Posts tagged ‘Teori Big Bang’

Prof. Thomas Djamaluddin: Jangan Ada Dikotomi antara Sains dan Islam


Bumi dari satelit Rusia (Ilustrasi)

Perkembangan astronomi dari masa ke masa adalah hasil upaya manusia dalam memahami lingkungan semestanya. Karena itu, ia tak seharusnya dipisahkan dari agama. “Sains harus jadi bagian dari kehidupan, sejalan dengan Alquran,” ujar pakar astronomi Indonesia, Prof. Thomas Djamaluddin kepada reporter Republika, Devi A. Oktavika.

Karena itu, menurutnya, seharusnya tak ada klaim tentang kecocokan ilmu pengetahuan tertentu dengan ajaran agama. “Temuan-temuan sains adalah penjelasan bagi ayat-ayat Alquran, bukan pencocokan,” tegas Profesor Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) itu.

Dapatkah Anda menjelaskan teori modern tentang penciptaan semesta dan kesesuaiannya dengan penjelasan Alquran?

Jadi sebagaimana disebutkan dalam Alquran surah Al-Anbiyaa’ ayat 30, langit dan bumi berasal dari satu kesatuan. Ayat tersebut didukung oleh ayat 47 surah Adz-Dzaariyaat yang berbunyi “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”

Ayat kedua tersebut memperkuat ayat surah Al-Anbiyaa’ dengan menjelaskan bahwa langit mengalami perluasan yang berarti perkembangan. Ada proses di sana. Para mufassir pada zaman dahulu mungkin belum sampai pada penafsiran tersebut karena belum ada bukti-bukti ilmiah yang membawa pemikiran manusia pada penafsiran tersebut.

Nah, itu yang kemudian dijelaskan oleh Teori Big Bang (Ledakan Dahsyat). Jadi cara memahaminya bukan dengan mengatakan bahwa ayat Alquran tertentu cocok dengan Teori Big Bang. Bukan itu. Melainkan, bahwa ayat-ayat tersebut dijelaskan oleh Teori Big Bang menurut perkembangan ilmu pengetahuan saat ini. Karena bisa saja kelak muncul teori baru yang menjelaskan ayat tersebut.

Jadi, menurut teori tersebut, langit dan bumi dulunya merupakan satu kesatuan yang kemudian dikembangkan oleh Allah. Dari proses evolusi bintang, terbentuklah matahari beserta tata planetnya, termasuk bumi kita. Jadi bumi kita dulunya berasal dari satu materi dengan matahari dan bintang-bintang lain.

Peristiwa ledakan terjadi pada masa yang disebut t=0 dan menjadi awal mula perhitungan waktu. Materi awal yang terbentuk adalah hydrogen, yang dalam proses evolusi bintang mengalami fungsi atau reaksi nuklir yang menghasilkan helium dan selanjutnya membentuk pula unsur-unsur lain yang kini ada di alam semesta.


Dua matahari terbenam bersama di planet Kepler-16b.(Ilustrasi)

Dalam Teori Big Bang disebutkan bahwa proses terbentuknya semesta terdiri dari enam tahap. Dapatkah Anda jelaskan tahap-tahap tersebut?

Tahapan yang enam itu tidak saja disebutkan dalam Teori Big Bang, namun juga dalam sejumlah ayat Alquran tentang penciptaan semesta yang mengandung kata fii sittati ayyaam (dalam enam hari). Namun untuk memperdetil tahapan dalam enam hari itu, ayat 27-32 surah An-Nazi’at adalah dalil yang paling menjelaskan.

Pertama, ayat 27 yang berbunyi “Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya” menunjukkan penciptaan langit sebagai tahap pertama pembangunan semesta, yang menurut perkembangan sains hari ini diyakini sebgai peristiwa big bang tersebut. Sedangkan ayat selanjutnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya”, menunjukkan ekspansi yang dilakukan Allah. Jika dikaitkan dengan Teori Big Bang, tahap ini adalah tahap evolusi bintang.

Setelah itu, pada ayat 29, firman Allah “Dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang” menunjukkan proses terbentuknya matahari dan juga tata planet, karena telah ada siang dan malam. Sementara ayat 30, “Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya” mengindikasikan proses evolusi yang terjadi di bumi, seperti pergeseran lempeng bumi.

Proses evolusi tersebut kemudian melahirkan benua-benua, hingga kemudian terjadi tahap selanjutnya yakni evolusi kehidupan di bumi. Allah mulai memancarkan air dan menciptakan makhluk pertama di bumi berupa tumbuh-tumbuhan. Tahap ini dijelaskan dalam ayat “Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.”

Sebagai tahap akhir, gunung dalam ayat “Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh” menjadi simbol tahap penyempurnaan bumi oleh Allah swt, sebelum akhirnya ia menciptakan binatang dan manusia. Tahap-tahap yang enam ini juga dijelaskan dalam beberapa ayat dan surah lain. Salah satunya adalah Fushshilat ayat 9-11.


Foto Planet Mars diambil dari Spirit Rover milik NASA (Ilustrasi)

Berbicara tentang evolusi, dapatkah kita katakan bahwa ia juga terjadi dalam pemikiran para ilmuan dan juga mufassir Alquran?

Ya. Pemikiran ulama berevolusi, sehingga ada pergeseran dalam memaknai atau menafsirkan Alquran, sesuai dengan perkembangan yang ada. Konsep tentang sab’a samaawaat atau “tujuh langit”, misalnya, dulu dimaknai secara geosentris. Yakni sesuai posisi langit atau benda langit dari bumi. Sehingga dahulu dikatakan bahwa bulan adalah langit pertama, planet Merkuri langit kedua, Venus ketiga, matahari keempat, disusul Mars, Jupiter, dan Saturnus.

Sedangkan konsep yang sekarang memaknai samawaat sebagai galaksi, sehingga mengarah pada langit yang tak terbatas. Hal itu merujuk pada kata sab’a (tujuh) yang dalam banyak ayat Alquran lainnya banyak digunakan untuk merujuk atau mengibaratkan sesuatu yang tak terhingga. Nah, inilah evolusi yang terjadi dalam dunia pemikiran.

Melihat kesinkronan antara nash-nash Islam dan sains dalam persoalan penciptaan alam semesta ini, apakah berarti keduanya sejajar?

Alquran dan ilmu pengetahuan adalah dua hal dengan domain berbeda. Alquran adalah satu hal yang mutlak dan tidak perlu diragukan kebenarannya. Sedangkan ilmu pengetahuan merupakan hasil pemikiran manusia, yang didasarkan atas bukti-bukti yang dapat diamati, dengan kebenaran yang relatif.

Keduanya dapat dipersatukan dalam konteks tafsir. Karena itu, seperti saya katakan di muka, kita tidak boleh mengatakan bahwa temuan x sesuai dengan ayat x, ataupun sebaliknya. Pengetahuan bukan untuk dicocokkan dengan Alquran, melainkan hanya untuk menjelaskan.


Luar angkasa (Ilustrasi).

Bagaimana dengan kiprah ilmuwan Muslim sendiri di antara ilmuwan-ilmuwan dunia lainnya?

Saya kira dalam sejarah sains sama saja. Peran dan kontribusi Muslim bagi astronomi dibahas sesuai dengan kontribusi yang mereka berikan. Selain pemikiran mengenai konsep-konsep astronomi, kontribusi tersebut juga dilihat dari karya tulis yang mereka hasilkan.

Dengan demikian, dunia mengakui kontribusi mereka sebagaimana mengakui kontribusi ilmuan Barat atau non Muslim. Ada banyak tokoh Muslim yang menonjol dalam dunia astronomi, seperti al-Battani yang menjelaskan tentang kemiringan poros bumi, musim di bumi, gerhana matahari, penampakan hilal, dan juga tentang tahun matahari yang terdiri dari 365 hari.

Selain itu, ada pula al-Faraghani yang menjelaskan tentang dasar-dasar astronomi, termasuk gerakan benda langit dan diameter bumi serta planet-planet lainnya. Juga Ibnu Hayyan yang dikenal sebagai Bapak Kimia, menjelaskan tentang warna matahari, konsep bayangan, serta pelangi. Dan banyak lagi astronom Muslim yang mewarnai sejarah astronomi.

Mengetahui betapa hebatnya muatan sains dalam Alquran, apa harapan Anda bagi umat Islam terkait itu?

Ada dua hal utama yang perlu dilakukan dan diperbaiki. yaitu:
Pertama, umat Islam harus menghilangkan dikotomi sains dan Islam. Selama ini, sains kerap dianggap produk Barat, sehingga ada pemilahan mana sains Barat dan mana pengetahuan Islam. Padahal seharusnya tidak demikian.

Sains bisa dibuktikan dengan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah, bukan dengan klaim bahwa ini sains milik Muslim dan ini milik non Muslim. Sains dapat dikaji ulang oleh siapapun tanpa memandang bangsa ataupun agama. Ia harus jadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan juga sejalan dengan Alquran. Maka tugas ilmuan adalah untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan bagi maslahat manusia dan juga alam semesta.

Kedua, setelah menghapuskan dikotomi tersebut, senada dengan pesan Rasulullah saw, saya berharap umat Islam terus belajar, termasuk mendalami ilmu pengetahuan. Mengapa? Karena sains adalah bagian dari cara kita memahami alam semesta. Sains adalah kontribusi manusia sepanjang masa. Wallahu ‘alam.

http://www.republika.co.id

Alam Semesta Kita Bukan Satu-satunya?


Ilustrasi Alam Semesta

Beberapa waktu lalu dua ahli astronomi, yakni Prof. Roger Penrose dari Universitas Oxford dan Prof. Vahe Gurzadyan dari Yerevan State University di Armenia, mengemukakan teori baru alam semesta, yang pernah ditulis dalam artikel sebelumnya yaitu Teori Baru: Alam Semesta Sudah Ada Sebelum Big Bang.

Berdasarkan temuan adanya lingkaran konsentris kosmos, dalam teorinya kedua ilmuwan itu mengungkapkan bahwa alam semesta tercipta lewat sebuah siklus aeon. Setiap siklus diakhiri dengan sebuah big bang yang juga menjadi tanda berawalnya siklus baru.

Singkatnya, sebelum masa kita hidup sekarang, telah terdapat masa yang lalu. Masa lalu tersebut diakhiri oleh big bang yang dikenal sekarang, yang merupakan big bang terakhir sejauh ini. Nantinya, masa kita akan berakhir juga dengan sebuah big bang lagi.

Nah, masih berhubungan dengan teori baru itu, kini ada ilmuwan lain yang mengemukakan hal yang berkaitan dengan temuan Penrose dan Gurzadyan. Ilmuwan itu mengemukakan hal tersebut berdasarkan model alam semesta yang disebut eternal inflation atau inflasi abadi.

Dalam cara pandang tersebut, alam semesta yang kita tahu adalah sebuah gelembung yang ada dalam semesta yang lebih besar. Semesta tersebut juga diisi dengan gelembung-gelembung lain, di mana mereka memiliki hukum-hukum fisika yang mungkin berbeda dengan yang diketahui.

Menurut para ilmuwan itu, gelembung yang ada mungkin memiliki masa lalu yang penuh kekerasan. Mereka berdesakan dan meninggalkan “memar kosmos” sebagai hasil ketika satu sama lain bertabrakan. Jika hal itu benar, memar kosmos tersebut pasti bisa dilihat.

Stephen Feeney dari University College London, si ilmuwan yang dimaksud, menemukan bukti memar kosmos yang tampil dalam bentuk lingkaran dalam latar gelombang mikrokosmos. Ia menemukan empat lingkaran, bukti bahwa semesta kita telah bertabrakan paling tidak empat kali pada masa lalu.

Bagaimanapun, temuan itu adalah bukti pertama adanya semesta sebelum big bang. Beberapa ilmuwan menanggapi bahwa temuan ini bisa saja merupakan tipuan mata. Seperti yang diakui Feeney, “Lebih mudah melihat data statistik daripada mengamati data di CMB.”

Ilmuwan mengatakan, satu-satunya cara untuk mengetahui kebenaran pendapat tersebut adalah menemukan data yang lebih baik. Jika beruntung, Planck Spacecraft yang kini tengah diperbantukan untuk mengamati latar lingkaran mikrokosmos dengan resolusi lebih tinggi bisa mengirimkan data itu.

Planck diharapkan bisa mengirimkan data yang dimaksud atau menemukan misteri yang lebih hebat lagi. Sementara para kosmolog nantinya akan mengolah dan menginterpretasikan data itu, kita bisa membaca hasil diskusinya. Mari kita nanti buktinya.

sumber: http://sains.kompas.com/read/2010/12/15/13161017/Alam.Semesta.Kita.Bukan.Satu.satunya

Teori Baru: Alam Semesta Sudah Ada Sebelum Big Bang


Gambar supernova 1987A yang direkam Hubble mirip kalung mutiara.

Kebanyakan ilmuwan Astronomi percaya bahwa alam semesta tercipta lewat proses Big Bang yang terjadi pada 13,7 miliar tahun yang lalu. Bintang dan galaksi tercipta lebih kurang 300 tahun setelah Big Bang. Sementara itu, Matahari tercipta 3,7 miliar tahun yang lalu.

Namun, Profesor Roger Penrose dari Oxford University dan Professor Vahe Gurzadyan dari Yerevan State University di Armenia memiliki pendapat lain. Mereka berpendapat bahwa alam semesta sudah ada sebelum peristiwa Big Bang.

Mereka mengatakan, alam semesta sebenarnya tercipta lewat proses yang disebut siklus aeon, yang berarti masa atau kehidupan. Dalam siklus tersebut, terjadi peristiwa-peristiwa alam yang akan berujung pada berakhirnya sebuah aeon dan dimulainya aeon baru.

Pendapat tersebut dilontarkan setelah kedua ilmuwan melihat citra yang ditampilkan Wilkinson Microwave Anisotophy Probe di CMB. Para ilmuwan menemukan 12 contoh lingkaran konsentris yang memiliki lima “cincin” yang bisa menjadi petunjuk adanya lima peristiwa masif dalam sejarah.

Mereka percaya, cincin itu menunjukkan radiasi gelombang yang berasal dari peristiwa alam supermasif dari aeon sebelum Big Bang terakhir (13,7 miliar tahun lalu). Dengan demikian, mereka mengungkapkan bahwa siklus aeon didominasi oleh peristiwa alam supermasif tersebut.

Pendapat kedua ilmuwan dinamai “Conformal Cyclic Cosmology”. Dalam peristiwa alam supermasif yang terjadi, black hole akan “memakan” seluruh materi yang ada di dunia. Ketika semuanya telah termakan, hal yang tersisa hanyalah energi, sesuatu yang memicu terjadinya Big Bang berikutnya dan aeon atau masa kehidupan baru.

“Saya mengatakan, aeon kita sekarang adalah semacam proses suksesi bahwa suatu masa yang dimaknai sebagai masa depan di aeon sebelumnya sebenarnya adalah Big Bang di aeon kita,” kata Penrose seperti dilansir BBC. Pendapat kedua ilmuwan itu dipublikasikan dalam laman arXiv.org.

sumber: http://sains.kompas.com/read/2010/12/01/18212986/Alam.Semesta.Sudah.Ada.Sebelum.Big.Bang

%d bloggers like this: