Posts tagged ‘Haji’

5 Pilar Agamamu: Penjelasan Ringkas Rukun Islam (3)

Penulis: Abu Fatah Amrullah
Murojaah: Ust. Aris Munandar

Pilar Islam Kedua: Menegakkan Sholat

Pilar Islam yang kedua setelah dua kalimat syahadat adalah menegakkan sholat lima waktu. Bahkan sholat ini adalah pembeda antara seorang yang beriman dan yang tidak beriman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya yang memisahkan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim). Oleh karena itu seorang muslim haruslah memperhatikan sholatnya. Namun sungguh suatu hal yang sangat memprihatinkan, banyak kaum muslimin di zaman ini yang meremehkan masalah sholat bahkan terkadang lalai dari mengerjakannya.

Lima waktu sholat tersebut adalah sholat Zhuhur, sholat Ashar, sholat Magrib, Sholat Isya dan Sholat Subuh. Inilah sholat lima waktu yang wajib dilakukan oleh seorang muslim. Mari kita simak sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, beliau berkata, “Sholat lima waktu diwajibkan pada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pada malam Isra Mi’raj sebanyak 50 waktu, kemudian berkurang sampai menjadi 5 waktu kemudian beliau diseru, “Wahai Muhammad sesungguhnya perkataan-Ku tidak akan berubah dan pahala 5 waktu ini sama dengan pahala 50 waktu bagimu.”(Muttafaqun ‘alaihi)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوداً

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Isra: 78)

Pada firman Allah,

أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam.”

Terkandung di dalamnya kewajiban mengerjakan sholat Zuhur sampai dengan Isya kemudian pada firman-Nya,

وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوداً

“Dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” terkandung di dalamnya perintah mengerjakan sholat subuh. (Lihat Syarah Aqidah al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin).

Mendirikan sholat adalah kewajiban setiap muslim yang sudah baligh dan berakal. Adapun seorang muslim yang hilang kesadarannya, maka ia tidak diwajibkan mengerjakan sholat berdasarkan hadits dari Ali rodhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau berkata, “Pena diangkat dari tiga golongan, dari orang yang tidur sampai dia bangun, dari anak kecil sampai dia mimpi dan dari orang gila sampai dia sembuh.” (HR. Abu Daud No 12,78 dan 4370 Lihat di Shohih Jami’us Shaghir 3513 ).

Walaupun demikian, wali seorang anak kecil wajib menyuruh anaknya untuk sholat agar melatih sang anak menjaga sholat lima waktu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perintahkanlah anak kalian yang sudah berumur tujuh tahun untuk mengerjakan sholat, dan pukullah mereka agar mereka mau mengerjakan sholat saat mereka berumur 10 tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Hasan, Shahih Jami’us Shaghir 5868, HR. Abu Daud)

Pilar Islam Ketiga: Menunaikan Zakat

Inilah rukun Islam yang ketiga yaitu menunaikan zakat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman ketika mengancam orang-orang yang tidak mau membayar zakatnya,

وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْراً لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits dari Abu Hurairoh dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Barang siapa yang diberikan harta oleh Allah namun dia tidak menunaikan zakatnya pada hari kiamat dia akan menghadapi ular jantan yang botak kepalanya karena banyak bisanya dan memiliki dua taring yang akan mengalunginya pada hari kiamat. Kemudian ular tersebut menggigit dua mulutnya dan berkata, aku adalah harta simpananmu, aku adalah hartamu.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat,

وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْراً لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180)

Pilar Islam Keempat: Berpuasa Pada Bulan Ramadhan

Inilah rukun Islam keempat yang wajib dilakukan oleh seorang muslim yaitu berpuasa selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan dengan menahan makan, minum dan berhubungan suami istri serta pembatal lain dari mulai terbit fajar sampai tenggelamnya matahari. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْراً فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan , maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 183-185)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena beriman dengan kewajibannya dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, seluruh amal anak cucu Adam adalah untuknya sendiri kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Jika kalian berpuasa, maka janganlah kalian berbicara kotor atau dengan berteriak-teriak. Jika ada yang menghina kalian atau memukul kalian, maka katakanlah “aku sedang berpuasa” sebanyak dua kali. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibandingkan bau minyak kesturi pada hari kiamat nanti. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan, bahagia ketika berbuka berpuasa dan bahagia dengan sebab berpuasa ketika bertemu dengan Rabbnya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu yang disebut dengan pintu Ar Rayyan. Hanya orang-orang yang sering berpuasa yang akan memasuki pintu tersebut. Mereka dipanggil, “Mana orang-orang yang berpuasa?” kemudian mereka masuk ke dalamnya dan orang-orang selain mereka tidak bisa masuk. Jika mereka sudah masuk, maka tertutup pintu tersebut dan tidak ada lagi yang masuk selain mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Pilar Islam Kelima: Menunaikan Haji ke Baitullah Jika Mampu

Rukun Islam yang kelima yaitu menunaikan haji ke Baitullah jika mampu sekali seumur hidup. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِي

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh, “Umroh yang satu dengan yang selanjutnya menjadi pelebur dosa di antara keduanya dan tidak ada pahala yang pantas bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhotbah, “Wahai manusia, Allah telah mewajibkan pada kalian ibadah haji, maka berhajilah.” Kemudian ada seorang laki-laki yang berkata, “Apakah pada setiap tahun wahai Rasulullah?” kemudian beliau terdiam sampai-sampai laki-laki itu bertanya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda, “Seandainya aku katakan Iya, niscaya akan wajib bagi kalian padahal kalian tidak mampu. Biarkan apa yang aku tinggalkan karena sesungguhnya sebab kebinasaan orang setelah kalian adalah banyak bertanya dan menyelisihi nabinya. Jika aku perintahkan satu hal maka lakukan semampu kalian dan jika aku melarang sesuatu maka jauhilah.” (HR. Muslim).


Jamaah Haji sedang wukuf di padang Arafah

Apakah yang dimaksud dengan mampu pada pelaksanaan ibadah haji? Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi menjelaskan bahwa kemampuan dalam melaksanakan ibadah haji terkait dengan 3 hal yaitu:

Pertama, kesehatan berdasarkan hadits dari ibnu Abbas bahwa ada seorang wanita dari Ja’tsam yang mengadu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah sesungguhnya ayahku terkena kewajiban haji ketika umurnya sudah tua dan ia tidak mampu menaiki tunggangannya, apakah aku boleh berhaji untuknya?” Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berhajilah untuknya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Kedua, memiliki bekal untuk perjalanan haji pulang-pergi dan memiliki bekal untuk kebutuhan orang-orang yang wajib dia beri nafkah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Cukuplah seorang disebut sebagai pendosa jika dia menyia-nyiakan orang yang wajib dia nafkahi.” (HR. Abu Daud)

Ketiga, aman dari gangguan dalam perjalanan. Karena menunaikan haji padahal kondisi tidak aman adalah sebuah bahaya dan bahaya merupakan salah satu penghalang yang disyariatkan.

Penutup

Demikianlah penjelasan ringkas tentang lima pilar Islam yang kita kenal dengan rukun Islam. Semoga apa yang kami sampaikan ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amiin ya mujibbas Saailiin…

Rujukan:

1. Syarah Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Shalih bin Abdil ‘Aziiz Alu Syaikh
2. Taisir Wushul Ilaa Nailil Ma’mul bi Syarhi Tsalatsatil Ushul, Syaikh Nu’man bin Abdil Kariim Al Watr
3. Al Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz Syaikh Abdul ‘azhim Badawi
4. Syarah Aqidah al Wasithiyyah (Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin)
5. Gambar ilustrasi diperoleh dari berbagai sumber di Internet.

***

* Penulis adalah Alumni Ma’had Ilmi

Baca artikel terkait: 5 Pilar Agamamu: Rukun dan Makna Islam (1) dan 5 Pilar Agamamu: Penjelasan Ringkas Rukun Islam (2)

www.muslim.or.id

5 Pilar Agamamu: Rukun dan Makna Islam (1)

Penulis: Abu Fatah Amrullah
Murojaah: Ust. Aris Munandar

Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita mengetahui dengan baik agama kita. Karena dengan Islamlah seseorang bisa meraih kebahagiaan yang hakiki dan sejati. Sebuah kebahagiaan yang tidak akan usang di telan waktu dan tidak akan pernah hilang di manapun kita berada. Sebuah kebahagiaan yang sangat mahal harganya yang tidak dapat diukur dengan materi dunia sebesar apapun. Oleh karena itu sudah selayaknya bagi kita untuk mempelajari Islam, terlebih lagi bagian inti dari Islam yang menjadi pilar agama ini sehingga kebahagiaan pun bisa kita raih.

Inilah Pilar Itu

Rosul kita yang mulia telah memberitahu kepada kita seluruh perkara yang bisa mengantarkan kita pada kebahagiaan yang hakiki dan abadi yaitu surga Allah subhanahu wa ta’ala dan beliau juga telah memperingatkan kita dari seluruh perkara yang dapat menjerumuskan kita pada kehancuran dan kebinasaan yang abadi yaitu azab neraka yang sangat pedih yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya. Demikianlah kasih sayang Rosul kita kepada umatnya bahkan melebihi kasih sayang seorang ibu pada anaknya.

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128)

Rosul kita telah memberi tahu pada kita tentang pilar agama Islam yang mulia ini. Beliau bersabda yang artinya, “Islam ini dibangun di atas lima perkara: (1) Persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, (2) mendirikan sholat, (3) menunaikan zakat, (4) pergi haji ke baitullah, dan (5) berpuasa pada bulan Romadhon.” (HR. Bukhari Muslim)

Demikian pula ketika menjawab pertanyaan malaikat Jibril yang bertanya kepada beliau, “Wahai Muhammad! Beri tahukan kepadaku tentang Islam?” Kemudian beliau menjawab, “Islam adalah Engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kemudian Engkau mendirikan sholat, kemudian Engkau menunaikan zakat, kemudian Engkau berpuasa pada bulan Ramadhon, kemudian Engkau menunaikan haji jika mampu.” Kemudian ketika beliau kembali ditanya oleh malaikat Jibril, “Wahai Muhammad! Beri tahukan kepada ku tentang Iman?” Kemudian beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, utusan-Nya, hari akhir dan Engkau beriman pada takdir Allah yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)

Demikianlah Rosul kita memberikan pengertian kepada umatnya tentang Islam, apa itu Islam yang seharusnya kita jalankan? Dan bagaimana seorang menjalankan Islam? Dalam hadits tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa Islam adalah perkara-perkara agama yang lahiriah sedangkan iman adalah perkara-perkara yang terkait dengan hati. Sehingga jika digabungkan istilah Iman dan Islam maka hal ini menunjukkan hakikat agama Islam yaitu mengerjakan amalan-amalan lahir yang dilandasi keimanan. Jika ada orang yang mengerjakan amalan-amalan Islam namun perbuatan tersebut tidak dilandasi dengan keimanan, maka inilah yang disebut dengan munafik. Sedangkan jika ada orang yang mengaku beriman namun ia tidak mengamalkan perintah Allah dan Rasulnya maka inilah yang disebut dengan orang yang durhaka (dzalim).

Berdasarkan hadits tersebut sekarang kita tahu bahwa agama Islam ini dibangun di atas lima pilar:

1. Persaksian tentang dua kalimat syahadat bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
2. Menegakkan sholat.
3. Menunaikan zakat.
4. Berpuasa pada bulan Romadhon.
5. Pergi haji ke tanah suci jika mampu.

Dan kelima hal inilah yang disebut dengan Rukun Islam yang merupakan pilar utama tegaknya agama Islam ini. Barang siapa yang mengerjakan kelima pilar ini, maka ia berhak mendapatkan janji Allah subhanahu wa ta’ala berupa surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan.

Makna Islam

Jika kita mendengar kata Islam, maka ada dua pengertian yang dapat kita ambil. Pengertian islam yang pertama adalah Islam secara umum yang memiliki makna: Berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk serta patuh pada Allah dengan menjalankan ketaatan kepadanya dan berlepas diri dari perbuatan menyekutukan Allah (syirik) dan berlepas diri dari orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrik). Islam dengan makna yang umum ini adalah agama seluruh Nabi Rosul semenjak nabi Adam ‘alaihi salam. Sehingga jika ditanyakan, apa agama nabi Adam, Nuh, Musa, Isa nabi dan Rosul lainnya? Maka jawabannya bahwa agama mereka adalah Islam dengan makna Islam secara umum sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Demikian juga agama para pengikut Nabi dan Rasul sebelum nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Islam dengan pengertian di atas, pengikut para Nabi dan Rasul terdahulu berserah diri pada Alah dengan tauhid, tunduk dan patuh kepada-Nya dengan mengerjakan amal ketaatan sesuai dengan syariat yang dibawa oleh nabi dan Rasul yang mereka ikuti serta berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang yang berbuat syirik. Agama pengikut nabi Nuh adalah Islam, agama pengikut nabi Musa pada zaman beliau adalah Islam, agama pengikut nabi Isa pada zaman beliau adalah Islam dan demikian pula agama pengikut nabi Muhammad pada zaman ini adalah Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيّاً وَلاَ نَصْرَانِيّاً وَلَكِن كَانَ حَنِيفاً مُّسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Allah juga berfirman,

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمينَ مِن قَبْلُ

“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu.” (QS. Al Hajj: 78)

Sedangkan pengertian yang kedua adalah makna Islam secara khusus yaitu: Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mencakup di dalamnya syariat dan seluruh ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan inilah makna Islam secara mutlak, artinya jika disebutkan “Agama Islam” tanpa embel-embel macam-macam, maka yang dimaksud dengan “Agama Islam” tersebut adalah agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga orang-orang yang masih mengikuti ajaran nabi Nuh, nabi Musa atau ajaran nabi Isa setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka orang ini tidaklah disebut sebagai seorang muslim yang beragama Islam. Di samping itu, ada pengertian Islam secara bahasa yaitu Istislam yang berarti berserah diri.

-bersambung insya Allah-

***

* Penulis adalah Alumni Ma’had Ilmi

Baca artikel terkait : 5 Pilar Agamamu: Penjelasan Ringkas Rukun Islam (2) dan 5 Pilar Agamamu: Penjelasan Ringkas Rukun Islam (3)

www.muslim.or.id

IBADAH HAJI – Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah

Oleh: M. Quraish Shihab

Makna Ibadah Haji

Memahami makna Ibadah Haji, membutuhkan pemahaman secara khusus sejarah Nabi Ibrahim dan ajarannya, karena praktek-praktek ritual ibadah ini dikaitkan dengan pengalaman- pengalaman yang dialami Nabi Ibrahim as. bersama keluarga beliau. Ibrahim as. dikenal sebagai “Bapak para Nabi”, juga “Bapak monotheisme,” serta “proklamator keadilan Ilahi” kepada beliaulah merujuk agama-agama samawi terbesar selama ini.

Para ilmuwan seringkali berbicara tentang penemuan-penemuan
manusia yang mempengaruhi atau bahkan merubah jalannya sejarah
kemanusiaan. Tapi seperti tulis al-Akkad,

“Penemuan yang dikaitkan dengan Nabi Ibrahim as. merupakan penemuan manusia yang terbesar dan yang tak dapat diabaikan para ilmuwan atau sejarawan, ia tak dapat dibandingkan dengan penemuan roda, api, listrik, atau rahasia-rahasia atom betapa pun besarnya pengaruh penemuan-penemuan tersebut, … yang itu dikuasai manusia, sedangkan penemuan Ibrahim menguasai jiwa dan raga manusia. Penemuan Ibrahim menjadikan manusia yang tadinya tunduk pada alam, menjadi mampu menguasai alam, serta menilai baik buruknya, penemuan yang itu dapat menjadikannya berlaku sewenang-wenang, tapi kesewenang-wenangan ini tak mungkin dilakukannya selama penemuan Ibrahim as. itu tetap menghiasi jiwanya … penemuan tersebut berkaitan dengan apa yang diketahui dan tak diketahuinya, berkaitan dengan kedudukannya sebagai makhluk dan hubungan makhluk ini dengan Tuhan, alam raya dan makhluk-makhluk sesamanya …”

“Kepastian” yang dibutuhkan ilmuwan menyangkut hukum-hukum dan
tata kerja alam ini, tak dapat diperolehnya kecuali melalui
keyakinan tentang ajaran Bapak monotheisme itu, karena apa
yang dapat menjamin kepastian tersebut jika sekali Tuhan ini
yang mengaturnya dan di lain kali tuhan itu? Dengan demikian
monoteisme Ibrahim as. bukan sekedar hakikat keagamaan yang
besar, tapi sekaligus penunjang akal ilmiah manusia sehingga
lebih tepat, lebih teliti lagi, lebih meyakinkan. Apalagi
Tuhan yang diperkenalkan Ibrahim as. bukan sekedar tuhan suku,
bangsa atau golongan tertentu manusia, tapi Tuhan seru
sekalian alam, Tuhan yang imanen sekaligus transenden, yang
dekat dengan manusia, menyertai mereka semua secara
keseluruhan dan orang per orang, sendirian atau ketika dalam
kelompok, pada saat diam atau bergerak, tidur atau jaga, pada
saat kehidupannya, bahkan sebelum dan sesudah kehidupan dan
kematiannya. Bukannya Tuhan yang sifat-sifat-Nya hanya
monopoli pengetahuan para pemuka agama, atau yang hanya dapat
dihubungi mereka, tapi Tuhan manusia seluruhuya secara
universal.

Ajaran Ibrahim as. atau “penemuan” beliau benar-benar
merupakan suatu lembaran baru dalam sejarah kepercayaan dan
bagi kemanusiaan, walaupun tauhid bukan sesuatu yang tak
dikenal sebelum masa beliau, demikian pula keadilan Tuhan,
serta pengabdian pada yang hak dan transenden. Namun itu semua
sampai masa Ibrahim bukan merupakan ajaran kenabian dan
risalah seluruh umat manusia. Di Mesir 5.000 tahun lalu telah
dikumandangkan ajaran keesaan Tuhan, serta persamaan antara
sesama manusia, tapi itu merupakan dekrit dari singgasana
kekuasaan yang kemudian dibatalkan oleh dekrit penguasa
sesudahnya.

Ibrahim datang mengumandangkan keadilan Ilahi, yang
mempersamakan semua manusia dihadapan-Nya, sehingga betapa pun
kuatnya seseorang. Ia tetap sama di hadapan Tuhan dengan
seseorang yang paling lemah sekali pun, karena kekuatan si
kuat diperoleh dari pada-Nya, sedangkan kelemahan si lemah
adalah atas hikmah kebijaksanaan-Nya. Dia dapat mencabut atau
menganugerahkan kekuatan itu pada siapa saja sesuai dengan
sunnah-sunnah yang ditetapkan-Nya.

Ibrahim hadir di pentas kehidupan pada suatu masa persimpangan
menyangkut pandangan tentang manusia dan kemanusiaan, antara
kebolehan memberi sesajen yang dikorbankan berupa manusia,
atau ketidakbolehannya dengan alasan bahwa manusia adalah
makhluk yang sangat mulia, melalui Ibrahim as. secara amaliah
dan tegas larangan tersebut dilakukan, bukan karena manusia
terlalu tinggi nilainya sehingga tak wajar untuk dikorbankan
atau berkorban, tapi karena Tuhan Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Putranya Ismail diperintahkan Tuhan untuk
dikorbankan, sebagai pertanda bahwa apa pun –bila panggilan
telah tiba wajar untuk dikorbankan demi karena Allah. Setelah
perintah tersebut dilaksanakan sepenuh hati oleh ayah dan
anak, Tuhan dengan kekuasaan-Nya menghalangi penyembelihan
tersebut dan menggantikannya dengan domba sebagai pertanda
bahwa hanya karena kasih sayang-Nya pada manusia, maka praktek
pengorbanan semacam itu pun tak diperkenankan.

Ibrahim menemukan dan membina keyakinannya melalui pencaharian
dan pengalaman-pengalaman kerohanian yang dilaluinya dan hal
ini secara agamis atau Qur’ani terbukti bukan saja dalam
penemuannya tentang keesaan Tuhan seru sekalian alam,
sebagaimana diuraikan dalam QS. al-An’am 6:75, tapi juga dalam
keyakinan tentang hari kebangkitan. (Menarik untuk diketahui
bahwa beliaulah satu-satunya Nabi yang disebut al-Qur’an
meminta pada Tuhan untuk diperlihatkan bagaimana caranya
menghidupkan yang mati, dan permintaan beliau itu dikabulkan
Tuhan, lihat, QS. al-Baqarah 2:260).

Demikian sebagian kecil dari keistimewaan Nabi Ibrahim,
sehingga wajar jika beliau dijadikan teladan seluruh manusia,
seperti ditegaskan al-Qur’an surah al-Baqarah 2:127.
Keteladanan tersebut antara lain diwujudkan dalam bentuk
ibadah haji dengan berkunjung ke Makkah, karena beliaulah
bersama putranya Ismail yang membangun (kembali)
fondasi-fondasi Ka’bah (QS. al-Baqarah 2:127), dan beliau
pulalah yang diperintahkan untuk mengumandangkan syari’at haji
(QS. al-Haj 22:27). Keteladanan yang diwujudkan dalam bentuk
ibadah tersebut dan yang praktek-praktek ritualnya berkaitan
dengan peristiwa yang beliau dan keluarga alami, pada
hakikataya merupakan penegasan kembali dari setiap jamaah
haji, tentang keterikatannya dengan prinsip-prinsip keyakinan
yang dianut Ibrahim, yang intinya adalah,

1. Pengakuan Keesaan Tuhan, serta penolakan terhadap segala
macam dan bentuk kemusyrikan baik berupa patung-patung,
bintang, bulan dan matahari bahkan segala sesuatu selain
dari Allah swt.

2. Keyakinan tentang adanya neraca keadilan Tuhan dalam
kehidupan ini, yang puncaknya akan diperoleh setiap
makhluk pada hari kebangkitan kelak.

3. Keyakinan tentang kemanusiaan yang bersifat universal,
tiada perbedaan dalam kemanusiaan seseorang dengan lainnya,
betapa pun terdapat perbedaan antar mereka dalam hal-hal
lainnya.

Ketiga inti ajaran ini tercermin dengan jelas atau
dilambangkan dalam praktek-praktek ibadah haji ajaran Islam.
Tulisan ini akan menitikberatkan uraian menyangkut butir
ketiga, walau pun disadari, keyakinan tentang keesaan Tuhan
dan ketundukan semua makhluk di bawah pengawasan, pengaturan
dan pemeliharaan-Nya, mengantar makhluk ini, khususnya manusia
menyadari bahwa mereka semua sama dalam ketundukan pada Tuhan,
manusia dalam pandangan al-Qur’an, sama dari segi ini dengan
makhluk-makhluk lain, karena walau pun manusia memiliki
kemampuan menggunakan makhluk-makhluk lain, namun kemampuan
tersebut bukan bersumber dari dirinya, tapi akibat penundukan
Tuhan dan karena itu ia tak dibenarkan berlaku sewenang-wenang
terhadapnya, tapi berkewajiban bersikap bersahabat dengannya.

Keyakinan akan keesaan Tuhan juga mengantar manusia untuk
menyadari, bahwa semua manusia dalam kedudukan yang sama dari
segi nilai kemanusiaan, karena semua mereka diciptakan dan
berada di bawah kekuasaan Allah swt. QS. al-Hujurat 13
menunjukkan betapa erat kaitan antara keyakinan akan keesaan
Tuhan dengan persamaan nilai kemanusiaan.

Ibadah haji dikumandangkan Ibrahim as. sekitar 3600 tahun
lalu. Sesudah masa beliau, praktek-prakteknya sedikit atau
banyak telah mengalami perubahan, namun kemudian diluruskan
kembali oleh Muhammad saw. Salah satu hal yang diluruskan itu,
adalah praktek ritual yang bertentangan dengan penghayatan
nilai universal kemanusiaan haji. Al-Qur’an Surah al-Baqarah
2:199, menegur sekelompok manusia (yang dikenal dengan nama
al-Hummas) yang merasa diri memiliki keistimewaan sehingga
enggan bersatu dengan orang banyak dalam melakukan wuquf.
Mereka wukuf di Mudzdalifah sedang orang banyak di Arafah.
Pemisahan diri yang dilatarbelakangi perasaan superioritas
dicegah oleh al-Qur’an dan turunlah ayat tersebut diatas.
“Bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak
dan mohonlah ampun kepada Allah sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Tak jelas apakah praktek bergandengan tangan saat melaksanakan
thawaf pada awal periode sejarah Islam, bersumber dari ajaran
Ibrahim dalam rangka mempererat persaudaraan dan rasa
persamaan. Namun yang pasti Nabi saw membatalkannya, bukan
dengan tujuan membatalkan persaudaraan dan persamaan itu, tapi
karena alasan-alasan praktis pelaksanaan thawaf.

Salah satu bukti yang jelas tentang keterkaitan ibadah haji
dengan nilai-nilai kemanusiaan adalah isi khutbah Nabi saw
pada haji wada’ (haji perpisahan) yang intinya menekankan:
Persamaan; keharusan memelihara jiwa, harta dan kehormatan
orang lain; dan larangan melakukan penindasan atau pemerasan
terhadap kaum lemah baik di bidang ekonomi maupun fisik.

Pengamalan Nilai-nilai Kemanusiaan Universal

Makna kemanusiaan dan pengalaman nilai-nilainya tak hanya
terbatas pada persamaan nilai antar perseorangan dengan yang
lain, tapi mengandung makna yang jauh lebih dalam dari sekedar
persamaan tersebut. Ia mencakup seperangkat nilai-nilai luhur
yang seharusnya menghiasi jiwa pemiliknya. Bermula dari
kesadaran akan fitrah atau jati dirinya serta keharusan
menyesuaikan diri dengan tujuan kehadiran di pentas bumi ini.
Kemanusiaan mengantar putra-putri Adam menyadari arah yang
dituju serta perjuangan mencapainya. Kemanusiaan menjadikan
makhluk ini memiliki moral serta berkemampuan memimpin
makhluk-makhluk lain mencapai tujuan penciptaan. Kemanusiaan
mengantarnya menyadari bahwa ia adalah makhluk dwi dimensi
yang harus melanjutkan evolusinya hingga mencapai titik akhir.
Kemanusiaan mengantarnya sadar bahwa ia adalah makhluk sosial
yang tak dapat hidup sendirian dan harus bertenggang rasa
dalam berinteraksi.

Makna-makna tersebut dipraktekkan dalam pelaksanaan ibadah
haji, dalam acara-acara ritual, atau dalam tuntunan non
ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangan, dalam bentuk
nyata atau simbolik dan kesemuanya pada akhirnya mengantar
jemaah haji hidup dengan pengamalan dan pengalaman kemanusiaan
universal. Berikut ini dikemukakan secara sepintas beberapa di
antaranya.

Pertama, ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Tak dapat disangkal bahwa pakaian menurut kenyataannya dan juga menurut al-Qur’an berfungsi sebagai pembeda antara seseorang atau sekelompok dengan lainnya. Pembedaan tersebut dapat mengantar kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis pada pemakainya. Di
Miqat Makany di tempat dimana ritual ibadah haji dimulai,
perbedaan dan pembedaan tersebut harus ditanggalkan. Semua
harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis
dari pakaian harus ditanggalkan, hingga semua merasa dalam
satu kesatuan dan persamaan. “Di Miqat ini ada pun ras dan
sukumu lepaskan semua pakaian yang engkau kenakan sehari-hari
sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan),
tikus (yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan
tipu daya), atau domba (yang melambangkan penghambaan).
Tinggalkan semua itu di Miqat dan berperanlah sebagai manusia
yang sesungguhnya. [2]

Di Miqat dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna
putih-putih, sebagaimana yang akan membalut tubuhnya ketika ia
mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seorang yang
melaksanakan ibadah haji akan atau seharusnya dipengaruhi
jiwanya oleh pakaian ini. Seharusnya ia merasakan kelemahan
dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang akan
ditunaikannya kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang
disisi-Nya tiada perbedaan antara seseorang dengan yang lain,
kecuali atas dasar pengabdian kepada-Nya.

Kedua, dengan dikenakannya pakaian ihram, maka sejumlah larangan harus diindahkan oleh pelaku ibadah haji. Seperti
jangan menyakiti binatang, jangan membunuh, jangan menumpahkan
darah, jangan mencabut pepohonan. Mengapa? Karena manusia
berfungsi memelihara makhluk-makhluk Tuhan itu, dan memberinya
kesempatan seluas mungkin mencapai tujuan penciptaannya.
Dilarang juga menggunakan wangi-wangian, bercumbu atau kawin,
dan berhias supaya setiap haji menyadari bahwa manusia bukan
hanya materi semata-mata bukan pula birahi. Hiasan yang
dinilai Tuhan adalah hiasan rohani. Dilarang pula menggunting
rambut, kuku, supaya masing-masing menyadari jati dirinya dan
menghadap pada Tuhan sebagaimana apa adanya.

Ketiga, Ka’bah yang dikunjungi mengandung pelajaran yang amat berharga dari segi kemanusiaan. Di sana misalnya ada Hijr Ismail yang arti harfiahnya pangkuan Ismail. Di sanalah Ismail putra Ibrahim, pembangun Ka’bah ini pernah berada dalam pangkuan Ibunya yang bernama Hajar, seorang wanita hitam, miskin bahkan budak, yang konon kuburannya pun di tempat itu, namun demikian budak wanita ini ditempatkan Tuhan di sana atau peninggalannya diabadikan Tuhan, untuk menjadi pelajaran bahwa Allah swt memberi kedudukan untuk seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, tapi karena kedekatannya kepada Allah swt dan usahanya untuk menjadi hajar atau berhijrah dari kejahatan menuju kebaikan, dari keterbelakangan menuju peradaban.

Keempat, setelah selesai melakukan hawaf yang menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama manusia-manusia lain, serta memberi kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang sama
yakni berada dalam lingkungan Allah swt dilakukanlah sa’i. Di
sini muncul lagi Hajar, budak wanita bersahaja yang
diperistrikan Nabi Ibrahim itu, diperagakan pengalamannya
mencari air untuk putranya. Keyakinan wanita ini akan
kebesaran dan kemahakuasaan Allah sedemikian kokoh, terbukti
jauh sebelum peristiwa pencaharian ini, ketika ia bersedia
ditinggal (Ibrahim) bersama anaknya di suatu lembah yang
tandus, keyakinannya yang begitu dalam tak menjadikannya
samasekali berpangku tangan menunggu turunnya hujan dari
langit, tapi ia berusaha dan berusaha berkali-kali
mondar-mandir demi mencari kehidupan. Hajar memulai usahanya
dari bukit Shafa yang arti harfiahnya adalah “kesucian dan
ketegaran” [3] –sebagai lambang bahwa mencapai kehidupan
harus dengan usaha yang dimulai dengan kesucian dan
ketegaran– dan berakhir di Marwah yang berarti “ideal
manusia, sikap menghargai, bermurah hati dan memaafkan orang
lain” [4].

Adakah makna yang lebih agung berkaitan dengan pengamalan
kemanusiaan dalam mencari kehidupan duniawi melebihi
makna-makna yang digambarkan di atas? Kalau thawaf
menggambarkan larutnya dan meleburnya manusia dalam hadirat
Ilahi, atau dalam istilah kaum sufi al-fana’ fi Allah maka
sai’ menggambarkan usaha manusia mencari hidup –yang ini
dilakukan begitu selesai thawaf– yang melambangkan bahwa
kehidupan dunia dan akhirat merupakan suatu kesatuan dan
keterpaduan. Maka dengan thawaf disadarilah tujuan hidup
manusia. Setengah kesadaran itu dimulai sa’i yang
menggambarkan, tugas manusia adalah berupaya semaksimal
mungkin. Hasil usaha pasti akan diperoleh baik melalui
usahanya maupun melalui anugerah Tuhan, seperti yang dialami
Hajar bersama putranya Ismail dengan ditemukannya air Zamzam
itu.

Kelima, di Arafah, padang yang luas lagi gersang itu seluruh jamaah wuquf (berhenti) sampai terbenamnya matahari. Di
sanalah mereka seharusnya menemukan ma’rifat pengetahuan
sejati tentang jati dirinya, akhir perjalanan hidupnya, serta
di sana pula ia menyadari langkah-langkahnya selama ini,
sebagaimana ia menyadari pula betapa besar dan agung Tuhan
yang kepadaNya bersimpuh seluruh makhluk, sebagaimana
diperagakan secara miniatur di padang tersebut.
Kesadaran-kesadaran itulah yang mengantarkannya di padang
‘arafah untuk menjadi ‘arif atau sadar dan mengetahui.
Kearifan apabila telah menghias seseorang, maka Anda akan,
menurut Ibnu Sina, “Selalu gembira, senyum, betapa tidak
senang hatinya telah gembira sejak ia mengenal-Nya, … di
mana-mana ia melihat satu saja, … melihat Yang Maha Suci
itu, semua makhluk di pandangnya sama (karena memang semua
sama, … sama membutuhkan-Nya). Ia tak akan mengintip-ngintip
kelemahan atau mencari-cari kesalahan orang, ia tidak akan
cepat tersinggung walau melihat yang mungkar sekalipun karena
jiwanya selalu diliputi rahmat dan kasih sayang.

Keenam, dari Arafah para jamaah ke Mudzdalifah mengumpulkan senjata menghadapi musuh utama yaitu setan, kemudian melanjutkan perjalanan ke Mina dan di sanalah para Jamaah haji melampiaskan kebencian dan kemarahan mereka masing-masing
terhadap musuh yang selama ini menjadi penyebab segala
kegetiran yang dialaminya.

Demikianlah ibadah haji merupakan kumpulan simbol-simbol yang
sangat indah, apabila dihayati dan diamalkan secara baik dan
benar, maka pasti akan mengantarkan setiap pelakunya dalam
lingkungan kemanusiaan yang benar sebagaimana dikehendaki
Allah.

CATATAN

1. Lihat Abbas Mahmud al-Aqqad dalam Al-‘Aqaid Wa al-mazahib,
Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut 1978, h. 12-15.

2. Lihat lebih jauh Ali Syariati dalam Haji, penterjemah Anas
Mahyuddin, Pustaka Bandung, 1983, h. 12.

3. Lihat al-Qurthuby dalam Tafsirnya al-jami’li Ahkam
al-Qur’an, Dar al-Kitab al-Arabi, Cairo 1967, Jilid 11, h.
180.

4. Lihat Abdul Halim Mahmud, Al-tafkir al-falsafi fi ‘l-Islam,
Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, 1982. h. 430.

SUMBER: http://media.isnet.org/index.html

%d bloggers like this: