Posts tagged ‘Muhammad’

Rasulullah SAW Negarawan yang Ekonomis

kaligrafi-muhammad-saw-hijau-putih

Ilustrasi. (inet)

Oleh: Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: (إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِين). )  (Q.S. Al-Qashash (28):26

وَقَالَ رَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى r: (مَا عَالَ مَنِ اْقَتَصَدَ).)[1](

Tidak semua ahli ekonomi punya perilaku ekonomi yang tepat dan benar, tidak semua yang ekonomis tersentuh oleh keadaan masyarakat miskin yang memprihatinkan. Tetapi Rasulullah Saw negarawan yang mempraktekkan perilaku ekonomi keseharian yang cemerlang, pemimpin negara yang cepat terkontaminasi dengan masalah-masalah masyarakat miskin yang memilukan, pemerhati sosial yang menyesuaikan diri dengan lingkungan menengah ke bawah, tidak hidup foya-foya di tengah penderitaan mereka, menolak keinginan sebagian sahabat yang ingin melihat dirinya hidup sejajar dengan seorang raja atau kaisar, bahkan menolak harta dan tahta yang ditawarkan orang-orang kafir Mekah demi mengurung niatnya mendakwahkan syariat Islam yang menegaskan persamaan derajat manusia selaku hamba di sisi Allah SWT.([2])

Di antara Keteladanan ekonomis yang hidup menghias biografi beliau, kisah Fatimah RA yang mendatangi Rasulullah Saw, sementara di lehernya melingkar kalung emas. Dia ditegur dengan nada keras yang mengingatkan keurgensian kepedulian sosial di tengah masyarakat yang serba kekurangan, beliau bersabda: “wahai Fatimah, apa kata orang-orang: Fatimah binti Muhammad Saw, di tangannya ada rantai api.” Ia pun keluar dan tidak menemaninya duduk seperti biasa. Fatimah RA yang sangat mengerti perasaan Rasulullah langsung menjual kalung emas tersebut, dan harganya dipakai membeli hamba yang kemudian dimerdekakan. Rasulullah Saw pun gembira mendengarnya dan bertakbir, kemudian berkata: “Alhamdulillah yang telah menyelamatkan Fatimah dari api neraka.”([3])

Praktek ekonomi Rasulullah Saw bukan karbitan atau kopian masyarakat Madinah yang heterogen, tetapi hasil tempaan sejak dini. Ekonomi mandiri dibangun dari hasil jerih payah yang halal, bukan dari praktek dagang atau bisnis yang tidak sehat. Berkat takdir dan tadbir Allah SWT, sesi kehidupan Rasulullah Saw di Mekah menayangkan kegigihannya berjuang mencari nafkah sebagai penggembala kambing dan pedagang yang dipekerjakan oleh Sayyidah Khadijah RA, istri pertama Rasulullah Saw sendiri di kemudian hari.([4]) Di sesi ini, dia menanamkan nilai ekonomi, arti sebuah keberhasilan hidup yang didasari oleh kekuatan fisik, cara berpikir maju, amanah, dan benar dalam setiap perilaku, seperti yang ditegaskan kilauan makna ayat di atas.

Mekah, kota kelahiran Rasulullah Saw, tercatat sebagai kota bisnis terbesar di daratan Arab, selain itu, ia juga kota suci mereka. Orang-orang Quraisy Mekah memiliki dua rute perjalanan bisnis: pertama ke Yaman di musim dingin, karena kota ini sendiri cukup hangat pada musim itu, dan kedua ke Syam di musim panas. Setelah hasyim bin Abdu Manaf, yang dituakan di masyarakat Quraisy, datang, ia pun menghidupkan salah satu tipe kepedulian ekonomi dan keseimbangan sosial yang berusaha menekan jarak sosial antara yang kaya dan miskin sehingga tidak terjadi sebuah ketimpangan sosial yang melahirkan kedengkian dan kebencian. Rasulullah Saw menyaksikan semua itu. Di kunjungan bisnisnya sebagai salah satu orang kepercayaan Sayyidah Khadijah RA, ia memperagakan praktek dagang yang luar biasa. Harga barang didasari tingkat beli konsumen. Jika yang menawar dari fakir-miskin, harga pun diturunkan sehingga terjangkau oleh tingkat beli mereka, jika pembeli dari strata sosial menengah ke atas, harga pun dinaikkan sesuai daya beli mereka. Ternyata, tipe bisnis seperti ini mendatangkan laba yang berlipat ganda. Faktor inilah yang menjadi salah satu daya tarik maknawi Rasulullah Saw yang menyebabkan Sayyidah Khadijah RA menginginkan dirinya sebagai suami.

Yang diyakini juga, Rasulullah Saw pada masa ini telah menyaksikan praktek-praktek dagang yang merugikan dan mengancam dinamika sosial masyarakat yang didasari oleh kepedulian dan keseimbangan sosial. Olehnya itu, hadits-hadits Rasulullah Saw di Madinah, fase kedua kehidupan Rasulullah Saw, kaya dan sarat dengan pesan-pesan ekonomi yang meneladankan praktek bisnis yang sehat dan halal. Di antara kekayaan makna tersebut, hadits yang mengharamkan riba dan praktek-prakteknya. Olehnya itu, riba yang pertama dijatuhkan dalam sejarah bisnis Islam, riba pamannya, Abbas bin Abdul Muttalib, dan yang berhak dimilikinya hanyalah modal pokok saja.([5]) Kebijakan ekonomi ini disampaikan di Haji Wadha’. Tentunya, sentuhan kebijakan ini diterima terbuka secara luas oleh masyarakat Islam pada saat itu. Yang demikian itu karena jangkauan penerapan kebijakan ini terlebih dahulu menyentuh keluarga terdekatnya sebelum orang lain. Kebijakan seperti ini bukan hal asing sesuai dengan dialektika penerapan syariat Al-Quran yang terlebih dahulu diamini dan dilakukan oleh keluarga Rasulullah Saw dan kerabatnya sebelum orang lain.

Di samping itu, kebijakan ekonomi Rasulullah Saw mampu menciptakan kemajuan ekonomi yang mapan, tidak menggantungkan diri dari orang-orang Yahudi yang tercatat sebagai pengunjung pasar yang tahu banyak praktek-praktek ekonomi yang sakit. Olehnya itu, langkah pertama yang diambil Rasulullah Saw dalam hal ini membangun pasar sebagai sarana umum kedua setelah masjid. Pasar tersebut menjadi wadah jual beli yang memungkinkan umat Islam di Madinah meninggalkan pasar Bani Qaenaqâ’ di salah satu perkampungan Yahudi dan tidak mengunjunginya lagi untuk selama-lamanya yang memamerkan bentuk jual-beli terlarang, seperti: riba, judi, tipu, dan timbun barang.([6]) Tujuan lain pasar islami Rasulullah Saw tersebut antara lain:

  1. Menyucikan harta muslim dari kotoran tipe-tipe muamalah Yahudi yang zhalim. Ini yang di kemudian hari dikenal sebagai infrastruktur ekonomi yang paling mendasar.
  2. Menyucikan jual beli umat Islam dari pajak, sogokan, dan setoran-setoran yang tidak memperhatikan kaedah-kaedah muamalah pasar dan bisnis Islam. Yang demikian itu dapat menyebabkan kenaikan harga terhadap komoditi pasar yang diperjualbelikan. Olehnya itu, Rasulullah Saw mengharamkan pungutan bayaran tanpa alasan yang jelas.
  3. Rasulullah Saw ingin membuktikan keuniversalan Islam sebagai agama rahmat untuk seantero alam. Dia bukan hanya agama ibadah, tetapi agama yang mementingkan ekonomi umat.
  4. Pasar Islam pertama tersebut merupakan elemen penting dari terbentuknya kekuatan ekonomi yang mampu menjaga dan melestarikan harta umat.
  5. Umat Islam wajib menciptakan kesatuan ekonomi yang dipelopori negara-negara Islam dalam mengambil kebijakan-kebijakan ekonomi dalam mengatur penggunaan dan pemberdayaan sumber-sumber alam sehingga tidak dieksploitasi oleh pihak-pihak asing yang merugikan.

Kebijakan ekonomi Rasulullah Saw yang tidak kalah penting, menciptakan jalinan persaudaraan antara kaum Muhajirin Mekah dan kaum Anshar Madinah. Di antara bentuk kepedulian kaum Anshar Madinah yang menyambut baik kedatangan saudara mereka yang hijrah, keinginan mereka untuk merangkul saudara mereka menikmati harta, tanah, dan rumah dengan berbagi dua. Meskipun kaum Muhajirin mensyukuri niat baik tersebut, tetapi mereka lebih memilih bekerja dan menghidupi diri mereka sendiri dengan membuka lapangan pekerjaan baru, khususnya berdagang yang merupakan keahlian mayoritas dari mereka.([7]) Jalinan persaudaraan ini tafsiran hidup dan aplikasi nyata hadits-hadits berikut yang diberkati Q.S. Al-Hasyr (59): 9 yang memuji mereka:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r: (الْمُسْلِمُونَ تَتَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ يَسْعَى بِذِمَّتِهِمْ أَدْنَاهُمْ، وَيُجِيرُ عَلَيْهِمْ أَقْصَاهُمْ، وَهُمْ يَدٌ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ، يَرُدُّ مُشِدُّهُمْ عَلَى مُضْعِفِهِمْ وَمُتَسَرِّعُهُمْ عَلَى قَاعِدِهِمْ، لاَ يُقْتَلُ مُؤْمِنٌ بِكَافِرٍ وَلاَ ذُو عَهْدٍ فِى عَهْدِهِ (.)[8](

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ t، قَالَ: قَالَ رُسُولُ اللَّهِ r: (مَنْ كَانَ مَعَهُ فَضْلُ ظَهْرٍ ، فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لا ظَهْرَ لَهُ، وَمَنْ كَانَ لَهُ فَضْلُ زَادٍ، فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لا زَادَ لَهُ، قَالَ: فَذَكَرَ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ مَا ذَكَرَ حَتَّى رَأَيْنَا أَنَّهُ لا حَقَّ لأَحَدٍ مِنَّا فِي فَضْلٍ).)[9](

(وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ).

Kebijakan ekonomi berikutnya yang ikut menyempurnakan sistem ekonomi umat di Madinah, anjuran Rasulullah Saw memakmurkan bumi dengan menggarap dan mengolah tanah mati. Panggilan kenabian ini awal dari pengelolaan lahan pertanian yang cukup luas. Olehnya itu, seruan ini dipagar dengan kebijakan lain yang memberikan hak kepemilikan kepada siapa saja yang telah menghidupkan tanah mati.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنِ النَّبِىِّ r قَالَ: (مَنْ أَحْيَا أَرْضًا مَيْتَةً فَهِىَ لَهُ وَلَيْسَ لِعِرْقٍ ظَالِمٍ حَقٌّ).)[10](

Langkah maju ini wajib diikuti secara luas pemerintah-pemerintah negara Islam dengan memudahkan hijrah bagi penduduk wilayah-wilayah padat, sempit, dan macet ke daerah-daerah transmigrasi yang menunggu uluran tangan untuk menghidupkan lahan-lahan matinya.

Di samping itu, Rasulullah Saw memerintahkan pembukuan utang-piutang seperti yang disuarakan Q.S. Al-Baqarah (2): 282 supaya kedua belah pihak terhindar dari buruk sangka jika terjadi salah paham di antara mereka. Saling memercayai wajib mendasari setiap kontrak bisnis, tetapi itu tidak cukup, kesepakatan tersebut sepatutnya dipagari dengan catatan cek demi menjaga kepercayaan mitra bisnis. Dia pun berhasil mengakhiri monopoli dagang dan profesi bisnis Yahudi yang menguasai pasar Bani Qaenaqa’ di Madinah. Yang demikian itu karena keberhasilan ekonomi masyarakat dilihat dari pemerataan distribusi profesi bisnis di kalangan para pelaku bisnis pasar. Sementara itu, monopoli profesi bisnis memberi kesempatan sebagian pihak menentukan harga sesuai dengan keinginan mereka dan penimbunan barang yang merugikan konsumen, bahkan bisa memicu iri hati dan hasut masyarakat menengah ke bawah terhadap mereka sehingga terjadi revolusi berdarah di antara mereka, seperti yang pernah ditayangkan kehidupan masyarakat Eropa di saat buruh kerja mereka bangkit menuntut hak mereka yang direnggut zhalim oleh para pemilik properti.

Kebijakan ekonomi Rasulullah Saw yang dekat dengan di atas, kebijakannya menolak permintaan sebagian sahabat yang merasa dirugikan pihak pembeli untuk meletakkan harga terhadap komoditi pasar (التّسْعِيْر). Yang demikian itu karena jual-beli islami didasari ridha para pelaku bisnis; penjual dan pembeli. Jika Rasulullah Saw menentukan harga komoditi pasar hanya karena mengikuti keinginan pembeli, tentunya penjual merasa dizhalimi. Sementara itu, kepala pemerintah (Rasulullah Saw dalam hal ini) wajib memberikan kebijakan menguntungkan dan pelayanan yang sama terhadap semua elemen masyarakat, khususnya masyarakat pasar. Di lain sisi, penentuan harga barang menyebabkan para penjual hijrah mencari pasar-pasar alternatif, sehingga dengan sendirinya harga barang naik karena terjadi loncatan permintaan dari pihak konsumen, sementara komoditi pasar yang diperjualbelikan berkurang seiring dengan hijrahnya para pemilik barang ke tempat lain. Kesadaran ekonomi ini dapat Anda temukan di hadits-hadits berikut:

عَن أَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيّ رt أَن رَسُولَ اللهِ r َ قَالَ: (إِنَّمَا البيع عَن ترَاضٍ).)[11](

عَنْ أَبِي حُرَّةَ الرَّقَاشِيِّ عَنْ عَمِّه عَن رَسُول الله r : (لاَ يَحِلُّ لاِمْرِئٍ مِن مَالِ أَخِيهِ شَيْء إِلَّا بِطيب نَفْس مِنْهُ).)[12](

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ النَّاسُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، غَلاَ السِّعْرُ فَسَعِّرْ لَنَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r: (إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّازِقُ، وَإِنِّى لأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللَّهَ وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يُطَالِبُنِى بِمَظْلَمَةٍ فِى دَمٍ وَلاَ مَالٍ).)[13](

Selain itu, Rasulullah Saw menganjurkan efisiensi dan hemat dalam menggunakan sumber daya alam. Bukankah hemat pangkal kaya, seperti penegasan hadits kedua di atas? Sumber daya alam yang tidak dikelola dengan efisien akan terkuras perlahan-lahan dan habis meski ia mengalir seperti air pancuran yang deras. Ini ditegaskan sendiri hadits Rasulullah saw yang menganjurkan efisiensi penggunaan air meski Anda dibanjiri air.

عَنِ ابْنِ عُمَر t: (أَنَّ النَّبِيَّ r مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَقَالَ: مَا هَذَا السَّرَفُ؟ قَالَ: أَفِي الْوُضُوءِ إسْرَافٌ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَإِنْ كُنْت عَلَى نَهْرٍ جَارٍ).([14])

Boros menggunakan sumber daya alam menjanjikan kemiskinan dan kemalangan nasib yang berkepanjangan. Olehnya itu, sejak dini Rasulullah Saw mengingatkan umat keurgensian hemat demi menjaga berkah Allah SWT dalam mengelola kekayaan alam. Ustadz Said Nursi yang mengikuti keteladanan Rasulullah Saw dalam menghidupkan sifat baik tersebut mencoba memberikan contoh perbandingan antara yang menghidupkan praktek ekomomis yang efisien dengan yang mengabaikannya, beliau berkata:

Kenikmatan yang tengah dirasakan si miskin dari sepotong roti kering lagi berjamur hanya karena lebih mengedepankan sifat ekonomis dapat melebihi cita rasa sang penguasa atau orang kaya yang sedang mencicipi manisan dengan penuh kebosanan dan selera makan yang berkurang akibat keborosan. Dan yang patut dicengangkan, keberanian sebagian pihak yang mengabaikan praktek ekonomis untuk melancarkan tuduhan hina yang tidak beralasan kepada mereka yang hemat. Sementara di lain pihak, hemat adalah kemuliaan dan kebersahajaan, sedangkan kehinaan dan kemalangan adalah hasil dari praktek boros yang tengah dijalankan.“([15])

Olehnya itu, kesadaran berperilaku ekonomi secara luas wajib disosialisasikan secara terpadu yang digerakkan oleh pemerintah-pemerintah negara Islam bersama masyarakat dunia Islam sehingga tercipta ekonomi Islam yang bebas dan suci dari praktek-praktek ekonomi kotor. boros bukan hanya terbatas pada penggunaan sumber daya alam secara berlebihan, tetapi lebih dari itu, boros dapat juga dimaknai dengan hilangnya kepedulian sosial dan ekonomi melihat kezhaliman tangan-tangan jahil yang merampas hak-hak orang miskin, tidak bangkit menghentikan praktek riba dan kecurangan di pasar dengan menambah dan mengurangi takaran. Kondisi memprihatinkan inilah sebab utama bencana dan musibah yang tidak kunjung berhenti merenggut korban jiwa dan kerugian harta yang tidak terkira. Seandainya bumi ini tidak dihuni oleh makhluk Allah SWT selain dari manusia, langit tidak akan pernah kelihatan mendung memberi curah hujan, seperti yang diperingatkan Rasulullah Saw di bawah ini:

عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِى رَبَاحٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: (أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ r فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ، خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ، لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِى قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِى لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِى أَسْلاَفِهِمُ الِّذِينَ مَضَوْا. وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤُنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ، وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ، وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِى أَيْدِيهِمْ. وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ).([16])

Kepedulian ekonomi Rasulullah Saw ini tidak melupakan makna-makna kehidupan, tetapi material ekonomi Islam senantiasa dikaitkan dengan arti-arti maknawi kehidupan yang menyegarkan. Harta dan ekonomi mapan bukanlah tujuan utama kehidupan dan standar kejayaan, tetapi ia tidak lain kecuali wasilah yang menjembatani manusia memperoleh keridhaan Allah SWT. Olehnya itu, Rasulullah Saw sering kali ditemukan berjalan-jalan di pasar mengingatkan mereka jual beli yang diharamkan Islam dengan membaca ayat ini: (وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِيْنَ). Mereka pun sadar dan mengikuti tuntunan ayat itu demi lahirnya jual beli yang halal dan sehat. Bukan hanya itu, makna lain yang dikaitkan dengan material ekonomi Islam, hakikat makna orang-orang yang merugi. Bagi Islam sendiri, yang benar-benar rugi bukan yang tidak punya uang, tetapi yang rugi mereka yang tidak menuai ibadahnya di dunia dari shalat, zakat, dan seterusnya. Yang demikian itu karena lidah dan tangan mereka penuh dengan kotoran-kotoran kezhaliman yang suka melukai perasaan orang lain dengan cacian, ghibah, namimah, dan tindak kekerasan yang mengancam nyawa. Hakikat maknawi ini terhias indah di hadits Rasulullah Saw berikut ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r قَالَ: (أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِس؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ ).([17])

Di samping itu, bagi Islam sendiri, kaya hati salah satu kekayaan maknawi yang lebih penting dari kaya harta. Yang miskin hati selalu merasa kekurangan dan gelisah memikirkan siang malam kekayaannya dan takut kehilangan segala-galanya. Tetapi yang kaya hati selalu ingin menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT, hatinya damai, tidak terfitnah oleh hartanya sendiri sehingga melupakan ibadah, tetapi ia menjadikan harta tersebut jembatan maknawi meniti ridha Allah SWT di jalan-jalan kebaikan. Hakikat makna ini disebutkan jelas hadits berikut ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r: (لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ).([18])

Yah, kelaparan, kefakiran, dan kemiskinan wabah sosial yang sangat ditakuti Rasulullah Saw. Tetapi, ia pun menakuti keindahan-keindahan dunia yang membuai menjadi bunga-bunga kehidupan yang dapat menjerumuskan umat ke jurang kehancuran. Fitnah harta, wanita, dan tahta sungguh sangat ditakuti Rasulullah Saw. Ketakutan ini bukanlah pepesan kosong, tetapi nyata terbukti di kehidupan sehari-hari. Saling menyikut, menyingkirkan, menodai, bahkan membunuh lahir dari ketamakan hawa nafsu yang ingin menggenggam fitnah-fitnah dunia itu meski harus melukai sesama. Kekhawatiran ini ditumpahkan Rasulullah Saw di sabdanya berikut ini:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ t أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ r قَالَ :أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مَا يُخْرِجُ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا. قَالُوا: وَمَا زَهْرَةُ الدُّنْيَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: بَرَكَاتُ الأَرْضِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَهَلْ يَأْتِى الْخَيْرُ بِالشَّرِّ ؟ قَالَ: لاَ يَأْتِى الْخَيْرُ إِلاَّ بِالْخَيْرِ ،لاَ يَأْتِى الْخَيْرُ إِلاَّ بِالْخَيْرِ ،لاَ يَأْتِى الْخَيْرُ إِلاَّ بِالْخَيْرِ . إِنَّ كُلَّ مَا أَنْبَتَ الرَّبِيعُ يَقْتُلُ أَوْ يُلِمُّ إِلاَّ آكِلَةَ الْخَضِرِ فَإِنَّهَا تَأْكُلُ حَتَّى إِذَا امْتَدَّتْ خَاصِرَتَاهَا اسْتَقْبَلَتِ الشَّمْسَ ثُمَّ اجْتَرَّتْ وَبَالَتْ وَثَلَطَتْ ثُمَّ عَادَتْ فَأَكَلَتْ. إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِحَقِّهِ وَوَضَعَهُ فِى حَقِّهِ فَنِعْمَ الْمَعُونَةُ هُوَ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِغَيْرِ حَقِّهِ كَانَ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ).([19])

Di penghujung tulisan ini, saya mengajak para pecinta ekonomi Islam menyuarakan kesimpulan berikut:

“Islam bukan hanya agama ibadah, tetapi agama yang peduli terhadap keselamatan ekonomi umat dari praktek-praktek bisnis yang kotor. Harta dan kejayaan bisnis bukanlah tujuan utama, tetapi ia ditempatkan sebagi jembatan maknawi meniti ridha Allah SWT. Rasulullah Saw negarawan yang telah mencontohkan perilaku ekonomi sehat, peduli derita masyarakat miskin, memompa semangat ekonomi Islam untuk mengambil alih tali kekang perekonomian dari tangan Yahudi yang dipenuhi dengan kecurangan-kecurangan yang merugikan. Dia selalu mengaitkan material ekonomi dengan makna-makna kehidupan sehingga semangat beragama umat tetap hidup terpatri di tengah pengaruh-pengaruh materi yang membutakan. Yang paling menakutkan dari sebuah kejayaan ekonomi adalah fitnah dunia dan ini pun disadari Rasulullah Saw sebagai ancaman berbahaya yang dapat melahap semua berkah bumi yang telah diraih. Olehnya itu, pesan-pesan maknawinya terlebih dahulu mengingatkan umat terhadap ketakutan tersebut. Hematnya, Jika Rasulullah Saw ingin disejajarkan dengan para reformer dan revolusioner  ekonomi, ia berada di garda depan yang tidak tertandingi. Ini yang diyakini penulis, dan semoga itu juga yang diyakini para pemerhati ekonomi Islam.”


Catatan Kaki:

([1])   Hadits riwayat Sunan Imam Ahmad dan Imam at-Tabrâni di al-Mu’jam al-Kabîr dan Mu’jam al-Awsat. Ibrâhîm bin Muslim al-Hajarî, salah satu perawi hadits ini terhitung lemah periwayatannya oleh ahli hadits. Lihat: Majma’ az-Zawâid wa Manba’ al-Fawâid, hadits, no: 17848, hlm. 443

([2])   Lihat: Syekh Shafiyyu ar-Rahmân al-Mubarkafuri, ar-Rahîq al-makhtûm, Dar Ibn Khaldun, hlm. 69

([3])   Hadits riwayat Tsawbân Mawla Rasulullah Saw di Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, hadits. no: 22398, vol. 37, hlm. 83-84

Para pentahkik musnad ini berkata: “perawi-perawi hadits ini semuanya terpercaya, akan tetapi ada perbedaan terhadap yahya bin Abi Katsir, apakah ia mendengar hadits itu dari Zaid bin Sallam atau tidak? Yang paling kuat, sebuah kitab yang diambil Yahya dari Muawiyah bin Salam, saudara Zaid, dan di riwayat ini dinyatakan secara jelas bahwa Yahya mendengar langsung dari Zaid. Sementara itu, imam an-Nasai melihat bahwa Zaid bin Salam memberikan izin kepada Yahya bin Abi Katsir untuk meriwayatkan haditsnya, dan izinnya ini diketahui saudaranya, Muawiyah, sehingga Yahya dengan izin itu meriwayatkan haditsnya dengan lafadzh: (حَدَّثَنَا), sementara itu, baiknya jika ia mengatakan: (إِجَازَة), artinya, periwayatan yang didasari oleh izin sebelumnya.“

([4])   Lihat: Ibn Ishaq, as-Sirah an-Nabawiyyah, hlm. 128

([5])   Shahih Imam Muslim, kitab al-haj, bab hujjah an-nabi, hadits no: 3009.

([6])   Ahmad Ibrahim Syarif, Makkah wa al-madinah fil jahiliyah wa ahd ar-Rasul Saw, Darul fikri al-arabi, vol. 1, hlm. 299

([7])   Lihat: Syekh Shafiyyu ar-Rahmân al-Mubarkafuri, Op. Cit, hlm. 144

([8])   Hadits riwayat Sunan Imam Abi Daud, kitab jihad, bab fi as-sariyyah taruddu ala ahli al-askar, hadits no: 2753

([9])   Hadits riwayat Shahih Imam Muslim, kitab al-laqatah, bab istihbâb al-muâsah bi fudulil mâl, hadits no: 4614

([10]) Hadits riwayat Sunan Imam Abi Daud, kitab al-Kharâj, bab fi ihyail mawât, hadits no: 3075

([11]) Hadits shahih Sunan Imam Ibn Majah, kitab at-tijarah, bab bae al-khiyar, hadits. No: 2185

([12]) Hadits shahih li gairihi Musnad Imam Hanbal, hadits. No: 20695, vol. 34, hlm. 299

([13]) Hadits shahih Sunan Imam Abi Daud, kitab at-tijarah, bab fi at-tas’ir, hadits. No: 3453

([14])                 Hadits riwayat Imam Ibn Majah dan yang lain. Sanad hadits ini lemah karena diantara perawi-perawinya ada yang lemah, seperti: Huyaei bin Abdillah dan Ibn Luhaeah. Lihat: Syekh al-Hasan bin Ahmad ar-Ruba’i, Fathul Gaffâr al-Jâmi’ li Ahkâmi Sunnati Nabiyyina al-mukhtâr, kitab at-Tharah, hadits. No: 312, hlm. 109

([15]) Said Nursi, al-lama’ât, hlm. 217

([16]) Jâmi al-hadits, hadits no: 26326

([17]) Hadits riwayat Shahih Imam Ibn Hibbân, kitab al-hudud, bab az-zina wahdah, hadits no: 4411

([18]) Muttafaq alaih, di Shahih Imam Muslim, kitab zakat, bab laesa al-gina an-kasrah al-arad, hadits no: 2467

([19]) Shahih Imam Muslim, kitab zakat, bab takhawwuf ma yakhruj min zahrah ad-dunya, hadits no: 2469

*) Penulis adalah Doktor (S3) di Universitas al-Azhar, Kairo, jurusan Tafsir.

http://m.dakwatuna.com

 

NABI BESAR MUHAMMAD S.A.W TERSEBUT DALAM OLD TESTAMENT DAN NEW TESTAMENT

Oleh: Drs. H. Ibrahim Lubis Sm.HK

Berita akan lahirnya Nabi Muhammad s.a.w itu telah lama diketahui manusia sejak zaman Nabi Musa a.s sampai dengan Nabi Isa a.s., yang disebut Yesus oleh kaum Nashara. Suatu berita dunia yang luar biasa, yang memberitakan akan lahirnya seorang besar yang tidak ada tandingannya di dunia ini, baik di zaman Nabi-nabi sebelumnya dan masa kini, maupun di masa yang akan datang sampai akhir zaman.

Dan mengenai hal ini, Allah s.w.t berfirman di dalam Al-Qur’an:

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf /7: 157)

Dan Nabi Isa a.s juga sudah memberi kabar akan datangnya Nabi Muhammad s.a.w kepada kaumnya (Bani Israel), sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an:

“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”, Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. Ash-shaff / 61: 6)

Bahkan sebagian besar Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) telah mengenal Muhammad s.a.w seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri, sebagaimana tersebut di dalam Al-Qur’an:

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”
(QS Al-Baqarah/2 :146-147)

Dalam abad Teknologi ini, Nabi Muhammad s.a.w diberi peringkat nomor satu di Dunia.! alias Manusia nomor Wahid.!

Silakan baca buku: 100 tokoh paling berpengaruh, karya Michael H. Hart

Pemberitaan kelahirannya yang tersebut dalam Taurat dan Injil diikuti dengan kenyataan, sekalipun kedua Kitab agama itu sudah banyak dirubah oleh tangan manusia. Tetapi mengenai soal pemberitaan lahirnya Nabi Muhammad s.a.w tangan manusia tidak sanggup mengubahnya. Tetapi akan tetap tercantum menurut kebenarannya sampai akhir zaman. ‘Ajaib.!

Baiklah kita kutip ayat-ayat dari Taurat dan Injil itu yang sehubungan dengan Nabi Muhammad s.a.w.

Tersebutlah dalam Taurat (Perjanjian Lama) Ulangan 18:17-18, demikian: “Maka pada masa itu berfirmanlah Tuhan kepadaku (Musa) : Benarkah kata mereka itu (Bani Israel).”
“Bahwa Aku (Allah) akan menjadikan bagi mereka itu seorang Nabi dari antara segala saudaranya (Bani Israel) yang seperti engkau (hai Musa), dan Aku akan memberi segala firman-Ku dalam mulutnya dan dia pun akan mengatakan kepadanya segala yang kusuruh akan dia.”
Selanjutnya Ulangan 18:19 menegaskan: “Bahwa sesungguhnya barangsiapa yang tiada mau dengar akan segala firman-Ku, yang akan dikatakan olehnya dengan Nama-Ku, niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang itu.”

Tiga buah ayat dari Taurat (Perjanjian Lama) yang dikutip dari Buku “Nabi Isa dalam Al-Quran dan Nabi Muhammad dalam Bible” karangan Prof. Drs. H. Hasbullah Bakry, S.H. sudah cukup yang memberitakan akan kedatangan Nabi Muhammad s.a.w itu.

Dalam hubungan dengan tiga ayat dari Ulangan 18 itu Prof. Drs. H. Hasbullah Bakry, S.H., memberi tafsirnya, demikian:
Dalil pertama: “Seorang Nabi dari antara segala saudaranya.” Isyarat ini menunjukkan bahwa Nabi yang dinubuatkan oleh Tuhan itu akan timbul dari saudara-saudara Bani Israel, tetapi bukan dari Bani Israel sendiri. Adapun di antara saudara-saudara Bani Israel itu ialah Bani Ismail (Bangsa Arab), sebab Ismail adalah saudara tua dari Ishak, bapak dari Israel (Yakub a.s). Dan Nabi Muhammad s.a.w sudah jelas adalah keturunan Bani Ismail.

silakan baca disini:Silsilah Nabi Muhammad s.a.w pada silsilah 25 Nabi dan Rasul Allah.

Dalil kedua: ialah “yang seperti engkau.Jadi Nabi yang akan datang itu haruslah seperti Nabi Musa, maksudnya Nabi yang membawa Agama baru dan Syariat baru seperti Nabi Musa a.s. Perlu kita ketahui bahwa surah-surah kitab Ulangan sebelum nubuat ini berisi hukum-hukum Taurat, syariat untuk Bangsa Israel, Jadi maksudnya Nabi itu menyerupai Nabi Musa dalam soal membawa syariat itu. Dan seperti kita ketahui Nabi Muhammad s.a.w itulah satu-satunya Nabi yang membawa syariat baru (agama Islam) yang juga berlaku untuk bangsa Israel.

Dalil Pertama dan dalil kedua cocok sebab Nabi lain yang membawa syariat seperti Nabi Musa a.s bagi bangsa Isreal tidak akan ada lagi sesudah Musa. Hal ini diterangkan Tuhan dalam ayat Taurat berikutnya yaitu: kitab Ulangan 34: 10 yang bunyinya: ” Maka diantara Isreal tidak berbangkit pula seorang Nabi yang seperti Musa, yang dikenal oleh Tuhan muka dengan muka.”

Seperti kita maklum baik Nabi Elia atau Elisa atau Yahya Pembaptis atau Isa Al-Masih semuanya dari Bani Israel dan semua menyungguhkan syariat Taurat dan bukan menggantinya. Jadi sudah jelaslah bukan mereka yang dimaksud oleh ayat-ayat ini.

Umat Nasrani yang menganggap bahwa Nabi itu ialah Nabi Isa sudah terang bertentangan dengan kedua dalil diatas, sebab Nabi Isa sendiri adalah bangsa Israel dan Nabi Isa juga tidak seperti Nabi Musa yang dikenal Tuhan muka dengan muka, maksudnya menerima langsung syariat baru (agama baru)“, (lihat buku “Nabi Isa dalam Al-Quran dan Nabi Muhammad dalam Bible” hal. 148)

Sehubungan dengan ayat 19 kitab Ulangan yang menyebutkan “yang akan dikatakan olehnya dengan Nama-Ku”, dapatlah kita saksikan sekarang ini bahwa jika orang Islam membacakan wahyu-wahyu Ilahi (Al-Qur’an) itu didahului dengan menyebut “Nama Allah, Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang”. Jadi benar-benar merupakan bukti dari pemberitaan Taurat itu.

Setelah Taurat (Perjanjian Lama) kita lihat lagi pemberitaan dari Injil (Perjanjian Baru), dimana tangan manusia tidak sanggup menghapuskan pemberitaan itu yang memberitakan akan kedatangan Nabi Muhammad s.a.w.

Dalam hubungan ini Injil Yahya (Yohanes) 14: 16-17 dan 15: 26-27 dan 16: 7-15 memberitakan demikian:
“Dan aku akan mintakan kepada Bapa, maka ia akan mengaruniakan kepada kamu Penolong yang lain, supaya ia menyertai kamu selama-lamanya.

“Yaitu Roh kebenaran, yang dunia ini tidak dapat menyambut oleh sebab tiada ia nampak Dia dan tiada kenal Dia, tetapi kamu ini kenal Dia, karena ia tinggal beserta dengan kamu dan ia akan ada di dalam kamu.”

“Akan tetapi apabila datang Penolong yang akan kusuruhkan kepadamu daripada Bapa, yaitu Roh kebenaran yang keluar daripada Bapa itu, ialah akan menyaksikan dari halku.”

“Dan kamu pun akan menjadi saksiku, oleh sebab kamu telah ada bersama-sama dengan aku dari mulanya.”

“Tetapi aku ini mengatakan yang benar kepadamu, bahwa berfaedahlah bagi kamu jikalau aku ini pergi, karena jikalau tiada aku pergi, tiadalah Penolong itu akan datang kepadamu, tetapi jikalau aku pergi, aku akan menyuruhkan dia kepadamu.”

“Apabila ia datang maka ialah akan menerangkan kepada isi dunia ini dari hal dosa dan keadilan dan hukuman.”
“dari hal dosa, sebab tiada mereka itu percaya akan daku,
“dari hal keadilan, sebab aku pergi kepada Bapa dan tiada lagi kamu melihat aku,
“dari hal hukuman, sebab penghulu dunia ini sudah dihukumkan.”
“Banyak lagi perkara yang aku hendak katakan kepadamu, tetapi sekarang ini tiada dapat kamu menanggung dia.”

“Akan tetapi apabila ia sudah datang, yaitu Roh kebenaran, maka ia pun akan membawa kamu kepada segala kebenaran, karena tiada ia berkata-kata dengan kehendaknya sendiri, melainkan barang yang didengarnya itu juga akan dikatakannya, dan dikhabarkannya kepadamu segala perkara yang akan datang.”

“Maka ia akan memuliakan aku, karena ia akan mengambil daripada hak aku, lalu mengkhabarkan kepadamu.”

“Segala sesuatu yang hak Bapa itu juga hak aku, oleh sebab itu aku berkata, bahwa diambilnya daripada hak aku, lalu dikhabarkannya kepadamu.”

Demikianlah ayat-ayat Injil (Perjanjian Baru) yang diketengahkan oleh Prof. Drs. H. Hasbullah Bakry, S.H., dalam bukunya ” Nabi Isa dalam Al-Quran dan Nabi Muhammad dalam Bible.”

Prof. Drs. H. Hasbullah Bakry, S.H. memberi tafsir demikian:

Dalil pertama: Dalam ayat Yahya 14: 16 itu dikatakan bahwa Penolong itu akan menyertai kamu selama-lamanya. Ini maksudnya bahwa Penolong itu adalah Nabi akhir zaman, tidak ada lagi penggantinya (Penolong) lain yang akan membawa syariat baru lagi. Dan syariat agama yang akan dibawa oleh Nabi (Penolong) itu akan berlaku terus hingga hari kiamat. Nabi itu adalah Nabi Penutup (Khatamun Nabiyyin, QS.Al-Ahzab/33:40) yang syariatnya akan menyertai manusia sepanjang zaman dunia ini.

Mengenai istilah “Penolong” ini sebenarnya berasal dari istilah Yunani Peracletos yang berarti “Penghibur” atau “Menahem” dalam bahasa Yahudi. Tetapi disini kita tidak usah mempertentangkan arti “Penolong” atau “Penghibur” sebab kedua-duanya dapat diterima untuk dinisbahkan kepada Nabi Muhammad s.a.w dan kedua-duanya berarti baik, tidak bertentangan satu sama lain. Dalam pada itu kata Paracletos itu menurut Dr. GA. Nallino seorang orientalist bangsa Italia berarti dalam bahasa Arab “Ahmad” atau “Muhammad” yang juga berarti yang banyak terpuji.

Dalil kedua: Dalam ayat Injil Yahya 14: 17 dikatakan bahwa dunia ini umumnya tidak kenal dan tidak nampak akan (kedatangan) Penolong itu tetapi (kamu) umat Yahudi mengenalnya sebab Roh kebenaran (wahyu) yang dibawa Penolong atau Nabi itu ada pula beserta kamu yaitu kitab Taurat dimana disebutkan didalamnya tentang kedatangan Nabi (Penolong) itu, dan kitab yang dibawa Nabi itu sesuai pula dengan isi kitab Taurat yang ada pada kamu. Dalil ini sudah jelas sekali menunjukkan kepada kenabian (nubuat) Nabi Muhammad s.a.w yang seperti telah kita terangkan dalam bab-bab yang lama dengan terang dan telah dinubuatkan oleh kitab-kitab Nabi Perjanjian Lama.

Dalam penafsiran selanjutnya Prof. Drs. H. Hasbullah Bakry, S.H. mengetengahkan “Dalil kesembilan” sampai “Dalil keduabelas”, yang bunyinya demikian:

“Dalil kesembilan”: Dalam ayat Yahya 16:12 dikatakan bahwa sebenarnya masih banyak yang akan disampaikan oleh Nabi Isa kepada umatnya (Bangsa Israel) tetapi karena telah nyata bangsa Israel itu enggan (tidak dapat) menanggungnya lalu Nabi Isa meminta diri dengan izin Alloh untuk menghabisi dakwahnya dan menjanjikan saja akan kedatangan Nabi Besar (Penolong) yang dinubuatkannya itu.

Ayat ini sudah jelas menunjukkan bahwa sudah tidak mungkin Nabi Isa a.s akan kembali kedua kalinya (?) dan sudah pastilah Nabi Isa a.s itu bukan Tuhan yang dapat jemu dan salah masa dalam operasi dakwahnya dan tidak mungkin seorang “Tuhan” lemah dalam menghadapi kadar penentuannya sendiri. Ayat ini dijelaskan maksudnya pada ayat berikutnya yaitu tentang penerusan tugas Nabi Isa a.s itu oleh Nabi Besar yang dijanjikan itu yaitu Nabi Muhammad s.a.w.

“Dalil kesepuluh”: Dalam ayat Yahya 16:13 dikatakan bahwa Nabi Besar yang akan datang itu tidaklah berkata-kata atas kehendaknya sendiri tentang ajaran agama yang dibawanya akan tetapi Nabi Besar itu akan menyampaikan saja apa yang dikatakan Alloh kepadanya. Ayat nubuatan ini sangat Ajaib sekali telah sesuai dengan Ayat Al-Quran surat An-najm/53: 3-4 yang berbunyi: “Tiadalah dia Muhammad itu bertutur menurut hawa napsunya sendiri, melainkan dia (bertutur) menurut wahyu Alloh yang disampaikan kepadanya.” Dengan adanya ayat Al-Quran ini sudah jelaslah apa yang dinubuatkan oleh Nabi Isa a.s adalah Nabi Muhammad s.a.w.

“Dalil kesebelas”: Dalam ayat Yahya 16:14 dikatakan bahwa Nabi Besar itu juga akan memuliakan Nabi-nabi lainnya dan tidaklah dia akan merendahkannya sebab Nabi adalah mengambil dan meneruskan hak Isa yaitu ajaran kitab Injil yang berasal daripada Alloh.

Bahwa ayat ini jelas sekali menunjukkan nubuat Nabi Muhammad s.a.w cukuplah kalau kita pelajari ayat-ayat Al-Quran ini yaitu Surat Ali Imran/3: 2-4 yang berbunyi:
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.”
“Dia menurunkan Kitab Al-Quran kepadamu (hai MUhammad) dengan sebenarnya; membenarkan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya yaitu Taurat dan Injil guna petunjuk bagi manusia dan diturunkannya Quran itu sebagai Pembeda antara yang benar dan yang salah.”
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir pada ayat-ayat Allah itu akan memperoleh siksa yang berat, dan Alloh Maha Perkasa lagi mempunyai siksa.”

Dalam ayat-ayat ini jelas dinyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah membenarkan ajaran-ajaran Taurat yang dibawa Nabi Musa a.s dan Injil yang dibawa Nabi Isa a.s disamping membedakannya daripada kesalahan-kesalahan tangan manusia yang terdapat pada kitab-kitab itu.

“Dalil keduabelas”: Dalam ayat selanjutnya yaitu Yahya 16: 15 dikatakan bahwa hak Isa (agama) yang diambil (diteruskan) oleh Nabi Muhammad itu ialah hak (agama) Alloh seperti juga semua hak (agama) yang diajarkan Nabi-nabi sebelum mereka adalah hak (agama) Alloh semua. Jadi soalnya adalah sama saja (maksud Nabi Isa). Jadi janganlah umatnya (muridnya) yang ditinggalkannya itu menjadi berdukacita karena ditinggalkannya itu.

Ayat ini jelas sekali menunjuk nubuat Nabi Muhammad, sebab seperti kita maklum agama Islam adalah meneruskan agama Alloh yang dibawa oleh Nabi Isa seperti sudah berkali-kali dikatakan dalam Al-Quran. Dan hal ini sudah berkali-kali kita terangkan pada penjelasan-penjelasan yang terdahulu.

Demikian pasal yang ke-6 ini seluruhnya (keduabelas dalil itu) menguatkan nubuat Nabi Muhammad s.a.w.

Demikian Prof. Drs. H. Hasbullah Bakry, S.H. menafsirkan ayat-ayat Injil Yahya tersebut.

Bagaimanakah menurut Kenyataan Sejarah ?


Peta kawasan Timur Tengah pada zaman Nabi Muhammad s.a.w

Ketika Nabi Muhammad s.a.w masih kanak-kanak, oleh pamannya, Abu Thalib, Nabi dibawa bepergian ke negeri Syam. Setelah perjalanan itu sampai di Busrah, Abu Thalib bertemu dengan seorang pendeta Kristen, yang bernama Buhaira. Pendeta Kristen ini meletakkan perhatiannya kepada anak yang dibawanya itu. Yang dilihatnya ada sifat-sifat kenabian. Lalu pendeta Buhaira ini memperingatkan Abu Thalib, demikian: “Hendaknya engkau menjaga baik-baik anak ini yang engkau bawa ini, karena ia bukanlah anak biasa (sembarangan). Anak ini di belakang hari akan menjadi Nabi dan Rasul Tuhan yang terakhir, yang menjadi penutup sekalian Nabi dan Rasul; ia akan dimusuhi oleh Bangsanya. Karenanya, bila engkau telah sampai di negeri Syam, maka hendaklah dengan segera ia bawa kembali pulang ke negerimu, karena jikalau engkau berlama-lama di negeri Syam dan sampai diketahui anak itu oleh orang-orang Yahudi, tentulah ia dibunuh oleh mereka.”

Demikianlah pendeta Kristen Buhaira menyatakan akan kenabian Nabi Muhammad s.a.w ketika ia bertemu di Busrah sewaktu Nabi masih kanak-kanak.

Ketika Nabi telah menerima keangkatannya sebagai Nabi dan Rasul Alloh pada tanggal 17 Ramadhan tahun 41 Fil (6 Agustus 610 M) di Gua Hira (Jabal Nur) yang diberitahukan kepad istrinya Khadijah, di mana Nabi merasa khawatir atas dirinya, dengan peristiwa pelukan Jibril di Gua Hira itu, maka Siti Khadijah mengajaknya untuk bertemu dengan seorang pendeta Kristen bernama Waraqah bin Naufal. Maksudnya ialah untuk memberitahukan kepada pendeta itu mengenai peristiwa yang ajaib yang dialami oleh Nabi.
Setelah menceritakan pengalamannya di Gua Hira itu, maka pendeta Kristen Waraqah bi Naufal spontan berkata, “Quddus, quddus, hai anak lelaki saudaraku! ini rahasia yang paling besar yang pernah Allah turunkan kepada Nabi Musa a.s. Oh.. umudah-mudahan aku masih hidup dapat melihat bangsamu nanti mengusir engkau”.

Sesudah Nabi menjalankan missionnya yang diterima dari Allah s.w.t., ialah mendakwahkan agama Islam, dan mempertahankannya dari serangan bangsanya yang memusuhi Islam itu, yang berjalan dalam waktu yang relatif pendek (23 tahun), maka setelah pemerintahan kaum Muslimin berada ditangan Khalifah-khalifahnya, mimpi Raja Nebukadnezar (Raja Babilon) menjadi kenyataan. Mimpi Raja Nebukadnezar itu yang dirakbirkan oleh Nabi Danial, yang tersebut dalam kitab Perjanjian Lama (Taurat), antara lain bunyinya demikian: “Maka pada zaman raja-raja itu oleh Allah yang di surga akan diadakan sebuah kerajaan, yang pada selama-lamanya tiada dapat dibinasakan, maka kerajaan itu tiada akan diserahkan kepada salah satu bangsa yang lain, dan dia itu pun menghancurkan dan meniadakan segala kerajaan itu, tetapi ia sendiri akan kekal selama-lamanya.” (Nabi Danial 2:44)

” Maka itulah sebabnya tuanku (Raja Nebukadnezar) melihat sebuah batu gunung gugur sendirinya dengan tiada tulungan tangan, lalu dihancurluluhkannya besi dan tembaga dan tanah liat dan perak dan emas. Bahwa Allah Ta’ala sudah memaklumkan kepada tuanku, barang yang akan terjadi pada kemudian hari, bahwa sesungguhnya inilah mimpi tuanku dan tentulah takbirnya.” (Nabi Danial 2:45)


Peta wilayah Khilafah Islam

Takbir mimpi Raja Nebukadnezar dari Kerajaan Babilonia Baru (604-562 S.M) oleh Nabi Danial diikuti dengan bukti yang nyata, ialah wilayah kekuasaannya yang meliputi Mesir, Syria, Libanon, Palestina setelah Khalifah-khalifah Rasulullah masuk dalam kekuasaan Islam dan menjadi negeri-negeri Muslimin (Islam) yang tak bakal terhapuskan.

Apakah yang menyebabkan kekuasaan Islam itu cepat menguasai bekas kerajaan Nebukadnezar? Bukan pedang! Pedang itu baru boleh dicabut dari sarungnya, kalau umat Islam diserang.

Penduduk bekas kerajaan Nebukadnezar memang telah merindukan kedatangan Islam di negeri-negeri mereka, karena sudah tak tahan di bawah kekuasaan Rumawi Timur (Byzantium) dan Persia ketika itu. Karenanya, ketika pahlawan-pahlawan Islam datang di negeri-negeri itu disambutnya dengan gegap gempita, dan dengan mudahnya kekuasaan Rumawi Timur dan Persia ditumbangkan berkat bantuan penduduk negeri-negeri yang sudah tidak tahan penindasan itu.

Pokok mission yang dibawa oleh Pahlawan-pahlawan Islam itu adalah Akhlaq karimah yang diwariskan Rasulullah s.a.w kepada pengikut-pengikutnya. Dengan Akhlaq karimah itu Rasulullah s.a.w menegakkan hubungan baik dengan sesama manusia, yang diwarisi oleh pahlawan-pahlawan Islam dan kaum Muslimin pada permulaan Abad Hijriyah.

Akhlaq Karimah yang dibawa itulah merupakan “sebuah batu gunung yang gugur sendiri dengan tiada tolongan tangan”, yang menghancurkan bekas kerajaan Nebukadnezar itu, dimana kerajaan Ruwawi Timur dan Persia tidak sanggup menahannya.

Demikianlah Nubuat Taurat dan Injil itu diikuti dengan kenyataan sejarah dan tak akan terhapuskan untuk selama-selamanya, seperti yang dinubuatkan oleh Nabi Danial.

Akhirnya, kalau Umat Islam sekarang ini menyuarakan bahwa abad XV ini adalah “Kebangkitan Umat Islam”, maka yang harus dibangkitkan pada diri tiap Muslim, teristimewa pada pemimpin-pemimpinnya ialah Akhlaqul Karimah.

Penulis mengutip isi Majalah Kiblat mengenai Nubuat Taurat dan Injil diikuti kenyataan, yang dimaksud ialah bahwa kedatangan Nabi Besar Muhammad s.a.w telah tercantum atau tersebut di dalam Kitab-kitab Old Testament yang dibangsakan kepad Kitab Taurat dan New Testament yang dibangsakan kepada Kitab Injil (Old Testament = Perjanjian Lama dan New Testament = Perjanjian Baru). Hal ini Penulis maksud bahwa berita ini bukanlah rahasia dimana sudah dimuat di dalam majalah Kiblat.

Yang termasuk ke dalam Old Testament itu ialah :
o Kitab Kejadian
o Kitab Keluaran
o Kitab Lewi (Imamat)
o Kitab Bilangan
o Kitab Manga (Ulangan)
o Yosua
o Hakim2
o Rut
o 1 Samuel
o 2 Samuel
o 1 Raja
o 2 Raja
o 1 Tawarikh
o 2 Tawarikh
o Ezra
o Nehemia
o Ayub
o Mazmur
o Amsal
o Pengkhotbah
o Kidung Agung
o Yesaya
o Yeremia
o Ratapan
o Yehezkiel
o Danial
o Horsea
o Yoel
o Amos
o Obaja
o Yunus
o Mikha
o Nahum
o Habakuk
o Zepanya
o Hagai
o Zakharia
o Maleakhi
o Dan lainnya

sedangkan yang termasuk ke dalam New Testament, ialah :
o Injil Matius
o Injil Markus
o Injil Lukas
o Injil Yahya (Yohanes)
o Kisah Para Rasul
o Dan lainnya

Catatan:

o Penulis adalah Dosen Universitas Bhineka Tunggal Ika Jakarta (1972), Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi pada Lembaga Administrasi Negara (1974), Dosen Universitas Islam As-Syafi’iyah merangkap Rektor Universitas Willem Iskandar Jakarta (1977-1982) dan Dosen Universitas Muhammadiyah di Jakarta (1982) serta berbagai Jabatan lainnya
o Gambar ilustrasi by Google

Daftar Pustaka

Lubis, Ibrahim, Drs. SmHK, Agama Islam Suatu Pengantar, Edisi Revisi, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1984
Kiblat No. 16 Thn. XXXIX, tgl. 5-20 Januari 1982, Hal. 6-9
http://id.wikipedia.org
http://eramuslim.com
http://luk.staff.ugm.ac.id/

MUHAMMAD SAW, SANG PENGUSAHA SUKSES

Oleh:Ali Rama

TRADISI ritual peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw yang dikenal dengan Maulid Nabi sudah menjadi budaya keagamaan di kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan Maulid Nabi sudah dijadikan sebagai hari besar di negeri ini, yang berarti adalah hari libur nasional.

Pada awal tahun ini, tepatnya 15 Februari 2011, adalah tepat 12 Rabiul Awwal 1432 H pada penanggalan Islam (Hijriah) adalah hari kelahiran seorang Manusia Agung bernama Muhammad SAW pembawa agama perdamaian untuk seluruh umat manusia.

Kelahiran Nabi saw sebenarnya tidak termasuk hari besar jika dilihat dari pandangan al-Qur’an dan al-Hadist. Namun, biasanya, peringatan Maulid Nabi dimaksudkan sebagai momentum untuk mempelajari dan merenungi kembali perjalanan hidup beliau sebagai seorang Rasul sekaligus sebagai manusia biasa yang sukses dalam berbagai sisi kehidupan.

Rasulullah adalah potret pribadi sukses dalam menjalani kehidupan yang harus menjadi panutan bagi umat manusia.

Sirah Nabi adalah living model yang diinginkan Allah untuk diimplementasikan oleh tiap pribadi muslim sejati. Jadi perayaan Maulid Nabi bukan sekedar kegembiraan atas kehadiran beliau dalam sejarah tapi yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana memahami perjalanan hidup beliau secara utuh, sempurna dan menyeluruh sehingga menjadi panutan dalam membangun peradaban umat manusia.

Dengan momentum Maulid Nabi ini, penulis ingin menghadirkan satu dimensi kehidupan Rasulullah yang jarang dibahas oleh para da’i dan muballig yaitu kesuksesan Muhammad sebagai seorang pedagang. Muhammad bukan hanya sukses dalam berdakwah, memimpin negara dan rumah tangga tapi juga sukses dalam membangun usaha. Muhammad bukan hanya disegani sebagai pemuka agama dan pemimpin negara tapi juga disegani sebagai saorang saudagar yang memiliki jangkauan jaringan bisnis dan pangsa pasar yang luas serta pelanggang yang banyak.


Ensiklopedia Muhammad saw “The super leader super manager”

Muhammad sebagai pemimpin bisnis dan entrepreunership dijelaskan secara gamblang di dalam buku Dr. Syafi’i Antonio dengan judul “Muhammad SAW Super Leader Super Manager”. Buku tersebut menguraikan bahwa masa berbisnis Muhammad yang mulai dengan intership (magang), business manager, investment manager, business owner dan berakhir sebagai investor relative lebih lama (25 tahun) dibandingkan dengan masa kenabiannya (23 tahun). Nabi Muhammad bukan hanya figur yang mendakwakan pentingnya etika dalam berbisnis tapi juga terjun langsung dalam aktifitas bisnis.

Sang manager

Sejak kecil tepatnya saat berumur 12 tahun, Muhammad sudah diperkenalkan tentang bisnis oleh pamannya, Abu Thalib, dengan cara diikutsertakan dalam perjalanan bisnis ke Syam (Suriah).

Pengalaman perdagangan (magang) yang diperoleh Muhammad dari pamannya selama beberapa tahun manjadi modal dasar baginya disaat memutuskan untuk menjadi pengusaha muda di Mekah. Beliau merintis usahanya dengan berdagang kecil-kecilan di sekitar Ka’bah.

Dengan modal pengalaman yang ada disertai kejujuran dalam menjalankan usaha bisnisnya, nama Muhammad mulai dikenal dikalangan pelaku bisnis (investor) di Mekah.

Dalam kurung waktu yang tidak cukup lama, Muhammad mulai menampakkan kelihaiannya dalam menjalankan usaha perdagangan bahkan beberapa investor Mekah tertarik untuk mempercayakan modalnya untuk dikelolah oleh Muhammad dengan prinsip bagi hasil (musyarakah-mudharabah) maupun penggajian. Pada tahapan ini Muhammad telah beralih dari business manager (mengelola usahanya sendiri) menjadi investment manager (mengelola modal investor).


Ekspansi bisnis

Dengan modal yang sudah relatif besar, Muhammad memiliki kesempatan untuk ekspansi bisnis untuk menjangkau pusat perdagangan yang ada di Jazirah Arab. Kejujuran beliau dalam berbisnis sehingga dikenal olah para pelaku bisnis sebagai Al-Amin menjadi daya tarik bagi kalangan investor besar untuk menginvestasikan modalnya kepada Muhammad, salah satu di antaranya adalah Siti Khadijah yang di kemudian hari menjadi Istri pertama beliau.

Di usia 25 tahun, usia yang masih rekatif mudah, Muhammad menikah dengan Khadijah, seorang pengusaha sukses Mekah. Secara otomatis Muhammad menjadi pemilik sekaligus pengelola dari kekayaan Khadijah. Penggabungan dua kekayaan melalui pernikahan tersebut tentunya semakin menambah usaha perdagangan mereka baik secara modal maupun penguasaan pangsa pasar. Pada tahapan ini Muhammad sudah menjadi business owner.

Setelah Muhammad menikah dengan Khadijah, beliau semakin gencar mengembangkan bisnisnya melalui dengan ekspedisi bisnis secara rutin di pusat-pusat perdagangan yang ada di jazirah Arab, beliau intens mengunjungi pasar-pasar regional maupun Internasional demi mempertahankan pelanggan dan mitra bisnisnya. Jaringan perdagangan beliau telah mencapai Yaman, Suriah, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdagangan Arab lainnya.

Saat menjelang masa kenabian (berumur 38 tahun) di mana waktunya banyak dihabiskan untuk merenung beliau telah sukses menjadi pedagang regional dimana wilayah perdagangannya meliputi Yaman, Suriah, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdagangan Jazirah Arab lainnya. Pada tahapan in beliau telah memasuki fase yang menurut Robert T Kiyosaki disebut financial freedom.

Kehebatan berbisnis Muhammad bisa dilihat dalam sebuah riwayat yang menceritakan bahwa beliau pernah menerima utusan dari Bahrain, Muhammad menanyakan kepada Al-Ashajj berbagai hal dan orang-orang yang terkemuka serta kota-kota yang terkemuka di Bahrain. Pemimpin kabilah tersebut sangat terkejut atas luasnya pengetahuan geografis serta sentral-sentral komersial Muhammad. Kemudian al-Ashajj berkata: “sungguh Anda lebih mengetahu tentang negeri saya daripada saya sendiri dan anda pula lebih banyak mengetahui pusat-pusat bisnis kota saya dibanding apa yang saya ketahu”. Muhammad menjawab: “saya telah diberi kesempatan untuk menjelajahi negeri anda dan saya telah melakukannya dengan baik.” (Syafi’i Antonio, 2007).

Demikianlah perjalanan sukses bisnis Muhammad sebelum resmi menjadi seorang Nabi yang jarang disampaikan kepada generasi-generasi muda di saat perayaan Maulid Nabi. Pemahaman yang utuh tentang biography kehidupan beliau akan menghindarkan terjadinya pemahaman yang sempit tentang diri Rasulullah. Banyak orang yang mengaggap Rasulullah saw sebagai orang yang miskin padahal justru sebaliknya beliau adalah sosok pebisnis yang sukses.

Melalui momentum Maulid Nabi ini kiranya perlu mengangkat tema kesuksesan Muhammad sebagai pelaku bisnis demi memacu munculnya pengusaha-pengusaha muda di kalangan Muslim. Sebenarnya negeri ini memiliki tokoh-tokoh agama sekaligus pengusaha sukses, sebut saja misalnya, tokoh nasional K.H. Ahmad Dahlan dengan usaha batiknya. Bahkan dalam sejarah gerakan kemerdekaan Indonesia kita mengenal tokoh-tokoh agama yang terhimpun dalam Syarikat Dagang Indonesia.

Sebagaimana kita ketahui jumlah wirausahawan di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia. Dari total penduduk Indonesia, 231, 83 juta jiwa hanya sekitar 2 persen saja yang berwirausaha atau sebesar 4, 6 juta. Tentunya jumlah ini sangat kecil sekali jika negeri ini menginginkan penduduknya untuk semakin kuat dan mandiri secara ekonomi.

Negara-negara maju relative memiliki persentasi wirausahawan yang relatif tinggi dari jumlah penduduknya. Persentase penduduk Singapura yang berwirausaha mencapai 7 persen, China dan Jepang 10 persen dari total jumlah penduduk mereka. Sedangkan yang tertinggi adalah Amerika Serikat sebesar 11,5-12 persen.
Melalui perayaan Maulid Nabi ini, kita perlu mengkampanyeka pentingnya berwirausaha seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai solusi untuk menyelesaikan persoalan umat yaitu kemiskinan dan pengangguran.

*Ali Rama, Peneliti ISEFID (Islamic Economic Forum for Indonesia Development)

sumber:
http://hidayatullah.com
http://www.syafiiantonio.com
http://leadershipmuhammad.webs.com/

Riwayat Ringkas 25 Nabi dan Rasul dalam Al-Qur’an dan Hadits

Etimologi

Kata “nabi” berasal dari kata naba yang berarti “dari tempat yang tinggi”; karena itu orang ‘yang di tempat tinggi’ semestinya punya penglihatan ke tempat yang jauh (prediksi masa depan) yang disebut nubuwwah.

Nabi (bahasa Arab: نبي) dalam agama Islam adalah laki-laki yang diberi wahyu oleh Allah swt, tetapi dia tidak punya kewajiban untuk menyampaikannya kepada umat tertentu atau wilayah tertentu.

Sementara, kata “rasul” berasal dari kata risala yang berarti penyampaian. Karena itu, para rasul, setelah lebih dulu diangkat sebagai nabi, bertugas menyampaikan wahyu dengan kewajiban atas suatu umat atau wilayah tertentu.

Jadi, Rasul (Arab:رسول Rasūl; Plural رسل Rusul) adalah seorang laki-laki yang mendapat wahyu dari Allah dengan suatu syari’at dan ia diperintahkan untuk menyampaikannya dan mengamalkannya. Setiap rasul pasti seorang nabi, namun tidak setiap nabi itu seorang rasul. Jadi jumlah para nabi itu jauh lebih banyak ketimbang para rasul.

Menurut syariat Islam jumlah Nabi ada 124.000 orang, sedangkan jumlah Rasul ada 312 orang berdasarkan hadits riwayat At-Turmudzi:

Dari Abi Zar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, “(Jumlah para nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.” “Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka?” Beliau menjawab, “Tiga ratus dua belas (312)” [Hadits Riwayat At-Turmuzy]

Menurut Al-Qur’an Allah swt telah mengirimkan banyak nabi kepada umat manusia. Bagaimanapun, seorang rasul memiliki tingkatan lebih tinggi karena menjadi pimpinan ummat, sementara nabi tidak harus menjadi pimpinan. Di antara rasul yang memiliki julukan Ulul Azmi adalah Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Mereka dikatakan memiliki tingkatan tertinggi dikalangan rasul. Dari semua rasul, Muhammad saw sebagai ‘Nabi Penutup’ yang mendapat gelar resmi di dalam Al-Qur’an Rasulullah adalah satu-satunya yang kewajibannya meliputi umat dan wilayah seluruh alam semesta ‘Rahmatan lil Alamin’.

Percaya kepada para Nabi dan para Rasul merupakan Rukun Iman yang keempat dalam Islam.

Perbedaan Nabi dan Rasul

Berikut ini adalah perbedaan Nabi dan Rasul:
1. Jenjang kerasulan lebih tinggi daripada jenjang kenabian.
2. Rasul diutus kepada kaum yang kafir, sedangkan nabi diutus kepada kaum yang telah beriman.
3. Syari’at para rasul berbeda antara satu dengan yang lainnya, atau dengan kata lain bahwa para rasul diutus dengan membawa syari’at baru.
4. Rasul pertama adalah Nuh, sedangkan nabi yang pertama adalah Adam.
5. Seluruh rasul yang diutus, Allah selamatkan dari percobaan pembunuhan yang dilancarkan oleh kaumnya. Adapun nabi, ada di antara mereka yang berhasil dibunuh oleh kaumnya.

Kriteria Nabi dan Rasul

Dikatakan bahwa nabi dan rasul memiliki beberapa kriteria yang harus dipenuhi, di antaranya adalah:
1. Dipilih dan diangkat oleh Allah.
2. Mendapat mandat (wahyu) dari Allah.
3. Bersifat cerdas.
4. Dari umat Bani Adam (Manusia).
5. Nabi dan Rasul adalah seorang laki-laki (bukan wanita).

Nabi dan rasul dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menyebut beberapa orang sebagai nabi. Nabi pertama adalah Adam as. Nabi sekaligus rasul terakhir ialah Muhammad saw yang ditugaskan untuk menyampaikan Islam dan peraturan yang khusus kepada manusia di zamannya sehingga hari kiamat. Isa as yang lahir dari perawan Maryam binti Imran juga merupakan seorang nabi.

Selain ke-25 nabi sekaligus rasul, ada juga nabi lainnya seperti dalam kisah Khidir bersama Musa yang tertulis dalam Surah Al-Kahf ayat 66-82. Terdapat juga kisah Uzayr dan Syamuil. Juga nabi-nabi yang tertulis di Hadits dan Al-Qur’an, seperti Yusya’ bin Nun, Zulqarnain, Iys, dan Syits.

Sedangkan orang suci yang masih menjadi perdebatan sebagai seorang Nabi atau hanya wali adalah Luqman al-Hakim dalam Surah Luqman.

Rasul dalam Al-Qur’an dan Hadits

Dari Al-Quran dan hadits disebutkan beberapa nama nabi sekaligus rasul, di antaranya yaitu:
o Idris diutus untuk Bani Qabil di Babul, Iraq dan Memphis.
o Nuh diutus untuk Bani Rasib di wilayah Selatan Iraq.
o Hud diutus untuk ʿĀd yang tinggal di Al-Ahqaf, Yaman.
o Shaleh diutus untuk kaum Tsamūd di Semenanjung Arab.
o Ibrahim diutus untuk Bangsa Kaldeā di Kaldaniyyun Ur, Iraq.
o Luth diutus untuk negeri Sadūm dan Amūrah di Syam, Palestina.
o Isma’il diutus untuk untuk Qabilah Yaman, Mekkah.
o Ishaq diutus untuk Kanʻān di wilayah Al-Khalil, Palestina.
o Yaqub diutus untuk Kanʻān di Syam.
o Yusuf diutus untuk Hyksos dan Kanʻān di Mesir.
o Ayyub diutus untuk Bani Israel dan Bangsa Amoria (Aramin) di Horan, Syria.
o Syu’aib diutus untuk Kaum Rass, negeri Madyan dan Aykah.
o Musa dan Harun diutus untuk Bangsa Mesir Kuno dan Bani Israel di Mesir.
o Zulkifli diutus untuk Bangsa Amoria di Damaskus.
o Yunus diutus untuk bangsa Assyria di Ninawa, Iraq.
o Ilyas diutus untuk Funisia dan Bani Israel, di Ba’labak Syam.
o Ilyasa diutus untuk Bani Israel dan kaum Amoria di Panyas, Syam.
o Daud diutus untuk Bani Israel di Palestina.
o Sulaiman diutus untuk Bani Israel di Palestina.
o Zakaria diutus untuk Bani Israil di Palestina.
o Yahya diutus untuk Bani Israil di Palestina.
o Isa diutus untuk Bani Israil di Palestina.
o Muhammad seorang nabi & rasul terakhir yang diutus di Jazirah Arab untuk seluruh umat manusia dan jin.

Sedangkan Adam dan Syits yang diutus sebelumnya hanyalah bertaraf sebagai seorang nabi saja, bukan sebagai rasul karena mereka tidak memiliki umat atau kaum dan tidak memiliki kewajiban untuk menyebarkan risalah yang mereka yakini. Sedangkan Khaḍr seorang nabi yang dianggap misterius, ia tidak diketahui lebih lanjut untuk kaum apa dia diutus.

Riwayat Ringkas 25 Nabi dan Rasul

Dibawah ini akan dibahas riwayat ringkas 25 Nabi dan Rasul dalam Al-Qur’an dan Hadits yang wajib di Imani oleh setiap Muslim, yaitu:
1. Adam AS
2. Idris AS
3. Nuh AS
4. Hud AS
5. Saleh (Shalih/Shaleh/Sholeh) AS
6. Ibrahim AS
7. Luth AS
8. Ismail AS
9. Ishak (Ishaq) AS
10. Yaqub (Yakub/Israil/Israel) AS
11. Yusuf AS
12. Syu’aib (Syuaib) AS
13. Ayyub (Ayub) AS
14. Dzulkifli (Zulkifli) AS
15. Musa AS
16. Harun AS
17. Daud (Dawud) AS
18. Sulaiman (Sulaeman) AS
19. Ilyas AS
20. Ilyasa’ AS
21. Yunus (Dzun Nun) AS
22. Zakaria (Zakariya) AS
23. Yahya AS
24. Isa AS
25. Muhammad SAW

1. ADAM as

Nama : Adam As.
Usia : 930 tahun
Periode sejarah :5872 – 4942 SM
Tempat turunnya di bumi : India, ada yang berpendapat di Jazirah Arab
Jumlah keturunannya (anak) : 40 (laki-laki dan perempuan)
Tempat wafat : India, ada yang berpendapat di Mekah
didalam Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 25 kali

2. IDRIS as

Nama : Idris bin Yarid, nama aslinya Akhnukh, nama Ibunya Asyut
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as
Usia : 345 tahun
Periode sejarah :4533 – 4188 SM
Tempat diutus (lokasi) : Irak Kuno (Babylon, Babilonia) dan Mesir (Memphis)
Tempat wafat : Allah mengangkatnya ke langit
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 2 kali

3. NUH as

Nama : Nuh bin Lamak
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as
Usia : 950 tahun
Periode sejarah : 3993 – 3043 SM
Tempat diutus (lokasi) : Selatan Irak
Jumlah keturunannya (anak) : 4 putra (Sam, Ham, Yafits dan Kan’an)
Tempat wafat : Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya : Kaum Nuh
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 43 kali

4. HUD (Huud) as

Nama : Hud bin Abdullah
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ ‘Aush (‘Uks) ⇒ ‘Ad ⇒ al-Khulud ⇒ Rabah ⇒ Abdullah ⇒ Hud as
Usia : 130 tahun
Periode sejarah : 2450 – 2320 SM
Tempat diutus (lokasi) : Al-Ahqaf (lokasinya antara Yaman dan Oman)
Jumlah keturunannya (anak) : –
Tempat wafat : Bagian Timur Hadramaut (Yaman)
Sebutan kaumnya : Kaum ‘Ad
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 7 kali

5. SALEH (Shalih/Shaleh/Sholeh) as

Nama : Shalih bin Ubaid
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ Amir ⇒ Tsamud ⇒ Hadzir ⇒ Ubaid ⇒ Masah ⇒ Asif ⇒ Ubaid ⇒ Shalih as
Usia : 70 tahun
Periode sejarah : 2150 – 2080 SM
Tempat diutus (lokasi) : Daerah al-Hijr (Mada’in Salih, antara Madinah dan Syria)
Jumlah keturunannya (anak) : –
Tempat wafat : Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya : Kaum Tsamud
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 10 kali

6. IBRAHIM as

Nama : Ibrahim bin Azar
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as
Usia : 175 tahun
Periode sejarah :1997 – 1822 SM
Tempat diutus (lokasi) : Ur di daerah selatan Babylon (Irak)
Jumlah keturunannya (anak) :13 anak (termasuk Nabi Ismail as & Nabi Ishaq as)
Tempat wafat : Al-Khalil (Hebron, Palestina/Israel)
Sebutan kaumnya : Bangsa Kaldan
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 69 kali

7. LUTH as

Nama : Luth bin Haran
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Haran ⇒ Luth as
Usia : 80 tahun
Periode sejarah :1950 – 1870 SM
Tempat diutus (lokasi) : Sodom dan Amurah (Laut Mati atau Danau Luth)
Jumlah keturunannya (anak) : 2 putri (Ratsiya dan Za’rita)
Tempat wafat : Desa Shafrah di Syam (Syria)
Sebutan kaumnya : Kaum Luth
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 27 kali

8. ISMAIL as

Nama : Ismail bin Ibrahim
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ismail as
Usia : 137 tahun
Periode sejarah : 1911 – 1774 SM
Tempat diutus (lokasi) : Mekah al-Mukarramah
Jumlah keturunannya (anak) : 12 anak
Tempat wafat : Mekah al-Mukarramah
Sebutan kaumnya : Amaliq dan Kabilah Yaman
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 12 kali

9. ISHAQ (Ishak) as

Nama : Ishaq (Ishak) bin Ibrahim
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as
Usia : 180 tahun
Periode sejarah : 1897 – 1717 SM
Tempat diutus (lokasi) : Kota al-Khalil (Hebron) di daerah Kan’an (Kana’an)
Jumlah keturunannya (anak): 2 anak (termasuk Nabi Ya’qub as/Israil)
Tempat wafat : Al-Khalil (Hebron)
Sebutan kaumnya : Bangsa Kan’an
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 17 kali

10. YA’QUB (Yakub/Israel/Israil) as

Nama : Ya’qub (Yakub/Israel) bin Ishaq (Ishak),
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya’qub as
Usia : 147 tahun
Periode sejarah :1837 – 1690 SM
Tempat diutus (lokasi) : Syam (Syria/Siria)
Jumlah keturunannya (anak) : 12 anak laki-laki (Rubin, Simeon, Lewi, Yahuda, Dan, Naftali, Gad, Asyir, Isakhar, Zebulaon, Yusuf, dan Benyamin) dan 2 anak perempuan (Dina dan Yathirah)
Tempat wafat : Al-Khalil (Hebron), Palestina
Sebutan kaumnya : Bangsa Kan’an
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 18 kali

11. YUSUF as

Nama : Yusuf bin Ya’qub (Yusuf bin Yakub)
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya’qub as ⇒ Yusuf as
Usia : 110 tahun
Periode sejarah : 1745 – 1635 SM
Tempat diutus (lokasi) : Mesir
Jumlah keturunannya (anak) : 3 anak (2 laki-laki, 1 perempuan)
Tempat wafat : Nablus
Sebutan kaumnya : Heksos dan Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 58 kali

12. SYU’AIB (Syuaib) as

Nama : Syu’aib (Syuaib) bin Mikail
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Madyan ⇒ Yasyjur ⇒ Mikail ⇒ Syu’aib as
Usia : 110 tahun
Periode sejarah :1600 – 1490 SM
Tempat diutus (lokasi) : Madyan (di pesisir Laut Merah di tenggara Gunung Sinai)
Jumlah keturunannya (anak) : 2 anak perempuan
Tempat wafat :Yordania
Sebutan kaumnya : Madyan dan Ashhabul Aikah
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 11 kali

13. AYUB (Ayyub) as

Nama : Ayub (Ayyub) bin Amush
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ al-‘Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayub as
Usia : 120 tahun
Periode sejarah :1540 – 1420 SM
Tempat diutus (lokasi) : Dataran Hauran
Jumlah keturunannya (anak) : 26 anak
Tempat wafat : Dataran Hauran
Sebutan kaumnya : Bangsa Arami dan Amori, di daerah Syria dan Yordania
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 4 kali

14. DZULKIFLI (Zulkifli) as

Nama : Dzulkifli (Zulkifli) bin Ayub, nama aslinya Bisyr (Basyar)
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ al-‘Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayub as ⇒ Dzulkifli as
Usia : 75 tahun
Periode sejarah : 1500 – 1425 SM
Tempat diutus (lokasi) : Damaskus dan sekitarnya
Jumlah keturunannya (anak) : –
Tempat wafat : Damaskus
Sebutan kaumnya : Bangsa Arami dan Amori (Kaum Rom), di daerah Syria dan Yordania
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 2 kali

15. MUSA as

Nama : Musa bin Imran
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya’qub as ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Musa as
Ibunya bernama: Yukabad (riwayat lain menyebutkan: Yuhanaz Bilzal)
Usia : 120 tahun
Periode sejarah : 1527 – 1407 SM
Tempat diutus (lokasi) : Sinai di Mesir
Jumlah keturunannya (anak) : 2 anak ( Azir dan Jarsyun), dari istrinya yang bernama Shafura (binti Nabi Syu’aib as)
Tempat wafat : Gunung Nebu (Bukit Nabu’) di Jordania (sekarang)
Sebutan kaumnya : Bani Israil dan Fir’aun (gelar raja Mesir)
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 136 kali

16. HARUN as

Nama : Harun bin Imran, istrinya bernama Ayariha
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya’qub as ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Harun as
Usia : 123 tahun
Periode sejarah : 1531 – 1408 SM
Tempat diutus (lokasi) : Sinai di Mesir
Jumlah keturunannya (anak) : –
Tempat wafat : Gunung Nebu (Bukit Nabu’) di Jordania (sekarang)
Sebutan kaumnya : Bani Israil dan Fir’aun (gelar raja Mesir)
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 20 kali

17. DAUD (Dawud) as

Nama : Daud (Dawud, David) bin Isya
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as
Usia : 100 tahun
Periode sejarah : 1063 – 963 SM
Tempat diutus (lokasi) : Palestina (dan Israil)
Keturunannya (anaknya) : Sulaiman (Sulaeman)
Tempat wafat : Baitul Maqdis (Yerusalem)
Sebutan kaumnya : Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 18 kali

18. SULAIMAN (Sulaeman) as

Nama : Sulaiman (Sulaeman, Sulayman) bin Daud (Dawud)
Garis Keturunan Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as
Usia : 66 tahun
Periode sejarah : 989 – 923 SM
Tempat diutus (lokasi) : Palestina (dan Israil)
Keturunannya (anaknya) : Rahab’an (Ruhba’am/Rehabeam)
Tempat wafat : Baitul Maqdis (Yerusalem)
Sebutan kaumnya : Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 21 kali

19. ILYAS as

Nama : Ilyas bin Yasin
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya’qub as ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Harun as ⇒ Alzar ⇒ Fanhash ⇒ Yasin ⇒ Ilyas as
Usia : 60 tahun
Periode sejarah : 910 – 850 SM
Tempat diutus (lokasi) : Ba’labak (daerah di Lebanon)
Jumlah keturunannya (anak) : –
Tempat wafat : Diangkat Allah ke langit
Sebutan kaumnya : Bangsa Fenisia
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 4 kali

20. ILYASA’ as

Nama : Ilyasa’ bin Akhthub
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya’qub as ⇒ Yusuf as ⇒ Ifrayim ⇒ Syutlim ⇒ Akhthub ⇒ Ilyasa’ as
Usia : 90 tahun
Periode sejarah : 885 – 795 SM
Tempat diutus (lokasi) : Jaubar, Damaskus
Jumlah keturunannya (anak) : –
Tempat wafat : Palestina
Sebutan kaumnya : Bangsa Arami dan Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 2 kali

21. YUNUS (Yunan/ Dzan nun) as

Nama : Yunus (Yunan) bin Matta binti Abumatta, Matta adalah nama Ibunya (catatan : Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya, kecuali Yunus dan Isa)
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Ya’qub as ⇒ Yusuf as ⇒ Bunyamin ⇒ Abumatta ⇒ Matta ⇒ Yunus as
Usia : 70 tahun
Periode sejarah : 820 – 750 SM
Tempat diutus (lokasi) : Ninawa, Irak
Jumlah keturunannya (anak) : –
Tempat wafat : Ninawa, Irak
Sebutan kaumnya : Bangsa Asyiria, di utara Irak
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 5 kali

22. ZAKARIA (Zakariya) as

Nama : Zakaria (Zakariya) bin Dan
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as ⇒ Rahab’am ⇒ Aynaman ⇒ Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒ Bal’athah ⇒ Barkhiya ⇒ Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒ Sulaiman ⇒ Daud ⇒ Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim ⇒ Dan ⇒ Zakaria as
Usia :122 tahun
Periode sejarah : 91 SM – 31 M
Tempat diutus (lokasi) : Palestina
Jumlah keturunannya (anaknya) : 1 anak
Tempat wafat :Halab (Aleppo)
Sebutan kaumnya : Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 12 kali

23. YAHYA as

Nama : Yahya bin Zakaria
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as ⇒ Rahab’am ⇒ Aynaman ⇒ Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒ Bal’athah ⇒ Barkhiya ⇒ Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒ Sulaiman ⇒ Daud ⇒ Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim ⇒ Dan ⇒ Zakaria as ⇒ Yahya as
Usia : 32 tahun
Periode sejarah : 1 SM – 31 M
Tempat diutus (lokasi) : Palestina
Jumlah keturunannya (anaknya) : –
Tempat wafat : Damaskus
Sebutan kaumnya : Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 5 kali

24. ISA as

Nama : Isa bin Maryam binti Imran, Maryam adalah nama Ibunya (catatan : Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya, kecuali Isa dan Yunus)
Garis Keturunan : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ishaq as ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud as ⇒ Sulaiman as ⇒ Rahab’am ⇒ Radim ⇒ Yahusafat ⇒ Barid ⇒ Nausa ⇒ Nawas ⇒ Amsaya ⇒ Izazaya ⇒ Au’am ⇒ Ahrif ⇒ Hizkil ⇒ Misyam ⇒ Amur ⇒ Sahim ⇒ Imran ⇒ Maryam ⇒ Isa as
Usia : 33 tahun
Periode sejarah : 1 SM – 32 M
Tempat diutus (lokasi) : Palestina
Jumlah keturunannya (anaknya) : –
Tempat wafat : Diangkat oleh Allah ke langit
Sebutan kaumnya : Bani Israil
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : di dalam Al-Qur’an nama Isa disebutkan sebanyak 21 kali, sebutan al-Masih sebanyak 11 kali, dan sebutan Ibnu (Putra) Maryam sebanyak 23 kali

25. MUHAMMAD saw

Nama : Muhammad bin Abdullah
Garis Keturunan Ayah : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ismail as ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya’rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma’ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu’ay ⇒ Ka’ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Hasyim ⇒ Abdul Muthalib ⇒ Abdullah ⇒ Muhammad saw
Garis Keturunan Ibu : Adam as ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Idris as ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nuh as ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Ibrahim as ⇒ Ismail as ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya’rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma’ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu’ay ⇒ Ka’ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Wahab ⇒ Aminah ⇒ Muhammad saw
Usia : 62 tahun
Periode sejarah : 570 – 632 M
Tempat diutus (lokasi) : Mekah al-Mukarramah
Jumlah keturunannya (anak) : 7 anak (3 laki-laki (Qasim, Abdullah & Ibrahim) dan 4 perempuan (Zainab, Ruqayyah, Ummi Kultsum & Fatimah az Zahrah)
Tempat wafat : Madinah an-Nabawiyah
Sebutan kaumnya : Bangsa Arab
di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak : 25 kali secara jelas


Catatan:

^ Dari Abi Zar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya tentang jumlah para nabi, “(Jumlah para nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.” “Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka?” Beliau menjawab, “Tiga ratus dua belas (312)” Hadits riwayat At-Turmuzy.

^ “Aku diutus kepada seluruh makhluk.” Ibnu Abdil Barr rahimahullahu berkata: Mereka tdk berbeda pendapat bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada jin dan manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Hadits riwayat Muslim). Ini termasuk keistimewaan beliau dibandingkan para nabi yakni dgn diutus beliau kepada seluruh jin dan manusia.

^ Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Aku diutus kepada yg merah dan yg hitam.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim). Mujahid bin Jabr menafsirkan hadits ini dgn makna jin dan manusia.

^ Al-Hafizh Ibnu Katsir menyatakan dalam Tafsirnya (3/47), “Tidak ada perbedaan (di kalangan ulama) bahwasanya para rasul lebih utama daripada seluruh nabi dan bahwa ulul ‘azmi merupakan yang paling utama di antara mereka (para rasul)”.

^ “Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya”. (QS. Al-Mu`minun : 44)

^ “Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang”. (QS. Al-Ma`idah : 48)

^ “Maka orang-orang mendatangi Adam dan berkata: Wahai Adam, tidakkah engkau tahu (bagaimana keadaan manusia). Allah telah menciptakanmu dengan TanganNya, dan Allah (memerintahkan) Malaikat bersujud kepadamu dan Allah mengajarkan kepadamu nama-nama segala sesuatu. Berilah syafaat kami kepada Rabb kami sehingga kami bisa mendapatkan keleluasaan dari tempat kami ini. Adam berkata: aku tidak berhak demikian, kemudian Adam menceritakan kesalahan yang menimpanya. (Adam berkata): akan tetapi datanglah kepada Nuh, karena ia adalah Rasul pertama yang Allah utus kepada penduduk bumi. Maka orang-orang kemudian mendatangi Nuh….”(H.R alBukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

^ Allah berfirman: “Mengapa kalian dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kalian orang-orang yang beriman?”. (QS. Al-Baqarah : 91)

^ “Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (Al anbiyya’ 21:7)

^ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…” (An Nisaa’ 4:34)

Referensi

* Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008.
* Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur’an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008.
* Ibnu Katsir, Qishashul Anbiyaa’, hlm 24.
* Ibnu Asakir, Mukhtashar Taarikh Damasyaqa, IV/224.
* ats-Tsa’labi, Qishashul Anbiyaa’ (al-Araa’is), hlm 36.
* Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004
* Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Quran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007.
* alquran.bahagia.us, keislaman.com, dunia-islam.com, Al-Quran web, id.wikipedia.org, PT. Gilland Ganesha, 2008.
* Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979.
* Al-Hafizh Zaki Al-Din ‘Abd Al-‘Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
* M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008.
* Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008.
* Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999.

%d bloggers like this: