang super kaya.

Seharusnya pendemo bisa mengkritik bagaimana pemerintah dapat membuat perencanaan taman dan daerah hijau yang lebih baik, bukan mengangkat tema elitis dan alkohol. Jadi wajar saja kalau demo yang di klaim ‘besar-besaran’ ini hanya bertahan 48 jam saja, tidak mendatangkan simpati masyarakat karena hanya menonjolkan kekerasan dan radikal saja.

Pelajaran penting dari demo Turki adalah, selain pihak oposisi gagal menemukan isu dan menyusun argumentasi solusi mereka juga gagal menularkan emosi kepada masyarakat luas, sementara militansi demonstran ‘sekuler’ di Turki hanya ada di akhir pekan saja. Hari-hari kuliah dan kerja, mereka tidak bersedia bolos untuk memperjuangkan paham mereka. (as/sbb/dakwatuna)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013

PM Erdogan Minta Ban Ki-Moon Jadikan Kota Istanbul Pusat PBB


Erdogan-Ban Ki-moon

New York — Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan meminta Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon untuk menjadikan kota Istanbul pusat PBB dalam pertemuan yang diadakan dengan Sekretaris Jenderal pada hari Kamis kemarin (22/9).

Erdogan juga mengatakan kepada Ban Ki-moon bahwa Turki ingin melihat bahasa Turki sebagai bahasa resmi PBB. Sebagai tanggapannya, Ban Ki-moon mengatakan kepada Erdogan bahwa ini adalah masalah yang harus diputuskan oleh negara-negara anggota PBB.

Selama pertemuan dengan Sekretaris Jenderal PBB, Erdogan menyatakan kekecewaan Turki pada Laporan Palmer yang disusun atas serangan Israel terhadap kapal bantuan Mavi Marmara pada Mei 2010.

Erdogan mengatakan kepada Ban Ki-moon bahwa Turki akan terus memberikan bantuan ke Somalia. Erdogan dan Ban Ki-moon juga berbicara terkait proyek Aliansi Peradaban.(fq/aa)

eramuslim.com

Membandingkan Partai AKP Turki Dengan Partai Islam di Indonesia?


Bendera Republik Turki

Ini pertama kali dalam sejarah sejak Kemal Ataturk mendirikan Republik Turki, di mana perhatian masyarakat internasional begitu besar terhadap pemilu Turki. Pengaruh dan spektrum politiknya hampir sejajar, ketika berlangsung pemilu di Amerika Serikat. Profile Erdogan dan Partai AKP, memiliki daya tarik (magnitude) yang luar biasa, di tengah-tengah suramnya kehidupan politik secara global.

Erdogan dan AKP mampu mempertahankan kekuasaannya, secara berkelanjutan hampir satu dekade. AKP mulai membangun kekuasaan politiknya, sejak pemilu tahun 2002, ketika AKP memenangkan pemilu parlemen secara mayoritas (34 persen). Disusul pemilu 2007, AKP berhasil lagi mempertahankan dukungan politik secara luas dari rakyat Turki, dan memenangkan pemilu dengan suara mayoritas di parlemen (47 persen). Kemudian, pemilu 2011, yang berlangsung minggu kemarin, AKP memenangkan suara mayoritas, hampir 50 persen (326 kursi) parlemen. Meskipun AKP gagal memenuhi target dua pertiga (367) suara di parlemen,yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan konstitusi Turki secara unilateral. Tetapi, kemampuan Erdogan dan AKP mempertahankan kekuasaan selama satu dekade itu, prestasi politik yang luar biasa.


Logo Partai AKP

Ada faktor-faktor yang menyebabkan AKP mampu mempertahankan dukungan politik secara luas dari rakyat Turki antara lain :

Pertama, adanya faktor kepemimpinan di dalam Partai AKP, yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh yang memiliki visi, integritas, kredibel, dan komitmen yang sungguh-sungguh dengan visi mereka. Bukan orang-orang oportunis, yang hanya semata mengejar kekuasaan. Mereka bekerja di dalam sebuah kekuasaan dengan visi yang sangat jelas. Tiga tokoh utama dalam AKP, yang membuat Partai AKP menjadi pilihan rakyat Turki, yaitu Recep Tayyib Erdogan, yang menjadi perdana menteri, Abdullah Gul, yang menjadi presiden Turki, dan Ali Babacan, yang menjadi deputi perdana menteri.


PM Erdogan

Kedua, “Triumvirat” AKP, Erdogan, Abdullah Gul, dan Ali Babacan, menjadi arsitek perubahan di Turki, melalui instrumen Partai AKP. Ketiganya orang yang terdidik, berlatar belakang sebagai ekonom, dan ketiganya pernah bekerja di lembaga multilateral. Abdullah Gul pernah bekerja di IDB (Islamic Development Bank), dan World Bank. Erdogan, yang ekonom pernah bekerja di IDB, dan memulai karir politiknya sebagai Walikota Istambul, yang sukses, saat Partai Refah, yang dipimpin Necmetin Erbakan memenangkan pemilu di Turki l994. Ali Babacan, ekonom yang sangat jenius, dan menjadi deputi perdana menteri, dan ketua negosiator dengan negara Uni Eropa.

Ketiga tokoh “Triumvirat” Turki, Erdogan, Abdullah Gul, dan Ali Babacan, ketiganya adalah tokoh yang memiliki visi yang jelas, integritas yang tinggi, komitmen, dan kesungguhan menjalankan dan memperjuangkan visi atau cita-cita yang dimilikinya dengan bekerja keras.

Tetapi, yang paling pokok, mereka memiliki visi (cita-cita) yang jelas, dan meperjuangkannya dengan jalan dan instrumen yang terbuka, disertai komitmen yang tidak pernah putus, selama satu dekade ini. Karena pandangan dan sikap ketiga pemimpin Turki itu, rakyatnya memberikan apresiasi dengan dukungan politik, yang konstan selama satu dekade ini.

Ketiga, hanya dalam waktu satu dekade Turki di bawah kekuasaan Partai AKP, yang dipimpin Perdana Menteri Recep Tayyib Erdogan, terjadi perubahan yang luas. Ekonomi Turki mengalami “booming”, ditandai dengan meningkatnya “income perkapita” rakyat Turki. Menurunnya inflasi di bawah dua digit. Surplus perdagangan luar negeri Turki yang terus meningkat, dan Turki menjadi kekuatan keempat ekonomi di Eropa. Mata uang Lira Turki sejajar dengan dollar. Semuanya itu telah mengubah kehidupan rakyat Turki yang lebih makmur.

Keempat, dibidang politik, Erdogan dan AKP mengakhiri kekisruhan politik dan ketidakstabilan, yang selama ini akibat konflik kepentingan antara partai-parai politik. Dengan suara mayoritas yang dimiliki AKP di parlemen, Erdogan dapat mengarahkan seluruh kebijakan politik negara sesuai dengan visinya.

AKP dan Erdogan berhasil menjinakkan militer yang selama ini menjadi “king maker” dan “trouble maker“politik Turki. Selama pemerintahan AKP, militer dikembalikan ke barak. Usaha militer melakukan kudeta berhasil digagalkan, dan bahkan sejumlah jenderal dijebloskan ke dalam penjara.


Logo AKP-Bendera Turki-Dunia Arab

Peran Turki di fora global dan regional sangat menonjol, dan bahkan posisi Turki sekarang menjadi sangat penting dalam masalah isu politik global. Negara Islam yang pertama kali dikunjungi Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sesudah terpilih menjadi presiden, adalah Turki. Ini menggambarkan betapa pentingnya posisi Turki di mata Amerika Serikat.

Dengan arsitek politik luar negeri yang sangat handal, Prof. Ahmed Dovutoglu, Turki sekarang meluaskan pengaruhnya ke Timur Tengah, Asia Tengah, Eropa, serta Amerika. Pandangan Ahmed Dovutoglu yang “multilateralis” sangat diperhitungkan. Terhadap penyelesaian krisis Timur Tengah, dan Palestina, di mana sikap Turki, sangat terang membela Palestina. Bahkan, Erdogan ketika dalam Forum Ekonomi Global di Davos, Swiss, mempermalukan Presiden Israel Shimon Peres, yang mengkritik dengan sangat pedas, atas agresi militer Israel ke Gaza. Sesudah itu, Erdogan meninggalkan pertemuan dan kembali ke negaranya. Dengan sikapnya itu Erdogan menjadi pahlawan di dunia Arab.

Turki di bawah AKP dan Erdogan menjadi tempat berlabuh para aktivis Islam, dan seluruh kekuatan-kekuatan Islam, yang ingin membangun komunikasi politik dan kerjasama antar Gerakan, dan mereka bisa bertemu di Istambul Turki. Turki menjadi tempat semua Gerakan Islam yang ingin bertemu untuk menyamakan visi gerakan mereka. Ini yang tidak ada di negara Islam, khususnya di dunia Arab, dan tempat lainnya. Di mana pemerintahan Turki di bawah AKP, memfasilitasi berbagai kelompok dan kekuatan Islam di seluruh dunia, yang ingin melakukan pertemuan dan menggalang kerjasama di Istambul Turki.

Kelompok-kelompok Islam di Turki terus tumbuh, dan bersemi dengan baik, dan mereka mengaktualisasi pemikiran dan gerakan mereka, dan semuanya tanpa ada restriksi (hambatan). Pemerintah Turki di bawah AKP, memperjuangkan perubahan konstitusi, yang merupakan produk militer, dan hasil kudeta tahun l982, dan inilah yang ingin di rubah oleh Erdogan dan AKP. Termasuk dibebaskan semua pelajar, mahasiswa, dan pegawai untuk menggunakan jilbab.

Faktor-faktor itulah yang menyebabkan mengapa Erdogan dan AKP mendapatkan dukungan yang konstan dari rakyat Turki. Sebaliknya, selama enam dekade, sejak pemerintahan sekuler di bawah Kemal Attaturk, tidak dapat mencapai kemakmuran yang riil bagi rakyatnya, dan terus dalam pusaran konflik.

Tentu, membandingkan tokoh-tokoh Partai AKP Turki dengan tokoh-tokoh Partai Islam di Indonesia, tak sepadan. Seperti membandingkan antara siang dengan malam.


Bendera Republik Indonesia

Partai-partai Islam atau berbasis pemilih Islam di Indonesia, umumnya mereka adalah tokoh-tokohnya yang tidak memiliki visi, integritas, kredibelitas, dan komitmen. Selama hampir satu dekade setelah mereka “nempel” pada kekuasaan pemerintah SBY, dan dengan menggunakan dasar legitimasi “koalisi”, tak menghasilkan apa-apa alias “nothing” untuk rakyat dan negara. Tidak ada perubahan yang bisa diukur dan dipertanggungjawabkan secara politik dan moral. Justru kehidupan rakyat dan bangsa ini, semakin mengalami dekaden disemua sektor. Kemungkaran bertambah luas, dan menurunnya tingkat kelayakan hidup rakyat.

Ibaratnya, para pemimin tokoh partai Islam itu, dulunya seperti “pedagang oncom keliling”, yang tiba-tiba menjadi “juragan” partai, pertama yang menjadi tujuannya, tak lain, mengeyangkan perutnya dahulu. Bukan perut rakyat. Tak heran mereka yang dahulunya miskin sebelum menjadi pemimpin partai, sekarang sesudah menjadi pemimpin partai, hidupnya semua menjadi “wah”. Tak terbayangkan lagi.

Tak heran lagi, mereka yang menjadi pemimpin partai sekarang ini, hanya mengejar “rente’ dari kekuasaan dengan cara menjadi “makelar”. Menjadi “makelar” di departemen-dapertemen atau menjadi “calo” anggaran di DPR. Mungkin juga mereka menjadi “makelar” para pengusaha yang membutuhkan proyek dari departemen, yang menjadi mitra kerjanya. Mungkin juga menjadikan “kursi” gubernur, bupati, walikota, dan jabatan di BUMN, sebagai sarana mendapatkan uang.

Maka, sama-sama satu dekade terlibat dalam mengelola kekuasaan AKP di Turki dengan Partai Islam di Indoneia, yang “nempel” kekuasaan sangat berbeda. Di Turki perubahan nyata dirasakan oleh rakyat dan negara. Sementara di Indonesia yang berubah baru nasib dan hidupnya para pemimpin alias “juragan” Partai Islam, yang lebih makmur dibandingkan sebelumnya.

Di Turki kalangan “Islamlis” ikut dalam demokrasi menghasilkan perubahan yang mendasar bagi kehidupan rakyat dan bangsanya, sementara itu di Indonesia Partai-Partai Islam ikut dalam demokrasi, yang terjadi justru menjadikan Indonesia sebagai rezim “kleptokrat” (maling), yang sangat menggetirkan. Wallahu’alam.

Eramuslim.com

AKP Kembali Menang Pemilu di Turki dan Berambisi Jadi Corong Islam


PM Erdogan dan Istrinya.

Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), yang menyokong kepemimpinan PM Recep Tayip Erdogan hampir dipastikan memenangi pemilihan umum di Turki. Sejumlah media lokal menyebutkan penghitungan surat suara yang telah mencapai 99% menunjukan AKP berhasil meraih 50% suara yang masuk.

AKP hanya membutuhkan sekitar 41 kursi lagi untuk bisa menguasai dua pertiga parlemen. Dengan suara mayoritas seperti itu maka AKP bisa mengamandemen konstitusi secara sepihak.

Dalam pidato kemenangannya, Erdogan mengatakan partainya akan mendiskusikan konstitusi baru dengan partai oposisi.

“Masyarakat telah memberikan kita pesan untuk membangun sebuah konstitusi baru melalui konsensus dan negosiasi,” kata Erdogan kepada pendukungnya di Ankara.

Proyek besar

“Masyarakat telah memberikan kita pesan untuk membangun sebuah konstitusi baru melalui konsensus dan negosiasi.”

Dalam pemilu kali ini AKP unggul atas partai sekuler, Partai Rakyat Republik (CHP), yang mendapatkan 26% suara dan partai kelompok kanan, Partai Pergerakan Nasional (MHP), yang hanya merebut 13% suara.

Kemenangan AKP -yang merupakan partai berbasis Islam dalam pemilu kali ini- tidak bisa dilepaskan dari sejumlah pencapaian pemerintahan pimpinan Erdogan.

Saat AKP berkuasa, Turki berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup baik dan menelurkan kebijakan luar negeri yang lebih tegas.

Selain itu saat berada dibawah kekuasaan AKP, Turki juga berhasil menurunkan angka penggangguran hingga lebih dari 3% dalam setahun.

Dalam kampanye pemilunya mereka juga mendengungkan sejumlah proyek besar yang ambisius.

Beberapa proyek itu adalah pembangunan kanal dari Laut Hitam ke Aegea, sebuah kota baru di luar Istanbul, dan juga pembangunan jembatan, bandara dan rumah sakit baru.

Corong Islam Timur Tengah

Selain berjanji akan membangun sebuah konsitusi yang akan memeluk seluruh partai dan lapisan masyarakat.

Dia juga memberi signal bahwa Turki mempunyai ambisi untuk menjadi corong timur-tengah dan kaum Islam di dunia barat, dan mengatakan kemenangannya akan menguntungkan Bosnia, Libanon, Suriah, dan Palestina.

“Percayalah, Sarajevo juga telah menang seiring dengan Istanbul, begitu bula Beirut dan Izmir, Damaskus, dan Ankara, lalu Ramallah, Nablus, Jenin dan Tepi Barat dan Yerusalem menang bersama Diyarbakir,” ujar Erdogan yang menyebut kota-kota di Turki dan menyandingkannya dengan kota-kota Islam di Timur Tengah.

Lebih dari 50 juta orang -atau sekitar 2/3 dari total rakyat Turki sebanyak 73 juta orang- terdaftar untuk ikut pemilu hari Ahad kemarin.

Diperkirakan persentase orang yang ambil bagian adalah sekitar 84,5%.
Kemenangan AKP -yang merupakan partai berbasis Islam dalam pemilu kali ini- tidak bisa dilepaskan dari sejumlah pencapaian pemerintahan pimpinan Erdogan.

Saat AKP berkuasa, Turki berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup baik dan menelurkan kebijakan luar negeri yang lebih tegas.

Selain itu saat berada dibawah kekuasaan AKP, Turki juga berhasil menurunkan angka penggangguran hingga lebih dari 3% dalam setahun.*

Sumber : bbc
Rep: CR-3
Red: Cholis Akbar
hidayatullah.com

%d bloggers like this: