Posts tagged ‘Islamisasi’

Islamisasi Partai Islam: Pelajaran dari Erdogan

Beberapa pengamat politik menyarankan agar partai Islam ke tengah dan meninggalkan politik aliran. Saran ini akan menguatkan partai Islam atau justru menghancurkan?

Soekarno-Masyumi

Soekarno, ketika menghadiri acara Masyumi

Oleh: Nuim Hidayat 

TAHUN 1955 partai Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia), partai Islam yang memegang teguh ideology dengan sangat mengesankan meraup 40% suara. Padahal, Partai Masyumi dalam Anggaran Dasar atau Rumah Tangganya  memegang teguh prinsip-prinsip Islam.

Di Anggaran Dasar Partai Masjumi ditegaskan: “Tujuan Partai ialah terlaksananya ajaran dan hukum Islam, di dalam kehidupan orang seorang , masyarakat dan negara Republik Indonesia, menuju keridhaan Ilahi.” (Pasal III).

Pada pasal IV-nya dinyatakan: “Usaha partai untuk mencapai tujuannya:

Pertama, menginsyafkan dan memperluas pengetahuan serta kecakapan Umat Islam Indonesia dalam perjuangan politik

Kedua, menyusun dan memperkokoh kesatuan dan tenaga umat Islam Indonesia dalam segala lapangan

Ketiga, melaksanakan kehidupan rakyat terhadap perikemanusiaan, kemasyarakatan, persaudaraan dan persamaan hak berdasarkan taqwa menurut ajaran Islam Bekerjasama dengan lain-lain golongan dalam lapangan bersamaan atas dasar harga menghargai.”

Selain AD/ART yang tertulis, tokoh-tokoh Masyumi sebagian besar juga memberikan keteladanan dalam kehidupan politik dan masyarakat. Orang tidak meragukan lagi keteladanan KH Hasyim Asyari, Faqih Usman, HAMKA, KH Wahid Hasyim dan Mohammad Natsir.

Sayang kehebatan Masyumi ini hanya berlangsung lima tahun. Tahun 1960, Partai Masyumi dibubarkan oleh Rezim Soekarno dengan alasan yang tidak jelas. Tak hanya itu, banyak tokoh-tokohnya yang dimasukkan ke dalam kerangkeng oleh Soekarno.

Padahal Masyumi saat itu namanya sedang harum di kalangan umat.

Masyumi mempunyai sayap gerakan buruh, gerakan tani juga media massa. Harian Abadi misalnya, adalah koran milik Masyumi yang sangat disegani dan pelanggannya dari seluruh pelosok Indonesia.

Ketika Soeharto naik menggantikan Soekarno tahun 1966, tokoh-tokoh Masyumi mencoba menghidupkan kembali partai ini tapi tidak diizinkan.

Bahkan hingga pada Pemilu pertama di era Orde Baru tahun 1971, Masyumi bukan hanya tidak diizinkan ikut Pemilu tapi juga tokoh-tokohnya juga dilarang berpolitik.

Akhirnya umat Islam yang tergabung dalam Masyumi (dan NU) membentuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tapi saat itu sebenarnya Masyumi telah pecah karena sebagian pengikutnya sudah masuk dalam Golkar.

PPP karena mewadahi aspirasi umat Islam, maka mereka menggunakan gambar Ka’bah dan asas Islam. Meski selalu tidak unggul dalam Pemilu, apalagi bukan rahasia umum, kalau Pemilu Orba pernuh rekayasa.  Meski demikian, umat Islam masih banyak yang fanatik ke PPP hingga akhirnya Soeharto (dengan think tanknya CSIS) ‘menfatwakan’ semua parpol harus berasas tunggal Pancasila. Dari sinilah PPP mulai pecah. PPP turut pemerintah dan mengganti lambang Ka’bah dengan bintang. Sebagian tokoh memilih tidak berpolitik sebagaian lari ke Golkar. Efeknya tidak sedikit, Golkar juga makin penuh sesak dengan tokoh-tokoh Islam. Sesungguhnya, jika dilihat secara personal, makin hari makin tidak ada perbedaaan antara anggota Golkar dan PPP.

Politik gincu

Tahun 1999 setelah reformasi, partai-partai Islam dibebaskan kembali memakai asas Islam. Lambang pun tidak diatur pemerintah. Mulailah partai-partai Islam kembali ke kandangnya. Meski demikian, hanya tiga partai yang berani menuliskan asasnya Islam, yaitu PPP, PBB dan PKS. Sementara PAN dan PKB, tidak jelas tercantum dalam AD/ART nya asasnya Islam.

Amien Rais yang dulu merasak kekecilan dengan partai Islam namun PAN juga tak mampu menjadi partai besar

Tahun 1998, pasca jatuhnya Soeharto, tokoh-tokoh Masyumi sedang mempersiapkan kembali berdirinya partai Islam. Melalui rapat-rapat di kediaman HM Cholil Badawi dan Dr.Anwar Haryono SH, ditawarkanlah posisi ketua umum pada Dr Amien Rais sedang Dr Yusril Ihza Mahendra sebagai Sekjen.

Namun yang mengejutkan,  Amien Rais di layar televisi seusai shalat Jumat di kantor PP Muhammadiyah mengatakan,  “Saya akan mendirikan partai lain yang lebih terbuka.Bagi saya partai seperti Partai Bulan Bintang, ibarat baju akan ‘kesesakan’ jika saya pakai.”

Selanjutnya, melalui tokoh-tokoh  Majelis Amanat Rakyat (MARA), Amien Rais membentuk Partai Amanat Nasional (PAN) pada tahun 1998 dengan platform nasionalis terbuka. Ia mengundurkan diri dari Ketua PP Muhammadiyah setelah ditunjuk memimpin PAN.

Meski memilih baju terbuka, faktanya PAN tetap tidak banyak diminati aktivis Muslim. Amien Rais sendiri sebagai pendiri PAN sebenarnya menyadari kesalahannya, sayang nasi sudah menjadi bubur.*

Tahun 1999 perolehan suara PPP, PBB dan PKS lumayan. Tapi perolehan suara ini terus menurun sampai 2009 lalu. Diprediksi suara partai Islam tahun 2014 ini menurun atau stagnan sebagaimana 2009 yang lalu.

Mengapa tiga partai Islam itu tidak bisa menjadi mayoritas di negeri yang 85% Muslim ini?

Pertama, kesadaran politik umat Islam rendah. Umat memilih bukan didasarkan pilihannya pada calon-calon yang akan menjayakan Islam, tapi memilih banyak karena kekerabatan atau popularitas calon.

Kedua, partai-partai Islam menurun kualitasnya. Baik karena keterlibatan sebagian pengurus partai dalam korupsi, program partai yang tidak menyentuh rakyat dan tidak jelas warna Islam partai.

Partai-partai Islam itu mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. PPP mempunyai kekuatan jaringan lama dan pengalaman politik dalam menggolkan undang-undang yang bervisi Islam.

PBB mempunyai tokoh yang tinggi dalam intelektualisme Islam dan keberanian dalam menyuaran Islam.  Sedangkan PKS mempunyai jaringan kader yang kuat dan program-program yang merakyat. Kelemahan PPP dan PBB dalam pengkaderan sebenarnya bisa ditutupi atau mengambil pelajaran dari PKS.

Sedangkan kelemahan PKS yang kurang berani menampilkan diri visi Islamnya sebagaimana PPP dan PBB.

Sesungguhnya umat Islam di Indonesia yang sedang bangkit kini membutuhkan politisi politisi yang ahli di bidangnya sekaligus yang Islami. Kalau sekedar professional semata, maka tidak ada beda dengan partai sekuler. Atau jika yang hanya ditekankan program ekonomi semata, maka partai Islam menjadi pak turut bagi partai sekuler. Partai Islam seharusnya berani menampilkan Islamnya dan profesional. Sehingga masyarakat melihat beginilah wajah politik Islam yang sebenarnya. Bila partai Islam terbawa dengan arus partai sekuler yang hanya menekankan profesionalitas dan program ekonomi semata, maka partai Islam pasti tidak akan bisa menyaingi partai sekuler.

Maknanya seorang politisi Muslim di samping ahli di bidangnya juga berakhlak Islam, rajin shalat, bersedekah dan meninggalkan dosa-dosa besar. Beda dengan politisi sekuler yang membebaskan kadernya dalam berbuat maksiyat dan meninggalkan shalat. Bagi politisi sekuler yang penting politisi itu ahli di bidangnya dan mempunyai nama harum di masyarakat. Meski dalam kehidupan pribadinya bergelimang maksiat. Dengan kata lain mereka menghalalkan adanya ‘politik gincu’.

Jadi partai Islam mesti menprofesionalkan dan mengislamkan kader-kadernya bukan malah ikut-ikutan partai sekuler mensekulerkan kadernya dan bergerak ‘ke tengah’, sebagaimana nasihat banyak pengamat politik.

Erdogan-AKP

Erdogan dan massa AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan)

Pelajaran Penting dari Erdogan

Dan termasuk hal yang penting, politisi-politisi Muslim mesti memahami jejak sejarah bangsanya. Mereka mesti melanjutkan perjuangan tokoh-tokoh Islam terdahulu, terutama tokoh Masyumi. Sebagaimana Erdogan Presiden Turki yang dengan rendah menyatakan bahwa perjuangannya melanjutkan pendahulunya almarhum Necmettin Erbakan. Sebagaimana diketahui, Erbakan telah memulai perjuangan politik Islam di Turki sejak tahun 1970 dengan membentuk Partai Ketertiban Nasional.  Jatuh bangun Erbakan membangun partai Islam hingga ia mengalami kemenangan dengan partainya Partai Kesejahteraan (Refah Partisi).

Dalam Pemilu 1995, Partai Refah memperoleh 22 persen suara atau menyabet 158 kursi parlemen. Erbakan kemudian berkoalisi dengan Partai Jalan Lurus untuk memimpin pemerintahan Turki. Tapi pemerintahannya tidak berlangsung lama karena militer Turki buru-buru mengkudetanya. Dan Erdogan pun ditangkap dan dijatuhi hukuman lima tahun tidak boleh terlibat dalam politik (baca Ahmad Dzakirin, Kebangkitan Pos Islamisme Analisis Strategi dan Kebijakan AKP Turki Memenangkan Pemilu, Eracitra Intermedia, 2012).

Erbakan akhirnya banyak berbuat di balik layar. Dan di waktu itulah kemudian tampil murid kesayangannya, Erdogan yang terpilih menjadi Walikota Istanbul. Erdogan dengan program-program merakyatnya di kota itu berhasil memikat banyak kalangan. Erdogan juga banyak didukung para pebisnis dan masyarakat Turki. Meski dalam beberapa hal ia berbeda dengan gurunya tapi Erdogan menyatakan : “Dia akan selalu dikenang atas apa yang diajarkan kepada kami dan karena kepribadiannya yang tangguh.”

Ketika gurunya sang Hoca Erbakan meninggal, ia dan sahabatnya Abdullah Gul, memanggul keranda Erbakan ke tempat pemakamannya.

Abdullah Gul dan Erdogan membentuk AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) pada Agustus 2001. Erdogan berhasil menarik perhatian masyarakat Turki karena program-programnya yang menyentuh rakyat dan modern dan track record-nya sebagai Walikota Istanbul. Hingga pada Pemilu November 2002 AKP menangguk suara 34%.

Sembilan tahun kemudian, pada Pemilu 12 Juni 2011, AKP mengulangi kemenangannya dengan menyabet 50% suara rakyat. AKP menempatkan wakilnya sebanyak 327 kursi di parlemen.

Keberhasilan Erdogan memimpin Turki ini menjadikan militer Turki panas. Mereka mencoba mengkudeta Erdogan namun gagal. Karena Erdogan telah mendapat dukungan mayoritas masyarakat dan kepolisian. Sebanyak 250 personil militer pun dijebloskan ke penjara karena percobaan kudeta itu. Kuatnya pribadi Erdogan ini sehingga ia disebut sebagai The Strongest Man in Turkey.

Jadi keberhasilan Erdogan dan Partai AKP merebut hati rakyat Turki adalah bukan program ekonomi atau ‘sekulernya’ semata, tapi terutama karena program Islamisasinya yang mengesankan. Pesan Islam yang dibawai damai oleh Erdogan menyebabkan ia dikagumi masyarakat dan terus dibenci oleh kaum sekuler ekstrim. Sebelum menjadi presiden, Erdogan telah konsisten memperjuangkan jilbab di Turki. Hingga dua anaknya harus ia sekolahkan di Amerika, karena pemerintah Turki melarang mahasiswa berjilbab. Hingga kini menjadi presiden, Erdogan pun terus konsisten menjalankan program islamisasinya, seperti membebaskan pakaian jilbab di seluruh sektor, melarang minuman keras, mendukung perjuangan Palestina, mendukung presiden Mursi yang digulingkan dan lain-lain.

Seandainya Erdogan hanya membawa perubahan ekonomi Turki dan menyingkirkan program-program keislaman, apakah masyarakat Turki akan mendukungnya? Ini yang harus menjadi pelajaran penting Partai Islam di sini. Wallahu a’lam.*

Penulis adalah peneliti Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS)

http://www.hidayatullah.com

 

Advertisements

Islamisasi Ilmu Psikologi: Antara Memilah dan Memilih

thumb

Oleh: Rizka Fitri Nugraheni

SEPERTI diketahui, ilmu pengetahuan kontemporer saat ini didominasi oleh Barat. Kata “Barat” yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah pemikiran, bukan bangsa. Ciri-ciri pemikiran Barat salah satunya adalah mengabaikan aspek metafisik (ghaib), seperti wahyu, Tuhan, atau malaikat. Dominasi pemikiran tersebut dapat terlihat dari banyaknya buku-buku dari Barat yang digunakan sebagai acuan dalam perkuliahan. Bagaimanapun juga pemikiran Barat memiliki sisi positif yang bermanfaat bagi ummat manusia. Contoh yang dapat ditemukan di bidang psikologi adalah metode pengukuran dalam psikometri, konsep empati, konsep pola asuh dalam mendidik anak, konsep kognisi seperti memori, berbagai teori motivasi, dan masih banyak lainnya. Semua itu bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagi Muslim.

Majunya psikologi kontemporer yang kebanyakan membahas tingkah laku memang memberi sumbangan bagi Muslim, namun ada satu hal yang tidak tercakup di dalamnya, yaitu konsep jiwa. Psikologi Barat cenderung hanya membahas tingkah laku baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat secara langsung (seperti aktivitas mental). Tidak  bermaksud menafikkan aspek tingkah laku karena itu penting dalam kehidupan manusia (Amber Haque), yang disayangkan adalah tidak adanya aspek jiwa dalam pembahasan Psikologi Kontemporer, sementara dalam Islam jiwa mempengaruhi tingkah laku manusia.

Kita semua sebagai Muslim patut bersyukur karena Islam memiliki konsep jiwa pada manusia, jiwa yang tentu dapat mempengaruhi tingkah laku.

Imam Al-Ghazali dalam buku “Keajaiban Hati” menyatakan bahwa jiwa manusia memiliki empat komponen, yaitu ruh, qalb, nafs, dan ‘aql. Semua itu disebutkan dalam Al-Qur’an dan masing-masing memiliki fungsi tersendiri namun saling berhubungan. Salah satu contoh adalah qalb yang dapat berfungsi sebagai “raja” bagi “kerajaan” jiwa manusia, mampu menangkap pengetahuan tentang Allah, hal-hal spiritual, termasuk baik-buruknya sesuatu. ‘Aql dapat berfungsi sebagai “penasihat” dan menundukkan hawa nafsu. Keduanya berperan dalam konsep ‘iradah (kehendak), yang prosesnya sebagai berikut: seseorang dengan akalnya dapat menangkap dan melihat akibat dari suatu masalah lalu mengetahui jalan terbaiknya. Muncul kemauan, lalu bertindak ke arah kebaikan

Konsep ‘iradah tersebut jika diperhatikan mirip dengan konsep motivasi yang juga masih dibahas dalam psikologi kontemporer. Terdapat kebaikan sebagai tujuan, tindakan sebagai aktivitas, kemauan sebagai dorongan dan semua itu merupakan proses. Seperti yang disampaikan oleh Schunk et al. (2010), yang menyatakan bahwa motivasi adalah proses di mana aktivitas yang mengarah pada tujuan, memiliki dorongan dan bertahan lama. Dari contoh hubungan konsep-konsep tersebut, dapat diketahui bahwa Psikologi dalam Islam sudah ada dari dulu dan psikologi kontemporer dapat disandingkan dengan Islam. Tentu juga bermanfaat bagi Muslim, ketika ilmuwan Muslim dapat memilah, memilih, dan menggunakan ilmu kontemporer secara bijak.

Benar-benar indah jika ilmuwan Muslim dapat memilah dan memilih dengan bijak, namun apa yang terjadi sekarang? Ilmuwan Muslim menjiplak pemikiran dan produk psikologi Barat, dengan menggunakan paradigma Barat dalam memandang berbagai fenomena. Tidak heran jika banyak yang berpendapat bahwa agama, keyakinan, atau hal-hal ghaib yang berlaku dalam Islam tidak berlaku dalam aktivitas keilmuan psikologi. Tidak heran juga ketika banyak ilmuwan psikologi yang tidak menggunakan Islam sebagai worldview dalam meneliti, konseling, ketika belajar, dan menyikapi berbagai teori. Tidak melibatkan Allah dalam motivasi, berorientasi pada kemauan klien ketika konseling, menerima begitu saja kesimpulan penelitian yang bertentangan dengan Islam. Ada sebagian dari ilmuwan Muslim yang tersesat, menjadi agnostik atau ateis. Itu yang menjadi masalah bagi kita sebagai Muslim. Hal itu menunjukkan sebagian ilmu pengetahuan yang beredar sekarang ini menjauhkan manusia dari Allah, padahal dalam pandangan Islam ilmu justru membuat manusia mendekatkan diri pada Allah.

Fenomena itu cukup memprihatinkan dan perlu menjadi perhatian bagi Muslim, sehingga perlu ada upaya Islamisasi ilmu. Gagasan Islamisasi ilmu kontemporer salah satunya dicetuskan oleh Prof. Al-Attas. Menurut Prof S.M.N. Al-Attas, Islamisasi merupakan usaha menjadikan pemikiran Muslim terbebas dari hal-hal yang bertentangan dengan Islam, sehingga banyak di antara Muslim yang memiliki Islamic worldview. Segala hal pun dipandang dari sudut pandang Islam oleh Muslim, bukan sudut pandang yang justru bertentangan dengan Islam. Pemikiran Muslim yang sudah memiliki Islamic worldview akan menghasilkan ilmu yang dapat mendekatkan diri pada Allah, bukan yang bertentangan dengan Islam.

Perlunya Islamisasi ilmu juga berlaku di bidang psikologi karena tidak semua Psikologi Kontemporer dapat diterima dan diaplikasikan pada Muslim. Prof. Malik Badri (sebagai pelopor Islamisasi ilmu) dalam artikelnya  menekankan perlunya adaptasi terhadap Psikologi Barat, karena tanpa adaptasi Psikologi Barat dapat merugikan atau tidak berguna bagi Muslim. Perlu diingat juga bahwa Psikologi Barat tidak membahas unsur jiwa, yang dalam Islam justru sangat diperhatikan. Kekurangan pada Psikologi Barat tetap disikapi dengan bijak. Adaptasi dilakukan hanya pada psikologi yang bertentangan Islam, sedangkan hasil pemikiran yang tidak bertentangan, sekalipun itu dari Barat dapat dimanfaatkan oleh Muslim. Prof. Malik Badri menggunakan terapi dengan cara Islami dan berhasil membantu banyak kliennya sembuh. Beliau dalam buku “Dilema Psikolog Muslim”, menceritakan pengalaman membantu menyembuhkan klien dengan menggunakan Cognitive Behavioral Therapy yang dipadukan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa ilmuwan Muslim dapat menggunakan tes inteligensi, teknik pembuatan alat ukur psikologis, metode penelitian eksperimental, konseling dengan empati, dan hal-hal lain yang tidak bertentangan dengan Islam.  Semua itu dapat digunakan tentu dengan sikap yang bijak.

Ilmuwan psikologi yang memiliki pemikiran Islami meyakini Allah sebagai Rabb, Islam sebagai ad-Din, dan manusia juga sebagai makhluk spiritual yang memiliki jiwa. Dia dalam tiap aktivitas keilmuan psikologi akan ingat bahwa yang diperhatikan bukan sebatas tingkah laku yang terlihat atau terukur. Ada unsur lain di luar itu turut mempengaruhi tingkah laku, yaitu jiwa. Pemikiran seperti itu akan berdampak baik bagi Islamisasi Psikologi. Psikolog Muslim akan menjaga kondisi jiwanya agar selalu bersih dari penyakit hati, sehingga dapat membantu para klien sembuh dari gangguan dengan terapi yang melibatkan aspek jiwa dan mangadopsi metode dari Barat yang tidak bertentangan dengan Islam. Peneliti Muslim akan kritis dalam menyikapi kesimpulan penelitian yang dibaca. Ketika bertentangan dengan Islam, akan dilakukan adaptasi, salah satunya dengan cara menggunakan Islamic worldview dalam menginterpretasikan hasil penelitian. Akan ada usaha memilah mana yang baik dan buruk untuk Muslim, kemudian memilih yang baik, demi keselamatan ummat Islam.

Keselamatan ummat Islam dari hal-hal yang merugikan menjadi fokus dalam Islamisasi ilmu. Tidak bermasuk ekslusif, karena Islam merupakan rahmatalil ‘alamin, namun tidak memaksakan orang-orang selain penganut Islam untuk mengikuti ajarannya. Itu juga berlaku pada psikologi yang perlu diadaptasi, agar pada akhirnya ilmu psikologi yang beredar pantas untuk Muslim.

Adaptasi sebagian ilmu psikologi, sebagai salah satu cara Islamisasi ilmu, dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Cara dapat berbeda, asal esensinya sama. Penggunaan label “Psikologi Islam” atau “Psikologi Islami” semestinya tidak perlu dijadikan masalah, apalagi diperdebatkan. Islam saja memiliki madzab-madzab yang penganutnya tersebar di seluruh dunia, namun semuanya tetap Islam. Sekarang bukan saatnya mempermasalahkan perbedaan cara, namun mempermasalahkan ilmu psikologi yang harus diadaptasi. Masih ada tugas yang lebih penting dan harus dikerjakan oleh ilmuwan Muslim di bidang psikologi: mencerdaskan pelajar Muslim yang belum paham mengenai permasalahan ilmu, agar banyak yg dapat memilah dan memilih, sehingga tercipta produk-produk  psikologi yang dapat dimanfaatkan oleh ummat Islam.

Itu memang tugas yang berat untuk Islamisasi Psikologi. Dibutuhkan  waktu yang panjang dan usaha yang keras. Islamisasi ilmu Psikologi tidak akan lengkap tanpa kesucian hati dan keyakinan terhadap Islam itu sendiri. Semoga kita termasuk orang-orang yang terlibat dalam Islamisasi ilmu Psikologi baik secara langsung maupun tidak langsung, sampai akhirnya Psikologi yang kita terima merupakan ilmu yang dapat mendekatkan diri pada Allah. Dengan begitu, ummat Islam dapat memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Wallahu’alam.*

Penulis Penggiat Komunitas Penggenggam Hujan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Daftar Pustaka

Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. (1991). Islam dan Sekularisme. Bandung: Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan.

Badri, Malik. Dilema Psikolog Muslim.

Badri, Malik. The Islamization of Psychology Its “why”, its “what”, its “how” and its “who”. Artikel dapat diunduh di http://i-epistemology.net/psychology/60-the-islamization-of-psychology-i….

Imam Al-Ghozali. Keajaiban Hati. Penerbit Khatulistiwa.

Schunk, D. H., Pintrich, P. R., Meece, J. L. (2010). Motivation in Education: Theory, Research, and Applications. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Tsaqafah: Bahasa Antara Islamisasi dan Sekularisasi

Hassan-hanafi

Hassan Hanafi : Penulis “Al-Turats wa al-Tajdid”

Oleh: Arif Munandar Riswanto

PADA tanggal 18 Mei 2012, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menyampaikan syarahan dwi mingguannya pada acara Saturday Night Lecture. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Center for Advanced Studies on Islam Science and Civilization (CASIS) tersebut, Prof. Al-Attas berbicara panjang lebar tentang bahasa (language), terutama apa yang dia sebut sebagai “bahasa Islam” (Islamic language). Menurutnya, ada tiga ciri dalam bahasa Islam: pertama, memiliki akar kata;kedua, memiliki pola khusus dalam arti (sehingga menyebabkannya bisa difahami);ketiga, kedua karakteristik tersebut kemudian ditulis oleh para ilmuwan Muslim dalam bentuk kamus-kamus otoritatif.

Prof. al-Attas kemudian menjelaskan bahwa bahasa Islam lahir seiring dengan proses turunnya wahyu kepada Rasulullah. Wahyu tersebut kemudian mengislamkan bahasa Arab Jahiliyah. Untuk itulah, menurutnya, istilah-istilah kunci (key terms) di dalam Islam pada akhirnya selalu bersumber dari al-Quran. Sebab, al-Quran menjadi bukti paling sahih proses islamisasi bahasa Arab. Untuk itulah, menurut Prof. al-Attas, bahwa proses islamisasi (sebuah ide besar dan genuine yang berasal darinya) harus dimulai dari bahasa—sebagaimana yang dilakukan oleh al-Quran terhadap bahasa Arab.

Karena telah diislamkan oleh wahyu, istilah-istilah kunci tersebut pun sifatnya pasti dan tidak berubah-ubah. Dalam hal ini, perubahan sosial (social change) tidak menjadi faktor dominan dalam memberikan makna terhadap istilah-istilah kunci tersebut. Untuk itulah, kalau tidak terjadi kekeliruan dalam ilmu (confusion of knowledge), setiap generasi umat manusia akan memiliki pemahaman yang sama dan tidak berubah terhadap istilah-istilah kunci tersebut.

Namun, menurutnya, upaya islamisasi yang dimulai dari bahasa tersebut adalah hal yang selama ini selalu bertentangan atau dilawan oleh orang-orang sekular. Mereka selalu membiarkan perubahan sosial sebagai faktor dominan untuk mengubah istilah-istilah kunci (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, Kuala Lumpur: ISTAC 1993, 45-46).  Hal tersebut ditambah dengan media massa, majalah, dan berita yang kemudian menjadi faktor-faktor dominan juga dalam menentukan makna bahasa serta istilah-istilah kunci. Sama dengan islamisasi, orang-orang sekular pun kemudian menjadikan bahasa sebagai pintu untuk melakukan sekularisasi.

Prof. al-Attas menegaskan perihal pemikirannya selama ini tentang bahasa, terutama istilah-istilah kunci di dalam Islam. Dalam istilah-istilah kunci tersebut terkandung pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran (Islamic vision of reality and truth) yang menjelaskan tentang pandangan hidup Islam (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, ISTAC: Kuala Lumpur: 2001, 29-30). Hal ini sekaligus menegaskan bahwa bahasa mencerminkan ontologi (language reflects ontology).

Hal inilah yang mungkin menjadi latar belakang kenapa Nabi Adam diajarkan “nama-nama” (al-asma’) oleh Allah terlebih dahulu. Sebab, nama-nama tersebut adalah bahasa yang merefleksikan tentang realitas dan kebenaran. Para ahli mantiq pun kemudian mendefinisikan manusia sebagai “hayawan nathiq” (hewan berbicara). Sifat “bicara” tersebut menjelaskan bahasa yang juga merefleksikan tentang realitas dan kebenaran.

Kedudukan bahasa yang mencerminkan realitas dan kebenaran itulah yaalng menjadi latar belakang para ilmuwan Muslim menulis kamus-kamus besar seperti Lisan al-‘Arab, al-Mufradat fi Gharib al-Qur`an, Kasysyaf al-Ishthilahat al-Funun wa al-‘Ulum, dan Taj al-‘Arus. Bahkan leksikon “kecil” seperti al-Ta’rifat yang ditulis oleh al-Jurjani pun bertujuan untuk menjaga istilah-istilah kunci di dalam Islam. Bisa dipastikan, jika istilah-istilah tersebut dirusak maknanya, akan terjadi kekeliruan dalam ilmu (confusion of knowledge), sebagaimana yang bisa kita lihat dan rasakan pada zaman sekarang.

Kita ambil contoh kata shalat. Sebelum Islam turun, masyarakat Arab Jahiliyah tidak mengenal shalat sebagai ritual khusus yang dimulai dengan takbir dan ditutup dengan salam, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Namun, ketika Islam turun, kata shalat kemudian diubah maknanya sebagai ibadah yang kita kenal selama ini. Karena telah diislamkan seiring dengan turunnya wahyu, kata shalat tidak bisa diartikan secara sederhana dengan berdoa (pray) saja. Sebab, untuk menyebut kata yang berarti “doa”, masih ada kata lain yang bisa digunakan selain kata shalat. Untuk itulah, agar makna sebuah kata bisa difahami dengan jelas, para ilmuwan Muslim kemudian membuat batasan makna sebuah kata dalam bentuk ta’rif, baik yang lughawi (etimologi) ataupun ishthilahi (terminologi).

Di sinilah kenapa istilah-istilah kunci di dalam Islam kemudian sering tidak bisa diterjemahkan kepada bahasa-bahasa lain. Hal ini pulalah yang kemudian menyebabkan kata-kata kunci di dalam Islam meresap kepada bahasa-bahasa lain untuk kemudian menjadi kosakata yang inheren dalam bahasa-bahasa tersebut—seperti Bahasa Melayu, Persia, Turki, Urdu, dll. Bahasa-bahasa yang telah dimasuki oleh istilah-istilah kunci tersebut kemudian disebut oleh Prof. al-Attas sebagai bahasa-bahasa Islam.

Kemampuan umat Islam untuk menulis leksikon-leksikon pun bisa disebut sebagai tradisi ilmu yang hanya berkembang dan dimiliki oleh umat Islam. Tidak ada peradaban dan agama mana pun yang bisa menandingi kemampuan umat Islam dalam menulis leksikon. Yang lebih mengagumkannya lagi, leksikon-leksikon tersebut banyak yang ditulis hanya oleh seorang ilmuwan—bukan ditulis dalam bentuk komite khusus tentang bahasa sebagaimana yang lazim terjadi pada zaman sekarang.

Deislamisasi Bahasa

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ide-ide yang dibawa oleh orang-orang sekular selalu bertentangan dengan ide islamisasi. Bahkan, mereka menjadikan hal yang disebut oleh Prof. al-Attas sebagai deislamisasi bahasa (deislamization of language) sebagai pintu untuk merombak konsep-konsep dasar di dalam Islam. Tokoh paling terdepan yang mencoba melakukan hal tersebut adalah Hasan Hanafi. Proyek “pembaruan” (tajdid) yang dibawa oleh Hasan Hanafi menjadikan deislamisasi bahasa sebagai pintu untuk meruntuhkan bahasa Islam. Usaha tersebut bisa dilihat dengan sangat jelas dalam bukunya yang berjudul “al-Turats wa al-Tajdid” (Beirut: al-Mu’assasah al-Jamiʿah li al-Dirasat wa al-Nashr wa al-Tawziʿ, 1992). Hanafi bahkan secara terang-terangan menyebut proyek pembaruannya sebagai pembaruan bahasa (tajdid lughawi, hal. 110-111).

Istilah-istilah kunci seperti Allah, Rasul, din, al-jannah, al-nar, al-tsawab, al-‘iqab, al-halal, al-haram, dan lain-lain ingin diruntuhkan maknanya oleh Hasan Hanafi untuk kemudian diberi makna yang menurutnya “baru”. Hanafi bahkan menyebut istilah-istilah kunci tersebut sebagai “bahasa tua” (al-lughah al-taqlidiyyah). Apa yang disebut “bahasa tua” dalam proyek pemikiran Hanafi tentu saja bermakna bahasa Islam yang mencerminkan realitas dan kebenaran. Alasan dia meruntuhkan istilah-istilah kunci tersebut karena, “Bahasa tersebut tidak mampu menjelaskan makna-makna baru yang sesuai dengan tuntutan zaman. Sebab, ia telah begitu sangat lama berjalan dengan makna-makan tua yang kita ingin lepas darinya” (hal. 110).

Usaha Hanafi, misalnya ia coba terapkan kepada kata “Allah.” Menurutnya, “Allah bagi orang lapar adalah roti, Allah bagi hamba sahaya adalah kebebasan, Allah bagi yang dizalimi adalah keadilan, Allah bagi yang tidak memiliki perasaan adalah rasa cinta, Allah bagi orang yang sengsara adalah rasa kenyang. Dengan kata lain, dalam kondisi umum, Allah adalah jeritan orang-orang tertindas (hal. 113).” Hanafi kemudian menyarankan agar kata Allah diganti dengan kata al-insan al-kamil. Menurutnya, kata al-insan al-kamil lebih bisa memberikan makna daripada kata Allah (hal. 124).

Hal yang dilakukan oleh Hasan Hanafi menegaskan apa yang telah dijelaskan oleh Prof. al-Attas bahwa orang-orang sekular selalu menjadikan perubahan sosial sebagai faktor dominan untuk mengubah istilah-istilah kunci. Sebab, salah satu ciri sekularisme adalah ketika menjadikan masyarakat sebagai otoritas (authority), final (ultimate), dan kenyataan (real) paling tinggi untuk memberikan definisi ilmu (Prolegomena, hal. 117).

Hal yang dilakukan oleh Hasan Hanafi bukanlah pembaruan, tetapi penghancuran. Ia hanya akan menyeret kehidupan manusia ke dalam ketidakpastian, pencarian yang tidak berkesudahan, kebingungan dalam ilmu, dan kesengsaraan (syaqawah). Proyek seperti itu tidak akan pernah bisa membawa peradaban Islam menjadi peradaban gemilang. Wallahu a’lam.*

*Penulis adalah mahasiswa Kandidat Master Center for Advanced Studies on Islam Science and Civilization, Universiti Teknologi Malaysia (CASIS-UTM)

 http://www.hidayatullah.com

Pilar-Pilar Kebangkitan Umat Islam Dunia


Ilustrasi (Republika Online)

Oleh: Devia Puspita Sari

Suatu pilar kebangkitan terbesar sejarah manusia di muka bumi adalah dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Dakwah ini merupakan babak terakhir dalam serangkaian perjuangan panjang dakwah yang dipimpin oleh beberapa orang Rasul sebelum Muhammad SAW. Islam sesungguhnya sebuah proklamasi pembebasan manusia bagi seluruh manusia di penjuru bumi. Selama sejarah panjang Islam berada dalam kepemimpinan para pejuang Islam hingga pada kepemimpinan Turki Utsmani, Islam mengalami masa kejayaan dan kegemilangan dalam penyebarluasan dakwah. Seluruh sistem dunia mengikuti manhaj Islam dalam mekanisme kehidupan dunia.

Namun tidak perlu dinafikan bahwa eksistensi umat Islam telah bercerai berai sejak beberapa abad lalu — Sejak pemerintahan Turki Utsmani pada tahun 1924 M. Sejak kepemimpinan kedigdayaan Barat menunjukkan kembali kekuatannya sebagai strategi pemanfaatan situasi Islam yang sedang turun. Dari sinilah awal perjuangan penuh umat Islam. Sejarah pun mengukir peran para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di Jalan Allah, atas dasar Ikhlas kepadaNya, “Al-Ikhwanul Muslimin”. Dalam pergerakannya, secara tidak langsung membangkitkan kembali Islam untuk lebih melegenda di kehidupan. Peran mereka inilah sebagai pilar awal kebangkitan umat Islam setelah rampungnya pemerintahan Turki Utsmani.

Umat Islam adalah sekelompok manusia yang kehidupan, konsepsi, sikap, tatanan, nilai-nilai dan pertimbangannya, terpancar dari manhaj Islam. Manhaj yang berideologi Islam. Suatu manhaj hakiki yang bersumber langsung dari Pencipta. Manhaj atas dasar Al-Quran dan Al-Hadits. Dan oleh sebab itulah, Umat Islam akan tetap mampu bertahan melawan musuh -musuhnya dalam menegakkan panji – panji Agama Allah SWT.

Buku yang berjudul Pilar – Pilar Kebangkitan Umat yang ditulis oleh Abdul Hamid al-Ghazali menekankan pada Al-Masyru’ al-Islami (proyek keislaman atau islamisasi), Al-Nahdlah al-Ummah (kebangkitan umat dari keterpurukan) dan Assasiyat (prinsip-prinsip dasar atas fondasi pemikiran, bukan pilar, secara harfiyah) atas perjuangan membangun kembali umat yang mungkin masih tertidur hingga kesadaran diri untuk segera bangkit menghadapi tantangan zaman pun masih relatif kecil.

Secara konsep dasar, kita temukan kaidah – kaidah dalam eksekusi pelaksanaan suatu gerakan. Gerakan yang memberikan pengaruh besar. Hingga gerakan tersebut melingkupi institusional negara. Suatu gerakan pada hakikatnya memiliki konsepsi, aturan main dan sistem, yang tentu saja semuanya berpatokan pada kaidah atau manhaj Islam. Konsep-konsep dasar yang dimaksud adalah mengenai Pembaharuan (ishlah), suatu perubahan menuju kemajuan secara komprehensif dan terintegral atas aspek kehidupan; Metodologi riset (manhaj qira’ah) yang meliputi konten analisis, hermeunetika (tafsir atas teks), semiotika (pemaknaan sesuai konteks zaman dan lokasi); Dakwah sebagai proyek kebangkitan, bukan merupakan pekerjaan individual yang berjangka pendek dan amatiran, namun dakwah adalah pekerjaan kolektif, suatu pekerjaan yang tersusun rapi atas perencanaan hingga pelaksanaan dan evaluasi, berjangka panjang (dengan tujuan membangun suatu peradaban baru) dan dilakukan secara profesional oleh setiap kader pengemban dakwah dan rekonstruksi negara ideal (ishlah ad-daulah/al-hukumah), suatu pemikiran, perjuangan, kebijakan, dan dimensi peradaban.

Suatu konsep dasar yang memiliki nilai yang besar, harusnya berstrategi (bermetodologi) yang baik dalam pelaksanaannya. Untuk itu harus ada referensi nyata bagaimana dakwah itu bermain sesuai hakikatnya. Imam Syahid Hasan Al-Banna telah merekonstruksi 4 analisis yang dapat dijadikan metodologi dalam memainkan peran dakwah, yang meliputi Analisis sejarah, Analisis realitas, Kaidah umum dan Prediksi masa depan. Metodologi atas Analisis Sejarah mencakup ruang lingkup Sejarah Islam (tujuh periode: deklarasi, daulah, dekadensi, pergulatan politik, pergulatan sosial, hegemoni Barat, kebangkitan), Sejarah manusia (Barat dan Timur), Sejarah gerakan pembaruan (Khulafa al-Rasyidah, Abbasiyah, Ayyubiyah, Saudiyah, Revolusi Jerman). Sedangkan Metodologi atas Analisis Realitas mencakup ruang Keharusan analisis realitas (fiqhul waqi’), Analisis kualitatif (serangan asing, penyakit umat, agenda permasalahan), dan Analisis kuantitatif (data demografis, geografis, pendidikan, kesehatan, kriminalitas). Kemudian untuk Metodologi Kaidah Umum, Imam Hasan Al-Banna mengaitkannya dengan Fikrah dasar, Kekuatan motivasi, Perubahan diri, Titik awal pergerakan, Keberhasilan pemikiran, Penyiapan kader, Tuntutan kebangkitan mendasar, Standar aktivitas dakwah, Pergulatan manusia, Prediksi dan peluang, Pergiliran peradaban, dan Tujuh pilar kebangkitan. Lalu, untuk metodologi Prediksi Masa Depan, ia mencakup Perspektif sosial (kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, mimpi hari ini adalah kenyataan masa depan), Perspektif sejarah (kebangkitan setelah masa kemunduran), Perspektif logika (jalan panjang menuju kebangkitan, menunaikan kewajiban untuk mendapat pahala akhirat dan manfaat duniawi), dan Perspektif agama (janji kemenangan dari Allah).

Yang menarik dari metodologi Kaidah Umum adalah mengenai Fikrah Dasar dan Kekuatan Motivasi. Imam Hasan Al-Banna pernah berkata: “Ikhwanul Muslimin yakin sepenuhnya bahwa ketika Allah SWT menurunkan Al-Quran, menyuruh hamba-hambaNya mengikuti Muhammad SAW dan meridhai Islam sebagai agama bagi mereka, sesungguhnya ia telah meletakkan dalam agama ini seluruh dasar yang mutlak dibutuhkan bagi kehidupan, kebangkitan dan kesejahteraan umat manusia”. Perkataan ini dapat menjadi fikrah dasar mengapa kita harus tetap mengambil peran dalam menciptakan pilar – pilar kebangkitan. Yang kedua terkait dengan kekuatan motivasi. Dalam hal ini Imam Syahid Hasan Al-Banna juga mengatakan. “Kebanyakan manusia melihat gerakan dakwah dari segi lahiriah dan bentuk formalnya saja. Mereka tidak melihat motivasi dasar dan inspirasi spiritual yang sebenarnya merupakan modal dasar bagi terciptanya tujuan dan teraihnya kemenangan. Ini adalah sebuah hakikat yang tidak bisa dibantah kecuali oleh mereka yang jauh dari studi dakwah sehingga tidak memahami rahasia-rahasianya. Sesungguhnya di balik fenomena-fenomena yang tampak pada setiap aktivitas dakwah, terdapat semangat yang menjadi motor penggerak serta kekuatan batin yang menggerakkan, mengontrol dan memberikan motivasi. Mustahil suatu umat dapat bangkit tanpa memiliki kesadaran yang hakiki dalam jiwa, ruh dan perasaan mereka. ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mau mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri’ (Ar- Ra’d:11).”

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa hal terpenting dalam sebuah kerja dakwah yang harus pertama kali kita perhatikan dan kita jadikan sebagai pemacu pertumbuhan, keberadaan, dan penyebaran dakwah adalah kebangkitan spiritual ini. Karenanya, yang pertama kali kita inginkan adalah kebangkitan ruhani, hidupnya hati, serta kesadaran penuh yang ada dalam jiwa dan perasaan. Oleh karena itu, dalam membicarakan dakwah ini, kami lebih menekankan pada pemberian motivasi dan pembinaan jiwa daripada perhatian terhadap aspek-aspek operasional yang beragam.

Tentu saja dakwah menginginkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat serta tangguh, hati-hati yang segar serta memiliki semangat yang berkobar, perasaan-perasaan yang memiliki ghirah serta selalu menggelora dan ruh-ruh yang bersemangat, elegan, selalu optimis serta merindukan nilai-nilai luhur, tujuan -tujuan mulia serta mau bekerja keras untuk menggapainya. Umat Islam harus menentukan tujuan-tujuan dan nilai-nilai luhur tersebut, mengendalikan perasaan dan emosi, serta memfokuskan perhatian pada hal-hal tersebut hingga ia menjadi sebuah keyakinan mantap, yang tidak tercampuri oleh keraguan sedikit pun. Tanpa pembatasan, pengendalian, dan pemfokusan tersebut, sebuah kesadaran dan kebangkitan hanya akan menjadi seperti lilin kecil di tengah gulita sahara, nyalanya sangat redup dan panasnya tidak terasa.

Sejalan dengan keberadaan dakwah yang komprehensif, maka manhaj dakwah pun harus menegara. Sistemnya pun harus mampu merekonstruksi Negara yang merupakan suatu proyek kebangkitan umat. Ada 5 peran dakwah dalam merekonstruksi aksi institusional, yang meliputi pemikiran, perjuangan, program, kebijakan, dan dimensi peradaban. Rekonstruksi Negara terhadap Pemikiran meliputi titik tolak (integralitas Islam, negara cermin ideologi, hak umat, perjuangan konstitusional dan pemerintahan bagi dari rukun sistem Islam) dan konsep (arabisme, patriotisme, nasionalisme dan internasionalisme). Sedangkan rekonstruksi terhadap peran Perjuangan mencakup target politik (pembebasan negeri, persatuan negeri, Islam/Kawasan), strategi (informasi, dialog elite, komite UU, rekomendasi pemerintah, pernyataan politik, legislatif/kepartaian, tuntutan politik, dan aliansi politik), tahapan (takrif, takwin, tanfidz), dan sikap (pemerintahan, UU, Hukum, kepartaian, minoritas, perempuan, demokrasi, persatuan, HAM). Selanjutnya, rekonstruksi yang ketiga fokus pada Pemrograman Pilar Dakwah, yakni pemrograman atas reformasi sosial, reformasi ekonomi, dan reformasi politik. Dan mengenai rekonstruksi negara atas Kebijakan terkait pada kebijakan dalam dan luar negeri. Maka, rekonstruksi negara yang terakhir adalah mengenai Dimensi Peradaban yang meliputi konsep peradaban (syahadah dan hadlarah), eksistensi umat (syarat kebangkitan, konsep khilafah, tata dunia baru) dan kepemimpinan dunia (realisasi, benturan peradaban).

Suatu pilar kebangkitan membutuhkan suatu magnet yang dapat menimbulkan aksi tarik-menarik bagi aktornya. Aksi tarik menarik ini menunjukkan ketepatan medan magnet dengan kapasitas pemainnya. Untuk mencapai kebangkitan dan kejayaan umat, kita harus memiliki medan tempat untuk berjuang, tempat perlindungan, dan tempat pentarbiyahan. Termasuk di dalamnya adalah kemampuan kita untuk mengelola sumber alam secara benar dan baik dan berlandaskan kepada kemaslahatan. Maka, Selamat datang Pilar Kebangkitan Umat!

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Reintegrasi Negara: Antara Uni Eropa, Revolusi Arab dan Uni Islam

Oleh: Saiful Akmal

Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), yang sekarang disebut Uni Eropa (UE) atau European Union (EU) adalah salah satu contoh bagaimana pengembangan kawasan bisa memberikan salah satu alternatif dikotomi nasionalisme negara. Terlepas dari krisis ekonomi AS tahun 2010 yang sekarang menjalar ke Eropa dimana Irlandia dan Yunani sempat dilanda krisis, tetap saja stabilitas UE relatif cukup baik. Setelah pada inisiasi awal hanya berdebat seputar penghapusan rivalitas lama Jerman vs Prancis di Eropa serta sebatas kerjasama industri baja dan batu bara di Traktat Paris, tahun 1952. Lalu berkembang ke pembentukan Dewan Menteri UE di Kesepakatan Roma 1957 dan perluasan keanggotaan (27 Negara Anggota) via Perjanjian Schengen 1985 dimana sejumlah negara kemudian bergabung sepakat untuk menghapuskan pemeriksaan barang dan manusia di perbatasan. Selanjutnya mulai meluaskan kerjasama ke ranah politik seperti pembentukan Parlemen Eropa Sampai akhirnya melalui Traktat Maastricht 1992 UE resmi dibentuk sebagaimana yang kita saksikan kini.


Negara anggota Uni Eropa (1957-2007/warna biru)

Setelah awalnya hanya berkutat dalam hal ekonomi. UE kini menjelma menjadi kekuatan politik, ekonomi dan sosial baru. Yang bahkan dalam banyak hal menyaingi kedigdayaan AS. Seperti sebut saja mata uang Euro yang nilai tukarnya bahkan melebih mata uang dunia (Dolar US), meskipun masih dibawah kurs Poundsterling (UK). Maka proyek dan politik Eropanisasi (Featherstone & Radaelli, 2003), konsep dari government ke governance (Borras, 2003) dan paham regionalisme ini semakin menjadi salah satu model unifikasi dalam tatanan dunia baru paska perang dingin sejak runtuhnya Uni Soviet dan AS diklaim menjadi polisi dunia (selain tentunya China, Iran dan Blok Amerika Latin).

Konsep seperti EU ini juga sejatinya sudah coba dimulai di kawasan lain seperti ASEAN di kawasan Asia Tenggara yang berdiri sejak 1967 di Bangkok yang melahirkan AFTA (perdagangan bebas). Kemudian juga dengan negara-negara Asia Pasifik (APEC) tahun 1989 dan Uni Afrika (African Union) tahun 2002 . Namun kelihatannya apa yang dicapai EU sampai sekarang masih belum bisa disaingi oleh yang lain. Bahkan sejumlah negara di sekitar Eropa sangat bernafsu menjadi anggota EU, seperti Turki, negara bekas Yugoslavia serta Uni Soviet. Oleh karena itu menjadi penting melihat adanya kemungkinan penyatuan sejumlah negara dalam format seperti Uni Eropa, meskipun tidak harus persis.


Peta dunia islam (hijau)

Dalam konteks itu, maka Revolusi Boauzizi di Tunis, Revolusi 25 Jan 2011 di Mesir, yang kemudian merebak ke seantero Afrika Utara, dunia Arab seperti di Suriah, Yaman dan terakhir Libya plus bergeliatnya kembali keberanian Palestina sebenarnya membuka peluang terjadi perubahan tata dunia baru. Revolusi ternyata terus menyebar layaknya virus ke negara sekitarnya di kawasan Maghribi dan Timur Tengah. Mereka memilik karakteristik pemerintahan yang sama: otokrasi, otoriter dan secara ekonomi – politik menjadi sekutu bagi kepentingan AS, Israel dan mungkin negara Barat pada umumnya. Namun dalam hitungan waktu peta ini bisa saja berubah. Mesir yang menjadi negara yang paling strategis baik secara geografis (letaknya persis di persimpangan Afrika Utara, Timur Tengah dan Eropa (Laut Tengah) bisa memainkan peranan penting jika proses transisi paska revolusi berjalan baik. Perubahan arah dan model kebijakan sangat akan mungkin terjadi. Apalagi sebagai salah satu negara paling berpengaruh di dunia Muslim. Bersama Turki, yang sampai sekarang belum berhasil mendapat izin bergabung dengan UE karena berbagai kekhawatiran dan phobi terhadap pemerintahan pro Islam di Turki sekarang, plus bisa jadi Iran, akan menjadi kekuatan baru di kawasan tersebut. Michael Foucault sendiri melihat bagaimana revolusi Islam Iran membawa kebangkitan spiritualitas politik (political spirituality) setelah bertemu langsung dengan Ali Shariati dan Ayatullah Khomeini di tahun 1979. Disinilah makanya konsep Uni Islam menjadi relevan.

Rakyat Mesir sendiri, sebagaimana yang diberitakan Al Jazeera (5 Februari 2011), mengakui bahwa model demokrasi dan pertumbuhan ekonomi Turki (dan Malaysia) adalah bentuk ideal yang diinginkan mereka. Sebenarnya ide Uni Islam ini substansinya sudah lama ada dalam Islam. Dr Yusuf Qardhawi dalam bukunya Fiqh Daulah (1998) berpendapat bahwa substansi nilai-nilai demokrasi yang positif bisa selaras dengan semangat Islam untuk memberikan pelayanan terbaik buat ummat. Dan konsep ini memang harus dimulai dari membentuk kepribadian (syakhsyiyah), keluarga (usrah), lingkungan sekitar (biah), masyarakat (sya’biah), negara (daulah) dan dunia (khilafah). Proses levelisasi (marhalah) ini harus diperhatikan, agar tidak terjadi lompatan-lompatan yang bisa melemahkan konsolidasi internal dalam berhadapan dengan dinamika aktual di lapangan.


Peta sebaran populasi muslim

Masalahnya adalah, kita sendiri masih minder dengan ide Uni Islam. Atau katakanlah apriori akibat kampanye propaganda intens bahwa Islam, daulah dan khilafah itu identik dengan ciri negatif seperti tidak adanya kebebasan beragama, diabaikannya hak asasi manusi, emansipasi, terorisme, ketinggalan zaman dan segala macam bentuk prasangka lainnya. Padahal disisi lain, konsep UE sudah dengan jelas membuktikan bahwa substansi nilai-nilai unifikasi itu memang punya dampak positif bagi kesejahteraan umat. Evaluasi kolektif dan proses saling subsidi (taawun) membuat UE menjadi lebih kuat dan stabil, meskipun didera banyak masalah. Jadi ketika ide tersebut serasa tabu di umat Islam (atau sengaja dibuat menjadi tabu akibat hegemoni media), ia malah dipraktekkan di Barat. Makanya ide Uni Islam (khilafah) sebenarnya perlu dijelaskan kepada mereka yang tidak setuju bahwa ini pada prinsipnya sama dengan apa yang dilakukan EU atau APEC sekarang. Dan karena itu tidak perlu dikhawatirkan berlebihan.

Barangkali kendalanya adalah selain memperkuat konsolidasi internal antar negara muslim, khususnya sebagai awal di Afrika Utara dan Timur Tengah, maka kendala geografi bisa menjadi salah satu titik lemah, karena wilayah jurisdiksi operasionalnya yang cukup luas termasuk sebagian negara di Afrika Tengah/Timur/Barat, Asia Tengah, Asia Selatan dan Asia Tenggara. Selain itu kendala lain ialah apakah kumpulan negara ini nantinya akan menjadi sebuah ‘negara’ baru secara de facto dan de jure atau tidak? Namun kita tidak perlu inferior dengan ide Uni Islam, toh APEC yang jumlah anggotanya banyak dan mencakup wilayah jangkauan cukup luas (dari Australia sampai AS) bisa eksis, mengapa kita tidak bisa sedikit percaya diri dan optimis?. Lagipun kita tidak hanya didasarkan pada unifikasi ekonomi dan geografi, tapi juga kesamaan akidah. Sebagai langkah awal, kerjasama yang dibangun barangkali cukup di bidang ekonomi dan perdagangan, lalu perlahan diperluas ke sektor keamanan, politik dan budaya. Mulai dari diberlakukannya ‘fair trade’ bukan‘free trade’ sesama negara anggota, pembentukan parlemen Uni Islam dan sistem kepemimpinan presidium bagi negara yang dianggap mampu dan dipilih secara periodik menjadi pimpinan. Semoga saja tawaran ini bisa menjadi bahan pemikiran bagi kita sebagai salah satu saudara muslim di nusantara. Karena saya masih merindukan Uni Islam bersanding dengan Uni Eropa, Uni Afrika, APEC dan ASEAN dan berlomba-lomba memberikan yang terbaik bagi peradaban manusia. Ide ini bukanlah plagiasi atau meniru, tapi sesungguhnya sudah ada dalam islam, namun sayang saudara kita yang non-muslimlah yang sudah lebih dulu menyaksikan keajaibannya. (usb/jrm)

www.dakwatuna.com

%d bloggers like this: