Posts tagged ‘Inggris’

Ruhul Islam Sultan Abdul Hamid II


Sultan Abdul Hamid II

Nama lengkap beliau adalah Abdul Hamid Khan ke-2 bin Abdul Majid Khan. Ia adalah putera Sultan Abdul Majid (dari istri kedua). Ibunya meninggal ketika beliau berusia 7 tahun. Ia adalah Sultan (Khalifah) ke-27 yang memerintah Daulah Khilafah Islamiyah Turki Utsmani. Abdul-Hamid menggantikan saudaranya Sultan Murad V pada 31 Agustus 1876.

Pada 1909 Sultan Abdul-Hamid II dicopot kekuasaannya melalui kudeta militer, sekaligus memaksanya untuk mengumumkan sistem pemerintahan perwakilan dan membentuk parlemen untuk yang kedua kalinya. Ia diasingkan ke Tesalonika, Yunani. Selama Perang Dunia I, ia dipindahkan ke Istana Belarbe. Pada 10 Februari 1918, Sultan Abdul-Hamid II meninggal tanpa bisa menyaksikan runtuhnya institusi Negara Khilafah (1924), suatu peristiwa yang dihindari terjadi di masa pemerintahannya. Ia digantikan oleh saudaranya Sultan Muhammad Reshad (Mehmed V) .

Sultan Abdul Hamid sangat pandai berbicara bahasa Turki, Arab dan Farsi. Ia juga mempelajari beberapa buku tentang sastra dan puisi. Ketika ayahnya, Abdul Majid meninggal, pamannya, Abdul Aziz menggantikan menjadi Sultan (Khalifah). Namun Abdul Aziz tak lama sebagai Sultan. Ia dipaksa turun dari tahta dan kemudian dibunuh oleh musuh politik pemerintah Utsmaniyyah. Ia diganti oleh Sultan Murad, anak lelakinya, tetapi beliau juga diturunkan dari tahta dalam waktu yang singkat karena tidak mampu memerintah.

Pada 31 Agustus 1876 (1293H) Sultan Abdul Hamid dilantik menjadi Sultan dengan disertai bai’ah oleh umat Islam. Ia berusia 34 tahun ketika itu. Sultan Abdul Hamid menyadari, sebagaimana yang beliau nukilkan dalam catatan hariannya, bahwa ketika pembunuhan pamannya, dan juga perubahan kepemimpinan yang cepat adalah merupakan satu konspirasi untuk menjatuhkan pemerintahan Islam.

Pribadi Sultan Abdul Hamid telah dikaji hebat oleh Orietalis Barat. Ia pemimpin sebuah negara yang sangat besar yang ketika itu dalam kondisi sekarat dan tegang. Ia menghabiskan lebih 30 tahun dengan konspirasi internal dan eksternal, peperangan, revolusi dan perubahan yang tidak berhenti. Sultan Abdul Hamid sendiri mengungkapkan perasaannya pada hal ini di dalam tulisan dan puisinya. Satu contoh puisi beliau dalam buku, “Bapaku Abdul Hamid,” ditulis oleh anak perempuannya bernama Aisya.

“Tuhanku,
Aku tahu Kaulah al-Aziz …
dan tiada yang selainMu
yang Kaulah Satu-Satunya,
dan tiada yang lain Ya Allah,
pimpinlah tanganku dalam kesusahan ini,
Ya Allah, bantulah aku dalam saat-saat yang kritis ini.”

Masalah pertama yang dihadapi beliau adalah Midhat Pasha. Midhat Pasha terlibat secara rahasia Freemason dalam pakta menjatuhkan paman Sultan Abdul Hamid. Saat Sultan Abdul Hamid menjadi Khalifah beliau menunjuk Midhat Pasha sebagai Ketua Majelis Menteri-menteri karena Midhat sangat populer saat itu dan Sultan Abdul Hamid memerlukan untuk terus memegang kepemimpinan.

Midhat Pasha bijak menjalankan tugasnya tetapi ia terlalu mengikuti pandangannya sendiri saja. Midhat Pasha juga didukung oleh satu aliran yang kuat di Parlemen. Dengan bantuan dari golongan ini, Midhat Pasha berhasil meloloskan resolusi untuk berperang dengan Rusia.

Sultan Abdul Hamid tidak dapat berbuat apa-apa karena ia kemungkinan akan dijatuhkan jika mencoba bertindak. Kekalahan perang tersebut dicoba dipertanggung-jawabkan atas Sultan Abdul Hamid oleh pendukung Midhat itu. Namun, setelah sesuai waktunya,

SultanAbdul Hamid telah berhasil menggunakan perselisihan antara beliau dengan Midhat Pasha untuk membuang Midhat ke Eropa. Rakyat dan para pengamat politik mendukung penuh tindakan berani dan bijak Khalifah Islam ini.

Musuh di luar Islam

Sultan Abdul Hamid mengalihkan perhatian beliau kepada musuh-musuh luar Pemerintah Islam. Ia telah memperkirakan Revolusi Komunis di Rusia dan menyadari bahwa itu akan memperkuat Rusia dan menjadi lebih berbahaya.

Pada saat itu, Balkan masih merupakan bagian dari Pemerintah Islam dan sedang menghadapi tekanan dari Rusia dan Austria. Sultan Abdul Hamid hanya menyadarkan negara-negara Balkan ini akan bahaya yang akan mereka hadapi. Ia hampir berhasil mencapai persetujuan dengan negara-negara ini. Tetapi ketika saat-saat akhir ditandatanganinya perjanjian tersebut, 4 negara Balkan telah membelot dan membuat perjanjian lain menyingkirkan Pemerintah Islam Utsmaniyyah atas pengaruh Rusia dan Austria.

Sultan Abdul Hamid sadar bahwa konspirasi untuk menghancurkan Negara Islam adalah lebih hebat dari yang diketahui umum. Konspirasi ini tersedia dari internal dan eksternal.

Ketika beliau merasa lega karena berhasil membuang Midhat Pasha dan pengikut-pengikutnya, ia berhadapan pula dengan Awni Pasha, seorang yang berpengaruh dalam Majelis Menteri dan juga seorang pemimpin pasukan. Kemudian, Sultan Abdul Hamid mengetahui bahwa Awni Pasha menerima uang dan hadiah dari pihak Eropa dan juga tentang perannya dalam menjatuhkan Abdul Aziz.

Awni Pasha membawa Pemerintah Utsmaniyyah ke dalam peperangan Bosnia meskipun tidak disetujui oleh Sultan Abdul Hamid. Abdul Hamid mengetahui jika peperangan terjadi, Rusia, Inggris, Austria-Hungaria, Serbia, Montenegro, Itali dan Prancis akan menyerang Pemerintahan Islam dan mengambil Bosnia.

Rupanya, Awni memberikan informasi palsu kepada Sultan Abdul Hamid tentang kekuatan tentara Islam di Bosnia. Dia mengatakan ada 200.000 tentara Islam di sana sedangkan saat Sultan Abdul Hamid mendapatnya informasi dari pemimpin-pemimpin militer lainnya, diperkriakan hanya terdapat 30.000 tentara, di mana harus menghadapi lebih 300.000 tentara kafir.

Publik menyukai Awni pada saat itu dan jika Sultan Abdul Hamid memecatnya, stabilitas negara akan terancam. Kekuatan kafir Barat, saat menyadari mereka berhadapan dengan lawan yang kecil jumlahnya telah menyerang Bosnia dengan bantuan empat negara Balkan (Rumania, Montenegro, Serbia dan Austria-Hungaria).

Akibat dari peperangan ini, Bosnia dan Yunani telah dirampas dari Pemerintah Islam. Setelah kekalahan tersebut, barulah Sultan Abdul Hamid bisa mendapatkan dukungan umum dalam memecat Awni. Pengadilan menemukan Awni bersalah karena berkonspirasi menjatuh pemerintah dan membantu kekuasaan asing seperti Inggris.

Kejatuhan ini membuat semua pihak bersekongkol menjatuhkan Sultan Abdul Hamid II, termasuk pihak Yahudi. Pada tahun 1901, seorang pemilik Bank Yahudi, Mizray Qraow dan 2 lagi pemimpin Yahudi berpengaruh mengunjungi Sultan Abdul Hamid dengan membawa penawaran:

Pertama, membayar semua hutang Pemerintahan Islam Utsmaniyyah. Kedua, membangun Angkatan Laut Pemerintahan Islam Utsmaniyyah3) 35 Juta Lira Emas tanpa bunga untuk membantu perkembangan Negara Islam Utsmaniyyah. Tawaran ini sebagai ganti jika,

1) Menerima Yahudi mengunjungi Palestina pada setiap saat yang mereka suka dan untuk tinggal berapa lamapun yang mereka inginkan “mengunjungi tempat-tempat suci”.

2) Yahudi diperbolehkan membangun pemukiman di tempat mereka tinggal di Palestina dan mereka menginginkan tempat yang letaknya dengan Baitul-Maqdis (al Quds)

Namun nampaknya Sultan Abdul Hamid enggan bertemu mereka sekalipun, apalagi menerima penawaran mereka. Ia mengirim utusan dan menjawab:

“Beritahu Yahudi-yahudi yang tidak beradab itu bahwa hutang-hutang Pemerintah Utsmaniyyah bukanlah sesuatu yang ingin dipermalukan, Prancis juga memiliki hutang-hutangnya dan itu tidak memberikan efek apapun kepadanya. Baitul-Maqdis menjadi bagian dari Bumi Islam ketika Umar ibn Al- Khattab mengambil kota itu dan aku tidak akan sekali-kali menghina diriku dalam sejarah dengan menjual Bumi suci ini kepada Yahudi dan aku tidak akan menodai tanggung-jawab dan amanah yang diberikan oleh ummah ini kepadaku. Biarlah Yahudi-yahudi itu menyimpan uang mereka, umat Islam Utsmaniyyah tidak akan bersembunyi di dalam kota-kota yang dibangun dengan uang musuh-musuh Islam. “

Sungguh sikap seorang pemimpin Islam yang belum bisa ditemukan di dunia saat ini. Hatta, itu dari pemimpin negeri-negeri Muslim sekalipun.

Jihad dan politik ‘adu-domba’

Yahudi tidak berputus asa dengan kegagalan mempengaruhi Sultan Abdul Hamid. Pada akhir tahun yang sama, 1901, pendiri gerakan Zionis, Theodor Herzl, mengunjungi Istanbul dan mencoba bertemu dengan Sultan Abdul Hamid.

Namun Abdul Hamid enggan bertemu Hertzl dan mengirim stafnya dan menasehati Hertzl dengan mengatakan;

“Aku tidak dapat memberikan walau sejengkal dari tanah ini (Palestina) karena ia bukan milikku, ia adalah hak umat Islam. Umat Islam yang telah berjihad demi bumi ini dan mereka telah membasahinya dengan darah-darah mereka. Yahudi bisa menyimpan uang dan harta mereka. Jika Kekhalifahan Islam ini hancur pada suatu hari, mereka dapat mengambil Palestina tanpa biaya! Tetapi selagi aku masih hidup, aku lebih rela sebilah pedang merobek tubuhku daripada melihat bumi Palestina dikhianati dan dipisahkan dari kehkhilafahan Islam. Perpisahaan tanah Palestina adalah sesuatu yang tidak akan terjadi, Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.”

Bayangkan.!, pendirian seorang pemimpin (Khalifah) ini disampaikan di saat-saat kekuasaannya sedang diambang kehancuran. Bagaimana jika tindakannya itu terjadi di masa-masa beliau masih kuat?


Theodor Herzl, Pendiri Zionis dan penggagas Negara Yahudi (1901).

Kegagalan Yahudi merayu Sultan Hamid, membuat mereka berkolaborasi dengan Nagara-negara Eropa. Yahudi mendapatkan bantuan Inggris dan Prancis untuk mencapai impian mereka. Semenjak itu, Negara seperti Inggris dan Prancis bersiap menghancurkan pemerintah Islam Utsmaniyyah. Tetapi kata “jihad” masih tetap ditakuti dan membuat seluruh Eropa bergetar.

Maka Inggris kala itu memutuskan ide penggunakan kebijakan ‘pecah belah’. Ini dilakukkan Inggris dengan mulai memberi dukungan kelompok-kelompok baru seperti “Turki Muda” yang dimotori oleh Mustafa Kemal Pasha. Kebodohan itu membuat umat tidak tahu lagi mana kawan dan mana lawan. Alih-alih membela Sultan, ia malah terkecoh dan bersekutu dengan penjajah, termasuk Zionis Yahudi yang telah ngebet ingin mencaplok Palestina.

Akhirnya, malam 27 April 1909 Sultan kedatangan tamu tak diundang. Kedatangan mereka di Istana Yildiz menjadi catatan sejarah yang tidak akan pernah terlupakan kaum Muslim seluruh dunia. Perwakilan 240 anggota Parlemen Utsmaniyyah, yang mengaku perwakilan kaum Muslim (di bawah tekanan Turki Muda) , ini sedang berusaha menggulingkan Sultan Abdul Hamid II dari kekuasaannya. Senator Syeikh Hamdi Afandi Mali bahkan mengeluarkan fatwa tentang penggulingan tersebut dan akhirnya disetujui oleh anggota senat yang lain.

Di antara bunyi fatwa Syeikh Hamdi adalah berikut;

“Jika pemimpin umat Islam mengambil kiat-kiat agama yang penting dari kitab-kitab hukum dan mengumpulkan kitab-kitab tersebut, memboroskan uang negara dan terlibat dengan perjanjian yang bertentangan dengan hukum Islam, membunuh, menangkap, membuang negeri dan rakyat tanpa alasan apapun, maka berjanjilah untuk tidak melakukannya lagi dan jika masih kelakukannya untuk menyakitkan kondisi umat Islam di seluruh dunia Islam maka pemimpin ini harus disingkirkan dari jabatannya. Jika penyingkirannya akan membawa kondisi yang lebih baik dari beliau terus kekal, maka ia memiliki pilihan apakah mengundurkan diri atau disingkirkan dari jabatan.”

Sebuah fatwa yang aneh ditujukan pada seorang Sultan yang memiliki reputasi dan akhlaq yang baik.

Menariknya, empat utusan parlemen; Emmanuel Carasso, seorang Yahudi warga Italia dan wakil rakyat Salonika (Thessaloniki) di Parlemen Utsmaniyyah, melangkah masuk ke istana Yildiz. Turut bersamanya adalah Aram Efendi, wakil rakyat Armenia, Laz Arif Hikmet Pasha, anggota Dewan Senat yang juga panglima militer Utsmaniyyah, serta Arnavut Esat Toptani, wakil rakyat daerah Daraj di Meclis-i Mebusan.

Mereka akhirnya mengkudeta Sultan. “Negara telah memecat Anda!”

“Negara telah memecatku, itu tidak masalah,… tapi kenapa kalian membawa serta Yahudi ini masuk ke tempatku? ” Spontan Sultan marah besar sambil menudingkan jarinya kepada Emmanuel Carasso.

Sultan kenal betul siapa Emmanuel Carasso itu. Dialah yang bersekongkol bersama Herzl ketika ingin mendapatkan izin menempatkan Yahudi di Palestina.

Tempat Yahudi yang kumuh

Malam itu, Sultan bersama para anggota keluarganya yang hanya mengenakan pakaian yang menempel di badan diangkut di tengah gelap gulita menuju ke Stasiun kereta api Sirkeci. Mereka digusur pergi meninggalkan bumi Khilafah, ke istana kumuh milik Yahudi di Salonika, tempat pengasingan negara sebelum seluruh khalifah dimusnahkan di tangan musuh Allah.

Khalifah terakhir umat Islam dan keluarganya itu dibuang ke Salonika, Yunani. Angin lesu bertiup bersama gerimis salju di malam itu. Pohon-pohon yang tinggal rangka, seakan turut sedih mengiringi tragedi memilukan itu.

Atas peristiwa ini, Sultan Abdul Hamid II mengungkap kegundahan hatinya yang dituangkan dalam surat kepada salah seorang gurunya Syeikh Mahmud Abu Shamad;

“…Saya meninggalkan kekhalifahan bukan karena suatu sebab tertentu, melainkan karena tipu daya dengan berbagai tekanan dan ancaman dari para tokoh organisasi yang dikenal dengan sebutan Cun Turk (Jeune Turk), sehingga dengan berat hati dan terpaksa saya meninggalkan kekhalifahan itu. Sebelumnya, organisasi ini telah mendesak saya berulang-ulang agar menyetujui dibentuknya sebuah negara nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. Saya tetap tidak menyetujui permohonan beruntun dan bertubi-tubi yang memalukan ini. Akhirnya mereka menjanjikan uang sebesar 150 juta pounsterling emas.

Saya tetap dengan tegas menolak tawaran itu. Saya menjawab dengan mengatakan, “Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu. Tiga puluh tahun lebih aku hidup mengabdi kepada kaum Muslimin dan kepada Islam itu sendiri. Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah Islam yang telah dirintis oleh nenek moyangku, para Sultan dan Khalifah Uthmaniah. Sekali lagi aku tidak akan menerima tawaran kalian.”

Setelah mendengar dan mengetahui sikap dari jawaban saya itu, mereka dengan kekuatan gerakan rahasianya memaksa saya menanggalkan kekhalifahan, dan mengancam akan mengasingkan saya di Salonika. Maka terpaksa saya menerima keputusan itu daripada menyetujui permintaan mereka.

Saya banyak bersyukur kepada Allah, karena saya menolak untuk mencoreng Daulah Uthmaniah, dan dunia Islam pada umumnya dengan noda abadi yang diakibatkan oleh berdirinya negeri Yahudi di tanah Palestina. Biarlah semua berlalu. Saya tidak bosan-bosan mengulang rasa syukur kepada Allah Ta’ala, yang telah menyelamatkan kita dari aib besar itu.

Saya rasa cukup di sini apa yang perlu saya sampaikan dan sudilah Anda dan segenap ikhwan menerima salam hormat saya. Guruku yang mulia. mungkin sudah terlalu banyak yang saya sampaikan. Harapan saya, semoga Anda beserta jama’ah yang anda bina bisa memaklumi semua itu.”

Dengan kerendahan hati, ia menyebut namanya dalam menutup surat yang dikirim pada 22 September 1909 itu dengan sebutan Abdul Hamid bin Abdul Majid, Pelayan Kaum Muslimin.

Setelah penyingkirannya, penulis-penulis Barat bersekongkol “menyerang” Sultan Abdul Hamid dan memberi legitimasi kudeta. Salah seorang dari mereka adalah John Haslib, dalam bukunya “The Red Sultan” (telah diterjemahkan ke beberapa bahasa termasuk bahasa Arab dan Turki), juga buku berbahasa Turki “iki mevrin perde arkasi – yazan: nafiz Tansu” oleh Ararat Yayinevi juga merupakan bagian dari propaganda seolah-olah ‘Turki Muda’ telah menyelamatkan Kekhalifahan Utsmaniyyah dari kehancuran. Ada juga penulis Arab-Kristen terkenal, Georgy Zaydan dalam bukunya, “Stories of the IslamicHistory- The Ottoman Revolution.”

Semua buku-buku ini adalah penipuan dan kedok yang ditulis para musuh Islam. Buku-buku ini menggambarkan, seolah-olah Sultan Abdul Hamid sebagai seorang yang tenggelam dalam kemewahan dunia dan identik dengan wanita dan minuman keras. Sultan yang sangat tegas pada Yahudi ini digambarkan sebagai sosok pemimpin pemerintah yang dzalim atas musuh-musuh politik dan rakyatnya. Tentu saja, penipuan-penipuan ini tak mungkin tertegak karena sosok Sultan yang akan selalu terbukti sepanjang sejarah.

Setelah Sultan Abdul Hamid, muncullah beberapa pemimpin yang lemah. Mereka tidak mampu memerintah dan hilang daya mereka dengan mudah. Seperti yang diperkirakan oleh Sultan Abdul Hamid, Perang Dunia (PD) Pertama meletus dan bumi pemerintah Utsmaniyyah. Orang-orang Arab melawan Khalifah di Hijaz dengan bantuan Inggris dan Prancis untuk ‘bebas’ di bawah ini penjajahan ‘penolong-penolong’ mereka. Bumi Islam Palestina akhirnya “diserahkan” kepada Yahudi.

‘Turki Muda’ mengambil-alih kekuasaan dan Mustafa Kamal Ataturk membubarkan resmi Khilafah Islam pada 1924. Pertama kalinya dalam sejarah umat Islam, kepemimpinan Islam yang bersatu sejak zaman Rasulullah SAW dan para Sahabat hilang. Perang Salib berakhir dengan kemenangan bagi Barat dan Yahudi.

Sultan Abdul Hami menghembuskan nafas terakhir dalam penjara Beylerbeyi pada 10 Februari 1918. Kepergiannya diratapi seluruh penduduk Istanbul. Mereka baru sadar karena kebodohan mereka membiarkan Khilafah Utsmaniyyah dilumpuhkan setelah pencopotan jabatan khilafahnya.

Akibat kesalahan fatal itu runtuhlah institusi yang menaungi kaum Muslim dan pada 1948 berdirilah negara ilegal pembantai kaum Muslim Palestina, bernama Israel.

Mulai saat ini, janganlah umat lupa sejarah penting ini. Jangan pula lupa sejarah lainnya. Perang Bosnia, Perang Chechnya, Perang Kashmir, Perang Moro, Perang Iraq juga Perang Afganistan. Umat harus mulai sadar bahwa tanpa Islam yang miliki kekuatan, Islam bukan apa-apa. Tanpa kesatuan umat dan jihad, Islam hanya akan dipermainkan dan terus dalam kehinaan.

Marilah kita semua berdoa, agar di antara kita bisa dilahirkan anak-anak yang kelak menjadi pemimpin sekelas Sultan Abdul Hamid yang rela berdiri di tengah keagungan seluruh ummah. Seperti sunnah alam, mentari mungkin telah terbenam sementara, dan Insya-Allah akan segara terbit kembali. Seperti itulah sunnah kepemimpinan. Suatu saat, Allah akan menghadirkan kembali kedatangan “Abdul Hamid II muda” lain dari rahim kita.*/ Nur Aminah~Rossem

sumber:
hidayatullah.com

Kajian Sejarah : Raja Offa dan Misteri Dinar Inggris

Oleh: Alwi Alatas

PADA tahun 2008, seorang warga Sidoarjo bernama Rohimin menemukan mata uang kuno Majapahit dalam jumlah yang sangat banyak, hingga mencapai sepuluh ribu keping lebih. Dalam beberapa berita surat kabar, staf Balai Peninggalan Purbakala Trowulan yang menangani temuan tersebut memastikan bahwa kepingan-kepingan itu merupakan mata uang resmi Kerajaan Majapahit. Disebutkan juga bahwa koin-koin yang ditemukan Rohimin itu berhurufkan China, sehingga ini menjadi bukti adanya hubungan dagang yang kuat antara Majapahit dan China. Namun anehnya, gambar mata uang yang ditampilkan pada berita-berita tersebut secara jelas tidak menampilkan huruf China. Gambar mata uang Gobog Majapahit yang ditampilkan justru menunjukkan tulisan bahasa Arab, yang tampaknya merupakan lafaz ’La ilaha illallah Muhammadur rasulullah.’

Temuan mata uang resmi Majapahit yang mengandung tulisan bahasa Arab ini menimbulkan spekulasi di sebagian kalangan tentang hubungan yang sesungguhnya antara Kerajaan Majapahit dan Islam. Kerajaan Majapahit yang selama ini dikenal sebagai Kerajaan Hindu-Budha kini mulai dianggap oleh sebagian pihak tadi sebagai Kerajaan Islam. Beberapa argumen dan penafsiran diajukan untuk mendukung pendapat tersebut. Di antara bukti menonjol yang diajukan adalah, tentu saja, temuan mata uang berbahasa Arab di atas. Apakah Kerajaan Majapahit sesungguhnya merupakan sebuah kerajaan Islam? Tentu kita tidak bisa tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan ini. Tapi beberapa bukti baru yang ada jelas menawarkan penjelasan dan penafsiran yang baru juga.

Pengaitan Islam dengan kerajaan non-Muslim masa lalu bukan hanya terjadi pada Kerajaan Majapahit saja. Salah satu raja Inggris juga pernah menyimpan teka-teki yang sama. Ia adalah Raja Offa (757-796).

Raja Offa dari Kerajaan Mercia

Offa merupakan seorang raja Anglo-Saxon yang memerintah Kerajaan Mercia selama hampir empat dekade, yaitu sejak tahun 757 hingga 796. Wilayah Inggris pada masa itu belum menyatu dalam satu kerajaan seperti yang kita kenal sekarang ini. Pada masa itu ada banyak kerajaan yang saling bersaing dan memperebutkan supremasi di wilayah tersebut. Namun, pada paruh kedua abad ke-8, di bawah kepemimpinan Offa Kerajaan Mercia dapat menaklukkan beberapa kerajaan di sekitarnya dan muncul sebagai kerajaan yang paling kuat dan menonjol di Inggris. Offa sendiri dianggap oleh banyak sejarawan sebagai salah satu raja Inggris (Anglo-Saxon) paling agung dan paling kuat sebelum Raja Alfred the Great yang memerintah antara tahun 871 dan 899 (Blair, 1990: 73; Travelyan, 1973: 85).

Offa memerintah Kerajaan Mercia pada masa yang hampir bersamaan dengan Raja Charlemagne yang memerintah Perancis dan beberapa wilayah Eropa lainnya sejak tahun 768 hingga tahun 814. Walaupun sempat mengalami ketegangan, hubungan di antara keduanya secara umum dapat dikatakan baik. Charlemagne sendiri menganggap Offa sebagai raja yang sederajat dengannya dan menyebutnya sebagai ’saudaranya yang terkasih’ (Blair, 1990: 73). Keduanya dianggap sebagai raja-raja terbesar pada masanya. Walaupun demikian, Charlemagne jauh lebih populer dan dikenal oleh sejarah dibandingkan Offa.

Terlepas dari peranannya yang besar dalam sejarah Inggris, catatan sejarah tentang Offa hanya sedikit yang sampai ke tangan para sejarawan modern. Tentang hal ini seorang sejarawan berkomentar, ”Kita merasa pasti bahwa Offa merupakan seorang tokoh yang sangat penting dalam perkembangan institusi-institusi Anglo-Saxon tanpa dapat mengetahui apa yang sesungguhnya telah ia lakukan.” Ia dianggap memainkan peranan penting dalam pengembangan pendidikan dan hukum di Inggris pada masa itu, tetapi seperti apa bentuk program pendidikan dan konsep hukumnya tidak lagi diketahui (Hollister et. al., 2001: 67-8). Tentu saja tidak semua kiprah Raja Offa terselubung oleh misteri. Sebagian peranannya masih terekam oleh sejarah, walaupun tidak sedetail yang diharapkan oleh orang-orang yang ingin mempelajari perjalanan hidupnya secara mendalam.

Di antara peninggalan penting Raja Offa yang masih dapat dilihat bekas-bekasnya pada masa sekarang ini adalah tanggul atau parit (dyke) yang sangat panjang dan besar. Beberapa penggalian dan penelitian menyarankan bahwa parit ini merupakan batas penghalang antara Inggris (England) dan Wales, yang memanjang dari laut ke laut. Parit ini dibangun sebagai benteng pertahanan terhadap serangan dari wilayah Wales ke wilayah Kerajaan Mercia (Blair, 1990: 74 & 76).

Parit yang dibangun Offa ini terbentang sejauh kurang lebih 150 mil (sekitar 240 km). Ini berarti kurang lebih setara dengan jarak dari Jakarta ke Cirebon. Parit ini memiliki kedalaman 6 kaki (hampir 2 meter). Pada beberapa bagian atas parit ini dibangun tembok batu. Untuk membangun parit ini setidaknya Offa memerlukan puluhan ribu pekerja yang menjalankan penggalian dan pembangunan selama beberapa tahun. Parit Offa (Offa’s Dyke) ini dianggap sebagai monumen paling mengesankan, untuk kategorinya, yang pernah dibangun oleh seorang raja Eropa (Hollister et. al., 2001: 68).

Dinar Raja Offa

Selain dalam pengembangan wilayah dan pertahanan wilayah, pemerintahan Offa juga memiliki peranan penting dalam perdagangan. Hubungan perdagangan antara Inggris dan Perancis pada masa itu sangat baik. Pemimpin kedua wilayah saling melindungi pedagang asing yang datang ke wilayahnya. Dalam salah satu suratnya kepada Offa, Charlemagne menjamin perlindungan terhadap para pedagang Inggris yang berniaga di wilayahnya. Dan sebaliknya, ia juga meminta Offa menjamin hal yang sama bagi para pedagang Perancis yang berniaga di wilayah Mercia (Hollister et. al., 2001: 67).

Peranan Offa yang menonjol di bidang ekonomi bukan hanya dalam hal memajukan perdagangan, tetapi juga dalam pencetakan uang. Koin Mercia yang dibuat pada masa pemerintahan Offa merupakan yang terbaik di Eropa pada masanya. Hingga tahun 600 Masehi, masyarakat Inggris tidak mencetak mata uang sendiri. Mereka menggunakan mata uang asing untuk menjalankan roda ekonominya. Pada abad ke-7 dan 8, raja-raja Inggris sebelum Offa mulai mencetak koin perak, tapi bentuknya masih kasar dan hanya digunakan secara terbatas atau bersifat lokal. Menjelang masa pemerintahan Offa, Kerajaan Perancis mampu mencetak koin-koin yang lebih baik dan sebagiannya digunakan di Inggris. Namun, pada masa pemerintahannya Offa mampu mencetak mata uang yang lebih baik. Koin-koin Offa kemudian diterima secara luas dalam perdagangan di Inggris dan di Eropa. Penyebaran koin Offa lebih luas dibandingkan dengan berbagai mata uang yang beredar di Eropa sejak masa Romawi (Blair, 1990: 77).

Koin-koin yang dibuat pada masa Offa terdiri dari koin emas dan perak. Hanya sedikit koin emas Offa yang masih ada sekarang ini. Di antara koin-koin emas tersebut, ada satu yang paling menarik perhatian. Koin tersebut pada salah satu sisinya berisi kalimat bahasa Arab ’Laa ilaaha illa Allah’ dan beberapa kalimat lainnya yang menggambarkan keyakinan seorang Muslim. Sementara pada sisi lainnya berisi tulisan latin ’Offa Rex.’

Menurut Syeikh Abdullah Quilliam, teks berbahasa Arab pada koin tersebut secara lengkapnya bermakna kurang lebih seperti berikut: ’Tidak ada tuhan selain Allah, Yang Esa, tanpa sekutu, dan Muhammad adalah utusan Allah.’ Dan pada sekeliling koin terdapat teks yang bermakna ’Muhammad adalah utusan Allah, (Dia) Yang mengutusnya (Muhammad) dengan ajaran dan keyakinan yang benar untuk dimenangkan atas seluruh agama.’ Koin ini tampaknya hingga saat ini disimpan di British Museum.

Dikeluarkannya koin dinar dengan teks semacam ini oleh seorang raja Eropa yang oleh sejarah dikenal sebagai seorang raja Kristen tentu saja menimbulkan tanda tanya dan spekulasi. Apakah Raja Offa telah memutuskan untuk menjadi seorang Muslim dan mendeklarasikan keyakinannya pada koin kerajaannya? Kalau Offa bukan seorang Muslim, lantas mengapa kalimat tersebut dicetak pada koin Mercia?

Fakta ini membuat sebagian orang meyakini bahwa Raja Offa telah meninggalkan keyakinan sebelumnya dan beralih menjadi seorang Muslim. Penulis pada sunnahonline.com, misalnya, menduga bahwa Offa telah masuk Islam dan karenanya dokumen yang terkait dengan dirinya telah dihilangkan oleh Gereja Inggris pada masa itu. Offa merupakan raja yang penting dan memiliki peran sangat besar, tapi data-data sejarah tentang dirinya sangat minim. Apakah dokumen sejarah yang terkait dengan Offa memang hilang tanpa sengaja seiring dengan perjalanan sejarah, atau dokumen-dokumen itu memang sengaja dihilangkan? Ide bahwa data-data sejarah tentang Offa telah dengan sengaja dihilangkan karena ia masuk Islam merupakan teori yang bertema konspirasi. Bagaimanpun, kemungkinan tersebut bukannya sama sekali mustahil.

Syeikh Abdullah Quilliam (1856-1932) juga pernah menulis tentang ini dan ia memberikan analisa yang lebih kritis. Abdullah Quilliam merupakan seorang warga Inggris dan memiliki nama asal William Henry Quilliam. Ia lahir pada keluarga sebuah keluarga kaya di Liverpool. Pada tahun 1887 ia masuk Islam setelah mengunjungi Maroko. Sejak itu ia aktif berdakwah di Inggris, antara lain melalui tulisan. Ia mendirikan masjid pertama di Inggris pada tahun 1889. Dalam salah satu tulisannya, ia membahas tentang Offa dan dinar emasnya.

Menurut Quilliam, sejak pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 para peneliti dan ahli numismatik Eropa telah menjadikan koin Offa ini sebagai obyek penelitian mereka. Mereka memberikan penafsiran yang berbeda tentang koin ini. Secara umum, kesimpulan mereka dapat dibagi dalam empat bagian:

Pertama, Offa telah masuk Islam dan dimasukkannya kalimat sahadat pada koin emas tersebut merupakan pernyataan keislamannya.

Kedua, Kalimat tersebut dicetak sebagai penghias koin tanpa diketahui maknanya oleh Offa.

Ketiga, Koin itu dicetak untuk para peziarah Kristen ke Yerusalem agar mata uang tersebut lebih mudah diterima di wilayah Muslim yang akan dilalui para peziarah.

Keempat, Koin itu tidak dicetak untuk umum, melainkan sebagai upeti yang dijanjikan oleh Offa kepada Paus setiap tahunnya.

Pendapat-pendapat di atas dikeluarkan oleh para ahli Eropa yang tidak menganut Islam. Walaupun demikian, Quilliam sendiri menolak pendapat yang pertama. Menurutnya, ketika itu Eropa, termasuk Inggris, bukan hanya tidak memahami Islam, tetapi juga memahami Islam secara salah. Kesalahpahaman ini bahkan masih terus berkembang hingga ke jaman modern. Islam dilihat oleh masyarakat Eropa sebagai representasi Anti-Christ. Jika Offa menjadi seorang penganut Islam, ia tidak hanya beresiko kehilangan kedudukannya, melainkan juga nyawanya sendiri.

Ada beberapa hal lainnya yang membuat keislaman Offa menjadi sulit untuk diterima. Kebanyakan koin Offa yang lainnya mengandung simbol salib yang jelas tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Selain itu Offa juga memiliki hubungan baik dengan Paus di Roma. Ia memberikan upeti kepada Paus sebesar 365 koin emas setiap tahunnya. Koin yang sedang kita bicarakan ini tampaknya juga merupakan bagian dari koin upeti tersebut. Rasanya tidak mungkin Offa menganut Islam dan menjalin hubungan baik dengan Paus pada waktu yang bersamaan.

Quilliam juga tidak menyetujui pendapat yang ketiga. Menurutnya, pada masa itu jumlah peziarah dari Inggris ke Yerusalem masih sangat terbatas. Jadi tidak ada alasan bagi Offa untuk mencetak secara khusus koin semacam ini. Pendapat yang lebih dapat diterima menurut Quilliam adalah pendapat kedua dan keempat. Ia berspekulasi bahwa ketika Offa menerima utusan Paus pada tahun 786 ia telah diminta untuk memberikan upeti tahunan kepada Paus. Mungkin ketika itu Offa bertanya kepada para utusan Paus tentang bentuk dan ukuran koin emas yang mesti ia serahkan kepada Roma, dan para utusan ini kemudian memberikan contoh sebuah koin emas yang kebetulan ada pada mereka, sebuah koin yang berisi kalimat bahasa Arab seperti di atas. Karena itu Offa menjadikan koin itu sebagai model bagi koinnya dan menambahkan namanya pada sisi lain koin tersebut.

Syeikh Abdullah Quilliam memberikan argumentasi yang cukup logis untuk mendukung pendapatnya, walaupun kisah yang dituturkan di atas hanya bersifat perkiraan saja. Bagaimanapun, diperlukan penelitian lebih jauh untuk menguatkan pendapat ini.

Jika koin itu merupakan tiruan dari dinar Islam yang ada pada masa itu, tentunya dapat dilacak peninggalan dinar pada masa lalu yang menjadi model bagi dinar Offa. Terlepas dari hal tersebut, berbagai interpretasi akan tetap terbuka terhadap koin itu. Selama data-data sejarah sangat minim dan terbatas, maka interpretasi sejarah akan semakin beragam.

Offa boleh jadi telah masuk Islam, tapi mungkin juga tidak. Agaknya kita tidak akan pernah mengetahuinya secara pasti. Namun yang jelas, lafaz syahadat tersebut telah menemukan jalannya untuk sampai ke sebuah kerajaan Kristen yang cukup penting di Eropa pada masa itu dan dicetak dalam koin emas kerajaan tersebut. Inskripsi tauhid yang terabadikan pada mata uang Muslim dan menjadi simbol penting sistem ekonomi Islam telah ikut terabadikan dalam perekonomian non Muslim, entah disadari atau tidak oleh mereka yang mencetaknya. Hal ini setidaknya menunjukkan besarnya pengaruh ekonomi dan sistem moneter Muslim pada masa lalu, terlebih jika melihat adanya mata uang-mata uang Eropa abad pertengahan lainnya yang juga berisi teks Arab, walaupun dengan lafaz yang berbeda.

Akankah konsep dan sistem ekonomi Islam yang berkembang sangat pesat pada waktu-waktu belakangan ini akan kembali dapat mengukirkan pengaruhnya dalam sistem ekonomi masyarakat non-Muslim dan masyarakat dunia secara umum? Waktulah yang akan menjawabnya.*/Kuala Lumpur, 23 Jumadil Awwal 1432/ 26 April 2011

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

Daftar Pustaka

Hollister, C. Warren, Robert C. Stacey & Robin Chapman Stacey. The Making of England to 1399. Boston: Houghton Mifflin Company. 2001.

Trevelyan, G.M. History of England, the illustrated edition. Harlow: Longman. 1973.

Blair, John. “The Anglo-Saxon Period (c.440-1066)” dalam Kenneth O. Morgan (ed.). The Oxford Illustrated History of Britain. Oxford: Oxford University Press. 1990.

Sheikh Abdullah Quilliam, writing as Professor H. M. Léon, “An Anglo-Saxon King Proclaims the Unity of Allah and that Muhammad is His Prophet,” 1916, dalam http://www.masud.co.uk/ISLAM/bmh/BMH-AQ-offa.htm
http://www.sunnahonline.com/ilm/seerah/0037.htm

hidayatullah.com

Sejarah Amerika Serikat


Peta wilayah Amerika Utara

Amerika Serikat terletak di tengah-tengah benua Amerika Utara, dibatasi oleh Kanada di sebelah utara dan Meksiko di sebelah selatan. Negara Amerika Serikat terbentang dari Samudera Atlantik di pesisir timur hingga Samudera Pasifik di pesisir barat, termasuk kepulauan Hawaii di lautan Pasifik, negara bagian Alaska di ujung utara benua Amerika, dan beberapa teritori lainnya.

Penetap pertama wilayah yang kini menjadi Amerika Serikat berasal dari Asia sekitar 15.000 tahun yang lalu. Mereka menyeberangi jembatan darat Bering ke Alaska.[1] Selanjutnya, penduduk asli Amerika bermukim di wilayah tersebut selama ribuan tahun. Pada tahun 1492, Christopher Columbus berhasil mencapai Amerika. Orang-orang Inggris lalu bermukim di Jamestown, Virginia pada tahun 1607. Permukiman ini dianggap sebagai permukiman pertama di Amerika Serikat. Selanjutnya, Amerika Serikat terus didatangi oleh orang-orang Inggris. Orang Perancis, Spanyol, dan Belanda juga bermukim di sebagian Amerika Serikat.[2] Perkembangan koloni-koloni Inggris berakhir tidak baik bagi penduduk asli Amerika, karena banyak dari mereka yang tewas akibat penyakit, dan mereka kehilangan negeri mereka.


Peta perubahan wilayah Amerika Serikat.

Amerika Serikat terbentuk dari 13 bekas koloni Inggris selepas Revolusi Amerika setelah deklarasi kemerdekaan pada tanggal 4 Juli 1776. Perang ini dimulai karena kolonis merasa diperlakukan tidak adil oleh Inggris.[3]

Setelah Revolusi, Amerika Serikat menghadapi banyak masalah, seperti perbudakan. Pada tahun 1800-an, AS memperoleh banyak wilayah dan mulai terindustralisasi. Dari tahun 1861 hingga 1865, Perang Saudara Amerika berkecamuk antara Utara dengan Selatan. Perang ini diakibatkan karena sengketa mengenai hak-hak negara bagian, perbudakan, dan masa depan Amerika Serikat. Beberapa negara bagian di Selatan meninggalkan Amerika Serikat dan mendirikan Konfederasi.

Utara memenangkan perang, dan negara-negara yang telah meninggalkan perserikatan kembali ke Amerika Serikat. Negara ini lalu melalui masa rekonstruksi. Pada akhir 1800-an, banyak orang Eropa datang ke Amerika Serikat dan bekerja di pabrik besar. Pada awal abad ke-20, AS menjadi kekuatan dunia. Ekonominya merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Negara ini juga terlibat dalam Perang Dunia I dan II.

Setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat terlibat dalam Perang Dingin dengan Uni Soviet. Selama Perang Dingin, pemerintah banyak menghabiskan dana untuk pertahanan. AS terlibat dalam Perang Korea dan Vietnam, dan juga mengirimkan Neil Armstrong dan orang-orang Amerika lain ke luar angkasa. Pada tahun 1991, Uni Soviet runtuh dan perang dingin berakhir. Timur Tengah menjadi penting bagi Amerika, terutama setelah Serangan 11 September 2001. Kini, Amerika Serikat merupakan negara adidaya, tetapi masih menghadapi beberapa masalah.

Pra-Columbus

Pra-Columbus adalah suatu istilah yang digunakan untuk merujuk kebudayaan di Amerika pada era sebelum masuknya pengaruh Eropa. Walaupun secara teknis merujuk pada zaman sebelum Christopher Columbus, pada praktiknya istilah ini juga mencakup budaya asli yang terus berkembang sampai ditaklukkan atau dipengaruhi oleh orang-orang Eropa, walaupun hal ini terjadi beberapa dasawarsa atau bahkan beberapa abad setelah pendaratan pertama Columbus pada tahun 1492.

Istilah ini terutama digunakan pada pembahasan mengenai kebudayaan asli Amerika, seperti Mesoamerika (Aztec dan Maya) serta Andes (Inca, Moceh, Chibcha, dll.)


Bangsa-bangsa asli yang menempati tanah Amerika sebelum kedatangan bangsa kulit putih.

Nenek moyang dari penduduk asli Amerika berasal dari Asia. Mereka menyeberangi jembatan darat Bering ke Alaska.

Masa Pra-Columbus adalah masa sebelum kedatangan Christopher Columbus ke Amerika tahun 1492. Pada masa itu, penduduk asli Amerika menetap di Amerika Serikat. Mereka memiliki budaya yang berbeda: penduduk asli di Amerika Serikat timur berburu; penduduk asli di Amerika Serikat barat laut menangkap ikan; penduduk asli di barat daya menanam jagung dan membangun rumah yang disebut pueblo; dan penduduk asli di Great Plains berburu bison.[4][5]

Zaman kolonial

Bangsa Inggris mencoba mendirikan permukiman di Pulau Roanoke tahun 1585, tetapi tidak berlangsung lama.[6] Pada tahun 1607, permukiman Inggris pertama yang dapat bertahan berdiri di Jamestown, Virginia. Permukiman ini didirikan oleh John Smith, John Rolfe, dan orang-orang Inggris lainnya yang tertarik dengan kekayaan dan petualangan. Koloni di Virginia hampir gagal bertahan karena penyakit dan kelaparan, tetapi berhasil karena penanaman tembakau.[7]


Kapal Mayflower membawa Pilgrim Fathers ke Amerika.

Pada tahun 1621, sekelompok orang Inggris yang dijuluki Pilgrim Fathers (orang yang melarikan diri karena berselisih faham dengan gereja) menetap di Plymouth, Massachusetts. Koloni yang lebih besar dibangun di Teluk Massachusetts oleh Puritan tahun 1630. Daripada menemukan emas, Pilgrims dan Puritan lebih tertarik untuk membuat masyarakat yang lebih baik, yang mereka juluki “kota di sebuah bukit.”[8] Roger Williams, yang ditendang keluar dari Massachusetts, mendirikan koloni di Rhode Island tahun 1636.

Inggris bukan hanya satu-satunya negara yang menetap di wilayah yang kini menjadi Amerika Serikat. Pada tahun 1500-an, Spanyol mendirikan benteng di Saint Augustine, Florida.[9] Perancis menetap di Kanada dan wilayah sekitar Danau-Danau Besar. Bangsa Belanda mendirikan koloni di New York, yang mereka sebut Nieuw Nederland. Wilayah-wilayah lain dimukimi oleh orang Skotlandia-Irlandia, Jerman, dan Swedia.[10]

Perkembangan koloni merupakan hal yang buruk bagi penduduk asli Amerika. Mereka kehilangan negeri mereka, dan banyak dari antara mereka yang meninggal akibat variola, penyakit yang dibawa bangsa Eropa ke Amerika.

Pada awal tahun 1700-an, muncul gerakan religius yang disebut Gerakan Kebangunan Rohani.[11] Gerakan Kebangunan merupakan salah satu peristiwa pertama dalam sejarah Amerika yang merupakan “pergerakan besar”, atau sesuatu yang melibatkan banyak orang Amerika. Gerakan Kebangunan Rohani, bersama dengan Penghukuman Penyihir Salem, merupakan tanggapan atas situasi Amerika saat itu, dan mungkin memengaruhi pemikiran yang digunakan dalam Revolusi Amerika.[12]

Pada tahun 1733, terdapat tiga belas koloni. Koloni-koloni ini biasanya dikelompokan menjadi New England (New Hampshire, Massachusetts, Rhode Island and Connecticut), koloni-koloni Tengah (New York, New Jersey, Pennsylvania, Delaware), dan Selatan (Maryland, Virginia, Carolina Utara, Carolina Selatan, dan Georgia). New England memiliki peternakan-peternakan kecil, dan lebih bertumpu pada perikanan, perkapalan, dan industri-industri kecil.[13] Koloni Selatan memiliki perkebunan tembakau dan kapas. Kebun-kebun ini awalnya digarap oleh pekerja yang bersedia bekerja beberapa tahun dengan upah pintu masuk ke Amerika dan tanah, lalu oleh budak. Koloni tengah memiliki peternakan berukuran kecil, dan dikenal memiliki budaya dan kepercayaan yang beragam.[14]

Ketigabelas koloni tersebut terikat dengan “ekonomi Atlantik”, yang melibatkan penggunaan kapal untuk perdagangan budak, tembakau, rum, gula, emas, rempah-rempah, ikan, kayu, dan barang hasil produksi, antara Amerika, Hindia Barat, Eropa, dan Afrika.[15][16] New York, Philadelphia, Boston, dan Charleston merupakan kota dan pelabuhan utama pada masa itu.[17]

Dari tahun 1754 hingga 1763, Inggris dan Perancis terlibat dalam perang yang disebut Perang Tujuh Tahun. Inggris berhasil memenangkan perang. Perancis menyerahkan koloninya di Kanada kepada Inggris, dan menyerahkan Louisiana ke Spanyol; Spanyol menyerahkan Florida ke Inggris. Selanjutnya, Inggris mengeluarkan Proklamasi 1763, yang menyatakan bahwa orang yang tinggal di tiga belas koloni tidak dapat menetap di sebelah barat Pegunungan Appalachia.[18]

Revolusi Amerika


Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat.

Setelah Perang Tujuh Tahun, kolonis mulai merasa mereka tidak memperoleh hak-hak mereka.[3] Selain akibat Proklamasi 1763, mereka merasa diperlakukan tak adil karena pajak yang dipungut oleh pemerintah Britania. Kolonis menyatakan “Tak ada pajak tanpa perwakilan”, yang berarti mereka meminta agar mereka memiliki suara di Parlemen Britania.[19] Pajak-pajak tersebut meliputi Sugar Act (1764), Stamp Act (1765), Townsend Duties (1767), dan Tea Act (1773). Pada tahun 1770, peristiwa Boston Tea Party terjadi. Kolonis-kolonis di Boston membuang ratusan kotak berisi teh dari kapal di Pelabuhan Boston, sebagai tanggapan terhadap Tea Act. [20] Tentara Britania lalu mengambil alih Boston, yang mengakibatkan pendirian Kongres Kontinental, terdiri dari pemimpin setiap 13 koloni. Tokoh-tokoh penting dalam kongres tersebut adalah Benjamin Franklin, John Adams, Thomas Jefferson, John Hancock, Roger Sherman, dan John Jay.

Pada tahun 1776, Thomas Paine menulis pamflet Common Sense, yang menyatakan bahwa koloni-koloni harus merdeka dari Britania. Pada 4 Juli 1776, ketigabelas koloni setuju terhadap Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat.[21] Kolonis-kolonis telah terlibat dalam pertempuran dengan Britania dalam Perang Revolusi Amerika. Perang dimulai pada tahun 1775 di Lexington dan Concord.[22] Meskipun tentara Amerika dibawah kepemimpinan George Washington banyak mengalami kekalahan, mereka memenangkan perang setelah kemenangan di Yorktown yang dibantu oleh Perancis. Traktat Paris ditandatangani, dan Britania menarik semua pasukannya dari Amerika Serikat.

Periode Federal (1781–1815)


Konstitusi Amerika Serikat

Pada tahun 1781, koloni-koloni mempersiapkan sebuah Uni melalui Articles of Confederation, akan tetapi hanya dapat berlangsung selama enam tahun. Sebagian besar kekuasaan diserahkan kepada negara-negara bagian, dan hanya sedikit kekuasaan yang dimiliki pemerintah pusat.[23]Selain itu, tidak terdapat presiden. Articles of Confederation juga tidak dapat menghentikan penduduk asli Amerika atau orang Britania di perbatasan, dan juga tak mampu menghentikan pemberontakan seperti Pemberontakan Shays’. Setelah pemberontakan Shays’, banyak orang merasa Articles of Confederation telah gagal.[24]

Konstitusi Amerika Serikat ditulis pada tahun 1787. Tokoh-tokoh yang membantu penulisan konstitusi, seperti Washington, James Madison, Alexander Hamilton, dan Gouverneur Morris, merupakan pemikir-pemikir utama Amerika pada masa itu. Beberapa tokoh akan memegang posisi penting dalam pemerintahan baru. Konstitusi ini mendirikan pemerintahan nasional yang lebih kuat dan memiliki tiga cabang: eksekutif (Presiden dan kabinetnya), legislatif (Dewan Perwakilan Rayat dan Senat), dan yudikatif (pengadilan federal).[25] Konstitusi ini diratifikasi oleh negara-negara bagian pada tahun 1788.


George Washington, presiden pertama Amerika Serikat.

Pada tahun 1789, Washington terpilih sebagai presiden pertama. Pada masa jabatannya, Pemberontakan Whiskey meletus. Petani-petani di pedesaan mencoba untuk menghentikan pengumpulan pajak terhadap whiskey. Pada tahun 1795, Kongres menyetujui Traktat Jay, yang membuka perdagangan dengan Britania.[26] Traktat ini dibuat dengan tujuan memperbaiki hubungan dengan Britania.[27] Thomas Jefferson dan James Madison sangat menentang traktat ini.[28]

Dalam pemilu tahun 1796, John Adams berhasil mengalahkan Thomas Jefferson. Pemilu ini merupakan pemilu antar dua partai politik pertama di Amerika Serikat.[29] Sebagai presiden, Adams membuat Angkatan Darat dan Laut Amerika Serikat menjadi lebih besar, tetapi juga mengeluarkan hukum untuk menutup koran yang menulis hal-hal jelek tentangnya.

Jefferson berhasil mengalahkan Adams pada pemilu tahun 1800. Salah satu hal penting yang dilakukannya sebagai presiden adalah membeli Louisiana dari Perancis pada tahun 1803.[30] Jefferson mengirim Lewis dan Clark untuk memetakan Pembelian Louisiana. Presiden Jefferson juga berusaha menghentikan perdagangan dengan Inggris dan Perancis, yang sedang terlibat dalam perang.[31] Perang meletus antara Amerika Serikat dan Inggris pada tahun 1812 ketika James Madison menjabat sebagai presiden. Perang ini disebut Perang 1812.

Ekspansi, industrialisasi, dan perbudakan (1815–1861)


Penetap menyeberangi Dataran Nebraska.

Salah satu masalah pada periode ini adalah perbudakan. Pada tahun 1861, lebih dari tiga juta orang Afrika-Amerika menjadi budak di Selatan.[32] Sebagian besar bekerja memetik kapas di perkebunan besar. Selatan ingin agar perbudakan tetap ada, sementara Utara berusaha mengakhirinya.

Setelah Perang 1812, Amerika mengalami “Era Perasaan Baik” dibawah Presiden James Madison dan James Monroe. Dibawah Monroe, kebijakan Amerika Serikat di Amerika Utara adalah Doktrin Monroe, yang menyatakan bahwa benua Amerika tidak boleh lagi dijajah oleh negara-negara Eropa.[33]] Pada masa ini pula, Kongres meminta “sistem Amerika”, yaitu dengan menghabiskan dana untuk perbankan, transportasi, dan komunikasi, agar kota-kota menjadi lebih besar dan pabrik-pabrik dibangun.[34] Salah satu proyek transportasi besar pada masa ini adalah Kanal Erie di New York. Pada tahun 1840-an, jalur kereta api juga dibangun. Ribuan mil jalur kereta dan telegraf telah dibangun di Amerika Serikat pada tahun 1860.[35]

Industri di Amerika Serikat juga berkembang. Banyak pabrik dibangun di kota-kota timur laut seperti Lowell, Massachusetts. Kebanyakan pabrik memproduksi pakaian. Sebagian besar pekerja di pabrik adalah perempuan, dan sebagian merupakan anak-anak dari Irlandia dan Jerman.[36][37] Meskipun mengalami industrialisasi, mata pencaharian sebagian besar penduduk Amerika pada saat itu adalah petani.[38]

Pada awal dan pertengahan tahun 1800-an, Gerakan Kebangunan Rohani Kedua dilancarkan. Gerakan ini dimulai di New York[39] Gerakan Kebangunan Rohani berkaitan erat dengan gerakan anti perbudakan di Amerika Serikat.[40]


Ilustrasi Pertempuran Veracruz, bagian dari Perang Meksiko-Amerika.

Andrew Jackson terpilih sebagai presiden pada tahun 1828. Sebagian besar pendukungnya merupakan orang miskin yang tidak pernah memilih sebelumnya, sehingga ia memberi mereka pekerjaan sebagai “hadiah”. Selain itu, ia juga menetapkan pajak impor tinggi yang tidak disukai oleh Selatan. [41] Wakil presiden Jackson, John C. Calhoun, yang berasal dari Selatan, menulis bahwa Selatan sebaiknya menghentikan kebijakan tersebut dan meninggalkan Amerika Serikat.[41]

Orang-orang mulai pindah ke sebelah barat Sungai Mississippi dan Pegunungan Rocky pada masa ini. Orang-orang pertama yang pindah ke Barat adalah orang yang menjual kulit binatang.[42][43] Pada tahun 1840-an, banyak orang pindah ke Oregon, dan semakin banyak orang yang pindah ke Barat setelah Demam Emas California tahun 1849.[44][45] Penduduk asli Amerika semakin terdesak oleh peristiwa seperti pengusiran (yang disebut Trail of Tears) dan Perang Black Hawk.[46]

Pada tahun 1845, Texas, yang telah meninggalkan Meksiko, bergabung dengan Amerika Serikat. Meksiko tidak menyukai hal ini, dan Amerika menginginkan wilayah Meksiko di Pantai Barat.[47] Akibatnya, Perang Meksiko-Amerika meletus. AS berhasil memenangkan perang ini, dan memperoleh wilayah California dan Amerika Serikat Barat Daya. Orang-orang di Utara tidak menyukai perang ini, karena mereka merasa perang ini hanya untuk keuntungan Selatan.[48]

Perang Saudara


Tentara Utara yang tewas di Gettysburg, Pennsylvania. Gambar diambil pada 5 atau 6 Juli 1863 oleh Timothy H. O’Sullivan.

Pada tahun 1840-an dan 1850-an, Utara dan Selatan kurang saling menyukai karena berbagai perbedaan, seperti:

* Ekonomi Utara berdasarkan pada industri, sedangkan Selatan berdasarkan agraris.
* Negara bagian Utara tidak memerlukan budak, sementara Selatan memerlukan budak.[49]Orang-orang di Selatan juga marah dengan buku-buku seperti Uncle Tom’s Cabin yang menyatakan bahwa perbudakan itu salah.
* Utara memiliki Partai Republik, sementara Selatan memiliki Partai Demokrat.
* Perbedaan pandangan mengenai kekuasaan pemerintahan federal.

Pejabat-pejabat pemerintahan berusaha membuat perjanjian untuk menghentikan perang. Akan tetapi, perjanjian-perjanjian ini tidak berhasil menghentikan perpecahan.[50] Orang-orang Utara dan Selatan mulai saling membunuh di Kansas karena masalah perbudakan. Peristiwa ini disebut “Kansas Berdarah”. Pada tahun 1859, John Brown mengambil alih sebuah kota di Virginia untuk menunjukan bahwa perbudakan itu salah dan ia mencoba mengajak budak-budak melawan pemiliknya.[51]


Union: biru (bebas), kuning (budak);Konfederasi: (coklat)
* wilayah dalam nuansa cahaya

Abraham Lincoln dari Partai Republik berhasil memenangkan pemilu pada tahun 1860. Setelah itu, sebelas negara bagian meninggalkan Amerika Serikat dan mendirikan Negara Konfederasi Amerika. Maka meletuslah Perang Saudara Amerika antara Utara dengan Selatan. Konfederasi memiliki jendral yang lebih cakap daripada utara, akan tetapi memiliki lebih sedikit jalur kereta dan hampir tidak mempunyai pabrik senjata.[52] Pada awal perang, jendral-jendral Konfederasi seperti Robert E. Lee dan Stonewall Jackson memenangkan pertempuran melawan jendral-jendral Utara seperti George B. McClellan dan Ambrose Burnside. Pada pertengahan perang, Lincoln mengumandangkan Proklamasi Emansipasi yang akan membebaskan semua budak di Konfederasi, dan memperbolehkan orang kulit hitam bertempur dalam angkatan bersenjata Utara. Alur perang mulai memihak pada Utara setelah pertempuran Gettysburg tahun 1863. Pada tahun 1865, jendral Ulysses S. Grant telah merebut ibukota Konfederasi di Richmond, Virginia, dan memaksa jendral Lee untuk menyerah.

Rekonstruksi dan Gilded Age


Andrew Johnson.

Lincoln terpilih kembali sebagai presiden pada tahun 1864. Akan tetapi, ketika menghadiri drama di Ford’s Theatre, Washington, D.C., ia ditembak oleh John Wilkes Booth. Lincoln menjadi presiden Amerika pertama yang tewas dibunuh.[53] Ia digantikan oleh Andrew Johnson.

Pada masa ini, amandemen ke-13, 14, dan 15 disetujui. Maka budak-budak dibebaskan dan menjadi warga negara. Mereka juga memiliki hak suara. Kongres pada masa itu dikuasai oleh “Republikan Radikal”, yang ingin menghukum Selatan setelah Perang Saudara.[54] Mereka tidak menyukai Johnson dan hampir menghentikan jabatannya.[54] Mereka juga mengirim banyak tentara ke Selatan dan memaksa Selatan menyetujui amandemen ke-14 dan 15. Selatan tidak menyukai hal ini, dan membuat hukum “Jim Crow” yang menempatkan orang kulit hitam dalam peran-peran yang rendah dan memaksa mereka bekerja sebagai petani miskin.[55] Orang Kulit Putih di Selatan juga mendirikan Ku Klux Klan yang menyerang orang kulit hitam.

Amerika Serikat didatangi oleh pendatang dari berbagai negara, seperti Irlandia, Italia, Jerman, Eropa Timur, dan Cina.[56] Sebagian besar dari mereka bekerja di pabrik-pabrik besar dan tinggal di kota besar, seperti New York City, Chicago, dan Boston. Mereka biasanya menghuni apartemen yang kecil, miskin, dan berdekatan.[57]Pendatang-pendatang ini seringkali digunakan sebagai “mesin politik”. Mereka diberi pekerjaan dan uang, dengan imbalan suara dalam pemilu.[57]

“Mesin-mesin politik” telah menguasai pemerintahan dalam dekade terakhir abad ke-19. Sebagian besar presiden terpilih karena mesin politik.[58] Pemilik bisnis besar seringkali memiliki kekuasaan yang lebih besar daripada pemerintahan.[58] Contohnya adalah John D. Rockefeller, Andrew Carnegie, dan J.P. Morgan.

Jalur kereta api transkontinental selesai dibangun pada tahun 1869. Jalur ini membantu kemudahan transportasi di Amerika Serikat. Chicago, tempat jalur-jalur bertemu, menjadi pusat perdagangan antara Barat dan Timur.[59]

Masa progresivisme dan imperialisme


“Sepuluh ribu mil, dari ujung ke ujung”, kartun politik yang menggambarkan kekuasaan Amerika Serikat pada tahun 1898.

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Amerika Serikat menjadi lebih aktif dalam urusan luar negeri. Pada tahun 1898, Amerika Serikat berperang melawan Spanyol. AS berhasil memenangkan perang, dan menguasai Puerto Riko, Guam, Guantanamo, dan Filipina.[60] Ditambah dengan pembelian Alaska dan pengambilalihan Hawaii, Amerika Serikat telah memperoleh seluruh wilayahnya hari ini, ditambah beberapa wilayah yang akan lepas setelah Perang Dunia II.[61]

Pada tahun 1901, Theodore Roosevelt menjadi presiden Amerika Serikat. Ia memiliki kebijakan luar negeri yang disebut “Big Stick”. Maksudnya ialah bahwa [AS] harus memiliki angkatan laut yang besar dan melakukan pengawasan terhadap Amerika Latin.[62][63] Antara tahun 1900 hingga 1930, Amerika Serikat beberapa kali mengirimkan tentara ke Amerika Latin. Ketika Theodore Roosevelt masih menjabat, penggalian Terusan Panama dimulai.

Woodrow Wilson terpilih sebagai presiden pada tahun 1912. Ia adalah seorang progresif, tetapi tidak sepenuhnya mirip Roosevelt.[64][65]

Perang Dunia I


Tentara Amerika selama Perang Dunia I.

Amerika Serikat awalnya tidak ingin terlibat dalam Perang Dunia I. Akan tetapi, karena:

* Ditenggelamkannya kapal RMS Lusitania oleh torpedo Jerman pada 7 Mei 1915
* Terungkapnya Telegram Zimmermann, pesan Jerman kepada Meksiko yang mengajak untuk bersama-sama menyerang AS

Amerika menyatakan perang terhadap Jerman pada 6 April 1917.[66] AS membantu Sekutu, dan perang berakhir setahun kemudian dengan kekalahan Blok Sentral. Seusai perang, Woodrow Wilson mencoba mendirikan Liga Bangsa-Bangsa, akan tetapi Amerika Serikat tidak bergabung karena kaum isolasionis di AS menolak traktat perjanjian.[67] Setelah Perang Dunia I, sebuah pandemi flu mewabah, dan menewaskan banyak orang di AS dan Eropa.[68] Selain itu, seusai Perang Dunia I, Amerika Serikat menjadi salah satu negara terkaya dan terkuat di dunia.[69]

Periode antar perang: 1919–1939

Pada tahun 1920-an, rasisme merebak. Ku Klux Klan semakin kuat dan mengincar orang kulit hitam, Katolik, Yahudi, dan imigran.[70] Orang-orang menuduh imigran dan pemimpin buruh (yang dituduh sebagai Bolshevik) bersalah atas perang dan masalah-masalah lain dalam sektor bisnis.[14][71]

1920-an merupakan era ledakan ekonomi dan kesejahteraan bagi Amerika Serikat. Pada masa ini, banyak orang Afrika-Amerika yang pindah dari Selatan ke kota-kota besar seperti New York City, Chicago, St. Louis, dan Los Angeles.[72] Mereka membawa musik jazz, sehingga tahun 1920-an dijuluki sebagai “Zaman Jazz”.


Franklin D. Roosevelt

Seusai Perang Dunia I, Amerika Serikat menetapkan kebijakan luar negeri yang isolasionis. Hukum dan traktat yang mengakhiri perang disetujui. AS juga menolak menjual senjata kepada mantan sekutunya.[73]

Warren G. Harding menjadi presiden pada tahun 1921. Ia meyakini bahwa jalan terbaik untuk memperbaiki ekonomi adalah bersahabat dengan bisnis-bisnis besar melalui pemotongan pajak dan pengurangan regulasi.[74] Performa ekonomi berlangsung dengan baik dibawah kebijakan ini. Akan tetapi, jurang antara yang kaya dan miskin semakin melebar.[75] Harding meninggal pada tahun 1923, dan Calvin Coolidge menggantikannya. Seperti Harding, Calvin Coolidge meyakini bahwa pemerintah tidak boleh campur tangan dalam urusan bisnis, sehingga ia meneruskan banyak kebijakan Harding.[76][77] Coolidge memutuskan untuk tidak menjadi kandidat dalam pemilu 1928 dan selanjutnya Herbert Hoover menjadi presiden.

Pada tahun 1929, Depresi Besar melanda Amerika Serikat. Bursa efek jatuh, dan banyak bank kehabisan uang dan ditutup.[78] Pada tahun 1932, lebih dari seperempat rakyat Amerika Serikat menjadi pengangguran.[79]

Herbert Hoover, yang menjadi presiden pada saat itu, mencoba menghentikan Depresi, tetapi gagal.[80] Pada tahun 1932, ia dikalahkan oleh Franklin D. Roosevelt dalam pemilu. Franklin D. Roosevelt melancarkan kebijakan New Deal, yaitu rangkaian program pemerintah yang memberikan bantuan, pemulihan, dan reformasi.[81] Contoh program pada New Deal adalah Social Security, Works Progress Administration (pembangunan jalan, sekolah, gedung pemerintahan dan karya seni), dan Civilian Conservation Corps (memberikan anak muda pekerjaan untuk membantu lingkungan). Program-program seperti ini mempekerjakan jutaan warga Amerika, meskipun dengan gaji yang kecil.[82][83] New Deal seringkali disebut sebagai periode yang “menyelamatkan kapitalisme” dan menghentikan Amerika menjadi negara komunis atau fasis.[84] Meskipun New Deal berhasil meningkatkan ekonomi, kebijakan ini tidak mengakhiri Depresi Besar. Depresi ini diakhiri oleh Perang Dunia II.[85]

Perang Dunia II


Pasukan Amerika Serikat melakukan invasi di Pantai Omaha.

Perang Dunia II meletus pada 1 September 1939, dan Amerika Serikat menyatakan mereka tidak ingin terlibat. Sebagian besar warga Amerika merasa AS sebaiknya tetap netral.

Jepang mengebom Pearl Harbor pada 7 Desember 1941.[86] Akibatnya, Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Blok Poros (Jerman, Jepang, dan Italia). Amerika Serikat terlibat dalam dua front, yaitu Front Pasifik melawan Jepang, dan Front Eropa dan Afrika melawan Jerman dan Italia.[87]

Pada 12 April 1945, Roosevelt meninggal dunia, dan digantikan oleh Harry Truman. Mussolini dieksekusi oleh partisan Italia pada 28 April.[88] Dua hari kemudian, Adolf Hitler bunuh diri.[89]Tentara Jerman menyerah di Italia pada 29 April dan di Eropa Barat pada 7 Mei.[90]

Pemimpin-pemimpin Sekutu bertemu di Potsdam, Jerman, pada 11 Juli. Mereka meminta agar Jepang menyerah tanpa syarat.[91] Jepang mengacuhkan seruan ini, sehingga AS menjatuhkan dua bom atom di Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945) untuk mengakhiri perang.[87] Enam hari setelah pengeboman, pada 15 Agustus, Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, menandatangani instrumen menyerah pada tanggal 2 September.

Perang Dingin


Tank Soviet berhadapan dengan tank AS di Checkpoint Charlie, pada 27 Oktober, selama Krisis Berlin 1961.

Setelah Perang Dunia II, Uni Soviet dan Amerika Serikat menjadi dua adidaya dunia. Perang Dingin merupakan periode ketegangan dan persaingan antara Soviet dan AS. Akan tetapi, tentara Amerika dan Soviet tidak pernah bertemu secara langsung dalam medan perang, namun bertempur secara tidak langsung, seperti dalam Perang Korea (1950-an) dan Perang Vietnam (1950-an-1970-an).[92][93] Kedua perang tersebut merupakan perang antara pemerintah Utara yang komunis (didukung oleh Soviet dan Republik Rakyat Cina), dan pemerintahan Selatan yang dibantu oleh AS. Perang Korea berakhir dengan pembagian Korea, sementara perang Vietnam dimenangkan oleh Vietnam Komunis setelah AS mundur dari Vietnam.[94] Selain itu, salah satu konflik penting pada masa ini adalah Krisis Rudal Kuba pada tahun 1962. Selama krisis ini, AS dan Uni Soviet berada pada posisi yang sangat dekat untuk saling menyerang dengan senjata nuklir.[95]


Buzz Aldrin berjalan di permukaan Bulan.

Pada masa Perang Dingin, pemerintah mencoba mencari orang yang diduga sebagai Komunis. Orang yang diduga komunis akan kehilangan pekerjaan, masuk penjara, atau bakan terbunuh.[96] Banyak aktor dan pengarang yang masuk ke daftar hitam.[97][14] Peristiwa ini disebut sebagai “Red Scare”.

Perlombaan senjata juga berlangsung antara Amerika Serikat dengan Soviet.[98] Amerika Serikat banyak menghabiskan dana untuk proyek-proyek pertahanan.[99] Selain perlombaan senjata, perlombaan luar angkasa juga berlangsung. Perlombaan ini dimulai ketika Soviet meluncurkan Sputnik pada tahun 1957.[100] Dalam beberapa tahun, baik AS maupun Soviet telah meluncurkan satelit, dan juga mengirimkan hewan dan manusia ke luar angkasa.[100] Pada tahun 1969, Apollo 11 berhasil mendaratkan Neil Armstrong dan Buzz Aldrin di Bulan.

Kebijakan luar negeri Amerika Serikat berubah pada tahun 1970-an ketika AS meninggalkan Vietnam dan Richard Nixon mengundurkan diri karena skandal Watergate.[14] Pada tahun 1970-an dan 1980-an, AS memiliki kebijakan “detente” (mengurangi ketegangan) dengan Uni Soviet.[101][102] Dibawah Nixon dan Reagan, Amerika Serikat mengirimkan tentara dan uang ke negara-negara Amerika Latin agar mereka tidak menjadi komunis.[63] Pada masa ini pula, ekonomi menderita karena AS tidak memproduksi barang sebanyak dahulu, dan karena beberapa negara di Timur Tengah melakukan embargo minyak.[103]

Perang Dingin berakhir dengan runtuhnya Soviet pada Desember 1991.[104]

Era setelah Perang Dingin


Serangan 11 September

Setelah berakhirnya Perang Dingin, Amerika Serikat menjadi “masyarakat post-industrial”.[105] AS juga mulai mengalami defisit perdagangan.[106] Timur Tengah menjadi penting dalam kebijakan luar negeri AS, karena Amerika memperoleh miliaran barel minyak dari Timur Tengah. Banyak negara di Timur Tengah tidak peduli dengan AS karena Amerika merupakan sekutu Israel.[107] Pada tahun 1991, Amerika Serikat terlibat dalam Perang Teluk untuk mengusir invasi Irak dari Kuwait.

Pada tahun 1992, Bill Clinton menjadi presiden. Ia mengirim tentara ke Bosnia yang sedang dilanda oleh perang etnis.[108] AS juga setuju dengan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).[109] Akan tetapi, masa kepresidenan Clinton dinodai oleh skandal seks dengan sekretarisnya yang bernama Monica Lewinsky.[110]

George W. Bush memenangkan pemilu pada tahun 2000. Pada masa jabatannya, Serangan 11 September terjadi. Akibat serangan tersebut, World Trade Center runtuh, dan ribuan warga Amerika tewas. Bush lalu menyetujui USA Patriot Act, yang memperbolehkan pemerintah untuk mengumpulkan informasi mengenai orang Amerika yang diduga sebagai teroris. AS dan NATO lalu pergi ke Afganistan untuk mencari Osama bin Laden dan orang lain yang merencanakan Serangan 11 September. Selanjutnya, AS menyerang Irak pada tahun 2003 karena Saddam Hussein diduga memiliki senjata pemusnah massal.[111] Pada tahun 2005, Amerika Serikat bagian selatan dilanda oleh badai besar yang disebut Badai Katrina. Partai Demokrat memenangkan kembali Kongres pada tahun 2006 karena warga Amerika tidak menyukai kebijakan Bush mengenai Perang Irak dan Katrina.[112]

Pada tahun 2008, Barack Obama terpilih sebagai presiden Afrika-Amerika pertama.[113] Ia terpilih pada masa resesi terburuk semenjak Depresi Besar. Pada awal jabatannya, Obama dan Kongres menyetujui reformasi terhadap perawatan kesehatan dan perbankan. Pemerintah juga memberikan stimulus untuk membantu ekonomi selama resesi.[114] Selama masa resesi, pemerintah menghabiskan banyak dana untuk menjaga industri perbankan dan otomotif dari kejatuhan. Selain krisis finansial, Obama juga harus menyelesaikan masalah kebocoran minyak Deepwater Horizon yang terjadi pada Juni 2010.

Catatan kaki

1. ^ Wilford, John Noble, “Evidence Supports Earlier Date for People in North America”, The New York Times, 4 April 2008.
2. ^ “Scots to Colonial North Carolina Before 1775”. School of Applied Arts of the University of Strathclyde. http://www.dalhousielodge.org/Thesis/scotstonc.htm. Diakses pada 27 Agustus 2010.
3. ^ a b Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 91. ISBN 0155656643.
4. ^ Pekka Hämäläinen (December, 2003). “The Rise and Fall of Plains Indians Horse Cultures”. The Journal of American History. American Historical Association, Organization of American Historians, University of Illinois Press, National Academy Press. http://www.historycooperative.org/journals/jah/90.3/hamalainen.html. Diakses pada 5 April 2010.
5. ^ Johnston, Robert D. (2002). The Making of America: The History of the United States from 1492 to the Present. National Geographic. hlm. 13. ISBN 0792269446.
6. ^ Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 18. ISBN 0155656643.
7. ^ Davis, Kenneth C. (2002). Don’t Know Much About American History. HarperCollins. ISBN 0060840560.
8. ^ Owen Collins, ed (1999). Speeches That Changed the World. John Knox Press. hlm. 63-65. ISBN 0664221491.
9. ^ “National Historic Landmarks Program – St. Augustine Town Plan Historic District”. National Historic Landmarks Program. http://tps.cr.nps.gov/nhl/detail.cfm?ResourceId=1028&ResourceType=District. Diakses pada 29 Agustus 2010.
10. ^ “Colonial North America”. Internet Modern History Sourcebook. http://www.fordham.edu/halsall/mod/modsbook07.html. Diakses pada 29 Agustus 2010.
11. ^ Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 72-74. ISBN 0155656643.
12. ^ Bailyn, Bernard (1992). The Ideological Origins of the American Revolution. Harvard University Press. hlm. 249,273-4, 299-300. ISBN 0674443012.
13. ^ Morison, Samuel Eliot (1972). The Oxford History of the American People. New York City: Mentor. hlm. 199–200. ISBN 0451-62600-1.
14. ^ a b c d Kennedy, David (2006). The American Pageant (edisi ke-13th). Boston: Houghton Mifflin. ISBN 061847906.
15. ^ “About.com: The Trans-Atlantic Slave Trade”. http://africanhistory.about.com/library/weekly/aa080601a.htm. Diakses pada 29 Agustus 2010.
16. ^ Kurlansky, Mark. Cod: A Biography of the Fish That Changed the World. New York: Walker. ISBN 0-8027-1326-2.
17. ^ U.S. Census Bureau. “Earliest Population Figures for American Cities”. http://www.census.gov/population/www/documentation/twps0027/tab02.txt. Diakses pada 29 Agustus 2010.
18. ^ Calloway, Colin (2006). The Scratch of a Pen. Oxford University Press. ISBN 0-19-530071-8.
19. ^ Miller, John C. (1943). Origins of the American Revolution. Little, Brown & Co.. hlm. 31, 99, 104.
20. ^ Alexander, John K. (2002). Samuel Adams:America’s Revolutionary Politician. Rowman & Littlefield. ISBN 074252115X. Labaree, Benjamin W. (1964). The Boston Tea Party. Northeastern University Press. hlm. 141-144. ISBN 0930350057.
21. ^ “United States Declaration of Independence”. Wikisource. http://en.wikisource.org/wiki/United_States_Declaration_of_Independence. Diakses pada 14 Agustus 2010.
22. ^ French, Allen (1925). The Day of Concord and Lexington. Little, Brown & Co. hlm. 2, 272-273. http://books.google.com/books?id=LdorAAAAIAAJ&pg=PR3#v=onepage&q=&f=false. Diakses pada 29 Agustus 2010.
23. ^ “Articles of Confederation”. Wikisource. http://en.wikisource.org/wiki/Articles_of_Confederation. Diakses pada 14 Agustus 2010.
24. ^ Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 131. ISBN 0155656643.
25. ^ “Constitution of the United States of America”. Wikisource. http://en.wikisource.org/wiki/Constitution_of_the_United_States. Diakses pada 15 Agustus 2010.
26. ^ Cole, Wayne S. (1968). An Interpretive History of American Foreign Relations. hlm. 55. ISBN 0256014132.
27. ^ Jean Edward Smith, John Marshall: Definer of a Nation (1998) hal. 177
28. ^ Chambers, 80.
29. ^ “From One to Two Political Parties. Cobblestone Publishing. 1 November 1988. pp. 6-9.
30. ^ “Table 1.1 Acquisition of the Public Domain 1781-1867”. http://www.blm.gov/natacq/pls02/pls1-1_02.pdf. Diakses pada 29 Agustus 2010.
31. ^ Tucker, Spencer (2006). Injured Honor: The Chesapeake-Leopard Affair. Naval Institute Press. ISBN 1557508240.
32. ^ “Recapitulation of the Tables of Population, Nativity, and Occupation”. http://www2.census.gov/prod2/decennial/documents/1860a-15.pdf. Diakses pada 15 Agustus 2010.
33. ^ James Monroe di QuickFacts.
34. ^ Foner, Eric (2006). Give Me Liberty!: An American history. 1 (edisi ke-1st). New York: W.W. Norton. hlm. 311. ISBN 0393927822.
35. ^ United States Census Bureau. “Report on Transportation Business in the United States at the Eleventh Census 1890”. p. 4.
36. ^ Robinson, Harriet (1883). “Early Factory Labor in New England”. Internet History Sourcebooks Project. http://www.fordham.edu/halsall/mod/robinson-lowell.html. Diakses pada 19 Agustus 2010.
37. ^ Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 310-311. ISBN 0155656643.
38. ^ “Population: 1790 to 1990”. United States Census Bureau. http://www.census.gov/population/censusdata/table-4.pdf. Diakses pada 19 Agustus 2010.
39. ^ Foner, Eric (2006). Give Me Liberty!: An American history. 1 (edisi ke-1st). New York: W.W. Norton. hlm. 293. ISBN 0393927822.
40. ^ Thomas Van den End. Harta Dalam Bejana. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1990.
41. ^ a b Stampp, Kenneth (1991). The Causes of the Civil War (edisi ke-3rd). Touchstone.
42. ^ Scaliger, Charles (January 8, 2010). “John Colter: The First Mountain Man”. The New American. http://www.thenewamerican.com/index.php/history/american/2706-the-first-mountain-man. Diakses pada 25 Juni 2010.
43. ^ Caesar, Gene (1961). King Of The Mountain Men. E.P. Dutton Co,, Inc. http://www.archive.org/stream/kingofthemountai000029mbp#page/n0/mode/2up. Diakses pada 30 Agustus 2010.
44. ^ Foner, Eric (2006). Give Me Liberty!: An American history. 1 (edisi ke-1st). New York: W.W. Norton. hlm. 407. ISBN 0393927822.
45. ^ “California Gold Rush, 1848-1864”. Learn California.org, a site designed for the California Secretary of State. http://www.learncalifornia.org/doc.asp?id=118. Diakses pada 22 Juli 2008.
46. ^ Len Green. “Choctaw Removal was really a “Trail of Tears””. University of Minnesota. http://www.tc.umn.edu/~mboucher/mikebouchweb/choctaw/trtears.htm. Diakses pada 28 April 2008.
47. ^ Rives, George Lockhart. The United States and Mexico. 2. hlm. 658. http://books.google.com/books?id=vfhAAAAAIAAJ&pg=PA658. Diakses pada 30 Agustus 2010.
48. ^ Fuller, John D. P. (1936). The Movement for the Acquisition of All Mexico, 1846-1848. http://books.google.com/books?id=Y0JnAAAAMAAJ. Diakses pada 30 Agustus 2010.
49. ^ Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 296. ISBN 0155656643.
50. ^ Foner, Eric (2006). Give Me Liberty!: An American history. 1 (edisi ke-1st). hlm. 411-414. ISBN 0393927822.
51. ^ McPherson, James M. (1998). Battle Cry of Freedom: The Civil War era. Ballantine Books. hlm. 205. ISBN 0345359429.
52. ^ Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 362. ISBN 0155656643.
53. ^ Swanson, James (2006). Manhunt: The 12-Day Chase for Lincoln’s Killer. Harper Collins. ISBN 9780060518493.
54. ^ a b Trefousse, Hans L. (2001). Thaddeus Stevens:Nineteenth-Century Egalitarian. Stackpole Books. ISBN 0811729451.
55. ^ Woodward, C. Vann (2001). The Strange Career of Jim Crow. Oxford University Press. ISBN 0195146905.
56. ^ “Old fears over new faces”, The Seattle Times, 21 September 2006. Diakses pada 30 Agustus 2010}}
57. ^ a b Schlesinger, Sr., Arthur (1933). The Rise of the City, 1879-1898.
58. ^ a b Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 498-503. ISBN 0155656643.
59. ^ Cronon, William (1991). Nature’s Metropolis. Norton. ISBN 0393308731.
60. ^ Gould, Lewis (1980). The Spanish-American War and President McKinley. University Press of Kansas. ISBN 9780700602278.
61. ^ Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 566. ISBN 0155656643.
62. ^ Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 567-569. ISBN 0155656643.
63. ^ a b Chasteen, John Charles (2005). Born in Blood and Fire. W.W. Norton. ISBN 0393937695.
64. ^ Link, Arthur Stanley (1972). Woodrow Wilson and the Progressive Era, 1910-1917. Harpercollins. ISBN 006133023X.
65. ^ Cooper, John (1983). The Warrior and the Priest. Belknap Press. ISBN 0674947509.
66. ^ Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 595. ISBN 0155656643.
67. ^ Clements, Kendrick A. (1992). The Presidency of Woodrow Wilson. University Press of Kansas. ISBN 0-7006-0524-X.
68. ^ Patterson, KD (Spring 1991). “The geography and mortality of the 1918 influenza pandemic”. Bull Hist Med. 65 (1): 4–21.
69. ^ Sunday, Julie. “Globalization and Autonomy”. McMaster University. http://www.globalautonomy.ca/global1/glossary_entry.jsp?id=EV.0003. Diakses pada 31 Agustus 2010.
70. ^ “The Various Shady Lives of the Ku Klux Klan”. Time. 1 April 1965. http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,898581,00.html. Diakses pada 24 Agustus 2010.
71. ^ Murray, Robert K. (1955). Red Scare: A Study in National Hysteria, 1919-1920. Minneapolis: University of Minnesota Press. ISBN 0313226733.
72. ^ Hahn, Steven (2003). A Nation Under Our Feet. Belknap Press. ISBN 067401765X.
73. ^ Adler, Selig (1957). The Isolationist Impulse: Its Twentieth Century Reaction. New York: The Free Press.
74. ^ Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 622. ISBN 0155656643.
75. ^ Sicilia, David. “Business”. Companion to Twentieth-Century America. Ed. Stephen Whitfield. Oxford:Blackfield, 2004
76. ^ Coolidge, Calvin (January 17, 1925). “The Press Under a Free Government”. Address before the American Society of Newspaper Editors Washington, D.C. Calvin Coolidge Memorial Foundation. http://www.calvin-coolidge.org/html/the_press_under_a_free_governm.html. Diakses pada 10 November 2009.
77. ^ Fuess, Claude M. (1940). Calvin Coolidge: The Man from Vermont. Little, Brown. hlm. 320. ISBN 9780700608928.
78. ^ “About the Great Depression”. http://www.english.illinois.edu/maps/depression/about.htm. Diakses pada 24 Agustus 2010.
79. ^ Frank, Robert H.; Bernanke, Ben S. (2007). Principles of Macroeconomics (edisi ke-3rd). Boston: McGraw-Hill/Irwin. hlm. 98. ISBN 0073193976.
80. ^ Ohanian, Lee (August 2009). http://www.universityofcalifornia.edu/news/article/21795. Diakses pada 31 Agustus 2010.
81. ^ Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 674-676.
82. ^ “Work(s) Progress Administration Collection”. http://www.colorado.gov/dpa/doit/archives/INCLUDES/top.htm. Diakses pada 25 Agustus 2010.
83. ^ Howard, Donald S. (1943). The WPA and Federal Relief Policy. Russell Sage Foundation.
84. ^ McElvaine (1985). The Great Depression. Three Rivers Press. ISBN 0812963431.
85. ^ Smiley, Gene (2002). Rethinking the Great Depression. Chicago: Ivan R. Dee. ISBN 9781566634724.
86. ^ Stewart, Lt. Cmdr. A.J. (1974). Those Mysterious Midgets. United States Naval Institute Proceedings. hlm. 56.
87. ^ a b Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 677-679.
88. ^ O’Reilly, Charles T (2001). Forgotten Battles: Italy’s War of Liberation, 1943–1945. Lexington Books. hlm. 244. ISBN 0739101951.
89. ^ Kershaw 2001, hal. 823
90. ^ Donnelly, Mark (1999). Britain in the Second World War. Routledge. hlm. xiv. ISBN 0415174252.
91. ^ Miscamble, Wilson D (2007). From Roosevelt to Truman: Potsdam, Hiroshima, and the Cold War. Cambridge University Press. hlm. 201. ISBN 0521862442.
92. ^ Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 771. ISBN 0155656643.
93. ^ Hermes, Jr., Walter (2002) [1966]. Truce Tent and Fighting Front. United States Army in the Korean War. United States Army Center of Military History. hlm. 2, 6–9. http://www.history.army.mil/books/korea/truce/fm.htm. Diakses pada 31 Agustus 2010.
94. ^ Andrew, John (2001). “Pro-War and Anti-Draft: Young Americans for Freedom and the War in Vietnam”. di dalam Marc Jason, Gilbert. The Vietnam War on Campus. Westport, Conn.: Praeger. hlm. 1-2.
95. ^ Marfleet, B. Gregory. “The Operational Code of John F. Kennedy During the Cuban Missile Crisis: A Comparison of Public and Private Rhetoric”. Political Psychology 21 (3): 545.
96. ^ Associated Press. “[://www.usatoday.com/news/nation/2003-06-17-rosenbergs_x.htm Fifty years later, Rosenberg execution is still fresh]”, 17 Juni 2003. Diakses pada 26 Agustus 2010.
97. ^ Schwartz, Richard A. (1999). “How the Film and Television Blacklists Worked”. Florida International University. http://comptalk.fiu.edu/blacklist.htm. Diakses pada 3 Maret 2010.
98. ^ Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 771-772. ISBN 0155656643.
99. ^ Pursell, Carroll W. (1972). The Military-Industrial Complex. New York: Harper and Row. ISBN 006045296X.
100. ^ a b Burrows, William E. (1998). This New Ocean: The Story of the First Space Age. New York: Random House. ISBN 9780679445210.
101. ^ “Détente and the Nixon Doctrine – Cambridge University Press”. Cambridge.org. http://www.cambridge.org/catalogue/catalogue.asp?ISBN=9780521338349. Diakses pada 31 Januari 2010.
102. ^ Suri, Jeremi (2003). Power and Protest: Global Revolution and the Rise of Détente. Harvard University Press. ISBN 0674010310.
103. ^ Blum, John M. (1985). The National Experience: A History of the United States (edisi ke-6th). Harcourt Brace Jovanovich. hlm. 771. ISBN 0155656643.
104. ^ Gaddis, John Lewis (1997). We Now Know: Rethinking Cold War History. Oxford University Press. ISBN 0198780702.
105. ^ Boeckelman, Keith. “The American States in the Postindustrial Economy”. The State and Local Government Review. http://www.jstor.org/stable/4355128?&Search=yes&term=Postindustrial&term=Economy&term=American&term=States&list=hide&searchUri=%2Faction%2FdoBasicSearch%3FQuery%3DThe%2BAmerican%2BStates%2Bin%2Bthe%2BPostindustrial%2BEconomy%26wc%3Don&item=3&ttl=3490&returnArticleService=showFullText. Diakses pada 31 Agustus 2010.
106. ^ Bivens, L. Josh (2004). Debt and the Dollar. Economic Policy Institute. http://www.epinet.org/Issuebriefs/203/ib203.pdf. Diakses pada 7 Juli 2007.
107. ^ Rugh, W.A. (2005). American Encounters with Arabs: The Soft Power of U.S. Public Diplomacy in the Middle East. Praeger Publishers. ISBN 9780275988173.
108. ^ “Clinton Foundation News and Media”. http://www.clintonfoundation.org/news/news-media/index.php?page=38. Diakses pada 31 Agustus 2010.
109. ^ Barth, James. “The Repeal of Glass–Steagall and the Advent of Broad Banking” (PDF). http://www.occ.treas.gov/ftp/workpaper/wp2000-5.pdf. Diakses pada 31 Agustus 2010.
110. ^ “William J. Clinton”. whitehouse.gov. http://www.whitehouse.gov/about/presidents/williamjclinton/. Diakses pada 31 Agustus 2010.
111. ^ “Renewel in Iraq”. http://georgewbush-whitehouse.archives.gov/infocus/iraq/. Diakses pada 28 Agustus 2010.
112. ^ “Bush Roper Poll”. http://137.99.36.203/CFIDE/roper/presidential/webroot/presidential_rating_detail.cfm?allRate=True&presidentName=Bush.
113. ^ “BBC NEWS | World | Americas | US Elections 2008 | Obama wins historic US election”, BBC News, 5 November 2008. Diakses pada 5 November 2008.
114. ^ Censky, Annalyn, “Obama on new law: ‘No more taxpayer bailouts'”, CNN, 21 Juli 2010. Diakses pada 07-22-2010.

Bacaan lanjutan

* Agnew, Jean-Christophe, and Roy Rosenzweig, eds. A Companion to Post-1945 America (2006)
* Anderson, Fred, ed. The Oxford Companion to American Military History (2000)
* Barney, William. A Companion to 19th-Century America (2006)
* Bender, Thomas. A Nation Among Nations : America’s place in world history, New York : Hill and Wang, 2006. ISBN 978-0-8090-9527-8
* Carnes, Mark C., and John A. Garraty, The American Nation: A History of the United States: AP Edition (2008); university textbook
* Diner, Hasia, ed. Encyclopedia of American Women’s History (2010)
* Foner, Eric. Give Me Liberty! An American History (2nd ed. 2008), university textbook
* Gilbert, Martin. The Routledge Atlas of American History (2010)
* Hornsby Jr., Alton. A Companion to African American History (2008) excerpt and text search
* Kennedy, David M., Lizabeth Cohen, and Thomas Bailey. The American Pageant (2 vol 2008), university textbook study guide
* Lancaster, Bruce, Bruce Catton, and Thomas Fleming. The American Heritage History of the American Revolution (2004)
* Milner, Clyde A., Carol A. O’Connor, and Martha A. Sandweiss, eds. The Oxford History of the American West (1996) excerpt and text search
* Perry, Elisabeth Israels, and Karen Manners Smith, eds. The Gilded Age & Progressive Era: A Student Companion (2006)
* Pole, Jack P. and J.R. Pole. A Companion to the American Revolution (2003) excerpt and text search
* Resch, John, ed. Americans at War: Society, Culture, and the Homefront (4 vol 2004)
* Schweikart, Larry, and Michael Allen. A Patriot’s History of the United States: From Columbus’s Great Discovery to the War on Terror (2007), view from the right excerpt and text search
* Tindall, George Brown, and David E. Shi. America: A Narrative History (8th ed. 2009), university textbook
* Vickers, Daniel, ed. A Companion to Colonial America (2006)
* Zinn, Howard. A People’s History of the United States: 1492 to Present (2005), view from the left excerpt and text search
* Zophy, Angela Howard, ed. Handbook of American Women’s History. (2nd ed. 2000). 763 pp. articles by experts

sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Amerika_Serikat
http://id.wikipedia.org/wiki/Pra-Columbus
http://en.wikipedia.org/wiki/Timeline_of_United_States_history
http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_United_States
http://news.bbc.co.uk/2/hi/americas/country_profiles/1217752.stm
http://news.bbc.co.uk/2/hi/americas/country_profiles/1230058.stm

AMERIKA SERIKAT : Metamorfosis dari ’13 Koloni Inggris’ di Amerika Utara menjadi ‘Negara Adidaya’ di Dunia

(1) Koloni Inggris di Amerika Utara (1763-1776)

(2) Wilayah Amerika Serikat (1783-1803)

(3) Pengorganisasian Daerah di Amerika Serikat ( I:1803-1810, II:1810-1835, III: 1835-1855, IV: sejak 1855 )

(4) Pembentukan Negara bagian AS dan Tahun Perolehan Wilayah Teritorialnya

(5) Negara bagian di Amerika Serikat

Pada saat Deklarasi Kemerdekaan (Declaration of Independence) tanggal 4 Juli 1776, Amerika Serikat hanya mempunyai 13 negara bagian. Jumlahnya kemudian terus bertambah dari tahun ke tahun karena terjadi perluasan wilayah ke arah barat, penjajahan dan pembelian tanah yang dilakukan pemerintah AS, serta pemecahan negera-negera bagian yang ada hingga mencapai 50.

Sebuah negara bagian Amerika Serikat adalah satu dari limapuluh negara-negara bagian (empat di antaranya secara resmi menyebut dirinya persemakmuran) yang, bersama dengan District of Columbia dan Atol Palmyra (sebuah daerah yang tidak dihuni), membentuk Amerika Serikat.

Berikut adalah daftar negara-negara bagian Amerika Serikat saat ini (disertai Ibukota dan tanggal pembentukannya) :

* Alabama (AL) : Montgomery (14 Des 1819)
* Alaska (AK) : Juneau (3 Jan1959)
* Arizona (AZ) : Phoenix (14 Feb 1912)
* Arkansas (AR) : Little Rock (15 Jun 1836)
* California (CA) :Sacramento (9 Sep 1850)
* Colorado (CO) : Denver (1 Agu 1876)
* Connecticut (CT) : Hartford (9 Jan 1788)
* Delaware (DE) : Dover (7 Des 1787)
* Florida (FL) : Tallahassee (3 Mar1845)
* Georgia (GA) : Atlanta (2 Jan1788)
* Hawaii (HI) : Honolulu (21 Agu 1959)
* Idaho (ID) : Boise (3 Juli 1890)
* Illinois (IL) : Springfield (3 Des 1818)
* Indiana (IN) : Indianapolis (11 Des 1816
* Iowa (IA) : Des Moines (28 Des 1846)
* Kansas (KS) : Topeka (29 Jan 1861)
* Kentucky* (KY) : Frankfort (1 Jun 1792)
* Louisiana (LA) : Baton Rouge (30 Apr 1812)
* Maine (ME) : Augusta (15 Mar 1820)
* Maryland (MD) : Annapolis (28 Apr 1788)
* Massachusetts* (MA) : Boston (6 Feb 1788)
* Michigan (MI) : Lansing (26 Jan 1837)
* Minnesota (MN) : Saint Paul (11 Mei 1858)
* Mississippi (MS) : Jackson (10 Des 1817)
* Missouri (MO) : Jefferson City (10 Agu 1821)
* Montana (MT) : Helena (8 Nov 1889)
* Nebraska (NE) : Lincoln (1 Mar 1867)
* Nevada (NV) : Carson City (31 Okt 1864)
* New Hampshire (NH) : Concord (21 Jun 1788)
* New Jersey (NJ) : Trenton (18 Des 1787)
* New Mexico (NM) : Santa Fe ( 191201066 Jan 1912)
* New York (NY) : Albany (26 Jul 1788)
* North Carolina (NC) : Raleigh (21 Nov 1789)
* North Dakota (ND) : Bismarck (2 Nov 1889)
* Ohio (OH) : Columbus (1 Mar 1803)
* Oklahoma (OK) : Oklahoma City (16 Nov 1907)
* Oregon (OR) : Salem (14 Feb 1859)
* Pennsylvania* (PA) : Harrisburg (12 Des 1787)
* Rhode Island* (RI) : Providence (29 Mei 1790)
* South Carolina (SC) : Columbia (23 Mei 1788)
* South Dakota (SD) : Pierre (2 Nov 1889)
* Tennessee (TN) : Nashville (1 Jun 1796)
* Texas (TX) : Austin (29 Des 1845)
* Utah (UT) : Salt Lake City (4 Jan 1896)
* Vermont (VT) : Montpelier (4 Mar 1791)
* Virginia* (VA) : Richmond (25 Jun 1788)
* Washington (WA) : Olympia (11 Nov 1889)
* West Virginia (WV) : Charleston (20 Jun 1863)
* Wisconsin (WI) : Madison (29 Mei 1848)
* Wyoming (WY) : Cheyenne (10 Jul 1890)
—————————————
* Kentucky, Massachusetts, Pennsylvania, dan Virginia berstatus Persemakmuran, bukan negara bagian.
* Nama resmi Rhode Island adalah “Negara bagian Rhode Island dan Perkebunan Providence”

* Wilayah khusus:

Selain 50 negara bagian tersebut, Amerika Serikat juga memiliki daerah khusus dan wilayah-wilayah lain:
* AS – Samoa Amerika
* DC – Washington, DC, pusat pemerintahan Amerika Serikat
* GU – Guam
* MP – Kepulauan Mariana Utara
* PR – Puerto Riko
* VI – Kepulauan Virgin Amerika Serikat
* Kepulauan Midway
* Teluk Guantanamo

Catatan Kaki:

[1] dari Atlas Nasional Amerika Serikat (Arch C. Gerlach, editor) Washington, DC:.Departemen Dalam Negeri AS, Geological Survey, 1970)
[2] Inset: Koloni Tengah. Dari Atlas Sejarah oleh William R. Shepherd, 1923.

sumber:
http://www.lib.utexas.edu/maps/histus.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_bagian_di_Amerika_Serikat
http://en.wikipedia.org/wiki/50_United_States

%d bloggers like this: