Posts tagged ‘Guru’

Peran Guru : Guru 3P (Pengajar, Pendidik, dan Pemimpin)

kartun-ilustrasi-pendidikan-belajar-mengajar-320x199

Oleh: Taufik Abdullah, S.Si.

Kalau kita lihat pada masa perjuangan pendidikan di negara kita, terutama pada saat proklamasi kemerdekaan. Yang paling berjasa pada saat itu adalah guru. Sebuah kata bijak mengatakan bahwa ‘Kalau ingin melihat kualitas suatu bangsa, lihatlah kualitas gurunya’, artinya bahwa keberadaan guru di sini sangat menentukan kualitas suatu bangsa, dan kualitas suatu bangsa bisa dilihat dari mutu. Peningkatan mutu bermuara pada satu masalah utama, yaitu pendidikan. Pendidikan tidak bisa terlepas dari peran guru. Guru merupakan ujung tombak proses pendidikan. Hebat atau rusaknya pemimpin baru yang dilahirkan bisa sangat dipengaruhi oleh sosok guru.

Indonesia adalah negara yang sedang mengalami perkembangan dari segi system pendidikan, namun jika kita lihat lebih dekat lagi bagaimana kondisi anak-anak muda saat ini adalah sangat memprihatinkan. Anak muda Indonesia tiba-tiba terjebak kasus narkoba, terbukti melakukan seks bebas, tidak ada lagi murid yang patuh pada gurunya, banyak murid yang melawan, seolah tidak ada didikan kedisiplinan dari sang guru. Kasihan deh anak-anak muda Indonesia. Para figure public idola mereka tak konsisten memberikan keteladanan, akibatnya, anak muda zaman sekarang menjelajah sendiri model yang diciptakan kelompok mereka sendiri untuk memuaskan hasrat pencarian jati diri mereka. Melihat kondisi pemuda Indonesia yang seperti ini, tidak ada lain yang patut menjadi idola dan teladan bagi mereka adalah guru, Untuk mewujudkan kualitas suatu bangsa, guru mempunyai tiga peran, yaitu guru sebagai pengajar, guru sebagai pendidik, dan guru sebagai pemimpin.

Guru sebagai pengajar, dalam konsep pertama guru pengajar adalah guru yang hanya mentransformasi pengetahuan yang dimilikinya kepada siswa sehingga pada batasan ini hanya pada tataran transfer of knowledge. Kedua adalah guru sebagai pendidik, bila dibandingkan pada kategori pertama karakter guru dalam tataran ini tidak hanya sebatas pada transfer of knowledge tapi juga transfer of value, penanaman nilai kepada siswa menjadi aspek penting karena pengetahuan tidak akan seimbang bila sikap arif dalam diri terkebiri, dan karakter yang terakhir yaitu guru sebagai  pemimpin merupakan guru tidak hanya dapat melakukan pengajaran dan pendidikan tapi juga dapat menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan dapat berkomunikasi dengan orang tua sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Saya sangat sepakat dengan gagasan Pak Asep Sapaat, Guru itu pemimpin. Meski bukan seorang bintang idola, tapi sadarilah bahwa guru bisa melahirkan bintang-bintang idola yang akan menjadi generasi pengganti dan berjiwa pemimpin. Pemimpin bicara soal ide dan harapan masa depan. Idenya tak melulu soal bagaimana meraih status pegawai negeri sipil, mendapat tunjangan sertifikasi, meraih jabatan struktural, dan kenikmatan dunia untuk diri sendiri.  Guru pemimpin, paham manfaatnya sangat besar untuk menyiapkan pemimpin masa depan Indonesia. Ide dan harapannya tak berorientasi AKU, tapi MEREKA, anak-anak muda Indonesia yang mesti tumbuh berkembang jiwa-jiwa kepemimpinannya. Hidup yang merdeka adalah ciri seorang guru pemimpin. Mereka tak takut dengan atasan. Mereka tak silau dengan harta dan jabatan. Hanya satu yang mereka takutkan, cara berpikir dan bersikapnya jauh dari nilai-nilai kebenaran.

Satu hal yang patut dicermati, guru memang takkan pernah jadi pemimpin jika dia miskin integritas. Karena miskin integritas, guru tak memiliki karisma dan inspirasi di mata murid-murid.  Jika guru sudah tak inspiratif bagi murid, maka konsepsi guru sebagai sosok pemimpin memang hanya akan menjadi wacana saja. Guru juga butuh figur pemimpin yang setia memberikan keteladanan. Tak lupa system yang mendukung mewudnya karakter kepemimpinan guru. Pak Sidharta Susila dalam gagasannya menjelaskan bahwa kita mesti menciptakan ruang istimewa untuk memupuk benih karakter kepemimpinan anak-anak kita, calon pemimpin masa depan Indonesia. Sekolah adalah ruang berperistiwa yang bisa dimanfaatkan guru untuk mendidik calon-calon pemimpin. Sayangnya ruang berperistiwa ini tak dikawal system dan orang berkarakter pemimpin. Tapi pimpinan yang lebih nyaman memanipulasi dari pada mendorong semua sumber daya yang dimiliki sekolah.

Tentunya kita sebagai seorang muslim pasti butuh bekal yang cukup banyak untuk hidup yang hakiki kelak di akhirat. Kebahagiaan dunia dan akhirat ada pada profesi guru. Selain mendapat penghargaan di dunia, guru juga mendapat balasan kelak di akhirat. Karena guru merupakan pengemban amanah para nabi dan orang-orang shalih. Orang yang mengikuti jejak langkah para nabi dan orang-orang shalih tidak lain balasannya adalah surga.

Banggalah kita yang sekarang menjadi guru, sebagai pewaris para nabi dan diberikan ilmu oleh sang pemberi ilmu. Itulah beberapa alasan kenapa sekarang aku bangga menjadi guru, memilih guru sebagai profesi utama. Karena sebenarnya tanpa kita sadari, setiap hari kita adalah guru, yang membedakan adalah kita berada dalam system atau tidak, dan guru menurutku adalah profesi terbaik. Allah pun telah berjanji dalam kitabnya akan mengangkat derajat yang beriman dan orang-orang yang berilmu.

Saya berharap semoga Allah selalu membimbing saya dan semua guru, menjadi guru sebagai profesi terbaik dan jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com

11 Faktor Keberhasilan Siswa

oleh: Mohammad Fauzil Adhim

BAIK, mari kita buka What Works in Schools: Translating Research into Action yang ditulis oleh Robert J. Marzano. Soal penelitian, Marzano memang dikenal sebagai pakar paling kompeten dalam masalah manajemen kelas. Dari penelitiannya secara intensif selama lebih dari 40 tahun, Marzano telah menghasilkan tak kurang dari 25 buku yang menjadi rujukan penting tentang bagaimana seorang guru seharusnya mengelola kelas.

Lalu apa yang bisa kita petik dari What Works in Schools? Banyak hal. Di antaranya yang menarik perhatian saya adalah kesimpulan Marzano tentang 11 faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa. Kesebelas faktor tersebut tersebar dalam 3 aspek, yakni sekolah, guru dan siswa.

Agar pembicaraan kita lebih efektif, mari kita perbincangkan satu per satu secara ringkas:

Sekolah. Faktor pertama yang sangat menentukan kemampuan sekolah mengantar siswa meraih sukses adalah jaminan bahwa kurikulum yang berlaku di sekolah benar-benar layak diandalkan dan dapat diterapkan oleh guru-guru. Sebaik apa pun kurikulum yang telah dirumuskan oleh sekolah, jika guru-guru tidak mampu menerjemahkan dalam tindakan kelas, maka kurikulum tersebut akan sia-sia. Ujung-ujungnya, untuk memenuhi tuntutan kurikulum, yang dilakukan oleh guru bukan menerapkan kurikulum tersebut setepat dan sebaik mungkin, tetapi melakukan drilling. Sebuah proses latihan agar siswa terampil mengerjakan soal. Bukan memahami materi dan konsep sehingga menguasai pelajaran dengan baik.

Kedua, tujuan yang menantang dan umpan balik yang efektif (challenging goals and effective feedback). Tujuan yang mudah dicapai, tidak merangsang kita untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Sebabnya, tanpa usaha kita bisa meraih tujuan tersebut dengan mudah. Sebaliknya, tujuan yang terlalu sulit dicapai, sementara kapasitas mental untuk berusaha meraih dengan gigih belum terbentuk dengan kuat, menjadikan seseorang merasa tidak mampu meraih. Akibatnya, ia tidak mengerahkan seluruh kemampuannya untuk berusaha.

Sebaliknya, tujuan yang menantang akan mendorong kita untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Kita berjuang mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Semakin upaya kita mendekatkan pada tujuan, semakin kita bergairah. Semakin yakin bahwa upaya yang kita lakukan sudah tepat dan ada manfaatnya, maka akan semakin bersemangat kita melakukannya. Ini berarti perlu umpan balik yang tepat. Tanpa umpan balik yang efektif, semangat yang menyala-nyala itu bisa surut kembali. Meskipun ada sebagian orang yang tetap bersemangat tatkala usahanya tidak memperoleh umpan balik yang berarti, tetapi jenis orang seperti ini sangat sedikit.

Ketiga, keterlibatan orangtua dan komunitas. Ini bagian yang sangat penting. Keberhasilan program pendidikan di sekolah sangat dipengaruhi oleh bagaimana orangtua berinteraksi dengan anaknya. Keselarasan antara sekolah dan orangtua berperan besar dalam mempersiapkan anak meraih sukses. Itu sebabnya, sekolah perlu memiliki program yang secara khusus dirancang untuk membekali orangtua agar memiliki pengetahuan dan kecakapan teknis mengasuh anak serta keselarasan komunikasi dengan sekolah. Pengetahuan dan kecakapan teknis mengasuh bisa diberikan oleh sekolah melalui kegiatan-kegiatan seperti parenting skill class, in house workshop atau berbagai bentuk kegiatan lainnya. Sedangkan keselarasan komunikasi bisa dibangun melalui kegiatan family gathering, breakfast with headmaster, atau blog dan milis orangtua yang dikelola oleh sekolah bersama komite sekolah.

Kegiatan breakfast with headmaster (sarapan bersama kepala sekolah) misalnya, bisa menjadi forum dimana orangtua dapat menyampaikan masukan dan protes secara terbuka. Sebaliknya sekolah bisa menyampaikan harapan maupun kebijakan kepada orangtua secara akrab. Melalui forum semacam ini, ganjalan bisa ditiadakan, komplain bisa segera ditangani dan orangtua tidak perlu melontarkan kritik di depan anaknya. Yang terakhir ini, selain tidak produktif, juga menyebabkan kepercayaan (trust) siswa kepada guru bisa melemah. Padahal kepercayaan merupakan kunci sangat penting bagi keberhasilan pendidikan dan pembelajaran di kelas.

Keempat, lingkungan yang aman dan teratur. Lingkungan yang aman memberi ketenangan bagi staf, guru dan siswa. Sedangkan keteraturan memudahkan siswa beradaptasi dengan peraturan sekolah, peraturan kelas, harapan guru serta keragaman teman. Sedangkan bagi guru, keteraturan memudahkan proses memunculkan perilaku yang diharapkan (expected behavior) dari siswa. Keteraturan juga memudahkan guru membentuk pola belajar.

Kelima, kolegialitas dan profesionalisme (collegiality & proffesionalism). Hubungan yang bersifat kolegial antara guru dengan guru lain, guru dengan kepala sekolah, staf maupun manajemen berperan besar menciptakan komunitas yang bersahabat, akrab, saling menghormati dan saling mendukung. Pada gilirannya, ini sangat menunjang keberhasilan pembelajaran dan pendidikan di sekolah, terutama dalam menciptakan iklim sekolah (school climate) yang hangat dan saling mendukung.

Tentu saja hangatnya hubungan antar guru dan unsur lain di sekolah tidak boleh mengabaikan tugas pokok mereka masing-masing. Itu sebabnya, kolegialitas harus berjalan seiring dengan profesionalisme.

***

Guru. Ini merupakan aspek yang paling menentukan. Studi yang dilakukan oleh Marzano menunjukkan bahwa prestasi siswa akan meningkat jika mereka ditangani guru yang efektif, meskipun sekolahnya di bawah rata-rata, bahkan sangat tidak efektif. Lebih-lebih jika guru maupun sekolah sama-sama efektif, pengaruhnya akan lebih dahsyat. Sebaliknya, meskipun sekolah terbilang bermutu, prestasi siswa akan merosot jika guru tidak efektif. Artinya, peran guru dalam menciptakan keberhasilan siswa betul-betul sangat menentukan.

Ada tiga faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dari aspek guru.

Pertama, strategi instruksional. Ini berkait dengan kecakapan guru menyampaikan materi di depan kelas. Ada 9 aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan menyampaikan materi. Tetapi kita belum bisa mendiskusikannya saat ini.

Kedua, kecakapan mengelola kelas (classroom management). Ada empat aspek yang terkait dengan manajemen kelas, yakni penerapan dan penegakan aturan di kelas, strategi pendisiplinan siswa, menjaga dan memperkuat hubungan yang baik antara guru dengan siswa, serta merawat dan menguatkan sikap mental siswa.

Faktor kedua ini sebenarnya perlu pembahasan yang sangat panjang, tetapi kali ini rasanya cukup sampai di sini mengingat kesempatan yang sangat terbatas. InsyaAllah pada lain kesempatan bisa kita perbincangkan secara lebih serius, termasuk terkait dengan bagaimana mengelola anak-anak dengan perilaku bermasalah agar mereka bisa belajar dengan normal sebagaimana yang lain dan tidak mengganggu teman sekelasnya tatkala mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas.

Ketiga, desain kurikulum kelas. Ini berkait dengan bagaimana guru merancang kegiatan di kelas secara terstruktur agar tujuan pembelajaran di kelas secara keseluruhan dapat tercapai.

***

Siswa. Ada tiga faktor yang berpengaruh, yakni lingkungan rumah, kecerdasan yang dipelajari atau pengetahuan yang melatarbelakangi serta motivasi. Saya berharap kita bisa berbincang tentang motivasi siswa secara lebih serius pada lain kesempatan.

Semoga bermanfaat.

* Muhammad Fauzil Adhim, penulis buku-buku parenting

hidayatullah.com

Dasar Hukum Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia

Salah satu tujuan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah “Untuk Mencerdaskan kehidupan bangsa (Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945) yang kemudian dijabarkan pada batang tubuh UUD 1945 (paska Amandemen ke-4), Bab XIII tentang Pendidikan dan Kebudayaan,
Pasal 31
(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
(2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
(3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.
(4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.
(5) Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.

Dengan dasar pasal 31 inilah kemudian lahirlah berbagai Undang-undang dan Peraturan Pemerintah serta Peraturan Menteri yang mengatur pelaksanaan Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, yaitu:

UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Download

UU No. 14 Tahun 2006 Tentang Guru dan Dosen Download

PP No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Download

PP No. 55 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Download

PERMENDIKNAS No. 22 Tahun 2006 Tentang Stadar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Download

PERMENDIKNAS No. 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi
Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Download

PERMENDIKNAS No. 24 Tahun 2006 Tentang Pelaksanaan Permendiknas No. 22-2006 dan Permendiknas No. 23-2006 Download

PERMENDIKNAS No.16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru Download

PERMENDIKNAS No.19 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Download

PERMENDIKNAS No.20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan Download

PERMENDIKNAS No.41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Download

Catatan: Diperoleh dari berbagai sumber, semoga bermanfaat…^_^

%d bloggers like this: