Posts tagged ‘Perang Salib’

Mencari Asal-Usul Maulid Nabi Muhammad SAW

thumb

Ilustrasi (Inet)

Oleh : Alwi Alatas

1. SHALAHUDDIN AL-AYYUBI DAN MAULID NABI

SECARA bahasa maulid Nabi bermakna waktu kelahiran. atau tempat kelahiran, Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Secara istilah, maulid Nabi biasanya dimaknai sebagai perayaan yang berkaitan dengan waktu kelahiran Nabi Muhammad setiap tanggal 12 Rabiul Awwal. Perayaan maulid telah menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat Muslim di dunia sekarang ini. Bahkan tanggal 12 Rabiul Awwal merupakan hari libur di banyak negeri Muslim. Kapankan sebenarnya perayaan maulid pertama kali muncul dalam sejarah Islam?

Pada masa-masa sebelum ini kita sering mendengar bahwa peringatan maulid muncul pertama kali pada zaman Shalahuddin al-Ayyubi (w. 1193).  Shalahuddin dikatakan mengadakan kompetisi atau anjuran untuk melaksanakan perayaan maulid demi membangkitkan semangat jihad kaum Muslimin pada masa itu dalam menghadapi tentara salib. Namun sejauh yang penulis ketahui, kisah ini sama sekali tidak memiliki rujukan.

Tidak ada satu pun penulis sejarah Shalahuddin dan Perang Salib yang hidup sejaman dengannya yang menyebutkan tentang hal ini. Jika Shalahuddin memang menjadikan maulid sebagai bagian dari
perjuangannya, tentu buku-buku sejarah pada Secara bahasa maulid Nabi bermakna waktu kelahiran. atau tempat kelahiran, Nabi (shallallahu alaihi wasallam). Secara istilah, maulid Nabi biasanya dimaknai sebagai perayaan yang berkaitan dengan waktu kelahiran Nabi Muhammad setiap tanggal 12 Rabiul Awwal. Perayaan maulid telah menjadi bagian dari kehidupan masa itu akan menyebutkan tentang hal itu walaupun sedikit.

Syair Salib

Selain pendapat di atas, ada juga sebagian kaum Muslimin yang menentang maulid, begitu pula beberapa sejarawan Barat, yang mengatakan bahwa perayaan ini bersumber dari Dinasti Fatimiyah (909-1171) yang berpaham Syiah Ismailiyah.

Dinasti inilah yang pertama kali mengadakan perayaan maulid Nabi, serta maulid Ali dan beberapa maulid keluarga Nabi lainnya. Bahkan ada artikel yang begitu bersemangat mengkritik maulid menyebutkan bahwa maulid “berasal dari kaum bathiniyyah (maksudnya Dinasti Fatimiyah, pen.) yang memiliki dasar-dasar akidah Majusi dan Yahudi yang menghidupkan syiar-syiar kaum salib.”

Terlepas dari perbedaan dan permusuhannya dengan Ahlu Sunnah, Dinasti Fatimiyah pada masa itu juga berperang menghadapi kaum salib. Jadi, menyebut dinasti Fatimiyah atau perayaan maulid sebagai “menghidupkan syiar-syiar kaum Salib” merupakan tuduhan yang terlalu jauh dan mengada-ada.

Beberapa buku sejarah memang menyebutkan bahwa Dinasti Fatimiyah mengadakan perayaan maulid Nabi. Perlu diketahui sebelumnya bahwa pemerintahan Fatimiyah berdiri pada tahun 909 M di Tunisia, memindahkan pusat kekuasaannya ke Kairo, Mesir, enam dekade kemudian, dan runtuh pada tahun 1171, dua tahun setelah masuknya Shalahuddin ke Mesir. Adanya perayaan maulid oleh Dinasti Fatimiyah disebutkan antara lain oleh dua orang sejarawan dan ilmuwan pada masa Dinasti Mamluk, beberapa abad setelah masa hidup Shalahuddin dan terjadinya Perang Salib. Kedua sejarawan yang sama-sama memiliki nama Ahmad bin Ali itu dalah al-Qalqashandi (w. 1418) dan al-Makrizi (w. 1442). Menurut Nico Kaptein dalam disertasinya yang dibukukan, Muhammad’s Birthday Festival (1193: 7-19), kedua sejarawan ini merujuk pada tulisan para
sejarawan sebelumnya yang mengalami jaman Fatimiyah, terutama Ibn Ma’mun (w. 1192) dan Ibn al-Tuwayr (w. 1220).

Al-Qalqashandi menyebutkan tentang perayaan maulid Nabi oleh Dinasti Fatimiyah secara ringkas dalam kitab Subh al-A’sya jilid III (1914: 502-3). Perayaan itu dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awwal, dipimpin oleh Khalifah Fatimiyah dan dihadiri oleh para pembesar kerajaan seperti Qadhi al-Qudhat, Da’i al-Du’at, dan para pembesar kota Kairo dan Mesir. Hidangan disediakan untuk yang hadir dan jalur ke istana ditutup dari orang-orang yang lewat di dekat tempat itu. Setelah semua berkumpul, orang kepercayaan khalifah memberi tanda dan acara pun dimulai dengan khutbah dari penceramah – dalam sumber lain disebutkan bahwa acara dibuka dengan pembacaan al-Qur’an dan diikuti dengan khutbah oleh tiga penceramah berturut-turut (Kaptein, 1993: 13-5). Setelah khutbah selesai, acara diakhiri dan orang-orang pun kembali ke  rumah masing-masing. Hal yang sama juga berlaku pada perayaan maulid Ali bin Abi Thalib ra, maulid Fatimah, maulid Hasan dan Hussain ra, dan maulid khalifah sendiri.

Sebagaimana disebutkan dalam Encyclopaedia of Islam jilid 6 (1991: 895) dan juga buku Kaptein (1993: 9-10), al-Maqrizi (saya tidak merujuk langsung dari kitab beliau) juga menjelaskan hal yang kurang lebih sama. Salah satu perayaan maulid itu diadakan pada tahun 517 H (1123 M). Sebelum itu tentunya sudah ada perayaan maulid juga, tetapi buku-buku sejarah tidak menyebutkan sejak tahun berapa perayaan ini mulai dilakukan.

Kaptein (1993: 28-9) berpendapat perayaan maulid yang berlaku di dunia Sunni merupakan kelanjutan dari perayaan maulid Fatimiyah ini. Ia juga percaya bahwa saat terjadi pergantian kekuasaan dari Dinasti Fatimiyah kepada Shalahuddin, perayaan maulid Nabi tetap berlangsung di tengah masyarakat Mesir. Hanya maulid selain maulid Nabi yang dihapuskan oleh pemerintahan Shalahuddin, sementara maulid Nabi tetap diizinkan berjalan. Namun pendapat Kaptein ini lebih bersifat dugaan dan penafsiran atas teks yang tidak sepenuhnya bisa dijadikan pegangan.

Ada beberapa alasan untuk memilih pendapat yang sebaliknya.

Pertama, sebagaimana digambarkan dalam sumber-sumber yang ada, maulid Fatimiyah ini merupakan maulid yang bersifat elit. Ia dilaksanakan oleh istana dan dihadiri oleh pembesar kerajaan dan tokoh-tokoh masyarakat. Tidak ada informasi yang menyebutkan bahwa perayaan ini bersifat populer dan dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat Mesir ketika itu, baik Sunni maupun Syiah. Perayaan maulid Fatimiyah ini sempat dihentikan oleh wazir Fatimiyah yang bernama al-Afdal yang memerintah pada tahun 1094-1122. Belakangan khalifah mengupayakannya lagi atas usulan beberapa pembesar di sekitarnya (Kaptein, 1993: 24-5). Kisah tentang konflik ini hanya berkisar di sekitar istana. Tidak ada informasi tentang apa yang terjadi di masyarakat Mesir terkait pelarangan tersebut.

Kedua, sejauh ini kita juga tidak menemukan sumber-sumber sejarah yang ada menceritakan tradisi perayaan maulid di tengah masyarakat Syiah Ismailiyah pada masa itu. Masyarakat Syiah ketika itu bukan hanya tinggal di Mesir, tetapi juga di Suriah, Irak, dan Yaman (lihat misalnya The Chronicle of Ibn al-Athir/ Tarikh Ibn al-Athir).

Ketiga, dalam perjalanan hajinya ke Makkah melalui Mesir pada tahun 1183, Ibn Jubair (2001: 31-68) sama sekali tidak menyebutkan adanya kebiasaan maulid di Mesir.

Saat itu sudah dua belas tahun sejak runtuhnya Dinasti Fatimiyah dan Mesir telah diperintah oleh Shalahuddin. Pada bulan Rabiul Awwal tahun itu, Ibn Jubair (w. 1217) masih belum menyeberang dari Mesir menuju Jeddah. Jika kebiasaan maulid di Mesir merupakan kebiasaan yang populer di tengah masyarakat sejak masa Fatimiyah, dan kemudian bersambung pada masa Shalahuddin, rasanya kecil kemungkinan hal ini akan terlewat dari pengamatan Ibn Jubair untuk kemudian ia tuangkan di dalam buku perjalanannya (The Travels of Ibn Jubayr/ Rihla). Sementara, Ibn Jubair jelas-jelas menyebutkan adanya peringatan maulid di Makkah sebagaimana akan disebutkan nanti.

* Penulis adalah kandidat doktor bidang sejarah di IIUM Malaysia

http://www.hidayatullah.com/

Resensi Buku : Shalahuddin Al-Ayyubi, Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis

Judul: Shalahuddin Al-Ayyubi; Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis
Penulis: Prof. DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi
Penerbit: Pustaka Al-Kautsar – Jakarta
Tebal: xxiv + 748 Halaman; 15,5 x 24,5 cm
Cetakan: I; 2013
ISBN: 978-979-592-613-9

Cover buku "Shalahuddin Al-Ayyubi; Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis".

Cover buku “Shalahuddin Al-Ayyubi; Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis”.

Perang salib merupakan salah satu bukti nyata permusuhan abadi antara kebenaran dan keburukan. Perang tersebut juga menjadi bukti kebenaran al-Qur’an, bahwa orang-orang di luar Islam (Yahudi- Nasrani – Syi’ah) tidak akan pernah ridha sampai kaum muslimin mengikuti ajaran mereka.

Dalam catatan-catatan angka sejarah, Perang Salib memang terjadi selama dua abad dan masuk dalam daftar salah satu peperangan terlama sepanjang sejarah. Namun, sejatinya, Perang Salib terus dikobarkan oleh musuh Islam, hingga saat ini. Pun, dengan apa yang terjadi di Palestina, Suriah, Mesir dan seluruh belahan bumi lainnya, merupakan kepanjangan dari Perang Salib yang mulai dikobarkan oleh Paus Urbanus II.

Perang ini terjadi di sepanjang 4 dinasti, yaitu Dinasti Saljuk, Dinasti Zanki, Dinasti Ayyubiyah dan Dinasti Mamalik. Dalam rentetan panjangnya waktu itu, banyak terlahir Pahlawan-pahlawan Muslim Sejati yang berhasil memadukan pesona Islam dengan pesona kaum muslimin. Satu yang paling menonjol adalah adanya sosok Shalahuddin Al-Ayyubi.

Di antara prestasi terbesarnya adalah pembebasan Baitul Maqdis. Secara garis besar, kunci dari keberhasilan penaklukan itu adalah adanya peran Ulama’ Rabbani untuk ikut menyadarkan dan membina umat, mendidik generasi di atas landasan aqidah Islam yang shahih, menanamkan rasa cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan sesama kaum Muslimin; menciptakan persatuan umat; mengobarkan panji Islam di saat peperangan; adanya strategi dengan visi yang jauh ke depan, serta pentingnya taubat, kembalinya umat kepada Allah, dan menjauhkan diri dari segala kemaksiatan.

Buku tebal yang ditulis oleh Prof Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi ini, memberikan pencerahan yang menyeluruh tentang konsep jihad, esensi Perang Salib, juga sosok-sosok di balik kesuksesan kaum Muslimin kala itu. Yang tak kalah menariknya, penulis berhasil memotret kemuliaan akhlak sang Shalahuddin di medan perang, ketika berkuasa, pun kebaikan perangainya kepada musuh.

Perang Salib sendiri dilatarbelakangi karena banyak faktor. Sedangkan faktor utamanya adalah penyebaran agama nasrani ke seluruh penjuru dunia. Paus Urbanus II yang merupakan dalang di balik perang ini, memberikan doktrin bahwa Perang Salib merupakan ajang balas dendam kepada kaum muslimin yang telah merebut Baitul Maqdis. Ia juga menyampaikan bahwa Isa Al-Masih akan segera turun, sehingga Jerusalem harus segera direbut dari tangan kaum Muslimin. Ketika pasukan Salib kendor semangatnya, ia kembali mengobarkan semangat pasukan dengan dalih penghapusan dosa, kebahagiaan hidup, dan aneka bonus yang lain bagi siapa saja yang ikut berperang. Dia juga mengancam dengan aneka dosa dan hukuman serta kesengsaraan-kesengsaraan hidup bagi siapa saja yang absen dari perang ini.

Perang ini bukan hanya antara Kekuatan Islam dan Nasrani. Tetapi ada kekuatan Syi’ah yang ikut mengeruhkan suasana. Dalam kaidah ini, musuh lawan, dalam banyak kasus, bisa menjadi sahabat kita. Sehingga kaum Muslimin sebagai kekuatan tunggal, harus menghadapi dua musuh yang saling bersinergi itu. Meskipun, masing-masing mereka memiliki agenda yang berbeda.

Bukti paling nyata bahwa perang ini merupakan alat menyebarkan agama Nasrani adalah digunakannya lambang Salib dalam setiap alat peperangan yang dikenakan oleh Pasukan Salib.

Dari kekuatan Kaum Muslimin, banyak sekali gerakan perlawanan atas nama jihad. Mulai periode Kesultanan Saljuk, Kesultanan Zanki hingga Kesultanan Ayyubiyah. Dibincang juga tentang peran Ulama’ dalam menggelorakan semangat jihad kaum Muslimin.

Buku ini, bukan hanya membahas perang secara fisik tanpa belas kasih. Tapi menampilkan Islam yang sesungguhnya. Bahwa jihad, bukan asal bunuh, bukan asal bom. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi hingga kemudian diwajibkan untuk. Yang tak kalah pentingnya, dalam setiap keadaan, pun ketika jihad, aspek akhlak sebagai salah satu branding utama umat Islam, tetaplah dinomorsatukan. Akhlak kepada Allah, kepada sesama Mujahid, kepada mereka yang tak terlibat dalam perang, juga kepada musuh.

Jika saat ini ada banyak mal praktik jihad, bisa jadi karena banyaknya kaum Muslimin yang sok tahu, padahal kafa’ah dan tsaqafahnya dangkal. Maka kehadiran buku ini, diharapkan bisa menggelorakan semangat kaum muslimin untuk kembali ke puncak kejayaan. Dengan jihad, di segala lini. Bukan dengan selainnya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/

Kajian Sejarah : Kalah, Tertantang, dan Kemudian Menang

perang-salib-ilustrasi

Oleh: Alwi Alatas

KALAH dan menang merupakan hal yang biasa terjadi dalam perjalanan sebuah ummat. Tak selamanya suatu ummat mengalami kemenangan dalam perjalanan sejarahnya, dan tak selamanya juga ia mengalami kekalahan. Jika suatu bangsa atau ummat terus menerus menang, maka kita tidak akan pernah menyaksikan terjadinya pergantian kepemimpinan bangsa-bangsa di dalam  sejarah. Dan kalau sebuah ummat atau bangsa terus menerus kalah, maka sudah tentu ia tidak akan mampu muncul sebagai sebuah ummat, karena ia telah kalah dan hancur sejak awal kelahirannya. Terjadinya pergantian menang dan kalah ini telah diisyaratkan di dalam al-Qur’an:

إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُ وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاء وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran). dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’ . Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. “ (QS ali Imron (3): 140)

Silih bergantinya menang dan kalah semestinya menjadi pelajaran berharga bagi suatu ummat atau bangsa. Kemenangan tidak semestinya menjadikan mereka sombong, lupa diri, dan hilang kewaspadaan. Walaupun kemenangan itu menggembirakan, tidak tertutup kemungkinan suatu saat ia akan berbalik menjadi kekalahan.

Demikian juga, kekalahan tidak semestinya menjadikan suatu ummat lemah atau kehilangan optimisme. Karena boleh jadi, kekalahan itu suatu saat akan berganti menjadi kemenangan. Yang penting adalah bagaimana menjadikan kekalahan itu sebagai tantangan untuk bangkit kembali dan akhirnya menang.

Andalusia: kemenangan yang berganti menjadi kekalahan

peta-andalus

Kemenangan yang cepat dan spektakuler, ternyata bisa juga berubah menjadi kekalahan, walaupun kekalahan itu merayap secara perlahan-lahan sebelum akhirnya menjadikan si pemenang takluk sepenuhnya. Ini yang pernah terjadi pada peradaban Islam di Andalusia. Kita mengetahui bahwa kaum Muslimin menang dengan cepat dalam proses penaklukkan Spanyol. Tariq bin Ziyad menyeberang Selat Gibraltar pada tahun 92 H yang bertepatan dengan tahun 711 Masehi. Proses penaklukkannya berlangsung cepat, karena Kerajaan Visigoth di Spanyol pada masa itu sudah mengalami banyak kemunduran. Sebagian penduduk Spanyol justru melihat kedatangan pasukan Tariq sebagai pembebas, bukan sebagai penjajah. Hanya dalam waktu dua atau tiga tahun, hampir seluruh wilayah Spanyol jatuh ke tangan kaum Muslimin. Spanyol kemudian dikenal sebagai Andalusia oleh kaum Muslimin dan pada wilayah ini berkembang peradaban Islam yang cukup penting untuk waktu yang panjang, yaitu selama hampir delapan abad.

Kemenangan Tariq bin Ziyad, yang didukung juga oleh atasannya Musa bin Nusayr, merupakan sebuah kemenangan yang cepat dan gemilang. Walaupun pada awalnya keadaan tidak stabil, tetapi sekitar setengah abad kemudian berkembang peradaban Islam yang sangat penting di wilayah ini. Perkembangan pesat ini terutama berlaku setelah terbentuknya kerajaan Bani Umayyah dengan masuknya Abdurrahman al-Dakhil ke Andalusia, setelah Dinasti Umayyah di Damaskus runtuh dan digantikan oleh Dinasti Abbasiyah.

Saat melihat kemenangan dan kejayaan Andalusia, mungkin tidak ada yang pernah berpikir tentang kemungkinan terjadinya kekalahan. Karena peradaban Andalusia sangat kuat, maju, dan indah. Ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat pesat. Tetapi kenyataan menunjukkan hal yang berbeda. Mereka pada akhirnya berada di pihak yang kalah oleh kerajaan-kerajaan Kristen di Spanyol utara yang tumbuh membesar secara perlahan dan belakangan mampu menaklukkan wilayah Muslim sedikit demi sedikit hingga yang terakhir ini semakin terdesak ke selatan.

Bagaimana kaum Muslimin yang menang gemilang pada akhirnya justru mengalami kekalahan dan penaklukkan kembali (reconquista) oleh lawannya? Ternyata hal ini memiliki sejarah yang panjang, bahkan sejak awal kemenangan kaum Muslimin sendiri.  Ketika kaum Muslimin menaklukkan Andalusia pada tahun 711-714 Masehi, ada sekelompok kecil sisa-sisa pasukan Visigoth yang melarikan diri ke sebuah dataran tinggi di bagian utara Andalusia, dipimpin oleh seorang bernama Pelayo. Mereka bersembunyi di dataran tinggi, sementara pasukan Muslim berjaga-jaga di bawah. Mereka bertahan tanpa makanan dan minuman, hanya sekedar dari apa yang bisa mereka dapatkan dari lingkungan di sekitar mereka. Mereka kelaparan dan jumlah yang mampu bertahan menjadi tinggal tiga puluh hingga empat puluh orang saja.

800px-Península_ibérica_910.svg
Peta perkembangan wilayah kerajaan kristen Asturias (910 M)

Pasukan Muslim yang berjaga di bawah akhirnya memutuskan untuk meninggalkan mereka, karena orang-orang ini dianggap sudah tidak lagi mempunyai kekuatan. Tetapi Pelayo dan pasukannya yang kecil dan lemah ini ternyata perlahan-lahan mampu bangkit dan nantinya mendirikan Kerajaan Asturias di utara Andalusia. Beberapa abad kemudian, orang-orang Kristen di Utara semakin kuat, dapat membentuk beberapa kerajaan, dan perlahan-lahan mulai merebut kembali wilayah-wilayah Muslim di Selatan. Pada tahun 1085, kerajaan Kristen di utara berhasil merebut kota Toledo. Pada tahun 1236, giliran kota Cordova yang jatuh ke tangan pasukan Kristen, padahal dulunya Cordova merupakan pusat pemerintahan Islam di Andalusia. Tentang jatuhnya wilayah-wilayah Muslim ini, al-Maqqari (1984), seorang sejarawan, mengutip perkataan seorang ulama Andalusia:

Situasi di mana kaum Muslimin pada hari itu mengepung gunung serta beberapa manusia terpojok yang melarikan diri ke atasnya, terbukti di belakang hari sebagai sebab utama dari sejumlah penaklukkan di mana generasi keturunan Pelayo berhasil melakukan penaklukkan atas wilayah-wilayah Muslim yang keadaannya semakin meningkat pada tahun-tahun belakangan ini, yaitu bahwa musuh Allah tersebut telah mereduksi banyak kota yang ramai penduduknya; dan, pada saat saya menulis sekarang ini, kota Cordova yang agung … telah jatuh ke tangan orang-orang kafir itu. Semoga Allah menundukkan mereka!

400px-taifas
Peta perpecahan Negeri2 Andalusia di tahun 1031 (wilayah berwarna putih, merah, kuning, dan biru di bagian utara termasuk kerajaan Kristen)

Sebenarnya, Pelayo bukanlah satu-satunya faktor yang mengantarkan pada kekalahan Muslim di Andalusia. Masalahnya ada di kaum Muslimin sendiri yang belakangan mengalami perpecahan dan sibuk dengan kekayaan duniawi. Kalaupun Pelayo dan pasukannya ketika itu berhasil dikalahkan, mungkin akan tetap ada ’Pelayo-Pelayo’ lain yang mengancam keberadaan mereka.

1492spain
Peta Kerajaan Islam Granada (1492)

Kekalahan kaum Muslimin masih belum berakhir sampai di situ. Wilayah mereka terus berjatuhan ke tangan lawan hingga Granada, kerajaan Muslim yang terakhir di Andalusia, jatuh pada tahun 1492. Bersama dengan dikuasainya negeri tempat keberadaan istana Alhambra itu, kemenangan dan kejayaan gemilang kaum Muslimin Andalusia menjadi hilang tak berbekas. Kemenangan berbalik menjadi kekalahan. Dan hal itu disebabkan karena mereka mengingkari nikmat-nikmat yang telah mereka terima sebelumnya. Hal ini seperti yang disebutkan al-Qur’an:

وَضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَداً مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللّهِ فَأَذَاقَهَا اللّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُواْ يَصْنَعُونَ

”Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari ni’mat-ni’mat Allah. karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS an Nahl (16): 112).

Kekalahan yang diikuti dengan kemenangan pada peristiwa Perang Salib

PetaPerangSalib_s50

Bagaimanapun, bukan hanya kemenangan yang bisa berakhir dengan kekalahan. Kekalahan juga bisa disikapi dan dikelola dengan baik sehingga akhirnya berbalik menjadi kemenangan. Hal ini bisa kita lihat pada peristiwa Perang Salib.

Perang Salib I dimulai dengan seruan Paus Urbanus II pada sidang gereja di Clermont, Prancis. Seruan ini pada asalnya merupakan tanggapan positif gereja Katholik atas permintaan bantuan dari Byzantium untuk menghadapi pasukan-pasukan Turki Saljuk yang mengganggu wilayahnya. Namun isu ini kemudian dikembangkan dan diarahkan oleh Paus untuk merebut kota al-Quds atau Yerusalem. Paus tentu mempunyai pertimbangan pribadi saat menyampaikan seruannya. Gereja Katholik ketika itu sedang banyak masalah: perselisihan gereja dengan kaisar Jerman (Holy Roman Empire), adanya paus tandingan (anti-pope), perpecahan Katholik dengan Kristen Orthodoks yang berpusat di Byzantium, ditambah lagi dengan berbagai masalah sosial di Prancis dan beberapa negara Eropa Barat lainnya. Penguasaan Yerusalem, yang mereka yakini sebagai tempat disalibnya Yesus tentu akan menjadi prestasi yang menonjol dan meningkatkan pengaruh gereja Katholik di Eropa (Paine, 2005: 32).

Orang-orang yang hadir menyambut seruan Paus itu dengan penuh semangat. Sepanjang khutbah Paus Urbanus II mereka berseru, ”Deus Vult! Deus Vult! (Tuhan menghendakinya! Tuhan menghendakinya!) (Cole, 1991: 1-2). Setelah itu, beberapa pendeta mengkhususkan diri untuk menyebarluaskan seruan Paus kepada masyarakat. Manusia kemudian berbondong-bondong datang untuk menyertai Perang Salib yang pertama (1095-1099). Kata Edward Gibbon, seorang Sejarawan Inggris abad ke-18, khutbah Paus itu telah ”menyentuh syaraf perasaan (Eropa) yang paling halus” dan mendorong mereka untuk menyambutnya dengan penuh semangat.

Terjadinya pasukan Salib I bertepatan dengan keadaan kekhalifahan Abbasiyah yang sedang mengalami perpecahan. Pemerintahan di kekhalifahan Abbasiyah ketika itu dipimpin oleh orang-orang Turki Saljuk. Ketika pemimpin tertingginya meninggal dunia pada tahun 1092, keadaan menjadi tidak stabil dan para emir saling memperebutkan wilayah dan memperjuangkan kepentingannya sendiri-sendiri. Perpecahan ini membuka jalan bagi pasukan Salib untuk masuk ke wilayah Muslim di Asia Minor, Suriah dan Palestina dan menguasai beberapa kota. Kota Nicaea (Iznik) jatuh pada tahun 1097, Antioch (Antakya) pada tahun 1098, dan Yerusalem (al-Quds) pada tahun 1099. Beberapa kota Muslim lainnya juga jatuh ke tangan pasukan Salib pada tahun-tahun tersebut. Selama puluhan tahun berikutnya, tidak ada satu pun kekuatan di dunia Islam yang mampu membebaskan kota-kota tersebut dan menghadapi pasukan Salib secara efektif.

Kaum Muslimin mengalami kekalahan yang telak. Kekalahan itu bukan disebabkan oleh musuh yang sangat hebat, tetapi lebih disebabkan oleh kelemahan yang menimpa kaum Muslimin. Mereka terkena penyakit cinta dunia dan jatuh dalam perpecahan dan permusuhan di antara sesama mereka. ”Para penguasa semuanya dalam keadaan berselisih …,” kata Ibn al-Athir (2006: 22), ”dan demikianlah orang-orang Frank menaklukkan negeri-negeri (Muslim).” Dr. Majid Irsan al-Kilani (2007: 49) memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang kemunduran dan kelemahan kaum Muslimin pada masa itu, termasuk para ulamanya:

“Mereka menjalani rutinitas harian tanpa arahan yang benar, standar nilai Islam lenyap dari panggung kehidupan nyata, sedangkan nafsu dan syahwat merajalela. Pengaruh-pengaruh negatif terasa begitu kental dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan kemiliteran. Bidang-bidang tersebut hancur, fundamen internal masyarakat rapuh dan daya tahannya lemah serta rentan terhadap segala macam krisis dan keterpurukan.”

Keadaan ini menyebabkan mereka kalah, walaupun sebenarnya jumlah mereka lebih banyak dibandingkan musuh dan peradaban mereka jauh lebih maju. Untungnya keadaan ini tidak berlangsung terus menerus. Belakangan ada beberapa ulama yang berupaya sungguh-sungguh untuk memperbaiki keadaan ummat. Mereka memahami bahwa semua kekalahan itu adalah disebabkan oleh masalah internal kaum Muslimin. Maka mereka pun berusaha memperbaiki kondisi internal kaum Muslimin, khususnya memperbaiki barisan ulamanya agar menjadi ulama yang lurus dan mampu menerangi ummat (Al-Kilani, 2007).

Kemudian muncul juga seorang peminpin yang shaleh di Suriah, yaitu Nuruddin Zanki, sehingga semakin menyempurnakan perjuangan kaum Muslimin dalam menghadapi pasukan Salib. Nuruddin Zanki menjadi sultan menggantikan ayahnya pada tahun 1146, hampir bersamaan dengan terjadinya Perang Salib II (1147-1148). Pada Perang Salib II inilah mulai terlihat perubahan signifikan di dunia Islam, dan juga di kalangan orang-orang Frank (Prancis) dan Kristen pada umumnya. Dalam menghadapi gelombang kedatangan pasukan Salib yang baru ini, para pemimpin Muslim di Suriah mulai berupaya untuk menjalin kerja sama. Ketika pasukan Salib menjadikan Damaskus sebagai target serangan, emir Damaskus mengirim surat permintaan bantuan kepada Nuruddin Zanki di Aleppo dan kakaknya yang memerintah di Mosul. Keduanya segera menyambut permintaan bantuan itu.

Sebaliknya, orang-orang Kristen justru mulai mengalami perpecahan. Kaisar Byzantium mengijinkan pasukan Prancis dan Jerman melewati wilayahnya dan memfasilitasi mereka untuk menyeberang ke Asia Minor, tetapi tampaknya diam-diam memberikan informasi kepada orang-orang Turki Saljuk di wilayah itu untuk menghadang pasukan dari Prancis dan Jerman ini. Orang-orang Eropa yang baru datang itu juga belakangan mengalami perselisihan dengan orang-orang Frank yang telah lama berada di Palestina. Semua itu menyebabkan pasukan Salib mengalami kekalahan dan pasukan Salib II itu terpaksa kembali ke negerinya masing-masing dengan tangan hampa (Alatas, 2012: 286-292). Steven Runciman (1987: 288), seorang sejarawan yang menulis tentang sejarah Perang Salib mengomentari Perang Salib II dengan kata-kata berikut:

”Tidak ada usaha (enterprise) abad pertengahan yang dimulai dengan harapan yang begitu baiknya. Direncanakan oleh Paus, dikhotbahkan dan diinspirasikan oleh Santo Bernard, dan dipimpin oleh dua raja utama Eropa Barat, ia menjanjikan begitu banyak kejayaan dan keselamatan bagi dunia Kristen. Namun ketika ia sampai pada akhir yang begitu memalukan berupa penarikan pasukan dari Damaskus, semua yang berhasil dicapainya adalah memperburuk hubungan antara orang-orang Kristen di (Eropa) Barat dan orang-orang Byzantium hingga ke titik yang paling serius, menaburkan kecurigaan di antara tentara-tentara Salib yang baru datang dengan orang-orang Frank yang menetap di Suriah, memisahkan para bangsawan Frank di antara sesama mereka, menarik kaum Muslimin untuk saling mendekat dan bersatu, dan menghancurkan reputasi orang-orang Frank dalam hal kecakapan militer.”

Pada perang-perang Salib berikutnya kaum Muslimin juga mampu menahan serangan pasukan Salib. Menjelang Perang Salib III, Shalahuddin yang menggantikan Nuruddin Zanki yang meninggal dunia pada tahun 1174 berhasil membebaskan al-Quds. Pasukan Salib tidak pernah lagi mampu merebut kota al-Quds sejak saat itu.

Kaum Muslimin memang kalah pada Perang Salib I. Tetapi para ulama dan pemimpinnya dapat merespon kekalahan itu dengan baik dan berjuang untuk mengubah keadaan internal kaum Muslimin sehingga mereka akhirnya mampu menghadapi lawan dan membebaskan kembali kota-kota di Palestina dan Suriah.

Kaum Muslimin pada hari ini juga sedang mengalami kekalahan. Mereka telah dikalahkan sejak lama. Mampukah para ulama dan pemimpinnya untuk bangkit memperbaiki ummat sehingga suatu saat nanti mereka dapat mengubah kekalahan menjadi kemenangan? Semoga saja.*/Jakarta, 3 Safar 1434/ 17 Desember 2012

Daftar Pustaka

Alatas, Alwi. Nuruddin Zanki dan Perang Salib. Jakarta: Zikrul Hakim. 2012.

Ibn al-Athir. The Chronicle of Ibn al-Athīr for the Crusading Period from al-Kāmil fi’l-ta’rīkh, part 1, The

Years 491-541/ 1097-1146, The Coming of the Franks and the Muslim Response (terjemahan oleh  D.S. Richards). Aldershot: Ashgate. 2006.

Gibbon, Edward. History of the Decline And Fall of the Roman Empire, vol. 5. e-text edition by David Reed.

Al-Kilani, Dr. Majid ‘Irsan. Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib (terjemahan dari Hakadza Zhahara Jil Salah al-Din wa Hakadza ‘Adat al-Quds). Bekasi: Kalam Aulia Mediatama. 2007.

Al-Maqqari, Ahmed ibn Muhammed. 1984. The History of the Mohammedan Dynasties in Spain, extracted from the Nafhu-t-Tib min Ghosni-l-Andalusi-r-Rattib wa Tarikh Lisanu-d-din Ibni-l-Khattib, vol. I & II, translated and ilustrated with critical notes by Pascual de Gayangos. Delhi: Idarah-I Adabiyat-I Delhi.

Paine, Michael. The Crusades. Harpenden: Pocket Essentials. 2005.

Runciman, Steven. A History of the Crusades, 2: The Kingdom of Jerusalem. Cambridge: Cambridge University Press. 1987.

* Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib”

http://hidayatullah.com

Mursy, Zanki, dan Harapan Kebangkitan Islam

Oleh: Alwi Alatas

TERPILIHNYA Dr. Muhammad Mursy sebagai Presiden Mesir memberikan ruh dan gairah baru di negeri yang selama beberapa dekade dipimpin oleh diktator itu. Fenomena terpilihnya Mursy tidak hanya menarik dan berkesan bagi masyarakat Mesir atau komunitas di kawasan Timur Tengah semata, tetapi juga bagi masyarakat dunia pada umumnya. Kemenangan Mursy ikut dirasakan sebagai kemenangan, atau setidaknya sebagai sebuah contoh yang bisa diambil sebagai pelajaran, oleh banyak orang di negeri-negeri lainnya.

Editorial Media Indonesia pada hari Rabu, 27 Juni 2012, misalnya, mengangkat tema ‘Belajar dari Mursy’. Harian tersebut menyebutkan bahwa pidato yang dibawakan oleh Dr. Mursy melegakan semua pihak dan ia menyatakan siap menjadi pemimpin bagi semua warga Mesir. Mursy juga tidak menganggap dirinya sebagai penguasa, tetapi masyarakatlah yang merupakan penguasa, sebuah pesan yang perlu diambil pelajaran oleh para pemimpin di Tanah Air.

Sementara banyak pembaca yang tentunya telah mengetahui tentang Muhammad Mursy, karena berita tentang beliau banyak menghiasi media massa belakangan ini, mungkin banyak yang belum mengetahui tentang Nuruddin Zanki (1118-1174), tokoh yang juga hendak diangkat di dalam tulisan ini. Berikut ini merupakan informasi ringkas tentang Nuruddin Zanki. Beliau merupakan seorang keturunan Turki Saljuk yang menjadi sultan di Suriah menggantikan ayahnya yang wafat pada tahun 1146. Beliau memimpin wilayah tersebut pada masa Perang Salib II dan setelahnya.


Peta negara-negara tentara salib tahun 1135 AD.

Proses penyatuan wilayah Muslim di Suriah dan sekitarnya serta proses Islamisasi wilayah tersebut dapat dikatakan dimulai oleh tokoh ini, setelah sebelumnya kaum Muslimin berpecah belah dan sibuk dengan perselisihan mazhab dan politik. Pada akhir masa pemerintahannya, ia mengutus Shirkuh dan keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi, untuk masuk ke Mesir yang kemudian berlanjut dengan proses penghapusan Dinasti Fatimiyah oleh Shalahuddin. Nuruddin juga membangun visi yang kuat untuk membebaskan al-Quds yang ketika itu dikuasai oleh pasukan salib, walaupun beliau meninggal dunia sebelum sempat mewujudkan hal itu. Perjuangannya kemudian diteruskan oleh Shalahuddin al-Ayyubi.

Melalui tulisan ini kami ingin melakukan sedikit komparasi antara apa yang terjadi di Mesir sekarang ini dengan apa yang pernah berlaku pada masa Nuruddin Zanki. Sebetulnya perbandingan ini agak terlalu dini dan barangkali tidak sepenuhnya relevan, karena di samping adanya perbedaan-perbedaan waktu, tempat, dan kondisi sosial-politik yang dihadapi oleh kedua tokoh ini, kemenangan Mursy juga masih berada di fase yang sangat awal dan belum diketahui akhirnya. Namun, ada beberapa kesamaan yang membuat kami tertarik untuk merefleksikan fenomena kemenangan Mursy ini pada apa yang pernah terjadi kira-kira 850 tahun yang lalu di kawasan yang hampir sama. Beberapa kesamaan itu terkait dengan suasana zaman serta harapan yang muncul di tengah masyarakat Muslim terkait dengan hadirnya masing-masing figur ini.


Nuruddin Zanki

Kita akan memulainya dari beberapa kemiripan suasana zaman. Nuruddin Zanki muncul sebagai pemimpin ketika masyarakat Muslim masih relatif terpecah belah.

Para pemimpinnya enggan bersatu dan para ulama sibuk dengan perselisihan mazhab. Dunia Islam yang dihadapi Mursy pada hari ini juga kurang lebih seperti itu. Para pemimpin Arab dan Muslim cenderung bermusuh-musuhan, dan para ulama dan tokoh Islam sibuk dengan perselisihan di antara mereka. Dunia Islam pada masa Nuruddin Zanki terpecah antara Sunni dan Syiah: Abbasiyah yang Sunni di Iraq, Iran, Suriah, dan Jazirah Arab berhadapan dengan Fatimiyah yang berhaluan Syiah Ismailiyah di Mesir.

Dunia Islam pada hari ini juga mengalami polarisasi ini: Mesir, Palestina, Turki, dan Jazirah Arab yang Sunni serta Iran yang berpaham Syiah Itsna Asy’ariah dan kini berada dalam satu kubu dengan Iraq dan Suriah. Perbedaannya adalah, pada masa kemunculan Nuruddin Zanki, Dinasti Fatimiyah di Mesir sudah mulai melemah, sementara Iran pada hari ini masih memiliki pengaruh yang sangat menonjol di kawasan Teluk dan Timur Tengah.

Zanki dan Mursy sama-sama menghadapi isu yang sangat krusial di dunia Islam, yaitu jatuhnya al-Quds (Yerusalem) ke tangan non-Muslim. Saat Nuruddin Zanki menjadi sultan pada tahun 1146, al-Quds telah dikuasai oleh kekuatan salib Kristen selama 47 tahun.

Kini, ketika Mursy terpilih sebagai presiden Mesir, al-Quds telah dikuasai oleh Zionis Yahudi selama 64 tahun. Kedua tokoh ini, Zanki dan Mursy, sama-sama memiliki visi yang kuat untuk mengembalikan al-Quds ke tangan kaum Muslimin. Mursy merupakan kader al Ikhwan al Muslimun, organisasi yang telah sejak lama mencita-citakan pembebasan al-Quds dari tangan Zionis. Hamas di Palestina yang berhadap-hadapan langsung dengan kekuatan Israel, lebih memiliki afiliasi khusus dengan Ikhwanul dan bukannya dengan Iran sebagaimana yang disebut-sebut oleh beberapa media. Karena itulah kemenangan Mursy menimbulkan kekhawatiran yang besar di pihak Israel dan memberi harapan lebih besar bagi pembebasan Palestina.

Kepribadian keduanya juga memiliki beberapa kesamaan, setidaknya dalam semangat keagamaan. Nuruddin Zanki merupakan seorang pemimpin yang shalih dan zuhud. Beliau selalu menegakkan shalat berjamaah, melakukan shalat malam, menyintai para ulama, ikut meriwayatkan hadits, dan sangat menjunjung tinggi syariat dan penegakkan keadilan.

Muhammad Mursy juga merupakan seorang yang shalih, hafiz al-Qur’an, dan selalu berusaha menegakkan shalat berjamaah. Bahkan kini setelah menjadi presiden beliau tetap menjalankan kebiasaannya itu dan menjadi imam bagi para pengawal pribadinya (Kompas.com, 28 Juni 2012).

Kehidupan Zanki jauh dari kemewahan, ia tidak mau makan berlebihan, dan ia terbiasa hidup sederhana. Ia tidak memandang kerajaan yang berada di dalam genggamannya sebagai milik atau sumber penghasilannya.

Ketika istrinya mengutus seseorang untuk meminta tambahan uang belanja kepadanya, Nuruddin Zanki menegur dengan kata-kata, “… Seandainya dia berpikir bahwa harta yang berada di tanganku adalah hartaku, sesungguhnya itu adalah pikiran yang salah. Sesungguhnya itu adalah harta Muslimin, dan untuk maslahat Muslimin, dan disiapkan untuk keadaan perang. Aku telah dijadikan penjaganya, dan aku tak akan mengkhianati mereka.”

Mursy juga bukan seorang yang mementingkan kesenangan duniawi. Walaupun ia merupakan seorang doktor bidang teknik lulusan Amerika Serikat, kehidupannya relatif sederhana. Rumahnya berada di luar kota Kairo dan ia mengontrak rumah selama beraktivitas di Kairo. Saat diangkat menjadi presiden, tampaknya ia dan keluarganya merasa enggan untuk pindah dan tinggal di istana kepresidenan.

Kemunculan Nuruddin Zanki dan Mursy pada zaman mereka masing-masing meniupkan suatu harapan baru di tengah dunia Islam, setelah kaum Muslimin tenggelam dalam kemunduran dan kekalahan selama beberapa waktu lamanya. Di masa-masa Perang Salib, harapan itu mulai muncul sejak masa kepemimpinan Imaduddin Zanki, ayah Nuruddin, dan menjadi lebih kuat lagi pada masa kepemimpinan Nuruddin Zanki. Harapan ini terlihat jelas, misalnya, pada proses penyatuan Damaskus ke dalam wilayah kekuasaan Nuruddin Zanki pada tahun 1150-an. Ketika menguasai beberapa wilayah di sekitar Damaskus, Nuruddin Zanki melarang anak buahnya melakukan penjarahan atau kezaliman terhadap penduduk.

Pada suatu hari, ketika Nuruddin Zanki dan pasukannya tiba di wilayah Ba’albek pada pertengahan tahun 1150, tiba-tiba hujan turun selama tiga hari berturut-turut, setelah sekian lama hujan tidak turun di wilayah itu. Orang-orang mengaitkan hal ini dengan kehadiran Nuruddin Zanki dan mengatakan, “Ini semua disebabkan oleh pengaruhnya yang penuh berkah, keadilannya dan perbuatannya yang lurus.” Kini ketika Mursy meraih kemenangan di Mesir, harapan-harapan baru pun muncul di tengah kaum Muslimin di beberapa belahan dunia. Kaum Muslimin di luar Mesir ikut menyambut kemenangan Mursy, seolah-olah sosok ini adalah presidennya juga. Foto-foto serta berita tentang Mursy yang bermunculan di beberapa media sosial, menyiratkan cukup besarnya harapan itu.

Bagaimanapun, Mursy masih berada di fase awal kemenangannya. Nuruddin Zanki sudah melewati zamannya dan telah menutup perjuangannya dengan manis. Mursy masih harus melewati hari-harinya dan sejarah masih akan mencatatnya. Dulu Nuruddin Zanki memulai perjuangannya sebagai sultan di Suriah dan pada akhir masa pemerintahannya berhasil menaklukkan Mesir dan mengakhiri riwayat Dinasti Fatimiyah yang memang sedang sakratul maut. Penyatuan kedua kekuatan ini kemudian membuka jalan bagi Shalahuddin al-Ayyubi pada masa berikutnya untuk membebaskan al-Quds dan Palestina dari tangan pasukan salib.

Kini Mursy mulai memimpin Mesir dan pada saat yang sama Suriah yang dipimpin oleh rezim berlatar Syiah Alawit tengah bergejolak. Semua mata tengah memandang, akankah rezim di Suriah jatuh pada akhirnya dan akankah hal itu membuka jalan bagi dikuasainya kembali al-Quds oleh kaum Muslimin? Banyak yang memiliki harapan seperti ini.

Bagaimanapun, ada beberapa perbedaan yang perlu dicermati. Dinasti Fatimiyah di Mesir sudah sangat lemah pada masa Nuruddin Zanki dan Nuruddin Zanki tidak masuk ke Mesir melainkan karena dua alasan.

Pertama, karena pasukan salib masuk ke negeri itu atas undangan wazir Mesir dan berusaha menanamkan pengaruhnya di sana.

Kedua, karena khalifah Fatimiyah, yang berseberangan dengan wazirnya, meminta pertolongan kepada Nuruddin Zanki agar ia mengirimkan pasukan untuk membantu mereka. Hal ini disetujui Nuruddin Zanki dengan dikirimkannya Shirkuh dan keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi, beserta pasukannya ke Mesir. Setelah Mesir dikuasai dan Shalahuddin kemudian menjadi pemimpin Mesir, proses perubahan pemerintahan Mesir menjadi Sunni dilakukan secara gradual dan tanpa kekerasan.


Timur Tengah (1190 M.). Wilayah kekuasaan Shalahuddin (warna merah); Wilayah yang direbut kembali dari pasukan salib 1187-1189 (warna merah muda). Warna hijau terang menandakan wilayah pasukan salib yang masih bertahan sampai meninggalnya Shalahuddin pada 4 Maret 1193

Barulah pada masa berikutnya, setelah wafatnya Nuruddin Zanki pada tahun 1174, Mesir dan Suriah bahu membahu di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi (1174-3 Maret 1193) dalam melancarkan perjuangan sehingga tercapainya pembebasan al-Quds dan Palestina beberapa tahun berikutnya.

Keadaannya berbeda pada hari ini. Di tengah mulai munculnya kekuatan politik Sunni di Timur Tengah saat ini, kekuatan politik Syiah yang berpusat di Iran juga masih sangat menonjol. Hal ini membuka peluang bagi terjadinya gesekan dan benturan fisik di antara kedua belah pihak yang sebetulnya tidak menguntungkan bagi dunia Islam secara keseluruhan.

Ancaman benturan itu cukup terasa pada pertarungan di Suriah saat ini di mana pemerintahan Sunni pada umumnya berpihak pada masyarakat Suriah dan berusaha menjatuhkan rezim Assad, sementara Iran membela dan berusaha mempertahankan pemerintahan Suriah yang sejak lama telah menjadi sekutunya.

Konflik di Suriah juga secara intensif melibatkan kekuatan Barat. Masalahnya, jika pada masa Nuruddin Zanki dahulu Fatimiyah menjadi pihak yang bekerja sama dengan kekuatan salib, kini dunia Sunni berada di front yang sama dengan Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Baratnya. Apa pun alasannya, keadaan ini dapat membawa pada dua konsekuensi: apakah Amerika Serikat yang dimanfaatkan untuk mendongkel rezim Suriah, atau Amerika Serikat dan sekutunya yang memanfaatkan kaum Muslimin untuk berperang satu sama lain dan pada gilirannya akan melanggengkan hegemoninya di Timur Tengah. Ini merupakan keadaan yang mesti disikapi dengan sangat hati-hati. Sebab sejarah sering memberitahu kita bahwa terjadinya kerjasama dengan musuh yang lebih kuat dalam sebuah konflik internal bukanlah pertanda yang bagus bagi independensi suatu masyarakat dari penjajahan.

Perjalanan Mursy dan Mesir masih cukup panjang. Kita pun tidak kehilangan harapan dan optimisme bahwa ini merupakan awal dari kemenangan dunia Islam serta pembebasan al-Quds. Harapan itu akan tetap ada, selama jalan-Nya tetap diikuti dan keridhaan serta pertolongan-Nya masih tetap menaungi umat ini.*/Singapura, 15 Sha’ban 1433/ 5 Juli 2012

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

sumber:
http://www.hidayatullah.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Nuruddin_Zengi, , diakses pada 05/07/12
http://id.wikipedia.org/wiki/Salahuddin_Ayyubi, diakses pada 06/07/12

%d bloggers like this: