Posts tagged ‘Hati’

“Madrasah Kenabian”: Refleksi Iman yang Mencerahkan

“Iman adalah membenarkan di dalam hati (at Tashdiqu bil qalbi), diucapkan dengan lisan (qaulun billisan), dan dibuktikan dengan amal anggota tubuh (amalun bil arkan wal jawarih)

doa-mutiara-ramadhan

Ciri orang-orang beriman memandang bahwa ketetapan Allah dinomor satukan, jika dihadapkan beberapa pilihan

Oleh: Shalih Hasyim

KETIKA wahyu pertama turun dan ditransformasikan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam kepada generasi Muslim pertama (assabiqunal awwalun), maka manusia penunggang onta dari kawasan yang awalnya terisolir nan tandus bisa berubah keyakinan, pola pikir, orientasi dan prilaku kehidupan sehari-hari.

Adalah Khadijah binti Khuwailid, dia seorang wanita yang kaya raya, habis-habisan berkurban. Ia siap secara total tidak takut menanggung resiko sekalipun terancam nyawanya oleh orang-orang kafir. Tidak ada yang lebih berharga melebihi/mengungguli wahyu Allah Subhanahu Wata’ala.

Abu Bakar Ash-Shiddiq, konglomerat tidak berpikir panjang dalam menyambut wahyu Allah. Rasulullah bersabda: Saya tidak mengajak seseorang masuk Islam kecuali ada maju mundurnya kecuali Abu Bakar. Begitu wahyu turun, dia langsung lebur dalam perjuangan Islam. Dalam perjalanan keislamannya, beliau pernah menginfakkan hartinya tanpa disisakan sedikitpun untuk keluarganya.”

Juga Bilal bin Rabah yang menemukan dirinya tidak sebagai budak. Tetapi hanya sebagai hamba Allah Subhanahu Wata’ala. Ia tidak diperbudak oleh posisi, komisi, kepentingan. Ia tidak menjadi hamba minoritas, hamba mayoritas, tetapi hanya sebagai abdullah dan khalifatullah. Ketika dijemur oleh majikannya di atas batu ketika panas matahari yang terik, ia mengatakan “Ahad, Ahad! “(hanya Allah Yang Maha Esa).

Ammar bin Yasir dan keluarganya ridha kehilangan nyawanya, istrinya Sumayyah ditumbak perutnya, tetapi keduanya lebih menghargai keyakinannya daripada nyawa satu-satunya. Sehingga Rasulullah bersabda untuk menghiburnya, “Sabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya janjimu adalah surga.”

Keimanan merujuk salafus shalih di atas yang mengantarkan pemiliknya merasakan kebahagian di dunia dengan memperoleh petunjuk dari-Nya dan keselamatan di akhirat dengan masuk surga-Nya (sa’adatud darain). Bukan sekedar mata’ (kepuasan sesaat), tetapi nikmat.  Kenikmatan yang belum pernah disaksikan oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbersit di dalam hati.

فَإِنْ آمَنُواْ بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَواْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk,  dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Baqarah (2) : 137).

Dalam ayat lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَياةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لاَ تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.  bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus (10) : 62-64).

Di dalam surga, orang beriman tidak sekedar minum sebanyak satu gelas air, satu gelas susu, satu gelas arak (yang tidak memabukkan), satu gelas madu, tetapi satu kolam air, satu kolam susu, satu kolam arak, satu kolam madu. (QS. Muhammad (47) : 15).

Iman, Refleksi Hati, Ucapan dan Sikap

Iman yang sejati ialah keyakinan penuh  (al-Yaqinu kulluh) yang terhunjam di dalam hati, dengan tidak ada perasaan ragu, serta mempengaruhi arah dan orientasi kehidupan, sikap dan aktifitas keseharian. Iman adalah perpaduan antara amalan hati, amalan lisan dan amalan anggota tubuh. Iman tidak sekedar amal perbuatan, dan tidak pula sebatas pengetahuan tentang arkanul iman. Iman adalah membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta menegakkan syariat-Nya di muka bumi ini.

Iman tidak sekedar ucapan lisan seseorang yang memberikan pengakuan dirinya bahwa ia orang beriman. Sebab orang munafik pun dengan lisannya memproklamirkan hal yang sama, namun hatinya mengingkari apa yang diucapkan.

Iman juga bukan sebatas amal perbuatan yang secara lahiriyah tampak merupakan karakteristik orang-orang beriman. Sebab orang-orang munafik pun tidak sedikit yang secara lahiriyah/sekilas terlihat mengerjakan amal ibadah dan berbuat baik, sementara hati mereka kontradiktif dengan perbuatan lainnya, apa yang dilakukannya tidak dimotivasi oleh ketulusan niat untuk mencari ridha Allah Subhanahu Wata’ala. Lain di mulut lain pula di hati.

Bahkan sekarang ini, ada kategori negara maju dan negara berkembang. Ukuran kemajuan ditentukan dari standar yang sempit, yaitu asesoris lahiriyah. Bukan kemajuan yang diukur dari kualitas ruhani. Terbukti, bangsa Barat bukan bangsa yang beradab, tetapi bangsa yang biAdab. PBB identik dengan Perserikatan Bangsa Barat. Padahal mereka secara transparan mengatakan negaranya adalah negara skuler/kafir.

Sebab menceraikan Allah Subhanahu Wata’ala dari kehidupan sosial. Maka, melahirkan kehidupan yang jauh dari bimbingan Allah.

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya [meraih pujian] (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali [beribadah ketika dihadapan manusia].” [QS. An Nisa (4) : 142].

Sesunngguhnya Alah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai melayani para mukmin. dalam pada itu Allah telah menyediakan neraka buat mereka sebagai pembalasan tipuan mereka itu.

Demikian pula iman bukan sekedar pengetahuan akan makna dan hakikat iman, sebab tidak sedikit orang yang mengetahui hakikat iman tetapi mereka tetap mengingkari kebenaran di hadapannya.

Ciri orang-orang beriman memandang bahwa ketetapan Allah dinomor satukan, jika dihadapkan beberapa pilihan. Tanpa ada rasa keberatan, pura-pura dan pamrih.

Jumhur Ulama mengatakan, “Iman adalah membenarkan di dalam hati (at Tashdiqu bil qalbi), diucapkan dengan lisan (qaulun billisan), dan dibuktikan dengan amal anggota tubuh (amalun bil arkan wal jawarih).

Tekat, idealisme dan kualitas pribadi orang beriman terlukis dalam ucapan ahli sastra Arab berikut: Siapa yang tidak berani mencoba untuk mendaki gunung (khawatir tergelincir dari puncak), maka selamanya ia akan hidup di lembah-lembah.

Jadi, sastra tadi mengajarkan bahwa untuk meraih kesuksesan dan bertahan di puncak kesuksesan harus berani untuk mencoba. Menyingkirkan pikiran buruk yang membayangi dirinya. Dan mengganti dengan pikiran dan sikap positif. Kesulitan adalah bagian yang tidak dapat dipisah-pisahkan dari kemudahan. Perbedaan dua keadaan dipandang sebagai panorama kehidupan.

Iman dan akidah islamiah, kepercayaan Islam, sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Quran dan As Sunnah, bertumpu pada iman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab-kitab dan para Nabi. Rukun iman itulah yang mampu menjawab tanda tanya kehidupan di dunia ini. Imanlah yang dapat menjelaskan dengan memuaskan kepada manusia tentang rahasia (misteri) kehidupan dan menjawab pertanyaan fundamental, dari mana aku datang, siapa diri kita, mengapa aku di hadirkan di sini, setelah ini akan ke mana.* (Diadaptasi dari kitab : Al-Iman wal Hayah, oleh Syaikh Dr. Yusuf Al Qardhawi dengan sedikit perubahan redaksional).

http://www.hidayatullah.com

Energi Al-Qur’an

13. Ada Al qur'an di hatiku_1-500x500

Oleh : Maulana Ahmad Robi Darmawan

Membahas tentang sesuatu yang tidaklah kasat mata sebagaimana bahasan tentang energi memang sangatlah rumit. Hal ini dikarenakan sebagian besar umat manusia selalu ingin melihat pembuktian melalui panca inderanya. Sementara kita memahami bahwa panca indera kita memiliki keterbatasan yang pastilah tidak akan mampu untuk mendeteksi keberadaan sesuatu yang di luar ambang batas toleransi panca indera kita.

Sebagai contoh kita tidak akan mampu mendeteksi atau menerima pancaran frekwensi televisi atau radio hanya dengan panca indera kita. Maka pastilah dibutuhkan suatu mekanisme tertentu yang kemudian diwujudkan dalam piranti peralatan sehingga mata ataupun telinga kita mampu menerima pesan-pesan yang ada dalam frekwensi televisi atau radio tersebut.

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, tetapi mereka berpaling daripadanya (tidak mau memikirkannya)” … (QS Yusuf 12 :105).

Maka demikian juga dengan Al-Qur’an yang sebenarnya bukan hanya yang termaktub di dalam kitab yang dibukukan saja. Tetapi kalau kita melihatnya dengan kacamata ilmu pengetahuan maka sebenarnya Al-Qur’an dari awal dunia berkembang sampai akhir dunia nantinya tetap menggema di seluruh alam semesta. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimanakah caranya supaya kita mampu menerima frekwensi Al-Qur’an yang konon katanya sangatlah dahsyat energinya.

“Dan kami menurunkan dari sebagian Al-Qur’an yaitu sesuatu yang merupakan obat dan rahmat untuk orang-orang mukmin” … (QS Al-Isra’ 17:82).

“Kalau sekiranya dengan Al-Qur’an dapat diperjalankan gunung-gunung (memindah-mindahkan gunung) atau dibelah-belah bumi atau orang mati diajak berbicara/dapat berbicara (niscaya mereka tiada juga mau beriman)” … (QS Ar-Ra’du 13:31).

“Andaikata Al-Qur’an Kami turunkan di atas bukit/gunung, maka engkau akan melihat bahwa gunung itu tunduk dan terbelah karena takut terhadap Allah, dan perumpamaan itu Kami jadikan untuk manusia agar mereka memikirkannya” … (QS Al-Hasyir 59:21).

Dari ayat-ayat di atas jelaslah sudah bahwa begitu dahsyat energi yang dibawa oleh      Al-Qur’an tersebut. Dan diterangkan juga bahwa hanya hati hamba Allah yang tenang, lunak, dan damai saja yang mampu untuk menerimanya. Jadi hanya manusia saja yang diizinkan oleh Allah yang sudah barang tentu dengan dilengkapi piranti-piranti yang telah ditanamkan oleh Allah di dalam manusia tersebut.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah mengapa saat ini Islam sudah tidak lagi berenergi apabila Al-Qur’an sebagai senjatanya ? Pasti ada yang salah dalam mengurai Al-Qur’an sehingga pada akhirnya salah dalam tata cara pelaksanaannya. Energi Al-Qur’an saat ini hanya dirasakan oleh segelintir orang yang memang dengan sungguh-sungguh mau merisetnya.

Marilah kita awali dengan memandang Al-Qur’an (kitab) sebagai buku petunjuk untuk menguak rahasia yang lebih luas dari hakikat Al-Qur’an sebagai bentuk energi yang sangat dahsyat.

Perumpamaan :

Buku atau kitab Einstein yaitu KITAB TEORI ATOM. Kitab tersebut mempunyai energi yang dahsyat hingga mampu meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki dalam perang dunia ke 2. Lalu bagaimana caranya mengeluarkan energi dari KITAB TEORI ATOM tersebut ?

Maka yang harus dilakukan adalah :

  1. Membacanya sebagai awal untuk mengambil informasi yang terdapat dalam kitab tersebut dan menganalisa serta mengambil intisari makna dari kitab tersebut sehingga akhirnya didapatkan rumusan-rumusan dari yang sederhana sampai yang kompleks yang sudah barang tentu harus didampingi oleh ahlinya(tahap ILMUL YAQIN).
  2. Menguji coba rumusan-rumusan tersebut dengan serentetan proses kimiawi sehingga menghasilkan suatu hasil yang dinamakan bom nuklir (tahap AINUL YAQIN).
  3. Meledakkan bom tersebut sehingga mendapatkan pembuktian tentang kedahsyatan energi KITAB TEORI ATOM (tahap HAQQUL YAQIN).

651lzl

Maka apabila kita memakai model pendekatan yang sama terhadap Al-Qur’an maka pastilah kita akan mencapai apa yang dinamakan tahap HAQQUL YAQIN (bukan katanya tapi kataku). Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat 3 komponen dalam mengurai energi Al-Qur’an yaitu :

  1. Buku panduan yaitu Al-Qur’an (kitab).
  2. Pendamping yang merupakan pakar Al-Qur’an yaitu Ulama Ahli Dzikir (Pembimbing).
  3. Periset yang menyelidiki bahasan tersebut di atas yaitu Murid.

Pertanyaannya kenapa ahli dzikir ?

“Bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kamu sekalian tidak mengetahui. Kami utus mereka itu dengan membawa keterangan dan kitab-kitab” … (QS An-Nahl 16:43-44).

Jadi apakah inti permasalahan yang dapat kita cermati dengan contoh di atas adalah bahwa selama ini ada kesalahan dalam memperlakukan Al-Qur’an. Bukan tak ada gunanya membaca bahkan dengan lagu yang indah-indah. Tetapi lebih daripada itu bahwa sebenarnya ada hal yang lebih penting yaitu mengerjakan apa yang diperintahkan dari bacaan tersebut sehingga sampailah kita pada fase akhir yaitu membuktikan sendiri kedahsyatan energi Al-Qur’an. Al-Qur’an berisi perintah-perintah kerja dan petunjuk-petunjuk teknis bagaimana cara berhubungan dengan Allah.

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada-Ku dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Ku dan bersungguh-sungguhlah pada jalan itu, maka kamu pasti menang” … (QS Al-Maidah 5:35)

Sehingga benarlah bahwa Al-Qur’an membawa energi yang begitu dahsyat karena ternyata yang akan kita dapatkan adalah kedekatan dengan dzat yang Maha Perkasa Allah SWT yang hasilnya akan membawa kemenangan demi kemenangan di muka bumi. Menurut hemat saya tiada urusan yang lebih penting dibandingkan urusan kedekatan kita dengan Allah, karena hanya dengan mendekat kepada Allah adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat kita. Tiada kamus kalah bagi Allah dan para hamba-Nya.

Selanjutnya marilah kita kupas bersama bahasan tentang bagaimana petunjuk-petunjuk teknis yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam firman-Nya disebutkan bahwa diperintahkan atas kita untuk bertanya kepada ahli dzikir apa-apa yang tidak kita ketahui.

Dan di berbagai ayat disebutkan juga tentang perintah Allah untuk mencari manusia yang dipilih Allah sehingga beliau bisa kita jadikan ikutan dan pemberi petunjuk berdasar pengalamannya. Sesuai dengan firman-Nya :

“Bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kamu sekalian tidak mengetahui. Kami utus mereka itu dengan membawa keterangan dan kitab-kitab” … (QS An-Nahl 16:43-44).

“Allah memberi cahaya langit dan bumi. Umpama cahaya-Nya, seperti sebuah lubang di dinding rumah, di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam gelas. Gelas itu seperti bintang yang berkilauan …… Cahaya berdampingan dengan cahaya. Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya-Nya itu. Allah menunjukkan beberapa contoh untuk manusia” … (QS An-Nur 24:35).

“Mereka itulah orang-orang yang telah ditunjuki Allah, sebab itu ikutilah petunjuk mereka itu” … (QS Al-An’am 6:90).

“Kami jadikan di antara mereka itu beberapa orang ikutan untuk menunjuki           manusia perintah Kami dengan sabar serta yakin dengan keterangan Kami” …                             (QS AS-Sajdah 32:24).

“Barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu bersama orang-orang yang diberikan Allah nikmat kepada mereka, yaitu nabi-nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang syahid dan orang-orang yang sholeh. Alangkah baiknya berteman dengan mereka itu” … (QS An-Nisa’ 4:69).

“Tunjukilah (hati) kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan sedang mereka itu bukan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat” … (QS Al-Fatihah 1:6-7).

Maka semakin teranglah sudah bahwa petunjuk teknisnya adalah mencari manusia sebagai pembimbing yang dapat memberikan penjelasan lebih rinci tentang petunjuk teknis yang sudah termaktub dalam Al-Qur’an. Karena yang akan kita riset adalah sesuatu yang tidak kasat mata maka bila tanpa pembimbing niscaya kita akan dibimbing oleh bisikan hati kita yang meragukan nilai kebenarannya sebagaimana firman-Nya :

“Aku berlindung kepada Tuhan ….. dari pada kejahatan bisikan syetan. Yang membisikkan dalam hati manusia …” … (QS An-Naas 114:1-6)

unsur-pembentuk-manusia

Sebelum kita bahas lebih mendalam maka ada baiknya kita urai dulu unsur manusia sehingga masalah akan semakin mudah kita teliti bersama. Seperti termaktub di dalam Al-Qur’an bahwa manusia tersusun atas 3 komponen dasar yaitu :

  1. Jasad
  2. Jiwa / Nafs
  3. Ruh

Ayat-ayat yang berhubungan :

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya Ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur” … (QS As-Sajdah 32:9).

“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” … (QS Asy-Syam 91:7-10)

Dari ayat-ayat di atas jelaslah dari ke 3 komponen tersebut memiliki dzat yang berbeda-beda tetapi menjadi dalam satu wadah yaitu jasad. Bagimana memahaminya ? Sebenarnya mudah saja dengan meneliti ayat di bawah ini :

“Allah memberi cahaya langit dan bumi. Umpama cahaya-Nya, seperti sebuah lubang di dinding rumah, di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam gelas. Gelas itu seperti bintang yang berkilauan …… Cahaya berdampingan dengan cahaya. Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya-Nya itu. Allah menunjukkan beberapa contoh untuk manusia” … (QS An-Nur 24:35).

Maka dipakailah cahaya sebagai gambaran. Ruh adalah cahaya yang ditiupkan Allah hanya ke dalam tubuh manusia. Maka berawal qolbu manusia adalah Baitullah. Karena di qolbulah ditiupkan ruh tersebut. Qolbu digambarkan sebagaimana gelas yang berada di dalam rumah atau tubuh. Apabila gelas tersebut berada di dalam lautan jiwa yang bersih dan bening berkilauan maka cahayanya akan memancar ke seluruh tubuh dan pada akhirnya akan memancar keluar dari tubuh. Maka jiwa-jiwa yang lain akan melihat pancaran cahaya tersebut dengan bentuk sama dengan tubuh yang dihuni.

Sebagaimana cahaya yang tak berbentuk, tetapi apabila cahaya tersebut berada di dalam lampu neon maka kita akan melihat bentuk cahaya itu seperti lampu neon.

Maka itulah pentingnya keberadaan sang pembimbing yang akan menjadi tolok ukur kita dalam membedakan mana cahaya iblis dan mana cahaya Allah dalam usaha kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga kita tidak tersesat dengan mengikuti bisikan setan yang menghembus dari dalam hati. Karena jelaslah bahwa wajah rasulullah dan para pewarisnya tidak akan mampu ditiru oleh iblis, setan ataupun jin. Karena setiap unsur di dalam tubuhnya telah tersinari oleh cahaya Ruh yang suci yang pada firman-Nya disebutkan sebagai ruh-Nya.

Maka sebenarnya setiap manusia didalam qolbunya telah tertanam ruh-Nya yang merupakan satu-satunya komponen di dunia ini yang bisa menghubungkan kita dengan Allah. Tetapi dalam proses dari lahir sampai remaja hingga dewasa qolbu tersebut terhijab oleh lautan jiwa yang kotor sehingga cahaya-Nya semakin tertutup dan akhirnya redup. Maka apabila jiwa yang telah rusak tadi sering berkumpul dengan jiwa yang telah tenang/suci (sang pembimbing), maka lambat laun jiwa yang kotor tersebut akan menjadi suci sehingga cahaya ruh yang terhijab tadi kembali bersinar dan siap untuk menyinari jiwa-jiwa yang lain atau menjadi rahmat bagi sekitarnya. Sebagaimana kawat biasa apabila bersentuhan dengan kawat berlistrik maka kawat biasa tersebut bisa menyengat. Tapi apabila dipisahkan maka kawat tersebut akan menjadi kawat biasa.

Maka dapat disimpulkan selama jiwa-jiwa tersebut tidak memutuskan tali dengan jiwa sang pembimbing yang telah tenang/suci maka  cahaya Allah akan selalu terpancar di setiap sel tubuh kita dikarenakan hanya jiwa yang tenang/suci yang bisa mengimbaskan ketenangan/kesucian.

“Hai jiwa (nafs) yang tenang (suci). Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan (hati) ridha dan diridhai (Tuhan). Maka masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kalian ke dalam surga-Ku” … (QS AL-Fajr 89:27-30)

Hubungan tersebut tidak terputus walau sang pembimbing telah berpulang. Karena tiada yang mati bagi para pejuang sabilillah. Dengan syarat sang murid pernah bertemu secara lahir dengan sang pembimbing di saat masih hidup.

“Janganlah kamu katakan mati orang-orang yang terbunuh pada sabilillah, bahkan mereka hidup, tetapi kamu tiada sadar” … (QS Al-Baqarah 2:154).

Dan dalam sebuah riwayat Rasulullah menyatakan bahwa kondisi dzikir Abu Bakar yang merupakan perang terhadap hawa nafsu adalah perang jantan dan kondisi Ali yang mengikuti perang badar adalah perang betina.

Dari uraian di atas semoga dapat membangkitkan semangat kita bersama untuk semakin memperkuat  keyakinan dan harapan kita akan hari perjumpaan kita dengan-Nya. Karena tiada lagi yang bisa kita perbuat selain menggantungkan harapan kita kepada Allah dan sehingga pada saatnya nanti kita akan dipertemukan dengan utusan-Nya yang akan membimbing kita kehadirat-Nya.

“Barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu bersama orang-orang yang diberikan Allah nikmat kepada mereka, yaitu nabi-nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang syahid dan orang-orang yang sholeh. Alangkah baiknya berteman dengan mereka itu” … (QS An-Nisa’ 4:69).

Dan semoga apabila Allah telah berkenan untuk mempertemukan kita dengan utusan-Nya maka kita diberikan kekuatan untuk bersabar di jalan tersebut. Sehingga pada akhirnya terciptalah umat percontohan yang benar-benar mengamalkan Al-Qur’an tanpa paksaan dikarenakan ketiga komponennya sudah harmonis dengan ruh-Nya yang pada gilirannya akan menampilkan sosok-sosok manusia yang menyandang sifat-sifat Allah. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya dan Allah tiada pernah mengingkari akan janji-Nya.

PEMROGRAMAN KOMPUTER: “ Cara menginstal CINTA-KASIH”

Oleh: Putu Kesuma

Alkisah ada seorang pelanggan datang dengan hati gelisah ke tempat servis, upgrade dan reparasi komputer.

Customer Service (CS): Ya, ada yang bisa saya bantu?

Pelanggan (P): Mmmm, setelah saya pertimbangkan, saya ingin menginstal CINTA-KASIH. Bisakah anda memandu saya menyelesaikan prosesnya?

CS: Ya, saya dapat membantu anda. Anda siap melakukannya?

P: Ya, saya tidak mengerti secara teknis, tetapi saya siap untuk menginstalnya sekarang. Apa yang harus saya lakukan dahulu?

CS: Langkah pertama adalah membuka HATI anda. Tahukah anda di mana HATI anda?

P: Ya, tapi ada banyak program yang sedang aktif. Apakah saya tetap bisa menginstalnya sementara program-program tersebut aktif?

CS: Program apa saja yang sedang aktif?

P: Sebentar, saya lihat dulu, Program yang sedang aktif adalah SAKITHATI.EXE, MINDER.EXE, DENDAM.EXE dan BENCI.DAT.

CS: Tidak apa-apa. CINTA-KASIH akan menghapus SAKITHATI.EXE dari sistem operasi Anda. Program tersebut akan tetap ada dalam memori anda, tetapi tidak lama karena akan tertimpa program lain. CINTA-KASIH akan menimpa MINDER.EXE dengan modul yang disebut PERCAYADIRI.EXE. Tetapi anda harus mematikan BENCI.DAT dan DENDAM.EXE. Program tersebut akan menyebabkan CINTA-KASIH tidak terinstal secara sempurna. Dapatkah anda mematikannya?

P: Saya tidak tahu cara mematikannya. Dapatkah anda memandu saya?

CS: Dengan senang hati. Gunakan Start menu dan aktifkan MEMAAFKAN.EXE. Aktifkan program ini sesering mungkin sampai BENCI.DAT dan DENDAM.EXE terhapus.

P: OK, sudah. CINTA-KASIH mulai terinstal secara otomatis. Apakah ini wajar?

CS: Ya, anda akan menerima pesan bahwa CINTA-KASIH akan terus diinstal kembali dalam HATI anda. Apakah anda melihat pesan tersebut?

P: Ya. Apakah sudah selesai terinstal?

CS: Ya, tapi ingat bahwa anda hanya punya program dasarnya saja. Anda perlu mulai menghubungkan HATI yang lain agar untuk mengupgradenya.

P: Oops. Saya mendapat pesan error. Apa yang harus saya lakukan?

CS: Apa pesannya?

P: ERROR 412-PROGRAM NOT RUN ON INTERNAL COMPONENT. Apa artinya?

CS: Jangan kuatir, itu masalah biasa. Artinya, program CINTA-KASIH diset untuk aktif di HATI eksternal tetapi belum bisa aktif dalam HATI internal anda. Ini adalah salah satu kerumitan pemrograman, tetapi dalam istilah non-teknis ini berarti anda harus men-CINTA-KASIH-i anda sendiri sebelum men-CINTA-KASIH-i orang lain.

P: Lalu apa yang harus saya lakukan?

CS: Dapatkah anda klik pulldown direktori yang disebut PASRAH?

P: Ya, sudah.

CS: Bagus. Pilih file-file berikut dan salin ke direktori MYHEART:MEMAAFKAN-DIRI-SENDIRI.DOC, dan MENYADARI-KEKURANGAN.TXT. Sistem akan menimpa file-file konflik dan mulai memperbaiki program-program yang salah. Anda juga perlu mengosongkan Recycle Bin untuk memastikan program-program yang salah tidak muncul kembali.

P: Sudah. Hei! HATI saya terisi file-file baru. SENYUM.MPG aktif di monitor saya dan menandakan bahwa DAMAI.EXE dan KEPUASAN.DAT dikopi ke HATI. Apakah ini wajar?

CS: Kadang-kadang. Orang lain mungkin perlu waktu untuk mendownloadnya.
Jadi CINTA-KASIH telah terinstal dan aktif. Anda harus bisa menanganinya dari sini. Ada satu lagi hal yang penting.

P: Apa?

CS: CINTA-KASIH adalah produk OPENSOURCE yang FREEWARE. Pastikan untuk memberikannya kepada orang lain yang anda temui. Mereka akan share ke orang lain dan seterusnya sampai anda akan menerimanya kembali.

P: Pasti. Terima kasih atas bantuannya.

CS: Ya. Sama-sama.

Pentingnya Merawat dan Memperbaiki Batin

Oleh: Ali Akbar Bin Agil

DALAM sebuah kisah sufi yang terkenal, tersebutlah sebuah kisah tentang seorang pemuda ahli ibadah dan seorang pecinta dunia. Suatu hari, si ahli ibadah memasuki hutan yang penuh dengan singa. Melihat kedatangan pemuda ahli ibadah tadi, singa-singa di hutan itu merasa senang dan menyambutnya. Sementara itu, si pecinta dunia yang tatkala itu sedang berburu, baru saja memasuki hutan yang sama. Melihat kedatangan si pecinta dunia dan rombongannya, singa-singa itu mengaum siap menerkam sehingga membuat mereka merasa ketakutan.

Si ahli ibadah melihat kejadian itu dan dia berusaha menenangkan singa-singa tersebut. Maka berkatalah si ahli ibadah kepada si pecinta dunia dan orang-orangnya setelah menenangkan singa-singa ini, “Kalian hanya memperbagus dan memperindah penampilan luar saja, maka kalian takut kepada singa. Adapun kami, kami selalu memperbaiki dan memperbagus batin kami, sehingga singa pun takut kepada kami.”

Kisah di atas memuat pelajaran penting tentang hati sebagai pusat kebaikan. Hati adalah ibarat Raja yang punya hak veto dalam memerintah seluruh anggota jasmani menuju perbuatan baik atau jahat. Untuk merawat dan memperindah hati agar bercahaya, maka seseorang perlu terus-menerus mempertahankan dan mengamalkan kebaikan. Hati akan terus bersih, bening dan bercahaya jika kejahatan terus dihindari, jauh dari debu-debu dengki, riya`, takabbur, dan cobaan dijalani dengan ikhlas.

Memelihara hati bukanlah tugas yang sulit. Ini merupakan tugas yang wajib dilakukan setiap Muslim. Andaikata pun sulit atau mudah, itu harus dilakukan agar hati yang bersih berpendar dengan sinar kebaikan. Hati adalah wajahnya jiwa. Orang yang jiwanya baik, hatinya akan baik. Cara memperbaiki jiwa dengan memperbaiki hati.

Hati, dalam pandangan Imam Abdullah Al-Haddad adalah tempat penglihatan Allah. Sebelum yang lain, Allah melihat hati seseorang terlebih dahulu. Di sisi berbeda, anggota lahir badan kita menjadi tempat perhatian sesama makhluk yang acap dipandang dengan pandangan kekaguman.

Dalam sebuah doanya, Rasulullah SAW mengatakan :

“Allahummaj`al Sariiratiy Khairan Min `Alaaniyatiy Waj`al `Alaaniyatiy Shaalihah.” (Ya Allah, jadikanlah keadaan batinku lebih baik dari keadaan lahirku dan jadikanlah keadaan lahirku baik). Inilah salah satu doa yang sering dipanjatkan oleh Nabi kepada Allah. Di dalamnya terkandung permintaan agar menjadikan suasana hati lebih bagus ketimbang keadaan lahir.

Pertanyaanya, mengapa nabi menitikberatkan pada batin atau hati? Imam Abdullah menjawab: “Ketika hati baik, maka keadaan lahir akan mengikuti kebaikan itu pula. Ini merupakan sebuah kepastian.” Keyakinan ini didasarkan pada peringatan sabda Nabi Muhammad SAW sendiri: “Di dalam jasad ada sekerat daging jika ia baik maka baiklah seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim)

Hati Sebagai Pusat Segalanya

Setiap orang pasti menyukai keindahan. Banyak orang yang memandang keindahan sebagai sumber pujian. Ribuan kilometer pun akan ditempuh demi mencari suasana dan pemandangan yang indah. Uang berjuta-juta akan dirogoh untuk memperindah pakaian. Waktu akan disediakan demi membentuk tubuh yang indah.

Perhatikan bagaimana Rasulullah SAW yang meski pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa dan pangkat, tapi tidak berkurang kemuliaannya sepanjang waktu. Rasulullah SAW tidak menempuh ribuan kilo, merogoh harta demi singgasana dari emas yang gemerlap, ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Akan tetapi, penghargaan terhadap beliau tidak luntur dan menyusut ditelan masa. Beliau adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya. Kunci keindahan yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan sebenarnya.

Hati adalah penggerak, raja, poros, dan pusat segala ibadah. Hati yang thuma`ninah (tenang) akan dapat membuat orang ringan bangun malam, membaca Al-Qur`an, datang ke masjid, dan semua amal shalih lainnya. Hati bisa mengajak kepada kebaikan sekaligus di saat yang sama bisa mengajak kepada kejahatan.

Kita melihat tidak sedikit orang yang mempunyai anggapan bahwa melakukan maksiat tidaklah mengapa asal hati kita baik. Anggapan dan keyakinan seperti ini jelas merupakan kesalahan besar. Menurut Imam Abdullah, orang yang berpendirian semacam ini adalah pendusta besar. Lahir dan batin haruslah berimbang dan sama-sama baik. Seumpama makanan, ia akan diminati orang jika isi dan bungkusnya baik.

Kebaikan yang dibuat-buat juga harus dihindari. Ada orang yang berjalan membungkuk, mengenakan tasbih, pakaiannya pakaian orang saleh. Di balik semua ini, kita melihat dalam batinnya orang seperti ini tertanam cinta dunia mengakar kuat, keangkuhan, kebanggaan pada diri sendiri, serta kegilaan pada pujian. Menurut Imam Abdullah, orang semacam ini adalah orang yang berpaling dari Allah.

Dalam sebuah peristiwa, Sayidina Umar ra. melihat seorang yang berjalan di hadapannya dengan membungkuk sebagai bentuk ke-tawadhu-an. Melihat ini, Sayidina Umar berkata, “Takwa itu bukan dengan cara membungkukkan badanmu. Takwa itu ada di dalam hati.”

Bagaimana jika seseorang tidak mampu memperbaiki batin lebih dari keadaan lahirnya? Menurut Imam Abdullah Al-Haddad, hendaknya ia menyamakan kebaikan lahir dan batin meski idealnya meningkatkan kebaikan batin lebih diutamakan dan disukai.

Orang yang memiliki hati yang bersih, tak pernah absen bersyukur kepada Allah, Penguasa jagat alam raya ini. Pribadinya menyimpan mutu dan pesona. Tak mudah jatuh dalam kesombongan dan kepongahan di kala merebut sesuatu namun tetap istiqamah tunduk pada Allah.

Orang yang mempunyai hati yang baik akan terus bersikap rendah hati walaupun berpangkat tinggi dan harta melimpah.

Mari bersihkanlah hati ini, beningkanlah dari segala kotoran, isilah dengan sifat-sifat yang baik agar ia tetap terang benderang, bersinar dan bercahaya serta selalu cenderung kepada kebaikan dan takwa.*

Penulis staf pengajar di Ponpes. Darut Tauhid, Malang- Jawa timur

hidayatullah.com

%d bloggers like this: