Posts tagged ‘Menghafal al-Quran’

Menghafal Al-Quran, Jalan Terbaik Untuk Memiliki Kecerdasan Yang Integral

Oleh : Purwanto Abdul Ghaffar

“Al-Quran adalah kunci kecerdasan integral” ini adalah moto yang selalu Kami ingin sebarkan kepada seluruh kaum muslimin, dengan menghafal Al-Quran maka semua potensi kecerdasan manusia akan terasah, berikut penjelasannya.

Menghafal Al-Quran menguatkan hubungan dengan Allah sang pemilik ilmu

Sesungguhnya semua ilmu pengetahuan adalah milik-NYA, Dialah Al Aliim. Dialah pemilik semua jawaban dan dengan kasih-NYA Ia menurunkan setetes ilmu di dunia ini agar manusia memiliki makna yang istimewa, supaya manusia memiliki perangkat untuk tampil sebagai khalifah, agar manusia dapat mengelola dengan baik (mengambil dan memelihara) semua rizki yang dikaruniakan-NYA di dunia ini.

Dari semua ilmu, ulumul Quranlah yang paling utama. Dari semua kitab (buku) AlQuranlah yang paling mulia. Jika kita mempelajari Al-Quran dan berinteraksi dengannya, sejatinya kita sedang mengambil jalan kemuliaan dihadapan Allah sang pemilik ilmu.

Dan karenanyalah Insya Allah sang penghafal Al-Quran akan mendapat jaminan kemudahan dari Allah SWT dalam dua bentuk, yaitu ; kemudahan mempelajari Al-Quran (QS Al-Qamar 17) dan karunia kemudahan pada ilmu-ilmu yang lain (QS Al-Mujadilah 11).

“Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar 17)

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah 11).

Andai seseorang ingin mempelajari teori quantum pada ilmu fisika. Ia harus menghabiskan waktu sebulan agar dapat memahaminya dengan baik, namun apabila ia menggunakan sebagian waktu dan tenaganya untuk menghafal Quran, maka Allah yang rahiim sang pemilik ilmu dan kemudahan itu akan mengganti waktu dan jerih payahnya menghafal Al-Quran itu dengan cara membuka kecerdasan sang penghafal Quran, sehingga dalam waktu lebih singkat – seminggu- ia sudah berhasil memahami dengan baik teori Quantum. Inilah yang dialami oleh para tokoh Islam yang tidak hanya dikenal sebagai Ulama besar, tetapi sekaligus juga ilmuwan dari berbagai bidang.

Mengherankan ada manusia yang bisa sedemikian banyak memahami berbagai bidang ilmu, misalnya Imam Ghazali adalah seorang teolog, filsuf (filsafat Islam), ahli fikih, ahli tasawuf, pakar psikologi, logika bahkan ekonom dan kosmologi. Atau Ibnu Sina seorang ulama yang sedari kecil mempelajari ilmu tafsir, Fikih, Tasawuf, tiba-tiba bisa disebut sebagai pakar kedokteran dan digelari ‘Medicorium Principal’(Rajanya para dokter) dan buku yang ditulisnya ; Al-Qanun Fith-Thib menjadi bahan pelajaran semua dokter didunia.

Faktor penting yang menjadikan mereka mampu melanglang buana keilmuan dan melintasi cabang keilmuan yang seolah (bagi mereka yang dikotomis -suka memisahkan ilmu agama dengan ilmu umum) berseberangan ini adalah karena mereka menghafal dan mempelajari Al-Quran sehingga Allah SWT sang pemilik ilmu membukakan bagi mereka pintu gerbang ilmu-ilmu lainnya.

Menghafal adalah dasar dari ilmu pengetahuan

Menghafal adalah dasar dari semua aktivitas otak. setelah data terparkir dengan baik, baru dapat dilakukan pengolahan lebih lanjut ; misalnya identifikasi, pengklasifikasian berdasarkan kesamaan, membandingkan dan mencari perbedaan, mengkombinasikan persamaan dan atau perbedaan untuk melahirkan sesuatu yang baru, dan lain sebagainya.

Misalnya abjad, seorang anak harus menghafalnya terlebih dahulu baru bisa digunakan untuk membaca dan menulis. Angka harus dihafal dahulu sebelum dipermainkan dalam bidang matematika. Setiap pasal dan ayat dalam undang-undang harus dihafal dahulu sebelum digunakan para hakim, pengacara, dan penuntut di ruang pengadilan.

Menghafal adalah dasar dari semua ilmu. Tanpa materi hafalan tidak ada data yang bisa diolah, tanpa olahan data maka ilmu pengetahuan tidak akan pernah ada. Menghafal adalah tangga pertama ilmu pengetahuan, menghafal adalah langkah wajib untuk cerdas.

Ada yang mengatakan bahwa menghafal akan melemahkan kemampuan analisa si anak, pernyataan ini benar, kalau si anak hanya disuruh menghafal saja tanpa melanjutkan ke proses lainnya. Menghafal adalah tahapan awal berinteraksi dengan Al-Quran, sesudah menghafal dan belajar membaca dengan benar maka harus disambung pada fase berikutnya yaitu mempelajari maknanya baik harafiah maupun penafsirannya, setelah itu mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi maupun yang terkait dengan kehidupan bermasyarakat, seorang muslim yang cerdas akan menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk menjawab semua persoalan, lalu fase terakhir adalah mengajarkannya kepada semua orang muslim. Itulah tahapan berinteraksi dengan Al-Quran yang benar. proses ini berkelanjutan tak boleh berhenti, tidak boleh hanya menghafalnya saja, atau hanya belajar membaca saja.

eramuslim.com

Advertisements

Pesantren Bintang Lima, Rumah bagi Para Penjaga al-Qur’an

Mega Mendung, BOGOR – Lulus dari salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Banjarmasin, Kalimantan Tengah, tahun 2009 lalu, Yazid mulai bingung harus melanjutkan pendidikannya ke mana. Pasalnya, Yazid memiliki minat besar di bidang agama. Ia juga ingin sekali menghafal al-Qur’an yang telah dicita-citakanya sejak lulus sekolah menengah.

Ia sebenarnya sudah mendengar banyak informasi hal ihwal sekolah pendidikan yang bisa mewadahi minatnya itu, tapi rupanya Yazid merasa ragu apakah sekolah yang kelak di pilihnya nanti benar benar kondusif bisa menyalurkan minatnya itu.

Hingga pada suatu hari, datanglah seorang ustadz mengabarkan bahwa ada sekolah yang barangkali cocok buat dirinya. Ustadz tersebut merujuk nama Lembaga Kaderisasi Imam dan Da’I (LKID) yang berada di bawah naungan Yayasan Wadi Mubarak. Tak perlu menungu lama, Yazid pun melabuhkan “cintanya” ke pilihannya tersebut.

“Alhamdulillah, 3 bulan bisa hafal 30 Juz,” aku Yazid ditemui hidayatullah.com sela sela kesibukannya muroja’ah (mengulang-ulang hafalan) di komplek LKID yang beralamat di Jalan Raya Puncak 1/1 Desa Kuta, Kecamatan Mega Mendung, Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Pria lajang kelahiran Barabai, 6-Juli-1988 ini mengaku mampu menyelesaikan hafalannya dalam tempo yang terbilang singkat itu lantaran ditopang dengan lingkungan LKID yang nyaman, jauh dari kebisingan kota lagi sejuk dengan nuansa alam pegunungan Pasundan.

“Yang terpenting adalah luruskan niat dan bermujahadah,” akunya, mantap.

Lain lagi yang dirasakan Saddam Husain Servao Katiri. Pria berusia 19 tahun asal Kupang, Nusa Tenggara Timur, ini mengaku selalu pindah pindah pesantren di beberapa tempat di tanah jawa karena selalu tidak pas di hati sebelum akhirnya masuk ke LKID. Setelah karam LKID melalui salah seorang kerabatnya, ia pun sampai kini tetap betah.

Kurang lebih 10 bulan dia di LKID, Servao akhrinya sukses hafal 30 Juz. Selain sibuk belajar sehari hari, ia bertugas menjadi pelayan tamu di yayasan ini karena bahasa Arab-nya yang juga memang bagus.

Gratis Penuh

LKID adalah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan agama untuk tamatan SMA dan sederajat khusus putra. Berfokus pada pendidikan dan kaderisasi Imam dan da’I yang siap tandang ke gelanggang.

Jenjang pendidikannya hanya 2 tahun. Tahun pertama fokus pada pelajaran dan menghafal al-Quran, Lughah, Dirasat Islamiyah, dan Ulumul Syariah. Pada tahun kedua mulai fokus pada studi Dirasaat Islamiyah.

“Pada tahun pertama kan sudah paham pelajaran Al-Qur’an dan hafal. Nah, tahun keduanya tinggal pendalaman dan fokus Diraasat Islamiyah-nya,” jelas Direktur LKID Ustadz Didik Haryanto, Lc.

Selain mendapatkan ijazah dan sertifikat resmi, alumninya juga bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi. Sejumlah alumni LKID ada yang masuk ke Universitas Juanda Bogor, Universitas Cokrominoto Yogya, Universitas Trunojoyo, Bangkalan. Dan itu, “Semuanya gratis, full,” imbuh Didik.

Selain masuk ke jurusan umum, sebagan besar alumni LKID memilih masuk ke jurusan Ekonomi Syariah (SE.I). Hal itu tentu saja tidak mengherankan, sebab selama 2 tahun masa pendidikan di LKID, para santri memang telah dibina menjadi hafidz yang pengusaha.

Cetak Hafidz Sekaligus Pebisnis

Di komplek yayasan yang luasnya 8 hektare ini, ada puluhan ekor kambing dan domba yang dipelihara oleh santri. Jenis peliharaannya juga pilihan, yaitu jenis Marino (domba Afrika) dan Etawa (domba Australia).

“Selain dijual, susunya diambil untuk dikonsumsi para santri biar kuat,” kata Didik.

Selain usaha berternak domba, kambing, dan kelinci yang diurus oleh santri, mereka yang sudah hafal 15 juz dipersilahkan untuk ditempatkan bekerja di minimarket-minimarket mitra Yayasan Wadi Mubarak untuk kegiatan magang.

Untuk kemandirian ekonomi, LKID punya minimarket 3 titik di Jakarta, yaitu di Cakung, Kemayoran, dan di Semper. Ada juga mitra usaha penyedia air minum kemasan yang siap mendidik santri LKID menjadi pebisnis. “Santri kita titipkan untuk memulai jadi penguasaha di sana,” jelas Didik.

LKID telah mendapat pengakuan (mu’adalah) dari Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Selain di Madinah, beberapa alumninya juga melanjutkan pendidikannya ke Yaman (setiap tahun 5 orang), Mesir (5 orang). LKID memang benar benar lembaga hafidz. Bahkan Kepala Bagian Peternakannya saja, Ustadz Taufik Lc, adalah hafidz.

Lembaga yang memiliki santri 110 orang, belum termasuk santri putri yang akan dimulai programnya pada tahun ajaran baru tahun ini, menyelenggarakan semua dengan gratis. Mulai dari asrama yang terbilang kelas bisnis nan ekslusif, konsumsi santri sehari hari pun lezat menentramkan perut.

Sesuai tagline-nya, “Pesantren Bintang Lima”, bangunan-bangunan di kampus Pendidikan Islam di bilangan Desa Kuta ini terkesan mewah, bisa dibilang sekelas villa yang memang banyak bertengger di kawasan puncak.

Arsiteksi bangunannya elegan, kombinatif dan serasi dengan pepohonan dan hutan rindang di sekelilingnya. Santri dibuat betah menghafal dan belajar di kamar tidur sekalipun, dengan suasana alam yang sejuk dan asri. Konsep edukasi di kompleks Islamic Centre Wadi Mubarok ini di-setting sedemikian rupa. Setiap pengumuman, papan peringatan, spanduk maupun nama ruangan ditulis dengan bahasa asing.

Beberapa bulan sebelumnya, LKID mendapat kunjungan dari Univeristas Yala, Thailand, yang akan menerapkan konsep yang sama.

Sementara Juli ini akan dikunjungi dosen dan pengajar hafidz dari Singapura sebanyak 16 penghafala Qur’an dalam rangka studi banding.

Selain itu, dari dalam negeri, pernah mendapat kunjungan dari SMP IT Iqro Bekasi, untuk studi banding penanganan lembaga hafalan Qur’an.

Tahun ini LKID telah menyelenggarakan pendidikan khusus Sanad al-Qur’an dengan serttfikasi resmi. Atas program ini, LKID pun mendatangkan pakar sanad Qur’an dari Yaman yaitu Syaikh Ibrahim Al Ammad.

Untuk pembiayaan, lembaga pengkaderan da’I ini sejak awal telah mendirikan PT. Nur Ramadhan, sebuah perusahaan tour, haji, dan umrah. Seratus persen keuntungan dari usaha travel ini didedikasikan untuk pembiayaan lembaga tahfidz.*

Rep: Ainuddin Chalik
Red: Cholis Akbar

hidayatullah.com

%d bloggers like this: